Oktober 05, 2021

Mulai Beraktivitas

Satu demi satu urusan datang dan harus dituntaskan. Aktivitas pun mulai kembali normal sejak masa PPKM diperlonggar. Alhamdulillah bisa sibuk beraktifitas di luar rumah lagi walaupun belum setiap hari. Bisa ketemu orang-orang lagi sambil makan di Cafe, bisa ke bioskop, bisa nge-Mall, dan hal-hal seperti itu membuat kualitas hidup saya jadi lebih berarti. 

Kalau membaca postingan saya sebulan yang lalu tentang Kegundahan Hati dimana saya sempat depresi, sedih, lemah, dan kacau, alhamdulillah sekarang sudah jauuuh lebih baik🙂. Mungkin karena saya mulai tenang dan mengurangi pikiran yang tidak berguna. Jadi saya mau fokus dengan diri saya sendiri dulu. Baiklah, saya akan bercerita sedikit tentang beberapa kegiatan penting yang sudah saya jalani:

1. Memperpanjang Paspor
Sempat kerepotan setengah mati karena antrian di aplikasi nggak bisa terus. Selalu habis kuota. Saya sampai bingung, 'gimana nih harus memperpanjang passpor segera karena saya butuh untuk data-data di Amazon. Teman-teman sudah menyarankan saya pakai calo tapi sebaiknya jangan deh karena saya tidak suka 'jalur belakang'. Selain mahal, saya takut nanti kedepannya ada aja masalah karena dimulai dengan hal yang tidak baik. Saya sempat datang ke imigrasi Depok dan disarankan untuk langsung Whatsapp ke nomor customer service mereka. Kata satpam, selama PPKM memang sengaja nggak dibuka antrian di aplikasi untuk menghindari pertemuan tatap muka.

Alhamdulillah niat baik selalu ada jalan. Saya follow instagram imigrasi Depok dan saya mendapatkan informasi ternyata mulai Jumat 10 September 2021 antrian di aplikasi sudah dibuka. Sayangnya karena saya telat baca informasinya, jadi nggak dapat antrian. Di hari Jumat minggu depannya, tepatnya tanggal 17 September 2021, antrian passpor dibuka lebih awal yaitu pukul 12 siang (biasanya pukul 14.00). Saya langsung daftar dan mendapatkan antrian di hari Senin tanggal 20 September. Pada hari H, sungguh cepat sekali proses perpanjangan passpornya karena memang saya sudah mengurus surat keterangan domisili dari awal.
Alhamdulillah passpor jadi
Alhamdulillah urusan passpor lancar bangettt dan hari Jumat sudah bisa diambil. Akhirnya nggak usah pakai calo deh. Saya jadi membolak-balikkan lembaran passpor baru karena rasanya sangat senang akhirnya bisa perpanjang tanpa drama. Memang kalau niat kita benar, pasti lancar. Percayalah!

2. Buka Akun Amazon
Saya sempat mengira kalau bertahun-tahun ini sudah tidak ada cara lagi membuka akun. Setelah berdoa berkali-kali, akhirnya ada jalan. Tiba-tiba adik saya menyuruh 'ngetes buka akun dengan cara yang baru, yaitu verifikasi dengan interview dan video call. Sebelum saya punya passpor baru, saya minta tolong tetangga untuk buka akun dan pinjam passpornya. Ternyata sampai harus interview dengan notaris segala, dan dengan orang Amazonnya juga🥴. Tetangga saya sampai panas dingin karena ini pertama kalinya dia diinterview sama orang bule' yang logatnya American bangetttt. Alhamdulillah lancar.

Akun akhirnya berhasil buka dan saya bisa jualan lagi. Bahkan barang-barangnya juga sudah laku. Yang paling enak adalah, akun baru ini beralamatkan di Amerika jadi semua category dibuka. Bisa dibilang, ini adalah akun paling powerful yang pernah saya punya. Duh, betapa senangnya🥰. Setelah beberapa bulan hampir putus asa, ternyata akan indah juga pada waktunya.

Ada juga beberapa hal yang sedang dalam proses nih dan lagi saya usahakan banget untuk segera diselesaikan. Ceritanya dibawah ini:

1. Visa US
Dokumen udah ada semua, tapi ntah kenapa untuk mengisi form B1/B2 itu terus aja deg-degan. Akhirnya saya DM Donny (teman saya) di instagram, sekalian 'ngajakin ke US juga. Donny langsung menghubungi salah satu agen untuk mengurus Visa, dan dia baru bisa dapat jadwal interview bulan Januari donggggg😨. Kalau mau cepat, agen minta alasan kuat agar mereka bisa mengajukan hal tersebut ke kedutaan.

Beberapa artikel yang saya baca, proses pembuatan Visa Turis dan Visa Bisnis kurang lebih sama. Tapi tujuan utama saya mau ke US itu karena pekerjaan. Saya harus segera membuat Bank Account US, mengurus perpanjangan Rancupid Enterprise LLC, mengecek warehouse atau fulfillment center untuk persiapan musim semi (musim dimana orderan membludak).

