Desember 21, 2020

Tebing Apparalang, Bulukumba

Hari ini kita bertujuan untuk menjelajah Kabupaten Bulukumba yang sangat terkenal akan keindahan pantai dan lautnya. Dari setelah shalat Shubuh saya nggak tidur lagi saking excitednya🤩, sarapan sebentar di rumah Dita, lalu sekitar pukul 7 pagi kita berangkat. Jarak tempuh dari Kota Makassar ke Kabupaten Bulukumba sekitar 200 km atau 4 jam perjalanan. Rezki yang menyetir, Dita duduk di sebelahnya dan bertidak sebagai navigator juga, sedangkan saya di jok belakang sambil tiduran bermain hp. 

Kincir angin

Jalanan menuju Bulukumba juga nggak berkelok-kelok, lurussss aja, sehingga nggak membuat saya mual. Jadi teringat perjalanan di Bajawa yang Subhanallah memusingkan😵. Sesekali saya bangun untuk melihat pemandangan sekitar, lalu tiduran lagi kalau merasa mulai tidak ada panorama yang menarik. Setelah 2 jam perjalanan, kami berhenti sebentar di sebuah Cafe pinggir pantai untuk beristirahat dan meluruskan kaki. Kita memesan cemilan es kelapa muda (khas minuman pinggir pantai), sekalian untuk berleyeh-leyeh bersantai menikmati pantai. Selain Pantai Losari, baru ini saya melihat pantai di Pulau Sulawesi. 

Pohon kelapa pinggir pantai dan angkot merah
Pantaiiiii🏖️

Tidak ada yang terlalu istimewa di pantai ini. Setelah menyegarkan tubuh sedikit, perjalanan dilanjutkan. Saya kemudian tertidur di jok mobil sampai akhirnya kami tiba di Bulukumba. Tidak terasa, kita ternyata sudah menempuh 4 jam perjalanan loh. Destinasi pertama kita di Bulukumba adalah Tebing Apparalang. Posisi tebing ini tepatnya ada di Desa Ara (sekitar 40 km lagi dari pusat kota Bulukumba), Kecamatan Bontobahari. Menurut artikel yang saya baca, tempat ini menawarkan panorama pantai sangat indah berupa tebing curam dan bebatuan karang berbaris membentuk formasi mempesona😍.

Nah, yang agak merepotkan adalah perjalanan menuju Tebing Apparalang memang harus melalui rute yang sedikit sulit karena jalurnya belum diaspal halus. Belum lagi kadang Google Maps suka memberikan arah tak jelas sehingga kita harus bertanya lagi kepada orang kampung atau membaca penunjuk jalan. Mengendarai mobil bolak-balik ditambah nyasar ntah kemana cukup menghabiskan waktu. Pastikan mobil kita dalam kondisi prima kalau mau ke tebing ini daripada ban meletus di jalan, ntah dimana ada tukang tambal ban disini.

Akhirnya kami sampai ke parkiran tebing. Kita parkir mobil, lalu duduk sebentar di warung untuk mengisi perut. Rasanya lapar sekali karena capek di jalan dan memang sudah masuk jam makan siang. Tidak ada menu yang spesial di warung, hanya bisa memesan pop mie dan pisang goreng saja disini. Lumayanlah untuk mengisi perut biar nggak lapar-lapar banget. Sejak pandemi memang banyak warung tutup sehingga sudah tidak banyak lagi pilihan makanan yang bisa kita santap. Setelah makan, kami berjalan menuju tebing yang Masya Allah indahnyaaaa😍😍😍. Lautan hijau muda membentang sejauh mata memandang dengan tebing yang sangat curam. Terbayarkan sudah kelelahan selama 4 jam lebih perjalanan. Oh ya, harga tiket masuk tempat wisata ini adalah Rp. 10,000 perorang dan biaya parkir Rp. 20,000 permobil.

Tebing yang sangat indah

Kami berjalan menelusuri tebing curam untuk mencari tempat berfoto. Kalian harus memakai sepatu dengan sol tebal disini karena banyak sekali bebatuan yang tajam. Untuk duduk di pinggiran tebing saja kita memilih bebatuan yang agak landai, walaupun hampir nggak ada. Jadilah harus duduk diantara bebatuan runcing-runcing yang membuat pantat sakit, ouch🤭! Demi foto terkece, ya udah ditahan sedikit deh sakitnya.

Sambil menahan sakit

Setelah berfoto di pinggir tebing yang lumayan bikin deg-degan, kami berpindah spot foto. Kali ini sambil berjalan di sisi tebing sambil menikmati debur ombak yang menghempas bebatuan dan desir angin yang sangat menentramkan. Melihat pemandangan lautan lepas dari tepi tebing memang selalu berhasil memberikan sensasi tersendiri. Ada rasa kagum, ada rasa takut (jatuh) juga. Tak jarang banyak yang menyebut Tebing Appalarang sebagai Raja Ampatnya kabupaten Bulukumba. Masya Allah😍!

Tebing sangat indah

Sebenarnya kalian bisa snorkeling atau berlayar dengan perahu di lautan yang berada di kaki tebing. Sayangnya sejak pandemi, banyak sekali aktivitas yang sudah tidak ada lagi disini. Kami hanya bisa turun sampai pinggir dermaga untuk berfoto, bukan untuk naik perahu. Dulu bahkan kalian bisa sekalian snorkeling disini karena (katanya) pemandangan di bawah laut tebing ini sangat memukau. Mungkin nanti suatu hari, ketika bumi sudah pulih sepenuhnya dan masih diberikan kesempatan oleh Allah, aminnn🤲!

Tangga curam menuju dermaga
Selesai berfoto-foto di tebing, kami berpindah ke spot sebuah kapal besar dan keren. Kami ingin berfoto di atas kapal. Sayangnya hujan deras pada saat itu dan kami harus berteduh dulu baru bisa naik ke kapal. Oh ya kalau mau berfoto di kapal, kita harus membayar Rp. 7,000 perorang. Agak seram juga naik ke kapal ini karena pemandangan di bawahnya langsung ke lautan lepas. Jadi kebayang kalau kapalnya jatuh, ya udah kita berlayar deh. Uggghhh astaghfirullah😱.

