September 12, 2021

Kegundahan Hati

Sudah kurang lebih 2 bulan, suasana hati tidak menentu. Mungkin dimulai pada saat perusahaan di United Kingdom tutup, Amazon suspend (lagi), tidak bisa bertemu teman-teman, galau, menstruasi, semua bertumpuk menjadi satu. Berawal di akhir Juni, saya sudah merasa stres. Salah satunya karena pemberitaan tentang Corona dan banyak sekali orang-orang terdekat yang kena. Semakin membaca media sosial, semakin banyak pula berita duka. Saya sampai bingung harus bagaimana. Mau mengirimkan makanan untuk teman-teman yang isolasi mandiri (isoman) tapi saking banyaknya, saya nggak tau siapa yang harus diprioritaskan. Beberapa orang saya tanya, mau dikirim apa? Banyak dari mereka yang menjawab nggak usah, karena nanti tambah sedih😔. Ada juga yang dapat banyak makanan dari tetangga yang membuat kulkas penuh dan nanti mubazir kalau makanan jadi tersisa. Akhirnya saya memutuskan untuk tidak mengirimkan apa pun kepada siapa pun. Maafkan saya pada saat itu😞.

Mungkin puncak kegundahan di hati itu terjadi sekitar tanggal 20an Juli, dan berlangsung selama seminggu (karena mens juga jadi emosional banget). Amazon ini semakin ditelusuri semakin tidak ada jawaban. Semakin baca forum, semakin tau kalau tidak ada jalan keluar. Sendirian di rumah untuk mencari jalan keluar. Keluarga juga berkali-kali bertanya bagaimana permasalahan di perusahaan. Belum lagi ditambah sikap seseorang yang ketika saya datang ke rumahnya, malah beberapa kali diusir, disuruh pulang. Bahkan sampai sekarang saya masih bertanya-tanya, ntah kesalahan apa yang pernah saya lakukan sampai membuat dia bersikap seperti itu. Padahal saya hanya berniat untuk memastikan kalau dia baik-baik saja. Hmmmpphh, dunia memang tidak bisa ditebak. Orang yang biasa baik, tiba-tiba jadi sangat menyebalkan. 

Hal yang bertubi-tubi seperti itu membuat saya stres. Saya (mungkin) adalah orang yang sangat pintar mengelola stres. Tapi semakin kesini saya baru sadar kalau saya sebenarnya hebat dalam menyembunyikan stres. Dan di puncak rasa sedih, pusing, gundah, stres, yang melanda, akhirnya saya bisa nangis juga😭. Saya lupa kapan terakhir saya nangis, mungkin sewaktu kesel banget dengan mantan pacar, dan itupun sudah lama. Ketika putus cinta dengannya, efek ke diri saya lebih ke bad mood. Nggak nangis. Karena saya berpikir masih banyak yang harus saya pikirkan daripada 'dia'. Kali ini berbeda, saya nangis, seminggu, bahkan sehari bisa tiga kali, seperti waktu makan. Saya hampir nggak sanggup membuka laptop, saking stres dan sedihnya. Saya juga malas bertemu orang-orang, walaupun tetangga masih datang dan saya nggak akan menolak mereka. Mungkin ini yang dinamakan depresi (saya sampai googling arti depresi dan semua terjadi pada diri saya). Saya merasa nggak produktif, malas makan, bawaannya pengen tidur, dan berasa waktu bergerak sangat lambat. 

Alhamdulillah saya memiliki tetangga (sudah jadi teman dekat) yang sering datang, memastikan kalau saya baik-baik saja karena sedikit banyak mereka tau apa yang saya alami. Mereka terkadang hanya mau mengobrol, atau duduk diam di sofa menemani saya. Kalau saya mau bercerita, ya cerita saja. Kalau nggak ya mereka diam saja di rumah saya sambil membaca koleksi buku-buku saya yang banyak. Walaupun merasa hidup ini berat, tapi keberadaan seseorang dapat mengurangi kegelisahan hati, walaupun mereka nggak ngapa-ngapain.

Di hari kedelapan, baru saya nggak nangis lagi. Mood saya memang masih kacau, tapi sudah jauh lebih baik. Tetangga menyarankan saya untuk melakukan hobi seperti memasak atau bercocok tanam yang biasanya bisa membuat saya lebih senang. Atau menuntaskan blog. Vakum dulu dari pekerjaan, atau melihat sosial media yang terkadang bikin tambah stres. Akhirnya saya membeli buku resep masakan dan beberapa tanaman baru untuk dirawat. Melakukan hobi memang sangat menyita waktu sih, nggak terasa udah siang aja. Masih harus mandi, memikirkan harus makan siang apa, dan sedikit membereskan rumah. 

