Juli 16, 2018

Jalan-jalan di Cappadocia

Banyak tempat-tempat yang saya kunjungi ketika berada di Cappadocia baik dalam rangkaian tur maupun jalan sendiri. Supaya dalam satu postingan nggak kepanjangan, biasanya saya satukan cerita yang relevan terlebih dahulu baru nanti saya ceritakan yang random. Seperti di postingan kali ini akan saya bahas tentang tempat-tempat bukan pemandangan alam yang telah saya kunjungi selama di Cappadocia. Saya akan bercerita tentang pertokoan dan Resto yang saya kunjungi. Semoga nggak bosan membaca cerita saya ya.

Ceramic Shop
Sewaktu di Selcuk, saya juga sempat berkunjung ke toko keramik. Turki memang terkenal dengan pengrajin keramik yang sangat lihai dalam melekuk keramik dalam bentuk yang unik dan meliuk-liuk. Kalau di Indonesia, saya hanya tau keramik yang berbentuk vas dengan pembuatannya diputar-putar. Nah, kalau di Turki, ada keramik yang bisa bolong ditengahnya dan biasa digunakan untuk mengisi minuman ketika perjamuan di istana.
Pengrajin keramik
Cara membuatnya lebih rumit dari sekedar vas bunga karena kalian harus menyatukan tiga bentuk tanah liat. Sewaktu diperagakan oleh pengrajinnya sih terlihat gampang banget, cuma 10-15 menit jadi deh. Tapi kata mereka, keramik ini harus diuji dulu kualitasnya agar memenuhi standar mereka, baru setelah itu dapat diperjualbelikan.
Pelukis keramik
Ada pembuat keramik, ada juga pelukisnya. Nah, hal yang satu ini sama ribetnya karena motif Turki itu kebanyakan detail banget dan simetris. Kalau kita biasanya melukis pola dengan menggunakan komputer baru bisa simetris kiri dan kanan, para pelukis keramik ini bisa melukis simetris dengan tangan. Kebayang berapa lama mereka mengasah kemampuan seperti itu. Salut deh! Wajar aja harga kemariknya mahal-mahal. Yang kecil seukuran gelas sake (arak Jepang) saja bisa 100rban. Katanya sih kalau beli keramik yang harganya besar, bisa dikirimkan langsung ke alamat rumah kita di Indonesia dan garansi uang kembali kalau pecah ditengah jalan atau lecet.

Eranos Sarikaya Cave Restaurant
Pokoknya selama di Cappadocia, saya menjadi manusia gua seperti Flinstone. Tidur di gua, makan di gua, tempat wisata pun ke gua-gua. Kali ini kami dibawa oleh tur guide untuk merasakan pengalaman makan daging sapi yang dimasak di dalam keramik di sebuah Resto berbentuk gua. Tempatnya megah sekali, ada live music juga, tapi ya kalian akan merasakan masuk ke kota bawah tanah lainnya.
Pintu masuk gua resto
Lorong di dalam resto
Kami duduk di meja yang sudah di booking oleh tur. Karena kita ramai, jadi harus pisah meja dengan rombongan lainnya. Resto ini sangat luas di dalamnya, kebayang 'gimana caranya mereka menghancurkan bebatuan gunung dan mengorek tanah untuk membangun semua ini. Kalian bisa lihat struktur langit-langit resto yang keras membatu. Insya Allah resto ini nggak akan pernah roboh supaya nggak ada yang terjebak di dalamnya.
Meja resto
Resto ini sangat unik. Ketika koki membawa guci yang berisi daging sapi, beliau bernyanyi dulu baru membagikan dagingnya kepada kami. Di resto ini ada menu nasi, jadi lumayan mengenyangkan. Tidak lupa saya bawa sambal teri agar lebih sedap. Teman travelling yang pernah saya ceritakan di postingan sebelumnya yang heran saya bawa sambal, malah datang ke meja saya dan minta sambalnya. Dia ambil beberapa sendok dan mencicipinya. Saya lihat ekspresinya ketika pertama kali mencicipi sambal dan dia langsung terseyum bahagia. Kata dia, "I miss this spicy flavor and ikan bilis." Orang Malaysia menyebut teri adalah ikan bilis😆. Sempat ngobrol dengan dia agak lama di mobil tur karena duduk bersebelahan dan ternyata dia adalah dokter gigi (dia menyebutkan 'dokter gigi' dengan fasih). Saya suruh cek kawat gigi saya dan dia bilang, "Closing the gap and fixing the bite will takes time, so you have to be more patient - Menutup celah gigi dan memperbaiki gigitan akan memakan waktu, jadi harus sabar." Baiklah.....😔😔😔

Saya sempat shalat di Mushalla resto gua ini. Uniknya tempat shalat untuk shaf cowok kecil banget, sedangkan untuk cewek 4 kali lipat besarnya. Apa cowok-cowok terbiasa sempit-sempitan kali ya? 😆

Ziggy Cafe
Tur guide sempat menyarankan kami mencari makan di resto yang dekat dengan hotel. Kota Ürgüp sebenarnya memiliki sangat banyak resto dan cafe yang nyaman untuk bersantai dan makanannya juga enak. Hanya saja jalanan yang mendaki dan menurun membuat agak nggak mungkin untuk mengajak orang tua. Apalagi jalanannya bukan aspal bakalan sangat menyulitkan.

