Oktober 05, 2021

Mulai Beraktivitas

Satu demi satu urusan datang dan harus dituntaskan. Aktivitas pun mulai kembali normal sejak masa PPKM diperlonggar. Alhamdulillah bisa sibuk beraktifitas di luar rumah lagi walaupun belum setiap hari. Bisa ketemu orang-orang lagi sambil makan di Cafe, bisa ke bioskop, bisa nge-Mall, dan hal-hal seperti itu membuat kualitas hidup saya jadi lebih berarti. 

Kalau membaca postingan saya sebulan yang lalu tentang Kegundahan Hati dimana saya sempat depresi, sedih, lemah, dan kacau, alhamdulillah sekarang sudah jauuuh lebih baik🙂. Mungkin karena saya mulai tenang dan mengurangi pikiran yang tidak berguna. Jadi saya mau fokus dengan diri saya sendiri dulu. Baiklah, saya akan bercerita sedikit tentang beberapa kegiatan penting yang sudah saya jalani:

1. Memperpanjang Paspor
Sempat kerepotan setengah mati karena antrian di aplikasi nggak bisa terus. Selalu habis kuota. Saya sampai bingung, 'gimana nih harus memperpanjang passpor segera karena saya butuh untuk data-data di Amazon. Teman-teman sudah menyarankan saya pakai calo tapi sebaiknya jangan deh karena saya tidak suka 'jalur belakang'. Selain mahal, saya takut nanti kedepannya ada aja masalah karena dimulai dengan hal yang tidak baik. Saya sempat datang ke imigrasi Depok dan disarankan untuk langsung Whatsapp ke nomor customer service mereka. Kata satpam, selama PPKM memang sengaja nggak dibuka antrian di aplikasi untuk menghindari pertemuan tatap muka.

Alhamdulillah niat baik selalu ada jalan. Saya follow instagram imigrasi Depok dan saya mendapatkan informasi ternyata mulai Jumat 10 September 2021 antrian di aplikasi sudah dibuka. Sayangnya karena saya telat baca informasinya, jadi nggak dapat antrian. Di hari Jumat minggu depannya, tepatnya tanggal 17 September 2021, antrian passpor dibuka lebih awal yaitu pukul 12 siang (biasanya pukul 14.00). Saya langsung daftar dan mendapatkan antrian di hari Senin tanggal 20 September. Pada hari H, sungguh cepat sekali proses perpanjangan passpornya karena memang saya sudah mengurus surat keterangan domisili dari awal.
Alhamdulillah passpor jadi
Alhamdulillah urusan passpor lancar bangettt dan hari Jumat sudah bisa diambil. Akhirnya nggak usah pakai calo deh. Saya jadi membolak-balikkan lembaran passpor baru karena rasanya sangat senang akhirnya bisa perpanjang tanpa drama. Memang kalau niat kita benar, pasti lancar. Percayalah!

2. Buka Akun Amazon
Saya sempat mengira kalau bertahun-tahun ini sudah tidak ada cara lagi membuka akun. Setelah berdoa berkali-kali, akhirnya ada jalan. Tiba-tiba adik saya menyuruh 'ngetes buka akun dengan cara yang baru, yaitu verifikasi dengan interview dan video call. Sebelum saya punya passpor baru, saya minta tolong tetangga untuk buka akun dan pinjam passpornya. Ternyata sampai harus interview dengan notaris segala, dan dengan orang Amazonnya juga🥴. Tetangga saya sampai panas dingin karena ini pertama kalinya dia diinterview sama orang bule' yang logatnya American bangetttt. Alhamdulillah lancar.

Akun akhirnya berhasil buka dan saya bisa jualan lagi. Bahkan barang-barangnya juga sudah laku. Yang paling enak adalah, akun baru ini beralamatkan di Amerika jadi semua category dibuka. Bisa dibilang, ini adalah akun paling powerful yang pernah saya punya. Duh, betapa senangnya🥰. Setelah beberapa bulan hampir putus asa, ternyata akan indah juga pada waktunya.

Ada juga beberapa hal yang sedang dalam proses nih dan lagi saya usahakan banget untuk segera diselesaikan. Ceritanya dibawah ini:

1. Visa US
Dokumen udah ada semua, tapi ntah kenapa untuk mengisi form B1/B2 itu terus aja deg-degan. Akhirnya saya DM Donny (teman saya) di instagram, sekalian 'ngajakin ke US juga. Donny langsung menghubungi salah satu agen untuk mengurus Visa, dan dia baru bisa dapat jadwal interview bulan Januari donggggg😨. Kalau mau cepat, agen minta alasan kuat agar mereka bisa mengajukan hal tersebut ke kedutaan.

Beberapa artikel yang saya baca, proses pembuatan Visa Turis dan Visa Bisnis kurang lebih sama. Tapi tujuan utama saya mau ke US itu karena pekerjaan. Saya harus segera membuat Bank Account US, mengurus perpanjangan Rancupid Enterprise LLC, mengecek warehouse atau fulfillment center untuk persiapan musim semi (musim dimana orderan membludak).

Saya sudah menyuruh CMO Rancupid untuk menghubungi Kedutaan Besar Indonesia di Washington agar bisa mendapatkan referensi. Saya juga menghubungi beberapa pemilik sister company Rancupid agar mengeluarkan surat referensi. Walaupun semuanya sedang dalam proses, tapi rasa deg-degan ini selalu ada. Jadi menunda-nunda deh. Adaaa ajaa alasan untuk tidak mempercepat proses pengurusan Visa. Nggak terasa sekarang udah bulan Oktober, nanti malah udah November, terus kapan mau perginya? Belum lagi sebentar lagi musim dingin dan kalau di Amerika itu bisa dingin banget🥶.

Sebenarnya saya agak ragu dengan mutasi rekening sih, karena duit saya 'kan di virtual account (VA). Kalau tiba-tiba meriliskan dalam jumlah gede, bukannya harus data rekening dalam 3 bulan? Kalau mau menunjukkan mutasi untuk rekening dollar dari VA, apakah valid? Pertanyaan-pertanyaan yang mengganggu pikiran saya. Beberapa blog yang saya baca memang banyak yang tidak dilihat mutasi rekening atau rekening koran sewaktu wawancara. Tapi tetap aja, kalau lagi apes, nanti malah nggak ada persiapan. Semoga dimudahkan, dilancarkan, agar segera bisa ke Amerika ya Allah. Aamiinn🤲.

2. Lepas Behel
Saya tuh pengen banget kalau nanti harus ke US, karena akan dalam waktu yang lama, saya sudah lepas behel. Daripada nanti kepikiran harus kontrol lagi setiap bulan, jadi harus menyisihkan waktu untuk pulang ke Indonesia hanya untuk kontrol behel. Oh tidak!

Kalau pun saya nggak jadi operasi potong gusi, berarti saya harus menyiapkan biaya untuk retainer gigi yang harganya bisa berjuta-juta tergantung kualitas. Duh, duit lagi deh...

3. Mengunjungi Dermatologist
Ini hal yang paling ingin saya lakukan tapi nggak jadi-jadi😓. Sebenarnya Dr. Nessya sudah menyarankan saya untuk laser lagi karena bekas jerawat sudah mulai bermunculan. Wajah saya jadi banyak noda hitam, padahal selalu pakai sunblock dan NeoStrata Lotion. Tapi memang terakhir laser muka di Dermatologist sebelum bulan puasa sih, jadi udah 6 bulan yang lalu. Wajar kalau wajah sudah banyak freckless lagi.

4. Ke Ambon
Ntah berapa kali Alex nge-japri saya untuk ikut ke Ambon tapi waktunya kurang tepat. Dia ngajak di bulan ini sedangkan kantor baru aktif lagi. Kami berencana ekspor kontainer lagi, tapi kalau saya jalan-jalan, pasti akan kurang terurus. Walaupun ada tim yang lain, tapi ada beberapa fitur Amazon memang hanya saya yang tau.

Sebenarnya saya kangen jalan-jalan ke tempat yang saya belum pernah. Kangen pakai kamera PRO dan wide lens, kangen berenang di laut dengan segala suasana seramnya. Kangen pindah-pindah hotel. Semoga bulan November atau Desember bisa pergi jalan-jalan lagi ya Allah. Aaminn🤲!

Selain hal yang sudah selesai, dan yang masih dalam proses, ada juga rencana yang sepertinya gagal. Walaupun kita harus berbaik sangka pada Allah subhanahu wata'ala dan tetap berdoa semoga ada jalan, tapi saya ingin bercerita beberapa hal yang tidak bisa tahun ini:

1. Renovasi rumah
Sedih sih, tapi saya harus menghadapi kenyataan kalau saya bakalan batal renovasi. Walaupun kita tidak tau rencana Allah, walaupun saya masih tetap optimis dalam hati, tapi renovasi rumah butuh biaya ratusan juta, persiapan matang, dan harus memikirkan tanaman-tanaman saya yang banyak itu mau dikemanakan? Belum lagi peraturan PPKM yang membuat pak RT melarang segala bentuk rancang bangun di komplek ini.

Saya sudah simpan beberapa inspirasi rumah idaman dari instagram yang ingin saya bangun nanti. Mungkin akan saya pisahkan di folder tersendir di hp saya, supaya nanti ketika tiba waktunya saya bisa langsung melihat-lihat lagi desain eksterior dan interiornya.

