April 28, 2021

Dear April, Happy Birthday

Happy Birthday to me🎂! Sengaja memposting cerita tentang ulang tahun di akhir bulan karena kali ini perayaannya memang sebulan lamanya😆. Sebenarnya tanggal ulang tahun saya adalah 4 April, tapi beberapa teman merayakannya tidak tepat pada tanggal tersebut. Baiklah, saya akan merangkum semua acara yang sempat terjadi di bulan April.

1. Di hari H, banyak sekali ucapan ulang tahun datang dari keluarga dan teman-teman. Khanti, Zayd, dan Baitil khusus merayakannya sambil bawa kue ulang tahun dari The Harvest. Setelah acara tiup lilin kecil-kecilan, kami kemudian melanjutkan makan di Saung Mang Engking yang berada di area kampus UI.

2. Sewaktu saya terjadwal untuk laser wajah di ZAP Central Park, teman-teman ngetrip Raja Ampat ngajak ketemuan untuk traktiran makan-makan. Awalnya saya ingin pulang cepat, tapi ternyata Baitil lama banget di salon. Ya sudahlah, mau nggak mau saya pasrah ditodong makan-makan. Tapi seru banget sih, saya sama sekali nggak menyesal hari itu. Kita makan di Remboelan Central Park.

3. Saya mengajak Farah (keponakan), Baitil, dan Rezki makan di Sushi Tei sehari sebelum Ramadhan. Sayangnya Farah nggak bisa karena urusannya di Tanoto Fondation belum selesai. Rezki pun harus pulang cepat karena mau ikut shalat taraweh di mesjid. Jadilah sisa saya dan Baitil makan Sushi Tei hari itu.

4. Pondok Patin H.M Yunus, Pekanbaru
Kami agak shock melihat nota yang harus kami bayar di resto yang satu ini. Padahal menunya biasa saja, tapi total pembayaran bisa 1,6 juta untuk 6 orang😱. Apa-apaan iniii! Saya melihat teman-teman mulai gelisah. Bayangkan, kami harus membayar Rp. 325rb perorang hanya untuk makan gitu doang. Ntah kami terlihat turis mungkin ya? Tapi memang rejeki teman-teman saya, tiba-tiba duit Amazon masuk jadi saya bayarkan saja semua makanannya. Semoga dibalas oleh Allah subhanahu wata'ala kepada saya rezeki yang berlimpah. Aamiin🤲.
Kompilasi foto ulang tahun
Untuk hadiah, bulan ini saya mendapatkan banyakkkk sekali kado. Saya sempat memposting satu-persatu sampai akhirnya Mama protes. 
"Ngapain sih, ucapain terima kasih pada orang yang ngasih kado harus diposting? Itu 'kan semua orang di Instagram kamu jadi tau kalau kamu dapat hadiah yang murah atau mahal. Jangan posting lagi!"
Gara-gara di omelin Mama, saya kemudian menimbang beberapa hal. Apa yang dikatakan Mama memang ada benarnya. Mama sangat menjaga kami anak-anaknya dari perbuatan riya. Jadi memang lebih baik nggak usah di posting. Kalau sudah terlanjur posting, ya sudahlah. Tapi memang banyak banget hadiah yang ingin saya posting, jadi akhirnya nggak diposting deh. Hehehe😅.

Sebenarnya ulang tahun itu adalah peringatan kalau umur kita berkurang di dunia. Kenapa nggak memohon ampun pada Allah dan meningkatkan ketaqwaan? Maafkan saya ya Allah karena sempat berkeinginan untuk pamer di sosial media tentang hadiah-hadiah yang saya terima. Saya jadi sadar kalau budaya 'pamer' itu nggak ada gunanya, yang ada menambah dosa. Takutnya ada orang yang hasad, iri, dan dengki pada kita. Astaghfirullahala'dzim.

Keinginan saya tahun ini adalah:
1. Bertemu jodoh dan mengakhiri petualangan. Capek juga setiap tahun harus bergonta-ganti pasangan. Sudah merasa dekat, eh tetep nggak cocok. Huft, lelah sekali menanti jodoh itu. Semoga segera ya Allah. Aamiin🤲.
2. Perusahaan tidak ada masalah lagi. Semakin lama saya menyadari kalau masalah di perusahaan itu mungkin bentuk dari dosa-dosa yang saya lakukan. Semoga Allah memaafkan dosa saya, agar perusahaan terus lancar rezekinya. Aamiiin🤲.
3. Ke Amerika. Semoga setelah pandemi mereda, saya bisa ke Amerika untuk mengurus perusahaan. Saya ingin tinggal lama disana hanya untuk merasakan hidup seperti masyarakan lokal. Mudahkan pengurusan Visa saya ya Allah. Aamiinn🤲.
4. Semoga berkah umur, rizqi, semoga keluarga selalu sehat dan dijauhkan dari kejahatan di dunia. Semoga selalu mendapatkan ilmu yang bermanfaat. Aamiinn ya Rabbal 'alaminn🤲.

April 24, 2021

Kontrol Ramadhan

Setelah sebulan lebih nggak kontrol, akhirnya datang juga jadwal yang sudah di booking dari sebulan yang lalu. Pas banget saya baru pulang travelling dari Raja Ampat, Sumatra Barat, dan Pekanbaru. Udah ntah 'gimana ini kawat giginya. Oh iya, kali ini OMDC memberikan saya Alat Pelindung Diri (APD) berwarna pink yang cocok banget dengan tema klinik yang serba pink. Kebayang kalau pasien cowok yang pakai, pasti jadi cute😙.

APD Pink

Ketika tiba giliran saya untuk kontrol, tiba-tiba Orthodentist nanya:

"Eh iya gimana di Raja Ampat?"
"Lho, kok dokter inget?"
"Inget dong, kan kamu nego sama saya untuk nggak pake kawat elastis."
Saya langsung ngakak😂, "Indah banget disana dok😍. Surga dunia. Dokter ngga kesana?"
"Males ah saya udah punya bontot. Nanti kalau saya kenapa-napa, siapa yang sekolahin? Temen saya dulu naek gunung, eh nggak pulang lagi." Dokter jadi curhat.
"Hmm, kematian itu dimana aja dokter... 😇" Lalu hening.

Dokter lalu membuka karet gigi saya, sambil terus bertanya:

"Dapat tiket berapa kemarin?"
"125rb pulang-pergi dokter." (Berusaha menjawab sambil gigi di bongkar-bongkar)
"Wah murah banget. Pakai pesawat apa?"
Saya mulai kesulitan mau menjawab karena bibir ditarik-tarik, gigi ditekan-tekan, "A-asia.."
"Apa?" tanya dokter.
"ArAsia..."
"Oh murah ya? Kok bisa murah?"
Saya diam.
"Apa karena maskapai budget?"
Saya geleng-geleng. Mana tangan lagi pegang hp. Mau nunjuk ke mulut susah.
"Trus kenapa murah banget?"
Akhirnya saya nunjuk-nunjuk ke mulut. Trus dokter tertawa😂, lalu menyuruh saya berkumur.
"Saya nggak bisa jawab pertanyaan dokter selagi dokter ngerjain gigi sayaaa...😭😭😭"
Dokter lalu ngakak banget🤣🤣🤣. Saya merasa dikerjain.

Sebenarnya dokter mau memotong gusi saya (lagi) yang sebelah kiri seperti yang beliau lakukan di bulan yang lalu (sebelah kanan). Tapi karena saya sedang berpuasa, takut air dari bornya heboh nanti tertelan, jadi ditunda bulan depan aja. Selama sebulan ini, saya diwajibkan memakai karet elastis lagi agar gigi lebih rapat. Kalau lagi berpuasa dan di rumah aja sih sebenarnya nggak apa-apa pakai karet elastis. Tapi kalau lagi jalan-jalan, snorkeling, atau kulineran di kota baru, duh karet elastis ini mengganggu sekali. Berhubung mau pulang kampung, jadi saya pakai aja biar cepet rapi.