Akhirnya kami mampir di Ziggy Cafe. Tempat ini pun sebenarnya agak menyulitkan orang tua karena kalau mau makan harus naik tangga terlebih dahulu. Untuk kita orang muda sih enak ya. Disuruh naik tangga sebanyak apa pun santai aja. Berbeda dengan Mama dan tante yang sangat kesulitan. Untung aja setelah menaiki tangga perlahan-lahan, sampai juga ke meja makan. Saya membuka buku menu dan agak bingung juga mau pesan apa. Jadilah memesan makanan agak random.
Menu makanan kita
Kami memesan sate (penasaran sate di Turki seperti apa), daging sapi, telur, pokoknya semuanya yang terlihat menarik di buku menu dipesan. Air mineral (botolnya dipakaikan baju😅) dapat gratis dan ada seorang pelayan bertugas menjaga kita. Kalau air minum habis, langsung dituangin lagi. Salut juga dengan pelayanannya. Makanannya lumayan enak sampai kita jadi pesan lagi sate ayam, hihihi. Kalau untuk harga agak mahal yaitu 40 Lira perorang. Ketika mau pulang, kita diberikan souvenir berupa pembatas buku oleh pelayan Cafe. Lumayan...

Yusuf Yiğitoğlu Konağı 
Malam kedua di Ürgüp. Kami kembali berkeliaran di belakang hotel untuk mencari tempat makan. Kebanyakan masih pada tutup dan saya jadi bingung mau makan kemana. Akhirnya kami memutuskan untuk masuk ke sebuah hotel Yusuf Yiğitoğlu Konağı karena biasanya hotel pasti ada resto. Sempat bertanya pada pegawai resto terlebih dahulu apa kita boleh makan disini dan mereka jawab silahkan saja.
Makanan pembuka
Menu makanan pembuka sudah tersedia diatas meja. Pengalaman saya di Khasmir, kalau kita nggak makan makanan pembuka, maka makanan utama nggak akan disajikan. Jujur aja saya dan keluarga kurang suka makan salad dan sup diawal. Kita orang Indonesia lebih suka mencampurkannya ke nasi. Tapi mau bagaimana lagi, daripada makanan utama nggak keluar. Akhirnya kita paksain juga makan. Setelah makan sedikit, baru pelayan resto mengangkat makanan dan menyediakan makanan utama. Alhamdulillah bisa makan kenyang dan enak juga makanannya. Menu makanan hotel memang biasanya super duper banyak tapi kadang nggak begitu sesuai dengan selera perut nasi padang seperti saya😅.
Suasana resto
Kita membayar 25 Lira perorang untuk makan malam. Lumayan murah juga dibandingkan dengan Ziggy Cafe.

Jalan-jalan sore di Ürgüp
Setelah tur di hari ketiga selesai dan masih sore, saya dan Willy mau nyobain jalan-jalan sore di kota. Mama dan tante udah sakit kaki, jadinya adik harus menemani mereka. Saya dan Willy jalan dari belakang hotel, menyusuri lorong-lorong jalanan (sempat mampir di kios souvenir), dan akhirnya menemukan pusat kota yang ramai. Memang sih jalanannya menanjak dan menurun yang membuat ngos-ngosan juga, tetapi berhubung saya masih muda ya santai aja😁😁😁.
Bunga-bunga gantung
Cafe dan Resto
Saya suka tatanan kota yang dihiasi bunga dimana-mana. Mungkin karena musim semi dimana bunga bermekaran. Bahkan mereka menggantung pot bunga dengan seni sehingga terlihat indah. Udara sejuk dan penduduk super ramah membuat saya jadi senang menikmati sore itu. Saya juga mampir di beberapa pertokoan untuk belanja oleh-oleh dengan harga murah banget. Kebanyakan oleh-oleh yang dibeli di toko souvenir dalam rangkaian perjalanan tur pasti harganya udah dinaikin oleh penjual😓. Tapi memang dimana-mana begitu.
Kota
Di pusat kota banyak banget cafe keren dimana terlihat orang-orang tengah bersantai menikmati segelas kopi atau sekedar mengobrol dengan teman-temannya. Ah, seandainya Mama dan tante nggak sakit kaki, pasti mereka senang melihat suasana seperti ini. Kita jadi bisa melihat potret kehidupan sehari-hari para penduduk kota ini. Ada mesjid juga di tengah kota (di Turki bisa ditemukan mesjid dimana-mana seperti di negara kita).
Mesjid
Selesai jalan-jalan berkeliling kota, saya kembali ke hotel. Sekitar pukul 5 sore, kami diantar ke bandara Kayseri untuk melanjutkan perjalanan ke Istanbul. Sewaktu check-in pesawat Anadolu Jet, kami kelebihan bagasi. Ya tapi bayarannya lumayan murah sekitar 120 Lira saja untuk kelebihan 15 kg. Mau diakalin supaya nggak usah bayar kelebihan bagasi dengan cara ngeluarin barang dari koper bikin ribet, seperti yang teman-teman saya lakukan di bandara Jaipur, India. Mending bayar aja deh, selesai urusannya. Oh ya, saya sempat ketemu orang Indonesia di Mushalla bandara. Kalau mau mengenali orang Indonesia, tinggal lihat aja pasti mereka pakai mukenah kalau shalat, hihihi. 