Setelah hampir sebulan saya merasa tidak memiliki semangat, akhirnya saya memutuskan untuk ke Bandung. Ntah udah berapa kali Anis mengajak menginap di rumahnya agar saya tidak kesepian, tapi saya tolak terus karena berpikir kalau udah ke Bandung pasti nanti malah main. Sampai akhirnya saya pergi juga, kali ini untuk jangka waktu yang lama. Saya tidak akan menceritakan kemana saja saya pergi karena postingan ini berfokus pada kegundahan hati.

Hari-hari awal saya di Bandung, saya bercerita semua yang saya alami pada Anis dan tante. Sebagai informasi, Anis adalah sahabat saya yang sudah seperti saudara. Saya bahkan sangat dekat dengan seluruh keluarganya. Sebenarnya tipe saya kalau berteman adalah mengenal keluarga teman-teman saya baik cewek maupun cowok, jadi saya tau bagaimana mereka dibesarkan. Kalau memang mereka dari keluarga yang baik, pasti pertemanan kita sampai sekarang. Anis mendengar dengan detail apa yang saya alami dan mengetahui dengan pasti apa yang saya rasakan. Dia sudah berbisnis sejak 2012 dimana saat itu saya masih sebagai karyawan yang mengharapkan naik pangkat atau berpindah ke perusahaan lebih besar. Apakah yang dia lalui baik-baik saja? Tentu saja tidak. Saya sudah sering mendengarkan cerita Anis tentang bisnis, jatuh-bangun, tapi kali ini semua nasehatnya benar-benar menyentuh ke hati saya.

Saya bercerita kalau di akhir Juli kemarin saya juga mengalami depresi. Seharusnya saya tidak boleh mengalami hal tersebut dimana orang-orang pada terkena COVID19. Saya takut juga kena dan saya memutuskan untuk tidak kemana-mana sama sekali. Beberapa kali saya mengecek saturasi oksigen dan suhu tubuh. Alhamdulillah normal, walaupun saya selalu merasa demam sepanjang waktu. Ntah karena AC di rumah yang terlalu dingin. Anis dan tante mendengarkan cerita saya dengan seksama dan memberikan saran, "Masalah Mumut sebenarnya udah ada jalan keluar, tinggal diurus aja." Nah semangat mengurusnya itu yang hilang ntah kemana.

Suatu hari saya pergi ke kebun teh. Saya duduk sambil minum teh tarik panas bersama Anis. Melihat pemandangan hijau seperti ini sangat melegakan dan menjadi sebuah anugrah. Jadi teringat, dulu ketika duit saya ketahan di Amazon dan berbagai macam masalah mendera, saya kembali kepada Allahﷻ. Mungkin karena waktu itu bulan Ramadhan, jadi semangat beribadah bisa full. Sekarang ditengah kegundahan yang melanda, malah ibadah saya terasa biasa saja. Shalat tetap, mengaji tetap, tapi ya begitu saja. Padahal, masih diberikan kesempatan melihat pemandangan seindah ini juga patut disyukuri. Dulu ketika perusahaan dalam masa krisis saja, saya masih bisa bolak-balik ke Bali untuk urusan pekerjaan dengan menginap di Hotel bintang 5, semuanya gratis dibayar oleh Pertamina.

فَإِنَّ مَعَ ٱلْعُسْرِ يُسْرًا 
"Maka, sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan." Surat Al-Insyirah Ayat 5.

Anis bercerita, selama berbisnis hal yang paling harus kita pertahankan adalah tidak pelit, baik untuk diri sendiri, maupun orang lain. Rejeki itu sering datang dari jalan yang tidak disangka-sangka. Sebanyak apa pun kesulitan keuangan melanda, Anis tetap berusaha untuk tetap senang membagi-bagi makanan. Masakin buat teman-teman yang datang, mengirim banyak sample produk, padahal kalau dipikir-pikir, sekali 'ngasih itu bisa sampai 100rb juga. "Tapi kan beda ya, ngasih ya ngasih aja. Jangan diperhitungkan. Ada Allahﷻ yang membalas."

