September 23, 2022

Contemplating

Dalam dua bulan ini, dengan berbagai macam masalah yang datang silih berganti, saya jadi banyak merenung. Saya merasa tumpukan masalah paling banyak dimulai dari bulan Agustus. Mungkin ini bagian dari akibat saya tidak berusaha menyelesaikan satu-persatu masalah, malah mencoba cuek, dan hasilnya semua masalah itu minta diselesaikan secara berbarengan.

Apa yang terjadi kemudian? Saya jadi sakit. Saya rasa kombinasi flu, alergi, sesak napas, demam, kambuh semua, bahkan lebih parah rasanya dari kena COVID🤒. Malah reaksinya kena ke kulit, jadi banyak sekali jerawat dan ruam di badan. Rasanya tubuh lemah sekali. Jangankan mau jalan-jalan, keluar kamar aja berat sekali. Pusing dan ngilu tulang tak tertahankan. Ditambah kehilangan selera makan.

Mungkin ini dampak dari dosa-dosa saya selama ini. Jadi harus bersabar dan terus berikhtiar untuk sembuh. Saya minum obat banyak banget, ditambah obat oles dan wajib mandi dua kali sehari. Duh, udah flu berat, mandi harus dua kali sehari lagi. Lelah sekali rasanya. Tapi apa pun saran dokter, saya ikutin, sampai badan jadi tambah kurus karena sakit, saya terima saja. Nanti tinggal makan sehat kembali untuk proses pemulihan.

Mungkin sekitar satu minggu waktu yang saya butuhkan untuk agak pulih. Setelah itu sisa-sisa batuk berlangsung selama dua minggu. Saya kemudian melanjutkan minum antibiotik kulit dalam kurun waktu dua minggu. Mana harga antibiotiknya sebiji Rp. 32rb dan saya harus minum sebanyak 28 biji. Ditambah dengan antibiotik untuk flu, batuk, dan sesak napas, total saya sudah meminum 35 biji antibiotik. Subhanallah. Saya tetap pasrah saja, sekalian makan dan minum yang bergizi, perbanyak sayur dan buah untuk memperbaiki tekstur kulit yang rusak karena penyakit. Belum lagi stamina badan belum sembuh benar.

Mungkin ini salah satu dampak dari stres, dan obat terbaik adalah mendekatkan diri pada Allah subhanahu wata'ala. Saya kembali membaca buku-buku agama yang sudah saya beli dari ntah kapan, tapi hanya terpampang saja diatas lemari. Saya baca satu demi satu dan mulai membuka wawasan dan pikiran saya tentang tawakkal kepada Allahﷻ. Termasuk buku-buku yang membuat pola hidup saya berubah. Saya harus tidur cepat dan bangun sebelum Shubuh untuk menyempatkan diri shalat tahajjud. Setelah itu tidak boleh tidur lagi, sedekah di waktu Shubuh, Dhuha, dan tidur siang. Pola seperti ini justru membuat hidup saya merasa lebih baik. Di kala saya tidak bisa berharap banyak pada manusia tentang rezeki (sebenarnya memang wajib berharap hanya kepada Allah), justru Allah selalu mencukupkan rezeki. 
Merenung
Setelah pikiran lebih jernih, saya mulai fokus pada bisnis baru. Saya belajar mati-matian, siang dan malam, menelepon banyak orang, mengumpulkan banyak bahan, berdiskusi, menonton video para pakar, dan membuat catatan. Hal yang paling saya rasakan adalah bahwa dulu saya termasuk orang yang sombong. Baru diberikan sedikit lebih banyak rezeki dari orang lain, udah belagu. Padahal, harta itu akan di hisab di akhirat kelak. 

Saya baru sadar, selama ini setiap saya menjadi pengajar, saya paling malas menjawab pertanyaan-pertanyaan sepele apalagi yang berulang-ulang ditanyakan padahal sudah saya jawab. Kenapa tadi enggak disimak? Ngapain sih nanya itu lagi itu lagi? Huft, I am a bad person. Ketika sekarang saya berbisnis di lingkungan baru, ntah berapa kali saya bertanya pertanyaan bodoh dan berulang, tapi semua orang mau menjawab dengan baik. Mungkin ini beda kasta kita dalam berilmu, bahwa semakin pintar seseorang, dia akan semakin tawadhu' (rendah hati). Kenapa saya sombong sekali selama ini? Padahal kalau dibandingkan kekayaannya, mereka jauuuh lebih kaya. Kalau dibandingkan pintarnya, mereka jauh lebih berilmu. Dan sikap mereka dalam menghadapi saya bisa santai saja, gampang memaafkan dan melupakan masalah, padahal ini bisnis, mereka bisa saja dirugikan karena saya, tapi mereka tetap baik sekali🥹.

Walaupun demikian, saya tetap bersyukur karena Allah telah memberi saya petunjuk kalau selama ini saya juga salah. Mungkin ada orang-orang yang memperlakukan saya kurang baik karena akibat dosa-dosa saya. Setiap nonton kajian di youtube, saya jadi lebih sadar diri kalau segala hal di dunia ini tidak abadi. Serahkan segala macam urusan kepada Allah ﷻ saja. Walaupun beberapa waktu yang lalu saya kehilangan banyak teman (yang saya kira) dekat, tapi Allah tetap mendekatkan dengan teman yang benar-benar baik, para pebisnis yang baik juga, dan mereka selalu mengingatkan saya untuk selalu beribadah kepada Allah ﷻ. Mereka juga mengingatkan saya untuk terus berdoa kepada Allah ﷻ, di semua waktu paling mustajab berdoa. Saya ikuti saja, semoga terus bisa istiqamah, dan hasilnya saya jadi lebih tenang. Penyakit di badan sudah 80% sembuh, penyakit hati pun berangsur-angsur membaik.


 أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوب

Artinya: "Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (QS 13:28).

Semoga Allahﷻ terus memberikan petunjuk kepada kita semua. Aamiin🤲. Saya akan mulai menuliskan blog lagi tentang seluruh perjalanan saya selama ini. Insya Allah. Silahkan di cek saja postingan yang lalu karena saya akan menuliskan sesuai tanggal kejadian.

Sampai jumpa!

September 01, 2022

Trust Issue

Sudah bulan September. Beberapa bulan lagi kita bakalan bertemu tahun 2023, Insya Allah. Nggak terasa ya. Seolah baru saja saya lolos Visa US di awal tahun 2022, berpikir tidak akan bisa dalam waktu dekat menginjakkan kaki di Negeri Paman Sam, tapi ternyata bisa, bahkan sampai dua kali, Alhamdulillah.

Tapi ternyata kehidupan saya dari Januari sampai September ini tidak semua sesuai harapan. Mungkin karena selama ini saya masih berharap pada 'manusia', sedangkan kita hanya boleh berharap penuh pada Allah SWT. Dimulai dengan menutup perusahaan sementara, sampai kehilangan beberapa teman dekat😢. Saya akan menceritakannya dalam postingan ini, tapi ada beberapa hal yang saya tulis berupa implisit, ambigu, atau secara samar agar melindungi privasi.

Pertemanan yang rumit...
Saya merasa hubungan dengan dia jadi lebih baik, apalagi setelah kami sama-sama berlibur di Disneyland, The happiest place on earth (tempat paling bahagia di dunia). Bulan Maret yang lalu, saya ke Amrik untuk urusan pekerjaan. Saya menyempatkan diri untuk bertemu dengan seorang teman yang biasa sering jadi teman trip selama di Indonesia pada masa pandemi 2021. Setelah dia kuliah ke Amerika, kita jarang bertemu. Kebetulan ada kesempatan, kita menyempatkan untuk jalan-jalan walau hanya beberapa hari saja.

Trip terakhir saya dengannya yaitu ke Meksiko di bulan Mei. Saya mengira hubungan kita baik-baik saja sampai ketika dia sama sekali tidak punya waktu untuk bertemu selama saya ke New York City (NYC). Padahal, sebelum saya ke NYC, kita sudah janjian dulu kapan mau main, sehingga saya menyisihkan waktu. Ntah apa yang terjadi padanya, saya juga kurang tau. Tiba-tiba dia sangat lambat dalam membalas Whatsapp saya dan sangat jarang mau mengangkat telepon dari saya. Saya jadi bertanya-tanya alasan kenapa dia begitu, tapi tetap tidak ada jawaban. Sampai akhirnya saya terbang ke Maroko, kami pun tidak bertemu. Saya kira kita adalah teman dekat. Atau paling nggak, dia menyebutkan alasan yang masuk akal kenapa tidak bisa jalan-jalan di NYC karena usaha ke Amrik itu berbeda dengan ke Bandung. Butuh waktu, uang, dan tenaga, yang tidak sedikit. Seandainya dari awal memang tidak bisa jalan-jalan, mungkin saya akan langsung pulang saja ke Indonesia tanpa perlu menyiapkan rencana lainnya. Dan seandainya bilang dari awal, saya tidak akan kecewa seperti ini.

Dia sempat bilang akan main (bersama saya) di Indonesia saja karena dia akan pulang untuk Internship. Tapi tetap, dia tidak meresponse Whatsapp saya walaupun memposting Instagram Story sampai beberapa kali dimana dia bertemu dengan teman-temannya terus-menerus. Kenapa kita harus selalu posting di sosial media yang terkadang saya malas banget buka? Apalagi kalau sedang sakit atau sibuk. Bahkan ada beberapa teman menuliskan pengumuman di Instagram Story dimana kalau kita tidak segera baca, maka akan terlewatkan pengumuman itu. 

Saya jadi bertanya-tanya, kalau level pertemanan ada 10, mungkin saya berada di no. 2 atau 3 dimana sangat sangat tidak penting. Sempat sekali akhirnya kita bertemu, itu pun tidak sampai satu jam karena dia harus bertemu dengan temannya lagi. Belum pun sempat ngobrol banyak, udah minta pulang. Melihat hp yang selalu dia buka, sangat tidak mungkin untuk dia tidak membaca pesan atau melihat ada yang menelepon, kalau memang itu disengaja.
Always amazing
Mungkin saya selama ini salah menilainya. Kita memang kenal hanya 1,5 tahun yang berarti tidak ada apa-apa dibanding yang lain. Padahal menurut saya teman trip bisa lebih dekat secara emosional karena kita pernah melalui hal baik dan buruk selama perjalanan. Saya bisa menjaga pertemanan dengan banyak teman trip, tapi kenapa dengan dia enggak. Ya setiap orang boleh memilih siapa aja sebagai teman, dan mungkin saya bukan pilihannya. Sempat sedih sih, mengingat selama ini kita sering jalan-jalan bersama. Kita juga 'klik' kalau ngobrol. Mungkin usaha saya mengunjunginya ke Amrik tidak ada apa-apanya dibanding dengan teman-temannya yang selalu dia temui selama di Indonesia.

Sekarang dia sudah kembali ke Amrik. Semoga kuliahnya lancar, selalu dalam lindungan Allah subhanahu wata'ala, semoga teman-temannya di Indonesia bisa segera mengunjunginya kesana dan semoga dia bisa menemani mereka tanpa harus hilang begitu saja.