2. Menikah
Saya kira bakalan bisa menikah dengan dia dulu. Eh malah sebelum ke Raja Ampat, harus menerima kenyataan kalau kita memang tidak bisa melangkah lebih jauh. Padahal saya sudah mengira kalau dia adalah orang yang tepat, tapi nggak tepat juga, hahahaha😂. Walaupun saya sudah move on 100%, dan sekarang malah sedang sibuk menenangkan hati. 

Sejak tahun lalu, saya ingin menikah di masa pandemi agar tidak terlalu banyak orang yang hadir karena kalau rame pasti akan membuat saya pusing tujuh keliling. Tapi tetap tidak tau rencana Allah. Toh tahun ini belum berakhir.

Sekian cerita ini. Sebenarnya kalau ditarik benang merah, hal-hal diatas semua terkendala karena duit juga sih😅. Amazon masih menahan uang saya dalam jumlah yang sangat besar tapi saya tetap optimis saja. Allah pemilik dunia, dan rezeki bisa dari segala hal. Allah juga yang mengatur jodoh. Kalau bukan milikmu, tidak akan menjadi milikmu. Tapi kalau milikmu, mau dari dunia belahan sana pun, pasti tetap akan jadi milikmu. Yang penting nggak pernah putus asa. SEMANGAT!!

September 15, 2021

Lepas Behel atau Operasi?

Akhirnya bisa kemana-mana lagi naik KRL dengan hanya scan barcode aplikasi Peduli Lindungi. Alhamdulillah kasus Covid19 di Indonesia terus melandai dan membuat kita jadi lebih leluasa berpergian. Saya baru sadar kalau vaksin seampuh ini. Dari dulu memang saya rutin vaksin flu karena memang pengaruhnya sangat besar ke tubuh saya yang memiliki riwayat asma. Jadi jarang flu dan demam, walaupun sering pulang kantor kena hujan.

Seperti biasa saya kontrol gigi sebulan sekali. Walaupun di beberapa klinik sudah tidak perlu lagi swab antigen kalau mau perawatan, khusus klinik gigi masih harus swab. Huhuhu😢, padahal udah lega karena udah ada aplikasi Peduli Lindungi, tapi mau bagaimana lagi. Setelah swab dan negatif, saya masuk ke ruang dokter. Kali ini Orthodentist ngecek gigi saya dan ternyata celah di gigi geraham tinggal 'dikittt lagi. Seharusnya bulan depan nanti sudah rapat dan selesai-lah urusan per-behelan. Tapi tunggu, 'kan kawat indikatornya masih miring.

"Kalau mau lurus, gusi diatas geraham harus dipotong lagi sih. Terserah kamu aja,"
"Operasi lagi?"
Orthodentist mengangguk. "Sebenarnya tugas saya sudah selesai. Kunyahan gigi kamu sudah benar, rahang sudah pas menutup, tidak ada celah gigi lagi. Sekarang tinggal 'gimana kamu aja mau Perfect Smile berarti potong gusi dan saya akan lihat pergerakan giginya lagi. Mungkin dalam 4 bulan sudah Perfect."
Saya langsung teringat dulu sewaktu operasi potong gusi. Kalian bisa baca di Alveolectomy di OMDC. Sangat menyeramkan, mana di bius berulang kali sampai ditusuk di rahang😭😭😭😭. Sebenarnya saya adalah orang yang perfeksionis, tapi mengingat bakalan suntik sana-sini, berdarah-darah, OMG😵!!!
Dokter bilang, "Bulan depan kasih jawaban ya. Kalau mau lanjut potong gusi, biar saya rujuk ke Spesialis Bedah Mulut. Kalau enggak, kita bisa persiapan buka behelnya."
Masih miring kan?
Saya keluar dari ruangan dokter dengan kebingungan. Kayaknya harus bertanya pendapat keluarga dan semua teman-teman apa yang harus saya lakukan. Sebenarnya potong gusi bukan operasi besar yang harus bius total. Tapi namanya juga 'operasi', efeknya sakit banget kalau biusnya sudah hilang. Belum lagi susah makan, obat-obatan bikin perut begah. Ya Allah tolong saya...

Petugas administrasi bertanya, "Mau dijadwalkan lagi kapan, Mbak?" Duh langsung teringat harus operasi.
"Nanti deh, saya telepon saja ya."

Biaya APD Rp. 75,000
Charge Pasien Lama Rp. 40,000
Kontrol Ortho Emergency Shappire Rp. 275,000

September 12, 2021

Kegundahan Hati

Sudah kurang lebih 2 bulan, suasana hati tidak menentu. Mungkin dimulai pada saat perusahaan di United Kingdom tutup, Amazon suspend (lagi), tidak bisa bertemu teman-teman, galau, menstruasi, semua bertumpuk menjadi satu. Berawal di akhir Juni, saya sudah merasa stres. Salah satunya karena pemberitaan tentang Corona dan banyak sekali orang-orang terdekat yang kena. Semakin membaca media sosial, semakin banyak pula berita duka. Saya sampai bingung harus bagaimana. Mau mengirimkan makanan untuk teman-teman yang isolasi mandiri (isoman) tapi saking banyaknya, saya nggak tau siapa yang harus diprioritaskan. Beberapa orang saya tanya, mau dikirim apa? Banyak dari mereka yang menjawab nggak usah, karena nanti tambah sedih😔. Ada juga yang dapat banyak makanan dari tetangga yang membuat kulkas penuh dan nanti mubazir kalau makanan jadi tersisa. Akhirnya saya memutuskan untuk tidak mengirimkan apa pun kepada siapa pun. Maafkan saya pada saat itu😞.

Mungkin puncak kegundahan di hati itu terjadi sekitar tanggal 20an Juli, dan berlangsung selama seminggu (karena mens juga jadi emosional banget). Amazon ini semakin ditelusuri semakin tidak ada jawaban. Semakin baca forum, semakin tau kalau tidak ada jalan keluar. Sendirian di rumah untuk mencari jalan keluar. Keluarga juga berkali-kali bertanya bagaimana permasalahan di perusahaan. Belum lagi ditambah sikap seseorang yang ketika saya datang ke rumahnya, malah beberapa kali diusir, disuruh pulang. Bahkan sampai sekarang saya masih bertanya-tanya, ntah kesalahan apa yang pernah saya lakukan sampai membuat dia bersikap seperti itu. Padahal saya hanya berniat untuk memastikan kalau dia baik-baik saja. Hmmmpphh, dunia memang tidak bisa ditebak. Orang yang biasa baik, tiba-tiba jadi sangat menyebalkan. 

Hal yang bertubi-tubi seperti itu membuat saya stres. Saya (mungkin) adalah orang yang sangat pintar mengelola stres. Tapi semakin kesini saya baru sadar kalau saya sebenarnya hebat dalam menyembunyikan stres. Dan di puncak rasa sedih, pusing, gundah, stres, yang melanda, akhirnya saya bisa nangis juga😭. Saya lupa kapan terakhir saya nangis, mungkin sewaktu kesel banget dengan mantan pacar, dan itupun sudah lama. Ketika putus cinta dengannya, efek ke diri saya lebih ke bad mood. Nggak nangis. Karena saya berpikir masih banyak yang harus saya pikirkan daripada 'dia'. Kali ini berbeda, saya nangis, seminggu, bahkan sehari bisa tiga kali, seperti waktu makan. Saya hampir nggak sanggup membuka laptop, saking stres dan sedihnya. Saya juga malas bertemu orang-orang, walaupun tetangga masih datang dan saya nggak akan menolak mereka. Mungkin ini yang dinamakan depresi (saya sampai googling arti depresi dan semua terjadi pada diri saya). Saya merasa nggak produktif, malas makan, bawaannya pengen tidur, dan berasa waktu bergerak sangat lambat. 

Alhamdulillah saya memiliki tetangga (sudah jadi teman dekat) yang sering datang, memastikan kalau saya baik-baik saja karena sedikit banyak mereka tau apa yang saya alami. Mereka terkadang hanya mau mengobrol, atau duduk diam di sofa menemani saya. Kalau saya mau bercerita, ya cerita saja. Kalau nggak ya mereka diam saja di rumah saya sambil membaca koleksi buku-buku saya yang banyak. Walaupun merasa hidup ini berat, tapi keberadaan seseorang dapat mengurangi kegelisahan hati, walaupun mereka nggak ngapa-ngapain.

Di hari kedelapan, baru saya nggak nangis lagi. Mood saya memang masih kacau, tapi sudah jauh lebih baik. Tetangga menyarankan saya untuk melakukan hobi seperti memasak atau bercocok tanam yang biasanya bisa membuat saya lebih senang. Atau menuntaskan blog. Vakum dulu dari pekerjaan, atau melihat sosial media yang terkadang bikin tambah stres. Akhirnya saya membeli buku resep masakan dan beberapa tanaman baru untuk dirawat. Melakukan hobi memang sangat menyita waktu sih, nggak terasa udah siang aja. Masih harus mandi, memikirkan harus makan siang apa, dan sedikit membereskan rumah. 

Setelah hampir sebulan saya merasa tidak memiliki semangat, akhirnya saya memutuskan untuk ke Bandung. Ntah udah berapa kali Anis mengajak menginap di rumahnya agar saya tidak kesepian, tapi saya tolak terus karena berpikir kalau udah ke Bandung pasti nanti malah main. Sampai akhirnya saya pergi juga, kali ini untuk jangka waktu yang lama. Saya tidak akan menceritakan kemana saja saya pergi karena postingan ini berfokus pada kegundahan hati.