Sungguh tinggi😱

Kapal yang besar
Pose dulu
Awalnya objek wisata kapal ini sepi, nggak ada orang sama sekali. Giliran kita berfoto-foto disini, baru sadar udah banyak banget orang mengantri untuk menunggu kita selesai berfoto. Padahal tadi nggak ada orang deh, ntah sejak kapan orang-orang ramai berdatangan😅. Akhirnya kami mengalah dan bergantian dengan orang lain.

Karena sudah pukul 2 siang dan kami masih harus melanjutkan perjalanan ke Tanjung Bira, maka kita sudahi saja bermain-main di Tebing Appalarang. Yang terlupa adalah foto bareng Dita, padahal udah pakai baju kembaran, hahaha😂. Oh iya sebenarnya kita bisa juga belanja oleh-oleh disini, tapi balik lagi karena pandemi, sudah hampir semua toko tutup. Hiks sedih deh😢. Kita akhirnya melanjutkan perjalanan menuju Tanjung Bira yang berjarak hanya 30 menit dari Desa Ara.

Nanti saya akan melanjutkan cerita di Tanjung Bira dan Bara ya. Sampai jumpa!

Desember 19, 2020

Odontektomi Kedua

Setelah menunda terus, akhirnya saya melakukan operasi gigi bungsu (odontectomy) lagi. Kali ini giliran gigi pojok sebelah kanan yang menjadi korban😨. Sebenarnya sudah saya usahakan untuk tidak dicabut, karena kalau dilihat dari hasil rotgen panoramic memang gigi ini tidak terlalu mendesak gigi depannya. Tetapi giginya sudah terlalu sering ditambal dan rusak lagi tambalannya. Terlalu sering juga cenat-cenut yang membuat gusi saya bengkak. Yang paling menyebalkan adalah saya jadi susah mengunyah di sisi sebelah kanan. Setelah konsultasi ke beberapa dokter, akhirnya saya putuskan untuk dicabut saja.

Yang kuning bakalan dicabut, yang merah sudah dicabut

Saya putuskan untuk operasi di Banda Aceh dengan Dr. Syahrial Sp.Pros. Saya biasanya memang suka ditambal atau dioperasi oleh beliau karena kita sudah berteman sejak lama. Jadi kalau kesakitan masih enak bilangnya, "Bang, sakit bang😭😭!" Berbeda dengan operasi potong gusi kemaren yang membuat saya ketakutan dan nangis belakangan karena sewaktu proses operasi saya tegang banget. Padahal dokter Arbi Sp.BM (Spesialis Bedah Mulut) baik banget.

Tidak perlu menunggu lama, saya datang ke klinik, konsultasi sebentar, lalu langsung ditindak. Bang Syahrial menyuntik bius ke gusi dan rongga mulut berkali-kali sampai menetes air mata ini. Setelah itu mulailah pisau belah, tang, dan bor mengobok-ngobok rongga mulut saya. Memang sih nggak sakit, tapi ketika di bor itu dengungnya bikin sakit kepala. Ntah karena saya punya vertigo, jadi terasa nguuuunngggg banget😵.

Mari mulai operasi
Bang Syahrial bilang, karena di gigi geraham saya ada kawat gigi, jadi proses operasi agak sulit. Takut kena ke behelnya jadi harus pelan-pelan. Akhirnya si abang mengeluarkan tang dan mencabut gigi saya dengan cara di goyang-goyang dan bunyi krak, krek, kruk! OMG😵😵! Langsung deh terlihat gigi saya dikeluarkan dari dalam mulut. Ugh horor banget sihhh😵, melihat gigi sendiri diatas meja dokter.
Gusi bolong
Sebelum dijahit, bang Syahrial menunjukkan kondisi bolong di gusi bekas tempat gigi saya. Haduwh, terlihat seram sekali karena penuh darah. Akhirnya gusi saya dijahit sebanyak 2 jahitan, maka selesailah proses operasi hari ini. Ntah kenapa beberapa menit kemudian mulai terasa sakitttt banget. Padahal di bagian bibir masih kebas, tapi di bagian tulang gigi sakittt banget😭😭😭. Saya langsung merasa pusing saking sakitnya. Bang Syahrial lalu memberikan resep obat dan harus diminum segera agar rasa sakitnya bisa hilang.

Saya buru-buru ke apotek untuk menebus obat. Haduh rasa sakitnya semakin menjadi-jadi 😭😭tapi saya masih sanggup menahannya. Sampai di rumah saya makan kebab dulu, lalu minum obat. Seraya menunggu reaksi obat, saya main dulu dengan keponakan, tapi ternyata sudah tidak bisa ditahan. Saya masuk kamar, tanpa cuci muka dan sikat gigi, langsung tidur. Pipi mulai bengkak dan nyeri sekali.

Besok paginya rasa sakit di gigi sudah jauh berkurang. Saya bercermin dan mendapati wajah sangaaaat bengkak, hahahaha😂😂😂. Bahkan kulit pipi sampai ketarik ke sebelah kanan dan mengkilat saking gedenya bengkak. Memang kalau operasi rongga mulut pasti bakalan bengkak dan muka jadi aneh banget. Ya udah deh, sabar aja. Nanti juga seminggu kemudian sudah kembali normal.
Wajah bengkak sudah mulai berkurang setelah 5 hari

Kutaraja Dental Center Banda Aceh (Drg. Syahrial Sp. Pros)

  • Odentectomy/Impasi Tipe 1 Rp. 1,550,000
  • Administrasi Rp. 10,000

Desember 15, 2020

Lepas Jahitan dan Kontrol

Hari ini saya kontrol gigi lagi berbarengan dengan buka jahitan di gusi. Ntah kenapa saya selalu takut kalau buka jahitan walaupun sebenarnya luka pasca operasi tulang gusi sudah sembuh total. Untuk buka jahitan harus ke dokter Spesialis Bedah Mulut (Sp.BM) langsung atau dokter umum gigi. Kalau ke Sp.BM nggak ada tambahan biaya lagi, tapi kalau ke dokter umum ada biaya Rp.149,000.

Proses lepas jahitan sama sekali tidak sakit dan sangat cepat. Bahkan kurang dari 5 menit. Akhirnya saya melakukan scalling gigi sekalian karena sudah 6 bulan tidak scalling. Kawat indikator behel gigi saya dilepas terlebih dahulu untuk memudahkan scalling, termasuk karet gigi juga dilepas. Duh, rasanya enak banget kalau gigi tanpa kawat gigi sama sekali. Semoga permasalahan gigi segera berlalu ya Allah. Amin🤲!

Gigi tanpa kawat
Selesai lepas jahitan dan scalling gigi, saya kontrol gigi ke Orthodentist seperti biasa. Kali ini dr. Chandra hanya memasang kawat indikator dan karet gigi tanpa mengencangkan gigi kembali. Walaupun sebenarnya gigi mulai terlihat jarang karena pergerakan setelah gusi dioperasi. Hal ini dilakukan dokter karena gusi saya masih bengkak pasca operasi, jadi jangan dipaksa untuk dikencangkan giginya. Dokter juga meresepkan Cataflam untuk mengurangi peradangan dan bengkak.

Sejak dioperasi dua minggu yang lalu, sebenarnya kawat indikator di gigi saya mulai lebih lurus. Sepertinya memang biang kerok yang menyebabkan gigi atas masih miring ke bawah adalah penebalan tulang gusi. Alhamdulillah sudah selesai dikikis tulangnya. Tinggal satu sisa permasalahan gigi, yaitu gigi bungsu pojok sebelah kanan yang terus menendang-nendang gigi depannya. Nanti saya mau operasi juga gigi tersebut di Banda Aceh.

  • Lepas Jahitan Rp. 149,000
  • Scalling Rp. 449,000
  • APD Rp. 110,000
  • Charge Pasien Lama Rp. 40,000
  • Kontrol Orthodentist Rp. 275,000
  • Cataflam Rp. 90,000

Desember 10, 2020

Keseruan di Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung

Ntah udah berapa kali ke Makassar tapi nggak pernah mencoba ke tempat-tempat wisata disana. Dulu cuma pernah ke Trans Studio Mall (TSM) Makassar yang pada saat itu adalah satu-satunya TSM di Indonesia. Ntah kenapa dulu nggak berpikir wisata alam, mungkin karena keterbatasan waktu. Padahal Sulawesi Selatan sangat terkenal dengan keindahan alamnya. Kali ini memang sengaja beli tiket ke Makassar dengan rentang waktu agak lama untuk mengeksplorasi provinsi ini mulai dari selatan ke utara.

Tulisan di atas tebing

Saya dijemput oleh Dita, teman sejak kuliah sampai sekarang. Kami shalat dulu di masjid dekat bandara baru langsung ke Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung yang jarak dari bandara sekitar 1 jam ditempuh dengan menggunakan mobil. Saat ini Taman Nasional dikelola oleh Balai Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung yang berkedudukan di kecamatan Bantimurung, Maros, Sulawesi Selatan dan menjadi kawasan konservasi atau taman nasional berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor: SK.398/Menhut-II/2004 tanggal 18 Oktober 2004. 

Pintu masuk

Awalnya agak was-was karena sudah sore, takut tempatnya tutup. Tapi ternyata kata petugas loket bilang bahwa Taman Nasional ini buka 24 jam. Oh aman deh kalau begitu. Harga tiket masuk taman Rp. 30,000 dan kita tetap harus bayar lagi untuk masuk Taman Kupu-Kupu dan Air Terjun. Tempat pertama yang kami kunjungi adalah taman kupu-kupu yang ternyata sedang di renovasi dan banyak kupu-kupu sedang dipindahkan ke tempat penangkaran lain. Yahhh sedih deh😔. Tapi untuk menuntaskan rasa penasaran, saya tetap turun untuk melihat kupu-kupunya. Di tempat ini sedikitnya ada 20 jenis kupu-kupu yang dilindungi pemerintah dan ditetapkan melalui Peraturan Pemerintah No. 7/1999. Beberapa spesies unik bahkan hanya terdapat di Sulawesi Selatan, yaitu Troides Helena Linne, Troides Hypolitus Cramer, Troides Haliphron Boisduval, Papilo Adamantius, dan Cethosia Myrana. Menurut sejarah, antara tahun 1856-1857, Alfred Russel Wallace menghabiskan sebagian hidupnya di kawasan tersebut untuk meneliti berbagai jenis kupu-kupu. Beliau menyatakan Bantimurung merupakan The Kingdom of Butterfly (kerajaan kupu-kupu) karena di lokasi tersebut terdapat sedikitnya 250 spesies kupu-kupu.

Kupu-kupu tersisa
Setelah puas melihat kupu-kupu yang berwarna-warni dan yang berukuran besar walaupun hanya sedikit, kami kemudian melanjutkan perjalanan ke air terjun. Saya tidak menyangka bakalan seru banget di kawasan air terjun, jadi nggak siap-siap mau 'nyebur. Saya hanya mengganti sepatu dengan sendal gunung saja. Maunya sekalian ganti baju renang deh, ugh🙄! Air terjun ini debit airnya sangat deras dan karena pandemi tidak terlalu ramai orang meskipun ada saja yang main seluncuran air menggunakan ban karet. Duh seru banget😆. Bahkan mereka mengajak kami ikutan main.
Parkiran air terjun
Pintu masuk air terjun
Air terjun yang sangat deras
Mau berfoto diganggu terus😅

Ketinggian air terjun hanya 1,5 meter dan mungkin ini adalah salah satu air terjun terpendek yang pernah saya lihat. Karena pendek dan deras, jadi kita merasa aman kalau mau bermain di kaki air terjun. Sebenarnya saya sudah berjalan mendekat ke air terjun untuk berfoto. Cuma beberapa kali adik-adik yang bermain seluncuran ban bolak-balik terus sehingga harus menunggu mereka meluncur dulu baru saya bisa berfoto😅. Yang agak menakutkan adalah arah seluncuran mereka ke saya, dan saya takut kena terjang😨. Saya sempat terpeleset sedikit juga, untung dipegangin. Seandainya saya nggak pakai baju casual begini, mungkin saya adalah orang yang pertama untuk ikut mereka main seluncuran.

