April 24, 2021

Kontrol Ramadhan

Setelah sebulan lebih nggak kontrol, akhirnya datang juga jadwal yang sudah di booking dari sebulan yang lalu. Pas banget saya baru pulang travelling dari Raja Ampat, Sumatra Barat, dan Pekanbaru. Udah ntah 'gimana ini kawat giginya. Oh iya, kali ini OMDC memberikan saya Alat Pelindung Diri (APD) berwarna pink yang cocok banget dengan tema klinik yang serba pink. Kebayang kalau pasien cowok yang pakai, pasti jadi cute😙.

APD Pink

Ketika tiba giliran saya untuk kontrol, tiba-tiba Orthodentist nanya:

"Eh iya gimana di Raja Ampat?"
"Lho, kok dokter inget?"
"Inget dong, kan kamu nego sama saya untuk nggak pake kawat elastis."
Saya langsung ngakak😂, "Indah banget disana dok😍. Surga dunia. Dokter ngga kesana?"
"Males ah saya udah punya bontot. Nanti kalau saya kenapa-napa, siapa yang sekolahin? Temen saya dulu naek gunung, eh nggak pulang lagi." Dokter jadi curhat.
"Hmm, kematian itu dimana aja dokter... 😇" Lalu hening.

Dokter lalu membuka karet gigi saya, sambil terus bertanya:

"Dapat tiket berapa kemarin?"
"125rb pulang-pergi dokter." (Berusaha menjawab sambil gigi di bongkar-bongkar)
"Wah murah banget. Pakai pesawat apa?"
Saya mulai kesulitan mau menjawab karena bibir ditarik-tarik, gigi ditekan-tekan, "A-asia.."
"Apa?" tanya dokter.
"ArAsia..."
"Oh murah ya? Kok bisa murah?"
Saya diam.
"Apa karena maskapai budget?"
Saya geleng-geleng. Mana tangan lagi pegang hp. Mau nunjuk ke mulut susah.
"Trus kenapa murah banget?"
Akhirnya saya nunjuk-nunjuk ke mulut. Trus dokter tertawa😂, lalu menyuruh saya berkumur.
"Saya nggak bisa jawab pertanyaan dokter selagi dokter ngerjain gigi sayaaa...😭😭😭"
Dokter lalu ngakak banget🤣🤣🤣. Saya merasa dikerjain.

Sebenarnya dokter mau memotong gusi saya (lagi) yang sebelah kiri seperti yang beliau lakukan di bulan yang lalu (sebelah kanan). Tapi karena saya sedang berpuasa, takut air dari bornya heboh nanti tertelan, jadi ditunda bulan depan aja. Selama sebulan ini, saya diwajibkan memakai karet elastis lagi agar gigi lebih rapat. Kalau lagi berpuasa dan di rumah aja sih sebenarnya nggak apa-apa pakai karet elastis. Tapi kalau lagi jalan-jalan, snorkeling, atau kulineran di kota baru, duh karet elastis ini mengganggu sekali. Berhubung mau pulang kampung, jadi saya pakai aja biar cepet rapi.

Kalau dilihat dari foto sih, gigi atas saya masih miring. Ntah kenapa rahang saya sulit sekali dilurusin. Awalnya perkiraan dokter hanya 2-3 tahun saja, ehh ini udah mau 4 tahun tapi belum selesai juga. Huff, baiklah, saya ikuti saja semua saran dokter. Toh wajah saya sudah berubah drastis dari tahun demi tahun.

Gigi atas masih miring
Biaya APD Rp. 75,000
Charge Pasien Lama Rp. 40,000
Kontrol Ortho Emergency Shappire Rp. 275,000
Karet Elastis Rp. 60,000

Maret 16, 2021

Potong Gusi Sedikit

Kontrol di bulan Maret ini agak lucu karena tepat 3 hari sebelum saya ke Raja Ampat. Sebenarnya jadwal saya kali ini adalah potong gusi (lagi), dan saya sengaja nggak ungkit-ungkit supaya Orthodentistnya lupa. Sayangnya jangankan lupa, malah hal ini duluan yang paling diinget sama dokter. Oh no🙊!

Saya bertanya, "Dok, dijahit nggak? Saya mau ke Raja Ampat lusa." Dokter keheranan, "Wah asik banget. Nggak dijahit kok, cuma dilukai 'dikit aja." Trus saya lanjut lagi, "tapi nanti saya tetap bisa snorkeling kan?" Tanpa menjawab, dokter langsung ngebor gusi saya dan sakittttt banget ya Allah😭. Sampai menetes air mata ini😢.

"Yak selesai! Cuma sebentar kok, nanti malam juga udah sembuh lukanya" kata Orthodentist dengan santainya. Saya mengelap air mata seraya berkumur betadine agar darahnya cepat kering. Dokter bilang, "Nanti kamu usahakan saja ya pakai karet elastis. Kalau memang nggak bisa, ya progress celah giginya untuk rapat ya semakin lama." Huff, menurut saya memang nggak bisa sama sekali sih untuk pakat karet elastis, nanti 'gimana mau snorkeling?!

Sewaktu saya lihat di cermin, lukanya memang sangat kecil tapi terasa sakit karena nggak dibius. Teringat operasi potong gusi sama dokter Arbi yang dibius berkali-kali sampai saya ketakutan dan hampir pingsan, hahaha. Jadinya operasi potong gusi seperti ini sih kecil buat saya. Walaupun tetap keluar air mata karena sakit.

Posisi gusi yang dipotong sedikit


Biaya APD Rp. 75,000
Charge Pasien Lama Rp. 40,000
Kontrol Ortho Emergency Shappire Rp. 275,000
Karet Elastis Rp. 60,000

Februari 17, 2021

Masih Ada Celah Gigi

Sudah 3,5 tahun memakai kawat gigi dan ternyata jauh dari harapan saya kalau untuk 'kasus' seperti saya bakalan cepat selesai. Pada kenyataannya bukan gigi yang bermasalah, tapi tulang mulut dan rahang. Saya kira dulu karena gigi saya tumbuh dengan benar dan saya tidak tonggos, mungkin proses menuju Perfect Smile hanya membutuhkan perawatan maksimal 2 tahun. Sayangnya saya salah besar, sekarang bahkan sudah hampir 4 tahun.

Kemarin saya kontrol lagi dan Orthodentist bilang kalau gigi saya masih bercelah walaupun sangat kecil. Dokter bisa memasukkan alat ke celah gigi saya. Saya merasa setelah operasi gusi kemarin dan operasi gigi pojok, barisan gigi memang merenggang. Tapi dokter bilang hal itu tidak berpengaruh. Apakah karena saya makannya nggak ditahan? Semua saya makan🤭. Bahkan kemarin di Pekanbaru sampai makan udang galah dan kawat saya patah, bukan copot lagi🤭. Padahal ujung hidung, ujung bibir atas, gigi seri atas-bawah, bibir bawah, dan ujung dagu sudah berada dalam satu garis lurus. Tapi memang kiri dan kanan barisan gigi masih miring.