Hari-hari awal saya di Bandung, saya bercerita semua yang saya alami pada Anis dan tante. Sebagai informasi, Anis adalah sahabat saya yang sudah seperti saudara. Saya bahkan sangat dekat dengan seluruh keluarganya. Sebenarnya tipe saya kalau berteman adalah mengenal keluarga teman-teman saya baik cewek maupun cowok, jadi saya tau bagaimana mereka dibesarkan. Kalau memang mereka dari keluarga yang baik, pasti pertemanan kita sampai sekarang. Anis mendengar dengan detail apa yang saya alami dan mengetahui dengan pasti apa yang saya rasakan. Dia sudah berbisnis sejak 2012 dimana saat itu saya masih sebagai karyawan yang mengharapkan naik pangkat atau berpindah ke perusahaan lebih besar. Apakah yang dia lalui baik-baik saja? Tentu saja tidak. Saya sudah sering mendengarkan cerita Anis tentang bisnis, jatuh-bangun, tapi kali ini semua nasehatnya benar-benar menyentuh ke hati saya.

Saya bercerita kalau di akhir Juli kemarin saya juga mengalami depresi. Seharusnya saya tidak boleh mengalami hal tersebut dimana orang-orang pada terkena COVID19. Saya takut juga kena dan saya memutuskan untuk tidak kemana-mana sama sekali. Beberapa kali saya mengecek saturasi oksigen dan suhu tubuh. Alhamdulillah normal, walaupun saya selalu merasa demam sepanjang waktu. Ntah karena AC di rumah yang terlalu dingin. Anis dan tante mendengarkan cerita saya dengan seksama dan memberikan saran, "Masalah Mumut sebenarnya udah ada jalan keluar, tinggal diurus aja." Nah semangat mengurusnya itu yang hilang ntah kemana.

Suatu hari saya pergi ke kebun teh. Saya duduk sambil minum teh tarik panas bersama Anis. Melihat pemandangan hijau seperti ini sangat melegakan dan menjadi sebuah anugrah. Jadi teringat, dulu ketika duit saya ketahan di Amazon dan berbagai macam masalah mendera, saya kembali kepada Allahﷻ. Mungkin karena waktu itu bulan Ramadhan, jadi semangat beribadah bisa full. Sekarang ditengah kegundahan yang melanda, malah ibadah saya terasa biasa saja. Shalat tetap, mengaji tetap, tapi ya begitu saja. Padahal, masih diberikan kesempatan melihat pemandangan seindah ini juga patut disyukuri. Dulu ketika perusahaan dalam masa krisis saja, saya masih bisa bolak-balik ke Bali untuk urusan pekerjaan dengan menginap di Hotel bintang 5, semuanya gratis dibayar oleh Pertamina.

فَإِنَّ مَعَ ٱلْعُسْرِ يُسْرًا 
"Maka, sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan." Surat Al-Insyirah Ayat 5.

Anis bercerita, selama berbisnis hal yang paling harus kita pertahankan adalah tidak pelit, baik untuk diri sendiri, maupun orang lain. Rejeki itu sering datang dari jalan yang tidak disangka-sangka. Sebanyak apa pun kesulitan keuangan melanda, Anis tetap berusaha untuk tetap senang membagi-bagi makanan. Masakin buat teman-teman yang datang, mengirim banyak sample produk, padahal kalau dipikir-pikir, sekali 'ngasih itu bisa sampai 100rb juga. "Tapi kan beda ya, ngasih ya ngasih aja. Jangan diperhitungkan. Ada Allahﷻ yang membalas."

Hal lain yang sangat ingin saya lakukan adalah pergi ke Amerika. Karena saya berbisnis di Amazon dan saya ingin menyewa warehouse disana. Saya sangat ingin langsung berkunjung dan mengontrol alur penjualan produk, ingin ke Amazon dan Payoneer Headquarter, memiliki US Bank Account, dan melihat sendiri bagaimana masyarakat disana beraktivitas. Seandainya duit tidak tertahan di Amazon, mungkin saya bisa pergi sekarang kesana. Tapi masalah bukan karena itu saja. Pertama adalah ijin dari Mama. Untuk bilang ke Mama tentang wacana ini saja adalah hal yang menyeramkan. Saya takut Mama berpikir kalau ke Amerika untuk jalan-jalan. Padahal saya sangat ingin melihat langsung peluang bisnis disana.

Saya membahas masalah pengurusan Visa ke teman-teman Rancupid dan ternyata mereka menyambut dengan antusias untuk menemani saya pergi dan mengurus reference letter. Rancupid memiliki Limited Liability Company (LLC) di Amerika dan sudah seharusnya kita gampang mengurus Visa. Di Bandung saya bertemu mbak Feira dan dia sudah memiliki Visa Amerika. Dia bilang juga mau menemani saya agar perijinan ke Mama tembus. Saya mulai merasa ada titik terang. Apakah Allah subhanahu wata'ala sudah menunjukkan jalan? Sebenarnya saya harus berada di Amerika sebelum musim semi karena penjualan di Rancupid sangat tinggi pada musim itu. Dan musim dingin (winter) adalah saat yang tepat. Belum lagi pernah janji sama Iyus mau melihat Balldrop (ntah kenapa dia antusias banget mau melihat bola jatuh doang😮), di New York pas tahun baru. Tapiii, dinggiiiiiinnn🥶🥶🥶!! Jadi kebayang harus bawa jaket yang mana agar bisa menahan dingin. Atau sekalian aja beli disana.

Selama di Bandung, saya menelepon Amazon berkali-kali untuk meminta uang saya diriliskan. Ntah berapa kali saya berantem di telepon dengan logat India, Singapore English, Native, pokoknya saya udah fasih 'berantem' dengan bahasa inggris dengan aksen sesuai orang yang menerima telepon dari saya. Sampai akhirnya saya menerima email kalau mereka sedang menginvestigasi masalah saya. Fiuhh, sudah lama saya menanti sebuah email dari mereka. Insya Allah sudah ada titik terang lagi.

Kembali ke Depok dengan hati dan perasaan jauh lebih ringan. Walaupun masalah belum selesai, tapi banyak jalan sudah terbuka. Mungkin saya harus lebih meningkatkan ibadah, karena satu-satunya cara untuk menenangkan hati memang dengan mengingat Allah. Tidak ada batasan dalam berdoa, bahkan kita bisa meminta seisi dunia untuk dikabulkan. Saya juga langsung mengurus perpanjangan passpor. Semoga setelah passpor selesai, uang saya rilis semua dan bisa segera mengurus Visa. Aamiiinnn!
Let's fight!
Tulisan ini saya tulis dalam kondisi flu, batuk, dan demam🤒. Semoga bukan gejala Corona. Semoga sakit ini menjadi penggugur dosa🤲. Mungkin saya mau off dulu dari main sosial media. Saya mau menyelesaikan tulisan tentang Raja Ampat dan destinasi lainnya, sambil terus memperjuangkan Amazon. Semoga saya dianugrahkan rasa sabar, seberat apa pun masalah yang melanda. Aaamiiiinnn🤲!

فَاصْبِرْ صَبْرًا جَمِيلًا
“Fashbir Shabran Jamiila”. (Maka Bersabarlah Dengan Sabar Yang Baik). QS Al-Ma'arij : 5.

Agustus 16, 2021

Kapan Lepas Behel?

Agak susah mau kemana-mana pakai kereta (KRL) di masa PPKM ini. Kita harus menyediakan surat-surat seperti Surat Tugas atau surat untuk keperluan medis, contohnya seperti saya harus ada surat yang membenarkan kalau akan kontrol gigi. Mau naik Grab ke OMDC Warung Buncit, pulang-pergi bisa hampir 200rb, belum lagi biaya kontrol gigi yang kadang hampir Rp. 500rb. Pusing juga ya.

Semua pink
Kali ini pasien di OMDC ramai sekali😕. Petugas di bagian daftar ulang sampai kelimpungan saking ramainya orang yang datang. Saya jadi harus menunggu lebih satu jam dari jadwal sebenarnya karena ada beberapa pasien yang bukan hanya kontrol saja, melainkan ada yang pasang behel juga. Sudah main hp sampai bosan, dan melihat orang-orang berlalu-lalang, masih belum dipanggil juga.