Ada hal lain lagi...
Kita sudah berteman lama, dan saya sudah merasa sangat dekat dengan beberapa orang. Tetapi setelah beberapa tahun bekerja bersama, ternyata kedekatan pertemanan itu bisa dipertanyakan. Saya sebagai terkadang merasa tidak dihargai, mereka merasa bisa seenaknya di perusahaan. Kadang datang, kadang enggak. Kadang mau meeting, kadang enggak. Kalau bukan saya yang mengingatkan untuk datang ke kantor, mereka tidak datang atas inisiatif sendiri, begitu pula dengan weekly meeting dengan zoom. Saya nggak bisa memaksa juga, hanya saja kepercayaan saya semakin lama semakin berkurang. Ada masalah di pemasukan perusahaan juga tidak terlalu mau mereka pikirkan, pencatatan laporan keuangan pun kadang telat.

Saya membaca buku tentang kepemimpinan di masa Rasulullah SAW, beliau hanya menempatkan orang-orang pada posisi tertentu yang benar-benar bisa dipertanggungjawabkan. Disitu saya merasa salah, sekitar dua tahun kebelakang, saya merasa kalau bekerja hanya dengan orang-orang yang tidak sungguh-sungguh di posisinya. Apakah mereka hanya menghargai saya sebagai teman, sehingga tidak berani untuk resign? Atau memang peraturan perusahaan yang sangat sangat longgar, sehingga semua karyawan ngelunjak. Mana mungkin bisa seperti itu di perusahaan lain. Dan saya sama sekali tidak tegas, tidak membuat KPI, tidak membuat target juga, huft! Yang pusing siapa? Ya saya sendiri pada akhirnya😅.
Memory
Setelah saya menutup sementara perusahaan, fokus pertama saya adalah membereskan perhutangan. Hal ini tidak berjalan terlalu mulus. Tiba-tiba saja semua sumber mata pencarian untuk menebus hutang malah tutup, bertepatan dengan jadwal saya harus ke Amrik. Awalnya saya memang sudah bercerita tentang rencana ke Amrik pada beberapa orang. Saya mengira mereka mendukung kepergian saya ntah itu untuk mencari peluang bisnis baru, atau ilmu baru. Tapi ternyata tidak semanis itu... Apalagi mereka tau kalau bisnis di Amrik nilai besar. Siapa yang tidak tergiur?

Saya sudah berusaha untuk memastikan semua hutang tetap terbayar, tapi tiba-tiba ada masalah itu diluar kuasa saya. Uang yang saya alokasikan untuk ke Amrik tidak mungkin mendadak harus saya alokasikan untuk membayar hutang karena saya pada saat itu sudah (tengah) berada di Amerika. Sejak saat itu, mulailah muncul sifat hasad dari beberapa orang. Mereka tidak akan memperhitungkan usaha saya untuk tetap berusaha mengatasi masalah yang ada, atau paling tidak bisa membantu menyumbang ide. Yang mereka lihat adalah saya jalan-jalan ke Amerika tapi urusan banyak yang belum selesai. Padahal yang berhutang adalah perusahan, dimana dulu berhutang juga untuk kegiatan operasional. Saya rasa hampir semua perusahaan memiliki hutang, baik yang sudah besar sekali pun. Tinggal bagaimana cara mengatasinya saja. Tapi kita memang tidak bisa menahan semua orang untuk berpikiran negatif. Pasti ada saja cara setan mengganggu...

Lalu bagaimana sekarang? Bisnis baru tetap jalan dan insya Allah jauh lebih baik, hutang-hutang perusahaan tetap diusahakan bayar, tapi untuk berteman dengan mereka, jujur saja jadi agak malas. Padahal cara terbaik untuk move on adalah memaafkan. Kita berteman sejak awal untuk membangun kepercayaan dari hal-hal sepele. Berharap pada hal yang lebih besar. Tapi hidup seperti roller coaster yang terkadang diatas, lalu terjun ke bawah sampai hancur lebur. Mungkin selama ini adalah kesalahan saya, terlalu berharap, terlalu percaya. Tapi mungkin saya hanya manusia biasa yang ingin memulai sesuatu dengan hal-hal baik dulu, yaitu mempercayai orang, dan berharap nanti kedepannya bisa lebih baik. Tapi balik lagi, jangan berharap pada manusia.

"Aku sudah pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup dan yang paling pahit ialah berharap kepada manusia." - Ali bin Abi Thalib

Mei 01, 2022

Idul Fitri 1443 H

Alhamdulillah bisa pulang ke Aceh lagi untuk merayakan lebaran bersama keluarga tahun ini. Saya memang merencanakan untuk menghabiskan sebulan Ramadhan di Aceh karena saya jarang pulang kampung. Apalagi kemaren baru pulang dari Amrik dan Mama jadi kangen banget dengan saya. Kata Mama, ke Amrik itu seolah pergi ke belahan dunia lain sehingga rasa kangennya jadi sangat membuncah.

Saya pulang ke Aceh tanggal 5 April, setelah satu kali buka puasa bersama teman-teman di Jakarta. Mumpung tiket masih murah karena belum puncak arus mudik. Memang kali ini saya pulang terlalu cepat dan membuat banyak teman-teman protes. Mereka juga sudah lama tidak bertemu dengan saya dan sekarang saya harus pulang lagi ke Aceh. Setelah lebaran pun saya akan kembali ke Amrik lagi (insya Allah)

Saya akan merangkum beberapa cerita unik atau luar biasa selama bulan Ramadhan sampai menjelang Idul Fitri. Mari disimak!

