September 16, 2017

Mencabut Gingsul

Saya memutuskan untuk menulis semua rangkaian perawatan gigi sejak memakai behel (braces). Kenapa? Jujur aja saya ingin melihat perkembangan gigi saya dari awal pakai braces dan setiap kontrol ke dokter, termasuk tindakan seperti pencabutan gigi atau apa pun yang berhubungan dengan gigi dan rahang saya. Perawatan memakai kawat gigi ini akan berlangsung lama, mungkin sampai 2 tahun. Daripada harus mengingat-ingat setiap kontrol ngapain aja, ya udah mending ditulis di blog.

Sebenarnya kontrol kali ini saya agak malas karena saatnya telah tiba untuk gingsul saya dicabut. Gingsul ini adalah favorit saya dari dulu. Kalau senyum, pasti yang keluar gingsul duluan. Kadang annoying juga karena orang bilang seperti vampire, tapi kadang lucu juga. Karena tau gingsul bakalan dicabut hari itu, saya sengaja datang telat ke dokter. Sewaktu giliran saya, masih saja saya berusaha nego, 
"Dok, kalau gingsulnya nggak usah dicabut gimana?"
"Nggak bisa karena kamu gigi di sebelah kiri udah nggak ada (gingsul sebelah kiri saya sudah dicabut sejak SMP), jadi kanan juga harus dibuang. Supaya nanti pas ditarik bisa seimbang."
"Kalau 3 minggu lagi aja gimana?" (Saya kontrol behel setiap 3 minggu sekali).
"3 minggu yang lalu kamu bilang 3 minggu lagi,"
"Minggu depan saya banyak harus difoto nih, Dok. Ya? Ya? Ya?" Muka memelas.
Dokter menggeleng. "Nanti gigi kamu naik ke atas malah semakin aneh bentuknya."
"Kalau....,-" masih mencari alasan,
"Kamu mau giginya cepat rapi nggak?"
"Mau Dok," jawab saya lirih.
"Ya sudah, kamu nurut sama saya ya." Kata Dokter sambil tersenyum.
Mungkin dia pikir, kok saya punya banyak stok alasan ya?

Dokter akhirnya mengecek kondisi behel saya. Beliau tanya pernah kesakitan nggak. Saya malah bingung karena nggak pernah sakit sama sekali. Dokter sampai bilang, "Hebat juga kamu nggak pernah sakit." Memang nggak sakit sih, makanya saya heran kalau semua teman bilang bakalan sakit banget nanti kalau pakai kawat gigi. Pada kenyataannya saya cuma merasa ada sesuatu di gigi. Mungkin kekuatan gigi untuk menggigit jadi agak berkurang, tapi bisa diakalin sih.

Dokter melepas kawat saya sementara dan saya buru-buru pengen ngaca karena mau lihat gigi tanpa kawat sambil mengetes mengunyah. Udah tiga minggu nggak bisa bebas mengunyah dan menggertakkan gigi, makanya jadi penasaran gimana rasanya. Dokter lalu mengencangkan lagi kawat gigi saya dan agak sakit. Walaupun nggak sakit-sakit banget, agak seram juga melihat dokter memasukkan alat-alat ke mulut saya. 

Sekitar 30 menit, saya selesai kontrol. Saya kemudian daftar ulang lagi untuk pencabutan gigi karena tidak dengan dokter yang sama. Sempat ditanya apakah saya udah makan dan sedang menstruasi? Kalau belum makan dan sedang mens nanti malah lemas karena pencabutan gigi akan mengeluarkan banyak darah. Duh, dengernya aja udah seram.

Nama saya dipanggil dan saya deg-degan. Dokter mengecek gigi yang mau dicabut. Saya masih bertanya, "Dok, dibius kan?" Dokter jawab, "Ya iyalah. Mana mungkin nggak." Dokter mengambil alat bius dan menyuntikkannya di gusi yang membuat saya menangis. Haduwww sakit bangetttt😣😣😣! Dokter lalu mengambil tang. Kebayang nggak "TANG", untuk gigi sih memang, tapi seram bener. Saya agak menghindar, muka saya miringin ke kiri dan dokter sampai marah, "Mukanya kesini!" Perawat masih baek sambil bilang, "Nggak apa-apa mbak." Saya merasa ngeri dan menghindar sambil buang muka lagi ke kiri. Dokter agak marah dan menggeser muka saya ke kanan, "Duh, kamu jangan ngeliat kesana. Susah saya-nya." Saya memelas dan bilang, "Takut, Dok!" Dokter bilang, "Ngapain takut? Sakit aja nggak." Sambil terus menggerogoti gigi saya.