Ketika tiba giliran, saya bilang ke dokter kalau karet elastis yang sebelum ini terlalu kencang😔. Bahkan membuat rahang saya berbunyi ceklak cekluk lagi. Kadang sampai terasa hilang posisi tutup buka rahang karena bunyi klak kluk itu. Orthodentist kemudian mengecek kondisi barisan gigi atas yang masih ada celah. Dokter lalu memasang karet di gigi geraham atas sebelah kanan dan menariknya dengan sangat kencang agar cepat rapat. Duh, mulai deh rahang atas jadi terasa kencang semua. Dokter bilang kalau kali ini akan diberikan karet elastis yang lebih longgar agar tidak mempengaruhi kondisi rahang.
Garis kawat indikator masih miring
Saya bertanya, "Kapan nih lepas behel? Udah bosen pakai behel."
"Sebenarnya kalau semua udah rapat sih, bisa buka. Nanti saya suruh pakai retainer selama 2 bulan dan sama sekali nggak boleh lepas kecuali lagi makan."
"Lho, retainer bukannya dipakai malam aja?"
"Itu dibulan ketiga baru bisa dipakai malam aja. Tapi biasa pasien saya kalau kondisi rahangnya sering bergeser seperti kamu ini sangat gampang jarang lagi gigi-giginya. Jadi pemakaian retainer hukumnya wajib bahkan kadang harus seharian."
"Trus kalau kawat gigi secara horizontal belum lurus itu 'gimana?"
"Sebenarnya memang harus dipotong lagi gusinya," Oh tidak!😱 "Karena gusi tidak simetris seperti itu juga bikin gigi gampang jarang. Apa kamu mau dipotong lagi aja? Biar saya rujuk lagi ke Spesialis Bedah Mulut."
Saya langsung meringis, "Ah tidak dok, takutttt!😱😱😱" Jadi teringat akhir November 2020 saya tiba-tiba harus operasi gusi. Bisa dibaca di postingan Alveolectomy di OMDC.
Orthodentist bilang, "Ya udah kalau memang mau potong gusi lagi, nggak apa-apa juga. Tapi sebaiknya sebelum lepas kawat gigi ya. Jadi bisa diatur lagi nanti kalau ada yang jarang giginya."
Saya manggut-manggut aja. Nggak kebayang kalau harus operasi lagi, takut dan melelahkan sekali kondisi saya pasca operasi. Jadi bingung, mau lepas behel aja🤔? Apa operasi dulu baru lepas behel🤔? Huff! Semua keputusan memang di saya dan nanti saya akan pikirkan lagi.

Biaya APD Rp. 75,000
Charge Pasien Lama Rp. 40,000
Kontrol Ortho Emergency Shappire Rp. 275,000
Karet Elastis Rp. 100,000

Juli 30, 2021

Vaksin Tahap Kedua

Sempat hampir lupa mau daftar vaksin kedua, eh tau-tau tanggalnya udah deket😅. Saya coba daftar via aplikasi Halodoc, tapi kok disuruh masukin kode voucher gitu. Saya kira aplikasinya error, jadinya saya install aplikasi JAKI agar bisa mendaftar dan malah lebih gampang. Saya tinggal masukkan nama, no KTP, dan no Hp, langsung keluar jadwal vaksin kedua di Pejaten Village juga.

Sejak PPKM hari pertama, saya tidak pernah sama sekali naik kereta lagi. Agak malas mengurus Surat Tanda Registrasi Pekerja (STRP) walaupun sebenarnya bisnis Rancupid termasuk ekspor. Selain karena nggak perlu-perlu amat juga ke Jakarta, saya memang memilih untuk tinggal di rumah saja untuk menghindari virus Corona. Malah jadi suka masak berat. Semua resep di coba🍲.

Saya naik Grabbike ke Stasiun Depok seperti biasa. Sebenarnya agak ragu mau bawa dokumen apa, tapi setelah saya lihat di instagram Commuterline, kalau mau vaksin tinggal tunjukkan bukti pendaftaran saja kepada polisi yang berjaga di meja administrasi, lalu langsung disuruh masuk. Semudah itu. Bahkan nggak diminta sertifikat vaksin pertama.

Stasiun Depok Lama di masa PPKM
Suasana di stasiun Depok Lama sebenarnya nggak sepi-sepi amat. Di kereta aja saya masih berdiri. Memang masih sangat ramai orang yang harus bekerja ditengah lonjakan kasus COVID19. Saya turun di stasiun Pasar Minggu karena Rezki sudah menunggu disana. Kami kemudian memesan Grabcar menuju Pejaten Village.
Sepi dan gelap
Sesampai di Pejaten, kami harus mendaftar dulu di lantai dasar. Mall ini gelap sekali karena selain gerai makanan yang cuma bisa take away, semua toko tutup. Sedih rasanya, tapi mau bagaimana lagi. Karena menggunakan aplikasi JAKI, kita dapat antrian cepat. Saya no. 22 dan Rezki no. 23. Kita naik ke lantai 3, lalu duduk menunggu sekitar 30 menit, bahkan sempat ada senam peregangan dulu khusus untuk orang-orang yang sudah menunggu dari tadi pagi. Saya ikut aja sih senamnya. Gerakannya mirip senam SKJ yang biasa dilakukan di pagi hari sebelum masuk sekolah dulu. 
No. antrian
Sampai akhirnya no. antrian kita dipanggil. Rezki sempat pesan Puyo dulu, tapi nggak jadi di makan karena antriannya sudah dipanggil. Proses daftar ulang pun sangat cepat, lalu petugas yang tensi darah, melakukan screening, semuanya cepat. Berbeda sekali ketika vaksin pertama dimana yang tensi darah dan yang screening cuma dua orang. Kami waktu itu mengantri sampai berjam-jam. Hufff!

Tidak lama kemudian, tiba giliran saya untuk disuntik vaksin. Kali ini saya lebih pasrah, nggak difoto juga. Saya singsingkan lengan baju, memejamkan mata, lalu disuntik💉. Duhhhhh sakittttt😵😵😵!!! Walaupun hanya beberapa detik, tapi memang proses penyuntikan💉 bagi saya sangat menegangkan. Setelah disuntik, saya mengumpulkan kertas ke meja observasi, lalu pergi ke konter puyo untuk makan. Pengen makan yang manis-manis biar terlupakan rasa sakitnya disuntik. Karena nggak bisa dine in, jadi kita duduk lesehan di lorong menuju lift untuk makan Puyo. Makan pudding beginian sih mana mungkin lama, paling juga cuma beberapa menit.
Puyo
Selesai makan, kami menunggu kartu vaksinasi di cetak. Ntah kenapa kali ini lengan saya sama sekali nggak sakit. Waktu vaksin pertama malah terasa ngilu, sakit, dan nyut-nyutan. Alhamdulillah ketika observasi memang tidak ada sama sekali gejala apa pun, sehingga setelah kartu di print, kami malah lanjut jalan-jalan ke kosan Mbak Ummi.
Selesai
Baiklah, vaksin pertama dan kedua selesai. Semoga negara kita tercinta segera terbentuk kekebalan kelompok. Semoga pandemi segera usai, dan kita semua bisa beraktifitas dengan leluasa tanpa perlu masker lagi, aamiinnnn🤲. Kasihan teman-teman yang sudah 2 tahun sama sekali tidak kemana-mana. Saya masih mending udah pergi kesana-kesini, tapi tidak semua orang bisa merasakan hal yang sama 'kan?

Yuk segera vaksin dan terus berdoa kepada Allah subhanahu wata'ala agar pandemi segera berakhir. Aaminnn ya Allah🤲.

Juli 24, 2021

Berat Hati

Hanya ingin menulis sedikit, agar aku masih ingat rasanya. Sewaktu menutup jendela mobil, melihat matamu, seraya melambaikan tangan.

Dari jendela aku melihat bintang-bintang tanggal

Satu demi satu, berulang mengucapkan selamat tinggal

Kadang kupikir lebih mudah mencintai semua orang, daripada melupakan satu orang

Jika ada seseorang yang terlanjur menyentuh inti jantungmu, 

Mereka yang datang kemudian, hanya menyentuh kemungkinan

(Aan - Mansyur)

Selamat tinggal
Tulisan ini di posting, ketika aku sudah kuat untuk membacanya lagi...

Juli 03, 2021

Kontrol di Hari Pertama PPKM Darurat

Tidak ada yang tau kalau ternyata di awal bulan Juli ini masyarakat Indonesia terutama di Jawa dan Bali akan merasakan kembali Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat. Tahun lalu sih namanya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), dimana segala hal dibatasi. Di PPKM kali ini, ojek online masih jalan, kendaraan umum masih ada, Mall masih dibuka walaupun khusus untuk gerai makanan, apotik, dan kesehatan saja.

Sebelum PPKM Darurat resmi diberlakukan, saya sudah meminta penjadwalan ulang ke OMDC karena penyangga behel saya copot dan berakibat kawatnya menusuk rongga mulut. Duh, rasanya sakit banget dan mengganggu😖. Setiap buka mulut, pasti ketusuk deh kulit rongga mulut😖. Ternyata OMDC tidak bisa menjadwalkan ulang untuk ke Orthodentist karena penuhnya jadwal. Kalau mau potong kawat bisa ke dokter gigi umum saja kata mereka. 

Mengingat effort yang harus saya lakukan ke OMDC hanya untuk memotong kawat gigi doang (naik kereta, naik ojek, jauh pulak ke Pasar Minggu, harus bayar APD lagi), akhirnya saya bertanya pada ibu komplek apakah dokter gigi di ruko depan masih praktek. Alhamdulillah ternyata masih. Saya tinggal reservasi melalui Whatsapp, dan langsung mendapatkan antrian di hari yang sama. Saya tinggal jalan kaki saja ke deretan ruko depan komplek, dan langsung dipanggil masuk. Ternyata dokter gigi Rahayu ini temannya dokter Oktri, pemilik OMDC.

Proses pemotongan kawat hanya berlangsung 5 menit dengan tarif Rp. 20,000. Alhamdulillah masih rejeki untuk mendapatkan kenyamanan di mulut tanpa harus ketusuk kawat behel dan nggak usah menguras tenaga untuk pergi ke OMDC di Mampang. Dokternya baik banget dan suasana tempat prakteknya juga enak banget. Sayang, saya lupa memfotonya.