Saya sudah menyuruh CMO Rancupid untuk menghubungi Kedutaan Besar Indonesia di Washington agar bisa mendapatkan referensi. Saya juga menghubungi beberapa pemilik sister company Rancupid agar mengeluarkan surat referensi. Walaupun semuanya sedang dalam proses, tapi rasa deg-degan ini selalu ada. Jadi menunda-nunda deh. Adaaa ajaa alasan untuk tidak mempercepat proses pengurusan Visa. Nggak terasa sekarang udah bulan Oktober, nanti malah udah November, terus kapan mau perginya? Belum lagi sebentar lagi musim dingin dan kalau di Amerika itu bisa dingin banget🥶.

Sebenarnya saya agak ragu dengan mutasi rekening sih, karena duit saya 'kan di virtual account (VA). Kalau tiba-tiba meriliskan dalam jumlah gede, bukannya harus data rekening dalam 3 bulan? Kalau mau menunjukkan mutasi untuk rekening dollar dari VA, apakah valid? Pertanyaan-pertanyaan yang mengganggu pikiran saya. Beberapa blog yang saya baca memang banyak yang tidak dilihat mutasi rekening atau rekening koran sewaktu wawancara. Tapi tetap aja, kalau lagi apes, nanti malah nggak ada persiapan. Semoga dimudahkan, dilancarkan, agar segera bisa ke Amerika ya Allah. Aamiinn🤲.

2. Lepas Behel
Saya tuh pengen banget kalau nanti harus ke US, karena akan dalam waktu yang lama, saya sudah lepas behel. Daripada nanti kepikiran harus kontrol lagi setiap bulan, jadi harus menyisihkan waktu untuk pulang ke Indonesia hanya untuk kontrol behel. Oh tidak!

Kalau pun saya nggak jadi operasi potong gusi, berarti saya harus menyiapkan biaya untuk retainer gigi yang harganya bisa berjuta-juta tergantung kualitas. Duh, duit lagi deh...

3. Mengunjungi Dermatologist
Ini hal yang paling ingin saya lakukan tapi nggak jadi-jadi😓. Sebenarnya Dr. Nessya sudah menyarankan saya untuk laser lagi karena bekas jerawat sudah mulai bermunculan. Wajah saya jadi banyak noda hitam, padahal selalu pakai sunblock dan NeoStrata Lotion. Tapi memang terakhir laser muka di Dermatologist sebelum bulan puasa sih, jadi udah 6 bulan yang lalu. Wajar kalau wajah sudah banyak freckless lagi.

4. Ke Ambon
Ntah berapa kali Alex nge-japri saya untuk ikut ke Ambon tapi waktunya kurang tepat. Dia ngajak di bulan ini sedangkan kantor baru aktif lagi. Kami berencana ekspor kontainer lagi, tapi kalau saya jalan-jalan, pasti akan kurang terurus. Walaupun ada tim yang lain, tapi ada beberapa fitur Amazon memang hanya saya yang tau.

Sebenarnya saya kangen jalan-jalan ke tempat yang saya belum pernah. Kangen pakai kamera PRO dan wide lens, kangen berenang di laut dengan segala suasana seramnya. Kangen pindah-pindah hotel. Semoga bulan November atau Desember bisa pergi jalan-jalan lagi ya Allah. Aaminn🤲!

Selain hal yang sudah selesai, dan yang masih dalam proses, ada juga rencana yang sepertinya gagal. Walaupun kita harus berbaik sangka pada Allah subhanahu wata'ala dan tetap berdoa semoga ada jalan, tapi saya ingin bercerita beberapa hal yang tidak bisa tahun ini:

1. Renovasi rumah
Sedih sih, tapi saya harus menghadapi kenyataan kalau saya bakalan batal renovasi. Walaupun kita tidak tau rencana Allah, walaupun saya masih tetap optimis dalam hati, tapi renovasi rumah butuh biaya ratusan juta, persiapan matang, dan harus memikirkan tanaman-tanaman saya yang banyak itu mau dikemanakan? Belum lagi peraturan PPKM yang membuat pak RT melarang segala bentuk rancang bangun di komplek ini.

Saya sudah simpan beberapa inspirasi rumah idaman dari instagram yang ingin saya bangun nanti. Mungkin akan saya pisahkan di folder tersendir di hp saya, supaya nanti ketika tiba waktunya saya bisa langsung melihat-lihat lagi desain eksterior dan interiornya.

2. Menikah
Saya kira bakalan bisa menikah dengan dia dulu. Eh malah sebelum ke Raja Ampat, harus menerima kenyataan kalau kita memang tidak bisa melangkah lebih jauh. Padahal saya sudah mengira kalau dia adalah orang yang tepat, tapi nggak tepat juga, hahahaha😂. Walaupun saya sudah move on 100%, dan sekarang malah sedang sibuk menenangkan hati. 

Sejak tahun lalu, saya ingin menikah di masa pandemi agar tidak terlalu banyak orang yang hadir karena kalau rame pasti akan membuat saya pusing tujuh keliling. Tapi tetap tidak tau rencana Allah. Toh tahun ini belum berakhir.

