Juli 30, 2021

Vaksin Tahap Kedua

Sempat hampir lupa mau daftar vaksin kedua, eh tau-tau tanggalnya udah deket😅. Saya coba daftar via aplikasi Halodoc, tapi kok disuruh masukin kode voucher gitu. Saya kira aplikasinya error, jadinya saya install aplikasi JAKI agar bisa mendaftar dan malah lebih gampang. Saya tinggal masukkan nama, no KTP, dan no Hp, langsung keluar jadwal vaksin kedua di Pejaten Village juga.

Sejak PPKM hari pertama, saya tidak pernah sama sekali naik kereta lagi. Agak malas mengurus Surat Tanda Registrasi Pekerja (STRP) walaupun sebenarnya bisnis Rancupid termasuk ekspor. Selain karena nggak perlu-perlu amat juga ke Jakarta, saya memang memilih untuk tinggal di rumah saja untuk menghindari virus Corona. Malah jadi suka masak berat. Semua resep di coba🍲.

Saya naik Grabbike ke Stasiun Depok seperti biasa. Sebenarnya agak ragu mau bawa dokumen apa, tapi setelah saya lihat di instagram Commuterline, kalau mau vaksin tinggal tunjukkan bukti pendaftaran saja kepada polisi yang berjaga di meja administrasi, lalu langsung disuruh masuk. Semudah itu. Bahkan nggak diminta sertifikat vaksin pertama.

Stasiun Depok Lama di masa PPKM
Suasana di stasiun Depok Lama sebenarnya nggak sepi-sepi amat. Di kereta aja saya masih berdiri. Memang masih sangat ramai orang yang harus bekerja ditengah lonjakan kasus COVID19. Saya turun di stasiun Pasar Minggu karena Rezki sudah menunggu disana. Kami kemudian memesan Grabcar menuju Pejaten Village.
Sepi dan gelap
Sesampai di Pejaten, kami harus mendaftar dulu di lantai dasar. Mall ini gelap sekali karena selain gerai makanan yang cuma bisa take away, semua toko tutup. Sedih rasanya, tapi mau bagaimana lagi. Karena menggunakan aplikasi JAKI, kita dapat antrian cepat. Saya no. 22 dan Rezki no. 23. Kita naik ke lantai 3, lalu duduk menunggu sekitar 30 menit, bahkan sempat ada senam peregangan dulu khusus untuk orang-orang yang sudah menunggu dari tadi pagi. Saya ikut aja sih senamnya. Gerakannya mirip senam SKJ yang biasa dilakukan di pagi hari sebelum masuk sekolah dulu. 
No. antrian
Sampai akhirnya no. antrian kita dipanggil. Rezki sempat pesan Puyo dulu, tapi nggak jadi di makan karena antriannya sudah dipanggil. Proses daftar ulang pun sangat cepat, lalu petugas yang tensi darah, melakukan screening, semuanya cepat. Berbeda sekali ketika vaksin pertama dimana yang tensi darah dan yang screening cuma dua orang. Kami waktu itu mengantri sampai berjam-jam. Hufff!

Tidak lama kemudian, tiba giliran saya untuk disuntik vaksin. Kali ini saya lebih pasrah, nggak difoto juga. Saya singsingkan lengan baju, memejamkan mata, lalu disuntik💉. Duhhhhh sakittttt😵😵😵!!! Walaupun hanya beberapa detik, tapi memang proses penyuntikan💉 bagi saya sangat menegangkan. Setelah disuntik, saya mengumpulkan kertas ke meja observasi, lalu pergi ke konter puyo untuk makan. Pengen makan yang manis-manis biar terlupakan rasa sakitnya disuntik. Karena nggak bisa dine in, jadi kita duduk lesehan di lorong menuju lift untuk makan Puyo. Makan pudding beginian sih mana mungkin lama, paling juga cuma beberapa menit.
Puyo
Selesai makan, kami menunggu kartu vaksinasi di cetak. Ntah kenapa kali ini lengan saya sama sekali nggak sakit. Waktu vaksin pertama malah terasa ngilu, sakit, dan nyut-nyutan. Alhamdulillah ketika observasi memang tidak ada sama sekali gejala apa pun, sehingga setelah kartu di print, kami malah lanjut jalan-jalan ke kosan Mbak Ummi.
Selesai
Baiklah, vaksin pertama dan kedua selesai. Semoga negara kita tercinta segera terbentuk kekebalan kelompok. Semoga pandemi segera usai, dan kita semua bisa beraktifitas dengan leluasa tanpa perlu masker lagi, aamiinnnn🤲. Kasihan teman-teman yang sudah 2 tahun sama sekali tidak kemana-mana. Saya masih mending udah pergi kesana-kesini, tapi tidak semua orang bisa merasakan hal yang sama 'kan?

Yuk segera vaksin dan terus berdoa kepada Allah subhanahu wata'ala agar pandemi segera berakhir. Aaminnn ya Allah🤲.

Juli 24, 2021

Berat Hati

Hanya ingin menulis sedikit, agar aku masih ingat rasanya. Sewaktu menutup jendela mobil, melihat matamu, seraya melambaikan tangan.

Dari jendela kau melihat bintang-bintang tanggal

Satu demi satu, berulang mengucapkan selamat tinggal

Kadang kau pikir lebih mudah mencintai semua orang, daripada melupakan satu orang

Jika ada seseorang terlanjur menyentuh inti jantungmu, 

Mereka yang datang kemudian, hanya menyentuh kemungkinan

(Aan - Mansyur)

Tulisan ini di posting, ketika aku sudah kuat untuk membacanya lagi...

Juli 03, 2021

Kontrol di Hari Pertama PPKM Darurat

Tidak ada yang tau kalau ternyata di awal bulan Juli ini masyarakat Indonesia terutama di Jawa dan Bali akan merasakan kembali Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat. Tahun lalu sih namanya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), dimana segala hal dibatasi. Di PPKM kali ini, ojek online masih jalan, kendaraan umum masih ada, Mall masih dibuka walaupun khusus untuk gerai makanan, apotik, dan kesehatan saja.

Sebelum PPKM Darurat resmi diberlakukan, saya sudah meminta penjadwalan ulang ke OMDC karena penyangga behel saya copot dan berakibat kawatnya menusuk rongga mulut. Duh, rasanya sakit banget dan mengganggu😖. Setiap buka mulut, pasti ketusuk deh kulit rongga mulut😖. Ternyata OMDC tidak bisa menjadwalkan ulang untuk ke Orthodentist karena penuhnya jadwal. Kalau mau potong kawat bisa ke dokter gigi umum saja kata mereka. 

Mengingat effort yang harus saya lakukan ke OMDC hanya untuk memotong kawat gigi doang (naik kereta, naik ojek, jauh pulak ke Pasar Minggu, harus bayar APD lagi), akhirnya saya bertanya pada ibu komplek apakah dokter gigi di ruko depan masih praktek. Alhamdulillah ternyata masih. Saya tinggal reservasi melalui Whatsapp, dan langsung mendapatkan antrian di hari yang sama. Saya tinggal jalan kaki saja ke deretan ruko depan komplek, dan langsung dipanggil masuk. Ternyata dokter gigi Rahayu ini temannya dokter Oktri, pemilik OMDC.

Proses pemotongan kawat hanya berlangsung 5 menit dengan tarif Rp. 20,000. Alhamdulillah masih rejeki untuk mendapatkan kenyamanan di mulut tanpa harus ketusuk kawat behel dan nggak usah menguras tenaga untuk pergi ke OMDC di Mampang. Dokternya baik banget dan suasana tempat prakteknya juga enak banget. Sayang, saya lupa memfotonya.

Saya juga tidak tau bakalan ada PPKM dan sudah terlanjur membooking jadwal kontrol gigi di tanggal 3 Juli 2021, bertepatan dengan hari pertama PPKM Darurat. OMDC menelepon saya tadi pagi dan bilang kalau selama PPKM darurat, yang datang kontrol gigi akan di swab antigen terlebih dahulu untuk keamanan bersama, secara gratis. Duh, baru kamis kemarin swab antigen, sekarang swab lagi. Ya udahlah, pasrah saja. 

Saya agak takut juga kalau nanti ketika di perjalanan menuju OMDC bakalan susah dapat ojek online, tapi ternyata gampang banget. Suasana PPKM Darurat yang saya rasakan dari keluar rumah sampai tiba di OMDC semua sama saja seperti hari biasa. Yang berbeda mungkin kendaraan hanya sedikit lebih lengang saja. Kalau di kereta sih seperti biasa, tidak ada peraturan yang berubah. Hanya disarankan memakai masker dua lapis, tapi yang pakai satu lapis pun tidak mengapa. Oh iya, jadwal kereta terakhir juga dimajukan menjadi pukul 21:00.

Sampai juga

Sesampai di OMDC, saya mendaftar ulang, diberikan APD berwarna pink (untuk wanita), lalu langsung di swab antigen. Agak deg-degan juga karena baru vaksin (banyak orang-orang bilang kalau setelah vaksin biasanya bakalan positif Corona, walaupun pernyataan ini agak kurang mendasar). Mana alat swab yang dimasukkan sangat dalam dan di kedua rongga hidung. Alhamdulillah saya negatif. 

Negatif, alhamdulillah
APD Pink
Saya kemudian dipanggil masuk ke ruang Orthodentist. Saya menyerahkan penyangga behel yang copot ke dokter untuk dipasangkan ulang. Dokter kemudian mengecek gigi saja, lalu bilang kalau celahnya sisa di sebelah kiri saja. Sebelah kanan sudah rapat. Haduwh, masih belum rapat juga dua-duanya😔. Dokter kemudian mencoba memasangkan penyangga behel, lalu copot. Dokter mengulang lagi memasangkannya, lalu copot lagi. Dokter bilang, "halah copot terus, nggak usah dipake' aja deh." Ya sudah, saya juga nggak masalah kalau nggak dipake'.
Kondisi gigi
Orthodentist kemudian memberikan saya karet elastis yang lubangnya lebih sempit. Beliau bilang, supaya gigi cepat rapat dan gigi geraham cepat maju juga. Sepertinya selama PPKM darurat ini saya bisa mengontrol untuk lebih rajin menggunakan karet elastis agar lebih cepat proses merapatnya celah gigi. Saya nggak akan makan yang keras-keras dulu deh, demi Perfect Smile yang sudah masuk tahun keempat ini, huhuhuhu🥲.

Biaya APD Rp. 75,000
Charge Pasien Lama Rp. 40,000
Kontrol Ortho Emergency Shappire Rp. 275,000
Karet Elastis Rp. 60,000 

Juli 01, 2021

Vaksin Tahap Pertama

Sejak awal pandemi tahun lalu, saya adalah orang yang sangat konsisten ingin di vaksin. Padahal saat itu hoax vaksin sangat menyebar di masyarakat Indonesia termasuk keluarga saya sendiri. Mungkin karena saya adalah orang yang rutin divaksin flu setahun sekali karena sangat berpengaruh di tubuh saya dan bisa meminimalisir flu yang biasanya akan berakhir dengan serangan asma. Saya juga di vaksin meningitis ketika mau umroh. Jadi saya tidak pernah punya masalah dengan vaksin, bahkan saya sangat menanti-nanti vaksin Corona masuk Indonesia, apapun merknya.

Pamer dulu

Sebelum ke Raja Ampat, beberapa teman sudah di vaksin apalagi yang tenaga medis. Saya sampai tanya sana-sini dimana saya bisa nebeng divaksin, tapi ternyata memang belum bisa untuk umum. Ya sudah saya bersabar saja. Sampai akhirnya saya membuladkan tekad, pokoknya maksimal di bulan Juli saya harus sudah divaksin, walaupun baru vaksin tahap awal. Alhamdulillah diberikan kemudahan dimana yang semula harus menggunakan surat keterangan kerja di Jakarta, sampai akhirnya hanya perlu menunjukkan KTP saja sudah bisa di vaksin. Akhirnya saya mendaftar melalui aplikasi Halodoc dan dapat antrian di tanggal 1 Juli 2021 di Pejaten Village Pasar Minggu, menggunakan vaksin Sinovac.

Agar memastikan kalau tubuh saya tidak terkontaminasi virus Corona, adik saya Yuni menyuruh untuk swab antigen dulu. Apalagi banyak sekali teman-teman yang setelah vaksin malah positif virus Corona. Walaupun mungkin mereka sudah kena Corona duluan ntah dimana, maka dari itu daripada berpikiran buruk tentang vaksin, lebih baik saya swab antigen dulu. Nah, karena saya dapat antrian vaksin di Pejaten Village, jadi saya memutuskan untuk swab antigen di jalan Warung Buncit yang sempat viral karena tempat swab sudah seperti tempat jualan pulsa, saking banyaknya dan harga bersaing (murah).

Dipilih-dipilih
Dari stasiun Pasar Minggu, tinggal naik Grab saja ke Jalan Warung Buncit. Disana kalian bisa memilih mau swab dimana. Kalau saya lebih memilih yang agak sepi, walaupun nggak sepi-sepi amat juga😅. Kalau mau harga murah sih, bisa memilih mau yang 79rb - 89rb pun ada. Harga ini jauh lebih murah daripada di bandara, bahkan lebih dari setengahnya. Kalian tenang saja, tempat swab ini sudah ada ijin Kemenkes, jadi nggak usah takut untuk swab murah meriah disini ya😉.
Ada OMDC juga
Selesai swab, saya melanjutkan perjalanan ke Pejaten Village untuk vaksinasi. Agak kaget juga antusiasme masyarakat yang ingin di vaksin seramai itu. Karena saya mendaftar via Halodoc, saya mendapatkan antrian no. 353, sedangkan sekarang masih antrian no. 200. Haduh masih lama nih ternyata😦. Saya menunggu hampir 1.5 jam sampai no. saya dipanggil dan mulai melakukan proses registrasi.
Antrian
Setelah registrasi, antrian untuk cek suhu badan dan tekanan darah pun panjang sekali. Akhirnya saya memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu agar menambah tenaga. Setelah makan siang, antrian sudah lebih sepi dan sisa beberapa orang saja. Saya kemudian lanjut ke proses pengecekan tubuh. Tekanan darah saya normal, dan suhu tubuh bagus, baru deh lanjut ke tahap selanjutnya.
Menunggu sampai ngantuk
Menunggu antrian screening mungkin memakan waktu lebih dari satu jam. Mana suasana saat itu mendung dan angin sepoi-sepoi, baru makan siang pulak, saya jadi sangat mengantuk. Sampai akhirnya dipanggil juga nama saya. Setelah diwawancara sedikit tentang riwayat kesehatan, akhirnya dapat juga antrian untuk disuntik. Duh, lama sekali proses ini berlangsung😩.
Suntik dulu
Sebenarnya saya sangat takut jarum suntik, tapi sekarang sudah lebih pasrah. Saya langsung menyingsingkan lengan baju, lalu menutup sebagian lengan dengan kain, kemudian pasrah saja ketika disuntik. Sakit sih, tapi semua berjalan begitu cepat. Ibu perawat yang menyuntik pun tidak membuat saya takut, jadi ya santai saja.

Setelah disuntik, saya duduk di tempat observasi. Lengan jadi sakit, perih, dan pegal-pegal. Tapi semua masih bisa ditahan karena biasanya memang begitu efek vaksin. Setelah 15 menit, kartu vaksinasi Covid 19 saya pun keluar dan tidak ada efek signifikan di tubuh yang saya rasakan. Saya bahkan bisa langsung pulang tanpa ada rasa sakit yang berarti.
Akhirnya sudah di vaksin

Untuk kalian yang akan divaksin bisa melakukan berbagai persiapan diantaranya istirahat cukup, jangan stress, makan makanan bergizi dan minum susu, minum air putih yang banyak, minu suplemen, saya bahkan sampai infused multivitamin, dan jangan lupa olah raga. Kalau bisa, hindari dulu keramaian untuk memastikan kita tidak terjangkit virus dari mana pun. Oh ya, banyak teman-teman bilang vaksin Astra Zeneca lebih kuat sehingga biasanya setelah divaksin malah bikin demam. Rentang waktu ke vaksin kedua pun 12 minggu. Kalau saya memilih Sinovac karena rentang waktu vaksin kedua hanya sebulan dari vaksin pertama. Mengingat Corona di Indonesia semakin menggila apalagi dengan adanya varian delta. Kalau pun nanti harus di vaksin lagi ketiga dan keempat, saya pun nggak masalah.

Saya sangat menyarankan untuk swab antigen terlebih dahulu sebelum vaksin agar memastikan tidak ada virus Corona di tubuh (walaupun keakuratan swab belum 100%, tapi masih bisa diperhitungkan). Jangan lupa ketika mengantri vaksin untuk memakai masker 2 lapis atau yang banyak lapisan seperti KN95, N95, dan lainnya.

Semoga vaksinasi ini dapat menjadi bagian ikhtiar kita dalam mengakhiri pandemi di negara tercinta ini. Aminnn ya Allah.

Juni 20, 2021

Drama di Bandara Manado

Pagi itu saya bangun jam 5 pagi, shalat Shubuh, lalu mandi. Setelah mandi saya menelepon resepsionis untuk mengantarkan early breakfast ke kamar jadi paling nggak bisa sarapan dulu pelan-pelan. Rencana saya berangkat ke bandara jam 6.30 karena antrian Genose baru buka pukul 7 pagi. Sudah cek di Google Maps waktu tempuh dari Best Western Hotel Manado ke Bandara Sam Ratulangi hanya sekitar 20 menit, jadi bisa sarapan agak santai. Rezki sudah berangkat duluan dari jam 5.30 ke bandara, sedangkan Tyo baru pulang besok.

Early breakfast menu yang saya pesan adalah Western Food yang saya harapkan berupa sandwich dan sejenisnya, juga Indonesian Food. Ketika makanan datang, Western Food hanya berupa roti dengan selai coklat dan keju 1 tangkup (dua helai) dan Indonesian food berupa nasi goreng paket komplit. Hah🙄? Bahkan western foodnya saja jauh dari ekspektasi saya. Paling nggak, dikasih-lah beberapa helai roti, ini cuma DUA banget. Huff🙄! Saya membagi nasi goreng dengan Iyus, sedangkan roti ya saya bungkus aja. Iyus juga nggak mau sarapan banyak karena masih terlalu pagi, padahal nasi gorengnya enak. Setelah sarapan, saya langsung mules. Mungkin karena ada sambal😅.

Setelah selesai urusan di toilet, saya check out dan menunggu Grab ke bandara. Beberapa menit kemudian Grab datang, lalu saya dan Iyus pun berangkat. Perjalanan ke bandara memang hanya 20 menitan, berbeda sekali ketika beberapa hari yang lalu dimana perjalanan kami dari bandara ke Hotel Sheraton hampir satu jam. Mungkin karena masih pagi, jadi nggak macet.

Sesampai di bandara, Iyus bertanya dimana tes Genose dan seperti yang saya pikirkan sebelumnya, pasti tesnya di lantai dua (di Bandara Ternate juga di lantai dua). Berhubung saya bawa koper besar ya, jadi saya berencana untuk menunggu Iyus duluan Genose, baru saya. Jadi ada yang nungguin koper-koper kita. Karena sewaktu di Ternate, tes Genose hanya membutuhkan waktu 5-10 menit sudah keluar hasilnya. Iyus bilang mending kita barengan aja karena takut telat. Saya masih bersikeras untuk gantian aja karena mana mungkin angkat koper sekalian dua begitu. Kan berat. Dan Iyus kayaknya nggak mau terlalu mendengarkan saya, dia sudah menenteng dua koper naik tangga yang lumayan tinggi🤭. Saya terdiam dan hanya mengikuti dia naik tangga.

Bandara Sam Ratulangi Manado

Benar saja, antrian Genose sudah mengular dan belum satupun orang dipanggil. Bayangkan, ini sudah jam 7:15, dan pesawat kami ke Makassar jam 09:35 dimana jam 9 boarding. Saya jadi deg-degan😨, apalagi ketika Iyus mendapatkan antrian kita no. 43. OMG😱! Saya melihat antrian swab antigen yang hanya sedikit, tapi tertulis kalau hasilnya akan didapat 30 menit - 1 jam. Duh lama banget. Ini jadi galau, mau swab nanti hasilnya lama, apa mau Genose tapi antrian panjang? Saya melihat Iyus mondar-mandir terus karena panik. Saya sudah berusaha menenangkan diri walaupun sebenarnya panik juga😨. Iyus sudah memegang KTP kita untuk bersiap-siap kalau dipanggil, tapi tetap saja masih lama. Kita sampai menghitung-hitung, kalau seorang 1 menit, berarti antrian kita baru dipanggil jam 8 lebih. Duh seram juga😨.

Sudah pukul 7:45 dan masih no. antrian 20an. Iyus menyuruh saya melihat nomor antrian sisa berapa lagi dan saya langsung berjalan ke meja pendaftaran. Saya sekalian mengobrol dengan bapak-bapak basa-basi bertanya, "bapak nomer berapa?" Dan ternyata nomor 49. Duh lebih jauh lagi. Saya melihat beberapa nomer 30an diatas meja yang ditaruh orang-orang yang batal Genose. Semula saya mau ambil tapi langsung dibereskan oleh bagian pendaftaran.

