November 24, 2020

Kenangan di Kota Medan

Medan bagi saya adalah kota yang menyimpan kenangan sangat banyak. Dulu sewaktu masih kecil, pernah sebulan sekali ke kota ini untuk kontrol asma. Sudah pernah diopname di kota ini juga, sudah pernah beberapa minggu harus menginap di Rumah Sakit karena Papa operasi, dan sudah hampir semua Mall pernah didatangi mulai yang masih buka hingga sekarang sampai yang sudah tutup. 

Kalau mengingat kota Medan, yang paling teringat ya Papa. Beliau sangat hafal jalanan di kota Medan bahkan sampai setiap sudutnya sebelum ada Google Maps seperti sekarang. Sewaktu masih kuliah, Papa juga suka menjemput saya di Medan, sekalian liburan. Kita jalan-jalan dan makan-makan di RM. Garuda saja sudah senang bukan kepalang. Termasuk mencicipi sarapan lontong Medan favorit kita sekeluarga.

Sewaktu saya menginap di rumah abang, saya minta dibelikan lontong juga untuk sarapan. Awalnya abang mau beli sendiri, tapi saya ingin ikut serta. Ternyata sepanjang jalan banyak yang kenal dengan abang karena sudah lebih dari 4 tahun bolak-balik Lhokseumawe-Medan karena kakak ipar saya mengambil spesialis kulit di Universitas Sumatra Utara (USU).

Lontong Medan
"Bang, nggak belanja hari ini?" tanya tukang sayur. "Udah lama kali aku nggak liat abang lah..."
"Iya COVID, nggak dibolehin kantor ke luar kota," jawab abang saya.
"Bang, nggak nge-laundry hari ini?" tanya kakak laundry.
"Nggak kak, kan udah kemarin."
Saya hanya tersenyum mendengar logat Medan dari percakapan mereka yang sudah lama tidak saya dengar. Karena kakak ipar saya sibuk kuliah, memang kadang di kala weekend abang saya yang mengantar laundry dan belanja ke tukang sayur.

Sepulang beli sarapan, saya menyantapnya dengan cepat karena enakkkk sekali🤤. Setelah itu abang dan kakak beres-beres rumah karena besok mereka mau pindah ke Lhokseumawe. Kakak sudah lulus menjadi Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin (Dermatovenereology), dan mereka akan mengembalikan rumah sewa ini. Saya hanya bisa membantu sedikit karena bingung juga mau ngapain karena mereka yang lebih tau barang-barang mau ditaruh dimana. Selesai beres-beres, kami mandi dan keluar untuk makan siang. Sekalian mau ke bandara juga.
Ayam goreng RM. Garuda
Kali ini saya ingin makan di RM. Garuda, rumah makan favorit Papa. Teringat dulu setelah operasi ginjal, Papa minta diantarkan makan siang kesini. Atau setelah menjemput saya di bandara, pasti mampir kesini juga (dulu bandara masih di Polonia jadi dekat ke RM. Garuda di jalan Gadjah Mada). Berhubung penerbangan saya sudah dekat dan jadwal kereta terdekat sisa sejam lagi, jadi kami makan disini agak keburu-buru deh. Nggak apa-apa yang penting sudah makan Garuda.
Bolu terenak di Indonesia
Setelah makan, saya dan keluarga mampir sebentar di Bolu Meranti yang rukonya masih berderetan juga dengan RM Garuda. Duh, kangen banget langsung datang ke toko Bolu Meranti untuk memilih bolu gulung terenak se-Indonesia ini. Dulu beli Meranti masih di harga Rp. 50,000an, sekarang udah Rp. 70rb-Rp. 80rb. Saya beli 2 kotak yang berisi tiga varian rasa. Lumayan untuk dibagi-bagi ke teman-teman di kantor.
Harga 1

Harga 2
Oh iya, waktu itu jadwal kereta bandara pukul 14:15, dan saya jam 2 siang masih di jalan. Udah was-was banget tapi akhirnya abang bisa sampai ke stasiun pukul 14:08. Saya salam abang dan kakak, lalu langsung berlari masuk ke stasiun🏃‍♀️. Mana salah pintu masuk pulak, untung ada bapak-bapak porter yang memberitahu pintu yang benar seraya membantu membawa koper saya sambil berlari juga.

Petugas Railink udah teriak, "YAK TUJUH MENIT LAGI, TUJUH MENIT LAGI!" AAAAH😱😱, saya langsung panik. Saya memesan tiket sambil membuka masker saking ngos-ngosannya. Petugas bilang, "nggak apa-apa Kak, masih ada 5 menit lagi." Mendengar hal itu saya bukannya tenang, malah tambah takut😱. Saya menyerahkan tiket ke petugas di pintu masuk, membayar potter sekalian mengucapkan terima kasih, lalu langsung berlari lagi sampa masuk ke kereta. Huffff baru tenang.
Duduk manis
Setelah menaruh koper pada tempatnya, saya duduk, dan pintu kereta pun ditutup. Kurang lebih 1 menit sebelum keberangkatan, maka pintu kereta ditutup. Kakak ipar saya menelepon untuk memastikan apakah saya keburu naik kereta atau tidak karena ternyata mereka masih di depan stasiun untuk menunggu kabar dari saya. Kalau sekiranya saya nggak keburu, mau dianterin ke bandara. Alhamdulillah saya sudah duduk manis di kereta yang sedang melaju menuju Bandara Kualanamu.

28 menit kemudian, saya tiba di bandara. Saya melakukan verifikasi dokumen rapid tes antibodi, baru cek in. Setelah itu saya masuk ke gate dan menunggu kira-kira satu jam untuk boarding. Saya ke bandara termasuk last minute juga jadi tidak perlu menunggu lama untuk boardiang.
Pesawat berasap-asap
Menurut saya, AirAsia merupakan maskapai yang disiplin menerapkan protokol kesehatan. Naik pesawat harus bergantian dan harus patuh, nggak boleh asal serobot. Ada seat distancing juga, jadi kita sebagai penumpang bisa merasa lebih aman, Alhamdulillah. Sewaktu turun juga harus bergantian per 3 baris kursi. Selain baris yang ditunjuk, semua penumpang wajib duduk di tempat dan nggak boleh sama sekali berdiri untuk mengambil bagasi cabin. Kalau pesawat lain biasanya semua berdiri dan berdesakan siapa yang duluan mau turun. Huff!

Baiklah, sekian cerita saya tentang Sumatra Utara. Semoga bermanfaat, sampai jumpa di cerita di kota lain!

Reactions:

0 comments:

Follow me

My Trip