Baiklah, di postingan selanjutnya, kita akan membuka lembaran baru yaitu kota Istanbul. Sampai jumpa!

Beberapa foto dari kamera Iphone 8 plus dan kamera Fujifilm Willy Sebastian (Instagram : willyarrows).

Juli 12, 2018

Cappadocia North Tour

Setelah mengendarai balon udara, waktunya kami kembali ke Dere Suite hotel. Saya menaruh barang di kamar, mengambil laptop, dan langsung menuju Resto untuk sarapan. Berharap bisa menyelesaikan bookingan Adora hotel yang tercancel di Istanbul dengan menggunakan laptop (pakai hp layarnya terlalu kecil dan tidak bisa bebas mengetik). Sebenarnya selama di mobil tur menuju hotel, saya sudah berusaha untuk mengganti kartu kredit saya yang sudah limit dengan yang masih ada saldonya. Sayangnya nggak berhasil. Udah coba pakai kartu kredit adik saya juga dan hasilnya tetap nihil. Duh, saya jadi was-was nggak dapat hotel di Istanbul. Padahal hotel yang saya book sudah bagus dan murah tapi dibatalkan oleh booking.com.
Pohon setan mata biru
Saya sudah berdiskusi dengan adik dan Willy bagaimana tentang hotel kami. Akhirnya kami jadi buru-buru sarapan, lalu ke resepsionis untuk meminjam telepon. Resepsionis hotel Dere Suite menawarkan diri untuk menghubungi pihak hotel Adora untuk bertanya perihal pembatalan oleh booking.com. Ternyata beneran dibatalin dan kalau mau booking lagi harganya naik dua kali lipat. Saya sempat berdiskusi lagi sambilan cari-cari hotel di traveloka atau booking.com. Ternyata memang sudah pada mahal. Resepsionis kemudian menawarkan diri lagi untuk mencarikan hotel yang dekat dengan Adora hotel (yang kami booking sebelumnya). Akhirnya kami berhasil book Sahin Hotel yang masih di lokasi yang sama.
Blue evil eye charm
Waktu sudah menunjukkan pukul 9.45 pagi dan saya belum mandi. Akhirnya saya serahkan semua urusan bookingan hotel ke Willy dan adik, lalu saya berlari ke kamar untuk mandi. Saya juga berpesan untuk menghubungi tur Selat Bosphorus dan menginformasikan alamat hotel kita yang baru. Kebayang dong, saya harus mandi 5 menit, dandan 5 menit, dan membereskan koper 5 menit sampai akhirnya tur guide datang menjemput. Alhamdulillah walaupun buru-buru, tidak ada barang kami yang tertinggal. Seluruh koper diangkat petugas hotel ke area resepsionis, sedangkan saya dan keluarga mengikuti tur guide menuju mobil tur. Kata Willy, tur selat Bosphorus akan dihubungi oleh tur guide nantinya dan hotel kita di Istanbul sudah di booking juga. Fiuhh, akhirnya selesai juga😔.
Cappadocia
Karena bangun terlalu pagi, selama di perjalanan menuju tempat wisata saya tidur. Setelah menaiki balon udara, tampaknya destinasi wisata lainnya jadi biasa aja😅. Saya jadi tidak terlalu tertarik. Yang paling menarik malahan adalah tidur. Ngantuknya setengah mati. Lagi enak-enak tidur, ternyata ada peserta tur yang berasal dari Sydney duduk di sebelah saya. Dia aslinya orang Malaysia dan kaget ketika saya bilang ke Willy untuk menurunkan sambal. "What? Do yo bring 'sambal' everywhere? So funny!! - Apa? Kamu bawa sambal kemana-mana? Lucu banget!" Saya jawab, "You have to try this sambal. It's homemade and really delicious. - Kamu harus coba sambal ini yang di uleg sendiri dan rasanya enak banget deh."
Tidur pulas
Rose Valley
Mobil diparkir akhirnya. Saya bangun dan melihat sekeliling seperti padang tandus dengan bukit-bukit pasir yang ternyata kami berada di daerah Rose Valley. Berhubung baru bangun tidur, kepala belum konek, jadi agak nggak mood mau jalan-jalan. Mau nggak mau tetap turun juga dari mobil. Mama dan tante seperti biasa hanya menunggu di parkiran bersama pedagang kaki lima yang berjualan di setiap tempat wisata.