Sampai ketika seorang ibu-ibu memberikan no. antrian ke 26 ke bapak yang saya ajak ngobrol tadi. Bapak itu melihat kertas antrian, lalu menatap saya. Saya bilang, "Pak, kita bareng aja ya?" Bapaknya mengernyit, "Hah? Bareng?" Saya sempat melihat Iyus yang daritadi memperhatikan saya mengobrol dengan si Bapak.
Antrian no. 26 dipanggil. Saya mengikuti bapak ke meja pendaftaran. Saya langsung bertanya pada ibu-ibu di pendaftaran, "Bu, kalau satu nomor untuk 2 orang bisa?"
"Boleh kok, sini KTPnya sekalian."
Untung saja Iyus sudah berdiri di belakang saya dan saya langsung minta KTP kita. Nama kita bertiga terdaftar, dan saya langsung membayar ke si Bapak.
Iyus terdiam melihat saya, "Gilak lo ya."
Saya tertawa dan bilang, "Itu namanya teknik sosial."

Kita bertiga dipanggil berbarengan untuk Genose, lalu kembali ke kursi masing-masing. Bapak-bapak didepan saya sempat bertanya nomor saya, mungkin karena beliau melihat saya kok udah maju aja ke depan. Saya jawab, "no. 26 Pak!" Dan beliau langsung mengerti, "Oh nomor awal ya." Sebenarnya banyak sekali nomor yang dipanggil tapi tidak ada orangnya, jadi seharusnya no. 43 pun masih keburu untuk duluan Genose. Tapi yang penting kita sudah Genose duluan, jadi sudah lega dan nggak usah pikirin orang laen.

Saya lalu melihat si Bapak (yang barengan Genose dengan kita) mengatakan sesuatu ke petugas Genose, lalu beliau pergi ntah kemana. Sempat berpikir, ini jangan-jangan si bapak mau menitip Genosenya🤔. Ketika hasil Genose keluar, kita bertiga berada dalam satu kwitansi. Saya melepaskan lembar saya dan Iyus, lalu bilang ke petugas Lab kalau saya menitip hasil si Bapak tadi. Petugas Lab menyuruh menitip di pendaftaran, tapi saya lihat bagian pendaftaran sudah kalang kabut dengan tugas dia mendata KTP orang-orang. Agak nggak mungkin untuk dititipin deh🤔.

Saya lalu berbicara pada satpam, "Pak, saya titip hasil Genose teman saya dong. Nanti dia datang kesini. Dia sedang pergi ntah kemana."
"Lho, kalian barengan 'kan?" Saya mengangguk, "Ya udah kenapa nggak telepon aja."
Duh saya langsung kebingungan. Iya juga sih, masa temenan nggak ditelepon aja, "Udah berapa kali saya telepon, tapi nggak diangkat Pak." Saya ngeles.
"Ya udah bawa aja, nanti juga diangkat." Duh!
Saya dan Iyus turun seraya kebingungan. Ini mau digimanain hasil Genosenya, nanti si Bapak nggak bisa terbang. Kami lalu bertemu dengan petugas bandara dan melapor, "Pak, hasil Genose teman sa--," 
Iyus menyela, "Ini ada hasil Genose jatuh Pak. Nggak tau punya siapa."
Dalam hati saya bergumam, duh tadi kan alibinya si Bapak temen kita yang teleponnya nggak bisa diangkat. Kenapa sekarang ada Genose jatoh?
Petugas bandara bilang, "Oh taruh saja di informasi. Nanti diumumkan. Tuh informasi dibawah tangga."
"Tapi nggak ada orang Pak di informasi," lanjut Iyus.
"Itu di monitor ada orangnya,"
"Lho?"
Kami berjalan menuju informasi dan ternyata benar ada orangnya di dalam monitor. "Ada yang bisa saya bantu?"
"Bu, ada hasil Genose terjatuh. Atas nama (sebut saja) Adam."
"Oh baik, taruh saja hasil Genosenya disitu, nanti saya umumkan." Saya menaruh hasil Genose dan kwitansi di meja informasi.

Akhirnya saya dan Iyus masuk juga ke ruangan cek in dan syok lihat antrian yang sangat panjang😱😱😱. Duh, keburu nggak yah, tapi masih ada satu jam lagi. Saya dan Iyus pisah barisan supaya nanti siapa yang duluan aja. Walaupun pada akhirnya kami sampai ke konter cek in dalam waktu bersamaan. Sayup-sayup terdengar bagian informasi memberitahukan kalau ada Genose terjatuh atas nama Adam. Tapi jujur saya ragu apakah Pak Adam beneran mendengar pengumuman ini🤔.

Petugas maskapai Citilink kemudian meminta hasil Genose dan kwitansi ketika kami cek in. Saya keheranan, "kok kwitansi sih?" 
"Mohon maaf, kalau tidak ada kwitansi, kita tidak bisa mengijinkan kalian untuk cek in."
"Tapi ini 'kan udah valid." Saya menunjukkan stempel validasi.
"Mohon maaf ini sudah peraturan bandara."
Iyus bertanya, "Dimana kwitansinya?"
Petugas bandara bilang, "Bisa minta lagi aja sama petugas Genose."
"Tadi gw taruh di meja informasi." kata saya kepada Iyus sebelum dia tiba-tiba memutuskan untuk pergi ke tempat Genose lagi. "Tapi kalau Pak Adam udah ngambil hasil Genosenya, pasti udah nggak ada lagi juga kwitansi disitu."
Tanpa ba-bi-bu, Iyus berlari keluar meninggalkan saya di konter cek in kebingungan😵‍💫. Saya panik dan berusaha bernegosiasi kepada petugas masalah kwitansi. Tapi tidak sampai 5 menit, Iyus sudah kembali dengan Genose Pak Adam, dan kwitansi. Saya lega, tapi masalah belum selesai.

Petugas Citilink membaca nama di kwitansi, "Oh Pak Adam? Pak Adam jadi berangkat?"
Kami kebingungan. Kok kenal?
"Nggak tau," jawab Iyus.
"Tapi ini Genosenya?" tanya petugas Citilink lagi.
"Tadi kita barengan mbak di ruang Genose. Tapi Pak Adam menghilang."
Tiba-tiba bunyi dering telepon dan petugas Citilink bilang, "Oh ini Pak Adam telepon. Iya Pak, bapak jadi berangkat ya? Ini genosenya sudah sama saya."
Saya keheranan, kok bisa kebetulan begini🤔??? Saya bilang, "Mbak, saya titip Genosenya Pak Adam disini aja ya."
Petugas mengiyakan dan akhirnya kami bisa cek in. Duh, sungguh melelahkan.

Setelah cek in, saya dan Iyus ke toilet. Baru setelah itu menunggu di boarding gate. Tiba-tiba saya mules sesaat sebelum boarding dan membuat saya harus lari ke toilet. Saya sampai mendengarkan panggilan boarding dari toilet tapi untuk antrian depan duluan. Setelah saya selesai, saya mengajak Iyus mengantri boarding sampai tiba-tiba dia bilang, "Haduh, gw mendadak mules." OMG😱! Kan mau terbaaang!! Iyus berlari ke toilet dan saya mengantri boarding. Saya mulai panik, teringat dulu teman saya telat boarding Citilink juga. Setiap ada orang yang mau mengantri, saya selalu pindah ke barisan paling belakang. Rencana saya kalau memang Iyus belum selesai, saya mau negosiasi sama petugas. Saya sudah menelepon, nge-Whatsapp, semua saya lakukan supaya Iyus cepetaaaaan😫😫😫! Lagi panik-paniknya, eh saya melihat Pak Adam juga mulai masuk antrian. Beliau sepertinya tidak mengenali saya.