Secara vertikal udah lurus, tapi horizontal masih miring
Orthodentist kali ini melilitkan kawat ke seluruh gigi atas saya dan mengencangkannya, lalu dipasangkan karet kembali. Saya langsung merasa susah buka-tutup mulut karena 'kencang' banget di barisan gigi atas. Bahkan saya disuruh pakai karet elastis lagi. Dokter kemarin agak pusing kenapa gigi saya kembali renggang, padahal udah rapat banget beberapa bulan yang lalu. 

Dokter bilang, "Bulan depan saya potong deh gusi kamu di dua sisi."
Saya kaget, "HAH😱? Ke dokter Arby lagi?" (Dokter Arby adalah Spesialis Bedah Mulut). Saya langsung berpikir jahit-jahitan lagi, nggak bisa makan lagi, oh tidakkk!😭😭😭
"Nggak, nanti saya yang potong."
"Lho, dokter potong-potong gusi juga😲?" heran saya.
Dokter ketawa, dan saya pasrah (takut).
Mana bulan depan harus ke Raja Ampat lagi. Masa' saya kesana dalam kondisi mulut habis dijahit? Nanti 'gimana mau pakai alat snorkeling😱. Mungkin kalau harus jahit-jahitan, saya bakalan nego untuk diundur ke 2 minggu lagi aja deh. Semoga berhasil!

  • Biaya APD Orthodentist Rp. 75,000
  • Charge Pasien Lama Rp. 40,000
  • Kontrol Orthodentist Sapphire Rp 275,000

Januari 28, 2021

Mengelola Keuangan Ala Saya

Ntah berapa kali orang-orang bilang, "Mut, enak ya jadi CEO. Duitnya banyak." Dan ada juga yang bilang, "Mut, kamu CEO, mobil aja nggak punya." Huff😑😑, cuma bisa mengelus dada. Apakah kalian tau hal apa yang paling dekat dengan seorang CEO yang sedang merintis perusahaan? Kalau menurut saya adalah 'bokek'. Iya, saya memang sering bokek, tapi saya selow aja. Done writing....

Duit oh Duit

Tenang saja, saya tidak akan hanya membahas satu paragraf saja di postingan kali ini. Tapi saya akan menulis beberapa hal. Memiliki perusahaan tidaklah mudah, bahkan sangat sulit. Ntah berapa kali saya jatuh, bangkit lagi, jatuh lagi, dan kembali bangkit. Saya sering kehabisan uang, dan sering juga mendadak kaya. Kalau dulu sih sewaktu mendadak kaya, saya bisa berfoya-foya sampai akhirnya tidak memiliki uang sepeser pun. Teringat pada saat itu ketika nggak punya duit, saya pulang ke Aceh dan minta Mama saya menjamin hidup dengan memberikan makan tiga kali sehari. Mama bilang, "Makan boleh. Tapi nggak boleh belanja beli baju, nggak boleh ke salon, dan nggak boleh jalan-jalan." Baiklah Ma, saya nurut saja. Yang penting bisa bertahan hidup🥲.

Dengan uang pencairan asuransi kantor sebelumnya, saya bisa balik lagi ke Jakarta dan mencoba bertahan hidup (lagi). Karena masih kekurangan uang juga, saya pernah ikut bazar untuk berjualan kosmetik Korea dan keripik hanya untuk menjamin saya bisa makan di minggu itu. Minggu depan kita pikirkan nanti saja. Dan semua hal ini terjadi ketika saya baru 2 bulan mendirikan perusahaan. Apakah hal ini enak? Tidak sama sekali. Dulu saya berpikir kalau keputusan mendirikan perusahaan seperti bunuh diri, tapi ternyata tidak juga. Ini memang cita-cita saya dari kecil, jadi direktur. Jadi kalau punya cita-cita ya dikejar saja. Kalau belum tercapai, selagi masih nyawa di badan, berarti masih ada harapan.

Pada akhirnya memang hasil tidak akan mengkhianati proses. Seandainya saya dulu selalu banyak duit, saya tidak bisa merasakan bagaimana susahnya memperjuangkan sesuatu. Saya memang sangat mencintai perusahaan, karena sudah saya perjuangkan dari tidak ada uang sepeser pun, sampai banyak sekali. Dari kepepet tidak punya uang, saya bisa menguras otak untuk mengeluarkan ide-ide cemerlang agar menghasilkan duit. Bukan duit yang banyak, tapi duit untuk makan pada minggu itu saja, untuk bertahan hidup. Kalau kalian terus memiliki banyak uang, kalian pasti nggak tau rasanya uang di ATM nggak bisa ditarik lagi sama sekali. Kalau kalian makan enak terus, kalian nggak akan tahu caranya mengolah makanan yang dibeli kemarin sampai bisa dimakan lagi hari ini. Itulah kehidupan saya, sejak awal resign dari perusahaan yang lama, sampai sekarang. Meskipun sekarang sudah jauh lebih baik.

Saya jadi terbiasa mengelola uang dengan cara saya sendiri sejak terlalu sering jatuh-bangun. Jangan tanya berapa uang yang saya miliki di rekening karena memang jarang ada cash berlebihan. Oh ya, saya punya rekening di beberapa bank tapi isinya hanya nol rupiah saja. Jadi kalau harus mendebit kartu ketika sedang belanja, saya harus berpikir dulu, "ini kartu debit ada duitnya nggak ya🤔?" Biasa saya isi hanya untuk membayar kartu kredit. Kalau nggak ada tagihan ya berarti enggak diisi😬. 

Baiklah, mari kita tulis secara detail satu demi satu caranya mengelola uang ala saya yang sebenarnya nggak bisa diterapkan juga kalau hal-hal darurat terjadi. Nah, lho?🤔

1. Prioritas Dalam Setahun

Ini menjadi tabungan yang saya nggak bisa diganggu gugat kecuali Spring di Amazon. Kenapa begitu? Karena biasanya Spring membuat Amazon saya banyak pesanan dan saya harus memiliki modal besar. Kalau nggak cukup modal, kadang saya pinjam uang tapi hanya sebulan doang karena uang di Amazon rilis dalam jangka waktu sebulan. 

Misalnya saya prioritaskan untuk renovasi rumah senilai minimal 500 juta, berarti saya harus memaksa diri saya menabung sampai mencapai angka itu. Atau, saya memaksa otak saya berpikir agar penjualan perusahaan termasuk gaji saya bisa segitu, atau berinvestasi di bisnis lainnya. Lalu saya pasang target, pokoknya di bulan Agustus sudah terkumpul segitu dan saya harus renovasi rumah.