Pedagang kaki lima
Menyusuri lembah tandus
Berkuda
Cara berkudanya keren
Keliling Rose Valley dengan dataran tandus dan gersang menurut saya terasa biasa saja. Beberapa orang bule' terlihat berkeliling lembah dengan menaiki kuda. Cara mengendarai kudanya juga sudah terlihat sangat hebat dan keren. Jadi teringat sewaktu di Bromo saya pernah digigit kuda😓. Saya hanya ikut berjalan kaki seperti peserta trip lainnya terus ke dalam lembah. Sampai kami menemukan gua diatas bukit. Kalau dilihat dari bawah sih, cara naik ke atas bukit agak curam. Saya juga sudah tidak penasaran lagi apa isi dari gua itu, jadinya nggak naik ke atas. Saya duduk menunggu dibawah bersama adik dan beberapa peserta trip lainnya. Cuma Willy yang ikutan naik.
Gua diatas bukit
Willy naik
Turunnya agak curam
Agak ngeri juga melihat peserta trip ketika naik dan turun. Jalanan berpasir yang agak licin membuat kita harus sangat waspada. Kalau kalian pakai sepatu yang enak sih, insya Allah nggak akan tergelincir. Kalau saya, sepatu enak, tapi naiknya males, hahahaha😂. Selebihnya kami hanya berkeliling daerah Rose Valley dan mengambil banyak foto. Cuaca agak terik meskipun anginnya dingin. Kulit saya jadi gosong juga karena terlalu sering berjemur.
Padang tandus
Kaymakli Underground City
Salah satu daya tarik Cappadocia adalah kota dibawah tanah dan kali ini kami akan mengunjungi Kaymaklı yang terletak di Ihlara Road, 10 km jauh dari Derinkuyu. Sejarah mengatakan bahwa Kaymakli berasal dari zaman Het dan Phrygia pada abad ke-7 dan 8 SM. Kota ini biasa digunakan sebagai tempat berlindung yang aman bagi orang-orang yang melarikan diri dari pengejaran musuh di era Bizantium. Menurut perkiraan, sekitar 3.500 orang pernah tinggal di sini.
Peta kota
Kota Bawah Tanah Kaymakli dibuka untuk pengunjung pada tahun 1964 dan menjadi Situs Warisan Dunia UNESCO pada tahun 1985. Kalian bisa lihat dari gambar begitu banyaknya lorong-lorong rahasia sampai ke dalam banget, sudah seperti rumah semut di bawah tanah. Sebenarnya kota bawah tanah ini bisa menghubungkan dengan kota-kota lain juga sehingga ketika proses pengejaran, musuh jadi sulit menemukan penduduk saking ribetnya ruang-ruang di dalamnya. Di kota ini juga ditemukan dapur, ruang tamu, ruang makan, seperti layaknya kota di atas tanah.
Ruang-ruang bawah tanah
Lorong
Sama seperti Derinkuyu, pas pertama kali masuk kesini saya merasakan hawa sangat dingin. Untung pakai sweater jadi lumayan menetralkan. Peserta trip lainnya yang sudah keburu pakai kaos, jadi pada kedinginan. Kami menyusuri lorong-lorong kota hanya sebentar saja karena pada dasarnya lorong satu dengan yang lainnya agak mirip. Kalau pun mau masuk sampai terlalu dalam nanti malah nyasar, hehehe.
Jendela-jendela
Eksplorer
Kamii lebih lama menghabiskan waktu di Derinkuyu daripada Kaymakli. Kalau mau ke Derinkuyu bisa juga dari Kaymakli tapi hati-hati nyasar. Google Maps nggak berfungsi disini, hahaha. Setelah selesai bereksplorasi Kaymakli, kami pun akhirnya balik ke mobil tur dan diantar kembali ke hotel masing-masing. Tur guide juga sudah menghubungi agen tur selat Bosphorus, sehingga urusan perbookingan di Istanbul sudah selesai. Tapi jadinya harus menambah harga hotel deh, hiks😢.