Hal lain yang sangat ingin saya lakukan adalah pergi ke Amerika. Karena saya berbisnis di Amazon dan saya ingin menyewa warehouse disana. Saya sangat ingin langsung berkunjung dan mengontrol alur penjualan produk, ingin ke Amazon dan Payoneer Headquarter, memiliki US Bank Account, dan melihat sendiri bagaimana masyarakat disana beraktivitas. Seandainya duit tidak tertahan di Amazon, mungkin saya bisa pergi sekarang kesana. Tapi masalah bukan karena itu saja. Pertama adalah ijin dari Mama. Untuk bilang ke Mama tentang wacana ini saja adalah hal yang menyeramkan. Saya takut Mama berpikir kalau ke Amerika untuk jalan-jalan. Padahal saya sangat ingin melihat langsung peluang bisnis disana.

Saya membahas masalah pengurusan Visa ke teman-teman Rancupid dan ternyata mereka menyambut dengan antusias untuk menemani saya pergi dan mengurus reference letter. Rancupid memiliki Limited Liability Company (LLC) di Amerika dan sudah seharusnya kita gampang mengurus Visa. Di Bandung saya bertemu mbak Feira dan dia sudah memiliki Visa Amerika. Dia bilang juga mau menemani saya agar perijinan ke Mama tembus. Saya mulai merasa ada titik terang. Apakah Allah subhanahu wata'ala sudah menunjukkan jalan? Sebenarnya saya harus berada di Amerika sebelum musim semi karena penjualan di Rancupid sangat tinggi pada musim itu. Dan musim dingin (winter) adalah saat yang tepat. Belum lagi pernah janji sama Iyus mau melihat Balldrop (ntah kenapa dia antusias banget mau melihat bola jatuh doang😮), di New York pas tahun baru. Tapiii, dinggiiiiiinnn🥶🥶🥶!! Jadi kebayang harus bawa jaket yang mana agar bisa menahan dingin. Atau sekalian aja beli disana.

Selama di Bandung, saya menelepon Amazon berkali-kali untuk meminta uang saya diriliskan. Ntah berapa kali saya berantem di telepon dengan logat India, Singapore English, Native, pokoknya saya udah fasih 'berantem' dengan bahasa inggris dengan aksen sesuai orang yang menerima telepon dari saya. Sampai akhirnya saya menerima email kalau mereka sedang menginvestigasi masalah saya. Fiuhh, sudah lama saya menanti sebuah email dari mereka. Insya Allah sudah ada titik terang lagi.

Kembali ke Depok dengan hati dan perasaan jauh lebih ringan. Walaupun masalah belum selesai, tapi banyak jalan sudah terbuka. Mungkin saya harus lebih meningkatkan ibadah, karena satu-satunya cara untuk menenangkan hati memang dengan mengingat Allah. Tidak ada batasan dalam berdoa, bahkan kita bisa meminta seisi dunia untuk dikabulkan. Saya juga langsung mengurus perpanjangan passpor. Semoga setelah passpor selesai, uang saya rilis semua dan bisa segera mengurus Visa. Aamiiinnn!
Let's fight!
Tulisan ini saya tulis dalam kondisi flu, batuk, dan demam🤒. Semoga bukan gejala Corona. Semoga sakit ini menjadi penggugur dosa🤲. Mungkin saya mau off dulu dari main sosial media. Saya mau menyelesaikan tulisan tentang Raja Ampat dan destinasi lainnya, sambil terus memperjuangkan Amazon. Semoga saya dianugrahkan rasa sabar, seberat apa pun masalah yang melanda. Aaamiiiinnn🤲!

فَاصْبِرْ صَبْرًا جَمِيلًا
“Fashbir Shabran Jamiila”. (Maka Bersabarlah Dengan Sabar Yang Baik). QS Al-Ma'arij : 5.

3 comments:

Anis mengatakan...

Tantangan usaha harus bisa memiliki banyak rencana dan relasi, selagi itu baik jalankan, jgn takut melangkah, tetap percaya diri, InshaAllah niat baik dikabulkan Allah. Aamiin

Meutia Halida Khairani mengatakan...

Aaamiinn.. makasi nis sudah jadi pelita di hatiku azeeqq...

Muhamad Ratodi mengatakan...

Disaat-saat teruruk kalimat laa hawlaa walaa quwwata illa billah itu sangat membantu lho ☺️

Follow me

My Trip