Maret 29, 2021

Akhir Cerita Tentangmu

Dear Rio, sudah banyak cerita yang aku tulis tentangmu, sejak 2016, ketika aku sering dinas ke kota Malang. Dulu, aku masih belajar caranya berbisnis tanaman, dan aku terbang ke kotamu untuk melihat lahan disana. Walaupun saat itu kamu berada di Ponorogo dan jarak antar kota Malang dan Ponorogo tidak dekat. Aku bahkan lupa kenapa memilih Malang, padahal kalau mau melihat lahan pertanian dan perkebunan bisa ke Bogor atau Bandung😅. 

Beberapa kali kita janjian bertemu di Malang, tapi tidak pernah jadi. Ntah berapa janji yang kamu batalkan untuk bertemu denganku, sampai aku sendiri heran, apa se-sibuk itu orang Bank yang jabatannya saja masih belum tinggi🤔. Atau memang kita tidak seharusnya bertemu. Atau aku bukan cewek yang cantik? Karena kamu memang sangat ganteng. Padahal, kita bisa bertukar pikiran tentang apa pun, termasuk tentang travelling yang mungkin bisa membuat obrolan kita nyambung. Kamu juga jago motret, dan pada saat itu aku tidak mengerti tentang kamera. Jadi aku hanya mengagumi foto-foto travellingmu dari instagrammu yang sekarang sudah sangat banyak kamu sembunyikan, ntah kenapa🤔.

Tahun demi tahun berlalu begitu saja. Terkadang kita tidak pernah saling sapa hingga berbulan-bulan, sampai akhirnya selalu aku yang memulai menyapa kamu. Aku pernah sampai unfollow kamu di instagram dan kamu malah tau dan bertanya kenapa, sampai-sampai kamu unfollow aku juga dan akhirnya kita follow-follow-an lagi😅. Kalau sekarang aku pikir-pikir, kenapa setiap kita mulai renggang, selalu harus aku yang memulai untuk menetralisir suasana? Kenapa juga setiap ada masalah di social media, seolah itu adalah masalah serius? Padahal social media bisa jadi hanyalah dunia tipu-tipu dan aku pun bisa merekayasa semua hal berkaitan denganku. Tapi memang aku tidak melakukannya.

Sampai di tahun 2018 aku mulai capek berurusan denganmu. Keterbatasan jarak untuk bertemu dan hanya postingan-postingan yang nggak penting di social media membuatku lelah. Aku memilih untuk menjalin hubungan dengan cowok lain yang aku kira lebih baik. Ketika bersamanya, aku sama sekali tidak peduli status yang kamu posting di social media, apa yang kamu lakukan, pokoknya semua tentangmu aku tak peduli, kecuali ketika kamu melakukan perjalanan ke Khasmir. Kita chatting berkali-kali, sampai pacarku marah (kalau diingat lagi, hal ini konyol sekali😑). Sampai akhirnya aku hanya membalas sedikit chat darimu untuk menjaga perasaan pacarku.

Tahun 2019 akhir, aku selesai berurusan dengan pacarku. Kita kembali dekat, apalagi ketika kamu sudah pindah ke Purwodadi dan mulai kuliah di Universitas Diponegoro, Semarang. Teringat dulu aku sering membantumu mencarikan penginapan di Semarang, agar murah dan tidak perlu capek bolak-balik ke Purwodadi. Aku juga senang karena kamu selalu perhatian dengan semua postingan story di instagramku. Termasuk ketika aku ke Australia, kamu mengomentari semua postinganku karena ingin kesini juga. Kita bahkan sudah merencanakan untuk berlibur ke Sapporo di tahun 2020, sampai kamu memberikan passpormu kepadaku untuk disimpan, kali aja ketemu tiket promo agar bisa langsung beli tiket. Walaupun pada akhirnya kamu ke Vietnam, dengan cewek itu🙄... Semula aku tidak peduli, tapi sejak aku melihat foto kalian berdua dengan berbagai angle, maka aku mulai curiga... Tapi rasa curigaku berakhir sudah ketika kita bertukar kado ulang tahun. Pada saat itu aku sangat suka kado dari kamu. Pilihan yang sangat pas menurutku.

Jujur saja, aku sangat senang ketika kamu pindah ke Jakarta dan aku tau hal ini langsung dari kamu. Biasanya aku tau kamu ke Jakarta harus dari postingan instagram. Aku mengajak kamu bertemu sampai beberapa kali, baru akhirnya kamu mau. Disini sebenarnya aku bingung, kenapa masih nggak mau ketemu juga. Walaupun akhirnya ketemu dengan tujuan aku harus buka rekening di bank kamu. Nggak masalah sih, tapi sebenarnya hal ini tidak boleh dilakukan ketika memulai pertemuan dan pertemanan. Berteman ya berteman saja, tidak musti ada kepentingan disana.

Sampai akhirnya kita sangat dekat. Kita sering chatting dan ketemuan hanya untuk saling curhat. Aku suka mendengar cerita tentangmu, apalagi kegalauan harus masuk kantor di kala pandemi. Aku juga suka kalau kamu cerita tentang keluarga, apalagi masa-masa kecil di Aceh. Aku bahagia banget ketika kamu membawa oleh-oleh dari Bali, walaupun hanya tumbler Starbucks bertuliskan 'Bali'. Tapi kamu waktu itu cerita, "Aku nggak pernah bawa oleh-oleh, bahkan untuk ibuku saja engga. Tapi ini khusus untuk kamu☺️." Mendengar itu, aku pun melayang.

Kita terbiasa menyimpan banyak cerita, hanya untuk diceritakan ketika bertemu. Aku juga senang setiap harus menemanimu ke dokter gigi karena kamu penakut😆. Cabut gigi saja malah minta bius total😆. Aku harus berada di sisimu kalau kamu mau cabut gigi, atau kalau harus pasang kawat gigi selanjutnya. Kamu lucu ketika mengadu padaku, "Aku gemetaran." Seraya memberikan tanganmu untuk aku pegang. "Nggak apa-apa, ada Mumut disini☺️." Kataku sambil memegang tanganmu.

Demi aku, kamu mulai menyukai bercocok tanam. Tapi aku heran ketika aku ingin memperkenalkanmu dengan teman-temanku yang memiliki hobi sama, tapi kamu nggak mau. Aku pernah mengajakmu ke rumahku karena teman-temanku pada ngumpul, dan kamu juga sungkan. Aku agak bingung kenapa🤔. Padahal teman-temanku adalah orang yang baik dan mudah bergaul. Seharusnya kamu akan merasa nyaman bersama mereka. 

Aku sering banget mengajakmu pergi, kemana pun. Aku mengajakmu ke Bandung, kamu bilang nggak bisa. Aku berusaha mencarikan waktu dimana kamu akan bisa, tapi kamu tetap bilang nggak bisa. Sampai ketika aku melihat postingan kamu ke Bandung juga, tanpa mengajakku. Alasan yang kamu berikan adalah karena kamu pergi bersama teman-teman dan kalian sudah janjian berbulan-bulan yang lalu. Aku juga pernah ngajak ketemuan karena aku kangen dan permasalahan kantor lagi banyak. Aku ingin kamu mendengar ceritaku. Pada saat itu kamu bilang kalau sedang tidak mau kemana-mana dulu karena orang-orang di kantor kamu banyak yang terkena Corona. Aku paham, dan aku tidak memaksamu. Tapi yang aku lihat, kamu malah ke Lampung, bahkan 2 hari setelah aku ajak keluar. Lalu, apa kabar corona?🙄

Sepertinya mulai saat itu, kita renggang. Tapi aku masih berusaha menjaga hubungan baik. Sampai ketika aku pulang dari Medan, kita akhirnya bisa bertemu dan aku menumpahkan semua kekesalan juga kekecewaanku di mobilmu ketika kamu mengantarkanku pulang. Dan kamu terlihat menyepelekannya. Aku sedih banget, tapi kamu hanya menanggapi seadanya. Walaupun akhirnya kamu tetap mendengar ceritaku di Fat Bubble, yang sampai sekarang menjadi salah satu Cafe kesukaanmu.

Ketika aku mendadak harus operasi gusi, aku memberitahumu, dan kamu tidak menanggapi apa pun😢. Padahal kamu sedang berada di Mall Ambassador untuk memperbaiki Iphone-mu yang mendadak mati semalam. Aku sedih, walaupun aku memiliki teman-teman di sekitarku yang selalu menanyakan kondisiku pasca operasi. Kemudian aku mulai berpikir, hal ini terlalu memberatkan perasaanku. Bahkan kamu mulai memposting kalau di kala kamu lelah menghadapi kerjaan di akhir bulan dan tesis, kamu mendapat support dari cewek itu (lagi). Kamu bilang kalian teman, tapi pertemanan antara cewek dan cowok seharusnya tidak sedekat itu. Tapi aku masih berusaha untuk tidak terlalu peduli.

Aku berusaha untuk menenangkan hati yang sudah selalu sedih karena kamu. Sampai ketika kamu akan wisuda, aku mengirimkan kado. Aku berpikir keras agar hadiah ini terlihat menarik, dan aku senang ketika kamu menerimanya dengan sangat gembira. Kamu memposting kado dariku beberapa kali di semua sosial media, dan aku semakin senang. Tapi ternyata kebahagian itu tidak berlangsung lama sampai kamu memposting kalau kamu mengirimkan banyak vitamin ke cewek itu (lagi). Kenapa harus selalu dia. Bahkan apa pun tentang dia kamu repost😢.

Hadiah terakhir dariku

Sampai aku mengajakmu ke Raja Ampat dan kamu tidak bisa (lagi). Baiklah, aku sudah menyerah. Kali ini aku sudah dalam kondisi sangat capek. Aku menginginkanmu ada menemaniku dimana pun dan kapan pun, tapi kamu nggak bisa. Aku ingin selalu mendengar cerita-cerita darimu, tentang keluarga, pekerjaan, dan yang lainnya, tapi mungkin ini waktunya mengatakan cukup. Sampai akhirnya aku pergi ke Raja Ampat, hatiku dipenuhi kegundahan, dengan rasa galau yang sangat membuncah😖. Untungnya disana tidak ada sinyal sehingga aku tidak perlu tahu tentangmu lagi...