Kalau dilihat dari foto sih, gigi atas saya masih miring. Ntah kenapa rahang saya sulit sekali dilurusin. Awalnya perkiraan dokter hanya 2-3 tahun saja, ehh ini udah mau 4 tahun tapi belum selesai juga. Huff, baiklah, saya ikuti saja semua saran dokter. Toh wajah saya sudah berubah drastis dari tahun demi tahun.

Gigi atas masih miring
Biaya APD Rp. 75,000
Charge Pasien Lama Rp. 40,000
Kontrol Ortho Emergency Shappire Rp. 275,000
Karet Elastis Rp. 60,000

April 23, 2021

Buka Puasa di Bukittinggi (Lagi)

Ngetrip bulan puasa memang sangat menyita tenaga. Alhamdulillah kita nggak pernah batal puasa sama sekali. Hanya saja ketika saatnya berbuka, rasanya ingin memborong semua cemilan dan gorengan yang dijual di pinggir jalan, ntah karena lapar mata👀. Saya dan teman-teman dengan bersemangat menyusuri pedagang kaki lima untuk memilih-milih cemilan. Memang momen paling seru ketika Ramadhan adalah berburu makanan untuk berbuka, apalagi di provinsi yang sangat kental dengan budaya islam seperti Sumatra Barat. Saya beli sop buah, gorengan, kue-kue manis, sekalian untuk sahur juga.
Untuk buka puasa
Kalau kalian mau makanan yang agak berat, bisa masuk ke rumah makan untuk membeli bihun, ayam lado mudo, menu nasi, dan lainnya. Saya sebetulnya agak takut kalo kondisi 'ingin memborong semua jajanan' hanya lapar mata, jadi saya hanya beli cemilan saja dan berusaha menahan diri agar tidak terus-menerus jajan. Setelah kita semua menenteng bungkusan makanan, kami kembali ke mobil untuk lanjut ke rumah makan yang sudah di book oleh bapak supir.
Jajanan menu lebih berat
Buka puasa kali ini kita tetap makan menu masakan padang di Rumah Makan (RM) Family Benteng Indah, Jl. Yos Sudarso, Birugo, Kec. Aur Birugo Tigo Baleh, Kota Bukittinggi. Pengunjung yang datang sudah begitu ramai, bahkan sampai penuhhh sekali rumah makan ini😱. Untung kita sudah booking sebelumnya. Ketika adzan berkumandang, kami minum terlebih dahulu, baru menyantap makanan.
Makanan sudah tersedia
Kali ini walaupun begitu banyak makanan kita santap, ditambah cemilan yang tadi kita beli, saya masih merasa kurang kenyang😕. Ntah karena rute trip hari ini benar-benar melelahkan, jadi saya merasa kehabisan energi sehingga harus diisi ulang. Selesai makan, kami diantar kembali ke hotel. Kami memutuskan untuk balik ke kamar dulu sebelum melanjutkan nongkrong ke Cafe yang berada di dekat hotel. Pokoknya kalau malam harus menyempatkan diri untuk nongkrong. Kartu akses kamar sempat tidak bisa digunakan, jadilah kami menunggu petugas sambil duduk di lorong hotel.

Selesai siap-siap, kami kemudian keluar lagi untuk melanjutkan makan. Malam ini nggak mau jalan terlalu jauh, jadi kita hanya makan di Cafe terdekat yang sudah kita hunting dari malam sebelumnya. Banyak Cafe unik di tengah kota sebagai tempat nongkrong anak muda (yang sudah tidak terlalu muda ini😆), dan kebanyakan memang dekat dari hotel.

Sesampai di Cafe, saya memesan menu 'aman' yaitu mie goreng atau mie rebus yang nantinya bakalan di makan rame-rame. Kita juga pesan pisang goreng coklat dan cowok-cowok pengen minum 'teh talua', semacam STMJ tanpa jahe kalau di Bandung. Kalau saya paling nggak bisa minum sesuatu yang ada telurnya🤢. Benar saja, bau amis dari minuman itu bikin eneg. Iyus sampai nggak mau melanjutkan minum karena rasanya yang aneh.
Iyus bersiap-siap minum teh talua😆
Sambil menghabiskan cemilan, kami mengobrol. Kali ini topiknya tsunami. Ci Ling dan Iyus ingin mendengar langsung cerita saya, Baitil, dan Rezki mengenai pengalaman kita kena tsunami di tahun 2004. Yang paling parah cerita Rezki sih memang, karena dia sempat timbul dan tenggelam melawan gelombang. Kalau saya seram juga tapi mungkin ceritanya masih kalah dibandingkan Rezki. Mendengar cerita kami aja Ci Ling dan Iyus terbelalak, mungkin saking dahsyatnya pengalaman hidup kita😂😂😂.

Sekitar jam 10 malam, kita kembali ke hotel untuk beristirahat. Besok kami akan melanjutkan perjalanan ke Riau melalui darat dan ini adalah pengalaman saya pertama kali berpindah provinsi dari Sumatra Barat ke Riau. Sampai jumpa di postingan berikutnya!

April 21, 2021

Berkeliling Bukittinggi dan Belanja

Bangun pagi kembali di kota Bukittinggi. Pemandangan dari jendela kamar hotel sangatlah indah. Tampak 2 buah gunung yang puncaknya ditutupi awan, berpadu dengan warna langit biru cerah. Hari ini kami akan melanjutkan perjalanan berkeliling kota Bukittingi dengan menggunakan mobil Innova (beberapa hari yang lalu pakai HiAce karena orangnya ramai). Udah nggak sabar dan tetap semangat walaupun sedang berpuasa💪!
Pemandangan dari kamar hotel
1. Janjang Koto Gadang, Replika Tembok Raksasa Cina
Dunia mengenal Tembok Raksasa Cina sebagai salah satu Situs Warisan Dunia. Eh, tunggu dulu. Kali ini kita nggak perlu jauh-jauh ke Cina buat melihat tembok raksasa. Apalagi sejak pandemi seperti ini agak susah 'kan keluar negeri😅. Provinsi Sumatera Barat juga memiliki wisata serupa yang nggak kalah megahnya bernama Janjang Koto Gadang. Dari Hotel Grand Rocky (tempat kami menginap), jaraknya hanya kurang dari 20 menit dengan mengendarai mobil.

Tempat ini merupakan saran dari bapak supir karena saya dan teman-teman sebenarnya nggak tau kalau di Bukittinggi ada tembok Cina. Setiba kami disini, saya berpikir untuk tidak turun sampai ke ujung karena lagi puasa, nanti kehausan🥵. Tapi semakin menuruni anak tangga, semakin penasaran. Apalagi melihat Iyus dan Rezki dengan semangat menuruni tangga, saya jadi ikut-ikutan. Ci Ling dan Baitil hanya turun sampai setengah jalan saja karena kaki Ci Ling sakit.
Mulai menuruni tangga
Masih banyakkk tangga
Panjang tembok ini mencapai 780 meter. Butuh waktu 15-30 menit berjalan kaki menyusuri tangga di tembok selebar 2 meter tersebut sampai ke ujung. Alhamdulillah akhirnya bisa sampai ke bawah dan melihat keindahan sungai diantara pepohonan rindang dan langit sangat biru. Ada sebuah jembatan diujung tangga yang katanya bisa tembus sampai ke Goa Jepang. Saya harus tarik napas terlebih dahulu sekitar 10 menit sambil berfoto dan menikmati pemandangan, baru memutuskan untuk naik lagi. Sepi sekali dibawah karena memang selama Ramadhan orang-orang lebih suka berdiam di rumah ketika siang hari. Duh, rasanya haus sekali🥵 tapi mau bagaimana lagi.
Pemandangan dari atas jembatan
Yang paling berat adalah naik tangga🥵. Karena saya memiliki asma, napas jadi terlalu cepat ngos-ngosan dan pendek. Saya harus mengatur napas sedemikian rupa agar tidak pitam. Sudah mulai keliyengan dan nggak bisa menyamai cowok-cowok yang langkahnya cepat banget. Dengan penuh perjuangan, sampai juga akhirnya keatas🥵. Ya Allah, ingin rasanya minum aqua satu galon tapi tetap bersabar. Keringat bercucuran, napas berat, tapi kami langsung masuk ke mobil untuk melanjutkan perjalanan.

