Maret 25, 2021

Snorkeling di Arborek

Udah keringetan banget (baju sampai basah), kepanasan🥵, kebelet pipis, semua jadi satu, dan akhirnya sampai juga ke destinasi untuk snorkeling. Kapal merapat ke dermaga dan cowok-cowok disuruh turun duluan karena cewek-cewek mau ganti baju renang. Kita banyak yang nggak nge-double baju, jadi harus berganti semua pakaian. Saya sebenarnya mau ganti baju juga, cuma baju renang masih bersih dan wangi, sedangkan baju yang saya pakai sekarang udah bau keringat. Mending pakai baju ini aja deh sekalian kotor kan. Jadi saya hanya berganti celana renang aja.
Kampung Wisata Arborek
Saya kemudian turun ke dermaga dan mengambil life vest untuk snorkeling. Sebenarnya kalau mulai snorkeling dari pesisir pantai, saya lebih berani berenang tanpa pelampung. Daripada harus langsung nyemplung dari atas kapal ke laut. Tapi saya takut juga karena ini adalah Raja Ampat, jangan-jangan dalem banget lautannya. 
Saya melihat Mas Ikhsan udah nyemplung duluan dan berteriak, "Mut, loncat! Ayok cepetan!" 
Haduh😰 saya kan belum tau lautannya kayak apa, eh udah disuruh nyemplung, sambil loncat pulak. Belum semua teman-teman berenang saat itu karena banyak yang shalat dulu. Saya melihat Ko Hen udah nyebur duluan bersama Mas Ikhsan. Saya lalu mengambil jalan memutar ke pesisir, dan menaruh pelampung di tepi pantai karena mau mencoba berenang tanpa pelampung dulu. Tidak lupa menyalakan GoPro untuk merekam video.
Memutar ke pesisir
Snorkeling dulu
Saya mulai berenang dan takjub, Maasyaaaa Allaaahhh ikaannyaaaaa😱😱😱! Begitu banyak, bermacam-macan dan warna-warni. Dulu saya berpikir, Kepulauan Derawan sudah menjadi tempat snorkeling terbaik yang pernah saya kunjungi dan Arborek jauh diatasnya sebelum saya melihat Misool. Sengaja di garis bawahi Misool karena katanya jauh lebih indah lagi daripada Arborek. Duh, jadi nggak sabar kesana. Saya merekam video kesana kemari, lalu melihat bagian lautan yang sudah dalam. Mulai deh ada rasa takut dan saya hanya berenang di tepinya saja yang warna lautannya masih biru, belum biru dongker.
Ikan-ikan masih di area dangkal
Banyak terumbu karang dan ikan warna-warni
Arborek berasal dari bahasa Biak yang berarti duri. Pada jaman dahulu, suku Biak dikenal sebagai pelaut ulung (mungkin inilah istilah nenek moyangku seorang pelaut). Ketangkasan mereka saat melaut membuat suku Biak dijuluki sebagai viking-nya Papua. Kalau kalian bingung lokasi Pulau Biak, bisa lihat di peta dimana pulaunya berada di atas Pulau Papua. Kalau jaraknya ke Arborek sih jauh banget yaaa😅. Nah, pada saat itu, ada kapal pelaut Biak yang berlayar dari Teluk Cendrawasih (Taman Nasional Teluk Cenderawasih yang merupakan taman nasional perairan laut terluas di Indonesia, terdiri dari pesisir pantai, daratan pulau-pulau, terumbu karang, dan perairan lautan), menuju ke utara. Mereka tak sengaja menemukan pulau kosong yang berpasir putih. Setelah dijelajahi, pulau tersebut banyak ditumbuhi semak duri. Para pelaut lalu menelusuri seluruh pulau. Setelah yakin pulau itu kosong, mereka pun memutuskan untuk tinggal dan membuat perkampungan di sini. Karena awalnya pulau ini penuh semak duri, mereka memberi nama pulau dengan Arborek. Hingga kini Arborek dikenal sebagai pulau cantik berpasir putih. Pantai-pantainya yang sebening kaca membuat Arborek diburu sebagai tempat liburan yang sangat instagrammable.