1. Khatam Qur'an
Alhamdulillah tahun ini bisa khatam di bulan Ramadhan. Tahun lalu karena terlalu sering melakukan perjalanan, jadi nggak bisa sering mengaji. Jadi senang banget bisa berlomba dengan Dita dan Puput siapa yang bisa mengkhatamkan Qur'an terlebih dahulu. Dita bahkan sampai mengaji dua juz perhari demi mengejar ketinggalan di 10 hari terakhir Ramadhan. I missed the moments. Sedih rasanya Ramadhan segera berakhir.
Khatam
Semoga Al-Qur'an yang kami baca bisa memberikan syafaat di hari kiamat kelak. Aamiin🤲.

2. Mens Cuma 7 Hari
Setelah 3 tahun berturut-turut tinggal puasa sampai 16 hari yang membuat saya lelah sekali mengganti puasa, alhamdulillah tahun ini hanya 7 hari saja🥳. Dulu karena dapat mens di awal dan akhir, saya jadi capek mengejar khatam Qur'an yang harus dilakukan dalam 13/14 hari saja saya berpuasa. Sehari harus mengaji minimal 2 juz dan lelah sekali. Dengan banyaknya kegiatan, urusan kantor, semua membuat saya susah khatam. Alhamdulillah tahun ini mens sangat normal dan saya tidak perlu bersusah payah mengganti puasa.

3. Tiket Pesawat ke Aceh Tembus 9 Juta
Dulu, sewaktu masih bekerja di Metrodata, saya pernah merasakan tiket mudik termahal yaitu 1.9juta yang membuat saya harus pulang ke Aceh transit dulu di Kuala Lumpur. Sekarang tiket Garuda normal ke Aceh saja Rp. 2.5juta. Nah kemarin ini tiket mudik menyentuh angkat 9 juta untuk pesawat transit. Pesawat dengan penerbangan langsung saja sudah habis tak bersisa. Saya jadi keheranan sendiri. Kok bisa begitu mahalnya. Bukankah tarif batas atas tiket pesawat itu nggak boleh sampai naik ratusan persen ya. Kemanakah kementrian perhubungan kita?
Harga tiket ke Aceh gini amat
Katanya sih harga segitu adalah kombinasi pesawat kelas bisnis Batik Air dan Ekonomi Wings Air. Padahal saya ingat sekali tidak memilih menu kelas bisnis ketika ngecek Traveloka. Huff, semoga ke depannya lebih baik.

4. Tiket Balik Mudik Gratis
Alhamdulillah dapat kemudahan dari Allah karena menggunakan referal aplikasi hopper, saya dan Mama mendapatkan gratis tiket Garuda untuk balik mudik ke Jakarta disaat orang-orang pada kehabisan tiket. Memang rejeki itu datang dari mana saja, tidak disangka-sangka. Ditambah lagi saya mendapat harga menginap di Hotel Manhattan sangat murah nanti sewaktu harus mengantar Mama interview Visa US di Kedutaan Besar Amerika. Alhamdullilah, terima kasih ya Allah untuk semua kemudahan yang ada.

5. Rumah Mama Baru
Kali ini saya pulang ke rumah baru Mama. Sudah bertahun-tahun sejak Papa pensiun dan pindah ke kota Matang, kami tinggal di ruko. Walaupun banyak renovasi ruko yang kita lakukan sejak dulu saat kami tidak punya uang, sampai sekarang akhirnya bisa menempati rumah bagus, besar, mewah, dan baru. Alhamdulillah! Mama memang ingin sekali tinggal di rumah, bukan di ruko. Tapi sejak Papa meninggal, kita jadi susah mengambil keputusan. Mau bangun rumah baru atau melanjutkan tinggal di ruko. Belum lagi dulu sempat krisis keuangan di keluarga yang membuat saya dan abang harus membiayai adik-adik untuk kuliah.
Rumah Mama di tepi sawah
Memang sesuatu hal itu akan indah pada waktunya. Seperti saat ini harus menempati rumah baru, memang di waktu yang sangat tepat. Jadi teringat Papa, kangen Papa, walaupun kita tidak boleh berandai-andai, seandainya begini atau begitu. Rencana Allah subhanahu wata'ala memang yang terbaik.

6. Ramadhan Tanpa Rancupid
Sempat kangen waktu buka puasa bareng teman-teman Rancupid di kantor kami di Tebet. Apalagi April adalah bulan ulang tahun saya dan kita biasanya pasti akan merayakannya dengan makan-makan di restoran atau sekedar mengadakan acara buka puasa bersama. Tapi memang tahun ini berbeda. Tim sudah tidak sama lagi, sudah tidak ada lagi yang dulu. Apalagi, rencana ke depan tentang Rancupid sudah berubah 180 derajat.

Semoga ke depannya, bisnis saya semakin berkah, lancar, dan saya bisa kaya raya tanpa harus memikirkan uang sama sekali. Aamiin!

7. Mami Sakit
Mami adalah kakaknya Mama yang paling tua. Setiap tahun, kami berkumpul di kota Matang ketika Lebaran dengan tujuan utama silaturahmi ke rumah Mami selain karena saudara sepupu dan keponakan paling ramai di rumah beliau. Saya selalu antusias datang ke rumah Mami, apalagi beliau sangat suka mengobrol dan bertanya kabar kita semua dengan sangat ramah dan mendengarkan cerita kita dengan sangat fokus.

Sayangnya dua bulan yang lalu Mami kena stroke dan harus terapi di Banda Aceh, yang berarti tidak pulang ke Matang. Jadi kehilangan satu tempat tujuan untuk silaturahmi. Saya sempat berkunjung ke rumah Mami di Banda Aceh sewaktu saya pulang dari Amerika untuk menjenguk beliau. Melihat saya datang, beliau menangis terisak-isak sampai tidak mau melepaskan tangan saya. Saya jadi ikut-ikutan menangis. Saya kangen Mami. Semoga Mami segera pulih seperti sedia kala. Aamiin🤲!