2. Pandai Sikek Nagari Wisata
Mama sempat menelepon dan bertanya apakah saya sudah beli mukenah? Awalnya mau jalan-jalan dulu dan terakhir baru ke Pandai Sikek, tempat kerajinan mukenah terbaik di Bukittinggi. Tapi karena Mama sudah menagih, kami terpaksa harus belanja dulu. Perjalanan ke Pandai Sikek sekitar 40 menit dari tembok China. Setelah sampai dan parkir, saya masuk ke sebuah toko dan bingung kok barang yang dijual tidak seperti keinginan saya. Hanya ada baju dan kerudung saja yang dijual. Akhirnya saya hanya kesini mampir untuk shalat dan kembali melanjutkan perjalanan.
Plang depan
Saya diam saja di mobil karena berpikir 'gimana ini nanti nggak ada mukenah untuk Mama😐. Teman-teman kemudian bilang kalau tadi kita melewati ruko-ruko yang berjajar sebelum mampir shalat. Kok saya nggak ngeh ya? Bisa jadi disana tempat berjualan mukenah. Saya sebenarnya tetap ingin kesana tapi agak nggak enak juga sama teman-teman. Untung mereka paham kegundahan hati saya dan akhirnya kita balik ke ruko-ruko tersebut.
Dipilih-dipilih
Ternyata kali ini benar, semua toko menjual mukenah dan kami mampir di toko kedua. Saya memilih mukenah, membongkar plastiknya, video call dengan Mama dan adik untuk memilih mukenah, bergantian dengan Rezki dan Baitil. Harga mukenah disini lumayan mahal, bahkan sampai 1,7juta. Kalau kalian beli banyak, bisa ditawar sampai 1,4juta perbarang. Tidak terasa kami menghabiskan waktu 2 jam di toko ini hanya untuk memilih mukenah. Ci Ling dan Iyus sampai menyusul kita secara bergantian untuk memastikan kita udah selesai apa belum. Walaupun akhirnya selesai juga belanjanya.

Oh iya, sebelum melanjutkan ke destinasi berikutnya, kami mampir ke toko keripik Ummi Aufa Hakim karena ternyata Mama berpesan untuk membeli keripik lebih banyak untuk dibagi-bagi ke saudara. Sebagai anak yang baik, saya menurut saja. Berbeda dengan keripik Christine Hakim, Ummi Aufa ini lebih banyak cemilan lainnya selain keripik pedas. Jadi saya borong aja semua.

Sewaktu membayar keripik, saya bilang ke kasir kalau saya mau dipacking menggunakan kardus besar karena mau memasukkan oleh-oleh lainnya (mukenah). Mereka oke-oke saja dan memilihkan kardus untuk saya yang cukup untuk memasukkan semua oleh-oleh. Bapak supir sekalian membantu saya dan teman-teman untuk mengatur posisi barang di belakang yang sudah penuh.

3. Taruko Cafe & Resto
Sudah capek dari Tembok Cina dan belanja, saya tertidur di mobil sampai tiba di tujuan berikutnya yaitu sebuah Cafe yang pernah masuk di National Geography ketika Gordon Ramsay memasak rendang. Sebenarnya saya nggak tau tempat apa ini, tapi teman-teman pada tau. Mungkin Cafe ini terkenal karena pemandangannya yang sangat indah. Sore-sore begini sih nggak bisa makan disini karena masih dalam suasana puasa.
Saung rumah gadang
Kami berjalan ke bawah untuk berfoto di bawah saung yang berbentuk rumah gadang. Teman-teman pada turun ke aliran anak sungai, sedangkan saya agak malas turun karena lumayan susah menjejakkan kaki diantara batu-batu berhubung kaki saya kan nggak terlalu bisa pakem (ada bekas operasi). Apalagi saya pakai sepatu dan malas banget kalau sepatu sampai basah. Mana ada anjing pulak diatas yang mulai mendekat. Saya jadi panik sendiri😨.
Teman-teman bermain di sungai
Selesai bermain di bawah, kami berjalan menuju parkiran seraya masih berfoto di beberapa tempat. Baju saya dipenuhi bunga duri sampai harus dicabut satu-persatu sambil menunggu Ci Ling. Duh, jadi menambah kerjaan juga nih bunga duri. Sepanjang jalan menuju destinasi berikutnya pekerjaan saya hanya mencabut bunga duri saja. Lelah...
 
4. Taman Panorama dan Lobang Jepang
Destinasi terakhir hari itu. Jaraknya hanya 15 menit dari Taruko Cafe dan tempat ini salah satu yang paling populer di kota Bukittingi. Supir mengantar kita ke gerbang masuk utama untuk membeli tiket seharga Rp. 15 ribu/orang dewasa. Kita kemudian masuk melewati gerbang dan mendapati sebuah taman yang berukuran cukup luas. Jalan sedikit ke tengah, tampak jelas panorama Ngarai Sianok dari kejauhan.
Taman
Karena kami ingin masuk ke Lobang Jepang juga untuk mengetahui bagaimana kondisi di dalam dan sejarahnya, maka kita harus menggunakan jasa guide dengan harga Rp. 100,000 (setelah tawar-menawar). Lubang Jepang ini dibangun sebagai tempat penyimpanan perbekalan dan peralatan perang tentara Jepang, dengan panjang terowongan yang mencapai 1400 meter dan berkelok-kelok serta memiliki lebar sekitar 2 meter. Sejumlah ruangan khusus terdapat di dalam terowongan ini, di antaranya adalah ruang pengintaian, ruang penyergapan, penjara, dan gudang senjata.
Pintu masuk goa
Selain lokasinya yang strategis di kota yang dahulunya merupakan pusat pemerintahan Sumatra Tengah, tanah yang menjadi dinding terowongan ini merupakan jenis tanah yang jika bercampur air akan semakin kokoh. Bahkan gempa yang mengguncang Sumatra Barat tahun 2009 lalu tidak banyak merusak struktur terowongan. Agak susah berjalan menyusuri lorong apalagi kalau punya tumbuh tinggi karena harus agak membungkuk. Kalau nggak, nanti malah kejedot atap goa.
Lorong goa
Diperkirakan puluhan sampai ratusan ribu tenaga kerja paksa atau romusha dikerahkan dari pulau Jawa, Sulawesi dan Kalimantan untuk menggali terowongan ini. Pemilihan tenaga kerja dari luar daerah merupakan strategi kolonial Jepang untuk menjaga kerahasiaan megaproyek ini. Tenaga kerja dari Bukittinggi sendiri dikerahkan di antaranya untuk mengerjakan terowongan pertahanan di Bandung dan Pulau Biak. Seram sih sejarahnya, tapi insya Allah nggak ada hantu kok di dalam😄. Oh ya, pintu goa ini ada di banyak tempat di Bukittinggi dan sudah digembok permanen. Ntah siapa yang memegang kunci gemboknya.
Ngarai Sianok
Setelah puas berkeliling menyusuri lorong-lorong goa, kami keluar dan berfoto di pinggir Ngarai Sianok dari atas. Pemandangannya Masya Allah indahnya dimana lembah bersisian dengan gunung dan langit berwarna biru. Ditambah pohon-pohon hijau yang mengelilingi, cukup memanjakan mata. Pengen nerbangin drone sih tapi takut jatuh😆. Maklum baru beli drone jadinya belum pintar menggunakannya.
Pose dulu
Setelah puas berfoto dan sudah pukul 5:30 sore, kami kembali ke mobil. Takut tidak keburu membeli makanan untuk berbuka puasa. Untung saja selama kami berkeliling tempat ini, bapak supir berinisiatif membooking rumah makan untuk kita buka puasa. Jadi nggak perlu khawatir tidak mendapatkan tempat makan.