Sekian cerita ini. Sebenarnya kalau ditarik benang merah, hal-hal diatas semua terkendala karena duit juga sih😅. Amazon masih menahan uang saya dalam jumlah yang sangat besar tapi saya tetap optimis saja. Allah pemilik dunia, dan rezeki bisa dari segala hal. Allah juga yang mengatur jodoh. Kalau bukan milikmu, tidak akan menjadi milikmu. Tapi kalau milikmu, mau dari dunia belahan sana pun, pasti tetap akan jadi milikmu. Yang penting nggak pernah putus asa. SEMANGAT!!

September 15, 2021

Lepas Behel atau Operasi?

Akhirnya bisa kemana-mana lagi naik KRL dengan hanya scan barcode aplikasi Peduli Lindungi. Alhamdulillah kasus Covid19 di Indonesia terus melandai dan membuat kita jadi lebih leluasa berpergian. Saya baru sadar kalau vaksin seampuh ini. Dari dulu memang saya rutin vaksin flu karena memang pengaruhnya sangat besar ke tubuh saya yang memiliki riwayat asma. Jadi jarang flu dan demam, walaupun sering pulang kantor kena hujan.

Seperti biasa saya kontrol gigi sebulan sekali. Walaupun di beberapa klinik sudah tidak perlu lagi swab antigen kalau mau perawatan, khusus klinik gigi masih harus swab. Huhuhu😢, padahal udah lega karena udah ada aplikasi Peduli Lindungi, tapi mau bagaimana lagi. Setelah swab dan negatif, saya masuk ke ruang dokter. Kali ini Orthodentist ngecek gigi saya dan ternyata celah di gigi geraham tinggal 'dikittt lagi. Seharusnya bulan depan nanti sudah rapat dan selesai-lah urusan per-behelan. Tapi tunggu, 'kan kawat indikatornya masih miring.

"Kalau mau lurus, gusi diatas geraham harus dipotong lagi sih. Terserah kamu aja,"
"Operasi lagi?"
Orthodentist mengangguk. "Sebenarnya tugas saya sudah selesai. Kunyahan gigi kamu sudah benar, rahang sudah pas menutup, tidak ada celah gigi lagi. Sekarang tinggal 'gimana kamu aja mau Perfect Smile berarti potong gusi dan saya akan lihat pergerakan giginya lagi. Mungkin dalam 4 bulan sudah Perfect."
Saya langsung teringat dulu sewaktu operasi potong gusi. Kalian bisa baca di Alveolectomy di OMDC. Sangat menyeramkan, mana di bius berulang kali sampai ditusuk di rahang😭😭😭😭. Sebenarnya saya adalah orang yang perfeksionis, tapi mengingat bakalan suntik sana-sini, berdarah-darah, OMG😵!!!
Dokter bilang, "Bulan depan kasih jawaban ya. Kalau mau lanjut potong gusi, biar saya rujuk ke Spesialis Bedah Mulut. Kalau enggak, kita bisa persiapan buka behelnya."
Masih miring kan?
Saya keluar dari ruangan dokter dengan kebingungan. Kayaknya harus bertanya pendapat keluarga dan semua teman-teman apa yang harus saya lakukan. Sebenarnya potong gusi bukan operasi besar yang harus bius total. Tapi namanya juga 'operasi', efeknya sakit banget kalau biusnya sudah hilang. Belum lagi susah makan, obat-obatan bikin perut begah. Ya Allah tolong saya...

Petugas administrasi bertanya, "Mau dijadwalkan lagi kapan, Mbak?" Duh langsung teringat harus operasi.
"Nanti deh, saya telepon saja ya."

Biaya APD Rp. 75,000
Charge Pasien Lama Rp. 40,000
Kontrol Ortho Emergency Shappire Rp. 275,000

September 12, 2021

Kegundahan Hati

Sudah kurang lebih 2 bulan, suasana hati tidak menentu. Mungkin dimulai pada saat perusahaan di United Kingdom tutup, Amazon suspend (lagi), tidak bisa bertemu teman-teman, galau, menstruasi, semua bertumpuk menjadi satu. Berawal di akhir Juni, saya sudah merasa stres. Salah satunya karena pemberitaan tentang Corona dan banyak sekali orang-orang terdekat yang kena. Semakin membaca media sosial, semakin banyak pula berita duka. Saya sampai bingung harus bagaimana. Mau mengirimkan makanan untuk teman-teman yang isolasi mandiri (isoman) tapi saking banyaknya, saya nggak tau siapa yang harus diprioritaskan. Beberapa orang saya tanya, mau dikirim apa? Banyak dari mereka yang menjawab nggak usah, karena nanti tambah sedih😔. Ada juga yang dapat banyak makanan dari tetangga yang membuat kulkas penuh dan nanti mubazir kalau makanan jadi tersisa. Akhirnya saya memutuskan untuk tidak mengirimkan apa pun kepada siapa pun. Maafkan saya pada saat itu😞.