Postingan ini aku tulis ketika kembali dari Raja Ampat, tempat terindah di Indonesia, bahkan di dunia. Aku menemukan orang-orang seru disana, teman baru, suasana baru, tanpamu, dan ternyata aku sangat bahagia🥰. Mereka menjadi teman-teman yang bisa aku ajak menemaniku menjelajah Indonesia, bahkan mungkin dunia. Memang sebelum berangkat aku berdoa, menyerahkan semua urusan kegalauan di hati kepada Allah subhanahu wata'ala. Bahkan sepertinya aku (mungkin) menemukan orang, yang nantinya bisa menjadi pelipur lara rasa gundah di hati.

Sekian cerita tentangmu. Mohon maaf apabila ada kesalahanku selama ini yang mungkin menjadi penyebab renggangnya hubungan kita baik disengaja maupun tidak disengaja. Semoga engkau selalu sukses di pekerjaanmu, karena aku tau kamu adalah orang yang sangat pintar. Semoga suatu hari kamu akan punya banyak waktu, untuk menemani siapa pun itu, untuk menghabiskan waktu bersamamu.

"Sukses terus ya, Bang! Mumut akan selalu berdoa semoga selalu berada dalam lindungan Allah. Semoga sukses dalam karir, cita, dan cinta. Aaminn🤲!"

Don't be afraid to ever let me go
Just say you hope that
I would find what I am searching for
'Cause time and time again, I stayed true
But this time I won't choose you
Oh I never meant to hurt you
Set me free for now, and I will come find you
~Raisa - Love & Let Go~

Maret 27, 2021

Welcome to Misool

Pernah dengar Misool, Raja Ampat? Jujur aja kalau bukan karena bakalan ngetrip ke Raja Ampat, nama Misool sangat asing di telinga saya. Pulau Misool adalah salah satu dari empat pulau besar di Kepulauan Raja Ampat Papua Barat. Kalau di kalangan travellers, destinasi wisata Raja Ampat yang sangat cantik semua ada di Misool. Kalau melihat Piaynemo saja sudah cantik, apalagi Misool. Kalau snorkeling di Arborek saja sudah indah, apalagi Misool. Dalam bayangan saya Misool seperti sebuah surga, sehingga saya sangat antusias mau kesana🤩.

Setelah menunggu kapal bongkar muat yang memindahkan koper-koper kita dari kapal sebelumnya ke kapal yang sekarang lebih besar, akhirnya kami diperbolehkan naik. Kali ini saya bisa dapat duduk di dalam kapal sehingga tidak akan kena tempias hujan. Anak Buah Kapal (ABK) menaruh ransel dan tas tentengan kita di bagian tengah di dalam kapal. Saya memeriksa ransel dan isinya (sangat khawatir kalau laptop kena hujan), alhamdulillah aman. Saya duduk di sebelah Mbak Yuliza, di seberang Rezki dan Iyus. Ada beberapa teman baru juga ikut naik dan saya belum kenal dengan mereka. Saya sudah bertanya nama Mbak di sebelah saya, tapi lupa😅. Seperti biasa, saya butuh waktu untuk mengingat nama-nama orang. Saya sudah bersiap untuk tidur karena katanya perjalanan ke Misool akan sangat menyita waktu. Saya peluk bantal leher, lalu mencoba tidur😴.
Posisi duduk
Ada anak baru😆
Saya tertidur, terbangun, tertidur lagi, terbangun lagi. Saya melihat Mbak Yuliza sudah duduk di bawah dan sedang asyik mengobrol. Sesekali saya mendengarkan obrolannya, lalu terlelap lagi. Sampai pada saat kami melewati kilang Petrogas, anak perusahaan di bawah SKK Migas, tiba-tiba notification dari hp saya masuk semua. Sinyal kencang sekali disini😍. Mas Ikhsan langsung mengumumkan, "Ayo, ayo, cek hp sekarang. Ini tempat terakhir ada sinyal kenceng sebelum masuk ke daerah Laut Seram (nama lautnya ya, bukan karena serem😌). Saya membuka semua sosial media, membiarkan semua terdownload dulu, membuka pesan, mengupload beberapa foto ke story, sampai akhirnya sinyal menghilang. Nah, sekarang baru waktunya baca semua pesan untuk mengisi waktu. Bahkan grup Whatsapp ibu-ibu komplek yang biasa saya skip aja, saya baca semua. Tampaknya masih lama banget nih sampai Misool.

Kita memasuki laut lepas di waktu sore. Mau tidur lagi pun udah nggak ngantuk. Saya menyuruh Rezki duduk di sebelah dan kita membahas foto-foto sampai saya bosan. Saya mendengar cowok di sebelah Iyus ngoceh melulu. "Ih ini anak baru berisik amat," kata saya dalam hati. Kalau dipikir-pikir, "anak baru" apanya? Cuma beda dua hari🤣🤣🤣. 
Mbak di sebelah saya juga kayaknya udah bosen dan berpindah duduk berkali-kali. Dia bilang, "duh pinggul aku sakit deh. Kamu sakit nggak?"
"Nggak sih," jawab saya.
Lalu Mbak-nya menekan pinggul saya kenceng banget sampe saya bilang, "OUW!"
"Nah disitu sakitnya."
"Haduwh, tadi nggak sakit, sekarang jadi sakit." Saya jadi mengelus-elus pinggul deh🥲.

Saya melihat ada "anak baru" lainnya yang pindah duduk disebelah Iyus. Mereka lalu mengobrol dan sepertinya membahas topik yang berat. Saya nggak terlalu dengar sih, karena suaranya kecil. Saya udah mulai mati gaya. Mau ngobrol sama Mbak di sebelah, belum kenal. Mau ngobrol sama Rezki udah kehabisan topik. Mau ngobrol sama Iyus, jauh di seberang. Mau dengerin Mbak Yuliza, Tiyo, dan Budet ngobrol, kayaknya seru banget sampe mereka ngakak terus, tapi agak jauh jadi nggak kedengaran juga. Suara mesin dan kapal yang melaju memecah ombak cukup berisik dan saya jadi mendengar suara-suara seperti sayup-sayup doang.

Matahari mulai terbenam
Di tengah rasa bosan yang membuncah (saking bingung menuliskan kata apa yang pas untuk mengungkapkannya), akhirnya mulai terlihat kepulauan. Dari tadi karena di laut lepas jadi nggak bisa melihat apa pun, hanya lautan berwarna biru dongker saja. Rasanya ketika melihat pulau itu mulai ada setitik harapan kalau sebentar lagi bakalan sampai ke tujuan. Matahari pun mulai mengeluarkan cahaya jingga yang berarti sebentar lagi akan tenggelam. Duh, saya ingin mengambil foto sunset tapi harus duduk di deretan Iyus.
Percikan air laut
Saya lalu minta ijin Mas-mas (anak baru) yang duduk di sebelah Iyus, "Mas, saya boleh duduk disitu nggak? Sebentaaaarr aja. Mau ngambil foto sunset."
"Oh iya silahkan aja." 
Kita kemudian bertukar duduk. Saya langsung membuka jendela dengan lebar, lalu mengarahkan hp ke matahari tenggelam. Masya Allah indahnya😍. Saya merekam beberapa video, mengambil foto, sampai puas. Saya menunjukkannya pada Iyus, meminta pendapatnya, lalu mengambil foto lagi. Sampai matahari benar-benar tenggelam dan hanya menyisakan cahaya jingga.
Cahaya jingga
Saya mulai mengobrol dengan Iyus. Di trip Misool kali ini kita nggak bareng lagi karena dia sudah keburu ikut kelompok trip lain. Sebenarnya tim Iyus sudah tiba dari tadi di Misool, bahkan sudah mulai trip hari ini. Hanya saja Iyus belum sampai dan dia jadi khawatir sendiri. "Gw udah nggak enak sama anak-anak trip Misool karena ditanyain terus gw udah sampe mana." Mungkin karena tadi hujan deras juga, jadi kapal tak kunjung berangkat. Kita terus mengobrol sampai akhirnya kapal mulai mengurangi lajunya, pertanda kalau kami akan segera sampai. Alhamdulillah!

Akhirnya tiba juga di dermaga Yalapale Homestay. Keren juga penginapan ini punya dermaga pribadi. Saya pegel banget, bahkan untuk mengangkat badan naik ke dermaga saja sudah hampir nggak sanggup. ABK langsung membantu saya naik, dan saya mulai sedikit stretching. Badan saya bunyikan kletak-kletuk, baru enak. Saya lalu berjalan ke pesisir untuk melihat kamar yang akan kami tempati selama 5 hari ke depan. Dari luar sih ada Exhaust Fan AC, saya langsung lega. Yang penting ada AC (awalnya saya berpikir begini sebelum melihat kamarnya).

Sewaktu saya berjalan menuju kamar, saya mendengar suara kapal, lalu saya menoleh. Ternyata itu kapal tim-nya Iyus yang datang menjemput. Kapalnya lebih bagus dari punya kita, dan lebih kecil. Saya melihat Iyus berjalan ke pesisir, berpamitan ke Mas Ikhsan dan Mbak Yuliza (para ketua Genk), lalu melambaikan tangan pada kita semua. "Gw pergi dulu ya, terima kasih semuaaa." Saya melihat Iyus berangkat sejenak, lalu bu Martha datang menghampiri, "Mut, kita satu kamar di pojok." Saya mengikuti bu Martha dan melihat ada 5 kasur di dalam kamar. Saya menaruh ransel dan mencari remote AC yang ntah berada dimana. 