Baiklah, postingan berikutnya akan saya ulas makanan untuk buka puasa di Bukittinggi. Sampai jumpa!

https://www.pegipegi.com/travel/janjang-koto-gadang-tembok-raksasa-cina-di-bukittinggi/
https://travel.detik.com/domestic-destination/d-3706246/taman-dengan-panorama-terbaik-di-bukittinggi

April 20, 2021

Buka Puasa di Batu Sangkar

Selesai trip seharian😮‍💨, tidak terasa kalau sudah hampir waktunya untuk berbuka puasa. Shinta membawa kami ke Rumah Makan Aroma, Jl. Sutan Alam Bagagarsyah, Pagaruyung, Tj. Emas, Kabupaten Tanah Datar, Batu Sangkar. Kalau dari Istana Pagarujung sih hanya 5 menit ke rumah makan ini. Hanya saja tadinya kami berencana ke Istana Sindang Bulan dan ke prasasti dulu (walaupun yang prasasti nggak jadi karena hujan semakin deras), jadi agak memutar walaupun tidak terlalu jauh.

Kami memilih meja panjang untuk duduk. Makanan langsung dihidangkan dengan cepat. Enaknya rumah makan padang memang pelayanan makanan seperti restoran cepat saji. Semua serba cepat. Saya cuci tangan terlebih dahulu, lalu terdengar suara adzan. Saya minum teh manis panas dan rasanya nikmat sekali setelah lelah ngetrip hari ini😮‍💨. Saya dan teman-teman kemudian makan yang banyak untuk mengisi tenaga sampai kenyang. Sepertinya hampir semua menu kami lahap. Ya siapa sih yang nggak suka masakan Padang yang nikmat itu🤤.
Selamat Berbuka
Selesai makan, karena Mbak Asri dan Doni harus pulang ke Jakarta besoknya, maka kami berhitung pengeluaran dulu malam itu. Seperti biasa, tukang menghitung uang adalah Iyus dan kita tinggal terima berapa tagihan masing-masing dan bayar ke siapa. Setelah tuntas dan tidak ada lagi hutang, maka kami pun pulang. Kita mengantarkan Shinta dulu ke Pasar Batusangkar, lalu kami kembali ke Bukittinggi. Saya sempat memetakan perjalanan kami dari Bukittinggi ke Lembah Harau, Batu Sangkar, sampai balik lagi ke Bukitting dalam sebuah peta dan ternyata sangat berliku-liku sekali. Pantas saja kami semua kelelahan.
Rute kami
Saya tertidur nyenyak di mobil sampai kami tiba di hotel berikutnya yaitu Grand Rocky Hotel, berlokasi di Jalan Yos Sudarso No. 29, Kayu Kubu, Kecamatan Guguk Panjang, Kota Bukittinggi. Saya langsung cek in, sementara teman-teman yang lain mengantar Mbak Asri dan Doni yang harus pulang ke Padang bersama Bapak Supir. Selesai cek in, saya hanya bisa melambaikan tangan pada mobil HiAce yang mereka kendarai tanpa bersalaman dulu. Huff, padahal sudah buru-buru cek in, tapi nggak keburu say good bye ke mereka. Ya sudahlah.

Kami lalu masuk ke kamar. Saya cuci muka terlebih dahulu, retouch make-up sedikit, baru keluar lagi untuk berkeliling kota Bukittinggi. Enaknya hotel ini berada dekat dengan jam gadang, jadi kami bisa sekalian beli cemilan untuk sahur. Kami berjalan pelan sambil menikmati pemandangan sekitar. Banyak terlihat genangan air karena baru selesai hujan. Terdengar juga suara riuh dari mesjid karena ada shalat taraweh. Duh, jadi ingin pulang ke Aceh segera.
Jalan-jalan malam
Sesampai di jam gadang, kami berhenti sejenak untuk membeli jajanan pinggir jalan bernama Kerupuk Kuah Sate. Banyak sekali penjaja cemilan ini dan membuat saya tertarik untuk mencobanya. Harganya juga murah, yaitu Rp. 5000. Kami hanya beli 2 kerupuk untuk bagi-bagi berlima. Takut nggak doyan, jadi nggak mau beli banyak-banyak. Ketika saya mencicipinya, ternyata seret banget😨, jadi susah menelannya. Saya agak bingung mendeskripsikan rasanya, seperti makan kerupuk dicampur kuah sate padang, ya begitu😅.
Kerupuk Kuah Sate
Kami kemudian mencari minum, saking seretnya tenggorokan gara-gara makan kerupuk ini. Sekalian masuk ke pasar untuk melihat-lihat ada apa lagi yang dijual. Kami beli singkong keju, gorengan tahu, semua untuk cemilan di kamar dan sahur besok. Awalnya sempat mampir ke KFC untuk jajan, tapi malah mau tutup karena semua makanan habis. WOW😱! Sempat mau belanja mencari mukenah titipan Mama, tapi ternyata pasar kain hanya buka sampai jam 5 sore (sebelum waktunya berbuka puasa).
Pasar
Setelah belanja banyak cemilan, kami pun pulang. Kita lanjut ngobrol di kamar saya seraya makan cemilan. Sekitar jam 11 malam, teman-teman pun kembali ke kamar masing-masing. Saya kemudian mandi, shalat taraweh, dan bersiap tidur. Besok bakalan mengunjungi banyak tempat lagi nih. Semoga enggak terlalu capek. Good night😴.

April 19, 2021

Wisata di Payakumbuh dan Batusangkar

Hari ini kita akan berwisata ke Payakumbuh dan sekitarnya. Ini pertama kalinya saya mengunjungi tempat ini seumur hidup. Beberapa kali saya mengobrol dengan teman-teman yang sering main ke Padang dan mereka merekomendasikan Lembah Harau untuk berwisata karena pemandangan yang disuguhkan disini sangat indah seperti di luar negri. Kita harus berkendara 1,5 jam dari Bukittinggi ke arah barat. Satu jam pertama, saya tidur😴 (seperti biasa). Setelah itu saya bangun dan menikmati pemandangan alam pegunungan sepanjang jalan, dan dihiasi jejeran air terjun indah setinggi sekitar 100 meter. Belum lagi tempatnya dilalui empat buah sungai yang jernih siap memanjakan mata😍. 

1. Lembah Harau
Tempat ini merupakan lembah yang subur terletak di Kecamatan Harau, Kabupaten Lima Puluh Kota, Provinsi Sumatera Barat. Berada sekitar 138 km dari Padang dan sekitar 47 km dari Bukittinggi, tempat ini dikelilingi batu granit terjal berwarna-warni dengan ketinggian 100 sampai 500 meter. Lembah Harau merupakan lembah terindah di Indonesia bahkan disandingkan dengan Taman Nasional Yosemite di California, Amerika Serikat. Banyak juga yang bilang kalau Lembah Harau adalah New Zealand yang berada di Indonesia karena pemandangan pegunungan yang indah disertai udara yang dingin.
Lembah Harau
Kami berhenti sejenak untuk berfoto diantara dua lembah (tempat paling banyak difoto). Sebenarnya dulu diantara 2 lembah ini ada padang rumput yang cantik. Sekarang sedang terjadi pembangunan dan banyak tanah yang sedang ditimbun. Jadi berkurang deh keindahannya. Belum lagi saat itu mendung sehingga warna biru langit tidak bisa saya dapatkan. Kita tidak berlama-lama disini karena tempatnya di pinggir jalan dan nggak ada tempat beristirahat. 