2. Uang Menikmati Hidup

Biasanya dalam setahun saya menganggarkan diri saya sendiri untuk jalan-jalan. Nah, ketika saya nggak bisa jalan-jalan karena pandemi, saya akan pakai uangnya untuk perawatan diri ke skin care. Sebenarnya dalam anggaran jalan-jalan juga ada anggaran perawatan kulit, tapi saling menutupi satu dengan yang lain. Kalau misalnya uangnya terpakai banyak untuk jalan-jalan, berarti saya perawatan kulit bakalan jarang. Begitu juga sebaliknya. Kalau masih ada duit juga, saya akan belanja baju, beli hal lain, pokoknya memang bakalan dihabiskan. Kok terkesan boros? Karena saya rasa sudah sangat capek bekerja dan saya butuh uang untuk refreshing, memanjakan diri sendiri.

Kalian harus ingat, saya tidak selalu mengisi uang untuk menikmati hidup apalagi dalam keadaan bokek. Mau diisi dengan apa emangnya? Hahaha😂😂😂. Tapi kalau memang ada, saya sisakan perbulan untuk diri sendiri. Kalau misalnya saya nggak punya duit tapi saya ingin jalan-jalan atau ke salon, berarti saya akan mencoba berbagai cara untuk mendapatkan duit. Misalnya jualan tanaman hias dari halaman sendiri, jualan barang di Marketplace luar negeri diluar pengelolaan perusahaan, dan lainnya untuk menambah uang saya. Sekarang orang-orang sedang main saham tuh, tapi saya males juga. Tunggu sampai saya paham hukumnya dalam islam dulu, baru mau saya jalankan.

3. Uang Dadakan

Kadang atap rumah bocor, pintu rumah rusak, saya sakit, atau harus menikah. Itu semua butuh uang. Nah, uang ini sudah harus dipersiapkan terlebih dahulu. Kalau rumah harus diperbaiki sih mungkin hanya memakan beberapa juta saja. Kalau saya sakit, masih ada asuransi kantor. Nah kalau harus menikah nih yang pasti butuh uang banyak. Walaupun saya lebih suka acara pesta pernikahan sederhana saja. Semoga bisa menikah di masa pandemi, sehingga tamu yang diundang hanya sedikit saja karena tidak boleh ada kerumunan. HAHAHA!🤣🤣🤣

Nah, tiga hal diatas adalah cara saya mengelola keuangan. Jangan tanya anggaran saya beli mobil karena itu belum ada. Kalau pun bisnis memerlukan uang yang sangat banyak, berarti ketiga poin diatas akan saya gunakan untuk menyokong bisnis perusahaan terlebih dahulu karena menyangkut karyawan yang harus gajian. Kalau pun uang saya nanti bakalan kurang, saya sudah biasa. Kalau mendadak banyak uang, saya sudah biasa juga. Menjadi pengusaha memang harus memiliki mental baja, agar sanggup menghadapi cobaan demi cobaan yang terjadi.

Satu hal yang paling penting, rajin beribadah kepada Allah subhanahu wata'ala adalah kewajiban yang hakiki. Seandainya saya nggak ada uang pun, selama iman masih ada di hati, maka yang saya akan mendapat kedamaian. Selebihnya, tinggal berusaha lebih keras, berdoa, bersedekah, dan berbuat baik kepada sesama manusia juga merupakan kunci kesuksesan. Oh ya, menjalankan bisnis sesuai dengan hukum islam itu susah lho. Dalam hal ini kita nggak bisa egois. Perlu diingat kalau ada uang haram dalam perusahaan, maka haram juga apa yang kita makan. Maka sedapat mungkin, harus terus belajar mengerti hukum-hukum agar tidak terjerumus dalam kemaksiatan. Karena walaupun kita memiliki uang sedikit tapi berkah, pasti rasanya senang aja terus. Walaupun sering dilanda bokek, hahaha😂😂 (itu saya maksudnya).

Semoga tulisan dadakan ini dapat bermanfaat untuk kalian yang ingin mengelola keuangan. Ketika saya baca ulang dari awal, saya malah merasa tulisan ini agak keluar dari topik deh, hahaha😂. Maafkan ke-random-an saya ini. Ya udahlah, kalau ada pertanyaan silahkan tulis di komentar aja ya. Kalau mau baca postingan sebelumnya tinggal klik aja tanda ke kanan di bawah ini. Sampai jumpa!

Januari 18, 2021

Kontrol Pertama di 2021

Tibalah saatnya jadwal kontrol gigi (lagi) di tahun baru ini. Setelah selesai operasi gusi, lalu operasi gigi bungsu, baru deh Orthodentist bisa merapikan gigi saya kembali. Sudah tiga kali operasi dan satu kali cabut gigi 🥺selama menjalankan program menuju Perfect Smile ini. Saran saya kalau kalian akan memakai behel dan memiliki gigi atau gusi bermasalah, misalnya gigi tidur, gigi miring, gusi tidak rata, mendingan diselesaikan dulu. Karena kalau sudah memakai behel dan baru ditengah jalan dioperasinya, jadi memperlambat proses gigi menjadi rapi. 

Operasi gusi di bulan November membuat deretan gigi atas saya kembali renggang. Jadi kemarin harus dipasangkan karet pengikat tambahan bahkan diseluruh gigi untuk merapatkannya kembali. Operasi gigi bungsu yang dilakukan pada bulan Desember mengakibatkan rahang pipi sebelah kanan sangat bengkak. Hal ini berpengaruh pada sendi di pinggir telinga yang jadi kembali berbunyi ceklak, cekluk🥺🥺🥺. Mungkin trauma pada rahang pasca operasi sangat besar, jadi membuat deretan gigi bawah pun jadi berpengaruh. Walaupun tetap rata dan rapat, tetap saja rahangnya menjadi miring.

Gigi atas masih miring tapi sudah jauh lebih baik
Orthodentist kemarin memperbarui kembali kawat indikator untuk seluruh gigi. Setelah itu dokter kembali menarik karet pengait antar gigi sampai sangat kencang😭, yang membuat gigi-gigi geraham jadi kehilangan kekuatan untuk mengunyah. Seluruh gigi saya jadi sakit😭, sikat gigi aja sakit😭, mengunyah sakit😭, bahkan kalau tanpa sengaja gigi atas dan bawah bersentuhan, wah mati deh rasanya sakit syekaliiiii😭😭😭. Haduwh, jadi terasa seperti dua tahun yang lalu dimana gigi masih ditarik-tarik sama dokter. 