Waktu itu saya kebelet pipis banget, bayangkan sudah 6 jam menahan pipis di kapal. Kamar mandi yang berada di depan kamar saya malah penuh. Saya tanya ABK dimana ada toilet lagi, dan dia menunjuk ke rumah panggung tempat keluarga Bapak dan Ibu Haji. Baiklah, saya langsung kesana. ABK mengantarkan saya sampai ke lorong kamar mandi dan saya baru melihat kalau kamar mandinya hanya berupa bilik-bilik kayu. Saya nggak terlalu memperhatikan kamar mandi yang berada di depan kamar, pasti kurang lebih begini juga. Semula saya ragu mau mandi di kamar mandi begini, jadi mengingatkan saya di rumah nenek di kampung dulu. Tapi saya udah nggak pernah lagi, jadi mau 'gimana. Kebayang nanti kalau mau nyuci 'gimana? Selesai pipis, saya tanya ke ABK, "ini kamar mandi begini semua?" Dia jawab, "Iya kak." Baiklah.
Kamar mandi
Seharusnya saya sekamar berempat dengan Bu Okati dan Mbak Daisy, tapi mereka pindah kamar. Jadilah di kamar seluas dan segede ini, saya hanya berdua dengan Bu Martha. Mana kasurnya ada 5. Saya dan bu Martha menumpuk kasur jadi 2, satu kasur lagi disandarkan ke dinding (nantinya diambil oleh Rezki). Jadilah kamar super duper luas. Oh iya, ternyata AC itu hanya pajangan saja, huff🙄! Jadi di kamar itu yang ada hanyalah kipas dengan angin sepoi-sepoi yang nggak bisa pun mendinginkan ruangan. Duh, bisa tidur nggak yah nanti🥲? Kan udara di pesisir pantai pasti panas banget. Sebenarnya ada balkon yang menghadap langsung ke laut lepas dan juga menjadi tempat jemuran. Tapi kami merasa nggak aman kalau harus membuka pintu teras di tengah malam. Takut masuk binatang laut, apa pun itu. Mana kamar kami paling pojok, dekat dengan pesisir dan hutan. Ugh mikirinnya aja serem😣.

Saya lalu membongkar isi koper, mengeluarkan baju kotor yang rencananya mau dicuci. Tapi haduh betapa malasnya😩. Mana udah banyak lagi baju kotor termasuk pakaian sekarang di badan. Pasti teman-teman juga pada nyuci hari ini. Udah capek perjalanan, harus nyuci pulak. OH TIDAAAK😩😩😩! Belum lagi kalau perjalanan besok gonta-ganti baju, cuaca panas, dan saya pasti nggak mau pakai baju yang sama lagi karena udah berkeringat. Gimana ini?? Ya Allah berikan jalan keluar🤲, saya berdoa karena nggak mau nyuci. Lalu bu Martha bilang, "Mut, daripada kita nyuci, kita minta tolong aja mbak-mbak di rumah bu Haji untuk nyuciin baju kita. Nanti kita kasih aja berapaa 'gitu." Tanpa berpikir panjang, saya langsung bilang, "OKE BU!" Doa saya cepat juga dikabulkan Allahﷻ, mungkin karena sedang jadi musafir, hihihi😆. Rasanya beban di kepala hilang setengah gara-gara urusan nyuci ini.

Saya mendengar suara riuh dari luar. Saya keluar ke teras dan melihat teman-teman pada loncat ke laut untuk berenang. Mas Ikhsan melihat saya, "Mut, loncat mut. Segerrr!" Duh, hari masih terang aja saya takut langsung lompat ke laut. Apalagi sekarang sudah gelap. 
Saya melihat Mbak Yuliza ikutan lompat dan berenang kesana-kemari. "Segerr banget tau. Kalian lompat deh."
"Nggak mau ah, nggak ada pelampung." Jawab Mbak Asri.
"Ngapung kok. Enak ini air lautnya kayak di Laut Mati. Kita ngapung."
"Ah masaaaa," saya tertawa😄.
Temen-temen cowok akhirnya banyak yang langsung lompat dari teras penginapan untuk ikutan berenang.

Saya mandi dulu karena sudah kegerahan, mumpung kamar mandi lagi agak sepi karena teman-teman sibuk dengan beres-beres barang dan berenang di laut. Selesai mandi, saya memasukkan semua baju kotor ke kantong kresek besar, sekalian rinso cair, untuk kemudian diberikan ke "kakak cuci"- sebutan tukang cuci di kosan dulu. Oh iya, saya melihat ada beberapa sikat gigi yang seharusnya untuk Ko Hen di koper saya, tapi tadi di kapal Ko Hen bilang udah beli sikat gigi di kota semalem. Kata Bu Martha, kita berikan saja pada anak-anak kampung sini. Kami kemudian keluar kamar menuju rumah bu Haji sambil membawa pakaian kotor dan sikat gigi. Udah kayak mau ngapaiiinn aja😂. Bu Martha lalu bertanya siapa yang bisa mencucikan baju kita pada bu Haji, bu Haji lalu memanggil 2 anak remaja. Kami memberikan pakaian dan mereka menerimanya dengan senang hati. Saya tanya, "bayarnya berapa?" Bu Haji bilang, "Halah, berapa aja."
Lorong tempat cuci, agak blur fotonya karena screenshot dari video
Saya lalu melihat anak-anak sedang berlarian dan saya panggil mereka. Saya berikan beberapa sikat gigi ke mereka satu-persatu. Saya bilang, "Ini namanya sikat gigi Ko Hen." Mereka lalu diam.
"Coba kalian ulang nama sikat giginya. "Sikat...gigi...Ko...Hen..."
Mereka lalu mengulangnya seraya berteriak, "SIKAT GIGIIII KOOOO HEEEEN." Dengan wajah malu-malu dan polos ala anak-anak Papua.
Saya lalu ngakak banget🤣🤣🤣, "HAHAHA!" sampe puassss ketawa. Bahkan masih senyum-senyum sendiri ketika mengingatnya. Sampai pas di ruang makan saya bertemu Ko Hen dan saya masih senyum-senyum😆.
"Kenapa lu senyum-senyum?" tanya Ko Hen. Saya menggeleng seolah-olah tidak terjadi apa-apa😆.

Di ruang makan, saya melihat ada sekotak teh bendera yang membuat saya kangen sekali. Saya lalu membuat teh bersama bu Martha, lalu kami duduk di meja makan. Sebenarnya paling enak duduk makan di meja kayu, tapi malam itu teman-teman sudah memenuhi meja kayu terlebih dahulu. Ya sudah, tidak masalah, saya makan disini saja mumpung dekat dengan lauk-pauk. Kalau mau nambah bisa langsung taruh ke piring😋. Menu makan malam pada saat itu ikan, sayuran, dan sambal kering kentang. Ada salah satu teman baru membawa sate kerang asap untuk dimakan beramai-ramai. Dia minta tolong ke Bu Haji untuk menghangatkan sate kerangnya agak lebih enak, baru setelah itu kami serbu. Enaknya teman-teman di trip ini sama sekali nggak ada yang ja-im. Kalau ada yang bawa makanan, semua mau mencoba tanpa pilih-pilih dulu. Jadi yang bawa makanan 'kan merasa senang karena dihargai.

Selesai makan, kami disuruh berkumpul di meja kayu untuk briefing besok mau kemana saja. Ada beberapa orang baru yang akan menjadi guide kami dan juga seorang bagian dokumentasi. Paket trip Misool ini sudah termasuk dokumentasi kamera, drone, dan juga action camera. Jadi seharusnya saya sudah tidak perlu bawa kamera lagi. Tapi saya berpikir, kalau nanti abang dokumentasinya diserbu teman-teman karena ingin berfoto, giliran saya malah semakin lama. Jadi memang lebih baik bawa kamera sendiri sebagai back-up. Guide bilang, besok kita akan ke Puncak Harfat, Goa Keramat, Goa telapak tangan, Yapap, Banos, dan Kampung Yellu. "Jangan lupa pakai baju berwarna cerah agar nanti bagus ketika difoto menggunakan drone. Kita berangkat besok jam 8 pagi."

Selesai briefing, saya mengajak bu Martha ke dermaga. Sebelumnya saya sempat mengambil kamera dan tripod dulu karena rencananya mau mengambil foto Milky Way kalau beruntung. Saat itu dermaga masih sepi. Hanya beberapa ABK saja yang sedang tidur-tiduran di karpet. Saya meminta mereka mematikan semua lampu agar langit terang-benderang. Saya men-setting tripod dan kamera, lalu mengarahkan lensanya ke langit. Saya kemudian menghitung beberapa rasi bintang karena tanda-tanda ada Milky Way adalah dengan munculnya minimal 15 rasi bintang. 
Saya menghitung beberapa kali biar nggak salah seraya menunjuk-nunjuk langit, sampai salah seorang ABK bertanya, "Sedang ngapain kaka?" Saya tertawa mendengar logatnya.
"Menghitung rasi bintang. Tolong hitungin dong! Kalau udah lebih dari lima belas berarti ada Milky Way."
"Apa itu milki milki woy kaka?" 
Saya ngakak🤣🤣🤣. "Bukan milki woooy. Pokoknya kamu hitung aja kumpulan bintang-bintang ya. Nanti kabarin saya."
Dia lalu menghitung bintang sambil menunjuk ke langit, "Satu, dua, tiga...," selagi saya men-setting kamera. Langit kurang cerah, jadi harus menurunkan shutter speed di level terendah.
"Kaka, sudah saya hitung ada lebih dari 100 bintang bagian sini. Masa' saya hitung semua? Capek kaka."
Saya ngakak lagi🤣🤣🤣. Manaaa ada rasi bintang lebih 100. "Kamu salah hitung ih. Ya udah deh, nggak apa-apa, nggak usah di hitung lagi."
Saya duduk sambil terus mengutak-atik kamera. Dermaga terbuat dari kayu, jadi kalau ada yang lewat pasti goyang. Udah berapa kali ngetes, nggak berhasil terus. Pasti goyang atau blur. Belum lagi beberapa teman-teman mulai datang ke dermaga dan duduk di sebelah saya.
"Lagi nyari milkyway ya?" sapa seseorang dan saya menoleh ke kiri. Oh ternyata anak baru yang tadi berisik di kapal.
"Iya, lu tau nggak setting milky way untuk dermaga yang terus-menerus shaking karena orang datang😅?"
"Pertanyaan sulit," katanya.
"Siapa namanya?" tanya saya.
"Alfredo," jawabnya.
Wow, namanya seperti bintang film telenovela. Kenapa nggak sekalian Fernando Jose, atau Leonardo😆. "Nama lo telenovela banget ya?" Saya ngakak dan dia pun ikut ngakak. "Gw Meutia." Dan saya ingat banget sama nama Alfredo karena unik😂.
Tidak lama kemudian duduk lagi anak baru di sebelah kanan saya, "Lagi nyari milky way?"
"Lu tau settingan-nya?" tanya saya.
"Nggak begitu tau sih," jawabnya.
Saya bersama Alfredo dan cowok di sebelah kanan (waktu itu nggak nanya namanya) mulai pusing mengutak-atik setting-an kamera. Inti masalahnya adalah karena teman-teman mengacaukan dermaga sehingga tripod nggak bisa steady. Bapak nahkoda bilang, biasanya bintang bagus di jam 3 pagi karena bulan sudah turun dan langit cerah. Duh, siapa yang mau bangun jam segitu😅.

