November 21, 2020

Air Terjun Sipiso-piso

Sepulang dari Taman Simalem Resort, kami melanjutkan perjalanan ke Air Terjun Sipiso-piso yang jaraknya lumayan dekat dari tempat ini. Mungkin hanya sekitar 30 menit saja. Awalnya abang saya nggak mau kesana. Dia bilang jalannya jelek-lah, berkelok-kelok-lah, pokoknya saya sampai sebel😖 dan bersikukuh tetap ingin kesana😖. Kapan lagi ke air terjun ini dan saya ingin kesini sudah sejak 2013. Setelah segala bujuk-rayu, akhirnya berhasil juga mengajak abang kesana😙.

Air Terjun Sipisopiso atau Sipiso-piso adalah sebuah air terjun yang berada di Desa Tongging, Kecamatan Merek, Kabupaten Karo. Nama Sipisopiso diambil dari nama sebuah Gunung yang berada tepat di timur laut Air Terjun Sipisopiso. Gunung yang juga disebut Dolok Sipisopiso ini memiliki ketinggian sekitar 1.860 meter di atas permukaan air laut. Kalau kita berjalan mengikuti Google Maps, pasti kelewatan tempatnya, jadi harus bertanya orang sekitar dulu baru menemukan jalan yang sebenarnya. Saya sampai takjub melihat air terjun sangat tinggi berada di balik gunung😱. Kita sama sekali tidak bisa melihat dimana air terjun yang sangat tinggi ini di perjalanan sampai kita menemukan jalan berbelok dan melihatnya dari kejauhan. Masya Allah!

Masya Allah air terjun di balik gunung

Air Terjun Sipiso-piso memiliki ketinggian hingga 120 meter dan mengucur deras membentuk garis vertikal sempurna. Suara deru aliran airnya sangat derasss sampai membuat kita takjub😱. Air Terjun ini berada di bibir kaldera raksasa Danau Toba, jadi kalian dapat melihat Danau Toba yang berhadap-hadapan dengan air terjun. Sayangnya lensa wide kamera saya tidak bisa mengambil dua pemandangan air terjun dan danau karena saya berdiri di jarak yang terlalu dekat dengan pemandangan indah ini.

Danau Toba di seberang air terjun

Saya langsung geregetan mau turun ke kaki air terjun. Masa' udah kesini nggak turun sih? Tapi abang saya nggak mau turun karena dia malas capek kayaknya. Semula saya takut juga turun sendiri, takut kenapa-napa di jalan nanti nggak ada yang tolongin. Hmm, tapi saya memutuskan tetap turun dan mengatakan sama abang saya kalau dalam satu jam saya nggak kembali, silahkan dicari.

Tangga turun

Saya kemudian berjalan turun dulu sampai ke warung karena masih banyak pengunjung turun sampai disitu. Saya mengobrol dengan bapak penjaga warung dan bertanya apakah aman turun sendirian? Beliau bilang sih aman, nggak pernah ada apa-apa. Lalu saya melihat ada sepasang orang pacaran turun, dan saya akhirnya mengikuti mereka. Saya minta ijin untuk ikut dan nggak akan mengganggu mereka pacaran kok, hahaha😂😂.

