Juni 20, 2021

Drama di Bandara Manado

Pagi itu saya bangun jam 5 pagi, shalat Shubuh, lalu mandi. Setelah mandi saya menelepon resepsionis untuk mengantarkan early breakfast ke kamar jadi paling nggak bisa sarapan dulu pelan-pelan. Rencana saya berangkat ke bandara jam 6.30 karena antrian Genose baru buka pukul 7 pagi. Sudah cek di Google Maps waktu tempuh dari Best Western Hotel Manado ke Bandara Sam Ratulangi hanya sekitar 20 menit, jadi bisa sarapan agak santai. Rezki sudah berangkat duluan dari jam 5.30 ke bandara, sedangkan Tyo baru pulang besok.

Early breakfast menu yang saya pesan adalah Western Food yang saya harapkan berupa sandwich dan sejenisnya, juga Indonesian Food. Ketika makanan datang, Western Food hanya berupa roti dengan selai coklat dan keju 1 tangkup (dua helai) dan Indonesian food berupa nasi goreng paket komplit. Hah🙄? Bahkan western foodnya saja jauh dari ekspektasi saya. Paling nggak, dikasih-lah beberapa helai roti, ini cuma DUA banget. Huff🙄! Saya membagi nasi goreng dengan Iyus, sedangkan roti ya saya bungkus aja. Iyus juga nggak mau sarapan banyak karena masih terlalu pagi, padahal nasi gorengnya enak. Setelah sarapan, saya langsung mules. Mungkin karena ada sambal😅.

Setelah selesai urusan di toilet, saya check out dan menunggu Grab ke bandara. Beberapa menit kemudian Grab datang, lalu saya dan Iyus pun berangkat. Perjalanan ke bandara memang hanya 20 menitan, berbeda sekali ketika beberapa hari yang lalu dimana perjalanan kami dari bandara ke Hotel Sheraton hampir satu jam. Mungkin karena masih pagi, jadi nggak macet.

Sesampai di bandara, Iyus bertanya dimana tes Genose dan seperti yang saya pikirkan sebelumnya, pasti tesnya di lantai dua (di Bandara Ternate juga di lantai dua). Berhubung saya bawa koper besar ya, jadi saya berencana untuk menunggu Iyus duluan Genose, baru saya. Jadi ada yang nungguin koper-koper kita. Karena sewaktu di Ternate, tes Genose hanya membutuhkan waktu 5-10 menit sudah keluar hasilnya. Iyus bilang mending kita barengan aja karena takut telat. Saya masih bersikeras untuk gantian aja karena mana mungkin angkat koper sekalian dua begitu. Kan berat. Dan Iyus kayaknya nggak mau terlalu mendengarkan saya, dia sudah menenteng dua koper naik tangga yang lumayan tinggi🤭. Saya terdiam dan hanya mengikuti dia naik tangga.

Bandara Sam Ratulangi Manado

Benar saja, antrian Genose sudah mengular dan belum satupun orang dipanggil. Bayangkan, ini sudah jam 7:15, dan pesawat kami ke Makassar jam 09:35 dimana jam 9 boarding. Saya jadi deg-degan😨, apalagi ketika Iyus mendapatkan antrian kita no. 43. OMG😱! Saya melihat antrian swab antigen yang hanya sedikit, tapi tertulis kalau hasilnya akan didapat 30 menit - 1 jam. Duh lama banget. Ini jadi galau, mau swab nanti hasilnya lama, apa mau Genose tapi antrian panjang? Saya melihat Iyus mondar-mandir terus karena panik. Saya sudah berusaha menenangkan diri walaupun sebenarnya panik juga😨. Iyus sudah memegang KTP kita untuk bersiap-siap kalau dipanggil, tapi tetap saja masih lama. Kita sampai menghitung-hitung, kalau seorang 1 menit, berarti antrian kita baru dipanggil jam 8 lebih. Duh seram juga😨.

Sudah pukul 7:45 dan masih no. antrian 20an. Iyus menyuruh saya melihat nomor antrian sisa berapa lagi dan saya langsung berjalan ke meja pendaftaran. Saya sekalian mengobrol dengan bapak-bapak basa-basi bertanya, "bapak nomer berapa?" Dan ternyata nomor 49. Duh lebih jauh lagi. Saya melihat beberapa nomer 30an diatas meja yang ditaruh orang-orang yang batal Genose. Semula saya mau ambil tapi langsung dibereskan oleh bagian pendaftaran.