Mungkin puncak kegundahan di hati itu terjadi sekitar tanggal 20an Juli, dan berlangsung selama seminggu (karena mens juga jadi emosional banget). Amazon ini semakin ditelusuri semakin tidak ada jawaban. Semakin baca forum, semakin tau kalau tidak ada jalan keluar. Sendirian di rumah untuk mencari jalan keluar. Keluarga juga berkali-kali bertanya bagaimana permasalahan di perusahaan. Belum lagi ditambah sikap seseorang yang ketika saya datang ke rumahnya, malah beberapa kali diusir, disuruh pulang. Bahkan sampai sekarang saya masih bertanya-tanya, ntah kesalahan apa yang pernah saya lakukan sampai membuat dia bersikap seperti itu. Padahal saya hanya berniat untuk memastikan kalau dia baik-baik saja. Hmmmpphh, dunia memang tidak bisa ditebak. Orang yang biasa baik, tiba-tiba jadi sangat menyebalkan. 

Hal yang bertubi-tubi seperti itu membuat saya stres. Saya (mungkin) adalah orang yang sangat pintar mengelola stres. Tapi semakin kesini saya baru sadar kalau saya sebenarnya hebat dalam menyembunyikan stres. Dan di puncak rasa sedih, pusing, gundah, stres, yang melanda, akhirnya saya bisa nangis juga😭. Saya lupa kapan terakhir saya nangis, mungkin sewaktu kesel banget dengan mantan pacar, dan itupun sudah lama. Ketika putus cinta dengannya, efek ke diri saya lebih ke bad mood. Nggak nangis. Karena saya berpikir masih banyak yang harus saya pikirkan daripada 'dia'. Kali ini berbeda, saya nangis, seminggu, bahkan sehari bisa tiga kali, seperti waktu makan. Saya hampir nggak sanggup membuka laptop, saking stres dan sedihnya. Saya juga malas bertemu orang-orang, walaupun tetangga masih datang dan saya nggak akan menolak mereka. Mungkin ini yang dinamakan depresi (saya sampai googling arti depresi dan semua terjadi pada diri saya). Saya merasa nggak produktif, malas makan, bawaannya pengen tidur, dan berasa waktu bergerak sangat lambat. 

Alhamdulillah saya memiliki tetangga (sudah jadi teman dekat) yang sering datang, memastikan kalau saya baik-baik saja karena sedikit banyak mereka tau apa yang saya alami. Mereka terkadang hanya mau mengobrol, atau duduk diam di sofa menemani saya. Kalau saya mau bercerita, ya cerita saja. Kalau nggak ya mereka diam saja di rumah saya sambil membaca koleksi buku-buku saya yang banyak. Walaupun merasa hidup ini berat, tapi keberadaan seseorang dapat mengurangi kegelisahan hati, walaupun mereka nggak ngapa-ngapain.

Di hari kedelapan, baru saya nggak nangis lagi. Mood saya memang masih kacau, tapi sudah jauh lebih baik. Tetangga menyarankan saya untuk melakukan hobi seperti memasak atau bercocok tanam yang biasanya bisa membuat saya lebih senang. Atau menuntaskan blog. Vakum dulu dari pekerjaan, atau melihat sosial media yang terkadang bikin tambah stres. Akhirnya saya membeli buku resep masakan dan beberapa tanaman baru untuk dirawat. Melakukan hobi memang sangat menyita waktu sih, nggak terasa udah siang aja. Masih harus mandi, memikirkan harus makan siang apa, dan sedikit membereskan rumah. 

Setelah hampir sebulan saya merasa tidak memiliki semangat, akhirnya saya memutuskan untuk ke Bandung. Ntah udah berapa kali Anis mengajak menginap di rumahnya agar saya tidak kesepian, tapi saya tolak terus karena berpikir kalau udah ke Bandung pasti nanti malah main. Sampai akhirnya saya pergi juga, kali ini untuk jangka waktu yang lama. Saya tidak akan menceritakan kemana saja saya pergi karena postingan ini berfokus pada kegundahan hati.

Hari-hari awal saya di Bandung, saya bercerita semua yang saya alami pada Anis dan tante. Sebagai informasi, Anis adalah sahabat saya yang sudah seperti saudara. Saya bahkan sangat dekat dengan seluruh keluarganya. Sebenarnya tipe saya kalau berteman adalah mengenal keluarga teman-teman saya baik cewek maupun cowok, jadi saya tau bagaimana mereka dibesarkan. Kalau memang mereka dari keluarga yang baik, pasti pertemanan kita sampai sekarang. Anis mendengar dengan detail apa yang saya alami dan mengetahui dengan pasti apa yang saya rasakan. Dia sudah berbisnis sejak 2012 dimana saat itu saya masih sebagai karyawan yang mengharapkan naik pangkat atau berpindah ke perusahaan lebih besar. Apakah yang dia lalui baik-baik saja? Tentu saja tidak. Saya sudah sering mendengarkan cerita Anis tentang bisnis, jatuh-bangun, tapi kali ini semua nasehatnya benar-benar menyentuh ke hati saya.