Semoga dalam seminggu ini rasa sakit segera berkurang ya Allah. Aminnn😭! Sementara saya cuma bisa makan telur dan ikan saja. Daging ayam dan sapi sama sekali nggak bisa dikunyah.

  • Service Charge Rp. 40,000
  • APD Rp. 95,000
  • Kontrol Sapphire Braces Orthodentist Rp. 275,000

Januari 01, 2021

Welcome 2021

Sudah tahun 2021 saja, tidak terasa😊. Ntah kenapa tahun 2020 seolah berlalu dengan cepat. Kalau orang-orang bilang tahun 2020 tidak ada artinya dan berlalu begitu saja, hal tersebut sangat berbeda dengan saya. 2020 begitu berwarna-warni bagi saya🥳. Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang yang mencurahkan begitu banyak rahmat dan karunia di tahun 2020. Alhamdulillah. Baiklah, saya akan menjabarkan satu demi satu. Semoga nggak ada yang baper setelah baca ini😉.

1. Rancupid Pecah Rekor Penjualan

Awal tahun 2020 kemarin, perusahaan sempat krisis (lagi). Sebenarnya saya sudah terbiasa menghadapi krisis di perusahaan. Sudah seperti makanan sehari-hari. Namanya juga merintis usaha, pasti ada saat-saat sangat sulit. Belum lagi perusahaan banyak berhutang yang membuat saya pusing tujuh keliling. Tapi tetap saja, saya sabar. Sepertinya sabar adalah hal tersulit di dunia tapi cuma itu yang bisa saya lakukan pada saat itu seraya terus belajar dan mencari tau bagaimana mengembalikan kondisi keadaan perusahaan.

Di saat penjualan perusahaan mulai naik, Jakarta berlaku PSBB Total dan kita semua nggak bisa ngantor sama sekali. Karena orderan di Amazon menaik terus, saya merasa PSBB justru lebih baik agar bisa memaksimalkan konfirmasi orderan yang begitu banyak. Sampai akhirnya begitu banyak penjualan dari negara-negara yang lockdown, sedangkan Rancupid tidak memiliki uang cash sama sekali lagi untuk belanja stok produk. Terpaksa mengemis pinjaman kesana-kemari sampai akhirnya kami bisa mengembalikan kondisi perusahaan sampai untung berkali-kali lipat🤩🤩🤩. Semua hutang terbayar seketika, dan hati senang juga lega karena tidak ada lagi hutang. Bahkan bonus yang didapat dari perusahaan pun berkali-kali lipat. Alhamdulillah.

2. Ramadhan dan Idul Fitri di Depok

Seminggu sebelum Ramadhan, amazon saya suspend. Padahal uang yang tertahan di amazon banyak sekali dan saya sampai stress🤯🤯🤯. Saya jadi malas ngapa-ngapain, jadi demam, pusing, teringat uang sebanyak itu tertahan belum lagi tagihan kartu kredit untuk belanja ke suplier membludak. Saya jadi sangat sedih. Uang itu sebenarnya mau saya pakai untuk banyak hal. Mana suspend kali ini begitu sulit untuk dibuka. Hampir setiap hari saya kirim appeal letter ke amazon, sambil berdoa, dan menyuruh semua teman-teman mendoakan amazon saya agar segera buka.

Ramadhan pun tiba. Untuk menata hati yang sedih karena amazon suspend, saya jadi menyibukkan diri untuk meningkatkan kualitas ibadah. Soalnya pekerjaan saya jadi berkurang jauh. Semua pekerjaan Rancupid sudah dikerjakan karyawan dan freelancers, jadilah saya tidak terlalu banyak kerjaan🙁. Hanya memantau saja kalau ada amazon yang sedikit bermasalah. Sisa hari saya lalui dengan belajar bahasa Arab, menghafal Al-Qur'an lagi, belajar masak, dan mendengar banyak tausiah di Youtube. 

Saya jadi merasa Ramadhan kali ini sangat berarti. Hari demi hari saya lalui hanya dengan hal-hal bermanfaat untuk menambah amalan. Sampai ketika Idul Fitri tiba, saya jadi merasa menang melawan hawa nafsu. Saya jadi berpikir, seandainya amazon saya tidak suspend, mungkin saya akan fokus pada nyari duit melulu dan mengurangi kadar beribadah. Hal itu sebenarnya tidak baik di sisi Allah. Saya justru jadi bersyukur, biarlah amazon suspend pada saat itu, toh uang dari Rancupid masih ada dan lebih dari cukup untuk membiayai kehidupan saya selama pandemi. Sampai akhirnya amazon saya terbuka lagi, dan uang mulai datang lagi. Alhamdulillah.

3. Akhirnya Dia pindah ke Jakarta

Saya tidak mungkin menulis namanya disini, karena bisa menggemparkan dunia persilatan😁. Saya ngefans kepadanya sejak 2016, tepatnya setelah 6 bulan putus dari pacar yang sebelumnya. Bayangkan, sudah 4 tahun lebih berarti. Dari mulai saya belum pakai behel, sampai sekarang wajah saya sudah berubah jauh. Biasanya hanya melihatnya di media sosial atau chatting via Whatsapp seperlunya. Dari 2016 sampai sekarang padahal saya sudah beberapa kali dekat dan berpacaran dengan cowok lain, tapi tetap saya ngefans kepadanya. Bahkan sampai membuat pacar saya jealous dan saya harus diam-diam chatting dengannya. Padahal saya nggak selingkuh, cuma chatting doang🙄. Saya memang suka melihat Instagram feedsnya yang suka jalan-jalan, karena saya juga suka. Beberapa kali dia pernah dinas ke Jakarta, dan betapa sering saya ngajak ketemuan dan dia nggak bisa. Huff, sedih deh🙁.

Sampai akhirnya dia pindah ke Jakarta bulan Juli 2020 kemarin. Saya senang banget dan sangat antusias. Saya langsung mengajaknya ketemu. Awalnya dia nggak mau karena mungkin masih sibuk pindahan, sampai dia bisa juga ketemuan itu pun setelah saya desak. Saya baru bisa melihat wajahnya sedekat itu. Duh senang banget rasanya🥰. Kita bisa ngobrol lama sambil makan. Saya merasa dia lebih asik kalau ketemu langsung daripada chatting. Dia juga jadi pakai behel karena melihat sapphire braces berwarna bening yang saya pakai. Saya juga yang menemaninya ke dokter gigi. 