Akhirnya saya menyerah karena sudah malam juga. Saya mengajak bu Martha balik ke kamar untuk tidur. Hari ini sangat melelahkan dan encok juga gara-gara duduk di kapal kelamaan. Teman-teman masih nongkrong di dermaga ntah sampai jam berapa. Saya keluar sejenak ke teras kamar untuk melihat bintang dan bulan yang bersinar terang. Di teras sebelah ada Mbak Asri yang sedang menjemur pakaian. 
Saya menyapa, "Hai tetangga..."
"Hai, kamu nggak nyuci?"
"Enggak," jawab saya. "Besok pake baju warna apa? Biar gw juga menyesuaikan jadi baju kita warna-warni pas di foto."
"Aku kayaknya pake baju putih, kuning hijau."
Hmm, saya berpikir. "Ya udah, gw pake baju dress outer warna kuning dan baju renang pink deh." Mumpung ada kakak cuci, jadi mau bawa banyak baju pun nggak masalah.

Di kamar, saya 'ngecas semua perangkat elektronik mulai dari semua kamera, hp, dan powerbank. Bu Martha bawa kabel colokan panjang, jadi enak banget bisa nyolok banyak. Saya berbaring dan mulai kepanasan. Kipas dengan angin sepoi-sepoi tidak saya arahkan ke wajah karena takut masuk angin. Saya menggeser kasur sedikit agar kipas angin tidak langsung kena ke wajah. Saya melihat bu Martha sudah tidur, sedangkan saya masih bolak-balik ke kiri dan kanan. Sampai akhirnya alarm hp saya berbunyi, eh sudah pagi ternyata☀️. Saya nggak tau sejak kapan saya sudah tertidur.

Saya akan menceritakan tujuan wisata di Misool di postingan selanjutnya. Sampai jumpa!

Maret 26, 2021

Pengeluaran Trip Piaynemo

Selesai mandi, seperti biasa saya akan duduk di ruang makan resort untuk mencari sinyal untuk membalas pesan, dan mengupload stories. Saat itu disana cuma ada Mas Ikhsan yang sedang merokok. Kata Mas Ikhsan, tadi Ko Hen, Budet, dan Tiyo ikut pergi ke kota sekalian beli makan malam. Teman-teman yang lain mungkin masih beristirahat di kamar mereka masing-masing. Maklum, hari ini kita capek banget. Walaupun demikian, saya senang sekali hari ini🥰.

Selama ini saya jarang ngobrol serius dengan Mas Ikhsan. Biasanya kalau rame-an dengan teman yang lain, kita jadi becanda melulu. Kali ini cuma berdua dan saya mencoba mencairkan suasana. Kita malah bahas bisnis. Semula beliau bertanya saya kerja apa dan dimana. Jadilah saya bercerita tempat kerja pertama, kedua, sampai di Rancupid. Mas Ikhsan juga begitu, beliau bercerita mulai dari PNS, ngapain aja, resign, lalu mencoba berbisnis. Sampai beliau pernah ke Sumba hanya untuk mencari jagung ratusan ribu kilogram, sekalian liburan juga. Saya bahkan baru tau kalau Sumba merupakan daerah penghasil jagung. 
"Pokoknya Mut, kalau ada tawaran bisnis, iya-in dulu aja. Baru mikir nanti 'gimana ya bisa ngerjainnya apa enggak. Karena nanti otak kita bakalan terpaksa bekerja lebih keras untuk berpikir 'gimana caranya menjalankan bisnis."

Saya lanjut bercerita tentang bisnis yang saya geluti, jualan online tapi di Amerika. Saya juga menjalankan bisnis travel tapi nggak bisa dibandingkan dengan punya Mas Ikhsan. Beliau langsung antusias mendengarkan bagaimana saya menjalankan bisnis, dari A sampai Z. Katanya, "anak muda sekarang unik-unik ya bisnisnya." Dan saya merasa dihargai juga karena beliau mau mendengarkan keluh-kesah saya selama berbisnis dan memberikan beberapa solusi. Saya terdiam berpikir, lalu bertanya lagi kalau begini bagaimana, kalau begitu nanti konsekuensinya apa, dan semuanya Mas Ikhsan jawab dengan baik.

Sejam kemudian, Ko Johanes bergabung dalam obrolan kita yang sudah mengarah sewaktu Mas Ikhsan ke Aceh jaman masih ada GAM dan tsunami. Kami takjub mendengar cerita Mas Ikhsan yang pulang ke Jakarta sehari sebelum tsunami meluluh-lantakkan Aceh, dan pada saat hari H tsunami, semua teman yang se-projek bersama, meninggal tersapu tsunami. Bahkan jenazahnya pun tidak ditemukan. Pada saat itu saya jadi flashback, tsunami memang mengerikan dulu. Banyak keluarga, teman-teman, guru-guru, tetangga, dan lainnya, semua meninggal.

Tidak terasa sudah lebih dua jam kami mengobrol dan heran ini kenapa teman-teman nggak datang-datang juga ke ruang makan. Padahal, makan malam sudah tersedia, teman-teman dari kota sudah pulang, dan pelayan sudah menyiapkan piring, gelas, serta peralatan makan untuk kita karena ternyata jam 8 mereka sudah harus pulang. Saya mengirim Whatsapp ke teman-teman untuk makan malam. Baru kemudian mereka satu demi satu berdatangan.

Kita pun makan malam bersama. Saat itu, Mbak Yuliza sekalian hitung-hitungan pengeluaran selama trip dari kemarin naik kapal sampai hari ini. Saya kaget harga teh di Kasuari Rp. 63,800😱. Ya ampun, sudah lebih mahal dari Restoran Kempinski atau SKYE di Jakarta dongggg😱😱😱. Itu juga harga pisang goreng tepung Rp. 34rb, jadi kalau ada yang pesan teh dan pisang goreng udah Rp. 100rban aja😱. Kayaknya kalau kita goreng sendiri, beli pisangnya udah satu sisir dan beli teh udah 30 sachet masih ada kembalian. Total ngemil aja bisa hampir sejuta dong ini😩.
Bill di Kasuari
Berikut hasil rekapan pengeluaran selama trip 2 hari untuk 15 orang:
  1. Sewa Mobil Rp. 900,000
  2. Kapal ke Waisai Rp. 100,000 perorang, total Rp. 1,500,000.
  3. Kapal island hoping Rp. 6,500,000
  4. Parkir di Piaynemo Rp. 300,000
  5. Parkir di Kabui Rp. 300,000
  6. Parkir di Pasir Timbul Mansuar Rp. 200,000
  7. Pisang Goreng di Friwen Rp. 90,000
  8. Kopi nahkoda Rp. 20.000
  9. Nasi kotak makan siang Rp. 35,000 x 19 orang = Rp. 665,000
  10. Aqua 2 kardus Rp. 140,000
  11. Nasi goreng 15 x Rp. 22.,000 = Rp. 330,000
  12. Makan malam Rp. 560,000
  13. Aqua Rp. 70,000
  14. Nasi bungkus Rp. 528,000
  15. Kapal ke Sorong 4,500,000
  16. Tip Bang Udin Rp. 1,000,000
Total Rp. 17,603,000 ÷ 15 = Rp. 1,173,533
Ditambah biaya diluar harga paket trip:
Teh Sultan Rp. 63,800
Kamar di Waiwo Resort Rp. 800,000
Grand Total Rp. 2,037,333

Untuk harga paket trip saya bayar menggunakan cash karena sudah keburu ambil duit. Banyak dari teman-teman bisa transfer aja. Saya kira daerah Waisai ini bakalan nggak ada sinyal sama sekali jadi takut nggak bisa transfer. Takut juga nggak ada mesin ATM disekitar apalagi kartu ATM saya dari Bank DBS yang kadang beberapa bank daerah nggak terima.

Selesai proses pelunasan, saya duduk sama Rezki membicarakan beberapa hal. Saya sekalian memindahkan beberapa foto juga ke hp dan menguploadnya ke instagram. Pokoknya saya harus lebih duluan posting foto daripada Rezki dan saya punya 1000 alasan untuk nggak ngasih foto ke dia dulu😂😂😂. Tapi kayaknya dia udah posting duluan. 
Selagi kami mengobrol, kadang Iyus ikutan nimbrung. "Mut..."
"Gw udah mandi," jawab saya dengan cepat sebelum Iyus nanya terus seperti kemarin.
Iyus ngakak, "Ih, siapa yang nanya? Gw mau nebeng tethering internet karena gw nggak ada sinyal."
"Ohh baiklah."