"Awas kak, kami mau seluncuran!"
Setelah berfoto disisi kanan, kami mencari angle foto di sisi kiri. Saya sekalian belajar memakai lensa wide Fujinon XF 10-24mm untuk mengambil aliran air sehalus rambut. Setelah beberapa kali jepret, akhirnya berhasil juga, walaupun tidak sebagus foto-foto dari fotografer PRO yang bisa langsung mengatur pencahayaan. Teringat dulu sewaktu training fotografi, kita bisa mengatur pencahayaan sampai sangat detail sehingga tidak perlu lagi meng-edit foto menggunakan software tambahan. Semoga semakin sering travelling, saya semakin jago mengoperasikan kamera PRO. Amin!
Air terjun berambut
Awalnya saya dan teman-teman mau menaiki anak tangga menuju ke Goa tapi Dita sudah tidak sanggup lagi. Dia nanjak 'dikit aja udah capek, hahaha😂. Ya udahlah, daripada dia nanti pingsan, kita kembali ke Makassar saja. Jarak tempuh Taman Nasional Bantimurung ke kota Makassar sekitar 1,5 jam. Setiba di tengah kota, kami sempat nongkrong dulu, baru pulang ke rumah Dita.

Baiklah, nanti saya lanjutkan lagi ya ceritanya. Sampai jumpa!

November 29, 2020

Alveolectomy di OMDC

Kemarin saya keluar rumah untuk ke dokter gigi hanya karena besi pengait behel yang dipojok sebelah kiri copot. Gara-gara makan ayam geprek terlalu keras😅, jadilah behel copot. Kenapaaa saya makannya terlalu bersemangat? 🤭Huff! Sebelum ke OMDC seperti biasa, saya teringat kalau harus melakukan Cone Beam Computed Tomograpy (CBCT) Scan di OKDental terlebih dahulu. Ya udahlah sekalian keluar, jadi saya mengurutkan ke OKDental dulu naik KRL sampai halte Sudirman, kemudian lanjut MRT turun di Blok A. Setelah itu saya tinggal naik Grab aja ke OKDental. Oh iya, enak juga bisa naik MRT ke daerah Dharmawangsa (Blok A). Teringat dulu saya sering ke Natasha disana, tapi sekarang sudah tidak pernah lagi sejak Natasha buka di Depok.

Menunggu

OK Dental Clinic berada di Wijaya Grand Centre, Blok C, Jl. Wijaya II No. 38. Cuma 5 menit naik Grab/Gojek. Sebelumnya saya sudah melakukan reservasi pada pukul 13:30, tapi baru sampai disana pukul 14:00, hehehe🤭. Soalnya tadi makan dulu yang banyak biar sekalian sikat giginya. OK Dental ini milik Dr. Kim, dokter gigi dari Korea. Saya baru sadar ternyata pasiennya banyak banget orang China, Korea, dan Jepang. Saya mendengar beliau berbicara fasih bahasa Jepang kepada pasien.

CBCT Scan

Tanpa menunggu lama, saya langsung dibawa ke ruang CBCT. Alat scannya mirip rotgen Cephalometri, tapi CBCT bisa sekalian melihat otot yang menyangga tulang-tulang. Jadi kalau ada tumor, bisa langsung diketahui. Semua perhiasan harus dilepas ketika di scan, termasuk jam tangan. Kemudian kepala saya ditaruh pada alat scan sambil gigi mengigit indikatornya. Bibir juga harus dikatupkan. Tidak sampai 1 menit, scan selesai. Saya sedikit melihat hasil scan 3Dnya dan saya tidak melihat ada kelainan. Mungkin saya memang tidak pintar untuk membaca beginian.

Selesai CBCT, saya membayar Rp. 500,000 di kasir. Sebenarnya harga aslinya Rp. 1,6 juta, tapi karena Dr. Kim kenal dengan Dr. Chandra (Orthodentist yang membuatkan surat pengantar untuk scan), jadi dapat diskon Rp. 1,100,000. Lumayan banget kan?🥳🥳🥳

Saya kembali ke OMDC dan menunggu antrian dokter Chandra. Sekitar 30 menit kemudian, saya dipanggil masuk ke ruangan. Saya menyerahkan hasil scan yang berupa CD kepada dokter, kemudian saya duduk di kursi praktek. Sekitar 5 menit menunggu, saya melihat dr. Chandra masih di depan laptop. Saya jadi ketakutan, apa ada yang salah dengan rongga mulut saya? Ternyata, CDnya nggak bisa dibuka. Fiuh, kirain kenapa🥲. Jadi beliau memasang behel saya yang copot dulu, baru balik melihat laptop lagi. Masih belum bisa dibuka. Wah, apa jangan-jangan OKDental salah ngasih CD?🤔 Pikiran saya mulai terusik.

Dr. Chandra kemudian mengatakan kalau hari ini sedang ada Dr. Arbi Wijaya, Spesialis Bedah Mulut.

"Saya langsung rujuk aja ya ke dokter Arbi, baru masuk hari ini. Nanti beliau bisa membaca lebih detail dan menjelaskan ke kamu secara terperinci."