Sayangnya, hubungan kita tidak semulus itu. Saya kira, karena sudah beberapa kali bertemu dan nongkrong bareng, saya bisa mengajaknya bertemu dengan teman-teman saya. Atau paling nggak, jalan-jalan bareng karena kita punya hobi yang sama. Tapi semua dia tolak. Bahkan ajakan untuk sekedar nongkrong di Cafe pun sudah tidak pernah digubris lagi, apalagi jalan-jalan keluar kota😕. Saya jadi berasumsi kalau memang dia membatasi bertemu dengan saya, dan saya terlalu naif. Saya juga baru sadar kalau selama ini semua hadiah yang saya berikan tidak pernah di posting di sosial media. Padahal dia selalu memposting hadiah sepele dari beberapa cewek (dan ada satu cewek yang selalu di post🙄). Baiklah, mungkin dia memang tidak suka berteman dengan saya. Dan saya tidak bisa memaksa orang untuk melakukan hal itu. Mungkin sudah saatnya saya tidak melihat sosial medianya lagi. Semoga suatu hari dia tau, kalau dia punya die hard fans, and it was me.

4. Berlibur ke Medan

Setelah bertahun-tahun tidak ke Medan, akhirnya diberikan kesempatan oleh Allah SWT untuk kesana lagi. Kota Medan sangat mengingatkan saya kepada almarhum Papa. Dulu Papa selalu membawa saya berobat ke kota ini, menyetir mobil dari Lhokseumawe, hanya demi saya bisa bertahan hidup🥺. 

Dulu juga setiap saya pulang dari Bandung atau Jakarta, Papa sering menjemput. Pernah juga Papa diperas oleh polisi gadungan sampai melayang uang Rp. 300,000. Teringat dulu kita sempat kehabisan uang dan Rp. 300,000 itu sangat berarti. Papa juga suka banget makan di resto Garuda, jadi saya menyempatkan juga untuk makan disana bersama abang. Duh, mengetik tulisan tentang Papa selalu membuat saya sedih. Semoga kami bisa menjadi amalan jariyah, Pa. Betapa saya kangen sekali....😭😭😭

5. Berlibur ke Tanjung Bira dan Toraja 

Alhamdulillah bisa terealisasi juga berlibur ke Tanjung Bira dan Toraja. Sebenarnya liburan kesini tuh sudah menjadi rencana teman-teman Rancupid sejak kita pulang dari Flores. Tapi karena pandemi, tidak semua orang bisa bebas berpergian. Semula yang ingin berlibur beramai-ramai, jadi cuma berempat😂. Tapi tidak mengurangi esensi dari liburan kok, hanya saja karena bukan dengan anak-anak Rancupid, saya tidak bisa liburan dengan jadwal perjalanan yang terlalu padat dan capek. Kasihan teman saya yang hampir nggak pernah jalan-jalan jadi ngos-ngosan😂.

Berlibur di kala pandemi memang banyak keterbatasan. Selain karena adanya pembatasan jumlah orang yang masuk ke tempat wisata, pembatasan jam buka, dan banyak tempat oleh-oleh berdampak pendemi jadi udah nggak jualan lagi. Kasihan sih, tapi memang ini adalah masalah sebagain besar orang. Bukan hanya mereka. Nanti akan saya tuliskan secara detail di postingan terpisah tentang perjalanan ke Sulawesi Selatan.

Saya berharap di tahun 2021 pandemi segera berlalu. Semoga orang-orang mau divaksin agar memutus rantai penularan. Semoga bisa jalan-jalan ke luar negri lagi. Dan yang paling penting, semoga bisa menikah. Amin ya Rabb🤲!

Desember 26, 2020

Snorkeling di Pulau Liukang Loe

Tidak lengkap rasanya kalau pergi daerah pantai tapi nggak snorkeling. Saya dan teman-teman menyewa kapal seharga Rp. 300rb untuk mengantarkan kami snorkeling sampai pulang lagi ke Tanjung Bira. Mumpung masih pagi dan belum waktunya check-out, jadi kita bisa memanfaatkan waktu semaksimal mungkin untuk menikmati keindahan bawah laut di sekitar Pulau Liukang Loe.

Kapal motor

Lokasi Pulau Liukang Loe ada di sebelah barat Pantai Tanjung Bira, sekitar 15-20 menggunakan kapal motor. Nama Liukang Loe berasal dari bahasa Konjo (bahasa daerah setempat) yaitu Liukang berarti kayu hitam dan Loe berarti banyak. Dari namanya saja sudah bisa ditebak kalau di Pulau ini memang banyak terdapat kayu hitam. Pulau ini juga dihuni oleh dua kampung yaitu Kampung Buntutuleng dan Passilohe. Sayangnya, kami tidak merapat ke pesisir pulau, hanya snorkeling saja di sekitar situ.

Mencuci alat snorkeling dengan sunlight

Sebelum memulai snorkeling, kami mencuci alat dengan sunlight yang sempat dibeli sewaktu sarapan tadi. Walaupun awak kapal bilang kalau alat snorkeling sudah direbus dan kumannya sudah mati, tetap saja kami mengantisipasi dengan mencuci pakai sabun cuci piring. Kayaknya kita memakai sabun kebanyakan, sehingga sewaktu dipakai di mulut, eh masih banyak gelembung-gelembung😄. Jadinya walaupun sudah turun ke laut, tetep aja harus membilas alat snorkeling lagi sampai benar-benar tidak berbusa. Baru deh mulai berenang.

Pulau Liukang Loe terkenal mempunyai keindahan bawah laut yang sangat mempesona dan menjadi daya tarik paling utama bagi para pengunjung agar mencoba diving dan snorkeling. Ikan-ikannya masih banyak, mengikuti kita berenang. Awalnya teman saya Dita masih takut berenang. Ntah kerasukan setan apa😄, eh dia malah berani banget nyebur sana-sini, berenang sampai jauh tanpa perlu ditemani. Berhubung saya masih agak trauma dengan laut, jadi saya berenangnya nggak terlalu jauh.

Ikannya banyak
Terumbu karang
Saya mencoba melepas life vest
Baru enak berenang tapi tetap memegang tali kapal
Ikannya semakin banyak
Terumbu karang yang cantik

Setelah sejam snorkeling, kami kembali ke kapal. Bapak nahkoda menyarankan kita untuk pergi ke penangkaran penyu. Kami sih langsung oke aja, mumpung masih ada waktu sebelum check out hotel. Kapal kemudian diarahkan menuju dermaga pulau, tempat penangkaran penyu di rumah apung. Kami cukup membayar Rp. 5000 perorang untuk berenang bersama penyu. Awalnya saya agak takut karena penyunya gede bangeeet😲😲😲, Masya Allah! Tapi lama-lama seru juga. Apalagi melihat Dita berani banget nyebur sana sini dan berenang bersama penyu😄.