Akhir kata Selamat Hari Raya Idul Fitri 1443 H.
Taqabalallahu minna wa minkum shiyamana wa shiyamakum wa ja’alna minal ‘aidin wal faizin.

تَقَبَّلَ اللّهُ مِنَّا وَ مِنْكُمْ صِيَمَنَا وَ صِيَمَكُمْ وَجْعَلْنَا مِنَ الْعَائِدِين وَالْفَائِزِين

"Semoga Allah menerima (amal) dari kami dan (amal) dari kalian, puasa kami dan puasa kalian. Dan Semoga Allah menjadikan kita bagian dari orang-orang yang kembali (kepada ketaqwaan/kesucian) dan orang-orang yang menang (dalam melawan hawa nafsu dan memperoleh ridha Allah)."

Februari 25, 2022

Vaksin Ketiga

Akhirnya setelah berusaha semaksimal mungkin, saya selesai juga melakukan Vaksin Ketiga atau sekarang disebut dengan Booster. Banyak hal yang menghambat proses vaksin ini diantara lain karena saya baru saja sembuh dari Covid. Tanggal 4 Februari saya positif kena Covid dan tanggal 7 Februari antigen sudah negatif, tapi efeknya terasa sampai 2 minggu ke depan. Saya sudah menceritakan pengalaman saat kena Covid di postingan sebelum ini dan sampai harus vaksin ketiga, badan saya belum terlalu fit. Berhubung bulan depan saya harus ke Amerika dan vaksin ketiga merupakan syarat untuk mengurangi waktu karantina, jadilah saya sangat mengusahakan untuk di vaksin.

Semula saya sudah mendaftar vaksin di Tebet dengan jadwal jam 11 siang. Saya datang ke Tebet jam 10.30 dan ternyata vaksin sudah habis. Saya bingung, padahal saya datang lebih awal. Ternyata memang jumlah vaksin terbatas dan hanya akan disuntikkan kepada orang-orang yang sudah mengantri sejak jam 8 pagi. Huff, gimana ini🙄? Tau begitu kan saya nggak bela-belain datang dari Depok ke Tebet. Saya sempat menelepon beberapa rumah sakit atau klinik di Jakarta yang vaksinnya masih tersedia sampai jam makan siang. Ternyata memang semua tempat yang saya telepon sudah habis. Terpaksa harus menjadwalkan ulang. 

Saya putuskan untuk vaksin di Depok saja. Paling nggak masih dekat dari rumah. Ternyata D'mall Depok menyelenggarakan program vaksin dalam jumlah besar mencapai 1000 dosis. Alhamdullilah D'mall dekat dari rumah, jadi saya langsung mendaftar.

Saya datang pukul 9 pagi ke D'mall lantai 4 dan program vaksinasi belum dimulai. Rencana saya setelah vaksin mau ke Natasha Skin Care untuk mengejar promo 50%, eeeh ini masih harus menunggu lagi di D'mall sampai 30 menit. Saya berpikir, ya sudahlah kalau pun nggak bisa facial di Natasha, yang penting vaksin dulu. Saya kemudian mengantri untuk di data. Saya tidak membawa fotokopi KTP dan petugas bersikeras saya harus punya fotokopian-nya. Untuk apa ada KTP elektronik kalau masih harus membawa fotokopi🙄, aneh sekali. Saya bilang saja nanti fotokopian menyusul. Padahal sampai selesai vaksinasi pun saya tidak menyerahkannya. Tidak masalah tuh.
Menunggu antrian screening
Saya di screening sampai saat dokter bertanya apakah saya pernah kena Covid? Saya jawab pernah sebulan yang lalu (saya berbohong). Dokter bilang kalau belum sebulan, mereka nggak mau menyuntikkan vaksin. Saya terpaksa berbohong karena memang saya butuh vaksin untuk keluar negeri. Gara-gara saya berbohong, tensi darah saya tinggi mencapai 156 dan perawat langsung bilang, "Mbak gugup ya? Ini tensinya agak tinggi." Saya jawab, "Iya saya takut disuntik." Duh, saya jadi takut sendiri kalau efeknya bakalan kemana-mana. Bismillah, semoga aman.

Giliran saya tiba untuk disuntik vaksin Astra Zeneca. Jujur aja saya bahkan nggak tau bakalan disuntik jenis vaksin apa, yang penting dosis ketiga. Katanya Pfizer hanya akan disuntikkan kepada lansia. Ya sudah, saya terima apa pun merk vaksinnya. Ketika saya selesai disuntik, langsung kepala ini pusing dan asam lambung saya seolah naik. Saya melihat dunia jadi terombang-ambing dan saya memaksakan diri untuk berdiri. Saya nggak boleh kelihatan lemah, jadi saya duduk sebentar untuk mengatur napas. Setelah rasa kleyengan sedikit mereda, saya turun ke lantai dasar untuk mencari makanan. Padahal tadi saya sudah sarapan, tapi lambung terasa perih.

Saya beli Burger King, lalu naik gojek menuju Natasha demi promo 50% dan Alhamdulillah dapat. Saya makan burger di Natasha dan minum sebanyak mungkin. Karena jadwal facial saya diatas jam 12 dan saya mendadak sangat mengantuk, saya tidur di sofa ruang tunggu dengan sangat nyenyak sampai giliran saya tiba untuk perawatan. Setelah bangun memang kondisi saya kembali seperti semula. Tidak pusing, tidak perih lambung, dan lengan juga tidak 'ngilu. Baiklah, saya sudah sembuh.