Nanti saya akan bercerita ketika jalan-jalan di Cappadocia ya sampai ke bandara menuju Istanbul. Sampai jumpa!

Beberapa foto dari kamera Fujifilm Willy Sebastian (Instagram : willyarrows).

Sumber: 
http://hellojetlag.com/kaymakli-underground-city-cappadocia/

Juli 08, 2018

Riding Hot Air Balloon

Selama di Turki, hal yang paling berkesan untuk saya adalah naik balon udara. Hal ini adalah salah satu pengalaman paling mengesankan seumur hidup saya. Dulu sewaktu ke New Zealand, naik helikopter adalah yang paling mengesankan, sama halnya dengan naik kereta cepat di Jepang, dan berlayar menyusuri Ha Long Bay. Mungkin suatu hari saya pergi ke negara lain, bisa saja ada atraksi lain yang membuat rangkaian deretan hal paling mengesankan di hidup saya jadi bertambah.

TurkeyInsider memilih Urgup Balloon sebagai penyedia jasa naik balon udara. Di Turki banyak sekali agen yang bisa kita booking secara online untuk menaiki Hot Air Balloon. Harganya pun beragam tapi rata-rata sekitar 2juta - 4jutaan tergantung berapa lama balon terbang dan kerjasama dengan agen yang mana. TurkeyInsider sendiri  menawarkan harga 170 EURO untuk menaiki balon tanpa tur. Tetapi kalau pakai tur dengan hotel sekelas Dere Suites, harga hot air balloon jadi turun ke 120 EURO. Lumayan hemat sih harga balon udaranya, tapi dengan ditambah hotel, makan, tur, totalnya jadi mahal juga sekitar 6 jutaan perorang. Saya dan keluarga jadi harus membayar 1770 EURO atau sekitar 30 jutaan untuk berlima😖. Saran saya kalau kalian punya budget terbatas, mending cari hotel lebih murah tapi membayar 170 EURO khusus naik balon udara saja. Sodara saya sempat menyewa mobil di Cappadocia sehingga dia bisa berhenti di setiap tempat wisata dan pertokoan yang dia mau. Lebih murah lagi kan?

Menaiki balon udara selalu dijadwalkan ketika matahari terbit. Selain karena kecepatan angin pada pagi hari tidak begitu kencang, pemandangan ketika sunrise adalah salah satu terbaik sejagat raya. Apalagi kita bisa menikmatinya dari atas langsung dibalik bukit-bukit pasir lunak yang tinggi dan lembah-lebah Cappadocia. Siapa yang tidak tertarik? Mungkin bisa jadi pengalaman paling mengesankan dalam hidup.

