Januari 08, 2020

Garuda Wisnu Kencana

Kali ini destinasi yang sangat ingin saya kunjungi ketika dinas ke Bali adalah Garuda Wisnu Kencana (GWK). Dulu di tahun 2012 ketika saya pertama kali ke Bali, patung GWK belum selesai. Bahkan tidak ada tanda-tanda akan dibangun menjadi sebesar dan semegah ini. Saya jadi penasaran bagaimana bentuk bangunannya sekarang? Apalagi banyak banget teman-teman yang mempostingnya di sosial media. Walaupun saya sendirian dinas kemarin, saya tetap ingin berkunjung kesana.

Dari Hotel Patra Bali, saya naik Grab Car karena cuaca Bali pada saat itu sangat terik. Padahal sudah sore setelah Ashar, tapi matahari masih sangat menyengat. Perjalanan ke GWK ditempuh dalam waktu 30 menit tanpa macet. Mungkin karena bukan akhir pekan dan belum waktunya orang pulang kerja, jadi perjalanan saya pada saat itu sangat lancar. Alhamdulillah.

Sesampai di GWK, mobil Grab berhenti di parkiran. Saya diarahkan untuk naik shuttle bus ke pintu masuk utama. Sore itu penumpang hanya saya seorang, tidak ada orang lain lagi. Perjalanan ke pintu masuk utama menurut saya lumayan jauh, wajarlah harus pakai shuttle bus. Ketika sampai, saya harus beli tiket masuk terlebih dahulu seharga Rp. 120,000. Dulu perasaaan saya masuk GWK di tahun 2012 cuma 40rban. Mungkin karena gedung utama selesai dibangun, maka harga tiket jadi naik signifikan.
Di dalam shuttle bus
Sebelum masuk ke halaman GWK, saya minta tolong mbak petugas penjaga loket untuk memotret saya dibawah tiga patung di pintu masuk. Sayangnya fotonya miring dan blur🙄. Ya sudahlah, mungkin ini nggak enaknya jalan sendirian. Kalau mau minta tolong difotoin, belum tentu orang yang mengambil foto bisa memakai kamera kita.
Udah di edit pun masih agak blur
Jajan dulu
Saya berjalan menuju pintu masuk yang lumayan jauh. Sepanjang perjalanan banyak penjual makanan, sehingga saya mampir dulu. Perut mulai lapar karena tadi makan siang terlalu cepat. Saya membeli sosis dan saya makan sambil berjalan ke pintu masuk. Selesai makan, saya memberikan tiket pada petugas untuk di scan, baru deh bisa masuk ke halaman GWK. Dari kejauhan sudah terlihat patung GWK yang megah dan saya langsung antusias🤩🤩🤩. Akhirnya sampai juga disini. Oh ya, sewaktu saya masuk ke Lotus Pond (sebuah area terbuka terluas di GWK), sedang ada penari Bali yang berlenggak-lenggok menarikan tarian Bali diiringi alunan musik. Penari tersebut beberapa kali mengajak para penonton menari bersama. Banyak yang menarikan tarian dengan lucu sampai saya tertawa ngakak. Nggak enaknya nonton sendirian, jadi merasa tertawa sendiri juga😅.
Patung dari kejauhan
Sedikit cerita tentang GWK, pada Juli 2018 akhirnya GWK rampung setelah dibangun kembali sejak 2013 lalu. Ikon Pulau Bali karya Nyoman Nuarta ini pun kini menjadi daya tarik baru bagi wisatawan dalam maupun luar negeri yang tengah berlibur ke Pulau Dewata. Patung GWK pertama kali dipamerkan kepada para tamu yang akan menghadiri pertemuan tahunan IMF-Bank Dunia di Bali pada Oktober 2018. Sebagai bangunan yang dirancang untuk daya tarik wisata budaya, patung ini secara fisik dirancang untuk mampu menahan hembusan angin yang kuat dan tahan gempa.
Jalan menuju Lotus Pond
Karena penasaran ingin melihat lebih dekat, saya berjalan kaki dengan sedikit menanjak selama 15 menit dari Lotus Pond menuju gedung tempat patung GWK. Lumayan ngos-ngosan juga karena udara Bali yang panas dan cuaca yang terik membuat saya sangat berkeringat🥵🥵🥵. Untung sudah membawa air mineral dari hotel. Sesampai di kaki gedung, saya takjub. Masya Allah, betapa besar dan megahnya bangunan ini😲😲😲.
Besaarrrrr sekaliiiiiii
Menurut artikel yang saya baca, tinggi patung GWK mencapai 121 meter yang terletak 264 meter di atas permukaan laut dan menjadi patung ketiga tertinggi di dunia. Patung GWK membutuhkan ratusan bahkan ribuan material untuk membangunnya. Bahan utama untuk membangun patung Dewa Wisnu yang sedang mengendarai Garuda ini berupa campuran tembaga dan kuningan tersebut terbuat dari 754 modul dengan total berat mencapai lebih dari 2.900 ton. Selain itu, ada 21ribu batang baja dan 170ribu baut untuk menyambung patung. Menariknya, seluruh modul tersebut dibuat di studio pribadi Nyoman Nuarta yang berlokasi di Bandung, Jawa Barat👏👏👏. 

Banyak orang menyangka bahwa patung GWK ini tersusun dari bagian patung lama yang digabung menjadi satu. Ternyata, hanya bagian tangan Dewa Wisnu saja yang digunakan dan selebihnya dibuat ulang menggunakan material baru. Jadi jangan heran bila penampakan patung GWK yang baru memiliki tampilan yang agak berbeda, terutama dari segi warna dan corak. Warna hijau patung GWK terjadi karena proses aging yang dipercepat dengan cara menyemprot cairan asam di permukaan patung untuk mendapatkan tone warna gelap yang nantinya akan menyerupai patung GWK yang lama. 
Minta tolong petugasnya memotret saya
Bila dilihat secara lebih seksama, permukaan patung GWK yang lama dan baru memiliki tekstur yang berbeda-beda. Seperti bagian kepala Garuda dan badan Dewa Wisnu yang berbentuk kotak dan trapesium, serta bentuk segitiga menyerupai pola berlian yang dipahat di permukaan patung Garuda Wisnu Kencana yang baru saja diresmikan. Hebatnya, pola yang terdapat di permukaan patung dipahat secara manual menggunakan palu. Bahkan Nyoman Nuarta khusus mendatangkan seniman dari luar negeri untuk memahat beberapa bagian patung. 

Karena sudah jam 5 sore, saya jadi tidak bisa masuk ke dalam gedung dibawah patung GWK karena sudah tutup. Kalau nggak salah, isinya Gallery selama pembuatan patung beserta sejarahnya. Kita juga bisa naik sampai ke bahu Dewa Wisnu. Mungkin kalau nanti saya ke Bali lagi, saya akan datang agak siang agar bisa masuk ke dalam gedung. Kemarin itu karena kelamaan santai di hotel sih😆, jadinya gedung GWK udah keburu tutup.

Selesai mengambil foto kemegahan gedung GWK, saya kembali ke Lotus Pond. Jam 6 sore bakalan ada pertunjukan tari kecak dan ini pertama kalinya saya menonton tari Kecak selain di Uluwatu. Saya mengambil posisi duduk di tangga agar dapat melihat pertunjukan tari dengan lebih leluasa. Sayangnya hanya sendirian🙄, jadi kurang seru deh. Saya melihat ke kiri dan ke kanan semuanya pasangan atau gerombolan orang-orang dan teman-temannya. Duh, lain kali nggak mau lagi dinas ke daerah wisata sendirian.
Bersiap menonton Tari Kecak
Pertunjukan tari Kecak pun dimulai. Bercerita tentang Garuda adalah anak Winata, salah seorang istri Baghawan Kashyapa. Ia lahir dari telur yg diberikan Kashyapa pada Winata. Garuda yang disuruh mencari Tirtha Amartha, Tirtha (air) yang disebut-sebut dapat memberikan keabadian kepada siapapun yang dapat meminumnya walaupun hanya setetes, untuk membebaskan ibunya dari perbudakan. Dimulailah petualangan Garuda mencari Tirtha Amarta. Sang Garuda sampai naik ke surga untuk mencari air itu bahkan sampai memporak-porandakan surga. Beberapa dewa sampai ditantang olehnya, sampai akhirnya Garuda harus kalah menghadapi Dewa Wisnu. 
Ibu (Winata) meminta Garuda mencari Tirtha Amartha
Persiapan peperangan para Dewa
Garuda kemudian bercerita kepada Dewa Wisnu kalau dia mencari Tirtha Amertha semata-mata hanya untuk menyelamatkan ibunya. Singkat cerita, Dewa Wisnu kemudian mau menyerahkannya Tirtha Amartha dengan syarat agar Garuda mau menjadi tunggangan Dewa Wisnu yang kemudian dikenal dengan nama Garuda Wisnu Kencana. Ibu Garuda pun berhasil dibebaskan dari jeratan perbudakan.

Pertunjukannya sangat menghibur. Saya sangat menikmatinya tarian demi tarian yang indah, ditambah dengan cerita yang kuat. Seolah-olah saya masuk ke dalam ceritanya. Tari kecaknya pun sangat indah dan ramai apalagi ketika mereka serentak menyorakkan cak-cak-cak-cak-cak-cak, saya suka. Tarian kemudian ditutup dengan pertunjukan tari api yang sangat keren dan menakjubkan. 
Tarian api
Selesai menonton pertunjukan tari, saya kembali ke tempat menunggu shuttle bus. Saya mencoba memesan Grab Car dan kaget melihat harganya 140rb😧. Kenapa mahal banget? Saya bedakan dengan Grab Bike yang hanya 14rb saja, ditambah kupon promo potongan 10rb, malah jadi 4rb doang. Saya bertanya pada petugas parkiran kalau dari sini (GWK) ke toko Krisna Bali itu jauh apa nggak? Apa saya bakalan masuk angin kalau naik motor kesana😆? Petugas bilang, "Ah segitu sih deket Mbak. Udah, naik motor aja, ngapain naik mobil, mahal."

Akhirnya saya memesan Grab Bike. Saya menunggu Grab dibawah pohon besar (agak bingung mau nunggu dimana). Mana pada saat itu sedang malam jumat dan saya pakai baju putih, bisa-bisa saya dikira hantu👻. Saya akhirnya dijemput Abang Grab dan perjalanan menuju Krisna pun dimulai (seolah-olah jauh banget, padahal cuma 30 menit😄). Lumayan asyik menikmati Bali di malam hari dengan mengendarai sepeda motor, dan ini adalah pengalaman pertama saya. Seru juga kok! Tapi tetap saya lebih suka kalau ada temen, hehehe.

Baiklah, nanti saya akan bercerita lagi tentang belanja di Bali. Sampai jumpa!

Sumber:
Reactions:

0 comments:

Follow me

My Trip