Dua hari berikutnya, saya merasa badan saya sangat pegal linu. Ntah karena efek vaksin yang berkombinasi dengan pegal-pegal setelah yoga membuat saya kurang enak badan. Alhamdulillah nggak sampai demam. Saya jadi istirahat saja dan mengurangi kegiatan diluar rumah karena saya nggak mau kalau antigen tiba-tiba negatif apalagi hari-hari terakhir menjelang keberangkatan ke Amerika.

Alhamdulillah setelah seminggu, badan saya sangat fit dan saya siap melakukan perjalanan jauh ke Amerika. Nanti saya akan bercerita lagi. Sampai jumpa!

Februari 22, 2022

Kena Omicron

Sempat bingung ketika saya bersama dua orang teman melakukan tes swab antigen sebagai persyaratan penerbangan dan hanya saya sendiri yang positif. Tempat swab memang berada di luar (outdoor) dengan hutan di sekelilingnya, tapi saya tetap takut kalau teman saya nanti malah tertular. Kita jadi mengobrol menjauh. Dari awalnya kita ke tempat swab dengan menggunakan satu mobil, sekarang harus berpisah. Agak aneh rasanya mengetahui saya tidak bisa kembali ke Jakarta naik pesawat hanya karena kena Corona😰. Hmm, pasti ada hikmahnya.

Saya jadi ingin menuliskan pengalaman saya dari hari demi hari selama terinfeksi virus ini. Sempat kaget juga dan takut diomelin Mama, tapi masa' sih diomelin? Kan saya sedang sakit😅. Ya omelan itu karena Mama khawatir, saya tau persis itu. 

Hari Pertama:
Saya tuliskan sebagai hari pertama sejak antigen saya positif, walaupun sehari sebelumnya tenggorokan memang sudah nggak enak. Saya kira karena kebanyakan makan es krim, eh nggak taunya malah kena corona. Saya meminta resep obat dari adik saya (dokter paling mantap se-galaksi), lalu memesannya menggunakan Halodoc. Alhamdulillah berkat teknologi, saya tidak kesulitan mendapatkan obat. Beberapa kali saya bersin dan meler, sampai sakit kepala. Duh rasanya memang lebih parah dari flu biasa.

Setelah minum antibiotik, saya tidur siang. Bangun tidur lalu merasakan badan panas, tapi saya tidak terlalu menghiraukannya. Masih mengira ini panas biasa. Setelah makan malam, saya minum obat, lalu pergi ke klinik lainnya untuk swab antigen ulang dan hasilnya memang positif. Badan mulai sangat meriang, dan saya memutuskan untuk tidur cepat.

Kira-kira jam 1 malam, saya terbangun dengan kondisi badan sangat panas. Karena tidak ada termometer, saya tidak bisa mengukur suhu tubuh yang sudah sepanas ini. Mungkin ini yang dinamakan panas sampai ke ubun-ubun bahkan saya 'nyaris menggigil. Saya mencari paracetamol diantara tumpukan obat dan meminumnya, lalu tidur kembali.
Obat-obatan
Hari Kedua:
Bangun shalat Shubuh sudah tidak demam, tapi saya masih meriang. Saya kemudian tidur lagi, dan bangun untuk sarapan roti. Setelah sarapan, saya minum obat dan keluar untuk berjemur. Keringat bercucuran hebat dan saya harus mandi keramas setelahnya. Saya kemudian makan siang dengan porsi yang sangat banyak, minum obat lagi, dan tidur. Kali ini tidur berjam-jam sampai hampir magrib.

Saya bangun dan merasakan badan mulai meriang lagi. Setelah makan malam, saya minum obat dan kembali tidur sampai besok pagi. Kali ini malam-malam kebangun hanya untuk ke toilet, bukan karena demam. Saya sudah menyiapkan paracetamol 600mg sebagai persediaan kalau demam seperti malam kemarin kambuh lagi. Alhamdulillah tidak demam.

Hari Ketiga:
Pilek udah sembuh, demam sudah tidak ada, tapi bangun tidur jam 8 pagi (telat). Saya minum obat, lalu berjemur lagi. Setelah itu balik ke kamar dan mandi keramas. Kombinasi cuaca terik dan setelah minum obat membuat saya keringatan hebat. Semoga dengan begini bisa cepat sembuh.

Waktu yang saya habiskan di kamar lumayan membosankan. Paling beli cemilan saja atau main laptop. Saya mencoba untuk bekerja atau miting, tapi memang nggak bisa karena kepala agak pusing. Nggak enak banget kalau melihat laptop lama-lama dalam kondisi seperti ini. Saya mulai batuk berdahak, tapi dahaknya cuma sesekali saja, tidak sampai sesak napas.
Cemilan di kamar
Saya percaya diri untuk swab antigen besok dan hasilnya negatif karena memang sudah lebih fit dari hari ke hari. Malamnya, saya minum susu beruang dan air kelapa agar (katanya) virus bisa cepat menghilang. Tidak ada salahnya mencoba.

Hari Keempat:
Saya swab antigen dan alhamdulillah negatif. Akhirnya bisa pulang ke Jakarta. Dari segi badan juga lebih fit tapi masih sering mengantuk. Mungkin karena pengaruh obat. Sebenarnya kalau ngomong masih ngos-ngosan dan dada juga masih berat. Tapi saya tetap meminum obat sesuai prosedur sampai tuntas.

Sesampai di rumah malah harus ngepel dulu karena atap bocor. Duh, mana masih capek karena perjalanan, tapi nggak sanggup juga melihat rumah jadi berantakan. Mana bisa tidur kalau rumah kotor begini. Setelah bersihin rumah, saya mandi dan tidur malam.