Sampai akhirnya sisa 2 orang lagi didepan saya, baru Iyus datang seraya berlari. Duh saya lega banget😮‍💨. Saya sempat takut nanti gantian saya mules lagi karena panik, tapi untung enggak. Huff, alhamdulillah akhirnya bisa boarding😮‍💨. Untungnya kita duduk di kursi darurat, jadi tempat kaki bisa lebih luas. Duh capek sekali hari ini. Pesawat akhirnya terbang dan Iyus langsung terlelap. Dia seharusnya lebih capek daripada saya karena harus angkat-angkat koper sana-sini. Saya baru bisa tidur 30 menit kemudian dengan nyenyaknya karena capek juga.

Dua jam kemudian, alhamdulillah kami tiba dengan selamat di Makassar. Iyus mengambilkan bagasi kabin saya dan kami berpisah di pesawat karena dia akan melanjutkan penerbangan ke Surabaya. Saya berpamitan kepadanya, sampai jumpa di Jakarta👋, lalu saya turun dari pesawat. Nggak terasa akhirnya sampai ke Makassar lagi, padahal baru beberapa bulan yang lalu ke kota ini. Oh iya, Pak Adam juga turun di Makassar. Duh, bapak ini lagi dan lagi😅.
Sampai juga Alhamdulillah

Baiklah, nanti saya akan bercerita tentang pengalaman di Makassar. Sampai jumpa ya!

Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar

Mei 30, 2021

Kontrol Setelah Lebaran

Kawat gigi biasanya sangat amburadul setelah Lebaran. Kenapa? Pastilah karena terlalu banyak makan. Padahal selama bulan Ramadhan, saya selalu memakai karet elastis agar posisi rahang tepat di tengah dan celah gigi bisa cepat tertutup. Sayangnya memang tulang gigi saya ini sangat sulit di kondisikan sehingga baru berhenti pakai karet elastis beberapa hari aja langsung gigi bisa bercelah lagi. Lagian, agak susah kalau makan daging dengan memakai karet gigi, pasti nyangkut. Kalau mau buka terus pasang lagi agak ribet, apalagi kerjaan di rumah ketika lebaran udah sampai membuat saya encok. Huff!

Klinik gigi
Orthodentist memeriksa gigi dan akhirnya mengikat semua gigi saya dengan kawat sampai sangat kencang. Saya jadi susah membuka mulut. Dokter bilang, dua geraham saya mau dimajukan dulu agar lebih mempercepat celah gigi merapat. Kalau mau pakai sisa karet elastis boleh saja, tapi ikatan kawat gigi ini sudah sangat kencang jadi saya hanya pakai sesekali saja. Masih ada celah diantara gigi taring dan gigi seri, walaupun hanya kecil. Ntah kenapa celah ini lamaaaa sekali rapatnya😩.
Kondisi gigi
Tidak ada saran yang terlalu signifikan untuk perubahan susunan gigi saya pada hari itu. Menurut saya, deretan gigi masih sama saja, agak miring ke sisi kanan. Ya sudahlah, kita bersabar saja sampai dua celah gigi ini bisa merapat, baru nantinya akan dibenarkan lagi struktur gigi secara horizontal.

Biaya APD Rp. 75,000
Charge Pasien Lama Rp. 40,000
Kontrol Ortho Emergency Shappire Rp. 275,000

Mei 12, 2021

Idul Fitri 1442 H

Alhamdulillah akhirnya bisa pulang mudik di tanggal 29 April 2021 kemarin. Sengaja pulang lebih awal  untuk menghindari pembatasan mudik di tanggal 6 Mei 2021 - 17 Mei 2021. Sempat was-was juga dengan peraturan pengetatan dari tanggal 22 Apr 2021, karena sudah beli tiket pulang ke Aceh dan udah belanja oleh-oleh terlalu banyak, hahaha🤣.

Saya akan menuliskan beberapa cerita di Ramadhan tahun ini yang agak berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.

1. Di rumah rame

Mungkin beberapa tahun yang lalu, rumah saya memang sering rame kalau bulan Ramadhan. Biasanya teman-teman yang masih ngekos suka ngumpul di rumah saya untuk sekedar sahur dan buka bersama. Kami biasanya masak bareng, lalu makan bareng juga.

Sejak sudah mulai berkantor di Rancupid yang biasanya kita masuk juga di Ramadhan, jadi udah nggak pernah ada temen-temen nebeng di rumah. Apalagi tahun lalu ketika pandemi baru terjadi di negara kita, saya hanya sendiri saja. Mana nggak bisa pulang kampung. Untungnya punya tetangga yang baik yang selalu berkirim makanan enak sampai saya terkadang nggak usah masak di rumah.

Tahun ini ada Baitil yang ngekost di rumah dengan uang kosan adalah coklat seplastik🤣. Tau aja ibu kostnya suka banget makan coklat. Dia baru pulang dari Penajam (ibu kota baru) dan transit dulu di Depok untuk mengurusi surat-surat Kedokteran di UI. Lalu ada Farah, keponakan yang umurnya cuma beda sedikit dengan tantenya yang juga sedang mengurusi beasiswa kedokteran UI. Lucu juga ada Farah, berasa punya anak gadis karena manja juga dia sama tantenya. Yang nebeng di rumah semua lulusan UI kedokteran. Lumayan banyak dokter pribadi, hahaha. Alhamdulillah saya jarang sakit.

2. Ke Sumatra Barat dan Riau

Ini pertama kalinya saya merencanakan jalan-jalan di bulan Ramadhan. Biasanya saya memaksimalkan Ramadhan to the fullest karena memang bagi saya bulan ini kesempatan untuk belajar agama lagi, khatam Qur'an, memperbanyak shalat, mengulang hafalan Al-Qur'an, dan melakukan ibadah lainnya. Tapi untuk bersafar? Bagaimana dengan ijin ke Mama? Untung ada Baitil dan Rezki yang menemani karena Mama pasti nggak mengijinkan saya pergi dengan teman baru. 

Masjid Raya Sumatra Barat
Sebenarnya melakukan safar itu juga pahalanya banyak dan ada tantangan tersendiri. Mumpung awal-awal saya masih menstruasi, jadi bisa mencoba menyesuaikan diri dulu sebelum harus puasa beneran. Saat ijin dari Mama sudah dikantongi (tinggal disogok oleh-oleh mukenah dari Bukittinggi😛), akhirnya kami terbang ke Padang jam 7 pagi menggunakan Citilink. Ngantuk banget sih, tapi 'kan saya nggak puasa jadi masih lebih santai.

Ternyata seru juga Ramadhan di kota orang (nanti akan saya post cerita lengkapnya). Kita bisa terus buka buasa bareng-bareng, lalu mampir ke Masjid Raya Sumatra Barat yang indah sekali. Nambah teman baru juga dan waktu terasa begitu cepat. Tiba-tiba aja udah waktunya berbuka puasa. Kebayang sewaktu harus menuruni tembok China dengan cuaca sangat terik, lagi puasa pulak, OMG🥵! Setelah buka puasa pun, saya masih harus nyari cemilan karena belum kenyang.

Tapi yang namanya jalan-jalan pasti menguras tenaga. Kadang malam-malam udah capek banget mau tarawehan lagi, tapi tetap saya usahakan untuk tidak meninggalkan taraweh dan tahajjud. Nah yang paling susah untuk tadarus (mengaji) dan muroja'ah (mengulang hafalan Al-Qur'an). Udah keburu ngantuk duluan. Baru buka Qur'an udah ketiduran. Untungnya udah curi start juga dari sebelum Ramadhan untuk mengantisipasi kalau nggak sempat mengaji. Setelah jalan-jalan dan kembali ke Depok, jadi harus ngebut untuk khatam walaupun pada akhirnya dapat mens (lagi) dan sisa beberapa juz sebelum khatam. Yang penting sudah berusaha.