Sampai ketika seorang ibu-ibu memberikan no. antrian ke 26 ke bapak yang saya ajak ngobrol tadi. Bapak itu melihat kertas antrian, lalu menatap saya. Saya bilang, "Pak, kita bareng aja ya?" Bapaknya mengernyit, "Hah? Bareng?" Saya sempat melihat Iyus yang daritadi memperhatikan saya mengobrol dengan si Bapak.
Antrian no. 26 dipanggil. Saya mengikuti bapak ke meja pendaftaran. Saya langsung bertanya pada ibu-ibu di pendaftaran, "Bu, kalau satu nomor untuk 2 orang bisa?"
"Boleh kok, sini KTPnya sekalian."
Untung saja Iyus sudah berdiri di belakang saya dan saya langsung minta KTP kita. Nama kita bertiga terdaftar, dan saya langsung membayar ke si Bapak.
Iyus terdiam melihat saya, "Gilak lo ya."
Saya tertawa dan bilang, "Itu namanya teknik sosial."

Kita bertiga dipanggil berbarengan untuk Genose, lalu kembali ke kursi masing-masing. Bapak-bapak didepan saya sempat bertanya nomor saya, mungkin karena beliau melihat saya kok udah maju aja ke depan. Saya jawab, "no. 26 Pak!" Dan beliau langsung mengerti, "Oh nomor awal ya." Sebenarnya banyak sekali nomor yang dipanggil tapi tidak ada orangnya, jadi seharusnya no. 43 pun masih keburu untuk duluan Genose. Tapi yang penting kita sudah Genose duluan, jadi sudah lega dan nggak usah pikirin orang laen.

Saya lalu melihat si Bapak (yang barengan Genose dengan kita) mengatakan sesuatu ke petugas Genose, lalu beliau pergi ntah kemana. Sempat berpikir, ini jangan-jangan si bapak mau menitip Genosenya🤔. Ketika hasil Genose keluar, kita bertiga berada dalam satu kwitansi. Saya melepaskan lembar saya dan Iyus, lalu bilang ke petugas Lab kalau saya menitip hasil si Bapak tadi. Petugas Lab menyuruh menitip di pendaftaran, tapi saya lihat bagian pendaftaran sudah kalang kabut dengan tugas dia mendata KTP orang-orang. Agak nggak mungkin untuk dititipin deh🤔.

Saya lalu berbicara pada satpam, "Pak, saya titip hasil Genose teman saya dong. Nanti dia datang kesini. Dia sedang pergi ntah kemana."
"Lho, kalian barengan 'kan?" Saya mengangguk, "Ya udah kenapa nggak telepon aja."
Duh saya langsung kebingungan. Iya juga sih, masa temenan nggak ditelepon aja, "Udah berapa kali saya telepon, tapi nggak diangkat Pak." Saya ngeles.
"Ya udah bawa aja, nanti juga diangkat." Duh!
Saya dan Iyus turun seraya kebingungan. Ini mau digimanain hasil Genosenya, nanti si Bapak nggak bisa terbang. Kami lalu bertemu dengan petugas bandara dan melapor, "Pak, hasil Genose teman sa--," 
Iyus menyela, "Ini ada hasil Genose jatuh Pak. Nggak tau punya siapa."
Dalam hati saya bergumam, duh tadi kan alibinya si Bapak temen kita yang teleponnya nggak bisa diangkat. Kenapa sekarang ada Genose jatoh?
Petugas bandara bilang, "Oh taruh saja di informasi. Nanti diumumkan. Tuh informasi dibawah tangga."
"Tapi nggak ada orang Pak di informasi," lanjut Iyus.
"Itu di monitor ada orangnya,"
"Lho?"
Kami berjalan menuju informasi dan ternyata benar ada orangnya di dalam monitor. "Ada yang bisa saya bantu?"
"Bu, ada hasil Genose terjatuh. Atas nama (sebut saja) Adam."
"Oh baik, taruh saja hasil Genosenya disitu, nanti saya umumkan." Saya menaruh hasil Genose dan kwitansi di meja informasi.

Akhirnya saya dan Iyus masuk juga ke ruangan cek in dan syok lihat antrian yang sangat panjang😱😱😱. Duh, keburu nggak yah, tapi masih ada satu jam lagi. Saya dan Iyus pisah barisan supaya nanti siapa yang duluan aja. Walaupun pada akhirnya kami sampai ke konter cek in dalam waktu bersamaan. Sayup-sayup terdengar bagian informasi memberitahukan kalau ada Genose terjatuh atas nama Adam. Tapi jujur saya ragu apakah Pak Adam beneran mendengar pengumuman ini🤔.