Saya juga tidak tau bakalan ada PPKM dan sudah terlanjur membooking jadwal kontrol gigi di tanggal 3 Juli 2021, bertepatan dengan hari pertama PPKM Darurat. OMDC menelepon saya tadi pagi dan bilang kalau selama PPKM darurat, yang datang kontrol gigi akan di swab antigen terlebih dahulu untuk keamanan bersama, secara gratis. Duh, baru kamis kemarin swab antigen, sekarang swab lagi. Ya udahlah, pasrah saja. 

Saya agak takut juga kalau nanti ketika di perjalanan menuju OMDC bakalan susah dapat ojek online, tapi ternyata gampang banget. Suasana PPKM Darurat yang saya rasakan dari keluar rumah sampai tiba di OMDC semua sama saja seperti hari biasa. Yang berbeda mungkin kendaraan hanya sedikit lebih lengang saja. Kalau di kereta sih seperti biasa, tidak ada peraturan yang berubah. Hanya disarankan memakai masker dua lapis, tapi yang pakai satu lapis pun tidak mengapa. Oh iya, jadwal kereta terakhir juga dimajukan menjadi pukul 21:00.

Sampai juga

Sesampai di OMDC, saya mendaftar ulang, diberikan APD berwarna pink (untuk wanita), lalu langsung di swab antigen. Agak deg-degan juga karena baru vaksin (banyak orang-orang bilang kalau setelah vaksin biasanya bakalan positif Corona, walaupun pernyataan ini agak kurang mendasar). Mana alat swab yang dimasukkan sangat dalam dan di kedua rongga hidung. Alhamdulillah saya negatif. 

Negatif, alhamdulillah
APD Pink
Saya kemudian dipanggil masuk ke ruang Orthodentist. Saya menyerahkan penyangga behel yang copot ke dokter untuk dipasangkan ulang. Dokter kemudian mengecek gigi saja, lalu bilang kalau celahnya sisa di sebelah kiri saja. Sebelah kanan sudah rapat. Haduwh, masih belum rapat juga dua-duanya😔. Dokter kemudian mencoba memasangkan penyangga behel, lalu copot. Dokter mengulang lagi memasangkannya, lalu copot lagi. Dokter bilang, "halah copot terus, nggak usah dipake' aja deh." Ya sudah, saya juga nggak masalah kalau nggak dipake'.
Kondisi gigi
Orthodentist kemudian memberikan saya karet elastis yang lubangnya lebih sempit. Beliau bilang, supaya gigi cepat rapat dan gigi geraham cepat maju juga. Sepertinya selama PPKM darurat ini saya bisa mengontrol untuk lebih rajin menggunakan karet elastis agar lebih cepat proses merapatnya celah gigi. Saya nggak akan makan yang keras-keras dulu deh, demi Perfect Smile yang sudah masuk tahun keempat ini, huhuhuhu🥲.

Biaya APD Rp. 75,000
Charge Pasien Lama Rp. 40,000
Kontrol Ortho Emergency Shappire Rp. 275,000
Karet Elastis Rp. 60,000 

Juli 01, 2021

Vaksin Tahap Pertama

Sejak awal pandemi tahun lalu, saya adalah orang yang sangat konsisten ingin di vaksin. Padahal saat itu hoax vaksin sangat menyebar di masyarakat Indonesia termasuk keluarga saya sendiri. Mungkin karena saya adalah orang yang rutin divaksin flu setahun sekali karena sangat berpengaruh di tubuh saya dan bisa meminimalisir flu yang biasanya akan berakhir dengan serangan asma. Saya juga di vaksin meningitis ketika mau umroh. Jadi saya tidak pernah punya masalah dengan vaksin, bahkan saya sangat menanti-nanti vaksin Corona masuk Indonesia, apapun merknya.

Pamer dulu

Sebelum ke Raja Ampat, beberapa teman sudah di vaksin apalagi yang tenaga medis. Saya sampai tanya sana-sini dimana saya bisa nebeng divaksin, tapi ternyata memang belum bisa untuk umum. Ya sudah saya bersabar saja. Sampai akhirnya saya membuladkan tekad, pokoknya maksimal di bulan Juli saya harus sudah divaksin, walaupun baru vaksin tahap awal. Alhamdulillah diberikan kemudahan dimana yang semula harus menggunakan surat keterangan kerja di Jakarta, sampai akhirnya hanya perlu menunjukkan KTP saja sudah bisa di vaksin. Akhirnya saya mendaftar melalui aplikasi Halodoc dan dapat antrian di tanggal 1 Juli 2021 di Pejaten Village Pasar Minggu, menggunakan vaksin Sinovac.

Agar memastikan kalau tubuh saya tidak terkontaminasi virus Corona, adik saya Yuni menyuruh untuk swab antigen dulu. Apalagi banyak sekali teman-teman yang setelah vaksin malah positif virus Corona. Walaupun mungkin mereka sudah kena Corona duluan ntah dimana, maka dari itu daripada berpikiran buruk tentang vaksin, lebih baik saya swab antigen dulu. Nah, karena saya dapat antrian vaksin di Pejaten Village, jadi saya memutuskan untuk swab antigen di jalan Warung Buncit yang sempat viral karena tempat swab sudah seperti tempat jualan pulsa, saking banyaknya dan harga bersaing (murah).

Dipilih-dipilih
Dari stasiun Pasar Minggu, tinggal naik Grab saja ke Jalan Warung Buncit. Disana kalian bisa memilih mau swab dimana. Kalau saya lebih memilih yang agak sepi, walaupun nggak sepi-sepi amat juga😅. Kalau mau harga murah sih, bisa memilih mau yang 79rb - 89rb pun ada. Harga ini jauh lebih murah daripada di bandara, bahkan lebih dari setengahnya. Kalian tenang saja, tempat swab ini sudah ada ijin Kemenkes, jadi nggak usah takut untuk swab murah meriah disini ya😉.
Ada OMDC juga
Selesai swab, saya melanjutkan perjalanan ke Pejaten Village untuk vaksinasi. Agak kaget juga antusiasme masyarakat yang ingin di vaksin seramai itu. Karena saya mendaftar via Halodoc, saya mendapatkan antrian no. 353, sedangkan sekarang masih antrian no. 200. Haduh masih lama nih ternyata😦. Saya menunggu hampir 1.5 jam sampai no. saya dipanggil dan mulai melakukan proses registrasi.
Antrian
Setelah registrasi, antrian untuk cek suhu badan dan tekanan darah pun panjang sekali. Akhirnya saya memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu agar menambah tenaga. Setelah makan siang, antrian sudah lebih sepi dan sisa beberapa orang saja. Saya kemudian lanjut ke proses pengecekan tubuh. Tekanan darah saya normal, dan suhu tubuh bagus, baru deh lanjut ke tahap selanjutnya.
Menunggu sampai ngantuk
Menunggu antrian screening mungkin memakan waktu lebih dari satu jam. Mana suasana saat itu mendung dan angin sepoi-sepoi, baru makan siang pulak, saya jadi sangat mengantuk. Sampai akhirnya dipanggil juga nama saya. Setelah diwawancara sedikit tentang riwayat kesehatan, akhirnya dapat juga antrian untuk disuntik. Duh, lama sekali proses ini berlangsung😩.
Suntik dulu
Sebenarnya saya sangat takut jarum suntik, tapi sekarang sudah lebih pasrah. Saya langsung menyingsingkan lengan baju, lalu menutup sebagian lengan dengan kain, kemudian pasrah saja ketika disuntik. Sakit sih, tapi semua berjalan begitu cepat. Ibu perawat yang menyuntik pun tidak membuat saya takut, jadi ya santai saja.

Setelah disuntik, saya duduk di tempat observasi. Lengan jadi sakit, perih, dan pegal-pegal. Tapi semua masih bisa ditahan karena biasanya memang begitu efek vaksin. Setelah 15 menit, kartu vaksinasi Covid 19 saya pun keluar dan tidak ada efek signifikan di tubuh yang saya rasakan. Saya bahkan bisa langsung pulang tanpa ada rasa sakit yang berarti.
Akhirnya sudah di vaksin

Untuk kalian yang akan divaksin bisa melakukan berbagai persiapan diantaranya istirahat cukup, jangan stress, makan makanan bergizi dan minum susu, minum air putih yang banyak, minu suplemen, saya bahkan sampai infused multivitamin, dan jangan lupa olah raga. Kalau bisa, hindari dulu keramaian untuk memastikan kita tidak terjangkit virus dari mana pun. Oh ya, banyak teman-teman bilang vaksin Astra Zeneca lebih kuat sehingga biasanya setelah divaksin malah bikin demam. Rentang waktu ke vaksin kedua pun 12 minggu. Kalau saya memilih Sinovac karena rentang waktu vaksin kedua hanya sebulan dari vaksin pertama. Mengingat Corona di Indonesia semakin menggila apalagi dengan adanya varian delta. Kalau pun nanti harus di vaksin lagi ketiga dan keempat, saya pun nggak masalah.

Saya sangat menyarankan untuk swab antigen terlebih dahulu sebelum vaksin agar memastikan tidak ada virus Corona di tubuh (walaupun keakuratan swab belum 100%, tapi masih bisa diperhitungkan). Jangan lupa ketika mengantri vaksin untuk memakai masker 2 lapis atau yang banyak lapisan seperti KN95, N95, dan lainnya.