3. Belanja

Sudah berapa tahun nggak hunting baju lebaran apalagi ke Tanah Abang yang pasti penuh banget. Tahun ini malah belanja mukenah di Bukittinggi dan serunya masih seperti ketika pergi ke Tanah Abang. Untung belanja bareng Baitil dan Rezki, yang sama-sama orang Aceh. Jadi bisa merasakan lagi keseruan menawar barang, mencoba barang, memilih warna, dan mencocokkannya. Kita di satu butik aja bisa 2 jam saking serunya, dan berhasil memborong banyak belanjaan. Untung juga butik sepi, jadi nggak usah terlalu berpikir untuk social distancing. Semoga teman-teman yang menunggu di mobil nggak ngambek, hihihi😬.

Dipilih-dipilih mukenahnya
Barang belanjaan kita

Saya juga belanja banyak cemilan untuk oleh-oleh keluarga di kampung. Saking banyaknya barang yang dibeli, sebagian harus saya kirimkan via cargo karena pasti kalau pakai pesawat bisa over baggage. Jiwa belanja saya kembali datang di Ramadhan ini dan jadi heran sendiri melihat setiap hari datang paket ke rumah.

4. Buka Bersama

Sepertinya Ramadhan tahun ini saya tidak pernah sama sekali buka puasa sendirian, Alhamdulillah! Selalu bareng teman-teman, ntah itu di rumah, lagi di Sumatra Barat atau Riau, atau memang merencanakan buka puasa bersama di Mall atau di Hotel. Suasana sudah sangat berbeda dari tahun lalu, walaupun masih dalam suasana pandemi.

With my Rancupid
Bersama teman-teman di Sumatra Barat

Baru kali ini juga selama 6 hari berturut-turut saya buka puasa dengan Nasi Padang atau menu Melayu yang notabene banyak kuah kari, minuman manis, dan menu kolesterol lainnya😮. Padahal sudah hampir setahun saya makannya cuma panggang, rebus, dan gorengan sesekali aja. Eh, dihajar di bulan puasa tahun ini. Nggak apa-apa deh, yang penting seru. Apalagi bareng teman-teman ketika ngetrip. Jadi pengalaman baru juga.

Menu super mantap untuk buka puasa

5. Ramadhan di Aceh

Hal yang paling saya rindukan adalah menghabiskan Ramadhan di Aceh. Saya rindu shalat taraweh di masjid yang berganti-ganti (Mosques Hopping) bersama keluarga. Saya rindu juga suara tadarus yang terdengar setiap malam dari semua masjid, rindu makanan untuk berbuka, rindu keluyuran setelah shalat taraweh, rindu pesantren kilat, rindu semuanya. Makanya saya merencanakan pulang lebih awal agar bisa merasakan semua suasana itu. 

Apalagi di suasana mau dekat lebaran dimana Mama sibuk menyuruh saya membantunya bikin kue kering, masak rendang dan lontong, dan sebagainya. Sudah lama saya tidak sibuk di dapur. Biasanya di Depok semua sudah bisa dipesan atau diurusin. Tapi membantu Mama di dapur memang ada keasyikan tersendiri apalagi mau lebaran. Belum lagi harus mengiris bawang, cabe merah, cabe hijau, dalam jumlah sekilo. Kebayang tangan jadi pedes dan mata perih. Saya mengiris sambil menangis (bukan teringat mantan ya😅). Sampai akhirnya semua menu Lebaran berhasil dimasak.

Nastar oteweee

Touco otewee

Akhir kata, Selamat Hari Raya Idul Fitri 1442 H. Mohon maaf lahir dan batin🙏.

Taqabalallahu minna wa minkum shiyamana wa shiyamakum wa ja’alna minal ‘aidin wal faizin.

تَقَبَّلَ اللّهُ مِنَّا وَ مِنْكُمْ صِيَمَنَا وَ صِيَمَكُمْ وَجْعَلْنَا مِنَ الْعَائِدِين وَالْفَائِزِين

"Semoga Allah menerima (amal) dari kami dan (amal) dari kalian, puasa kami dan puasa kalian. Dan Semoga Allah menjadikan kita bagian dari orang-orang yang kembali (kepada ketaqwaan/kesucian) dan orang-orang yang menang (dalam melawan hawa nafsu dan memperoleh ridha Allah)."

Selamat makan rendang

April 24, 2021

Kontrol Ramadhan

Setelah sebulan lebih nggak kontrol, akhirnya datang juga jadwal yang sudah di booking dari sebulan yang lalu. Pas banget saya baru pulang travelling dari Raja Ampat, Sumatra Barat, dan Pekanbaru. Udah ntah 'gimana ini kawat giginya. Oh iya, kali ini OMDC memberikan saya Alat Pelindung Diri (APD) berwarna pink yang cocok banget dengan tema klinik yang serba pink. Kebayang kalau pasien cowok yang pakai, pasti jadi cute😙.

APD Pink

Ketika tiba giliran saya untuk kontrol, tiba-tiba Orthodentist nanya:

"Eh iya gimana di Raja Ampat?"
"Lho, kok dokter inget?"
"Inget dong, kan kamu nego sama saya untuk nggak pake kawat elastis."
Saya langsung ngakak😂, "Indah banget disana dok😍. Surga dunia. Dokter ngga kesana?"
"Males ah saya udah punya bontot. Nanti kalau saya kenapa-napa, siapa yang sekolahin? Temen saya dulu naek gunung, eh nggak pulang lagi." Dokter jadi curhat.
"Hmm, kematian itu dimana aja dokter... 😇" Lalu hening.

Dokter lalu membuka karet gigi saya, sambil terus bertanya:

"Dapat tiket berapa kemarin?"
"125rb pulang-pergi dokter." (Berusaha menjawab sambil gigi di bongkar-bongkar)
"Wah murah banget. Pakai pesawat apa?"
Saya mulai kesulitan mau menjawab karena bibir ditarik-tarik, gigi ditekan-tekan, "A-asia.."
"Apa?" tanya dokter.
"ArAsia..."
"Oh murah ya? Kok bisa murah?"
Saya diam.
"Apa karena maskapai budget?"
Saya geleng-geleng. Mana tangan lagi pegang hp. Mau nunjuk ke mulut susah.
"Trus kenapa murah banget?"
Akhirnya saya nunjuk-nunjuk ke mulut. Trus dokter tertawa😂, lalu menyuruh saya berkumur.
"Saya nggak bisa jawab pertanyaan dokter selagi dokter ngerjain gigi sayaaa...😭😭😭"
Dokter lalu ngakak banget🤣🤣🤣. Saya merasa dikerjain.

Sebenarnya dokter mau memotong gusi saya (lagi) yang sebelah kiri seperti yang beliau lakukan di bulan yang lalu (sebelah kanan). Tapi karena saya sedang berpuasa, takut air dari bornya heboh nanti tertelan, jadi ditunda bulan depan aja. Selama sebulan ini, saya diwajibkan memakai karet elastis lagi agar gigi lebih rapat. Kalau lagi berpuasa dan di rumah aja sih sebenarnya nggak apa-apa pakai karet elastis. Tapi kalau lagi jalan-jalan, snorkeling, atau kulineran di kota baru, duh karet elastis ini mengganggu sekali. Berhubung mau pulang kampung, jadi saya pakai aja biar cepet rapi.