Saya bercerita kalau di akhir Juli kemarin saya juga mengalami depresi. Seharusnya saya tidak boleh mengalami hal tersebut dimana orang-orang pada terkena COVID19. Saya takut juga kena dan saya memutuskan untuk tidak kemana-mana sama sekali. Beberapa kali saya mengecek saturasi oksigen dan suhu tubuh. Alhamdulillah normal, walaupun saya selalu merasa demam sepanjang waktu. Ntah karena AC di rumah yang terlalu dingin. Anis dan tante mendengarkan cerita saya dengan seksama dan memberikan saran, "Masalah Mumut sebenarnya udah ada jalan keluar, tinggal diurus aja." Nah semangat mengurusnya itu yang hilang ntah kemana.

Suatu hari saya pergi ke kebun teh. Saya duduk sambil minum teh tarik panas bersama Anis. Melihat pemandangan hijau seperti ini sangat melegakan dan menjadi sebuah anugrah. Jadi teringat, dulu ketika duit saya ketahan di Amazon dan berbagai macam masalah mendera, saya kembali kepada Allahﷻ. Mungkin karena waktu itu bulan Ramadhan, jadi semangat beribadah bisa full. Sekarang ditengah kegundahan yang melanda, malah ibadah saya terasa biasa saja. Shalat tetap, mengaji tetap, tapi ya begitu saja. Padahal, masih diberikan kesempatan melihat pemandangan seindah ini juga patut disyukuri. Dulu ketika perusahaan dalam masa krisis saja, saya masih bisa bolak-balik ke Bali untuk urusan pekerjaan dengan menginap di Hotel bintang 5, semuanya gratis dibayar oleh Pertamina.

فَإِنَّ مَعَ ٱلْعُسْرِ يُسْرًا 
"Maka, sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan." Surat Al-Insyirah Ayat 5.

Anis bercerita, selama berbisnis hal yang paling harus kita pertahankan adalah tidak pelit, baik untuk diri sendiri, maupun orang lain. Rejeki itu sering datang dari jalan yang tidak disangka-sangka. Sebanyak apa pun kesulitan keuangan melanda, Anis tetap berusaha untuk tetap senang membagi-bagi makanan. Masakin buat teman-teman yang datang, mengirim banyak sample produk, padahal kalau dipikir-pikir, sekali 'ngasih itu bisa sampai 100rb juga. "Tapi kan beda ya, ngasih ya ngasih aja. Jangan diperhitungkan. Ada Allahﷻ yang membalas."

Hal lain yang sangat ingin saya lakukan adalah pergi ke Amerika. Karena saya berbisnis di Amazon dan saya ingin menyewa warehouse disana. Saya sangat ingin langsung berkunjung dan mengontrol alur penjualan produk, ingin ke Amazon dan Payoneer Headquarter, memiliki US Bank Account, dan melihat sendiri bagaimana masyarakat disana beraktivitas. Seandainya duit tidak tertahan di Amazon, mungkin saya bisa pergi sekarang kesana. Tapi masalah bukan karena itu saja. Pertama adalah ijin dari Mama. Untuk bilang ke Mama tentang wacana ini saja adalah hal yang menyeramkan. Saya takut Mama berpikir kalau ke Amerika untuk jalan-jalan. Padahal saya sangat ingin melihat langsung peluang bisnis disana.

Saya membahas masalah pengurusan Visa ke teman-teman Rancupid dan ternyata mereka menyambut dengan antusias untuk menemani saya pergi dan mengurus reference letter. Rancupid memiliki Limited Liability Company (LLC) di Amerika dan sudah seharusnya kita gampang mengurus Visa. Di Bandung saya bertemu mbak Feira dan dia sudah memiliki Visa Amerika. Dia bilang juga mau menemani saya agar perijinan ke Mama tembus. Saya mulai merasa ada titik terang. Apakah Allah subhanahu wata'ala sudah menunjukkan jalan? Sebenarnya saya harus berada di Amerika sebelum musim semi karena penjualan di Rancupid sangat tinggi pada musim itu. Dan musim dingin (winter) adalah saat yang tepat. Belum lagi pernah janji sama Iyus mau melihat Balldrop (ntah kenapa dia antusias banget mau melihat bola jatuh doang😮), di New York pas tahun baru. Tapiii, dinggiiiiiinnn🥶🥶🥶!! Jadi kebayang harus bawa jaket yang mana agar bisa menahan dingin. Atau sekalian aja beli disana.

Selama di Bandung, saya menelepon Amazon berkali-kali untuk meminta uang saya diriliskan. Ntah berapa kali saya berantem di telepon dengan logat India, Singapore English, Native, pokoknya saya udah fasih 'berantem' dengan bahasa inggris dengan aksen sesuai orang yang menerima telepon dari saya. Sampai akhirnya saya menerima email kalau mereka sedang menginvestigasi masalah saya. Fiuhh, sudah lama saya menanti sebuah email dari mereka. Insya Allah sudah ada titik terang lagi.

