November 18, 2020

Perjalanan ke Berastagi

Setelah shalat Shubuh di Niagara Hotel Parapat, kami kembali ke Medan karena kakak ipar saya harus menghadiri acara mendadak di Universitas Sumatra Utara (USU). Pagi-pagi buta harus sudah keluar hotel demi acara itu. Perjalanan di pagi hari lebih cepat 30 menit, mungkin karena sepi. Kami juga bisa sarapan di mobil yang sudah dipesan dari hotel.

Sesampai di Medan, kakak ipar pergi ke USU, sedangkan saya dan abang hanya tidur-tiduran saja di rumah. Abang saya sedang beristirahat agar bisa menyetir kembali nanti siang ke Berastagi. Saya malah bingung mau ngapain di rumah. Akhirnya cuma browsing aja sampai kakak ipar pulang. Sebelum ke Berastagi, kami makan dulu di jalan dan setelah makan saya jadi ngantuk berat🥱. Saya sempat tertidur dan ketika bangun sudah sampai ke tujuan. Dari Medan ke Berastagi memang cuma membutuhkan waktu 2 jam lebih, tergantung kecepatan ketika menyetir. Saya bahkan tidak ingat lagi kapan terakhir kali ke Berastagi. Ntah pernah ntah belum🤔.

1. Mikie Holiday Hotel & Resort

Saya mendapatkan harga promo ketika menginap disini. Resort yang satu ini sangat indah, ditanami jenis bunga-bunga 💐💐💐yang sangat banyak. Mungkin karena Berastagi adalah dataran tinggi, jadi udaranya memang sangat cocok untuk menanam beraneka jenis bunga. Tempatnya juga bagus, ada kolam renang, taman bermain, paling cocok memang untuk menginap bersama keluarga.

Bunga-bunga

Berpose
Saya memilih kamar yang memiliki lantai 2 (family room) supaya terasa quality time-nya. Sebenarnya saya termasuk jarang berhubungan dan bercerita panjang lebar bersama abang dan kakak ipar. Jadi jalan-jalan kali ini adalah waktu yang sangat tepat. Oh iya, kamar keluarga yang kami pesan jadi mirip seperti yang disewakan AirBnB diluar negri karena memiliki 2 lantai di satu ruangan.
Gunung Sinabung yang berasap
Kalian juga bisa melihat langsung gunung Sinabung dari Mikie Resort. Alhamdulillah ketika kami disana kemarin semua aman terkendali.

2. Pasar Berastagi

Kakak ipar berkeinginan ke pasar buah Berastagi yang terkenal murah-murah harga buahnya dan banyak jenisnya. Saya sih 'ngikut aja kemana yang diajak karena saya memang tidak tahu juga harus kemana dan ngapain kalau di tengah kota seperti ini. Baru saja masuk di pintu pasar, semua pedagang sudah menawarkan buah mereka. Ada markisa (buah yang paling banyak di Sumatra Utara), salak Medan, kesemek, jeruk Berastagi, dan berbagai macam lainnya.

Beraneka macam buah-buahan
Dikupasin
Setelah banyak pedagang menawarkan buah sampai dikupasin, akhirnya saya mau mencicipi buahnya asalkan ketika dikupas daging buah tidak kena tangan mereka. Sejak COVID19, saya lebih nggak mau makan sesuatu dari tangan orang lain melebihi biasanya. Dulu aja nggak mau, apalagi sekarang😑. Tapi para pedagang itu paham banget cara mengupas buah tanpa mengenai dagingnya. Saya akhirnya mencicipi banyak sekali buah. Saya suka rasa buah kesemek yang unik, salak Medan yang agak pahit tapi manis, jeruk Berastagi dengan rasa jeruk baby dicampur sunkist, juga markisa yang menjadi andalan di Berastagi. Semua saya lahap dan saya beli banyak untuk dibawa pulang.
Nongkrong makan malam
Roti srikaya
Setelah belanja buah, kami mampir ke sebuah resto untuk makan malam sekalian ngemil. Karena COVID19, saya dan keluarga sengaja mencari tempat yang sepi dari pengunjung di resto. Walaupun resto ini termasuk yang paling terkenal di Berastagi, saya dan keluarga memilih lantai 3 yang hanya kami bertiga saja disitu. Nggak mau bercampur dengan pengunjung lainnya walaupun ada social distancing antara meja. Setelah makan, kami kembali ke hotel. Saya kemudian meminta tolong kepada resto di hotel untuk mengupas dan memotongkan jeruk juga buah kesemek untuk cemilan di kamar hotel.
Cemilan sehat
3. Taman Simalem Resort
Kami hanya menginap semalam saja di Mikie Holiday Resort. Setelah sarapan, kami melanjutkan perjalanan ke Taman Simalem Resort. Tempat ini sebenarnya sangat terkenal sebelum pandemi. Pengunjung yang datang kesini bisa ribuan orang perhari. Rata-rata anak sekolah di Medan pun melakukan study tour ke resort ini. Sayangnya ketika pandemi menerpa, semua bisnis terpukul, termasuk tempat wisata.
Voucher yang nggak bisa dipake
Pearl of Lake Toba
Saya tetap ingin datang untuk melihat sendiri bagaimana keindahan Taman Simalem yang memiliki pemandangan Danau Toba dari ketinggian. Tiket masuk Rp. 200,000 perorang dan menurut saya harganya lumayan mahal. Sebenarnya tiket segitu termasuk voucher berbagai wahana yang sayangnya semua tidak bisa dipakai lagi. Kami kemudian masuk dan mendapati tempat ini super duper sepi dan kurang terawat. Sepertinya hanya saya dan keluarga saja sebagai pengunjung. Taman Simalem memang sangat luas, tapi rumput-rumput mulai panjang dan naik ke jalan. Pengelolaan jadi berkurang drastis karena pandemi.
Rumput sudah mulai meninggi
Tujuan utama saya kesini hanya untuk melihat Danau Toba. Saya parkir tidak jauh dari sisi danau, lalu dengan semangat berjalan mendekat ke danau yang terlihat seperti lautan tanpa batas ini. Dari foto-foto saya kalian bisa lihat kalau rumput-rumput sudah panjang, sehingga keindahan pemangandang di sisi danau sedikit berkurang.
Banyak ilalang yang tinggi

Masya Allah indahnya
Saya jadi tidak berlama-lama disini karena sepi. Awalnya mau makan siang disini juga nggak bisa karena memang nggak ada resto yang buka. Kami hanya duduk bersantai di tepi danau sampai ada beberapa pengunjung datang. Mereka juga menggerutu, "Ahh dulu nggak kayak gini-lah tempatnya," seraya melihat rerumputan ilalang yang meninggi. Sedih sih, tapi mau bagaimana lagi. Kita tidak bisa menyalahkan siapa-siapa.
Dandelion
Baiklah, perjalanan selanjutnya adalah air terjun paling ngetop seantera Indonesia yang saya hampir nggak jadi kesini karena abang susah banget dibujuk. Tapi akhirnya abang mau juga. Ok, Sampai jumpa!
Reactions:

0 comments:

Follow me

My Trip