Kalau dilihat dari foto sih, gigi atas saya masih miring. Ntah kenapa rahang saya sulit sekali dilurusin. Awalnya perkiraan dokter hanya 2-3 tahun saja, ehh ini udah mau 4 tahun tapi belum selesai juga. Huff, baiklah, saya ikuti saja semua saran dokter. Toh wajah saya sudah berubah drastis dari tahun demi tahun.

Gigi atas masih miring
Biaya APD Rp. 75,000
Charge Pasien Lama Rp. 40,000
Kontrol Ortho Emergency Shappire Rp. 275,000
Karet Elastis Rp. 60,000

Maret 29, 2021

Akhir Cerita Tentangmu

Sudah banyak cerita yang aku tulis tentangmu, sejak 2016, ketika aku sering dinas ke kota Malang. Dulu, aku masih belajar caranya berbisnis tanaman, dan aku terbang ke kotamu untuk melihat lahan disana. Walaupun saat itu kamu berada di Ponorogo dan jarak antar kota Malang dan Ponorogo tidak dekat. Aku bahkan lupa kenapa memilih Malang, padahal kalau mau melihat lahan pertanian dan perkebunan bisa ke Bogor atau Bandung😅. 

Beberapa kali kita janjian bertemu di Malang, tapi tidak pernah jadi. Ntah berapa janji yang kamu batalkan untuk bertemu denganku, sampai aku sendiri heran, apa se-sibuk itu orang Bank yang jabatannya saja masih belum tinggi🤔. Atau memang kita tidak seharusnya bertemu. Atau aku bukan cewek yang cantik? Karena kamu memang sangat ganteng. Padahal, kita bisa bertukar pikiran tentang apa pun, termasuk tentang travelling yang mungkin bisa membuat obrolan kita nyambung. Kamu juga jago motret, dan pada saat itu aku tidak mengerti tentang kamera. Jadi aku hanya mengagumi foto-foto travellingmu dari instagrammu yang sekarang sudah sangat banyak kamu sembunyikan, ntah kenapa🤔.

Tahun demi tahun berlalu begitu saja. Terkadang kita tidak pernah saling sapa hingga berbulan-bulan, sampai akhirnya selalu aku yang memulai menyapa kamu. Aku pernah sampai unfollow kamu di instagram dan kamu malah tau dan bertanya kenapa, sampai-sampai kamu unfollow aku juga dan akhirnya kita follow-follow-an lagi😅. Kalau sekarang aku pikir-pikir, kenapa setiap kita mulai renggang, selalu harus aku yang memulai untuk menetralisir suasana? Kenapa juga setiap ada masalah di social media, seolah itu adalah masalah serius? Padahal social media bisa jadi hanyalah dunia tipu-tipu dan aku pun bisa merekayasa semua hal berkaitan denganku. Tapi memang aku tidak melakukannya.

Sampai di tahun 2018 aku mulai capek berurusan denganmu. Keterbatasan jarak untuk bertemu dan hanya postingan-postingan yang nggak penting di social media membuatku lelah. Aku memilih untuk menjalin hubungan dengan cowok lain yang aku kira lebih baik. Ketika bersamanya, aku sama sekali tidak peduli status yang kamu posting di social media, apa yang kamu lakukan, pokoknya semua tentangmu aku tak peduli, kecuali ketika kamu melakukan perjalanan ke Khasmir. Kita chatting berkali-kali, sampai pacarku marah (kalau diingat lagi, hal ini konyol sekali😑). Sampai akhirnya aku hanya membalas sedikit chat darimu untuk menjaga perasaan pacarku.

Tahun 2019 akhir, aku selesai berurusan dengan pacarku. Kita kembali dekat, apalagi ketika kamu sudah pindah ke Purwodadi dan mulai kuliah di Universitas Diponegoro, Semarang. Teringat dulu aku sering membantumu mencarikan penginapan di Semarang, agar murah dan tidak perlu capek bolak-balik ke Purwodadi. Aku juga senang karena kamu selalu perhatian dengan semua postingan story di instagramku. Termasuk ketika aku ke Australia, kamu mengomentari semua postinganku karena ingin kesini juga. Kita bahkan sudah merencanakan untuk berlibur ke Sapporo di tahun 2020, sampai kamu memberikan passpormu kepadaku untuk disimpan, kali aja ketemu tiket promo agar bisa langsung beli tiket. Walaupun pada akhirnya kamu ke Vietnam, dengan cewek itu🙄... Semula aku tidak peduli, tapi sejak aku melihat foto kalian berdua dengan berbagai angle, maka aku mulai curiga... Tapi rasa curigaku berakhir sudah ketika kita bertukar kado ulang tahun. Pada saat itu aku sangat suka kado dari kamu. Pilihan yang sangat pas menurutku.

Jujur saja, aku sangat senang ketika kamu pindah ke Jakarta dan aku tau hal ini langsung dari kamu. Biasanya aku tau kamu ke Jakarta harus dari postingan instagram. Aku mengajak kamu bertemu sampai beberapa kali, baru akhirnya kamu mau. Disini sebenarnya aku bingung, kenapa masih nggak mau ketemu juga. Walaupun akhirnya ketemu dengan tujuan aku harus buka rekening di bank kamu. Nggak masalah sih, tapi sebenarnya hal ini tidak boleh dilakukan ketika memulai pertemuan dan pertemanan. Berteman ya berteman saja, tidak musti ada kepentingan disana.

Sampai akhirnya kita sangat dekat. Kita sering chatting dan ketemuan hanya untuk saling curhat. Aku suka mendengar cerita tentangmu, apalagi kegalauan harus masuk kantor di kala pandemi. Aku juga suka kalau kamu cerita tentang keluarga, apalagi masa-masa kecil di Aceh. Aku bahagia banget ketika kamu membawa oleh-oleh dari Bali, walaupun hanya tumbler Starbucks bertuliskan 'Bali'. Tapi kamu waktu itu cerita, "Aku nggak pernah bawa oleh-oleh, bahkan untuk ibuku saja engga. Tapi ini khusus untuk kamu☺️." Mendengar itu, aku pun melayang.

Kita terbiasa menyimpan banyak cerita, hanya untuk diceritakan ketika bertemu. Aku juga senang setiap harus menemanimu ke dokter gigi karena kamu penakut😆. Cabut gigi saja malah minta bius total😆. Aku harus berada di sisimu kalau kamu mau cabut gigi, atau kalau harus pasang kawat gigi selanjutnya. Kamu lucu ketika mengadu padaku, "Aku gemetaran." Seraya memberikan tanganmu untuk aku pegang. "Nggak apa-apa, ada Mumut disini☺️." Kataku sambil memegang tanganmu.

Demi aku, kamu mulai menyukai bercocok tanam. Tapi aku heran ketika aku ingin memperkenalkanmu dengan teman-temanku yang memiliki hobi sama, tapi kamu nggak mau. Aku pernah mengajakmu ke rumahku karena teman-temanku pada ngumpul, dan kamu juga sungkan. Aku agak bingung kenapa🤔. Padahal teman-temanku adalah orang yang baik dan mudah bergaul. Seharusnya kamu akan merasa nyaman bersama mereka. 