Fotoan di warung sebelum turun lagi
Dari jarak lumayan dekat
Ketika perjalanan turun, mulai ramai orang dan saya sudah tidak was-was lagi. Kami bahkan sempat mengobrol. Kebanyakan mereka dari Medan naik sepeda motor kesini pulang-pergi tanpa menginap. Keren juga ya bisa sanggup kesini cuma naik motor. Mereka mengira saya wartawan karena bawa kamera dengan lensa besar. Dengan sedikit berlari, saya buru-buru turun supaya abang saya nanti nggak nyariin. Salah seorang pengunjung sampai heran kenapa saya nggak ngos-ngosan sama sekali, apalagi daritadi saya berjalan lebih cepat dari mereka. Mungkin karena perjalanan turun kan gampang ya, nggak tau deh nanti ketika menanjak.
Masya Allah indahnya😍
Sesampai di kaki air terjun, Masya Allah debit airnya derasssss sekaliiii😱😱😱. Lebar air di bawah mungkin sekitar 5 meter sehingga tempiasnya bisa terpental jauh sekali. Saya sampai basah kuyup seperti diguyur hujan. Saya jadi takut kamera basah, jadi saya nggak berdiri begitu dekat ke air terjun. Padahal jarak sampai bisa menyentuh air mungkin sekitar 50 meter lagi, tapi tempiasnya sudah membuat saya basah. 
Berpegangan di jembatan
Saya minta tolong difotokan di sebuah jembatan. Sempat terpeleset karena licin dan membuat panik para pengunjung😱, tapi alhamdulillah saya pegangan sangat kuat di pagar jembatan. Emang serem juga kalau pakai sepatu nggak terlalu pakem tapaknya, karena memang area air terjun pasti sangat licin. Oh iya, air terjun ini terbentuk pada aliran Sungai Pajanabolon yang merupakan salah satu sungai menyuplai air ke Danau Toba. Air Terjun Sipisopiso berada di ketinggian sekitar 1.300 meter di atas permukaan air laut. Jadi kalau nggak hati-hati di jembatan, bisa masuk ke sungai nanti. Tapi arusnya nggak deras sih.
Foto lebih dekat sebelum kamera saya simpan karena takut basah
Selesai berfoto dan bermain sebentar, saya pamit kepada orang-orang disana untuk naik. Kakak ipar sudah menelepon karena dia khawatir saya kemana. Awalnya malah pas ditelepon nggak masuk-masuk, mungkin karena di kaki air terjun nggak ada sinyal. Saya mulai berjalan menanjak, disinilah saya kecapekan. Haduhhh, ternyata susah sekali naiknya😩. Mana saya nggak bawa minum, jadi terasa haus sekali dan berkunang-kunang😩. Perasaan seperti ini yang saya takutkan kalau pergi sendirian ke alam, kalau kenapa-kenapa nggak ada yang tolongin.
Masih harus menanjak
Saya berdoa, semoga selamat sampai tujuan, dan mulai melanjutkan perjalanan. Haduh capek banget😩, mana cuaca panas. Baju saya yang tadinya basah kuyup sudah kering kerontang saking panasnya. Saya juga kehausan setengah mati. Saya jalan, istirahat, jalan lagi, sampai akhirnya saya menemukan warung. Saya beli air minum, duduk beristirahat sambil menghela napas, baru energi saya kembali.
Menanjak terussss😩
Bapak penjaga warung terkejut juga karena saya sanggup naik dalam waktu 30 menit, padahal saya sudah merasa mau mati tadinya karena kecapekan dan mengejar waktu supaya nggak diomelin abang. Abang saya sudah menelepon dan menyuruh saya cepat naik karena dia lapar. Duh, doi nggak tau apa kalau perjalanan susah, ugh😩! Akhirnya saya melanjutkan jalan ke atas. Bapak warung bilang, "Dek, kau duduklah sebentar lagi biar nggak pingsan. Atau kau tarik napas sekali lagi," (dengan logat Batak yang kental). Saya bilang nggak bisa karena sudah ditunggu oleh abang. Nanti dia ngomel, saya nggak sanggup dengar dia ngomel😆. Akhirnya saya sampai ke parkiran, langsung masuk mobil, dan berangkat. Saya membuka jendela mobil agar bisa menghirup udara lebih banyak. Alhamdulillah napas saya cepat kembali stabil dan saya jadi lapar berat.

Kami pergi mencari warung makan. Saya kira abang dan kakak sudah makan di warung sekitar parkiran, tapi ternyata banyak yang tutup karena pandemi. Salah satu pedagang disitu bilang, sebelum pandemi ramai sekali bule' datang ke Danau Toba dan Sipiso-piso, apalagi ada Airasia yang turun di bandara Silangit yang terdekat dari situ. Sekarang jadi sangat sepi, sehingga mereka terkadang memang sengaja nggak jualan. Semoga pandemi cepat berlalu ya Allah. Amin🤲!
Makan bebek
Kami mampir di sebuah rumah makan yang menurut saya sangat enak, ntah karena kecapekan turun ke air terjun. Saya makan bebek cabe ijo yang gede dan lembut dagingnya dengan sangat lahap. Haduwwh enak bangettt deh. Alhamdulillah🤲. Kita menghabiskan waktu agak lama di rumah makan sekalian shalat juga. Saya juga butuh istirahat karena kaki mulai pegal.
Karo dingin dan hujan
Setelah makan, kami melanjutkan perjalanan kembali ke Medan. Disini agak seram karena kita harus berlomba-lomba dengan abang-abang Batak yang menyetir mobil L300 tanpa mau mengalah. Bayangkan, kita sudah berbaris rapi di jalan, eh dia pengen menyalip barisan, bahkan di tikungan, padahal di depan ada truk. Saya nggak bisa tidur sama sekali sepanjang jalan ke Medan, karena ketakutan ketika abang menyetir. Ada lagi mobil L300 menyalip kali dan membuat truk di depannya harus berhenti untuk memberikan mereka jalan. Ya Allah seramnyaaa😱😱😱😱. 

Alhamdulillah kami tiba dengan selamat di Medan tanpa berkurang satu apa-pun. Ternyata benar kata orang, nyawa supir L300 di Sumatera Utara ada 9. Subhanallah...

Reactions:

0 comments:

Follow me

My Trip