Penyu gedeee
Penyu terlihat dari dekat
Diantara jaring
Kami menghabiskan waktu berenang bersama penyu kurang lebih sekitar 30 menit. Setelah itu kita naik ke kapal untuk kembali ke Tanjung Bira. Seru sekali hari itu, walaupun waktunya sangat singkat dan sangat menguras tenaga. Semoga suatu hari bisa kesini lagi.

Sampai penginapan, saya mandi, beres-beres koper, lalu checkout. Karena sudah siang dan laper berat setelah kecapekan snorkeling, tempat yang kami cari pertama kali adalah Restoran. Kita nggak mau lagi sampai telat makan seperti kemarin, takut jadi lemes ketika tiba di Makassar nanti. Kami lalu mampir di RM. Aroma Laut, Bulukumba, yang jaraknya sekitar 20 menit dari Tanjung Bira. Restonya nyaman banget dan ada AC. Kita pesan banyak makanan seperti ikan bakar, cumi goreng tepung, sayur toge, udang telur asin, dan sambal. Selagi menunggu makanan datang, kami shalat secara bergantian.

Pesanan kita
Padahal kita shalat cuma 15 menit, tapi semua makanan sudah terhidang setelah kita selesai shalat. Berbeda sekali dengan warung pinggi dermaga, tempat kami makan malam kemarin yang membuat kita menunggu sampai satu jam. Langsung saja semua makanan di lahap dengan cepat, saking laparnya. Saya sampai memesan 2 gelas minuman biar kenyang, hahaha😂😂.

Alhamdulillah kenyang dan kita hanya membayar Rp. 197,000 saja untuk makanan sebanyak itu. Setelah membayar, kami melanjutkan perjalanan ke Makassar yang menempuh jarak 4 jam. Selama perjalanan saya selonjoran di jok belakang dan bercerita banyak hal dengan teman-teman sehingga jarak mulai tidak terasa. Baiklah, nanti saya lanjutkan cerita lagi. Sampai jumpa!

Desember 24, 2020

2 Tanjung Kembar - Bira & Bara

Perjalanan dari Tebing Appalarang ke Tanjung Bira memakan waktu sekitar 30 menit. Yang jadi masalah adalah karena kita belum memesan hotel. Agak takut kesorean juga sih, mana kita belum makan siang. Untuk bisa memasuki kawasan Pantai Tanjung Bira Bulukumba, kita dikenai biaya Rp 15.000 perorang, ditambah Rp. 10.000 untuk mobil. Saya mengira masuk ke kawasan pantai bakalan gratis apalagi di kala pandemi seperti ini, tapi ya sudahlah. Mereka pasti membutuhkan biaya untuk mengelola pariwisata.

Kami menuju ke kawasan Pantai Tanjung Bara terlebih dahulu untuk mencari-cari penginapan. Semula mau memilih kamar di sisi pantai yang disarankan oleh teman saya Dita. Tapi ntah kenapa semenjak pandemi, kamarnya seperti tidak diurus. Kamar berjamur, bau lembab, banyak sarang laba-laba🤢. Padahal kata Dita, setahun yang lalu kamar ini dipersiapkan untuk bos-bos karena luas dan langsung menghadap ke pantai.

Akhirnya kami jadi harus mencari hotel lagi dan hal ini sungguh melelahkan😫. Saran saya memang dari awal sudah di booking secara online biar nggak kehabisan energi untuk mencari dan bernegosiasi. Beberapa penginapan atau hotel yang ber-AC menaruh harga Rp. 750,000 permalam dan nggak mau sama sekali menurunkan harga, meskipun nggak ada pengunjung hari itu😫. Padahal 'kan lumayan kalau kami mengambil kamar 2 malam seharga sejuta, mereka udah dapat duit gitu. Tapi mereka tetap nggak mau menjual seharga Rp. 500,000, dan hampir semua resort begitu. Kalau mau yang tidak pakai AC sih banyak yang dibawah Rp. 500rban. Duh, suasana pantai begini, mana enak nggak pakai AC🥵. Para penjaga penginapan bilang, dulu bule'-bule' lebih suka yang nggak ada AC, biar lebih natural. Hadoh, apaan natural, panassss🥵🥵🥵! 

Suasana penginapan tanpa AC

Akhirnya kami mencari kamar yang agak jauh dari pantai seharga Rp. 350,000 dengan fasilitas seadanya banget (yang penting ber-AC) di Tanjung Bira. Udah capek juga untuk bernegosiasi. Kalau mau mencari penginapan murah memang lebih baik ke Tanjung Bira. Kalau air laut nggak pasang, kita bisa jalan menyusuri bibir pantai sampai ke Bara. Hari itu karena sudah lelah, setelah mandi sore kami mencari makan di sisi dermaga. Agak bingung mau makan apa karena pilihan makanan di tempat ini tidak sebanyak di Makassar. 

Dermaga
Kami memesan ikan bakar rica, sup ikan, dan kangkung untuk bertiga. Sekaligus es jeruk dengan porsi nasi yang sungguh banyak. Kalian tau, makanannya baru datang sejam kemudian😮. Bayangkan udah lapar, makanan lama datang, sampe kita jadi nonton sinetron di Indosiar yang ada di rumah makan, saking udah nggak tau mau ngapain lagi. Sesaat setelah makanan datang, karena kita lapar berat, semua makanan ini bisa langsung dihabiskan tanpa bersisa hanya dalam waktu 15 menit. Nunggunya sejam, habisnya cuma dalam beberapa menit saja😓. Total harga makanan kita adalah Rp. 115,000.
Makanan yang datang sejam kemudian
Setelah makan, awalnya mau jalan-jalan dulu melihat kampung sekitar di malam hari. Tapi setelah magrib aja udah sepi banget, hampir nggak ada orang di jalan. Kirain bakalan seperti Bali 'gitu dimana Cafe atau Resto buka di malam hari. Mungkin karena pandemi juga, sudah banyak pertokoan tutup. Ya udah deh, balik ke penginapan aja untuk beristirahat. Agar besok bisa puas main di pantai.
Jangan buang sampah sembarang ya

Besok paginya, saya langsung berganti baju renang bahkan sebelum sarapan. Niatnya mau mandi di pantai terlebih dahulu bareng Dita. Kita pakai mobil ke Tanjung Bara karena nggak bisa menyusuri garis pantai ke arah barat. Pagi itu air laut sedang pasang, jadi agak serem juga kalau jalan kaki dengan air laut yang tinggi, takut terus bertambah tinggi.

Pertokoan di sisi pantai Tanjung Bara

Sesampai di Tanjung Bara, saya dan Dita sibuk berfoto di pinggir pantai sampai kami mulai bosan. Ntah kenapa pagi itu pasir di Tanjung Bara kurang putih untuk berfoto. Akhirnya kami mengajak Rezki untuk kembali ke Tanjung Bira sekalian menyewa perahu ke Pulau Liukang Loe yang katanya memiliki pemandangan bawah laut yang mempesona.