Saya menaruh hp di meja, lalu samperin bu Martha. "Bu, besok kita jadi berenang?"
"Oke, ayok aja."
Saya melihat luka di kakinya yang bikin ngilu, "Itu nanti luka 'gimana? Haddduuuuw😰."
"Ah, tenang aja. Udah nggak perih kok."
"Ya udah, besok pagi saya Whatsapp ya..."
Saya kemudian mengambil hp dan mengajak Mbak Daisy balik duluan ke kamar. Saya harus menelepon pada saat itu dan nggak mau teman-teman pada denger. Beginilah susahnya kalau ngetrip tapi suasana hati sedang tidak enak. Huff😕! Saya berpamitan pada teman-teman yang pada saat itu sedang seru banget mengobrol. Rezki juga balik ke kamarnya karena dia mau tidur. Saya duduk di teras kamar, menelepon, menutup telepon, dan termenung😕.
Sampai tiba-tiba Cici Ling lewat (di Waiwo Resort kamar saya dan Ci Ling bersebelahan), "Mut, jangan melamun. Ntar kesambet, ini hutan loh."
Saya agak kaget karena tiba-tiba ada Cici Ling, lalu tertawa. "Hahaha, iya nih. Ok deh Ci, Nite~." Saya masuk kamar, mengobrol sebentar dengan Mbak Daisy, ganti baju, dan tidur. Sayup-sayup masih terdengar teman-teman belum beranjak dari ruang makan karena masih asyik mengobrol.

Besok paginya, saya bangun jam 6 dan merasa kok masih gelap banget. Saya menyibakkan gorden dan melihat hujan turun sangat deras. Saya membaca Whatsapp dan Bu Martha sudah mengirim pesan sejak jam 6 kurang. Saya bilang, kita tunggu sampai 6.45 deh, semoga hujan reda. Tapi ternyata hujan tidak kunjung reda. Hmm, mungkin memang belum rejeki untuk berenang lagi di depan resort. Saya akhirnya mandi dan packing. Jam 8.30 nanti kita akan berangkat kembali ke Sorong untuk menjemput teman-teman yang bergabung dengan trip Misool. Selagi sibuk packing, tiba-tiba DUK! Bunyinya keras banget😖. Haduuuh kejedot lagi ditempat yang sama. Saya jadi merasa ada benjol di atas benjol seperti es krim 2 scoops. Kejedot terus begini bikin hilang ingatan nggak ya? Mbak Daisy lalu mengeluarkan beberapa sikat gigi dari kamar mandi, "Ini jangan lupa untuk Ko Hen." Baiklah😄.

Selesai mbak Daisy mandi, kita menaruh koper di teras kamar, lalu bergabung sama yang lain di ruang makan. Nanti para Anak Buah Kapal (ABK) bakalan menaikkan koper terlebih dahulu dan menyusunnya di atap kapal. Setelah itu baru kita boleh naik. Selesai sarapan, kita lalu jalan menuju dermaga. Hujan menyisakan gerimis, mau ngeluarin jas hujan agak nanggung, jadi ya sudahlah, paling basah sedikit. Saya memastikan koper sudah ada di atap kapal, baru masuk ke dalam kapal.
Proses pengaturan koper
Tutup dulu biar nggak basah
Kali ini saya duduk di belakang biar kena angin bersama Cici Ling, Ko Johanes, dan Bu Martha. Saya kira hujan bakalan reda, tapi ternyata malah tambah deras. Bu Martha yang duduk di depan saya sudah mengenakan jas hujan, sedangkan saya masih pasrah saja terkena tempias sekalian ngelap-lap kursi. Repot sih, tapi ya sudah-lah, di bagian dalam kapal juga sudah penuh. Yang penting bagi saya, ransel aman karena ada laptop.
Foto dari luar
Perjalanan ke pelabuhan Sorong lumayan lama karena hujan deras. Mungkin sekitar 2 jam lebih (lupa berapa waktu persisnya). Saya kira bakalan naik kapal yang sama menuju Misool, sedangkan penumpang kali ini saja sudah penuh. Mana kita mau menjemput 5 orang teman lagi di Pelabuhan Sorong. Ternyata ketika ke Misool nanti kita akan berganti kapal. Sesampai pelabuhan, kita disambut hujan yang super duper derasssss. Ini 'gimana mau ke dermaga😲? Saya menunggu sejenak di dalam kapal berharap hujan reda, tapi paling reda sedikit. Ada beberapa teman yang membawa payung, dan saya ikut nebeng.

Kami mampir ke Marina Jetty Restaurant dan hal yang paling pertama saya lakukan adalah ke toilet. Takutnya nanti perjalanan ke Misool bakalan lama banget dan kita nggak bisa pipis. Ternyata setelah pipis, malah disuruh makan siang dulu biar nggak lapar di perjalanan. Mana di resto ini harus pesan minum dan saya pesan teh panas manis. Sebenarnya saya takut kebelet di jalan kalau minum teh. Akhirnya saya makan sambil minum sedikit saja. Selesai makan, saya ke toilet lagi biar nggak kebelet. Saat itu kita agak lama di dermaga, mungkin karena hujan dan berlayar ketika hujan agak beresiko, sampai akhirnya berangkat juga. Saya melihat Mbak Yuliza ngobrol dengan orang-orang yang nantinya bakalan bergabung dengan trip ke Misool. Tidak satupun dari mereka yang saya kenal.

Tulisan kali ini agak singkat karena saya tidak mau menggabungkannya dengan trip Misool. Nanti saya akan menuliskan perjalanan ke Misool dipostingan selanjutnya biar sekalian panjang. Akhirnya selesai trip Piaynemo dan saya senang sekali pada saat itu🥰. Udah sangat antusias ingin melihat bagaimana indahnya Misool. Sampai jumpa di postingan berikutnya.