Kembali ke Depok dengan hati dan perasaan jauh lebih ringan. Walaupun masalah belum selesai, tapi banyak jalan sudah terbuka. Mungkin saya harus lebih meningkatkan ibadah, karena satu-satunya cara untuk menenangkan hati memang dengan mengingat Allah. Tidak ada batasan dalam berdoa, bahkan kita bisa meminta seisi dunia untuk dikabulkan. Saya juga langsung mengurus perpanjangan passpor. Semoga setelah passpor selesai, uang saya rilis semua dan bisa segera mengurus Visa. Aamiiinnn!
Let's fight!
Tulisan ini saya tulis dalam kondisi flu, batuk, dan demam🤒. Semoga bukan gejala Corona. Semoga sakit ini menjadi penggugur dosa🤲. Mungkin saya mau off dulu dari main sosial media. Saya mau menyelesaikan tulisan tentang Raja Ampat dan destinasi lainnya, sambil terus memperjuangkan Amazon. Semoga saya dianugrahkan rasa sabar, seberat apa pun masalah yang melanda. Aaamiiiinnn🤲!

فَاصْبِرْ صَبْرًا جَمِيلًا
“Fashbir Shabran Jamiila”. (Maka Bersabarlah Dengan Sabar Yang Baik). QS Al-Ma'arij : 5.

Agustus 16, 2021

Kapan Lepas Behel?

Agak susah mau kemana-mana pakai kereta (KRL) di masa PPKM ini. Kita harus menyediakan surat-surat seperti Surat Tugas atau surat untuk keperluan medis, contohnya seperti saya harus ada surat yang membenarkan kalau akan kontrol gigi. Mau naik Grab ke OMDC Warung Buncit, pulang-pergi bisa hampir 200rb, belum lagi biaya kontrol gigi yang kadang hampir Rp. 500rb. Pusing juga ya.

Semua pink
Kali ini pasien di OMDC ramai sekali😕. Petugas di bagian daftar ulang sampai kelimpungan saking ramainya orang yang datang. Saya jadi harus menunggu lebih satu jam dari jadwal sebenarnya karena ada beberapa pasien yang bukan hanya kontrol saja, melainkan ada yang pasang behel juga. Sudah main hp sampai bosan, dan melihat orang-orang berlalu-lalang, masih belum dipanggil juga.

Ketika tiba giliran, saya bilang ke dokter kalau karet elastis yang sebelum ini terlalu kencang😔. Bahkan membuat rahang saya berbunyi ceklak cekluk lagi. Kadang sampai terasa hilang posisi tutup buka rahang karena bunyi klak kluk itu. Orthodentist kemudian mengecek kondisi barisan gigi atas yang masih ada celah. Dokter lalu memasang karet di gigi geraham atas sebelah kanan dan menariknya dengan sangat kencang agar cepat rapat. Duh, mulai deh rahang atas jadi terasa kencang semua. Dokter bilang kalau kali ini akan diberikan karet elastis yang lebih longgar agar tidak mempengaruhi kondisi rahang.
Garis kawat indikator masih miring
Saya bertanya, "Kapan nih lepas behel? Udah bosen pakai behel."
"Sebenarnya kalau semua udah rapat sih, bisa buka. Nanti saya suruh pakai retainer selama 2 bulan dan sama sekali nggak boleh lepas kecuali lagi makan."
"Lho, retainer bukannya dipakai malam aja?"
"Itu dibulan ketiga baru bisa dipakai malam aja. Tapi biasa pasien saya kalau kondisi rahangnya sering bergeser seperti kamu ini sangat gampang jarang lagi gigi-giginya. Jadi pemakaian retainer hukumnya wajib bahkan kadang harus seharian."
"Trus kalau kawat gigi secara horizontal belum lurus itu 'gimana?"
"Sebenarnya memang harus dipotong lagi gusinya," Oh tidak!😱 "Karena gusi tidak simetris seperti itu juga bikin gigi gampang jarang. Apa kamu mau dipotong lagi aja? Biar saya rujuk lagi ke Spesialis Bedah Mulut."
Saya langsung meringis, "Ah tidak dok, takutttt!😱😱😱" Jadi teringat akhir November 2020 saya tiba-tiba harus operasi gusi. Bisa dibaca di postingan Alveolectomy di OMDC.
Orthodentist bilang, "Ya udah kalau memang mau potong gusi lagi, nggak apa-apa juga. Tapi sebaiknya sebelum lepas kawat gigi ya. Jadi bisa diatur lagi nanti kalau ada yang jarang giginya."
Saya manggut-manggut aja. Nggak kebayang kalau harus operasi lagi, takut dan melelahkan sekali kondisi saya pasca operasi. Jadi bingung, mau lepas behel aja🤔? Apa operasi dulu baru lepas behel🤔? Huff! Semua keputusan memang di saya dan nanti saya akan pikirkan lagi.

Biaya APD Rp. 75,000
Charge Pasien Lama Rp. 40,000
Kontrol Ortho Emergency Shappire Rp. 275,000
Karet Elastis Rp. 100,000

Juli 30, 2021

Vaksin Tahap Kedua

Sempat hampir lupa mau daftar vaksin kedua, eh tau-tau tanggalnya udah deket😅. Saya coba daftar via aplikasi Halodoc, tapi kok disuruh masukin kode voucher gitu. Saya kira aplikasinya error, jadinya saya install aplikasi JAKI agar bisa mendaftar dan malah lebih gampang. Saya tinggal masukkan nama, no KTP, dan no Hp, langsung keluar jadwal vaksin kedua di Pejaten Village juga.