Aku sering banget mengajakmu pergi, kemana pun. Aku mengajakmu ke Bandung, kamu bilang nggak bisa. Aku berusaha mencarikan waktu dimana kamu akan bisa, tapi kamu tetap bilang nggak bisa. Sampai ketika aku melihat postingan kamu ke Bandung juga, tanpa mengajakku. Alasan yang kamu berikan adalah karena kamu pergi bersama teman-teman dan kalian sudah janjian berbulan-bulan yang lalu. Aku juga pernah ngajak ketemuan karena aku kangen dan permasalahan kantor lagi banyak. Aku ingin kamu mendengar ceritaku. Pada saat itu kamu bilang kalau sedang tidak mau kemana-mana dulu karena orang-orang di kantor kamu banyak yang terkena Corona. Aku paham, dan aku tidak memaksamu. Tapi yang aku lihat, kamu malah ke Lampung, bahkan 2 hari setelah aku ajak keluar. Lalu, apa kabar corona?🙄

Sepertinya mulai saat itu, kita renggang. Tapi aku masih berusaha menjaga hubungan baik. Sampai ketika aku pulang dari Medan, kita akhirnya bisa bertemu dan aku menumpahkan semua kekesalan juga kekecewaanku di mobilmu ketika kamu mengantarkanku pulang. Dan kamu terlihat menyepelekannya. Aku sedih banget, tapi kamu hanya menanggapi seadanya. Walaupun akhirnya kamu tetap mendengar ceritaku di Fat Bubble, yang sampai sekarang menjadi salah satu Cafe kesukaanmu.

Ketika aku mendadak harus operasi gusi, aku memberitahumu, dan kamu tidak menanggapi apa pun😢. Padahal kamu sedang berada di Mall Ambassador untuk memperbaiki Iphone-mu yang mendadak mati semalam. Aku sedih, walaupun aku memiliki teman-teman di sekitarku yang selalu menanyakan kondisiku pasca operasi. Kemudian aku mulai berpikir, hal ini terlalu memberatkan perasaanku. Bahkan kamu mulai memposting kalau di kala kamu lelah menghadapi kerjaan di akhir bulan dan tesis, kamu mendapat support dari cewek itu (lagi). Kamu bilang kalian teman, tapi pertemanan antara cewek dan cowok seharusnya tidak sedekat itu. Tapi aku masih berusaha untuk tidak terlalu peduli.

Aku berusaha untuk menenangkan hati yang sudah selalu sedih karena kamu. Sampai ketika kamu akan wisuda, aku mengirimkan kado. Aku berpikir keras agar hadiah ini terlihat menarik, dan aku senang ketika kamu menerimanya dengan sangat gembira. Kamu memposting kado dariku beberapa kali di semua sosial media, dan aku semakin senang. Tapi ternyata kebahagian itu tidak berlangsung lama sampai kamu memposting kalau kamu mengirimkan banyak vitamin ke cewek itu (lagi). Kenapa harus selalu dia. Bahkan apa pun tentang dia kamu repost😢.

Hadiah terakhir dariku

Sampai aku mengajakmu ke Raja Ampat dan kamu tidak bisa (lagi). Baiklah, aku sudah menyerah. Kali ini aku sudah dalam kondisi sangat capek. Aku menginginkanmu ada menemaniku dimana pun dan kapan pun, tapi kamu nggak bisa. Aku ingin selalu mendengar cerita-cerita darimu, tentang keluarga, pekerjaan, dan yang lainnya, tapi mungkin ini waktunya mengatakan cukup. Sampai akhirnya aku pergi ke Raja Ampat, hatiku dipenuhi kegundahan, dengan rasa galau yang sangat membuncah😖. Untungnya disana tidak ada sinyal sehingga aku tidak perlu tahu tentangmu lagi...

Postingan ini aku tulis ketika kembali dari Raja Ampat, tempat terindah di Indonesia, bahkan di dunia. Aku menemukan orang-orang seru disana, teman baru, suasana baru, tanpamu, dan ternyata aku sangat bahagia🥰. Mereka menjadi teman-teman yang bisa aku ajak menemaniku menjelajah Indonesia, bahkan mungkin dunia. Memang sebelum berangkat aku berdoa, menyerahkan semua urusan kegalauan di hati kepada Allah subhanahu wata'ala. Bahkan sepertinya aku (mungkin) menemukan orang, yang nantinya bisa menjadi pelipur lara rasa gundah di hati.

Sekian cerita tentangmu. Mohon maaf apabila ada kesalahanku selama ini yang mungkin menjadi penyebab renggangnya hubungan kita baik disengaja maupun tidak disengaja. Semoga engkau selalu sukses di pekerjaanmu, karena aku tau kamu adalah orang yang sangat pintar. Semoga suatu hari kamu akan punya banyak waktu, untuk menemani siapa pun itu, untuk menghabiskan waktu bersamamu.

"Sukses terus ya, Bang! Mumut akan selalu berdoa semoga selalu berada dalam lindungan Allah. Semoga sukses dalam karir, cita, dan cinta. Aaminn🤲!"

Don't be afraid to ever let me go
Just say you hope that
I would find what I am searching for
'Cause time and time again, I stayed true
But this time I won't choose you
Oh I never meant to hurt you
Set me free for now, and I will come find you
~Raisa - Love & Let Go~

Maret 16, 2021

Potong Gusi Sedikit

Kontrol di bulan Maret ini agak lucu karena tepat 3 hari sebelum saya ke Raja Ampat. Sebenarnya jadwal saya kali ini adalah potong gusi (lagi), dan saya sengaja nggak ungkit-ungkit supaya Orthodentistnya lupa. Sayangnya jangankan lupa, malah hal ini duluan yang paling diinget sama dokter. Oh no🙊!

Saya bertanya, "Dok, dijahit nggak? Saya mau ke Raja Ampat lusa." Dokter keheranan, "Wah asik banget. Nggak dijahit kok, cuma dilukai 'dikit aja." Trus saya lanjut lagi, "tapi nanti saya tetap bisa snorkeling kan?" Tanpa menjawab, dokter langsung ngebor gusi saya dan sakittttt banget ya Allah😭. Sampai menetes air mata ini😢.

"Yak selesai! Cuma sebentar kok, nanti malam juga udah sembuh lukanya" kata Orthodentist dengan santainya. Saya mengelap air mata seraya berkumur betadine agar darahnya cepat kering. Dokter bilang, "Nanti kamu usahakan saja ya pakai karet elastis. Kalau memang nggak bisa, ya progress celah giginya untuk rapat ya semakin lama." Huff, menurut saya memang nggak bisa sama sekali sih untuk pakat karet elastis, nanti 'gimana mau snorkeling?!

Sewaktu saya lihat di cermin, lukanya memang sangat kecil tapi terasa sakit karena nggak dibius. Teringat operasi potong gusi sama dokter Arbi yang dibius berkali-kali sampai saya ketakutan dan hampir pingsan, hahaha. Jadinya operasi potong gusi seperti ini sih kecil buat saya. Walaupun tetap keluar air mata karena sakit.

Posisi gusi yang dipotong sedikit


Biaya APD Rp. 75,000
Charge Pasien Lama Rp. 40,000
Kontrol Ortho Emergency Shappire Rp. 275,000
Karet Elastis Rp. 60,000

Follow me

My Trip