Yang bikin takut itu sewaktu Dokter agak memaksa menarik gigi saya. Mungkin akarnya agak dalam, apalagi di sela-sela braces jadi agak susah mencabutnya. Kebayang dong bunyi-bunyian di mulut saya, TENG TUNG KRAK KREK! OMG! Sampai akhirnya gigi saya jatuh ke lidah. Huaaaaa😱😱😱! Saya merintih, dan dokter bilang, "Kok nangis sih? sambil melihat air mata saya, "Kan nggak sakit." Saya jawab, "Itu air mata tadi Dok waktu dibius."

Peristiwa pencabutan gigi pun usai. Bagian gigi yang baru dicabut disumpal dengan kain kasa kecil. Saya juga diresepi antibiotik dan penghilang nyeri. Saya keluar ruangan dan ke kasir. Saya mulai nggak nyaman dengan kasa di dalam mulut, jadi susah menutup mulut. Mana darahnya ternyata menetes terus sehingga harus saya lap dengan tisu. Saya sempat mengganti kasa di gigi, lalu pesan Grab untuk ke stasiun Pasar Minggu. Udah mencoba agar mulut bisa menutup supaya darahnya nggak netes. Di kereta belum terlalu penuh orang pulang kerja jadi masih nggak berdesakan. Sekitar 3 stasiun, saya udah nggak nyaman. Darah mulai mengalir ke bibir dan masih bisa saya lap. Stasiun demi stasiun ngelap darah, akhirnya satu tisu udah darah semua. Mau ambil tisu lain agak susah karena saya berdiri, jadi sabar-sabar sampai akhirnya tiba di Stasiun Depok Lama. Saya berlari ke toilet lalu langsung memuntahkan darah seisi mulut ke wastafel. Saya kumur-kumur perlahan-lahan untuk membuang semua darah, lalu mengelap mulut dengan tisu baru. Mbak-mbak yang berada di belakang saya agak kaget melihat saya memuntahkan darah di wastafel dan saya langsung pergi tanpa menjelaskan apa-apa.
Bye bye gingsul
Sampai di rumah, darah sudah tidak terlalu banyak. Saya jadi ngaca terus melihat keanehan di wajah tanpa gingsul😢. Alhamdulillah gusi saya nggak nyeri juga. Mungkin toleransi saya dengan sakit gigi memang tinggi kali ya, jadi nggak sakit. Luka bekas cabut gigi juga cepat sembuh. Semoga nanti beneran bisa bagus nih struktur gigi dan rahang saya untuk menuju Perfect Smile 2018 (my goal). Jangan ketawa lihat foto saya yah. Sampai jumpa di postingan berikutnya.

OMDC (Oktri Manessa Dental Clinic)  
Alamat: Jl. Warung Jati Bar. No.6, RT.4/RW.5, Kalibata, Pancoran, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12740

Kontrol Sapphire Braces Rp. 200,000
Pencabutan Gigi Rp. 249,000
Obat-obatan Rp. 20,000

September 15, 2017

Magang di Office Coffee

Kali ini saya akan menuliskan sebuah cerita pendek tentang seorang cewek yang lagi mencari pekerjaan part-time dengan dibumbui berbagai penyedap rasa sehingga ceritanya jadi lezat untuk dinikmati, hihihi. Berhubung saya nggak pintar untuk mereview Cafe yang menyajikan kopi, jadi saya jadikan cerpen aja ya. Mari disimak!

***

Ntah sudah berapa Cafe aku datangi dalam minggu ini sambil membawa surat lamaran kerja, tapi hampir semuanya tidak membuka lowongan. Aku mulai merasa kelelahan. Pagi kuliah, sore mencari pekerjaan, malam mengerjakan skripsi. Ternyata mencari kerja part time tidak semudah seperti di drama Korea yang suka aku tonton. Mungkin di Korea mudah kali ya? Tapi masa' aku harus kesana?

Sebenarnya uang jajanku dari Ayah masih cukup sampai akhir bulan. Tapi aku ingin membeli handphone keluaran terbaru yang sudah aku incar sejak 6 bulan ini. Sudah giat menabung, nggak nongkrong, nggak ke bioskop, demi hp itu. Harganya memang mahal, tapi memang design-nya elegan, fiturnya canggih, dan aku tidak mungkin minta uang lagi ke Ayah. Aku agak kaget juga mendengar harga Pre-Order handphone itu jauh melebihi perkiraanku. Jadilah aku harus cari duit tambahan, atau aku nggak bakalan bisa beli hp itu.

Karena sudah lebih dari seminggu mencari pekerjaan dan nggak dapat juga, akhirnya aku mampir ke Office Coffee. Sebuah cafe tempat temanku bekerja. Aku tau kalau Cafenya paling hits seantero anak muda, pengunjungnya ramai, sehingga mungkin saja butuh pegawai. Namanya Adit, dan kita memang teman lama. Aku bilang padanya,
"Lu tau kan dit, gw udah pengen banget hp itu. Ayo dong terima gw kerja."
"Bisa aja sih, tapi cuma ada lowongan barista. Emang lo bisa jadi barista?"
"Gw orangnya cepet belajar kok Dit."
Adit memandang aku dengan ragu. Tapi karena dia memang baek, jadi dia mau aja memberikanku kesempatan. "Ok, gw nggak yakin kalo elo bisa bikin kopi enak. Jadi gw ajarin dulu lo seharian ini. Kalo lo bisa bikin kopi yang simple aja, gw bakalan bilangin sama bos gw untuk nerima lo magang disini."
Aku terseyum sumringah, "Beneran, Dit? Hore!"
"Tapi jangan senang dulu," kata Adit lagi. "Kalau lo nggak bisa bikin kopi, gw alihin lo jadi kasir."
Aku langsung terdiam. Hmm, jadi barista lebih keren sebenarnya daripada jadi kasir. Baiklah, aku usahain dulu bikin kopi.
Belajar bikin kopi secara manual
Adit mulai mengajarkanku teknik bikin kopi seharian. Mulai dari membuat kopi secara manual, sampai pakai mesin. Aku mengikuti semua arahan Adit, lalu mencicipi kopi buatanku sendiri. Hasilnya? Ehmmm, pahit, dan nggak enak. 
Adit bilang, "Kopi itu memang pahit, tapi enak. Kok buatan lo udah pahit, nggak enak lagi?" 😂😂😂
Aku ketakutan, "Ups, maaf Dit."😯
Pakai mesin
Adit menggeleng-geleng, "Ini nggak bisa dibiarkan. Udah 5 gelas yang lo bikin, semua nggak enak. Mendingan lo jadi kasir aja deh."
"Tapi kan lebih keren jadi barista, Dit."
"Iya kalo kopinya enak. Kalo nggak enak, semua barista berubah jadi kasir kayak elo."😓😓😓
Aku ngambek.
"Ya udah kalau lo ngambek, nggak usah kerja disini. Nggak jadi beli hp baru."
Errghh😠😠😠, Adit berubah menyebalkan. "Ok, fine, gw jadi kasir."
Adit menyodorkan dua menu dan menjelaskan sedikit tentang beberapa jenis menu, lalu selanjutnya terserah aku. Duh, kok terserah sih?
Melihat buku menu
Belum satu menit berdiri di balik meja kasir, pembeli pun datang. Mbak yang satu ini malah bertanya ini itu tentang kopi dan dia mau aku memilihkan kopi yang paling enak buat dia. Karena aku agak dendam dengan Adit, aku sarankan si Mbak memilih kopi yang dibuat Adit. Si Mbak setuju dan memesan kopi Adit. Oh ya, Cafe ini juga bisa mengajarkan pembeli untuk membuat kopi. Aku bilang ke si Mbaknya untuk minta diajarin aja bikin kopi sama Adit (niat saya supaya Adit nggak berleha-leha doang), dan Mbaknya setuju untuk mencoba membuat kopi sendiri.
Membantu pelanggan memilih kopi
Dibeli Kak, dibeli kopinya
Pelanggan lain datang dan aku tetap menyarankan mereka untuk beli kopi yang Adit bikin atau sekalian minta Adit ajarin bikin kopi. Seketika Adit jadi sibuk. Tadinya dia asih berleha-leha sambil mengomentari kopi buatanku yang nggak enaklah, kurang inilah, kelebihan itulah, pokoknya rese' banget deh dia😓😓😓. Ketika hari mulai malam dan kebetulan malam minggu, banyak orang datang ke Cafe, dan semuanya aku arahkan untuk memesan kopi Adit😈. Pokoknya kopi yang lain nggak dijual, cuma kopi Adit doang, hahaha, sukurin! Adit bahkan sampai tidak sempat ngapa-ngapain lagi karena sibuk banget bikin kopi dan mengajarkan pembeli bikin kopi.
Pilih kopi Adit aja ya Kak!
Jam 12 malam, Cafe pun tutup. