Juli 30, 2021

Vaksin Tahap Kedua

Sempat hampir lupa mau daftar vaksin kedua, eh tau-tau tanggalnya udah deket😅. Saya coba daftar via aplikasi Halodoc, tapi kok disuruh masukin kode voucher gitu. Saya kira aplikasinya error, jadinya saya install aplikasi JAKI agar bisa mendaftar dan malah lebih gampang. Saya tinggal masukkan nama, no KTP, dan no Hp, langsung keluar jadwal vaksin kedua di Pejaten Village juga.

Sejak PPKM hari pertama, saya tidak pernah sama sekali naik kereta lagi. Agak malas mengurus Surat Tanda Registrasi Pekerja (STRP) walaupun sebenarnya bisnis Rancupid termasuk ekspor. Selain karena nggak perlu-perlu amat juga ke Jakarta, saya memang memilih untuk tinggal di rumah saja untuk menghindari virus Corona. Malah jadi suka masak berat. Semua resep di coba🍲.

Saya naik Grabbike ke Stasiun Depok seperti biasa. Sebenarnya agak ragu mau bawa dokumen apa, tapi setelah saya lihat di instagram Commuterline, kalau mau vaksin tinggal tunjukkan bukti pendaftaran saja kepada polisi yang berjaga di meja administrasi, lalu langsung disuruh masuk. Semudah itu. Bahkan nggak diminta sertifikat vaksin pertama.

Stasiun Depok Lama di masa PPKM
Suasana di stasiun Depok Lama sebenarnya nggak sepi-sepi amat. Di kereta aja saya masih berdiri. Memang masih sangat ramai orang yang harus bekerja ditengah lonjakan kasus COVID19. Saya turun di stasiun Pasar Minggu karena Rezki sudah menunggu disana. Kami kemudian memesan Grabcar menuju Pejaten Village.
Sepi dan gelap
Sesampai di Pejaten, kami harus mendaftar dulu di lantai dasar. Mall ini gelap sekali karena selain gerai makanan yang cuma bisa take away, semua toko tutup. Sedih rasanya, tapi mau bagaimana lagi. Karena menggunakan aplikasi JAKI, kita dapat antrian cepat. Saya no. 22 dan Rezki no. 23. Kita naik ke lantai 3, lalu duduk menunggu sekitar 30 menit, bahkan sempat ada senam peregangan dulu khusus untuk orang-orang yang sudah menunggu dari tadi pagi. Saya ikut aja sih senamnya. Gerakannya mirip senam SKJ yang biasa dilakukan di pagi hari sebelum masuk sekolah dulu. 
No. antrian
Sampai akhirnya no. antrian kita dipanggil. Rezki sempat pesan Puyo dulu, tapi nggak jadi di makan karena antriannya sudah dipanggil. Proses daftar ulang pun sangat cepat, lalu petugas yang tensi darah, melakukan screening, semuanya cepat. Berbeda sekali ketika vaksin pertama dimana yang tensi darah dan yang screening cuma dua orang. Kami waktu itu mengantri sampai berjam-jam. Hufff!

Tidak lama kemudian, tiba giliran saya untuk disuntik vaksin. Kali ini saya lebih pasrah, nggak difoto juga. Saya singsingkan lengan baju, memejamkan mata, lalu disuntik💉. Duhhhhh sakittttt😵😵😵!!! Walaupun hanya beberapa detik, tapi memang proses penyuntikan💉 bagi saya sangat menegangkan. Setelah disuntik, saya mengumpulkan kertas ke meja observasi, lalu pergi ke konter puyo untuk makan. Pengen makan yang manis-manis biar terlupakan rasa sakitnya disuntik. Karena nggak bisa dine in, jadi kita duduk lesehan di lorong menuju lift untuk makan Puyo. Makan pudding beginian sih mana mungkin lama, paling juga cuma beberapa menit.
Puyo
Selesai makan, kami menunggu kartu vaksinasi di cetak. Ntah kenapa kali ini lengan saya sama sekali nggak sakit. Waktu vaksin pertama malah terasa ngilu, sakit, dan nyut-nyutan. Alhamdulillah ketika observasi memang tidak ada sama sekali gejala apa pun, sehingga setelah kartu di print, kami malah lanjut jalan-jalan ke kosan Mbak Ummi.
Selesai
Baiklah, vaksin pertama dan kedua selesai. Semoga negara kita tercinta segera terbentuk kekebalan kelompok. Semoga pandemi segera usai, dan kita semua bisa beraktifitas dengan leluasa tanpa perlu masker lagi, aamiinnnn🤲. Kasihan teman-teman yang sudah 2 tahun sama sekali tidak kemana-mana. Saya masih mending udah pergi kesana-kesini, tapi tidak semua orang bisa merasakan hal yang sama 'kan?

Yuk segera vaksin dan terus berdoa kepada Allah subhanahu wata'ala agar pandemi segera berakhir. Aaminnn ya Allah🤲.

Juli 24, 2021

Berat Hati

Hanya ingin menulis sedikit, agar aku masih ingat rasanya. Sewaktu menutup jendela mobil, melihat matamu, seraya melambaikan tangan.

Dari jendela aku melihat bintang-bintang tanggal

Satu demi satu, berulang mengucapkan selamat tinggal

Kadang kupikir lebih mudah mencintai semua orang, daripada melupakan satu orang

Jika ada seseorang yang terlanjur menyentuh inti jantungmu, 

Mereka yang datang kemudian, hanya menyentuh kemungkinan

(Aan - Mansyur)

Selamat tinggal
Tulisan ini di posting, ketika aku sudah kuat untuk membacanya lagi...

Juli 03, 2021

Kontrol di Hari Pertama PPKM Darurat

Tidak ada yang tau kalau ternyata di awal bulan Juli ini masyarakat Indonesia terutama di Jawa dan Bali akan merasakan kembali Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat. Tahun lalu sih namanya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), dimana segala hal dibatasi. Di PPKM kali ini, ojek online masih jalan, kendaraan umum masih ada, Mall masih dibuka walaupun khusus untuk gerai makanan, apotik, dan kesehatan saja.

Sebelum PPKM Darurat resmi diberlakukan, saya sudah meminta penjadwalan ulang ke OMDC karena penyangga behel saya copot dan berakibat kawatnya menusuk rongga mulut. Duh, rasanya sakit banget dan mengganggu😖. Setiap buka mulut, pasti ketusuk deh kulit rongga mulut😖. Ternyata OMDC tidak bisa menjadwalkan ulang untuk ke Orthodentist karena penuhnya jadwal. Kalau mau potong kawat bisa ke dokter gigi umum saja kata mereka. 

Mengingat effort yang harus saya lakukan ke OMDC hanya untuk memotong kawat gigi doang (naik kereta, naik ojek, jauh pulak ke Pasar Minggu, harus bayar APD lagi), akhirnya saya bertanya pada ibu komplek apakah dokter gigi di ruko depan masih praktek. Alhamdulillah ternyata masih. Saya tinggal reservasi melalui Whatsapp, dan langsung mendapatkan antrian di hari yang sama. Saya tinggal jalan kaki saja ke deretan ruko depan komplek, dan langsung dipanggil masuk. Ternyata dokter gigi Rahayu ini temannya dokter Oktri, pemilik OMDC.

Proses pemotongan kawat hanya berlangsung 5 menit dengan tarif Rp. 20,000. Alhamdulillah masih rejeki untuk mendapatkan kenyamanan di mulut tanpa harus ketusuk kawat behel dan nggak usah menguras tenaga untuk pergi ke OMDC di Mampang. Dokternya baik banget dan suasana tempat prakteknya juga enak banget. Sayang, saya lupa memfotonya.

Saya juga tidak tau bakalan ada PPKM dan sudah terlanjur membooking jadwal kontrol gigi di tanggal 3 Juli 2021, bertepatan dengan hari pertama PPKM Darurat. OMDC menelepon saya tadi pagi dan bilang kalau selama PPKM darurat, yang datang kontrol gigi akan di swab antigen terlebih dahulu untuk keamanan bersama, secara gratis. Duh, baru kamis kemarin swab antigen, sekarang swab lagi. Ya udahlah, pasrah saja. 

Saya agak takut juga kalau nanti ketika di perjalanan menuju OMDC bakalan susah dapat ojek online, tapi ternyata gampang banget. Suasana PPKM Darurat yang saya rasakan dari keluar rumah sampai tiba di OMDC semua sama saja seperti hari biasa. Yang berbeda mungkin kendaraan hanya sedikit lebih lengang saja. Kalau di kereta sih seperti biasa, tidak ada peraturan yang berubah. Hanya disarankan memakai masker dua lapis, tapi yang pakai satu lapis pun tidak mengapa. Oh iya, jadwal kereta terakhir juga dimajukan menjadi pukul 21:00.

Sampai juga

Sesampai di OMDC, saya mendaftar ulang, diberikan APD berwarna pink (untuk wanita), lalu langsung di swab antigen. Agak deg-degan juga karena baru vaksin (banyak orang-orang bilang kalau setelah vaksin biasanya bakalan positif Corona, walaupun pernyataan ini agak kurang mendasar). Mana alat swab yang dimasukkan sangat dalam dan di kedua rongga hidung. Alhamdulillah saya negatif. 

Negatif, alhamdulillah
APD Pink
Saya kemudian dipanggil masuk ke ruang Orthodentist. Saya menyerahkan penyangga behel yang copot ke dokter untuk dipasangkan ulang. Dokter kemudian mengecek gigi saja, lalu bilang kalau celahnya sisa di sebelah kiri saja. Sebelah kanan sudah rapat. Haduwh, masih belum rapat juga dua-duanya😔. Dokter kemudian mencoba memasangkan penyangga behel, lalu copot. Dokter mengulang lagi memasangkannya, lalu copot lagi. Dokter bilang, "halah copot terus, nggak usah dipake' aja deh." Ya sudah, saya juga nggak masalah kalau nggak dipake'.
Kondisi gigi
Orthodentist kemudian memberikan saya karet elastis yang lubangnya lebih sempit. Beliau bilang, supaya gigi cepat rapat dan gigi geraham cepat maju juga. Sepertinya selama PPKM darurat ini saya bisa mengontrol untuk lebih rajin menggunakan karet elastis agar lebih cepat proses merapatnya celah gigi. Saya nggak akan makan yang keras-keras dulu deh, demi Perfect Smile yang sudah masuk tahun keempat ini, huhuhuhu🥲.

Biaya APD Rp. 75,000
Charge Pasien Lama Rp. 40,000
Kontrol Ortho Emergency Shappire Rp. 275,000
Karet Elastis Rp. 60,000 

Juli 01, 2021

Vaksin Tahap Pertama

Sejak awal pandemi tahun lalu, saya adalah orang yang sangat konsisten ingin di vaksin. Padahal saat itu hoax vaksin sangat menyebar di masyarakat Indonesia termasuk keluarga saya sendiri. Mungkin karena saya adalah orang yang rutin divaksin flu setahun sekali karena sangat berpengaruh di tubuh saya dan bisa meminimalisir flu yang biasanya akan berakhir dengan serangan asma. Saya juga di vaksin meningitis ketika mau umroh. Jadi saya tidak pernah punya masalah dengan vaksin, bahkan saya sangat menanti-nanti vaksin Corona masuk Indonesia, apapun merknya.

Pamer dulu

Sebelum ke Raja Ampat, beberapa teman sudah di vaksin apalagi yang tenaga medis. Saya sampai tanya sana-sini dimana saya bisa nebeng divaksin, tapi ternyata memang belum bisa untuk umum. Ya sudah saya bersabar saja. Sampai akhirnya saya membuladkan tekad, pokoknya maksimal di bulan Juli saya harus sudah divaksin, walaupun baru vaksin tahap awal. Alhamdulillah diberikan kemudahan dimana yang semula harus menggunakan surat keterangan kerja di Jakarta, sampai akhirnya hanya perlu menunjukkan KTP saja sudah bisa di vaksin. Akhirnya saya mendaftar melalui aplikasi Halodoc dan dapat antrian di tanggal 1 Juli 2021 di Pejaten Village Pasar Minggu, menggunakan vaksin Sinovac.

Agar memastikan kalau tubuh saya tidak terkontaminasi virus Corona, adik saya Yuni menyuruh untuk swab antigen dulu. Apalagi banyak sekali teman-teman yang setelah vaksin malah positif virus Corona. Walaupun mungkin mereka sudah kena Corona duluan ntah dimana, maka dari itu daripada berpikiran buruk tentang vaksin, lebih baik saya swab antigen dulu. Nah, karena saya dapat antrian vaksin di Pejaten Village, jadi saya memutuskan untuk swab antigen di jalan Warung Buncit yang sempat viral karena tempat swab sudah seperti tempat jualan pulsa, saking banyaknya dan harga bersaing (murah).