Tur menjemput kami sekitar pukul 4.30 setelah kami menunaikan shalat Shubuh. Terlalu pagi memang dan saya jadi tidak mandi dulu😋. Suhu udara diluar mencapai 6 derajat dan rasanya dingin sekali. Kami dibawa ke meeting point dimana semua orang yang akan mengendarai balon berkumpul untuk sarapan atau mau ke toilet. Saya tidak begitu mood sarapan karena masih terlalu pagi (seolah-olah makan sahur), jadi hanya mengambil beberapa potong kue dan segelas teh. Kami diberikan stiker berwarna oranye sebagai tanda grup.
Are you ready?
Balon sedang dibakar
Petugas memanggil warna stiker masing-masing grup dan sampailah pada giliran saya dan keluarga. Kami disuruh naik mobil tur bersama peserta berstiker oranye yang lain, lalu mobil melaju ke lokasi penerbangan balon. Sekitar 10 menit kemudian, mulailah pemandangan balon-balon udara sedang diisi gas dan dibakar didalamnya agar bisa terbang dan berdiri tegak. Saat itu saya merasa sangat antusias. Duh, akhirnya bisa merasakan pengalaman sekeren ini.
Mobil tur diparkir di sebelah balon
Balon sudah berdiri tegak
Kami turun dari mobil tur dan diarahkan ke tempat balon yang sudah di book untuk orang-orang berstiker oranye. Balon yang kami kendarai sudah berdiri tegak dan saatnya masing-masing penumpang balon harus masuk ke dalam keranjang. Disini yang agak sulit karena keranjang lumayan tinggi dan dalam, sehingga kita harus memanjat tiap dinding keranjang sampai akhirnya bisa masuk. Sebenarnya hal ini mudah saja untuk saya, adik, dan Willy yang bertubuh langsing apalagi kami masih muda. Bagaimana dengan Mama dan tante yang gemuk? Terpaksa adik saya naik duluan ke dalam keranjang untuk membantu mengangkat Mama dan tante. Untung saja adik saya bertubuh tinggi (180 cm) dan tegap sehingga sangat menolong dalam proses membantu Mama dan tante untuk masuk keranjang. Beberapa petugas ikut membantu mengarahkan Mama dan tante untuk memasukkan kaki ke lubang-lubang di dinding keranjang, lalu duduk di pinggir keranjang, baru dibantu turun perlahan ke dalam oleh adik. Agak takut juga Mama encok atau cedera karena lututnya sering sakit, tapi Alhamdulillah baik-baik saja. Pada saat itu kita diliatin oleh seluruh penumpang lain yang ikut deg-degan dengan proses yang sangat dramatis itu. Saya dan Willy baru naik setelah Mama dan tante masuk ke dalam keranjang.
Pilot memberikan pengarahan
Keranjang balon menurut saja jadi agak sempit dan memang sengaja tidak dibuat pintu agar keamanan penumpang terjamin. Kalau ada pintu nanti takut malah terbuka ketika diatas dan kita semua jadi panik. Saya menaruh ransel di kaki dan mengambil kamera GoPro, lalu menyetelnya agar terhubung dengan hp. Pokoknya kalau sudah diatas nanti, tinggal dipakai aja GoPronya tanpa harus menyetel ini itu lagi. Pilot balon udara kemudian naik ke tempatnya dan memberikan pengarahan singkat bagaimana kerja balon udara. Kami kemudian disuruh memperagakan landing position dengan jongkok setengah seperti nungging ketika nanti mendarat agar kalau balonnya tidak mendarat dengan baik, para penumpang tidak tersentak dan cedera.
Api membakar gas balon udara
Mulai terbang
Kami mengikuti arahan pilot dengan baik sampai akhirnya balon pun terbang dengan perlahan-lahan. Saya masih melihat kebawah dan menikmati bagaimana balon naik sedikit-demi sedikit sambil melambaikan tangan pada petugas Urgup Balloon. Saat itu rasanya senang sekali, saya akan menjelajah langit Cappadocia dengan menggunakan balon udara. Suhu udara memang sangat dingin, tapi api yang dibakar untuk menjaga balon tetap terbang lumayan menghangatkan. Angin juga sangat tenang diatas. Saya kira kami bakalan diterpa angin kencang tapi ternyata malah terasa nggak ada angin sama sekali.
Dan balon pun terbang tinggi
Pose dari dalam keranjang balon
Pilot mengatakan kalau sebentar lagi matahari akan terbit. Saya yang sedari tadi keasyikan mengambil gambar menggunakan action camera dan merekam video untuk Instagram Story jadi lebih bersiap. Momen sunrise adalah yang paling ditunggu-tunggu dalam mengendarai balon udara. Pilot mengarahkan balon ke tempat terbaik untuk mendapatkan gambar sunrise dan akhirnya saya memotret sepuas mungkin. Jangan tanya indahnya, Masya Allah~~😍😍😍. Warna jingga menghiasi seluruh langit Cappadocia saat itu subhanallah indahnya, tak bisa diucapkan dengan kata-kata.
Matahari terbit
Subhanallah indahnya
Gaya dulu di sunrise
Sambil menikmati matahari terbit, pilot mengarahkan balon ke Rose Valley, tempat kami menikmati matahari terbenam kemarin. Kali ini warnanya lebih pink daripada semalam, mungkin karena intensitas cahaya ketika matahari terbit lebih banyak sehingga warna kemerah-merahan lebih tampak. Balon terbang dengan jarak sangat dekat ke tanah diatas Rose Valley. Bahkan sepertinya kita bisa langsung mendarat disana. Pilot menyuruh kami untuk tenang karena beliau tidak akan mendaratkan kita diatas gunung😁.
Rose Valley lebih pink
Bergaya diantara lembah
Daratan tampak seolah-olah kita bisa mendarat
Apabila pilot menyalakan api, maka balon akan terbang lebih tinggi. Menurut yang saya baca, kalau angin sangat baik di pagi hari, maka balon bisa terbang sampai dengan 1 km diatas permukaan tanah. Saat itu pemandangan jadi sangat indah dan menarik karena kami berada di ketinggian yang cukup untuk melihat seluruh balon udara sejauh mata memandang. Langit jadi tampak berwarna-warni karena dihiasi balon yang berbagai warna.
Titik tertinggi melihat Cappadocia
Pose diantara balon udara
Kami melakukan penerbangan sekitar 1 jam dan sampailah pada waktu untuk mendarat. Pilot terus menurunkan balon sampai akhirnya beliau menyuruh kami untuk melakukan landing position. Supaya tidak terlalu sempit, saya berdiri di depan adik saat landing position, sehingga keranjang jadi agak lebih lapang. Dari atas saya melihat mobil tur sudah menyusul ke tempat balon mendarat, sehingga kita tidak perlu lagi untuk kembali ke tempat pertama untuk terbang. Alhamdulillah pendaratan sukses dan mulus.