Sejak PPKM hari pertama, saya tidak pernah sama sekali naik kereta lagi. Agak malas mengurus Surat Tanda Registrasi Pekerja (STRP) walaupun sebenarnya bisnis Rancupid termasuk ekspor. Selain karena nggak perlu-perlu amat juga ke Jakarta, saya memang memilih untuk tinggal di rumah saja untuk menghindari virus Corona. Malah jadi suka masak berat. Semua resep di coba🍲.

Saya naik Grabbike ke Stasiun Depok seperti biasa. Sebenarnya agak ragu mau bawa dokumen apa, tapi setelah saya lihat di instagram Commuterline, kalau mau vaksin tinggal tunjukkan bukti pendaftaran saja kepada polisi yang berjaga di meja administrasi, lalu langsung disuruh masuk. Semudah itu. Bahkan nggak diminta sertifikat vaksin pertama.

Stasiun Depok Lama di masa PPKM
Suasana di stasiun Depok Lama sebenarnya nggak sepi-sepi amat. Di kereta aja saya masih berdiri. Memang masih sangat ramai orang yang harus bekerja ditengah lonjakan kasus COVID19. Saya turun di stasiun Pasar Minggu karena Rezki sudah menunggu disana. Kami kemudian memesan Grabcar menuju Pejaten Village.
Sepi dan gelap
Sesampai di Pejaten, kami harus mendaftar dulu di lantai dasar. Mall ini gelap sekali karena selain gerai makanan yang cuma bisa take away, semua toko tutup. Sedih rasanya, tapi mau bagaimana lagi. Karena menggunakan aplikasi JAKI, kita dapat antrian cepat. Saya no. 22 dan Rezki no. 23. Kita naik ke lantai 3, lalu duduk menunggu sekitar 30 menit, bahkan sempat ada senam peregangan dulu khusus untuk orang-orang yang sudah menunggu dari tadi pagi. Saya ikut aja sih senamnya. Gerakannya mirip senam SKJ yang biasa dilakukan di pagi hari sebelum masuk sekolah dulu. 
No. antrian
Sampai akhirnya no. antrian kita dipanggil. Rezki sempat pesan Puyo dulu, tapi nggak jadi di makan karena antriannya sudah dipanggil. Proses daftar ulang pun sangat cepat, lalu petugas yang tensi darah, melakukan screening, semuanya cepat. Berbeda sekali ketika vaksin pertama dimana yang tensi darah dan yang screening cuma dua orang. Kami waktu itu mengantri sampai berjam-jam. Hufff!

Tidak lama kemudian, tiba giliran saya untuk disuntik vaksin. Kali ini saya lebih pasrah, nggak difoto juga. Saya singsingkan lengan baju, memejamkan mata, lalu disuntik💉. Duhhhhh sakittttt😵😵😵!!! Walaupun hanya beberapa detik, tapi memang proses penyuntikan💉 bagi saya sangat menegangkan. Setelah disuntik, saya mengumpulkan kertas ke meja observasi, lalu pergi ke konter puyo untuk makan. Pengen makan yang manis-manis biar terlupakan rasa sakitnya disuntik. Karena nggak bisa dine in, jadi kita duduk lesehan di lorong menuju lift untuk makan Puyo. Makan pudding beginian sih mana mungkin lama, paling juga cuma beberapa menit.
Puyo
Selesai makan, kami menunggu kartu vaksinasi di cetak. Ntah kenapa kali ini lengan saya sama sekali nggak sakit. Waktu vaksin pertama malah terasa ngilu, sakit, dan nyut-nyutan. Alhamdulillah ketika observasi memang tidak ada sama sekali gejala apa pun, sehingga setelah kartu di print, kami malah lanjut jalan-jalan ke kosan Mbak Ummi.
Selesai
Baiklah, vaksin pertama dan kedua selesai. Semoga negara kita tercinta segera terbentuk kekebalan kelompok. Semoga pandemi segera usai, dan kita semua bisa beraktifitas dengan leluasa tanpa perlu masker lagi, aamiinnnn🤲. Kasihan teman-teman yang sudah 2 tahun sama sekali tidak kemana-mana. Saya masih mending udah pergi kesana-kesini, tapi tidak semua orang bisa merasakan hal yang sama 'kan?

Yuk segera vaksin dan terus berdoa kepada Allah subhanahu wata'ala agar pandemi segera berakhir. Aaminnn ya Allah🤲.

Juli 24, 2021

Berat Hati

Hanya ingin menulis sedikit, agar aku masih ingat rasanya. Sewaktu menutup jendela mobil, melihat matamu, seraya melambaikan tangan.

Dari jendela aku melihat bintang-bintang tanggal

Satu demi satu, berulang mengucapkan selamat tinggal

Kadang kupikir lebih mudah mencintai semua orang, daripada melupakan satu orang

Jika ada seseorang yang terlanjur menyentuh inti jantungmu, 

Mereka yang datang kemudian, hanya menyentuh kemungkinan

(Aan - Mansyur)

Selamat tinggal
Tulisan ini di posting, ketika aku sudah kuat untuk membacanya lagi...