Memberikan GoPro ke Rezki
Saya menyembul sedikit ke permukaan laut dan mencari Rezki, dia udah selesai shalat belum ya🤔? Setelah ketemu Rezki, saya memberikan GoPro untuk menyuruh mengambil video di bagian lautan yang dalam. Saya lanjut snorkeling lagi dan mengkode Rezki (dari dalam air) untuk mengambil ikan-ikan di sebelah sana, eh tau-tau datanglah segerombolan ikan dari belakang saya menuju Rezki yang super duper banyaaaaaakkkkkkk😱😱😱. Kami di serbu ikan-ikan itu seperti tornado. Saya sampai terdiam mematung sambil ngambang😲, melihat kejadian sangat menakjubkan itu. Maasyaa Allaaah! Seandainya saya bawa jaring ikan, mungkin saya udah panen ikan berkilo-kilo, dan saya bisa langsung bawa ikan-ikan ini berdagang ke pasar.
Diserbu ikan
Banyaaaaakkkk
Capek juga berenang nggak pakai pelampung. Saya kemudian melihat life vest yang tadi di tepi pantai udah terbawa arus agak jauh ke daerah laut yang dalam. Saya minta tolong Tiyo untuk ambilin pelampung karena saya takut ke lautan berwarna biru dongker (masih teringat dulu sempat trauma sewaktu berenang di Pulau Menjangan Bali melihat 'sesuatu' di palung). Selesai dapat pelampung, saya peluk dan berenang ke tempat yang lebih landai. Saya kemudian berdiri, beristirahat, lalu tiba-tiba ada yang nyolek kaki saya. Saya menoleh ke kiri dan ke kanan, melihat teman-teman agak jauh dari saya. Siapa yang nyolek🤔? Trus di colek lagi, lebih tepatnya di cubit. Kok ada yang nyubit sih dari dalam laut😅? Saya lalu diam nggak bergerak sama sekali agar air laut tenang, lalu melihat ada ikan pipih mendekat dan menggigit kaki saya. Ouch😅! Ohh ini dia biang keroknya. Uggghhh gemeyyssshh!😆😆😆
Ribuan ikan
Saya berenang-renang lagi, lalu melipir ke pinggir. Udah kelamaan berenang, kulit jari-jari tangan jadi keriput. Saya kemudian jadi instruktur renang Bu Martha dan Budet saja, hahaha😂😂😂. Biar nggak terlalu capek.
Saya udah bilang, "ini masih napak loh kita, tinggal kepak-kepak kaki aja, nggak akan tenggelam."
Kata Bu Martha, "Aduh aku nggak berani. Ini pertama kalinya aku berenang. Dulu pas ke Pulau Seribu, aku cuma main di pinggir pantai aja."
"Udah bu, cobain ajaaa. Nanti di Misool nggak bisa napak lohh!"
Budet lebih berani. Dia nyoba terus berenang dimulai pake dua pelampung, sampai akhirnya bisa kepak-kepak kaki juga. Saya ngakak aja melihat mereka berenang karena mereka bisa tiba-tiba panik padahal masih napak dan tinggi airnya cuma sepinggang saya🤣. 
Selfi dulu
Oh iya, karena banyak pecahan terumbu karang, kaki saya jadi kebaret-baret luka dan pedih banget karena kena air asin. Bu Martha lebih parah lagi, sampai seluruh kaki di kedua kakinya jadi luka. Saya melihatnya jadi 'ngilu sendiri😰😰😰. Ibu itu menghindari terumbu dan kebaret dari samping kiri dan kanan. Lukanya pun banyak yang panjang, duh serem😰. Kalau luka saya hanya di pergelangan kaki karena pakai celana panjang. Itu aja udah perih, apalagi kalau luka sebanyak bu Martha. 
Lelah hayati