Peristiwa dramatis berikutnya adalah menurunkan Mama dan tante dari keranjang😅. Saya dan Willy turun duluan, sedangkan adik membantu Mama dan tante untuk memanjat dinding keranjang, duduk di sisi keranjang, dan dibantu oleh dua orang petugas balon (berbadan cukup besar khas orang bule') agar Mama dan tante bisa turun dengan selamat tanpa encok dan sakit lutut😂😂😂. Saat itu, saya tertawa terus😂😂😂 tanpa berhenti (Willy juga😝) karena sungguh dramatis prosesnya sampai dilihat oleh semua orang. Saya sarankan untuk yang membawa orang tua agar bersiap ketika menghadapi peristiwa dramatis ketika naik balon walaupun nanti dibantu oleh petugas. Bahkan waktu itu, pilot pun seolah ingin ikut membantu. Alhamdulillah selesai dengan selamat proses pendaratan itu. Kalau diingat sekarang saya masih tertawa😁😁😁.

Sebagai perayaan, pilot membuka champagne untuk kita minum bersama. Awalnya saya nggak mau, tapi pilot bilang champagne ini tidak beralkohol dan mereka juga muslim. Saya percaya pada mereka jadinya saya ikutan minum. Kami semua cheers🍻 dan selesailah perjalanan menggunakan balon udara. Saya mendapat souvenir dan medali tanda bukti bahwa pernah ikut mengendarai balon udara.
Halal champagne
Medali
Kami akhirnya pulang ke hotel masing-masing. Tiba-tiba saya mendapatkan email bahwa hotel yang sudah saya pesan di Istanbul dibatalkan oleh booking.com secara mendadak. Padahal nanti malam kami sudah harus terbang ke kota itu. Duh, rasanya langsung pusing tapi masih mencoba santai. Mungkin setelah sarapan nanti, pikiran kami bisa lebih jernih untuk berpikir cara menanggulangi pembatalan hotel ini.

Nanti saya akan cerita kronologisnya ya. Sampai jumpa!

Beberapa foto dari kamera Iphone 8 plus, Gopro 6 Black Edition, dan kamera Fujifilm Willy Sebastian (Instagram : willyarrows)

Juli 07, 2018

Fairy Chimney & Rose Valley

Mari kita melanjutkan perjalanan mengeksplorasi Cappadocia. Mungkin ada sekitar 3 postingan lagi tentang Cappadocia yang akan saya tuliskan dan semoga kalian tidak bosan membacanya. Setelah itu, baru bisa menuliskan tentang Istanbul dan dilanjutkan dengan perjalanan ke Lombok. Banyak banget ya PRnya😓. Tapi tenang saja, saya masih bersemangat untuk menuliskannya agar bisa diingat sepanjang masa.

Seusai makan siang, destinasi selanjutnya yang akan saya dan keluarga kunjungi adalah Fairy Chimney (Fairy = peri, Chimney = cerobong asap, dan saya bingung cara menyatukan artinya), lalu kemudian dilanjutkan ke Rose Valley (lembah mawar, artinya aneh😅). Sebaiknya kalian nggak  usah menerjemahkan artinya ke bahasa Indonesia karena hasil terjemahannya kurang bagus😅. Baiklah, saya akan menceritakan satu-persatu tempat ini.

Fairy Chimney
Walaupun bernama Fairy Chimney, jangan pernah menganggap kalau jaman dahulu ada peri yang mengeluarkan debu kelap-kelip dan menyulap cerobong-cerobong asap ini. Pada kenyataannya, cerobong ini adalah hasil dari proses geologi yang dimulai jutaan tahun lalu. Letusan gunung berapi yang memuntahkan lava akhirnya membentuk Tufa (batuan keras yang terbentuk dari debu vulkanik) dan ditutupi dengan lapisan basalt.
Melompat kegirangan
Cerobong Peri
Seiring berjalannya waktu, angin dan hujan membuat erosi sehingga memahat lembah dan jurang berliku-liku sampai berlekuk dan membentuk cerobong setinggi 130 kaki. Basalt (batu hitam berstruktur lebih keras yang terbentuk dari aliran lava) terkikis lebih lambat dari Tufa, membentuk pelindung menyerupai topi peri yang runcing. Beberapa Basalt diatas bukit malah berbentuk seperti topi-topi jamur yang sangat unik. Subhanallah ya, proses yang memakan waktu jutaan tahun bisa membentuk bukit-bukit unik yang bisa kita nikmati sekarang. Kebanyang jutaan tahun kemudian?
Diantara cerobong
Mau naik unta?
Kami hanya mengeksplorasi tempat ini sekitar 30 menit untuk mengambil foto-foto saja. Beberapa pengunjung ada yang menaiki unta juga disini tapi saya tidak tau berapa harganya. Tempat ini terlalu gersang, dengan angin dingin dan cuaca sangat terik membuat langit berwarna biru terang. Pemandangan seperti ini seolah sedang berada di Timur Tengah dengan angin musim semi yang lumayan menusuk. Ketika orang-orang masih berekeplorasi, saya, Mama, dan tante malah belanja hijab di toko souvenir yang ada diseberang Fairy Chimney ini😆. Hijab dan pashmina disini lumayan bagus dan murah.