Petugas maskapai Citilink kemudian meminta hasil Genose dan kwitansi ketika kami cek in. Saya keheranan, "kok kwitansi sih?" 
"Mohon maaf, kalau tidak ada kwitansi, kita tidak bisa mengijinkan kalian untuk cek in."
"Tapi ini 'kan udah valid." Saya menunjukkan stempel validasi.
"Mohon maaf ini sudah peraturan bandara."
Iyus bertanya, "Dimana kwitansinya?"
Petugas bandara bilang, "Bisa minta lagi aja sama petugas Genose."
"Tadi gw taruh di meja informasi." kata saya kepada Iyus sebelum dia tiba-tiba memutuskan untuk pergi ke tempat Genose lagi. "Tapi kalau Pak Adam udah ngambil hasil Genosenya, pasti udah nggak ada lagi juga kwitansi disitu."
Tanpa ba-bi-bu, Iyus berlari keluar meninggalkan saya di konter cek in kebingungan😵‍💫. Saya panik dan berusaha bernegosiasi kepada petugas masalah kwitansi. Tapi tidak sampai 5 menit, Iyus sudah kembali dengan Genose Pak Adam, dan kwitansi. Saya lega, tapi masalah belum selesai.

Petugas Citilink membaca nama di kwitansi, "Oh Pak Adam? Pak Adam jadi berangkat?"
Kami kebingungan. Kok kenal?
"Nggak tau," jawab Iyus.
"Tapi ini Genosenya?" tanya petugas Citilink lagi.
"Tadi kita barengan mbak di ruang Genose. Tapi Pak Adam menghilang."
Tiba-tiba bunyi dering telepon dan petugas Citilink bilang, "Oh ini Pak Adam telepon. Iya Pak, bapak jadi berangkat ya? Ini genosenya sudah sama saya."
Saya keheranan, kok bisa kebetulan begini🤔??? Saya bilang, "Mbak, saya titip Genosenya Pak Adam disini aja ya."
Petugas mengiyakan dan akhirnya kami bisa cek in. Duh, sungguh melelahkan.

Setelah cek in, saya dan Iyus ke toilet. Baru setelah itu menunggu di boarding gate. Tiba-tiba saya mules sesaat sebelum boarding dan membuat saya harus lari ke toilet. Saya sampai mendengarkan panggilan boarding dari toilet tapi untuk antrian depan duluan. Setelah saya selesai, saya mengajak Iyus mengantri boarding sampai tiba-tiba dia bilang, "Haduh, gw mendadak mules." OMG😱! Kan mau terbaaang!! Iyus berlari ke toilet dan saya mengantri boarding. Saya mulai panik, teringat dulu teman saya telat boarding Citilink juga. Setiap ada orang yang mau mengantri, saya selalu pindah ke barisan paling belakang. Rencana saya kalau memang Iyus belum selesai, saya mau negosiasi sama petugas. Saya sudah menelepon, nge-Whatsapp, semua saya lakukan supaya Iyus cepetaaaaan😫😫😫! Lagi panik-paniknya, eh saya melihat Pak Adam juga mulai masuk antrian. Beliau sepertinya tidak mengenali saya.

Sampai akhirnya sisa 2 orang lagi didepan saya, baru Iyus datang seraya berlari. Duh saya lega banget😮‍💨. Saya sempat takut nanti gantian saya mules lagi karena panik, tapi untung enggak. Huff, alhamdulillah akhirnya bisa boarding😮‍💨. Untungnya kita duduk di kursi darurat, jadi tempat kaki bisa lebih luas. Duh capek sekali hari ini. Pesawat akhirnya terbang dan Iyus langsung terlelap. Dia seharusnya lebih capek daripada saya karena harus angkat-angkat koper sana-sini. Saya baru bisa tidur 30 menit kemudian dengan nyenyaknya karena capek juga.

Dua jam kemudian, alhamdulillah kami tiba dengan selamat di Makassar. Iyus mengambilkan bagasi kabin saya dan kami berpisah di pesawat karena dia akan melanjutkan penerbangan ke Surabaya. Saya berpamitan kepadanya, sampai jumpa di Jakarta👋, lalu saya turun dari pesawat. Nggak terasa akhirnya sampai ke Makassar lagi, padahal baru beberapa bulan yang lalu ke kota ini. Oh iya, Pak Adam juga turun di Makassar. Duh, bapak ini lagi dan lagi😅.
Sampai juga Alhamdulillah

Baiklah, nanti saya akan bercerita tentang pengalaman di Makassar. Sampai jumpa ya!

Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar

2 comments:

Unknown mengatakan...

Knp ak yg baca kok ikut deg2an dan ngos2an gini 🤣🤣

Meutia Halida Khairani mengatakan...

apalagi kami yg mengalami langsung 🤣🤣

Follow me

My Trip