Selanjutnya kami mengunjungi areal persawahan dimana terdapat dua rumah gadang dengan pemandangan Masya Allah indahnya. Tempat ini adalah destinasi wisata yang wajib dikunjungi karena keindahan alamnya dan sangat instagramable. Saya awalnya malas mengeluarkan drone karena memang belum terlalu lancar memainkannya. Tapi teman-teman terus mensupport saya menerbangkan drone agar bisa lebih terlatih. Akhirnya saya harus diam sendiri untuk melakukan setting pada drone, baru deh bisa ikutan berfoto dengan teman-teman yang lain.
Tempat yang paling sering di foto
Tebing-tebing lembah yang menjulang tinggi dan hijaunya persawahan memang sangat bagus difoto dari ketinggian. Apalagi saat itu kami memakai kaos warna kuning untuk mempromosikan youtube-nya Ciling, jadi semakin keliatan deh kita di kamera. Kami bergantian berfoto dan merekam video menggunakan drone. Saat saya lelah, saya memberikan remote kontrol kepada Baitil agar dia saja yang mengendalikannya. Baitil juga pasrah aja dikasi remote, hahaha😆.

Setelah puas berfoto, hari mulai terik, dan kita semakin haus, maka perjalanan dilanjutkan untuk mencari air terjun. Lembah Harau memang memiliki banyak air terjun, bahkan ada yang langsung mengarah ke pedesaan. Masya Allah indahnya😍! Sayangnya saya tidak mengambil foto air terjun yang ke desa itu karena kami tidak berkendara ke arah pedesaan.
Sarasah Bunta
Kami kemudian berhenti di dua air terjun yang berdekatan. Kalau bukan bulan Ramadhan, kita bisa menikmati aneka cemilan di kios-kios sekitar air terjun. Sayangnya kita disana hanya bisa melihat air terjun yang membuat tenggorokan tambah dahaga, saking banyaknya air yang nggak bisa kami minum. Suasana cukup segar disekitar air terjun, apalagi tempiasnya terpercik ke kita. Bahkan bisa sampai membasuh muka.
Sarasah Barayun
Jujur aja agak bingung mau ngapain di air terjun. Mau basahin kaki, tapi saya malas buka sepatu. Cuma bisa duduk-duduk saja dan berfoto. Setelah itu kami memutuskan untuk kembali ke mobil dan melanjutkan perjalanan. Biar semua destinasi wisata bisa kita kunjungi dalam satu hari.

2. Goa Ngalau Indah
Setelah puas berwisata lembah dan air terjun, kali ini kami akan mengunjungi sebuah goa bernama Ngalau Indah. Lokasi goa ini berada sekitar 4 km dari pusat Kota Payakumbuh atau sekitar 40 menit berkendara dengan mobil dari Lembah Harau. Selama di mobil saya tidur😴 karena kecapekan main di Lembah Harau. Ketika bangun, eh udah sampai di pintu masuk goa. 

Ngalau Indah merupakan sebuah gua alam dengan beberapa mulut goa yang terbentuk secara alami sebagai akses masuk dan keluar. Jalan masuk goa pun sudah bagus karena tempat ini memang dikelola oleh pemerintah setempat. Pengunjung juga harus membayar biaya masuk Rp. 10,000 perorang. Di dalam goa, kita dapat melihat keindahan stalagtit dan stalagmit yang masih terjaga dengan baik. Goa ini juga dihuni kawanan kalelawar yang membuatnya senantiasa dipenuhi suara riuh sepanjang waktu. Selain kalelawar, terdapat burung walet yang bersarang diantara celah-celah langit-langit yang menjulang dengan tinggi sekitar 10 meter.
Pintu Goa
Kami kemudian masuk ke perut goa. Stalaktit dan stalakmit sangat besar berada di dalamnya dengan bentuk yang unik. Hati-hati dengan tetesan air karena memang saat itu Payakumbuh sering hujan. Takut terpeleset dan kalian bisa jatuh mengenai stalakmit. Pasti sakit banget itu😖. Saya tidak terlalu detail memperhatian bebatuan di dalam goa karena gelap dan cahaya yang masuk hanya sedikit. Lagian, saya kurang suka tempat gelap (tidak sampai phobia), jadi saya jalan buru-buru sampai keluar lagi dari goa. Trek di dalam goa juga tidak sulit karena memang sudah dibikin jalan setapak sedemikian rupa sehingga kita nggak akan tersesat.
Banyak akar pohon besar
Kalau melihat dari mulut goa (setelah saya keluar), agak seram juga pergi ke tempat ini di bulan Ramadhan karena sepi sekali. Mana goa ditumbuhi akar pohon super besar dengan pohon yang sangat rindang. Duh, kalau malam kesini sih pasti lebih seram lagi. Kami tidak terlalu lama disini, mungkin hanya satu jam. Setelah itu kami harus menjemput Shinta (ada dia lagi di 😆) dan berkunjung ke Rumah Gadang paling terkenal se-antero Sumatra Barat di Batusangkar.

3. Rumah Gadang Pagaruyuang
Perjalanan dari Ngalau Indah ke Batusangkar untuk menjemput Shinta di rumah neneknya membutuhkan waktu sejaaaammm😩. Ya Allah jauh juga yaaa😱. Memang perjalanan kali ini terlalu muter-muter sih, dan saya ngikut aja tanpa melihat peta. Saya sampai udah bosan tidur di mobil, walaupun masih tidur juga di setiap perjalanan. Sesampai di Rumah Gadang Pagaruyuang, saya shalat dulu dan retouch bedak. Muka sudah amburadul gara-gara tidur melulu. Jilbab pun udah ntah kemana-mana.
Kemegahan Istana
Rumah Gadang Istana Basa Pagaruyung merupakan salah satu peninggalan sejarah Kerajaan Pagaruyung yang masih tersisa. Kerajaan Pagaruyung runtuh setelah terjebak dalam siasat kolonial Belanda saat perang Padri bergejolak. Istana ini pada mulanya dibangun di Bukit Batu Patah dan terbakar saat terjadi Perang Padri pada tahun 1804. Istana baru sempat dibangun kembali, tetapi terbakar lagi pada tahun 1966.

Pada tahun 1976, istana baru dibangun kembali. Lalu pada malam 27 Februari 2007, Istano Basa mengalami kebakaran hebat (lagi) akibat petir yang menyambar di puncak istana. Akibatnya, bangunan tiga tingkat ini beserta sebagian dokumen, serta kain-kain hiasan hangus terbakar. Diperkirakan hanya sekitar 15 persen barang-barang berharga yang selamat. Hmmm, ada apakah gerangan sampai terbakar terus? Apakah karena struktur bangunan yang memang sangat gampang terbakar?🤔

Memenuhi keinginan Mbak Asri menggunakan pakaian adat, akhirnya kami masuk ke istana ke tempat penyewaan baju adat. Saya sudah memilih-milih baju tapi sebenarnya ingin pakai baju berwarna pink. Tapi harga sewa baju yang indah memang lebih mahal, sekitar 100rban lebih. Jadinya memilih baju yang murah dan berwarna emas. Duh, padahal pengen banget pakai pink😕. Saya dan teman-teman lalu di dandani oleh beberapa orang sehingga menggunakan pakaian adat komplit. Dulu ketika di Aceh, perasaan kalau pakai baju adat pasti lama banget, belum makeupnya yang tebal. Ini hanya dalam waktu 20 menit, saya selesai pakai baju dengan aksesoris lengkap sampai menyematkan suntiang di kepala. Sewaktu bercermin, rasanya kurang menor makeup saya dibandingkan dengan baju adat yang lumayan heboh. Ya sudahlah, kan cuma mau berfoto-foto saja.
Siap berfoto
Kami semua selesai berpakaian adat dengan warna ngejreng masing-masing. Sebenarnya kalau pakaian untuk wanita memang kurang di makeup sih, sedangkan kalau cowok-cowok sih udah pas. Saya memberikan kamera ke fotografer istana yang mengambil foto kami dengan hasil yang miring-miring🙄. Gimana ini fotografer tapi kurang jago motret. Sepertinya saya lebih suka jadi fotografer saja daripada pakai baju adat begini.
Formasi lengkap
Saya dan teman-teman bergantian berfoto dengan 1000 gaya. Mana mereka menggunakan pakaian berpasang-pasangan. Saya agak males berfoto begitu, inginnya langsung selesai saja. Hujan mulai turun rintik-rintik dan kami pun masuk istana untuk berganti pakaian. Duh lega rasanya untuk tidak menggunakan suntiang yang sudah mulai miring ke kiri dan ke kanan.