Semoga vaksinasi ini dapat menjadi bagian ikhtiar kita dalam mengakhiri pandemi di negara tercinta ini. Aminnn ya Allah.

Juni 20, 2021

Drama di Bandara Manado

Pagi itu saya bangun jam 5 pagi, shalat Shubuh, lalu mandi. Setelah mandi saya menelepon resepsionis untuk mengantarkan early breakfast ke kamar jadi paling nggak bisa sarapan dulu pelan-pelan. Rencana saya berangkat ke bandara jam 6.30 karena antrian Genose baru buka pukul 7 pagi. Sudah cek di Google Maps waktu tempuh dari Best Western Hotel Manado ke Bandara Sam Ratulangi hanya sekitar 20 menit, jadi bisa sarapan agak santai. Rezki sudah berangkat duluan dari jam 5.30 ke bandara, sedangkan Tyo baru pulang besok.

Early breakfast menu yang saya pesan adalah Western Food yang saya harapkan berupa sandwich dan sejenisnya, juga Indonesian Food. Ketika makanan datang, Western Food hanya berupa roti dengan selai coklat dan keju 1 tangkup (dua helai) dan Indonesian food berupa nasi goreng paket komplit. Hah🙄? Bahkan western foodnya saja jauh dari ekspektasi saya. Paling nggak, dikasih-lah beberapa helai roti, ini cuma DUA banget. Huff🙄! Saya membagi nasi goreng dengan Iyus, sedangkan roti ya saya bungkus aja. Iyus juga nggak mau sarapan banyak karena masih terlalu pagi, padahal nasi gorengnya enak. Setelah sarapan, saya langsung mules. Mungkin karena ada sambal😅.

Setelah selesai urusan di toilet, saya check out dan menunggu Grab ke bandara. Beberapa menit kemudian Grab datang, lalu saya dan Iyus pun berangkat. Perjalanan ke bandara memang hanya 20 menitan, berbeda sekali ketika beberapa hari yang lalu dimana perjalanan kami dari bandara ke Hotel Sheraton hampir satu jam. Mungkin karena masih pagi, jadi nggak macet.

Sesampai di bandara, Iyus bertanya dimana tes Genose dan seperti yang saya pikirkan sebelumnya, pasti tesnya di lantai dua (di Bandara Ternate juga di lantai dua). Berhubung saya bawa koper besar ya, jadi saya berencana untuk menunggu Iyus duluan Genose, baru saya. Jadi ada yang nungguin koper-koper kita. Karena sewaktu di Ternate, tes Genose hanya membutuhkan waktu 5-10 menit sudah keluar hasilnya. Iyus bilang mending kita barengan aja karena takut telat. Saya masih bersikeras untuk gantian aja karena mana mungkin angkat koper sekalian dua begitu. Kan berat. Dan Iyus kayaknya nggak mau terlalu mendengarkan saya, dia sudah menenteng dua koper naik tangga yang lumayan tinggi🤭. Saya terdiam dan hanya mengikuti dia naik tangga.

Bandara Sam Ratulangi Manado

Benar saja, antrian Genose sudah mengular dan belum satupun orang dipanggil. Bayangkan, ini sudah jam 7:15, dan pesawat kami ke Makassar jam 09:35 dimana jam 9 boarding. Saya jadi deg-degan😨, apalagi ketika Iyus mendapatkan antrian kita no. 43. OMG😱! Saya melihat antrian swab antigen yang hanya sedikit, tapi tertulis kalau hasilnya akan didapat 30 menit - 1 jam. Duh lama banget. Ini jadi galau, mau swab nanti hasilnya lama, apa mau Genose tapi antrian panjang? Saya melihat Iyus mondar-mandir terus karena panik. Saya sudah berusaha menenangkan diri walaupun sebenarnya panik juga😨. Iyus sudah memegang KTP kita untuk bersiap-siap kalau dipanggil, tapi tetap saja masih lama. Kita sampai menghitung-hitung, kalau seorang 1 menit, berarti antrian kita baru dipanggil jam 8 lebih. Duh seram juga😨.

Sudah pukul 7:45 dan masih no. antrian 20an. Iyus menyuruh saya melihat nomor antrian sisa berapa lagi dan saya langsung berjalan ke meja pendaftaran. Saya sekalian mengobrol dengan bapak-bapak basa-basi bertanya, "bapak nomer berapa?" Dan ternyata nomor 49. Duh lebih jauh lagi. Saya melihat beberapa nomer 30an diatas meja yang ditaruh orang-orang yang batal Genose. Semula saya mau ambil tapi langsung dibereskan oleh bagian pendaftaran.

Sampai ketika seorang ibu-ibu memberikan no. antrian ke 26 ke bapak yang saya ajak ngobrol tadi. Bapak itu melihat kertas antrian, lalu menatap saya. Saya bilang, "Pak, kita bareng aja ya?" Bapaknya mengernyit, "Hah? Bareng?" Saya sempat melihat Iyus yang daritadi memperhatikan saya mengobrol dengan si Bapak.
Antrian no. 26 dipanggil. Saya mengikuti bapak ke meja pendaftaran. Saya langsung bertanya pada ibu-ibu di pendaftaran, "Bu, kalau satu nomor untuk 2 orang bisa?"
"Boleh kok, sini KTPnya sekalian."
Untung saja Iyus sudah berdiri di belakang saya dan saya langsung minta KTP kita. Nama kita bertiga terdaftar, dan saya langsung membayar ke si Bapak.
Iyus terdiam melihat saya, "Gilak lo ya."
Saya tertawa dan bilang, "Itu namanya teknik sosial."

Kita bertiga dipanggil berbarengan untuk Genose, lalu kembali ke kursi masing-masing. Bapak-bapak didepan saya sempat bertanya nomor saya, mungkin karena beliau melihat saya kok udah maju aja ke depan. Saya jawab, "no. 26 Pak!" Dan beliau langsung mengerti, "Oh nomor awal ya." Sebenarnya banyak sekali nomor yang dipanggil tapi tidak ada orangnya, jadi seharusnya no. 43 pun masih keburu untuk duluan Genose. Tapi yang penting kita sudah Genose duluan, jadi sudah lega dan nggak usah pikirin orang laen.

Saya lalu melihat si Bapak (yang barengan Genose dengan kita) mengatakan sesuatu ke petugas Genose, lalu beliau pergi ntah kemana. Sempat berpikir, ini jangan-jangan si bapak mau menitip Genosenya🤔. Ketika hasil Genose keluar, kita bertiga berada dalam satu kwitansi. Saya melepaskan lembar saya dan Iyus, lalu bilang ke petugas Lab kalau saya menitip hasil si Bapak tadi. Petugas Lab menyuruh menitip di pendaftaran, tapi saya lihat bagian pendaftaran sudah kalang kabut dengan tugas dia mendata KTP orang-orang. Agak nggak mungkin untuk dititipin deh🤔.

Saya lalu berbicara pada satpam, "Pak, saya titip hasil Genose teman saya dong. Nanti dia datang kesini. Dia sedang pergi ntah kemana."
"Lho, kalian barengan 'kan?" Saya mengangguk, "Ya udah kenapa nggak telepon aja."
Duh saya langsung kebingungan. Iya juga sih, masa temenan nggak ditelepon aja, "Udah berapa kali saya telepon, tapi nggak diangkat Pak." Saya ngeles.
"Ya udah bawa aja, nanti juga diangkat." Duh!
Saya dan Iyus turun seraya kebingungan. Ini mau digimanain hasil Genosenya, nanti si Bapak nggak bisa terbang. Kami lalu bertemu dengan petugas bandara dan melapor, "Pak, hasil Genose teman sa--," 
Iyus menyela, "Ini ada hasil Genose jatuh Pak. Nggak tau punya siapa."
Dalam hati saya bergumam, duh tadi kan alibinya si Bapak temen kita yang teleponnya nggak bisa diangkat. Kenapa sekarang ada Genose jatoh?
Petugas bandara bilang, "Oh taruh saja di informasi. Nanti diumumkan. Tuh informasi dibawah tangga."
"Tapi nggak ada orang Pak di informasi," lanjut Iyus.
"Itu di monitor ada orangnya,"
"Lho?"
Kami berjalan menuju informasi dan ternyata benar ada orangnya di dalam monitor. "Ada yang bisa saya bantu?"
"Bu, ada hasil Genose terjatuh. Atas nama (sebut saja) Adam."
"Oh baik, taruh saja hasil Genosenya disitu, nanti saya umumkan." Saya menaruh hasil Genose dan kwitansi di meja informasi.

Akhirnya saya dan Iyus masuk juga ke ruangan cek in dan syok lihat antrian yang sangat panjang😱😱😱. Duh, keburu nggak yah, tapi masih ada satu jam lagi. Saya dan Iyus pisah barisan supaya nanti siapa yang duluan aja. Walaupun pada akhirnya kami sampai ke konter cek in dalam waktu bersamaan. Sayup-sayup terdengar bagian informasi memberitahukan kalau ada Genose terjatuh atas nama Adam. Tapi jujur saya ragu apakah Pak Adam beneran mendengar pengumuman ini🤔.