Rose Valley Sunset
Biasanya, rangkaian tur berakhir pada pukul 5 sore dan kami diantar ke hotel untuk beristirahat. Tetapi Willy sempat mengirim email kepada TurkeyInsider untuk mengatur tambahan destinasi Sunset Hike ke Rose Valley dengan membayar 10 EURO. Agak mahal sih harganya, tapi mau kapan lagi hiking ke Rose Valley.
Rose Valley
Bunga cantik
Kami dijemput sekitar jam 6.30 sore di hotel untuk kemudian menuju Rose Valley. Saya sudah antusias bakalan hiking dan sudah mengatur rencana agar Mama dan tante duduk saja di mobil atau Cafe terdekat karena nggak mungkin orang tua melakukan hiking. Pada kenyataannya, mobil tur membawa kami langsung ke puncak tertinggi Rose Valley dan menurunkan kami di deretan Cafe yang langsung menghadap ke matahari tenggelam. Tunggu, nggak jadi hiking nih?😓
Cafe tempat kami menunggu sunset
Walaupun agak kecewa karena nggak bisa hiking, paling nggak bisa duduk nongkrong sambil menikmati cemilan dan minum teh susu di pinggir lembah. Kenapa namanya Rose Valley? Ternyata lembah ini tersusun dari bebatuan berwarna kemerah-merahan yang bervariasi dalam warna dan intensitas tergantung pada waktu hari, musim dan kondisi cuaca. Walaupun menurut saya warnya agak pink bukan merah. Apa kalau cuaca bagus bisa merah banget ya warna lembah ini? Sewaktu saya mengendarai balon udara, lembah berwarna pink ini sangat terlihat cantik. Mungkin karena kami melihatnya dari atas.
Akhirnya sampai kesini
Senyumin aja
Kalian bisa berjalan dari satu lembah ke lembah lainnya karena menurut saya tidak begitu curam dan bukan jurang. Kalau pun terperosok, jatuhnya juga ke bukit-bukit lunak berpasir yang tidak akan membuat kalian luka parah. Paling lecet sedikit. Hanya saja disarankan menggunakan alas kaki yang enak supaya tidak terpeleset karena butiran-butiran pasir agak licin. Sepatu yang saya kenakan kemarin lumayan enak sih, cuma tetap agak takut kalau mau menyusuri lembah demi lembah dari atas. Seandainya hiking dari bawah, mungkin lebih berani (alesan)😆.
Under the Evil Eye Tree
Hal yang paling indah memang menikmati matahari terbenam. Saya dan keluarga sudah mengambil tempat yang bagus untuk menikmati ciptaan Allah yang sungguh sangat indah tersebut. Willy juga sampai mengeluarkan tripod dan berbagai macam peralatan penunjang kamera lainnya agar foto yang diambil jadi sempurna. Saya melihat banyak juga para pengunjung sudah duduk di tepi lembah untuk menikmati sunset tanpa takut terperosok dibawah pohon yang dihiasi mata-mata berwarna biru (sebagai jimat pembawa keberuntungan). Pemandangan sungguh sangat indah disini, Subhanallah!
Sunset
Setelah matahari menghilang, supir mobil tur mulai menyuruh kami bergegas pulang. Padahal masih ingin nongkrong sebentar lagi tapi supirnya buru-buru banget. Sampai sudah mengeluarkan mobil dari parkiran, sedangkan Willy masih beres-beres peralatan kamera terlebih dahulu. Walaupun sudah membayar 50 Euro untuk berlima tapi supirnya nggak mau rugi waktu juga😓. Setelah Willy beres, kami pun pulang.

Baiklah, nanti saya akan melanjutkan lagi ceritanya ya. Sampai jumpa! Beberapa foto dari kamera Iphone 8 plus milik saya dan kamera Fujifilm Willy Sebastian (Instagram : willyarrows)

Sumber:

Follow me

My Trip