Saya langsung deg-degan. Haduh, kenapa nih?🤔 Ada apa nih?🤔 Perawat Dr. Chandra memanggil bagian reservasi dan langsung merujuk saya ke dr. Arbi. Saya harus menunggu 2 pasien yang masing-masing 45 menit untuk bisa konsultasi dengan dokter. Saya juga melihat dr. Chandra masuk ke ruangan dr. Arbi dan menyebut-nyebut nama saya. Saya jadi deg-degan sendiri, tapi mau gimana lagi? Mau kabur juga nggak bisa🤭.

1,5 jam kemudian, saya dipanggil masuk. Dr. Arbi menunjukkan laptop beliau pada saya dan menjelaskan kondisi rahang. Alhamdulillah tidak ada kelainan, tumor, atau kanker, atau apa pun yang menyeramkan. Kondisi tulang semuanya baik, tapiiii memang tulang diatas gigi sebelah kanan ini lebih tebal. Orthodentist bakalan lebih sulit mengkondisikan gigi dibawahnya karena tulang yang tebal itu.

Solusinya bagaimana? "Saya akan memotong gusi dan mengikis tulang didalamnya. Nama perawatannya Alveolectomy. Nggak seram kok, masih lebih seram operasi gigi di pojok (Odontektomi). Pekerjaannya juga cepat, dan saya akan bius yang banyak supaya nggak kesakitan. Harganya juga cuma Rp. 1,000,000, berbeda dengan Odontektomi yang sampai diatas 3 juta. Bagaimana, mau dikerjakan sekarang?"

Saya langsung pusing 🤯🤯🤯membayangkan gusi dibuka, tulang dikikis, OMG😱😱😱! Saya bilang ke dokter, saya mau keluar dulu untuk 'mikir dan bertanya pada keluarga. Dokter mempersilahkan saya keluar dulu untuk pikir-pikir. Saya sempat tanya pada bagian reservasi kalau dr. Arbi jadwalnya cuma seminggu sekali di hari Sabtu dan jadwal saya sudah penuh di weekend selama bulan Desember. Saya menelepon Mama, dan Mama juga keheranan kenapa saya tiba-tiba mau bedah? Saya jelaskan permasalahannya, baru Mama mengerti. Mama bilang, lakukan saja, "nanti Mama berdoa dari sini".

Saya kembali ke bagian reservasi dan minta dijadwalkan kembali hari ini ke dokter Arbi. Dan saya mendapat jadwal jam 8 malam, dan sekarang masih pukul 17:15, oh tidak😱! Mau makan, nggak boleh. Akhirnya minum teh aja. Bayangkan saya harus menunggu 2,5 jam dalam kondisi deg-degan dan lapar. Mau pesan gofood, tapi nggak boleh makan. Saya akhirnya googling aja tentang operasi yang akan saya hadapi sebentar lagi.

Apa itu Alveolectomy? Menurut docdoc.com, Alveolectomy adalah prosedur bedah gigi yang bertujuan untuk mengangkat sebagian atau seluruh tulang alveolar di sekitar gigi serta merubah bentuk dan permukaan tulang rahang agar siap untuk prosedur berikutnya. Ini merupakan salah satu bedah gigi paling efektif untuk mengangkat gigi infeksi langsung dari akarnya. Selain itu, tingkat kesuksesannya tinggi dan resiko terhaadap komplikasi parah sangat kecil. Prosedur ini, basanya dilakukan sebagai persiapan sebelum pemasangan prostetik gigi.

Kalau dari baca artikel di google sih nggak seseram itu, tapi nggak tau nanti pada kenyataannya bagaimana. Sudah bosan buka google, social media, whatsapp, akhirnya saya dipanggil juga. Dr. Arbi langsung bilang, "Udah siap kan? Yuk kita mulai aja biar nggak lama." Saya semakin deg-degan, "Pokoknya jangan sakit ya, dok!" Dokter jawab, "Siap! Nanti saya bius yang banyak."
Siap-siap
Bismillah

Saya di tensi dulu dan hasilnya agak tinggi, 127. Biasa saya di 105-110. Dokter bilang, "Kamu takut ya? Nggak usah takut, saya bakalan bikin nggak sakit". Dokter menyuruh saya menarik napas, lalu saya dibius. Duh, jarum suntik masuk ke gusi berkali-kali itu rasanyaaaaa... 😭😭😭Tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Dokter menunggu bius mulai bekerja, saya disuntik lagi. Kali ini udah nggak begitu ngilu, jadi dokter menyuntik bius berkali-kali. Dokter terus bertanya, "Sakit? Kalau sakit, bilang." Kalau saya merintih sedikit, pasti dokter berhenti, lalu menambah bius.

Bedah gusi, seram 😭
Saya sempat mengambil foto dimana dokter sedang membuka gusi saya. Duhhh betapa seramnya melihat darah sebanyak itu. Cara memotongnya agak seram dan menekan kepala, jadi saya terus-menerus ketakutan. Selesai gusi dipotong, lalu dikikis tulangnya pakai bor yang airnya heboh mengenai seluruh wajah. Saya sampai berpikir mau pakai masker snorkeling aja biar bisa bernapas karena air dari bor juga masuk ke hidung. Sebenarnya proses bedah ini nggak sakit sama sekali, tapi karena tulang yang ada di kepala, jadi ya seram😭. Kalau saya mulai ngilu, disuntik bius lagi. Sampai-sampai hidung saya sebelah kanan jadi mampet, karena biusnya kena saraf hidung.
Belah lagi😭
Selesai proses pemotongan, dilanjutkan penjahitan😭. Dokter menyuntikkan bius lagi dirongga langit-langit dan rasanya adududududuh😭😭😭! Saya melihat jarum jahit berkali-kali masuk ke mulut, keluar lagi, masuk lagi, dipotong, masuk lagi, begitu seterusnya😭😭😭. Sampai-sampai untuk menjahit langit-langit, dokter harus berdiri. Saya udah nggak bisa terlalu buka mulut lagi karena sudah kebas dan lemas. Untung dokter tetap menenangkan kalau semua baik-baik saja.