Maret 25, 2021

Snorkeling di Arborek

Udah keringetan banget (baju sampai basah), kepanasan🥵, kebelet pipis, semua jadi satu, dan akhirnya sampai juga ke destinasi untuk snorkeling. Kapal merapat ke dermaga dan cowok-cowok disuruh turun duluan karena cewek-cewek mau ganti baju renang. Kita banyak yang nggak nge-double baju, jadi harus berganti semua pakaian. Saya sebenarnya mau ganti baju juga, cuma baju renang masih bersih dan wangi, sedangkan baju yang saya pakai sekarang udah bau keringat. Mending pakai baju ini aja deh sekalian kotor kan. Jadi saya hanya berganti celana renang aja.
Kampung Wisata Arborek
Saya kemudian turun ke dermaga dan mengambil life vest untuk snorkeling. Sebenarnya kalau mulai snorkeling dari pesisir pantai, saya lebih berani berenang tanpa pelampung. Daripada harus langsung nyemplung dari atas kapal ke laut. Tapi saya takut juga karena ini adalah Raja Ampat, jangan-jangan dalem banget lautannya. 
Saya melihat Mas Ikhsan udah nyemplung duluan dan berteriak, "Mut, loncat! Ayok cepetan!" 
Haduh😰 saya kan belum tau lautannya kayak apa, eh udah disuruh nyemplung, sambil loncat pulak. Belum semua teman-teman berenang saat itu karena banyak yang shalat dulu. Saya melihat Ko Hen udah nyebur duluan bersama Mas Ikhsan. Saya lalu mengambil jalan memutar ke pesisir, dan menaruh pelampung di tepi pantai karena mau mencoba berenang tanpa pelampung dulu. Tidak lupa menyalakan GoPro untuk merekam video.
Memutar ke pesisir
Snorkeling dulu
Saya mulai berenang dan takjub, Maasyaaaa Allaaahhh ikaannyaaaaa😱😱😱! Begitu banyak, bermacam-macan dan warna-warni. Dulu saya berpikir, Kepulauan Derawan sudah menjadi tempat snorkeling terbaik yang pernah saya kunjungi dan Arborek jauh diatasnya sebelum saya melihat Misool. Sengaja di garis bawahi Misool karena katanya jauh lebih indah lagi daripada Arborek. Duh, jadi nggak sabar kesana. Saya merekam video kesana kemari, lalu melihat bagian lautan yang sudah dalam. Mulai deh ada rasa takut dan saya hanya berenang di tepinya saja yang warna lautannya masih biru, belum biru dongker.
Ikan-ikan masih di area dangkal
Banyak terumbu karang dan ikan warna-warni
Arborek berasal dari bahasa Biak yang berarti duri. Pada jaman dahulu, suku Biak dikenal sebagai pelaut ulung (mungkin inilah istilah nenek moyangku seorang pelaut). Ketangkasan mereka saat melaut membuat suku Biak dijuluki sebagai viking-nya Papua. Kalau kalian bingung lokasi Pulau Biak, bisa lihat di peta dimana pulaunya berada di atas Pulau Papua. Kalau jaraknya ke Arborek sih jauh banget yaaa😅. Nah, pada saat itu, ada kapal pelaut Biak yang berlayar dari Teluk Cendrawasih (Taman Nasional Teluk Cenderawasih yang merupakan taman nasional perairan laut terluas di Indonesia, terdiri dari pesisir pantai, daratan pulau-pulau, terumbu karang, dan perairan lautan), menuju ke utara. Mereka tak sengaja menemukan pulau kosong yang berpasir putih. Setelah dijelajahi, pulau tersebut banyak ditumbuhi semak duri. Para pelaut lalu menelusuri seluruh pulau. Setelah yakin pulau itu kosong, mereka pun memutuskan untuk tinggal dan membuat perkampungan di sini. Karena awalnya pulau ini penuh semak duri, mereka memberi nama pulau dengan Arborek. Hingga kini Arborek dikenal sebagai pulau cantik berpasir putih. Pantai-pantainya yang sebening kaca membuat Arborek diburu sebagai tempat liburan yang sangat instagrammable.
Memberikan GoPro ke Rezki
Saya menyembul sedikit ke permukaan laut dan mencari Rezki, dia udah selesai shalat belum ya🤔? Setelah ketemu Rezki, saya memberikan GoPro untuk menyuruh mengambil video di bagian lautan yang dalam. Saya lanjut snorkeling lagi dan mengkode Rezki (dari dalam air) untuk mengambil ikan-ikan di sebelah sana, eh tau-tau datanglah segerombolan ikan dari belakang saya menuju Rezki yang super duper banyaaaaaakkkkkkk😱😱😱. Kami di serbu ikan-ikan itu seperti tornado. Saya sampai terdiam mematung sambil ngambang😲, melihat kejadian sangat menakjubkan itu. Maasyaa Allaaah! Seandainya saya bawa jaring ikan, mungkin saya udah panen ikan berkilo-kilo, dan saya bisa langsung bawa ikan-ikan ini berdagang ke pasar.
Diserbu ikan
Banyaaaaakkkk
Capek juga berenang nggak pakai pelampung. Saya kemudian melihat life vest yang tadi di tepi pantai udah terbawa arus agak jauh ke daerah laut yang dalam. Saya minta tolong Tiyo untuk ambilin pelampung karena saya takut ke lautan berwarna biru dongker (masih teringat dulu sempat trauma sewaktu berenang di Pulau Menjangan Bali melihat 'sesuatu' di palung). Selesai dapat pelampung, saya peluk dan berenang ke tempat yang lebih landai. Saya kemudian berdiri, beristirahat, lalu tiba-tiba ada yang nyolek kaki saya. Saya menoleh ke kiri dan ke kanan, melihat teman-teman agak jauh dari saya. Siapa yang nyolek🤔? Trus di colek lagi, lebih tepatnya di cubit. Kok ada yang nyubit sih dari dalam laut😅? Saya lalu diam nggak bergerak sama sekali agar air laut tenang, lalu melihat ada ikan pipih mendekat dan menggigit kaki saya. Ouch😅! Ohh ini dia biang keroknya. Uggghhh gemeyyssshh!😆😆😆
Ribuan ikan
Saya berenang-renang lagi, lalu melipir ke pinggir. Udah kelamaan berenang, kulit jari-jari tangan jadi keriput. Saya kemudian jadi instruktur renang Bu Martha dan Budet saja, hahaha😂😂😂. Biar nggak terlalu capek.
Saya udah bilang, "ini masih napak loh kita, tinggal kepak-kepak kaki aja, nggak akan tenggelam."
Kata Bu Martha, "Aduh aku nggak berani. Ini pertama kalinya aku berenang. Dulu pas ke Pulau Seribu, aku cuma main di pinggir pantai aja."
"Udah bu, cobain ajaaa. Nanti di Misool nggak bisa napak lohh!"
Budet lebih berani. Dia nyoba terus berenang dimulai pake dua pelampung, sampai akhirnya bisa kepak-kepak kaki juga. Saya ngakak aja melihat mereka berenang karena mereka bisa tiba-tiba panik padahal masih napak dan tinggi airnya cuma sepinggang saya🤣. 
Selfi dulu
Oh iya, karena banyak pecahan terumbu karang, kaki saya jadi kebaret-baret luka dan pedih banget karena kena air asin. Bu Martha lebih parah lagi, sampai seluruh kaki di kedua kakinya jadi luka. Saya melihatnya jadi 'ngilu sendiri😰😰😰. Ibu itu menghindari terumbu dan kebaret dari samping kiri dan kanan. Lukanya pun banyak yang panjang, duh serem😰. Kalau luka saya hanya di pergelangan kaki karena pakai celana panjang. Itu aja udah perih, apalagi kalau luka sebanyak bu Martha. 
Lelah hayati
Saya melihat mbak Daisy dari kejauhan yang nggak berenang. Saya sudah mengajak beberapa kali, tapi katanya berenang nanti aja di Misool. Kalau Ci Ling dan Ko Jo hanya main air saja di pesisir pantai yang tidak terlalu dalam. Akhirnya saya udah capek, jadi tiduran aja di atas pelampung sampai ada komando dari Bang Udin untuk melanjutkan ke destinasi selanjutnya. Rasanya jalan ke pesisir saja jadi berat, mungkin karena sudah terlalu lelah berenang. Ketika sampai di daratan, duh badan mendadak jadi ringan lagi. Saya dan teman-teman kemudian kembali ke kapal untuk berlayar ke destinasi selanjutnya. 
Menuju destinasi selanjutnya
Kalian pasti sudah sering mendengar fenomena unik berupa pasir timbul di tengah laut yang nampak seperti pulau jika dilihat dari kejauhan atau dari atas (menggunakan drone). Kali ini tujuan selanjutnya adalah Pasir Timbul Mansuar yang jaraknya lumayan dekat dari Arborek sekitar 30 menit. Sepertinya setiap saya ngetrip ke destinasi pantai dan laut pasti akan dibawa ke pasir timbul. Dulu sewaktu di Labuan Bajo juga begitu, kami juga berkunjung ke pasir timbul. Fenomena unik pasir timbul ini terjadi ketika air laut sedang surut. Di momen-momen tertentu, pasir putih akan muncul dan bisa kita jadikan tempat untuk duduk santai atau hanya sekadar menikmati bersihnya pasir putih. 
Pasir Timbul Mansuar
Kapal tidak parkir terlalu rapat dengan pesisir karena takut baling-balingnya terkena dasar laut yang dangkal. Jadi kami harus turun ke air laut dulu. Saya tidak membawa kamera karena takut jatuh atau terkena air laut. Jadi hanya bawa hp saja. Pemandangan di pasir timbul sangat indah karena sejauh mata memandang terdapat hamparan putih pasir pantai dengan air laut sebening kristal dan gradasi warna air laut dari warna biru pudar sampai biru dongker (pasti dalam). Biasanya, pasir ini akan muncul ke permukaan di waktu siang hari sekitar pukul 11.00 WIT siang hingga 15.00 WIT sore, sedangkan ketika kami kesini sudah sore sekitar jam 4. 
Pose dulu
Ayok foto bareng
Siluet
Saya malah mengira bakalan menikmati matahari tenggelam di Pasir Timbul karena kita tiba disini aja udah sore. Tapi kata bang Udin, masih ada destinasi terakhir setelah ini😕. Yang hanya bisa dilakukan disini adalah bermain di pantai atau berenang, dan berfoto. Saya sempat berenang sebentar, tapi nggak bawa snorkel atau kaca mata renang, jadi agak malas juga kalau harus menyelupkan kepala. Takut hp jatuh juga. Paling cuma duduk-duduk di pesisir. Beberapa teman-teman sempat berfoto melompati Pulau Mansuar, tapi saya nggak berfoto kecuali rame-rame. 
Foto beramai-ramai
Ko Hen, Mbak Lia, dan Mbak Yuliza lagi celup-celup😂
Kami lumayan lama disini. Saya bahkan udah jalan dari ujung pulau ke ujungnya lagi, udah duduk di pesisir, udah berfoto disana-sini, sampe nggak tau mau ngapain lagi. Saya sampai bilang lagi ke bang Udin kalau disini sunsetnya pasti bagus banget karena arah cahaya matahari sama sekali tidak terhalang apa pun dan langit tidak mendung. "Kita nongkrong disini aja sampai magrib". 
Tapi kata bang Udin, memang bakalan ke Friwen untuk bersantai. "Nanti disana ada warung, bisa sekalian makan. Deket kok dari sini tempatnya." Baiklah. Saya cuma takut nanti sampai Friwen, malah udah nggak ada lagi mataharinya. Padahal kapan lagi bisa mendapatkan sunset di Raja Ampat😢.
Lanjut Friwen
Sekitar pukul 17.30 kami berangkat ke Friwen. Perasaan saya bilang, pasti nggak dapat nih foto matahari tenggelam. Benar saja, kami berlabuh di pesisir yang berada di belakang sebuah pulau sehingga matahari ketutupan pohon-pohon di pulau itu. Hiks jadi sedih😢. Hal yang sangat saya inginkan di Raja Ampat salah satunya adalah memotret matahari tenggelam. Lagian udah pas banget tadi di pasir timbul, tapi malah harus ke Friwen. Jadi bad mood deh saya selama di Friwen. Padahal nantinya saya akan mendapatkan best sunset di Misool, cuma 'kan belum tau 'gimana Misool, jadi nggak kebayang.
Warung di Friwen
Pantainya
Untuk menghilangkan kebete-an, saya mampir ke warung. Udah lapar sih, jadi pengen tau ada apa aja yang dijual. Mbak Yuliza bilang, "Masing-masing gw pesenin pisang goreng ya. DUA BIJI. Nggak boleh kurang, nggak boleh lebih!" Saya tertawa🤣🤣🤣. Duh, kalau lapar, nggak boleh makan tiga dong? Trus kalau cuma mau makan satu 'gimana? 
Mbak Yuliza sampe bilang ke teman-teman, "Awas loe kalau makan tiga." Ancamannya mengerikan, tapi lucuuuu🤣. 
Ko Hen lalu bilang, "Eh gua kan orang sekampong loe, masa' nggak boleh makan tiga?" Dia mencoba bernegosiasi.
Dan Tiyo melanjutkan, "Aku pun orang sekampong, jadi boleh-lah makan tiga?"
"Nggak usah macam-macam!" Kata Mbak Yuliza dengan wajah sok galak dan saya ketawa🤣. "Sejak kapan kita sekampong?" katanya menunjuk Tiyo.
Duduk di ayunan
Karena ibu-ibu di warung belum selesai menggoreng pisang, saya duduk di ayunan untuk beristirahat dan menenangkan pikiran. Tadi sempat masuk sinyal dan membaca Whatsapp yang membuat bete, nggak dapat sunset jadi bete, lagi mens juga tambah bete, pokoknya udah komplit persyaratan 'kebetean' pada sore itu. Ya udah deh saya duduk saja di ayunan sambil bersandar ke tali seraya melamun. Semula saya hanya sendiri, trus Iyus datang. Saya bilang, "Lo nyanyi dong, gw lagi bete." Kebetulan Iyus suka banget nyanyi, suaranya juga bagus. Dia langsung bernyanyi seraya meng-ayun saya. Tapi lama-lama jadi kenceng banget ayunannya, dan saya jadi takut. Oh no!😟
Mari kita pulang~
Rezki datang dan bilang, "Pisang goreng udah mateng. Yok, yok! Cepeet!" Memang paling enak setelah capek berenang itu makan makanan ringan seperti gorengan. Mana enak banget lagi gorengannya dan nggak boleh makan lebih dari dua😂. Saya juga memesan teh manis panas untuk menghangatkan badan. Apalagi masih pakai baju basah sejak dari Arborek tadi. Selesai makan, sebelum langit benar-benar gelap, kami naik ke kapal untuk kembali ke Waiwo Resort. Duh rasanya udah pengen banget mandiiiiii😩😩😩. Badan udah lengket semua.
Perjalanan ke Waiwo
Alhamdulillah kami mengakhiri trip hari ini dengan selamat pergi dan pulang😮‍💨. Hal yang pertama saya lakukan ketika tiba di resort adalah mandi. Saya udah bilang ke Mbak Daisy kalau nanti saya mau mandi duluan. Dia sih oke-oke aja karena memang nggak nyebur tadi. Jadi teringat, kita sampai teleponan untuk memastikan handuk yang mana yang kita pakai. Udah ditandai masing-masing, masih hampir ketukar juga😆.