Foto Tanjung Bara
Pose dulu dari belakang
Kami memarkir mobil di penginapan, lalu sarapan mie instan pakai telur dulu di warung depan. Kalau mau snorkeling harus mengisi perut terlebih dahulu biar ada tenaga karena pasti capek banget. Setelah makan, matahari pun semakin naik, dan terlihat pasir sangat putih memukau. Masya Allah cantiknya😍! Mungkin karena panasnya cahaya matahari mengeringkan pasir sehingga teksturnya halus seperti bedak dan berwarna putih cemerlang. Ditambahkan gradasi hijau tosca dan biru muda menambah keindahan pantai.
Pantai Tanjung Bira

Indah sekali Masya Allah 😍

Menikmati pantai sambil duduk di warung
Setelah bernegosiasi, kami mendapatkan harga Rp. 100rb/orang untuk menyewa kapal, lengkap dengan life vest dan alat snorkeling. Selagi awak mengambil kapal di dermaga, kami duduk-duduk di Cafe sambil minum air kelapa dengan pemandangan yang Masya Allah indahnya😍. Kalau kata orang, pantai Tanjung Bara lebih indah. Tapi hari itu menurut saya Tanjung Bira jauh lebih indah. Suasana pantai indah seperti ini memang bikin betah berlama-lama nongkrong atau mandi di pantai.

Setengah jam kemudian, kapal kami pun datang. Kami naik dan perjalanan menyusuri lautan pun dimulai. Nanti kan posting saya selanjutnya ya. Stay tuned!

Desember 21, 2020

Tebing Apparalang, Bulukumba

Hari ini kita bertujuan untuk menjelajah Kabupaten Bulukumba yang sangat terkenal akan keindahan pantai dan lautnya. Dari setelah shalat Shubuh saya nggak tidur lagi saking excitednya🤩, sarapan sebentar di rumah Dita, lalu sekitar pukul 7 pagi kita berangkat. Jarak tempuh dari Kota Makassar ke Kabupaten Bulukumba sekitar 200 km atau 4 jam perjalanan. Rezki yang menyetir, Dita duduk di sebelahnya dan bertidak sebagai navigator juga, sedangkan saya di jok belakang sambil tiduran bermain hp. 

Kincir angin

Jalanan menuju Bulukumba juga nggak berkelok-kelok, lurussss aja, sehingga nggak membuat saya mual. Jadi teringat perjalanan di Bajawa yang Subhanallah memusingkan😵. Sesekali saya bangun untuk melihat pemandangan sekitar, lalu tiduran lagi kalau merasa mulai tidak ada panorama yang menarik. Setelah 2 jam perjalanan, kami berhenti sebentar di sebuah Cafe pinggir pantai untuk beristirahat dan meluruskan kaki. Kita memesan cemilan es kelapa muda (khas minuman pinggir pantai), sekalian untuk berleyeh-leyeh bersantai menikmati pantai. Selain Pantai Losari, baru ini saya melihat pantai di Pulau Sulawesi. 

Pohon kelapa pinggir pantai dan angkot merah
Pantaiiiii🏖️

Tidak ada yang terlalu istimewa di pantai ini. Setelah menyegarkan tubuh sedikit, perjalanan dilanjutkan. Saya kemudian tertidur di jok mobil sampai akhirnya kami tiba di Bulukumba. Tidak terasa, kita ternyata sudah menempuh 4 jam perjalanan loh. Destinasi pertama kita di Bulukumba adalah Tebing Apparalang. Posisi tebing ini tepatnya ada di Desa Ara (sekitar 40 km lagi dari pusat kota Bulukumba), Kecamatan Bontobahari. Menurut artikel yang saya baca, tempat ini menawarkan panorama pantai sangat indah berupa tebing curam dan bebatuan karang berbaris membentuk formasi mempesona😍.

Nah, yang agak merepotkan adalah perjalanan menuju Tebing Apparalang memang harus melalui rute yang sedikit sulit karena jalurnya belum diaspal halus. Belum lagi kadang Google Maps suka memberikan arah tak jelas sehingga kita harus bertanya lagi kepada orang kampung atau membaca penunjuk jalan. Mengendarai mobil bolak-balik ditambah nyasar ntah kemana cukup menghabiskan waktu. Pastikan mobil kita dalam kondisi prima kalau mau ke tebing ini daripada ban meletus di jalan, ntah dimana ada tukang tambal ban disini.

Akhirnya kami sampai ke parkiran tebing. Kita parkir mobil, lalu duduk sebentar di warung untuk mengisi perut. Rasanya lapar sekali karena capek di jalan dan memang sudah masuk jam makan siang. Tidak ada menu yang spesial di warung, hanya bisa memesan pop mie dan pisang goreng saja disini. Lumayanlah untuk mengisi perut biar nggak lapar-lapar banget. Sejak pandemi memang banyak warung tutup sehingga sudah tidak banyak lagi pilihan makanan yang bisa kita santap. Setelah makan, kami berjalan menuju tebing yang Masya Allah indahnyaaaa😍😍😍. Lautan hijau muda membentang sejauh mata memandang dengan tebing yang sangat curam. Terbayarkan sudah kelelahan selama 4 jam lebih perjalanan. Oh ya, harga tiket masuk tempat wisata ini adalah Rp. 10,000 perorang dan biaya parkir Rp. 20,000 permobil.

Tebing yang sangat indah

Kami berjalan menelusuri tebing curam untuk mencari tempat berfoto. Kalian harus memakai sepatu dengan sol tebal disini karena banyak sekali bebatuan yang tajam. Untuk duduk di pinggiran tebing saja kita memilih bebatuan yang agak landai, walaupun hampir nggak ada. Jadilah harus duduk diantara bebatuan runcing-runcing yang membuat pantat sakit, ouch🤭! Demi foto terkece, ya udah ditahan sedikit deh sakitnya.

Sambil menahan sakit

Setelah berfoto di pinggir tebing yang lumayan bikin deg-degan, kami berpindah spot foto. Kali ini sambil berjalan di sisi tebing sambil menikmati debur ombak yang menghempas bebatuan dan desir angin yang sangat menentramkan. Melihat pemandangan lautan lepas dari tepi tebing memang selalu berhasil memberikan sensasi tersendiri. Ada rasa kagum, ada rasa takut (jatuh) juga. Tak jarang banyak yang menyebut Tebing Appalarang sebagai Raja Ampatnya kabupaten Bulukumba. Masya Allah😍!