Dipilih-dipilih
Dari stasiun Pasar Minggu, tinggal naik Grab saja ke Jalan Warung Buncit. Disana kalian bisa memilih mau swab dimana. Kalau saya lebih memilih yang agak sepi, walaupun nggak sepi-sepi amat juga😅. Kalau mau harga murah sih, bisa memilih mau yang 79rb - 89rb pun ada. Harga ini jauh lebih murah daripada di bandara, bahkan lebih dari setengahnya. Kalian tenang saja, tempat swab ini sudah ada ijin Kemenkes, jadi nggak usah takut untuk swab murah meriah disini ya😉.
Ada OMDC juga
Selesai swab, saya melanjutkan perjalanan ke Pejaten Village untuk vaksinasi. Agak kaget juga antusiasme masyarakat yang ingin di vaksin seramai itu. Karena saya mendaftar via Halodoc, saya mendapatkan antrian no. 353, sedangkan sekarang masih antrian no. 200. Haduh masih lama nih ternyata😦. Saya menunggu hampir 1.5 jam sampai no. saya dipanggil dan mulai melakukan proses registrasi.
Antrian
Setelah registrasi, antrian untuk cek suhu badan dan tekanan darah pun panjang sekali. Akhirnya saya memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu agar menambah tenaga. Setelah makan siang, antrian sudah lebih sepi dan sisa beberapa orang saja. Saya kemudian lanjut ke proses pengecekan tubuh. Tekanan darah saya normal, dan suhu tubuh bagus, baru deh lanjut ke tahap selanjutnya.
Menunggu sampai ngantuk
Menunggu antrian screening mungkin memakan waktu lebih dari satu jam. Mana suasana saat itu mendung dan angin sepoi-sepoi, baru makan siang pulak, saya jadi sangat mengantuk. Sampai akhirnya dipanggil juga nama saya. Setelah diwawancara sedikit tentang riwayat kesehatan, akhirnya dapat juga antrian untuk disuntik. Duh, lama sekali proses ini berlangsung😩.
Suntik dulu
Sebenarnya saya sangat takut jarum suntik, tapi sekarang sudah lebih pasrah. Saya langsung menyingsingkan lengan baju, lalu menutup sebagian lengan dengan kain, kemudian pasrah saja ketika disuntik. Sakit sih, tapi semua berjalan begitu cepat. Ibu perawat yang menyuntik pun tidak membuat saya takut, jadi ya santai saja.

Setelah disuntik, saya duduk di tempat observasi. Lengan jadi sakit, perih, dan pegal-pegal. Tapi semua masih bisa ditahan karena biasanya memang begitu efek vaksin. Setelah 15 menit, kartu vaksinasi Covid 19 saya pun keluar dan tidak ada efek signifikan di tubuh yang saya rasakan. Saya bahkan bisa langsung pulang tanpa ada rasa sakit yang berarti.
Akhirnya sudah di vaksin

Untuk kalian yang akan divaksin bisa melakukan berbagai persiapan diantaranya istirahat cukup, jangan stress, makan makanan bergizi dan minum susu, minum air putih yang banyak, minu suplemen, saya bahkan sampai infused multivitamin, dan jangan lupa olah raga. Kalau bisa, hindari dulu keramaian untuk memastikan kita tidak terjangkit virus dari mana pun. Oh ya, banyak teman-teman bilang vaksin Astra Zeneca lebih kuat sehingga biasanya setelah divaksin malah bikin demam. Rentang waktu ke vaksin kedua pun 12 minggu. Kalau saya memilih Sinovac karena rentang waktu vaksin kedua hanya sebulan dari vaksin pertama. Mengingat Corona di Indonesia semakin menggila apalagi dengan adanya varian delta. Kalau pun nanti harus di vaksin lagi ketiga dan keempat, saya pun nggak masalah.

Saya sangat menyarankan untuk swab antigen terlebih dahulu sebelum vaksin agar memastikan tidak ada virus Corona di tubuh (walaupun keakuratan swab belum 100%, tapi masih bisa diperhitungkan). Jangan lupa ketika mengantri vaksin untuk memakai masker 2 lapis atau yang banyak lapisan seperti KN95, N95, dan lainnya.

Semoga vaksinasi ini dapat menjadi bagian ikhtiar kita dalam mengakhiri pandemi di negara tercinta ini. Aminnn ya Allah.

Follow me

My Trip