Saya melihat mbak Daisy dari kejauhan yang nggak berenang. Saya sudah mengajak beberapa kali, tapi katanya berenang nanti aja di Misool. Kalau Ci Ling dan Ko Jo hanya main air saja di pesisir pantai yang tidak terlalu dalam. Akhirnya saya udah capek, jadi tiduran aja di atas pelampung sampai ada komando dari Bang Udin untuk melanjutkan ke destinasi selanjutnya. Rasanya jalan ke pesisir saja jadi berat, mungkin karena sudah terlalu lelah berenang. Ketika sampai di daratan, duh badan mendadak jadi ringan lagi. Saya dan teman-teman kemudian kembali ke kapal untuk berlayar ke destinasi selanjutnya. 
Menuju destinasi selanjutnya
Kalian pasti sudah sering mendengar fenomena unik berupa pasir timbul di tengah laut yang nampak seperti pulau jika dilihat dari kejauhan atau dari atas (menggunakan drone). Kali ini tujuan selanjutnya adalah Pasir Timbul Mansuar yang jaraknya lumayan dekat dari Arborek sekitar 30 menit. Sepertinya setiap saya ngetrip ke destinasi pantai dan laut pasti akan dibawa ke pasir timbul. Dulu sewaktu di Labuan Bajo juga begitu, kami juga berkunjung ke pasir timbul. Fenomena unik pasir timbul ini terjadi ketika air laut sedang surut. Di momen-momen tertentu, pasir putih akan muncul dan bisa kita jadikan tempat untuk duduk santai atau hanya sekadar menikmati bersihnya pasir putih. 
Pasir Timbul Mansuar
Kapal tidak parkir terlalu rapat dengan pesisir karena takut baling-balingnya terkena dasar laut yang dangkal. Jadi kami harus turun ke air laut dulu. Saya tidak membawa kamera karena takut jatuh atau terkena air laut. Jadi hanya bawa hp saja. Pemandangan di pasir timbul sangat indah karena sejauh mata memandang terdapat hamparan putih pasir pantai dengan air laut sebening kristal dan gradasi warna air laut dari warna biru pudar sampai biru dongker (pasti dalam). Biasanya, pasir ini akan muncul ke permukaan di waktu siang hari sekitar pukul 11.00 WIT siang hingga 15.00 WIT sore, sedangkan ketika kami kesini sudah sore sekitar jam 4. 
Pose dulu
Ayok foto bareng
Siluet
Saya malah mengira bakalan menikmati matahari tenggelam di Pasir Timbul karena kita tiba disini aja udah sore. Tapi kata bang Udin, masih ada destinasi terakhir setelah ini😕. Yang hanya bisa dilakukan disini adalah bermain di pantai atau berenang, dan berfoto. Saya sempat berenang sebentar, tapi nggak bawa snorkel atau kaca mata renang, jadi agak malas juga kalau harus menyelupkan kepala. Takut hp jatuh juga. Paling cuma duduk-duduk di pesisir. Beberapa teman-teman sempat berfoto melompati Pulau Mansuar, tapi saya nggak berfoto kecuali rame-rame. 
Foto beramai-ramai
Ko Hen, Mbak Lia, dan Mbak Yuliza lagi celup-celup😂
Kami lumayan lama disini. Saya bahkan udah jalan dari ujung pulau ke ujungnya lagi, udah duduk di pesisir, udah berfoto disana-sini, sampe nggak tau mau ngapain lagi. Saya sampai bilang lagi ke bang Udin kalau disini sunsetnya pasti bagus banget karena arah cahaya matahari sama sekali tidak terhalang apa pun dan langit tidak mendung. "Kita nongkrong disini aja sampai magrib". 
Tapi kata bang Udin, memang bakalan ke Friwen untuk bersantai. "Nanti disana ada warung, bisa sekalian makan. Deket kok dari sini tempatnya." Baiklah. Saya cuma takut nanti sampai Friwen, malah udah nggak ada lagi mataharinya. Padahal kapan lagi bisa mendapatkan sunset di Raja Ampat😢.