Kami kemudian melanjutkan perjalanan ke Istana Silinduang Bulan. Sayang saking derasnya hujan, saya tidak turun sama sekali. Beberapa teman ada yang membawa payung, sedangkan saya malas kalau sepatu harus basah lagi. Akhirnya saya menunggu di dalam mobil saja. Teman-teman juga tidak terlalu lama disana karena agak kesulitan berfoto sambil pakai payung. Akhirnya mereka naik kembali ke mobil dan kita melanjutkan perjalanan. Shinta sempat mengajak kami untuk melihat prasasti, tapi karena masih hujan dan sudah dekat waktunya berbuka puasa, maka kami tidak kesana. Rasanya sudah terlalu banyak tempat yang kita kunjungi hari itu, sudah kehabisan tenaga, dan butuh nasi padang juga teh manis panas.

Nanti saya akan menceritakan suasana buka puasa ya. Sampai jumpa!

April 18, 2021

Buka Puasa di Bukittinggi

Setelah lelah berkeliling dari kota Padang sampai Bukittinggi, akhirnya tibalah waktu untuk check in penginapan. Sekalian mau cuci muka karena udah dari tadi pagi tidur-bangun lagi dan lagi di mobil. Kali ini kami menginap di Padi Ecolodge yang berlokasi di Jl. Binuang, Koto Panjang, Kec. Guguk Panjang, Bukittinggi. Kalau dari foto-foto di traveloka sih, suasana enak banget karena berada di tengah sawah dan dikelilingi oleh lembah. Ternyata benar indah sekali tempat ini😍😍😍. Apalagi ketika kami tiba disini, sedang turun hujan rintik-rintik yang membuat suasana semakin syahdu karena kabut mulai turun.
Pemandangan di sekitar penginapan
Kami memarkir kendaraan di depan, lalu memanggil-manggil pengurus penginapan. Aneh sekali, tempat ini seolah-olah tidak ada orang. Akhirnya keluar seorang cewek menyambut kita. Kata si mbak, kamarnya sudah dipersiapkan dan kita tinggal berjalan kaki saja menuju penginapan. Aneh sekali, mereka nggak menawarkan kami payung padahal hujannya semakin deras. Ya sudahlah, pasrah saja. Yang penting koper-koper kita nanti diantarkan ke kamar. Kami berjalan kaki ke penginapan dari parkiran mungkin sekitar 5 menit. Setelah itu kita tiba di sebuah rumah 3 lantai. Saya dan Baitil memilih kamar paling bawah, karena barang kami banyak, cowok-cowok di lantai 2, sedangkan Ci Ling dan Mbak Asri di lantai 3. Kamar paling bagus punya Ci Ling dan mbak Asri sih karena berada di loteng sehingga atapnya miring. Pemandangan dari lantai paling atas juga yang paling indah karena bisa melihat seluruh area sawah dari ketinggian.
Kamar saya
Koper-koper kita pun datang dan pengurus (yang tampak seperti preman, bertato pulak) itu hanya menaruhnya saja di depan rumah. Bayangkan betapa susahnya Ci Ling dan Mbak Asri untuk menaikkannya ke lantai 3. Pengurus itu nggak inisiatif melayani kita sebagai tamu. Kita harus minta tolong dulu, baru dia mau mengangkatkan koper. Itu pun wajahnya nggak ada ramah-tamah sedikit pun😡. Selebihnya ya cuek aja. Dia buru-buru kembali ke depan (tempat resepsionis) supaya kita nggak minta tolong lagi. Inilah yang saya nggak suka dari sebuah penginapan, yaitu pengurusnya. Sebagus apa pun tempat kita menginap, tapi kalau service yang diberikan nggak enak, ya tetap nggak akan balik lagi. Dulu di Raja Ampat saja, padahal penginapan sangat biasa sekali, tapi koper diangkatin dan pengurus ramah sekali. Sudah dapat dipastikan, saya nggak akan menginap di Padi Ecolodge lagi. Untung ini pun cuma semalam.

Saya kembali ke kamar dan menaruh barang, lalu berkemas-kemas sedikit. Saya mencuci muka, retouch make-up, bergantian dengan Baitil. Muka akhirnya sudah tampak segar, baru kita berkumpul bersama yang lain untuk menuju tempat berbuka puasa yaitu Gulai Itiak Lado Mudo Ngarai. Rumah makan ini jaraknya sangat dekat dari penginapan. Saking dekatnya, kita bisa berjalan kaki.

Setiba di lokasi, kita bisa melihat tumpukan makanan yang menggugah selera di depan. Kata ibunya, semua makanan yang terlihat di meja ini bakalan dihidangkan kok ke meja kita. Kami kemudian memilih cemilan saja dan minuman untuk berbuka. Kalau saya selalu minum teh manis panas untuk menghangatkan badan di suasana kota Bukittinggi yang dingin. Sebelum waktu berbuka, kami sempat melihat-lihat pemandangan di sekitar rumah makan yang diapit oleh lembah juga. Ada lubang goa Jepang terlihat dari jauh yang sudah ditutup secara permanen.

Waktu buka puasa pun tiba. Saya minum teh terlebih dahulu, lalu makan cemilan seperti risoles. Teman-teman sudah menaruh nasi ke piring masing-masing karena sudah lapar berat. Saya mau menghabiskan risoles dulu baru makan berat. Kami semua memesan itiak lado mudo sepotong seorang, sehingga nggak rebutan. Selanjutnya kita juga menambah beberapa menu supaya kenyang. Ada urap dan dendeng favorit saya.
Menu buka puasa
Menurut saya, itiak lado mudo ini terlalu asin di lidah. Padahal saya tipe orang yang lumayan suka asin, meskipun kalau berlebihan saya nggak suka. Saya kira hanya saya doang yang berpikir kalau menu ini asin, dan beberapa menu lainnya juga asin. Ternyata hampir semua teman-teman merasakan hal yang sama. Ntah karena bulan puasa, jadi ibu yang masak itik-nya nggak dicicip terlebih dahulu, jadi keasinan deh masakannya. Kalau bukan karena lapar berat, mungkin saya nggak mau makan masakannya. Kami sampai bertanya di grup Whatsapp dan beberapa teman untuk memastikan apakah rumah makan Itiak Lado Mudo ini adalah benar di Ngarai? Mungkin ada tempat lain dan kita salah. Dan semua bilang benar tempat kita ini. Hmmmm! Total harga yang kita bayar sekitar Rp.600rban.

Setelah selesai makan, kami kemudian minta diantarkan ke jam gadang yang merupakan tempat yang harus dikunjungi selama di kota Bukittinggi. Pengen tau juga ada cemilan apa saja yang bisa dibeli karena pasti nanti bakalan lapar lagi. Sesampai kita disini, kami berjalan berkeliling, menikmati air mancur, melihat beberapa toko-toko yang masih buka, dan menikmati keramain kota. Awalnya berpikir, mungkin bisa sekalian belanja. Ternyata toko kain disini tutup kalau malam.
Jam Gadang
Kami hanya membeli beberapa cemilan untuk sahur dan beberapa botol aqua di perjalanan kembali ke penginapan. Saya sempat melihat ada beberapa Cafe yang berada di sekitar Ngarai, sederetan dengan Itiak Lado Mudo, jadi kita memutuskan untuk nongkrong disitu aja sambil mengobrol. Lagian sudah malam, kasihan bapak supir mau beristirahat.