Baiklah, postingan ini sudah terlalu panjang. Nanti saya lanjutkan lagi ya. Sampai jumpa!

Sumber:

Maret 24, 2021

Welcome to Piaynemo

Perjalanan dari Teluk Kabui dilanjutkan ke destinasi utama trip kali ini yaitu Piaynemo. I was so excited🤩🤩🤩! Sudah beberapa bulan terakhir hanya melihat foto-fotonya di instagram temen-temen yang duluan kesini bulan Desember 2020 dan Januari 2021. Saya hanya bisa berdoa, Ya Allah, semoga bisa kesini segera🤲, dan Allah ﷻ mengabulkan doa saya. Alhamdulillah! 

Ada yang unik ketika kita akan segera sampai ke Piaynemo, dimana kapal memperlambat lajunya mematikan satu mesin agar baling-balingnya tidak merusak terumbu karang karena memasuki perairan dangkal. Kata Mas Ikhsan, "Kita bakalan melewati perairan sempit. Di kiri-kanannya seperti ada pulau-pulau kecil. Kalau dilihat dari atap kapal, bagus banget deh🤩." Wah, saya tidak mau melewatkannya. Ko Hen pertama naik ke atas, lalu saya menyusul dan duduk di sebelahnya. Rezki dan teman-teman lain pun menyusul. Memang nggak bisa terlalu banyak orang yang duduk di atap kapal, tapi untuk menikmati pemandangan indah ini saya harus duluan.
Teriak dulu, "PIAYNEMOOOO!"
Perjalanan dari Waiwo ke Piaynemo
Rasanya berlayar jauh dari Waiwo Dive Resort ke Piaynemo terbayar sudah. Pemandangan memang sangat memukau, Masya Allah😍😍😍! Air laut sangat bening berwarna hijau tua, cuaca yang tidak terlalu terik, kapal melaju perlahan serasa naik perahu, sehingga kita bisa menikmati pemandangan dengan puas. Di kiri dan kanan terdapat pulau dari batu-batu karst yang pendek dan kami berlayar diantaranya, sehingga membuat kapal berbelok-belok. Agak serem juga duduk di atas kapal, karena goyangannya lebih terasa. Kata Anak Buah Kapal (ABK), kalau kapal melaju kencang justru lebih nggak terasa goyangannya kalau duduk diatas. Bahkan kita bisa berdiri di haluan. Wah, kayaknya saya belum berani deh berdiri di haluan dengan kapal yang melaju kencang. Mana kapal kayak gini kan pagar tepinya pendek. Takut jatuh ke laut. 
Saya kemudian minta tolong untuk difotoin bersama teman-teman.
"Abang baju kuning, fotoin dong!"
"Baju ijo ini," kata bang Udin seraya ngakak😂.
Saya pun ngakak😂, lalu memberikan hp ke bang Udin dan kami pun berpose.
Abang baju ijo ke kuning-kuningan (Udin)
Akhirnya merapat
Dari jauh mulai terlihat tulisan Geosite Piaynemo🤩. Horeee akhirnya sampeee🥳! Kapal mulai menyalakan mesin dan saya turun lagi ke bawah. Agak serem duduk di atas kalau kapal melaju kencang. Saya duduk di belakang supaya masih bisa melihat pemandangan selagi kapal merapat. Kalian tau, sejak November 2017, kawasan Raja Ampat telah ditetapkan sebagai National Geopark oleh Kementerian Kemaritiman Indonesia. Nah, di dalam Geopark itu ada beberapa Geosite termasuk Kabui dan Piaynemo. Menurut UNESCO, ada tiga unsur utama dalam Geopark, yaitu geodiversity, biodiversity, dan culturaldiversity. Selain itu, pengelolaannya juga harus memacu pembangunan ekonomi, salah satunya dengan membuat geosite ini menjadi tujuan wisata (geotourism) yang berkelanjutan. Saat ini, Geosite Piaynemo menjadi salah satu lokasi proyek Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF) dalam program Coral Reef Rehabilitation and Management-Coral Triangle Inivitiave (COREMAP-CTI).
Kapal merapat
Hari itu Piaynemo sangat ramai pengunjung, terlihat dari parkiran kapal dan perahu yang berjejer. Banyak juga masyarakat asli Papua yang datang dengan menggunakan pakaian adat khas mereka. Mungkin baru ada acara diatas, dan banyak anak-anak berjalan turun dari puncak Piaynemo. Sebelum turun kapal, saya touch up makeup sedikit dengan lipstik💄 berwarna merah cabe. Udah lama nggak pake lipstik warna ini karena terlalu cetarrr😝, jadi saya pakai aja mumpung disini 'gitu. Ternyata pake lipstik warna cetar membuat banyak komentar.
"Uwow, itu bibir merah membahana." Saya ngakak🤣.
"Eh, udah dandan aja dia. " Saya jawab, "Iya dong, kapan lagi kan?"
"Nggak apa-apa cantik kok," Nah ini, bikin saya what?😗, lalu kabur.
Umang-umang raksasa
Sebelum saya menaiki tangga ke puncak Piaynemo, saya melihat ada umang-umang versi raksasa di dalam jaring untuk dijual. Kata bapaknya sih ini namanya kepiting kenari. Satu ekornya seharga Rp. 300,000 dan saya heran, wow mahal sekali😲. Tapi memang ukurannya gede banget sih, bisa dimakan untuk 3 orang kayaknya. Kepiting kenarinya pada masih hidup dan berada di dalam jaring-jaring nelayan. Saya lihat di meja ada yang sudah di masak tanpa bumbu, sehingga terhidang di piring dengan warna oren. Di makannya juga cuma 'gitu aja polosan nggak pakai sambal atau kecap. Emang enak ya? Kalau saya yang masak mungkin udah ditambah bumbu saus padang😆. Jadilah kepiting kenari saus padang.
Sudah matang
Sebenarnya saya ingin sekali minum air kelapa karena cuaca super duper panas terik🥵. Tapi saya kebelet pipis juga. Saya mencari toilet umum tapi kondisinya mengerikan😵 dan saya nggak bisa pipis di tempat seperti itu. Kata Bang Udin, setelah ini kita bakalan berenang, jadi mau pipis di laut aja rencananya. Hahaha, duh masa' cewek disuruh pipis di laut😅. Tapi ternyata jadwal berenang itu masih berjam-jam kemudian dan saya masih mencoba bertahan.
Anak-anak Papua
"Dek, foto dulu yuk sama kakak."
Saya berjalan melalui gapura bertuliskan Piaynemo untuk mendaki menuju puncak. Sebelumnya, karena melihat anak-anak Papua dengan pakaian adat dan wajah di lukis, saya langsung mencegat mereka untuk meminta berfoto bareng. Kapan lagi 'kan bisa berfoto bersama mereka dengan kostum lengkap seperti itu. Karena melihat saya berfoto-foto, teman-teman trip juga jadi pada ikutan minta berfoto bersama mereka, sampai bapak-bapak yang menunggu anak-anak itu di parkiran kapal pada sudah teriak menyuruh mereka cepetaaann, atau ditinggal nanti. Anak-anak kemudian pada lari dan meninggalkan teman-teman yang mau berfoto. Untung tadi saya sempat mengambil beberapa foto.
Anak tangga
Saya mulai menaiki anak tangga satu demi satu menuju puncak. Tangga ini dibuat tanpa menebang pohon sama sekali. Kalau kita lihat, di sela-sela anak tangga terdapat batang pohon dan membuat suasana sangat teduh walaupun matahari bersinar sangat terik. Saya menyuruh Rezki duluan saja naik ke puncak bukit karena saya mau merekam banyak video dulu, mana ngos-ngosan lagi😮‍💨. 
Anak tangga diantara batang-batang pohon
Akhirnya saya tiba di puncak dan Masya Allah pemandangannyaaaa😍😍😍😍😍. Pulau-pulau bebatuan kapur terlihat berserakan di lautan biru dengan gradasi hijau tosca, dan langit biru. Di sela-sela pulau terlihat kapal-kapal berlayar bermanuver menambah indah pemandangan😍. Saya berjalan mendekat pagar pembatas, mengambil foto berkali-kali, dan merekam video. Saya sudah tidak peduli betapa teriknya matahari bersinar pada saat itu, saking takjubnya😍. Cuaca sepanas ini justru memberikan warna paling bagus untuk langit dan laut. Bahkan garis horizon jadi terlihat samar-samar ditengah.
MASYA ALLAH😍
Pada saat itu puncak Piaynemo sangat ramai. Kita mengantri berfoto ntah berapa lama. Baru pose sebentar, udah diomelin orang-orang. Ntah berapa kali saya disuruh pergi karena mengganggu mereka yang mau mengambil foto. Kenapa sih frame kameranya nggak disesuaikan gitu biar orang-orang di kiri dan kanan nggak keliatan 'gitu? Awalnya saya masih mau mengalah kalau disuruh pergi. Lama-lama jadi bete sendiri karena belum satu pun foto saya ada disini. Akhirnya saya pura-pura nggak mau denger aja kalau disuruh awas sama orang-orang. Bodo amat laaahh😛!
Teman mengantri foto (sambil ngerusuhin orang yang lagi fotoan)
Saya menyuruh teman-teman turun ke satu lantai di bawah kalau mau saya ambilkan foto terbaik, sedangkan fotografer (saya) tetap berada di atas. Saya mempersilahkan teman-teman untuk berfoto duluan, mumpung saya yang sedang pegang kamera, tapi jangan lama-lama karena panasssss🥵. Setelah itu saya menyuruh Rezki naik dan bergantian dengan untuk memotret saya. Saya melihat Mbak Lia membawa kain tenun panjang seperti sewaktu saya ke Tana Toraja dan saya bilang, "Mbak, pinjem dong kainnya😜." Berpose dengan kain daerah itu membuat hasil foto lebih estetik dan indah. 
Foto terbaik di Piaynemo
Saya lalu meminta teman-teman untuk berkumpul berfoto bareng. Padahal kami udah disindir-sindir pengunjung lain untuk udahan berfoto. Ya 'gimana 'kan belum selesai😒. Hati-hati nanti terjadi kericuhan hanya karena rebutan spot foto, hahaha😂. Saya menyuruh Rezki memberikan kamera ke Bang Udin dan saya teriak (biar kedengaran) bilang, "Bang, jepret aja terus yaa! Nanti kita tinggal pose aja dibawah. Jangan pencet tombol lain sama sekali karena settingnya udah bener." Bang Udin oke-oke aja dan mulailah kita berpose secara random karena suara klik dari kamera nggak kedengaran dan bang Udin pun enggak bilang satu, dua, tiga. Jadilah hasil foto random juga🤣.
Masih rapi
Sudah random
Piaynemo memang salah satu Geosite yang paling dekat dari Waisai dan yang paling populer di Raja Ampat. Tak heran tempat ini memang sangat ramai pengunjung dan para presiden RI pun pernah berkunjung kesini seperti Presiden Joko Widodo yang berkunjung pada 2015 dan awal 2016. Beliau juga kembali mengunjungi kawasan ini pada 2017. Sebelumnya, Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono juga pernah menjejakkan kaki ke kawasan ini untuk meresmikan Sail Raja Ampat pada 2014 (acara ini pasti super duper keren dulu). Hal ini menunjukkan kepopuleran Piaynemo sebagai salah satu geosite berharga yang jadi kekayaan Indonesia.
Semoga suatu hari nanti bisa kembali lagi kesini, aamiinn...🤲
Setelah puas berfoto, pengunjung semakin ramai. Karena sudah lelah dan haus banget, saya akhirnya turun. Saya baru sadar kalau sedang menuruni tangga sendirian karena di depan dan di belakang nggak ada orang. Loh pada kemana mereka? Tadinya temen-temen bilang mau turun juga, tapi ntah dimana mereka. Mungkin masih menunggu yang lain di atas, atau mungkin juga malah udah sampai duluan ke dermaga. Agak serem juga turun sendirian apalagi suara burung, kumbang, jangkrik, semua bersatu-padu bernyanyi bersama. Tapi kalau perjalanan turun kan bisa lebih cepet dari pada naik, jadi tidak lama kemudian saya sudah sampai di bawah.
Turun sendirian
Sesampai di dermaga, saya memesan kelapa muda seraya menunggu teman-teman yang lain turun. Saya berbagi kelapa dengan bu Okati yang sepertinya sudah ada di warung dari tadi. Kami lalu meminum air kelapanya sampai habis karena haus banget. Duh, padahal masih kebelet pipis, tapi tetep minum banyak. Untuk mengerok daging buah, penjual membentuk kulit kelapa menjadi sendok sehingga gampang banget untuk mengerok daging. Kami menyantap daging kelapa muda yang lembut dengan lahap sampai akhirnya semua teman-teman lengkap di dermaga.
Sendok kelapa
Mas Ikhsan dan Bang Udin lalu samperin kita dan bilang kalau nanti makan siang di Telaga Bintang aja (destinasi berikutnya). Tidak terasa sudah lewat tengah hari, pantesan panas bangeettt🥵 tadi di puncak Piaynemo😮‍💨😮‍💨. Kalau sunblock di muka sih aman ya. Nah untuk tangan nih, bisa jadi nggak mempan dan saya sebentar lagi bakalan hitam keling. Ya sudahlah, pasrah aja.
Peta Piaynemo ke Telaga Bintang
Perjalanan dilanjutkan ke Telaga Bintang yang jaraknya mungkin hanya 15 menit dari Piaynemo. Saya mengeluarkan sunblock SPF 100 dan mengolesnya ke punggung tangan. Sebenarnya udah memakai sunblock dengan SPF setinggi ini 'ngaruh nggak ya untuk menangkal sinar matahari? Kok saya kurang yakin😐? Ternyata, dermaga untuk parkir kapal menuju Telaga Bintang sedang di renovasi, sehingga kita nggak bisa mampir. Sayang sekali, padahal kalau lihat di foto teman-teman yang sudah duluan kesini, telaganya sangat cantik😔, berbentuk bintang dan terbentuk secara alami. ABK menyarankan kita ke Telaga Manta, karena tempatnya juga sama-sama bagus. Kami semua hanya 'ngikut saja kemana pun yang dibawa. 