Hari Kelima - Hari Ketujuh:
Masih menghabiskan antibiotik dan obat-obatan semula. Pernah suatu kali badan sangat pegal karena PMS. Biasanya saya hanya pegal ringan saja, ini bisa super duper sangat pegal. Sampai encok, sakit pinggang, dada, bahu, lengan, semua sakit😖.

Hari Kedelapan:
Masih batuk dan masih berdahak, ditambah mens yang banyak membuat saya lemas dan agak pucat. Padahal antibiotik sudah habis, tapi dahak belum hilang. Mood untuk bekerja dan lihat laptop mulai ada, tapi belum bisa terlalu fokus. Mungkin karena sakit pinggang karena mens, jadi saya kurang bisa fokus. Kalau sudah malam, hidung jadi mampet dan ujung jidat jadi sakit. Kata adik, gejala ini sudah seperti orang sinusitis.

Hari Kesembilan:
Seluruh kondisi tubuh yang belum sembuh 100% kembali saya ceritakan ke adik dan dia meresepkan obat antibiotik dan obat batuk yang lebih kuat. Adik takut kalau kuman-kuman dari batuk berdahak menggerogoti paru-paru saya, jadi dia bertindak cepat dengan memberikan obat yang baru.

Saya pesan semua obat di Halodoc. Sekarang jaman semakin mudah ya. Obat-obatan patent yang terkadang tidak ada di apotek terdekat bisa dibeli secara online dan datang dalam waktu 45 menit saja.

Hari Kesepuluh:
Tubuh jauh lebih fit, mungkin karena obat-obatan yang mantap. Saya bahkan sudah bisa melakukan yoga, walaupun hanya untuk pernapasan. Sudah bisa lebih sering beres-beres rumah dan fokus bekerja.

Hari Kesebelas
Tamu sudah saya ijinkan datang ke rumah, karena saya sudah 10 hari isolasi mandiri. Tubuh juga sudah bisa saja, tidak ada lagi batuk dan demam.

Hari Ketiga belas
Saya swab antigen di klinik gigi dan hasilnya alhamdulillah masih negatif. Tapi saya masih merasa ngos-ngosan kalau ngomong. Apakah kondisi paru-paru masih belum sembuh sepenuhnya ya? Mungkin beginilah efek orang-orang yang memiliki komorbid asma, sembuhnya jadi lebih lama.

Hari Keenam belas
Saya mengubek-ubek resep Professor Paru yang pernah ada di hp saya. Saya konsultasi dengan adik untuk meminta diresepkan obat asma yang bisa diminum. Bukan obat pengencer dahak, ataupun obat batuk. Adik langsung meng-iya-kan dan saya beli obatnya.

Setelah obat datang, saya langsung minum dan ya Allah, lega sekali rasanya paru-paru ini. Rasanya udara bisa masuk ke paru-paru saya lebih banyak dua kali lipat. Saya otomatis nggak ngos-ngosan lagi. Tubuh jadi lebih berenergi dan mood jadi membaik.

Saya minum obat asma hanya dua hari dan di Hari Kedelapan belas, saya baru sembuh total. Bayangkan! Butuh waktu hampir 3 minggu untuk benar-benar sembuh dari Omicron yang menyerang paru-paru ini. Saya rasa, flunya memang lebih berat dari yang biasa, efeknya juga lebih lama. Kepala pun lebih sering pusing. Sudah lama saya tidak merasakan efek setelah flu berat seperti ini. Alhamdulillah semua bisa diatasi dan saya nggak harus masuk rumah sakit.

Untuk kalian yang masih isolasi mandiri, tenang saja ya. Nggak usah terlalu stres dan dibawa santai saja. Satu hal yang membuat saya cemas ketika kena Omicron adalah nanti harus menunda vaksin booster yang saya butuhkan untuk berkunjung ke Amerika agar bisa mengurangi waktu karantina ketika pulang ke Indonesia. Mana jadwal saya ke Amerika sudah mepet dan masih banyak hal yang harus saya persiapkan. Doakan ya semoga segala urusan saya lancar sampai berangkat. Aamiin🤲.

Semoga kita selalu sehat ya teman-teman. Sampai jumpa!

Februari 20, 2022

Finally, Perfect Smile

Akhirnya setelah penantian selama 4,5 tahun, sapphire braces di gigi saya dilepas juga. Fiuh alhamdulillah. Sebenarnya rencana ini tertunda seminggu karena saya kena Covid Omicron, tapi setelah itu kondisi gusi yang baru di operasi juga bagus banget tanpa ada efek samping sama sekali.

Sebelum lepas behel, saya harus swab antigen dulu sebagai prosedur di klinik gigi. Agak takut kalau nanti positif lagi, tapi alhamdulillah udah negatif kok. Saya lalu harus kontrol dengan drg. Riko Sp. Perio untuk memastikan gusi saya sudah sehat. Saya menunggu drg. Riko kayaknya 2 jam deh, lama banget😓 karena ada pasien beliau yang operasi gummy smile. Drg. Riko pernah cerita kalau operasi gummy smile itu pasti bakalan lama banget dan termasuk ke dalam operasi estetika. Tulang gusi harus dipotong dan dijahit dengan jahitan kecil dan rapat-rapat. Duh, kebayang sakitnya pasca bius hilang. Alhamdulillah saya tidak sampai harus begitu.

Drg. Riko bilang kalau gusi saya sehat banget dan boleh segera lepas behel. 
"Udah berapa tahun kamu pakai behel?"
"4,5 tahun dok😭"
"Wah, lama juga. Berarti hari ini harus dirayakan dong?"
Saya tertawa, "Pastinyaaaa🥳!"