Setiba di Cafe, baru sadar kalau tempat ini rame sekali pengunjung. Orang-orang pada nyari cemilan juga di malam Ramadhan, sama seperti kita. Kami memilih tempat duduk di saung yang jauh dari orang-orang yang merokok, lalu memesan cemilan seperti pisang goreng dan roti bakar. Kita mengobrol dan bercerita-cerita sampai tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 10. Kami kemudian kembali ke Padi Ecolodge dengan berjalan kaki. Hal yang baru kita sadari adalah jalan setapak menuju penginapan sangatlah gelap. Tidak ada penerangan sama sekali. Maunya dipasang lampu petromaks kek agar keliatan jalannya😰. Kita harus menyalakan senter di hp untuk menerangi jalan, baru akhirnya sampai ke penginapan. Duh lelah sekali rasanya, tapi alhamdulillah kenyang.

Saya lalu mandi dan beres-beres. Setelah itu mengobrol sejenak dengan Baitil sampai akhirnya kami tidur jam 12.30 malam. Telat sekali yaaa kita tidur. Gimana mau bangun sahur? Tapi alhamdulillah akhirnya kebangun juga sahur. Lumayan bisa makan cemilan dan minum air beberapa gelas supaya nggak begitu kehausan nantinya. Setelah sahur, saya mandi, lalu tidur lagi. Sekitar jam 7 pagi, saya bangun cuci muka, dandan, lalu bermain drone sendirian di sawah depan penginapan. Teman-teman belum pada keluar, padahal saya sudah menghabiskan satu batre untuk bermain drone.

Setelah semua selesai mandi dan beres-beres, kami kemudian mau check out penginapan. Teman-teman yang bawa koper kecil sih bisa langsung gerek aja kopernya, sedangkan saya mana bisa. Sebenarnya bisa aja sih, tapi ini 'kan kewajiban penginapan untuk melakukan servis kepada tamu. Kata mbak pengurus, abang-abang yang angkat koper kemarin masih pada tidur dan susah dibangunkan. Eh, enak saja begitu😡. Mbak pengurus kemudian menagih sisa uang karena semula kami hanya membayar DP. Karena saya yang bertugas mentransfer, saya lalu bilang padanya, "Saya baru akan transfer kalau koper kami sudah masuk ke dalam mobil." Akhirnya si mbak baru deh berusaha membangunkan abang-abang itu berkali-kali sampai akhirnya bangun. Pokoknya sebelum koper saya ada di bagasi mobil, saya nggak akan mau transfer sisa uang penginapan.

Dari kejauhan, saya melihat abang yang mengangkat koper saya mengambil motor dengan wajah kesal. Dia mengendarai motor sambil membawa koper tanpa sedikit pun melihat kita. Sesampai di parkiran mobil, abang itu meminta bayaran 20rb😤 (bukan seikhlasnya). Duh, seandainya bukan bulan Ramadhan, saya bakalan marah banget itu. Tapi sudahlah, saya dan teman-teman pun tidak akan menginap disini lagi. Saya transfer uang penginapan ke si mbak, and good bye forever!

Selanjutnya saya akan menuliskan tentang Payakumbuh. Sampai jumpa!

April 17, 2021

Perjalanan Ke Bukittinggi

Bangun pagi di hotel Pangeran Beach, saya baca grup kalau teman-teman sudah pada makan sahur, sedangkan saya belum berpuasa. Saya lalu ke Resto hotel untuk sarapan dan memang sepi sekali. Cuma ada 2-3 orang termasuk saya disana. Makanan juga tidak banyak lagi, mungkin sengaja tidak di refill karena memang mayoritas tamu hotel semua pada makan sahur.
Rempah-rempah di depan Resto hotel
Ci Ling sempat mengajak saya untuk makan di pasar bersama Shinta, tapi saya menolak karena belum mandi dan pagi itu kita harus bersiap-siap menuju Bukittinggi. Ci Ling sih sudah mandi, jadi enak. Setelah saya mandi dan bersiap, kami turun ke lobi hotel sambil membawa koper masing-masing. Setelah semua tim komplit, kami pamit pada Ghulam, Deki, dan Shinta untuk melanjutkan perjalanan ke Bukittinggi. 

1. Kripik Balado Christine Hakim
Oh iya, kami mampir dulu di tempat beli oleh-oleh Christine Hakim karena mau beli keripik sinjay. Teringat nanti saya akan pulang ke Aceh sehingga harus beli banyak keripik untuk dibagikan ke saudara-saudara di kampung. Saya ambil keranjang, memasukkan keripik yang menurut saya menarik, dan tidak terasa ternyata saya belanjanya banyak juga😀. Untung tersedia jasa packing kardus, jadi nggak usah dibuka-buka lagi sampai pulang nanti ke Jakarta.
Keripik
2. Air Terjun Lembah Anai
Perjalanan ke Bukittinggi pun dilanjutkan. Sewaktu mobil hi-ace kami berjalan, saya pun tidur. Jujur aja saya masih ngantuk setengah mati karena semalem tidur terlalu larut. Mungkin ada sekitar sejam lebih kita semua tertidur di mobil karena teman-teman juga pasti masih mengantuk. Saya terbangun ketika sudah sampai ke Air Terjun Lembah Anai, yaitu curug paling terkenal di Sumatra Barat karena lokasinya tepat di pinggir jalan menuju ke Bukittinggi, di kaki gunung Singgalang. Mobil lalu diparkir dan kita turun. Saya masih sempoyongan sewaktu keluar dari mobil karena saya tidur dengan sangat nyenyak.
Air terjun Lembah Anai
Air Terjun Lembah Anai merupakan bagian dari aliran Sungai Batang Lurah, anak Sungai Batang Anai yang berhulu di Gunung Singgalang di ketinggian 400 Mdpl. Air terjun ini terletak di batas barat kawasan Cagar Alam Lembah Anai sehingga suasana masih alami dengan hutan lebat serta pepohonan rimbun. Disekitar air terjun pun terdapat monyet yang berkeliaran, dan saya jadi nggak mau memakai kacamata. Takut nanti malah diambil. Saya juga takut banget sama monyet gara-gara dulu di Monkey Forest Bali, banyak banget monyet yang tiba-tiba mendekat ke arah saya. Hiiiii, masih seram membayangkannya😰.
Demi Rancupid Travel
Air terjun ini tampak segar banget deh, apalagi di bulan puasa (walaupun saya nggak puasa). Debit airnya lumayan deras dan hari itu tempat ini sangat sepi pengunjung. Jadi kita bisa berfoto dengan lebih leluasa. Sudah minta tolong bapak supir untuk mengambil foto kita, tapi selalu kurang pas. Sampai akhirnya saya agak ngomel supaya foto kita diambilkan dengan benar. Saya juga tidak mengeluarkan kamera disini, jadi hanya berfoto menggunakan hp. Setelah puas berfoto, kita kembali ke mobil.

Karena sudah tidur agak lama, jadinya udah pada nggak ngantuk. Akhirnya teman-teman menyalakan musik di mobil yang kebetulan ada fasilitas karaoke juga. Mulailah mereka bernyanyi secara bergantian dengan heboh. Suara musik sangat keras dan mereka pada bernyanyi secara bergantian. Saya hanya merekam momennya saja, tanpa ikut bernyanyi. Males juga, karena saya nggak pernah terlalu heboh seperti itu di bulan Ramadhan. Saya lagi bad mood juga, apalagi barusan melihat instagram story yang membuat mood saya hilang seketika. Saya berusaha seru-seruan bareng teman-teman tapi tetap aja nggak bisa maksimal. Setelah mereka capek bernyanyi, lalu mengobrol. Saya tetap nggak ikut nimbrung.