Juli 03, 2021

Kontrol di Hari Pertama PPKM Darurat

Tidak ada yang tau kalau ternyata di awal bulan Juli ini masyarakat Indonesia terutama di Jawa dan Bali akan merasakan kembali Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat. Tahun lalu sih namanya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), dimana segala hal dibatasi. Di PPKM kali ini, ojek online masih jalan, kendaraan umum masih ada, Mall masih dibuka walaupun khusus untuk gerai makanan, apotik, dan kesehatan saja.

Sebelum PPKM Darurat resmi diberlakukan, saya sudah meminta penjadwalan ulang ke OMDC karena penyangga behel saya copot dan berakibat kawatnya menusuk rongga mulut. Duh, rasanya sakit banget dan mengganggu😖. Setiap buka mulut, pasti ketusuk deh kulit rongga mulut😖. Ternyata OMDC tidak bisa menjadwalkan ulang untuk ke Orthodentist karena penuhnya jadwal. Kalau mau potong kawat bisa ke dokter gigi umum saja kata mereka. 

Mengingat effort yang harus saya lakukan ke OMDC hanya untuk memotong kawat gigi doang (naik kereta, naik ojek, jauh pulak ke Pasar Minggu, harus bayar APD lagi), akhirnya saya bertanya pada ibu komplek apakah dokter gigi di ruko depan masih praktek. Alhamdulillah ternyata masih. Saya tinggal reservasi melalui Whatsapp, dan langsung mendapatkan antrian di hari yang sama. Saya tinggal jalan kaki saja ke deretan ruko depan komplek, dan langsung dipanggil masuk. Ternyata dokter gigi Rahayu ini temannya dokter Oktri, pemilik OMDC.

Proses pemotongan kawat hanya berlangsung 5 menit dengan tarif Rp. 20,000. Alhamdulillah masih rejeki untuk mendapatkan kenyamanan di mulut tanpa harus ketusuk kawat behel dan nggak usah menguras tenaga untuk pergi ke OMDC di Mampang. Dokternya baik banget dan suasana tempat prakteknya juga enak banget. Sayang, saya lupa memfotonya.

Saya juga tidak tau bakalan ada PPKM dan sudah terlanjur membooking jadwal kontrol gigi di tanggal 3 Juli 2021, bertepatan dengan hari pertama PPKM Darurat. OMDC menelepon saya tadi pagi dan bilang kalau selama PPKM darurat, yang datang kontrol gigi akan di swab antigen terlebih dahulu untuk keamanan bersama, secara gratis. Duh, baru kamis kemarin swab antigen, sekarang swab lagi. Ya udahlah, pasrah saja. 

Saya agak takut juga kalau nanti ketika di perjalanan menuju OMDC bakalan susah dapat ojek online, tapi ternyata gampang banget. Suasana PPKM Darurat yang saya rasakan dari keluar rumah sampai tiba di OMDC semua sama saja seperti hari biasa. Yang berbeda mungkin kendaraan hanya sedikit lebih lengang saja. Kalau di kereta sih seperti biasa, tidak ada peraturan yang berubah. Hanya disarankan memakai masker dua lapis, tapi yang pakai satu lapis pun tidak mengapa. Oh iya, jadwal kereta terakhir juga dimajukan menjadi pukul 21:00.

Sampai juga

Sesampai di OMDC, saya mendaftar ulang, diberikan APD berwarna pink (untuk wanita), lalu langsung di swab antigen. Agak deg-degan juga karena baru vaksin (banyak orang-orang bilang kalau setelah vaksin biasanya bakalan positif Corona, walaupun pernyataan ini agak kurang mendasar). Mana alat swab yang dimasukkan sangat dalam dan di kedua rongga hidung. Alhamdulillah saya negatif. 

Negatif, alhamdulillah
APD Pink
Saya kemudian dipanggil masuk ke ruang Orthodentist. Saya menyerahkan penyangga behel yang copot ke dokter untuk dipasangkan ulang. Dokter kemudian mengecek gigi saja, lalu bilang kalau celahnya sisa di sebelah kiri saja. Sebelah kanan sudah rapat. Haduwh, masih belum rapat juga dua-duanya😔. Dokter kemudian mencoba memasangkan penyangga behel, lalu copot. Dokter mengulang lagi memasangkannya, lalu copot lagi. Dokter bilang, "halah copot terus, nggak usah dipake' aja deh." Ya sudah, saya juga nggak masalah kalau nggak dipake'.
Kondisi gigi
Orthodentist kemudian memberikan saya karet elastis yang lubangnya lebih sempit. Beliau bilang, supaya gigi cepat rapat dan gigi geraham cepat maju juga. Sepertinya selama PPKM darurat ini saya bisa mengontrol untuk lebih rajin menggunakan karet elastis agar lebih cepat proses merapatnya celah gigi. Saya nggak akan makan yang keras-keras dulu deh, demi Perfect Smile yang sudah masuk tahun keempat ini, huhuhuhu🥲.

Biaya APD Rp. 75,000
Charge Pasien Lama Rp. 40,000
Kontrol Ortho Emergency Shappire Rp. 275,000
Karet Elastis Rp. 60,000 

Follow me

My Trip