Petugas maskapai Citilink kemudian meminta hasil Genose dan kwitansi ketika kami cek in. Saya keheranan, "kok kwitansi sih?" 
"Mohon maaf, kalau tidak ada kwitansi, kita tidak bisa mengijinkan kalian untuk cek in."
"Tapi ini 'kan udah valid." Saya menunjukkan stempel validasi.
"Mohon maaf ini sudah peraturan bandara."
Iyus bertanya, "Dimana kwitansinya?"
Petugas bandara bilang, "Bisa minta lagi aja sama petugas Genose."
"Tadi gw taruh di meja informasi." kata saya kepada Iyus sebelum dia tiba-tiba memutuskan untuk pergi ke tempat Genose lagi. "Tapi kalau Pak Adam udah ngambil hasil Genosenya, pasti udah nggak ada lagi juga kwitansi disitu."
Tanpa ba-bi-bu, Iyus berlari keluar meninggalkan saya di konter cek in kebingungan😵‍💫. Saya panik dan berusaha bernegosiasi kepada petugas masalah kwitansi. Tapi tidak sampai 5 menit, Iyus sudah kembali dengan Genose Pak Adam, dan kwitansi. Saya lega, tapi masalah belum selesai.

Petugas Citilink membaca nama di kwitansi, "Oh Pak Adam? Pak Adam jadi berangkat?"
Kami kebingungan. Kok kenal?
"Nggak tau," jawab Iyus.
"Tapi ini Genosenya?" tanya petugas Citilink lagi.
"Tadi kita barengan mbak di ruang Genose. Tapi Pak Adam menghilang."
Tiba-tiba bunyi dering telepon dan petugas Citilink bilang, "Oh ini Pak Adam telepon. Iya Pak, bapak jadi berangkat ya? Ini genosenya sudah sama saya."
Saya keheranan, kok bisa kebetulan begini🤔??? Saya bilang, "Mbak, saya titip Genosenya Pak Adam disini aja ya."
Petugas mengiyakan dan akhirnya kami bisa cek in. Duh, sungguh melelahkan.

Setelah cek in, saya dan Iyus ke toilet. Baru setelah itu menunggu di boarding gate. Tiba-tiba saya mules sesaat sebelum boarding dan membuat saya harus lari ke toilet. Saya sampai mendengarkan panggilan boarding dari toilet tapi untuk antrian depan duluan. Setelah saya selesai, saya mengajak Iyus mengantri boarding sampai tiba-tiba dia bilang, "Haduh, gw mendadak mules." OMG😱! Kan mau terbaaang!! Iyus berlari ke toilet dan saya mengantri boarding. Saya mulai panik, teringat dulu teman saya telat boarding Citilink juga. Setiap ada orang yang mau mengantri, saya selalu pindah ke barisan paling belakang. Rencana saya kalau memang Iyus belum selesai, saya mau negosiasi sama petugas. Saya sudah menelepon, nge-Whatsapp, semua saya lakukan supaya Iyus cepetaaaaan😫😫😫! Lagi panik-paniknya, eh saya melihat Pak Adam juga mulai masuk antrian. Beliau sepertinya tidak mengenali saya.

Sampai akhirnya sisa 2 orang lagi didepan saya, baru Iyus datang seraya berlari. Duh saya lega banget😮‍💨. Saya sempat takut nanti gantian saya mules lagi karena panik, tapi untung enggak. Huff, alhamdulillah akhirnya bisa boarding😮‍💨. Untungnya kita duduk di kursi darurat, jadi tempat kaki bisa lebih luas. Duh capek sekali hari ini. Pesawat akhirnya terbang dan Iyus langsung terlelap. Dia seharusnya lebih capek daripada saya karena harus angkat-angkat koper sana-sini. Saya baru bisa tidur 30 menit kemudian dengan nyenyaknya karena capek juga.

Dua jam kemudian, alhamdulillah kami tiba dengan selamat di Makassar. Iyus mengambilkan bagasi kabin saya dan kami berpisah di pesawat karena dia akan melanjutkan penerbangan ke Surabaya. Saya berpamitan kepadanya, sampai jumpa di Jakarta👋, lalu saya turun dari pesawat. Nggak terasa akhirnya sampai ke Makassar lagi, padahal baru beberapa bulan yang lalu ke kota ini. Oh iya, Pak Adam juga turun di Makassar. Duh, bapak ini lagi dan lagi😅.
Sampai juga Alhamdulillah

Baiklah, nanti saya akan bercerita tentang pengalaman di Makassar. Sampai jumpa ya!

Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar

Mei 30, 2021

Kontrol Setelah Lebaran

Kawat gigi biasanya sangat amburadul setelah Lebaran. Kenapa? Pastilah karena terlalu banyak makan. Padahal selama bulan Ramadhan, saya selalu memakai karet elastis agar posisi rahang tepat di tengah dan celah gigi bisa cepat tertutup. Sayangnya memang tulang gigi saya ini sangat sulit di kondisikan sehingga baru berhenti pakai karet elastis beberapa hari aja langsung gigi bisa bercelah lagi. Lagian, agak susah kalau makan daging dengan memakai karet gigi, pasti nyangkut. Kalau mau buka terus pasang lagi agak ribet, apalagi kerjaan di rumah ketika lebaran udah sampai membuat saya encok. Huff!

Klinik gigi
Orthodentist memeriksa gigi dan akhirnya mengikat semua gigi saya dengan kawat sampai sangat kencang. Saya jadi susah membuka mulut. Dokter bilang, dua geraham saya mau dimajukan dulu agar lebih mempercepat celah gigi merapat. Kalau mau pakai sisa karet elastis boleh saja, tapi ikatan kawat gigi ini sudah sangat kencang jadi saya hanya pakai sesekali saja. Masih ada celah diantara gigi taring dan gigi seri, walaupun hanya kecil. Ntah kenapa celah ini lamaaaa sekali rapatnya😩.
Kondisi gigi
Tidak ada saran yang terlalu signifikan untuk perubahan susunan gigi saya pada hari itu. Menurut saya, deretan gigi masih sama saja, agak miring ke sisi kanan. Ya sudahlah, kita bersabar saja sampai dua celah gigi ini bisa merapat, baru nantinya akan dibenarkan lagi struktur gigi secara horizontal.

Biaya APD Rp. 75,000
Charge Pasien Lama Rp. 40,000
Kontrol Ortho Emergency Shappire Rp. 275,000

Mei 12, 2021

Idul Fitri 1442 H

Alhamdulillah akhirnya bisa pulang mudik di tanggal 29 April 2021 kemarin. Sengaja pulang lebih awal  untuk menghindari pembatasan mudik di tanggal 6 Mei 2021 - 17 Mei 2021. Sempat was-was juga dengan peraturan pengetatan dari tanggal 22 Apr 2021, karena sudah beli tiket pulang ke Aceh dan udah belanja oleh-oleh terlalu banyak, hahaha🤣.

Saya akan menuliskan beberapa cerita di Ramadhan tahun ini yang agak berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.

1. Di rumah rame

Mungkin beberapa tahun yang lalu, rumah saya memang sering rame kalau bulan Ramadhan. Biasanya teman-teman yang masih ngekos suka ngumpul di rumah saya untuk sekedar sahur dan buka bersama. Kami biasanya masak bareng, lalu makan bareng juga.

Sejak sudah mulai berkantor di Rancupid yang biasanya kita masuk juga di Ramadhan, jadi udah nggak pernah ada temen-temen nebeng di rumah. Apalagi tahun lalu ketika pandemi baru terjadi di negara kita, saya hanya sendiri saja. Mana nggak bisa pulang kampung. Untungnya punya tetangga yang baik yang selalu berkirim makanan enak sampai saya terkadang nggak usah masak di rumah.

Tahun ini ada Baitil yang ngekost di rumah dengan uang kosan adalah coklat seplastik🤣. Tau aja ibu kostnya suka banget makan coklat. Dia baru pulang dari Penajam (ibu kota baru) dan transit dulu di Depok untuk mengurusi surat-surat Kedokteran di UI. Lalu ada Farah, keponakan yang umurnya cuma beda sedikit dengan tantenya yang juga sedang mengurusi beasiswa kedokteran UI. Lucu juga ada Farah, berasa punya anak gadis karena manja juga dia sama tantenya. Yang nebeng di rumah semua lulusan UI kedokteran. Lumayan banyak dokter pribadi, hahaha. Alhamdulillah saya jarang sakit.

2. Ke Sumatra Barat dan Riau

Ini pertama kalinya saya merencanakan jalan-jalan di bulan Ramadhan. Biasanya saya memaksimalkan Ramadhan to the fullest karena memang bagi saya bulan ini kesempatan untuk belajar agama lagi, khatam Qur'an, memperbanyak shalat, mengulang hafalan Al-Qur'an, dan melakukan ibadah lainnya. Tapi untuk bersafar? Bagaimana dengan ijin ke Mama? Untung ada Baitil dan Rezki yang menemani karena Mama pasti nggak mengijinkan saya pergi dengan teman baru. 

Masjid Raya Sumatra Barat
Sebenarnya melakukan safar itu juga pahalanya banyak dan ada tantangan tersendiri. Mumpung awal-awal saya masih menstruasi, jadi bisa mencoba menyesuaikan diri dulu sebelum harus puasa beneran. Saat ijin dari Mama sudah dikantongi (tinggal disogok oleh-oleh mukenah dari Bukittinggi😛), akhirnya kami terbang ke Padang jam 7 pagi menggunakan Citilink. Ngantuk banget sih, tapi 'kan saya nggak puasa jadi masih lebih santai.