3. Minangkabau Culture Documentation and Information Center
Hari sudah siang dan supir ingin shalat Jumat. Kami mampir di salah satu museum yang berbentuk rumah gadang yang sangat indah dan megah bernama Museum Minangkabau Culture Documentation and Information Center. Sebenarnya kami tidak wajib shalat Jumat karena masih tergolong musafir, tapi supir bersikeras mau shalat, jadi teman-teman cowok pada ikut. Saya, Baitil, Ci Ling, dan Mbak Asri menunggu di museum. Daripada bingung mau ngapain, saya mengeluarkan drone dan ini adalah pertama kalinya saya bermain drone milik sendiri😆.
Berfoto dari drone
Hujan mulai turun rintik-rintik, saya jadi takut main drone. Tapi kalau nggak dimainin, nanti nggak bisa-bisa. Saya terus berusaha memainkan remote control, sambil takut-takut, akhirnya terbang juga dronenya😂. Saya lalu memberikan remote control pada Baitil dan saya minta dia untuk merekam saya. Kita masih kaku banget mainnya dan nggak terasa udah sejam karena cowok-cowok udah pada pulang shalat. Saya kemudian mengeluarkan kamera untuk berfoto dengan berlatarkan museum ini, tapi percikan hujan lumayan mengganggu lensa.
Lensa terpercik air hujan
Kami lalu masuk ke dalam museum untuk melihat-lihat ada apa isinya. Hal utama yang melatarbelakangi pendirian museum ini salah satunya adalah adanya asumsi bahwa masyarakat Minangkabau tidak memiliki bukti-bukti sejarah tertulis yang baik, karena orang Minang terbiasa dengan budaya tutur yang diturunkan turun temurun. Pada kenyataannya memang dokumentasi tentang Minangkabau lebih banyak ditemui di luar Minangkabau, misalnya di Museum Nasional Indonesia, Jakarta atau Museum Leiden, Belanda. 

Untuk melestarikan dan mendekatkan dokumen tentang kebudayaan Minangkabau dengan orang Minangkabau itu sendiri, maka bapak Bustanil Arifin, Mantan Menteri Koperasi Republik Indonesia pada masa Orde Baru, berinisiatif untuk mendirikan sebuah lembaga non-profit berupa wadah untuk menghimpun berbagai dokumen dan informasi tentang kebudayaan Minangkabau. Kemudian pada 8 Januari 1988 didirikanlah Yayasan Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau (YDIKM) yang yang kemudian di pamerkan di museum ini.
Berfoto di jendela
Setelah berkeliling museum yang tidak terlalu luas, kami kemudian berfoto diantara jendela-jendela. Mbak Asri sebenarnya ingin sekali berfoto menggunakan pakaian adat, tapi kita semua nggak ada yang mood (terutama saya) untuk melakukannya. Mungkin karena masih ngantuk dan capek di perjalanan, jadi rasanya malesss deh🥱. Akhirnya sebelum hujan turun lebih deras, kami pun kembali ke mobil dan melanjutkan perjalanan.

4. Danau Singkarak
Sudah siang, saya kembali mengantuk dan tidur lagi. Mulai terasa lapar dan cuma bisa minum doang. Awalnya saya membawa martabak semalem, tapi ternyata sudah basi. Ya udah deh, cuma bisa puasa makan saja tapi tetap minum. Saya salut dengan teman-teman yang tidak tidur karena kerja seperti Doni. Dia benar-benar membawa laptop kemana pun dan nggak mual di perjalanan walaupun harus menatap layar.

Destinasi wisata berikutnya adalah Danau Singkarak, sebuah danau yang membentang di dua kabupaten yang terdapat di provinsi Sumatra Barat, Indonesia, yaitu kabupaten Solok dan kabupaten Tanah Datar. Danau ini memiliki luas 107,8 km² dan merupakan danau terluas kedua di pulau Sumatra setelah danau toba di Sumatra Utara. Danau ini merupakan hulu dari sungai atau Batang Ombilin, namun sebagian air danau ini dialirkan melalui terowongan menembus Bukit Barisan ke Batang Anai untuk menggerakkan generator PLTA Singkarak di dekat Lubuk Alung, kabupaten Padang Pariaman.
Danau Singkarak
Kami turun dari mobil untuk menepi ke danau. Saya tidak lupa membawa kamera untuk mengambil beberapa foto. Danau ini tenang dan indah, tapi jadi bikin kita mengantuk. Angin sepoi-sepoi, langit yang mendung, haduuuh bikin ngantuk lagi🥱. Tidak sampai setengah jam kami disini karena memang cuma bisa berfoto-foto doang. Mana sepi banget. Setelah itu kita kembali ke mobil.
Angin cepoi-cepoi
5. Desa Terindah di Dunia Nagari Tuo Pariangan
Saya agak bingung sewaktu bapak supir bilang kalau kita akan diajak ke salah satu desa terindah di dunia bernama Desa Nagari Pariangan. Desa ini terletak di Lereng Gunung Marapi, tepatnya di Kecamatan Pariangan, Kabupaten Tanah Datar. Lokasinya sekitar 95 kilometer dari utara Kota Padang, dan 35 kilometer dari Kota Bukittinggi. Nagari Pariangan juga berada di antara Kota Batusangkar dan Padang Panjang. Dari desa ini pulalah, lahir sistem pemerintahan khas masyarakat Minangkabau yang disebut dengan nagari. Saya baru tau kalau nagari ini adalah sistem pemerintahan😅.
Parkir di depan mesjid
Kami kemudian parkir di sebuah mesjid pas di waktu shalat Ashar. Suara shalat dan mengaji terdengar sangat kencang. Menurut saya, dari segi bangunan rumah-rumah terlihat masih terjaga bentuk dasarnya dari jaman dahulu. Apalagi desa ini berada di ketinggian sekitar 500-700 meter di atas permukaan laut membuat udara di Nagari Pariangan begitu sejuk. Desanya juga bersih, warganya ramah, terlihat banyak anak-anak dan ibu-ibu yang menyapa kami. Tidak heran kalau media pariwisata dari New York, Amerika, Travel Budget (www.budgettravel.com) pada 2012 menjadikan Nagari Pariangan sebagai desa terindah di dunia bersama desa lainnya, seperti Niagara on The Lake di Kanada, Cresky Krumlov di Republik Ceko, Wengen di Swiss, Shirakawa-go di Jepang, dan Eze di Prancis. 
Kolam di depan mesjid
Saya mengajak Baitil untuk berkeliling desa sejenak. Karena banyak dataran yang menaik dan menurun, kami jadi cepat lelah untuk berjalanan menanjak. Mungkin karena lapar juga, tenaga jadi berkurang. Di tambah lagi, sudah banyak ibu-ibu yang berjualan makanan untuk berbuka puasa. Duh, saya jadi tambah lapar. Sebenarnya saya bisa aja sih membeli makanan sekarang dan menyantapnya di dalam mobil, tapi nanti malah kurang nikmat ketika berbuka puasa. Akhirnya saya tahan saja, walaupun wanginya semerbak sekali.
Anak desa
Waktu sudah semakin sore dan kami harus check in penginapan dulu sebelum pergi ke Rumah Makan Itiak Lado Mudo yang terkenal itu untuk berbuka puasa. Akhirnya kami menyudahi perjalanan hari itu dan kembali ke mobil. Kalau dipikir-pikir, banyak juga ya tempat yang sudah kita kunjungi di hari itu. Memang puasa bukan jadi penghalang untuk menjadi musafir dan bertafakkur.

Baiklah, nanti saya akan posting tentang buka puasa di Bukittinggi. Sampai jumpa!

Follow me

My Trip