Setelah dari drg. Riko, saya pindah ke ruangan drg. Chandra (Orthodentist) yang dengan sabar merawat gigi saya selama 4,5 tahun. Saya bilang ke drg. Chandra kalau gusi saya dalam kondisi sangat baik. 
"Jadi kita lepas behel dok?"
"Oke, kalau dr. Riko bilang gusinya sehat, mari kita lepas behel."
"YEAAAYYY!" Saya senang sekali🥳.

Ternyata proses lepas behel itu sakit juga lho😖. Behel dihancurkan dan dilepaskan di seluruh gigi. Bunyinya krak kruk, bikin stres juga. Setelah itu dokter melakukan scalling gigi sampai ke gusi, sehingga kadang sampai berdarah. Saya cuma bisa bertahan tanpa berkomentar apa pun, walaupun sebenarnya air mata mulai menetes karena sakit😢. Mungkin kotoran gigi selama memakai behel banyak yang sulit dibersihkan. Maklumlah, sudah 4,5 tahun.
 
Terakhir dokter mempolish gigi saya, lalu mengambil adonan cetakan gigi untuk retainer dan memasukkan ke mulut saya. Perasaan saya seperti mau muntah ketika adonan masuk mulut karena masuknya lumayan dalam sampai hampir ke kerongkongan🤢. Mana harus dua kali adonan masuk, yaitu sekali untuk gigi atas, lalu sekali lagi untuk gigi bawah.

Selesai proses cetak gigi selesai, saya berkumur, lalu berkaca. Wah, gigi saya putih dan gede-gede seperti gigi model di iklan lipstik😆. Saya baru tau kalau operasi pembukaan gusi itu sangat berpengaruh pada estetika gigi. Saya bertanya apakah saya perlu untuk memutihkan gigi? Drg. Chandra bilang nggak usah karena memang pada dasarnya gigi saya sudah putih. Saya berterima kasih kepada drg. Chandra yang selama ini merawat gigi saya. Kita sekarang tidak akan ketemu sebulan sekali lagi deh dok, sedih😢.
Finally, Perfect Smile
Selesai pembayaran di kasir, saya tidak berhenti berkaca dan selfi. Saya sangat puas dengan gigi saya sekarang karena benar-benar bagus dan tersusun rapi. Saya sampai buka-buka lagi foto sebelum pasang kawat gigi dimana rahang saya miring, gigi nggak rata, duh jelek banget deh. Mana dulu muka saya masih banyak flek karena belum rajin di laser, jadi aneh banget banyak noda hitam di wajah. Ditambah gigi yang amburadul😅. Makanya dulu saya suka pakai makeup tebal untuk menutupi flek di wajah.
Foto muka pake beauty camera, jadi nggak ada flek. Tapi rahang dan gigi amburadul.
Muka banyak flek, gigi amburadul😱
Buat teman-teman yang masih ragu untuk pakai behel, saya sarankan untuk segera pakai. Karena hal yang paling pertama dilihat orang ketika bertemu dengan kita adalah senyuman. Walaupun pakai masker, tapi kan nanti kalau lanjut makan, pasti buka masker. Pakai behel juga bisa memperbaiki struktur wajah menjadi lebih baik, karena rahang kita akan berubah seiring lamanya memakai behel, ke arah yang lebih baik. Nggak usah takut kalau usia sudah bukan remaja lagi karena dulu saya juga selalu berpikir begitu. Tapi ternyata, waktu 4,5 tahun tidak terasa waktu berlalu dan voilaaa lihatlah senyuman saya sekarang😁.

Service charge pasien lama Rp. 40,000
New Normal Protocol Rp. 95,000
Lepas backet RA RB Rp. 500,000
Deposit DP 100% Retainer Transparan RA RB - SP Rp. 1,940,000

Buat kalian yang ingin lihat-lihat dan baca-baca proses gigi saya dari awal pakai behel bisa di :

Semoga bermanfaat ya. Finally, Perfect Smile!

Januari 28, 2022

Pindah

Sudah diputuskan, meskipun tiba-tiba. Memikirkannya saja sudah sejak bulan November 2021, saat hati dan pikiran sangat berkecamuk. Sudah berdiskusi dengan beberapa orang, yang paham, atau pun yang tidak paham. Yang memberi masukan, atau pun yang malah memperkeruh suasana. Semua sudah menjadi bahan pertimbangan saya.
Good bye👋
Kantor di Tebet umurnya sudah hampir 4 tahun. Suka duka kita ada di ruko dua lantai itu. Teringat dulu, ketika pindah ke kantor ini, semua teman diundang untuk mengucap syukur dan berbuka puasa bersama. Ada banyak cerita di dalamnya, mulai dari kita kemalingan, bokek, duit kembali melimpah, pandemi, dan segala macam hal yang tidak bisa diceritakan satu demi satu karena memang membuat saya sedih😢. Dari sisi karyawan, mungkin mereka sedih dirumahkan, sedangkan dari sisi atasan, justru saya jauh lebih sedih lagi. Saya bahkan tidak bisa terlalu berekspresi, karena harus terus menjaga emosional para karyawan sampai saat terakhir. Tapi, apakah mereka pernah memikirkan perasaan saya?
Barang-barang kantor dipindahkan ke warehouse
Terima kasih untuk semua kenangan
Saya hanya bisa berdoa, semoga ini menjadi titik awal kebaikan, apa pun itu. Semoga Allah menggantikan dengan yang lebih baik. Semoga Allah memperlancar semua rencana-rencana yang sudah saya buat sampai akhir tahun 2022 ini, aamiin🤲. Saya tidak bisa menulis terlalu banyak karena hati ini sedang hancur💔.

Follow me

My Trip