1 jam lebih kemudian, gusi saya selesai dijahit. Saya jadi nggak bisa buka mulut. Dokter bilang, saya harus lebih banyak diam, nggak boleh banyak ngomong. Nggak boleh ketawa ngakak, kalau nguap dijaga-jaga. Malam ini nggak boleh sikat gigi dulu, besok aja. Harus dijaga makannya, nggak boleh makan keripik, kerupuk, kacang, semua yang keras-keras. Jangan sampai jahitan sobek yang bikin bisa berdarah. OMG!🤯
Hasil jahitan
Selesai semua proses pembedahan, saya bayar dikasir. Berikut rinciannya.

  • TOST001 - OSTEOTOMY / ALVEOLECTOMY / TINDAKAN - SPESIALIS drg. Arbi Wijaya Sp.BM Rp. 1.000.000
  • FCOA001 - CO-AMOCYCLAV 625 MG Rp. 95.000
  • FMIN001 - MINOSEP MERAH GARGLE 150MLRp. 56.700
  • FARC010 - ARCOXIA 90 MGRp. 75.000
  • APD004 - APD 95.000 (Kontrol) Rp. 95.000
  • SCPL - Charge Pasien Lama Rp. 40.000
  • TBUC001 - BUCAL TUBE Rp. 65.000

Setelah nggak terlalu pusing, saya pulang. Karena sudah terlalu malam, susah banget nyari yang jualan bubur. Untung masih ada dan abang Grab mau 'nungguin saya beli bubur untuk alas lambung minum obat. Mana saya baru boleh makan sejam lagi agar luka sudah mengering terlebih dahulu. Padahal udah lapar banget dan lemas.

Minimal satu minggu kemudian, saya sudah boleh lepas jahitan. Tapi saya takut juga mau lepas jahitan terlalu cepat karena pasti sakitttt😭. Nanti saja 2 minggu lagi sewaktu saya harus kontrol behel. Doakan semoga saya sehat wal'afiat ya, aminn 🤲. Sampai jumpa!

November 24, 2020

Kenangan di Kota Medan

Medan bagi saya adalah kota yang menyimpan kenangan sangat banyak. Dulu sewaktu masih kecil, pernah sebulan sekali ke kota ini untuk kontrol asma. Sudah pernah diopname di kota ini juga, sudah pernah beberapa minggu harus menginap di Rumah Sakit karena Papa operasi, dan sudah hampir semua Mall pernah didatangi mulai yang masih buka hingga sekarang sampai yang sudah tutup. 

Kalau mengingat kota Medan, yang paling teringat ya Papa. Beliau sangat hafal jalanan di kota Medan bahkan sampai setiap sudutnya sebelum ada Google Maps seperti sekarang. Sewaktu masih kuliah, Papa juga suka menjemput saya di Medan, sekalian liburan. Kita jalan-jalan dan makan-makan di RM. Garuda saja sudah senang bukan kepalang. Termasuk mencicipi sarapan lontong Medan favorit kita sekeluarga.

Sewaktu saya menginap di rumah abang, saya minta dibelikan lontong juga untuk sarapan. Awalnya abang mau beli sendiri, tapi saya ingin ikut serta. Ternyata sepanjang jalan banyak yang kenal dengan abang karena sudah lebih dari 4 tahun bolak-balik Lhokseumawe-Medan karena kakak ipar saya mengambil spesialis kulit di Universitas Sumatra Utara (USU).

Lontong Medan
"Bang, nggak belanja hari ini?" tanya tukang sayur. "Udah lama kali aku nggak liat abang lah..."
"Iya COVID, nggak dibolehin kantor ke luar kota," jawab abang saya.
"Bang, nggak nge-laundry hari ini?" tanya kakak laundry.
"Nggak kak, kan udah kemarin."
Saya hanya tersenyum mendengar logat Medan dari percakapan mereka yang sudah lama tidak saya dengar. Karena kakak ipar saya sibuk kuliah, memang kadang di kala weekend abang saya yang mengantar laundry dan belanja ke tukang sayur.

Sepulang beli sarapan, saya menyantapnya dengan cepat karena enakkkk sekali🤤. Setelah itu abang dan kakak beres-beres rumah karena besok mereka mau pindah ke Lhokseumawe. Kakak sudah lulus menjadi Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin (Dermatovenereology), dan mereka akan mengembalikan rumah sewa ini. Saya hanya bisa membantu sedikit karena bingung juga mau ngapain karena mereka yang lebih tau barang-barang mau ditaruh dimana. Selesai beres-beres, kami mandi dan keluar untuk makan siang. Sekalian mau ke bandara juga.
Ayam goreng RM. Garuda
Kali ini saya ingin makan di RM. Garuda, rumah makan favorit Papa. Teringat dulu setelah operasi ginjal, Papa minta diantarkan makan siang kesini. Atau setelah menjemput saya di bandara, pasti mampir kesini juga (dulu bandara masih di Polonia jadi dekat ke RM. Garuda di jalan Gadjah Mada). Berhubung penerbangan saya sudah dekat dan jadwal kereta terdekat sisa sejam lagi, jadi kami makan disini agak keburu-buru deh. Nggak apa-apa yang penting sudah makan Garuda.
Bolu terenak di Indonesia
Setelah makan, saya dan keluarga mampir sebentar di Bolu Meranti yang rukonya masih berderetan juga dengan RM Garuda. Duh, kangen banget langsung datang ke toko Bolu Meranti untuk memilih bolu gulung terenak se-Indonesia ini. Dulu beli Meranti masih di harga Rp. 50,000an, sekarang udah Rp. 70rb-Rp. 80rb. Saya beli 2 kotak yang berisi tiga varian rasa. Lumayan untuk dibagi-bagi ke teman-teman di kantor.
Harga 1

Harga 2
Oh iya, waktu itu jadwal kereta bandara pukul 14:15, dan saya jam 2 siang masih di jalan. Udah was-was banget tapi akhirnya abang bisa sampai ke stasiun pukul 14:08. Saya salam abang dan kakak, lalu langsung berlari masuk ke stasiun🏃‍♀️. Mana salah pintu masuk pulak, untung ada bapak-bapak porter yang memberitahu pintu yang benar seraya membantu membawa koper saya sambil berlari juga.