Ternyata seru juga Ramadhan di kota orang (nanti akan saya post cerita lengkapnya). Kita bisa terus buka buasa bareng-bareng, lalu mampir ke Masjid Raya Sumatra Barat yang indah sekali. Nambah teman baru juga dan waktu terasa begitu cepat. Tiba-tiba aja udah waktunya berbuka puasa. Kebayang sewaktu harus menuruni tembok China dengan cuaca sangat terik, lagi puasa pulak, OMG🥵! Setelah buka puasa pun, saya masih harus nyari cemilan karena belum kenyang.

Tapi yang namanya jalan-jalan pasti menguras tenaga. Kadang malam-malam udah capek banget mau tarawehan lagi, tapi tetap saya usahakan untuk tidak meninggalkan taraweh dan tahajjud. Nah yang paling susah untuk tadarus (mengaji) dan muroja'ah (mengulang hafalan Al-Qur'an). Udah keburu ngantuk duluan. Baru buka Qur'an udah ketiduran. Untungnya udah curi start juga dari sebelum Ramadhan untuk mengantisipasi kalau nggak sempat mengaji. Setelah jalan-jalan dan kembali ke Depok, jadi harus ngebut untuk khatam walaupun pada akhirnya dapat mens (lagi) dan sisa beberapa juz sebelum khatam. Yang penting sudah berusaha.

3. Belanja

Sudah berapa tahun nggak hunting baju lebaran apalagi ke Tanah Abang yang pasti penuh banget. Tahun ini malah belanja mukenah di Bukittinggi dan serunya masih seperti ketika pergi ke Tanah Abang. Untung belanja bareng Baitil dan Rezki, yang sama-sama orang Aceh. Jadi bisa merasakan lagi keseruan menawar barang, mencoba barang, memilih warna, dan mencocokkannya. Kita di satu butik aja bisa 2 jam saking serunya, dan berhasil memborong banyak belanjaan. Untung juga butik sepi, jadi nggak usah terlalu berpikir untuk social distancing. Semoga teman-teman yang menunggu di mobil nggak ngambek, hihihi😬.

Dipilih-dipilih mukenahnya
Barang belanjaan kita

Saya juga belanja banyak cemilan untuk oleh-oleh keluarga di kampung. Saking banyaknya barang yang dibeli, sebagian harus saya kirimkan via cargo karena pasti kalau pakai pesawat bisa over baggage. Jiwa belanja saya kembali datang di Ramadhan ini dan jadi heran sendiri melihat setiap hari datang paket ke rumah.

4. Buka Bersama

Sepertinya Ramadhan tahun ini saya tidak pernah sama sekali buka puasa sendirian, Alhamdulillah! Selalu bareng teman-teman, ntah itu di rumah, lagi di Sumatra Barat atau Riau, atau memang merencanakan buka puasa bersama di Mall atau di Hotel. Suasana sudah sangat berbeda dari tahun lalu, walaupun masih dalam suasana pandemi.

With my Rancupid
Bersama teman-teman di Sumatra Barat

Baru kali ini juga selama 6 hari berturut-turut saya buka puasa dengan Nasi Padang atau menu Melayu yang notabene banyak kuah kari, minuman manis, dan menu kolesterol lainnya😮. Padahal sudah hampir setahun saya makannya cuma panggang, rebus, dan gorengan sesekali aja. Eh, dihajar di bulan puasa tahun ini. Nggak apa-apa deh, yang penting seru. Apalagi bareng teman-teman ketika ngetrip. Jadi pengalaman baru juga.

Menu super mantap untuk buka puasa

5. Ramadhan di Aceh

Hal yang paling saya rindukan adalah menghabiskan Ramadhan di Aceh. Saya rindu shalat taraweh di masjid yang berganti-ganti (Mosques Hopping) bersama keluarga. Saya rindu juga suara tadarus yang terdengar setiap malam dari semua masjid, rindu makanan untuk berbuka, rindu keluyuran setelah shalat taraweh, rindu pesantren kilat, rindu semuanya. Makanya saya merencanakan pulang lebih awal agar bisa merasakan semua suasana itu. 

Apalagi di suasana mau dekat lebaran dimana Mama sibuk menyuruh saya membantunya bikin kue kering, masak rendang dan lontong, dan sebagainya. Sudah lama saya tidak sibuk di dapur. Biasanya di Depok semua sudah bisa dipesan atau diurusin. Tapi membantu Mama di dapur memang ada keasyikan tersendiri apalagi mau lebaran. Belum lagi harus mengiris bawang, cabe merah, cabe hijau, dalam jumlah sekilo. Kebayang tangan jadi pedes dan mata perih. Saya mengiris sambil menangis (bukan teringat mantan ya😅). Sampai akhirnya semua menu Lebaran berhasil dimasak.

Nastar oteweee

Touco otewee

Akhir kata, Selamat Hari Raya Idul Fitri 1442 H. Mohon maaf lahir dan batin🙏.

Taqabalallahu minna wa minkum shiyamana wa shiyamakum wa ja’alna minal ‘aidin wal faizin.

تَقَبَّلَ اللّهُ مِنَّا وَ مِنْكُمْ صِيَمَنَا وَ صِيَمَكُمْ وَجْعَلْنَا مِنَ الْعَائِدِين وَالْفَائِزِين

"Semoga Allah menerima (amal) dari kami dan (amal) dari kalian, puasa kami dan puasa kalian. Dan Semoga Allah menjadikan kita bagian dari orang-orang yang kembali (kepada ketaqwaan/kesucian) dan orang-orang yang menang (dalam melawan hawa nafsu dan memperoleh ridha Allah)."

Selamat makan rendang

April 24, 2021

Kontrol Ramadhan

Setelah sebulan lebih nggak kontrol, akhirnya datang juga jadwal yang sudah di booking dari sebulan yang lalu. Pas banget saya baru pulang travelling dari Raja Ampat, Sumatra Barat, dan Pekanbaru. Udah ntah 'gimana ini kawat giginya. Oh iya, kali ini OMDC memberikan saya Alat Pelindung Diri (APD) berwarna pink yang cocok banget dengan tema klinik yang serba pink. Kebayang kalau pasien cowok yang pakai, pasti jadi cute😙.

APD Pink

Ketika tiba giliran saya untuk kontrol, tiba-tiba Orthodentist nanya:

"Eh iya gimana di Raja Ampat?"
"Lho, kok dokter inget?"
"Inget dong, kan kamu nego sama saya untuk nggak pake kawat elastis."
Saya langsung ngakak😂, "Indah banget disana dok😍. Surga dunia. Dokter ngga kesana?"
"Males ah saya udah punya bontot. Nanti kalau saya kenapa-napa, siapa yang sekolahin? Temen saya dulu naek gunung, eh nggak pulang lagi." Dokter jadi curhat.
"Hmm, kematian itu dimana aja dokter... 😇" Lalu hening.

Dokter lalu membuka karet gigi saya, sambil terus bertanya:

"Dapat tiket berapa kemarin?"
"125rb pulang-pergi dokter." (Berusaha menjawab sambil gigi di bongkar-bongkar)
"Wah murah banget. Pakai pesawat apa?"
Saya mulai kesulitan mau menjawab karena bibir ditarik-tarik, gigi ditekan-tekan, "A-asia.."
"Apa?" tanya dokter.
"ArAsia..."
"Oh murah ya? Kok bisa murah?"
Saya diam.
"Apa karena maskapai budget?"
Saya geleng-geleng. Mana tangan lagi pegang hp. Mau nunjuk ke mulut susah.
"Trus kenapa murah banget?"
Akhirnya saya nunjuk-nunjuk ke mulut. Trus dokter tertawa😂, lalu menyuruh saya berkumur.
"Saya nggak bisa jawab pertanyaan dokter selagi dokter ngerjain gigi sayaaa...😭😭😭"
Dokter lalu ngakak banget🤣🤣🤣. Saya merasa dikerjain.

Sebenarnya dokter mau memotong gusi saya (lagi) yang sebelah kiri seperti yang beliau lakukan di bulan yang lalu (sebelah kanan). Tapi karena saya sedang berpuasa, takut air dari bornya heboh nanti tertelan, jadi ditunda bulan depan aja. Selama sebulan ini, saya diwajibkan memakai karet elastis lagi agar gigi lebih rapat. Kalau lagi berpuasa dan di rumah aja sih sebenarnya nggak apa-apa pakai karet elastis. Tapi kalau lagi jalan-jalan, snorkeling, atau kulineran di kota baru, duh karet elastis ini mengganggu sekali. Berhubung mau pulang kampung, jadi saya pakai aja biar cepet rapi.

Kalau dilihat dari foto sih, gigi atas saya masih miring. Ntah kenapa rahang saya sulit sekali dilurusin. Awalnya perkiraan dokter hanya 2-3 tahun saja, ehh ini udah mau 4 tahun tapi belum selesai juga. Huff, baiklah, saya ikuti saja semua saran dokter. Toh wajah saya sudah berubah drastis dari tahun demi tahun.

Gigi atas masih miring
Biaya APD Rp. 75,000
Charge Pasien Lama Rp. 40,000
Kontrol Ortho Emergency Shappire Rp. 275,000
Karet Elastis Rp. 60,000

Follow me

My Trip