Lanjut Friwen
Sekitar pukul 17.30 kami berangkat ke Friwen. Perasaan saya bilang, pasti nggak dapat nih foto matahari tenggelam. Benar saja, kami berlabuh di pesisir yang berada di belakang sebuah pulau sehingga matahari ketutupan pohon-pohon di pulau itu. Hiks jadi sedih😢. Hal yang sangat saya inginkan di Raja Ampat salah satunya adalah memotret matahari tenggelam. Lagian udah pas banget tadi di pasir timbul, tapi malah harus ke Friwen. Jadi bad mood deh saya selama di Friwen. Padahal nantinya saya akan mendapatkan best sunset di Misool, cuma 'kan belum tau 'gimana Misool, jadi nggak kebayang.
Warung di Friwen
Pantainya
Untuk menghilangkan kebete-an, saya mampir ke warung. Udah lapar sih, jadi pengen tau ada apa aja yang dijual. Mbak Yuliza bilang, "Masing-masing gw pesenin pisang goreng ya. DUA BIJI. Nggak boleh kurang, nggak boleh lebih!" Saya tertawa🤣🤣🤣. Duh, kalau lapar, nggak boleh makan tiga dong? Trus kalau cuma mau makan satu 'gimana? 
Mbak Yuliza sampe bilang ke teman-teman, "Awas loe kalau makan tiga." Ancamannya mengerikan, tapi lucuuuu🤣. 
Ko Hen lalu bilang, "Eh gua kan orang sekampong loe, masa' nggak boleh makan tiga?" Dia mencoba bernegosiasi.
Dan Tiyo melanjutkan, "Aku pun orang sekampong, jadi boleh-lah makan tiga?"
"Nggak usah macam-macam!" Kata Mbak Yuliza dengan wajah sok galak dan saya ketawa🤣. "Sejak kapan kita sekampong?" katanya menunjuk Tiyo.
Duduk di ayunan
Karena ibu-ibu di warung belum selesai menggoreng pisang, saya duduk di ayunan untuk beristirahat dan menenangkan pikiran. Tadi sempat masuk sinyal dan membaca Whatsapp yang membuat bete, nggak dapat sunset jadi bete, lagi mens juga tambah bete, pokoknya udah komplit persyaratan 'kebetean' pada sore itu. Ya udah deh saya duduk saja di ayunan sambil bersandar ke tali seraya melamun. Semula saya hanya sendiri, trus Iyus datang. Saya bilang, "Lo nyanyi dong, gw lagi bete." Kebetulan Iyus suka banget nyanyi, suaranya juga bagus. Dia langsung bernyanyi seraya meng-ayun saya. Tapi lama-lama jadi kenceng banget ayunannya, dan saya jadi takut. Oh no!😟
Mari kita pulang~
Rezki datang dan bilang, "Pisang goreng udah mateng. Yok, yok! Cepeet!" Memang paling enak setelah capek berenang itu makan makanan ringan seperti gorengan. Mana enak banget lagi gorengannya dan nggak boleh makan lebih dari dua😂. Saya juga memesan teh manis panas untuk menghangatkan badan. Apalagi masih pakai baju basah sejak dari Arborek tadi. Selesai makan, sebelum langit benar-benar gelap, kami naik ke kapal untuk kembali ke Waiwo Resort. Duh rasanya udah pengen banget mandiiiiii😩😩😩. Badan udah lengket semua.
Perjalanan ke Waiwo
Alhamdulillah kami mengakhiri trip hari ini dengan selamat pergi dan pulang😮‍💨. Hal yang pertama saya lakukan ketika tiba di resort adalah mandi. Saya udah bilang ke Mbak Daisy kalau nanti saya mau mandi duluan. Dia sih oke-oke aja karena memang nggak nyebur tadi. Jadi teringat, kita sampai teleponan untuk memastikan handuk yang mana yang kita pakai. Udah ditandai masing-masing, masih hampir ketukar juga😆.

Baiklah, postingan ini sudah terlalu panjang. Nanti saya lanjutkan lagi ya. Sampai jumpa!

Sumber:

0 comments:

Follow me

My Trip