Petugas Railink udah teriak, "YAK TUJUH MENIT LAGI, TUJUH MENIT LAGI!" AAAAH😱😱, saya langsung panik. Saya memesan tiket sambil membuka masker saking ngos-ngosannya. Petugas bilang, "nggak apa-apa Kak, masih ada 5 menit lagi." Mendengar hal itu saya bukannya tenang, malah tambah takut😱. Saya menyerahkan tiket ke petugas di pintu masuk, membayar potter sekalian mengucapkan terima kasih, lalu langsung berlari lagi sampa masuk ke kereta. Huffff baru tenang.
Duduk manis
Setelah menaruh koper pada tempatnya, saya duduk, dan pintu kereta pun ditutup. Kurang lebih 1 menit sebelum keberangkatan, maka pintu kereta ditutup. Kakak ipar saya menelepon untuk memastikan apakah saya keburu naik kereta atau tidak karena ternyata mereka masih di depan stasiun untuk menunggu kabar dari saya. Kalau sekiranya saya nggak keburu, mau dianterin ke bandara. Alhamdulillah saya sudah duduk manis di kereta yang sedang melaju menuju Bandara Kualanamu.

28 menit kemudian, saya tiba di bandara. Saya melakukan verifikasi dokumen rapid tes antibodi, baru cek in. Setelah itu saya masuk ke gate dan menunggu kira-kira satu jam untuk boarding. Saya ke bandara termasuk last minute juga jadi tidak perlu menunggu lama untuk boardiang.
Pesawat berasap-asap
Menurut saya, AirAsia merupakan maskapai yang disiplin menerapkan protokol kesehatan. Naik pesawat harus bergantian dan harus patuh, nggak boleh asal serobot. Ada seat distancing juga, jadi kita sebagai penumpang bisa merasa lebih aman, Alhamdulillah. Sewaktu turun juga harus bergantian per 3 baris kursi. Selain baris yang ditunjuk, semua penumpang wajib duduk di tempat dan nggak boleh sama sekali berdiri untuk mengambil bagasi cabin. Kalau pesawat lain biasanya semua berdiri dan berdesakan siapa yang duluan mau turun. Huff!

Baiklah, sekian cerita saya tentang Sumatra Utara. Semoga bermanfaat, sampai jumpa di cerita di kota lain!

November 21, 2020

Air Terjun Sipiso-piso

Sepulang dari Taman Simalem Resort, kami melanjutkan perjalanan ke Air Terjun Sipiso-piso yang jaraknya lumayan dekat dari tempat ini. Mungkin hanya sekitar 30 menit saja. Awalnya abang saya nggak mau kesana. Dia bilang jalannya jelek-lah, berkelok-kelok-lah, pokoknya saya sampai sebel😖 dan bersikukuh tetap ingin kesana😖. Kapan lagi ke air terjun ini dan saya ingin kesini sudah sejak 2013. Setelah segala bujuk-rayu, akhirnya berhasil juga mengajak abang kesana😙.

Air Terjun Sipisopiso atau Sipiso-piso adalah sebuah air terjun yang berada di Desa Tongging, Kecamatan Merek, Kabupaten Karo. Nama Sipisopiso diambil dari nama sebuah Gunung yang berada tepat di timur laut Air Terjun Sipisopiso. Gunung yang juga disebut Dolok Sipisopiso ini memiliki ketinggian sekitar 1.860 meter di atas permukaan air laut. Kalau kita berjalan mengikuti Google Maps, pasti kelewatan tempatnya, jadi harus bertanya orang sekitar dulu baru menemukan jalan yang sebenarnya. Saya sampai takjub melihat air terjun sangat tinggi berada di balik gunung😱. Kita sama sekali tidak bisa melihat dimana air terjun yang sangat tinggi ini di perjalanan sampai kita menemukan jalan berbelok dan melihatnya dari kejauhan. Masya Allah!

Masya Allah air terjun di balik gunung

Air Terjun Sipiso-piso memiliki ketinggian hingga 120 meter dan mengucur deras membentuk garis vertikal sempurna. Suara deru aliran airnya sangat derasss sampai membuat kita takjub😱. Air Terjun ini berada di bibir kaldera raksasa Danau Toba, jadi kalian dapat melihat Danau Toba yang berhadap-hadapan dengan air terjun. Sayangnya lensa wide kamera saya tidak bisa mengambil dua pemandangan air terjun dan danau karena saya berdiri di jarak yang terlalu dekat dengan pemandangan indah ini.

Danau Toba di seberang air terjun

Saya langsung geregetan mau turun ke kaki air terjun. Masa' udah kesini nggak turun sih? Tapi abang saya nggak mau turun karena dia malas capek kayaknya. Semula saya takut juga turun sendiri, takut kenapa-napa di jalan nanti nggak ada yang tolongin. Hmm, tapi saya memutuskan tetap turun dan mengatakan sama abang saya kalau dalam satu jam saya nggak kembali, silahkan dicari.

Tangga turun

Saya kemudian berjalan turun dulu sampai ke warung karena masih banyak pengunjung turun sampai disitu. Saya mengobrol dengan bapak penjaga warung dan bertanya apakah aman turun sendirian? Beliau bilang sih aman, nggak pernah ada apa-apa. Lalu saya melihat ada sepasang orang pacaran turun, dan saya akhirnya mengikuti mereka. Saya minta ijin untuk ikut dan nggak akan mengganggu mereka pacaran kok, hahaha😂😂.