Tebing sangat indah

Sebenarnya kalian bisa snorkeling atau berlayar dengan perahu di lautan yang berada di kaki tebing. Sayangnya sejak pandemi, banyak sekali aktivitas yang sudah tidak ada lagi disini. Kami hanya bisa turun sampai pinggir dermaga untuk berfoto, bukan untuk naik perahu. Dulu bahkan kalian bisa sekalian snorkeling disini karena (katanya) pemandangan di bawah laut tebing ini sangat memukau. Mungkin nanti suatu hari, ketika bumi sudah pulih sepenuhnya dan masih diberikan kesempatan oleh Allah, aminnn🤲!

Tangga curam menuju dermaga
Selesai berfoto-foto di tebing, kami berpindah ke spot sebuah kapal besar dan keren. Kami ingin berfoto di atas kapal. Sayangnya hujan deras pada saat itu dan kami harus berteduh dulu baru bisa naik ke kapal. Oh ya kalau mau berfoto di kapal, kita harus membayar Rp. 7,000 perorang. Agak seram juga naik ke kapal ini karena pemandangan di bawahnya langsung ke lautan lepas. Jadi kebayang kalau kapalnya jatuh, ya udah kita berlayar deh. Uggghhh astaghfirullah😱.

Sungguh tinggi😱

Kapal yang besar
Pose dulu
Awalnya objek wisata kapal ini sepi, nggak ada orang sama sekali. Giliran kita berfoto-foto disini, baru sadar udah banyak banget orang mengantri untuk menunggu kita selesai berfoto. Padahal tadi nggak ada orang deh, ntah sejak kapan orang-orang ramai berdatangan😅. Akhirnya kami mengalah dan bergantian dengan orang lain.

Karena sudah pukul 2 siang dan kami masih harus melanjutkan perjalanan ke Tanjung Bira, maka kita sudahi saja bermain-main di Tebing Appalarang. Yang terlupa adalah foto bareng Dita, padahal udah pakai baju kembaran, hahaha😂. Oh iya sebenarnya kita bisa juga belanja oleh-oleh disini, tapi balik lagi karena pandemi, sudah hampir semua toko tutup. Hiks sedih deh😢. Kita akhirnya melanjutkan perjalanan menuju Tanjung Bira yang berjarak hanya 30 menit dari Desa Ara.

Nanti saya akan melanjutkan cerita di Tanjung Bira dan Bara ya. Sampai jumpa!

Desember 19, 2020

Odontektomi Kedua

Setelah menunda terus, akhirnya saya melakukan operasi gigi bungsu (odontectomy) lagi. Kali ini giliran gigi pojok sebelah kanan yang menjadi korban😨. Sebenarnya sudah saya usahakan untuk tidak dicabut, karena kalau dilihat dari hasil rotgen panoramic memang gigi ini tidak terlalu mendesak gigi depannya. Tetapi giginya sudah terlalu sering ditambal dan rusak lagi tambalannya. Terlalu sering juga cenat-cenut yang membuat gusi saya bengkak. Yang paling menyebalkan adalah saya jadi susah mengunyah di sisi sebelah kanan. Setelah konsultasi ke beberapa dokter, akhirnya saya putuskan untuk dicabut saja.

Yang kuning bakalan dicabut, yang merah sudah dicabut

Saya putuskan untuk operasi di Banda Aceh dengan Dr. Syahrial Sp.Pros. Saya biasanya memang suka ditambal atau dioperasi oleh beliau karena kita sudah berteman sejak lama. Jadi kalau kesakitan masih enak bilangnya, "Bang, sakit bang😭😭!" Berbeda dengan operasi potong gusi kemaren yang membuat saya ketakutan dan nangis belakangan karena sewaktu proses operasi saya tegang banget. Padahal dokter Arbi Sp.BM (Spesialis Bedah Mulut) baik banget.

Tidak perlu menunggu lama, saya datang ke klinik, konsultasi sebentar, lalu langsung ditindak. Bang Syahrial menyuntik bius ke gusi dan rongga mulut berkali-kali sampai menetes air mata ini. Setelah itu mulailah pisau belah, tang, dan bor mengobok-ngobok rongga mulut saya. Memang sih nggak sakit, tapi ketika di bor itu dengungnya bikin sakit kepala. Ntah karena saya punya vertigo, jadi terasa nguuuunngggg banget😵.

Mari mulai operasi
Bang Syahrial bilang, karena di gigi geraham saya ada kawat gigi, jadi proses operasi agak sulit. Takut kena ke behelnya jadi harus pelan-pelan. Akhirnya si abang mengeluarkan tang dan mencabut gigi saya dengan cara di goyang-goyang dan bunyi krak, krek, kruk! OMG😵😵! Langsung deh terlihat gigi saya dikeluarkan dari dalam mulut. Ugh horor banget sihhh😵, melihat gigi sendiri diatas meja dokter.
Gusi bolong
Sebelum dijahit, bang Syahrial menunjukkan kondisi bolong di gusi bekas tempat gigi saya. Haduwh, terlihat seram sekali karena penuh darah. Akhirnya gusi saya dijahit sebanyak 2 jahitan, maka selesailah proses operasi hari ini. Ntah kenapa beberapa menit kemudian mulai terasa sakitttt banget. Padahal di bagian bibir masih kebas, tapi di bagian tulang gigi sakittt banget😭😭😭. Saya langsung merasa pusing saking sakitnya. Bang Syahrial lalu memberikan resep obat dan harus diminum segera agar rasa sakitnya bisa hilang.

Saya buru-buru ke apotek untuk menebus obat. Haduh rasa sakitnya semakin menjadi-jadi 😭😭tapi saya masih sanggup menahannya. Sampai di rumah saya makan kebab dulu, lalu minum obat. Seraya menunggu reaksi obat, saya main dulu dengan keponakan, tapi ternyata sudah tidak bisa ditahan. Saya masuk kamar, tanpa cuci muka dan sikat gigi, langsung tidur. Pipi mulai bengkak dan nyeri sekali.

Besok paginya rasa sakit di gigi sudah jauh berkurang. Saya bercermin dan mendapati wajah sangaaaat bengkak, hahahaha😂😂😂. Bahkan kulit pipi sampai ketarik ke sebelah kanan dan mengkilat saking gedenya bengkak. Memang kalau operasi rongga mulut pasti bakalan bengkak dan muka jadi aneh banget. Ya udah deh, sabar aja. Nanti juga seminggu kemudian sudah kembali normal.
Wajah bengkak sudah mulai berkurang setelah 5 hari

Kutaraja Dental Center Banda Aceh (Drg. Syahrial Sp. Pros)

  • Odentectomy/Impasi Tipe 1 Rp. 1,550,000
  • Administrasi Rp. 10,000

Follow me

My Trip