Kapal kemudian melanjutkan perjalanan. Sekitar 5 menit kemudian, kami tiba di dermaga Telaga Manta. Cuaca semakin terik🥵 dan kami tetap harus naik tangga ke puncak bukit agar bisa melihat bentuk penuh dari telaganya. Kata Bang Udin, setelah turun nanti kita makan siang bareng-bareng. Beberapa teman sudah tidak mau ikut menaiki tangga ke puncak karena sudah capek dan lapar juga. Kalau saya nanggung udah disini masa' nggak naik sampai puncak. Saran saya kalau ke Raja Ampat wajib bawa kacamata hitam, jadi teriknya matahari bersinar tidak membuat kita terus mengernyit sehingga kepala bisa pusing. 

Saya mulai menaiki anak tangga satu demi satu yang jarak anak tangganya dahsyat. Jauh-jauh banget, bikin cepet capek dan ngos-ngosan. Haduh, mana nggak bawa minum lagi. Sesampai di puncak, subhanallah panasnya cuaca🥵. Tempat berteduh hanya sebatang pohon kecil dan area peristirahatan yang memiliki atap kecil mungil. Saya berjalan mendekat ke pagar pembatas, melihat sebuah telaga yang terbentuk secara natural benar-benar seperi ikan pari manta berwarnah hijau tua. Masya Allah ya, bisa begitu persis bentuknya. 
Telaga Manta
Pose dulu
Karena cuaca sungguh panas terik🥵, saya meminjam topi dari Mbak Lia (dia selalu membawa properti foto dengan lengkap), sekalian untuk saya berfoto juga. Saya lalu pergi ke sisi seberangnya untuk mengambil foto kepulauan batu-batu karst dari sudut pandang yang berbeda. Segini banyak foto, tapi yang dimasukkan ke dalam sosial media paling satu saja😄. Saya kemudian mengajak teman-teman untuk segera berfoto bareng supaya cepet turun karena cuaca terlalu terik ini lama-lama bikin dehidrasi.
Berfoto dengan properti Mbak Lia😆😆
Kiri ke kanan : Ibu Okati, saya, Tiyo, Mbak Lia, Mbak Asri, Budet, Rezki, Iyus, Ibu Martha, Cici Ling
Untung kita pakai baju berwarna-warni kecuali cowok-cowok yang kalau nggak pakai hitam ya putih. Duh, warna di dunia ini banyak, kenapa pake hitam putih yaaa😅. Salah seorang ABK menunjukkan Telaga Bintang dari kejauhan kepada saya dan saya mengambil fotonya dengan melakukan zoom berkali-kali. Sayang sekali kita tidak kesana ya🥲. Seandainya ada drone, saya bisa mengambil foto dari ketinggian, sehingga bentuk bintangnya bisa sempurna. Kami baru akan memakai jasa dokumentasi yang ada drone nanti ketika berada di Misool. 
Telaga Bintang
Kami pun turun setelah terjemur beberapa saat untuk berfoto. Mas Ikhsan menyuruh kita makan dulu sebelum melanjutkan perjalanan. Saya mengambil nasi kotak dan minuman, lalu duduk di kursi kayu untuk makan. Menunya makan siang kali ini adalah tuna balado. Memang ikan tuna di Raja Ampat ini sangat segar, murah, dan ukurannya besar-besar, sama seperti di Aceh. 
Selagi makan, Ko Hen memamerkan hasil jepretannya pada saya, "Lu liat deh foto ini,"
Saya mendekat dan tertawa ngakak🤣🤣🤣.
"Mereka minta difotoin dengan gaya ini itu, harus ini-lah, harus itu-lah, tapi gw merasa ini hasil foto gw yang paling keren."
Saya masih ngakak🤣🤣🤣 sampai hampir nggak bisa ngunyah makan siang.
Foto terkeren versi Ko Hen
Setelah makan, kami kembali ke kapal untuk melanjutkan perjalanan ke Arborek. Seperti biasa tiba-tiba ada perahu yang muncul bagaikan ninja untuk menarik ongkos parkir kapal. Huff🙄! Saya duduk di kursi belakang agar kena angin karena sudah sangat kepanasan🥵🥵🥵. Ini baju saya udah basah karena keringat. Kapal pun melaju ke destinasi berikutnya. Saya kemudian memindahkan foto-foto dari kamera ke hp, lalu baru sadar kalau teman-teman seolah-olah tersihir sehingga mereka hampir semua tertidur. Ntah sejak kapan mereka tidur😧, tapi saya malah nggak ngantuk. Capek sih, apalagi kita baru selesai mendaki dua puncak, tapi saya lebih bersemangat untuk memindahkan foto daripada tidur. Agak susah juga tidur kalau nggak bersandar.
Teman-teman tersihir dan tertidur
Menuju Arborek
Perjalanan dari Piaynemo menuju Arborek ditempuh dalam waktu 45 menit sampai sejam tergantung arus dan gelombang laut. Kalau di peta sih lumayan agak jauh juga tempatnya. Sejauh ini, lautan sangat tenang ketika kami berlayar. Selama perjalanan, saya mempersiapkan kamera GoPro dan menyimpan kamera SLR juga membungkusnya dengan rapi agar tidak terkena air laut nanti.

Baiklah, di postingan selanjutnya saya akan menulis tentang Arborek dan Pasir Timbul, yang merupakan destinasi berenang dan snorkeling terindah, sebelum saya melihat yang di Misool. Duh, udah nggak sabar. Stay tuned!

Sumber:

Follow me

My Trip