Fotoan di warung sebelum turun lagi
Dari jarak lumayan dekat
Ketika perjalanan turun, mulai ramai orang dan saya sudah tidak was-was lagi. Kami bahkan sempat mengobrol. Kebanyakan mereka dari Medan naik sepeda motor kesini pulang-pergi tanpa menginap. Keren juga ya bisa sanggup kesini cuma naik motor. Mereka mengira saya wartawan karena bawa kamera dengan lensa besar. Dengan sedikit berlari, saya buru-buru turun supaya abang saya nanti nggak nyariin. Salah seorang pengunjung sampai heran kenapa saya nggak ngos-ngosan sama sekali, apalagi daritadi saya berjalan lebih cepat dari mereka. Mungkin karena perjalanan turun kan gampang ya, nggak tau deh nanti ketika menanjak.
Masya Allah indahnya😍
Sesampai di kaki air terjun, Masya Allah debit airnya derasssss sekaliiii😱😱😱. Lebar air di bawah mungkin sekitar 5 meter sehingga tempiasnya bisa terpental jauh sekali. Saya sampai basah kuyup seperti diguyur hujan. Saya jadi takut kamera basah, jadi saya nggak berdiri begitu dekat ke air terjun. Padahal jarak sampai bisa menyentuh air mungkin sekitar 50 meter lagi, tapi tempiasnya sudah membuat saya basah. 
Berpegangan di jembatan
Saya minta tolong difotokan di sebuah jembatan. Sempat terpeleset karena licin dan membuat panik para pengunjung😱, tapi alhamdulillah saya pegangan sangat kuat di pagar jembatan. Emang serem juga kalau pakai sepatu nggak terlalu pakem tapaknya, karena memang area air terjun pasti sangat licin. Oh iya, air terjun ini terbentuk pada aliran Sungai Pajanabolon yang merupakan salah satu sungai menyuplai air ke Danau Toba. Air Terjun Sipisopiso berada di ketinggian sekitar 1.300 meter di atas permukaan air laut. Jadi kalau nggak hati-hati di jembatan, bisa masuk ke sungai nanti. Tapi arusnya nggak deras sih.
Foto lebih dekat sebelum kamera saya simpan karena takut basah
Selesai berfoto dan bermain sebentar, saya pamit kepada orang-orang disana untuk naik. Kakak ipar sudah menelepon karena dia khawatir saya kemana. Awalnya malah pas ditelepon nggak masuk-masuk, mungkin karena di kaki air terjun nggak ada sinyal. Saya mulai berjalan menanjak, disinilah saya kecapekan. Haduhhh, ternyata susah sekali naiknya😩. Mana saya nggak bawa minum, jadi terasa haus sekali dan berkunang-kunang😩. Perasaan seperti ini yang saya takutkan kalau pergi sendirian ke alam, kalau kenapa-kenapa nggak ada yang tolongin.
Masih harus menanjak
Saya berdoa, semoga selamat sampai tujuan, dan mulai melanjutkan perjalanan. Haduh capek banget😩, mana cuaca panas. Baju saya yang tadinya basah kuyup sudah kering kerontang saking panasnya. Saya juga kehausan setengah mati. Saya jalan, istirahat, jalan lagi, sampai akhirnya saya menemukan warung. Saya beli air minum, duduk beristirahat sambil menghela napas, baru energi saya kembali.
Menanjak terussss😩
Bapak penjaga warung terkejut juga karena saya sanggup naik dalam waktu 30 menit, padahal saya sudah merasa mau mati tadinya karena kecapekan dan mengejar waktu supaya nggak diomelin abang. Abang saya sudah menelepon dan menyuruh saya cepat naik karena dia lapar. Duh, doi nggak tau apa kalau perjalanan susah, ugh😩! Akhirnya saya melanjutkan jalan ke atas. Bapak warung bilang, "Dek, kau duduklah sebentar lagi biar nggak pingsan. Atau kau tarik napas sekali lagi," (dengan logat Batak yang kental). Saya bilang nggak bisa karena sudah ditunggu oleh abang. Nanti dia ngomel, saya nggak sanggup dengar dia ngomel😆. Akhirnya saya sampai ke parkiran, langsung masuk mobil, dan berangkat. Saya membuka jendela mobil agar bisa menghirup udara lebih banyak. Alhamdulillah napas saya cepat kembali stabil dan saya jadi lapar berat.

Kami pergi mencari warung makan. Saya kira abang dan kakak sudah makan di warung sekitar parkiran, tapi ternyata banyak yang tutup karena pandemi. Salah satu pedagang disitu bilang, sebelum pandemi ramai sekali bule' datang ke Danau Toba dan Sipiso-piso, apalagi ada Airasia yang turun di bandara Silangit yang terdekat dari situ. Sekarang jadi sangat sepi, sehingga mereka terkadang memang sengaja nggak jualan. Semoga pandemi cepat berlalu ya Allah. Amin🤲!
Makan bebek
Kami mampir di sebuah rumah makan yang menurut saya sangat enak, ntah karena kecapekan turun ke air terjun. Saya makan bebek cabe ijo yang gede dan lembut dagingnya dengan sangat lahap. Haduwwh enak bangettt deh. Alhamdulillah🤲. Kita menghabiskan waktu agak lama di rumah makan sekalian shalat juga. Saya juga butuh istirahat karena kaki mulai pegal.
Karo dingin dan hujan
Setelah makan, kami melanjutkan perjalanan kembali ke Medan. Disini agak seram karena kita harus berlomba-lomba dengan abang-abang Batak yang menyetir mobil L300 tanpa mau mengalah. Bayangkan, kita sudah berbaris rapi di jalan, eh dia pengen menyalip barisan, bahkan di tikungan, padahal di depan ada truk. Saya nggak bisa tidur sama sekali sepanjang jalan ke Medan, karena ketakutan ketika abang menyetir. Ada lagi mobil L300 menyalip kali dan membuat truk di depannya harus berhenti untuk memberikan mereka jalan. Ya Allah seramnyaaa😱😱😱😱. 

Alhamdulillah kami tiba dengan selamat di Medan tanpa berkurang satu apa-pun. Ternyata benar kata orang, nyawa supir L300 di Sumatera Utara ada 9. Subhanallah...

Follow me

My Trip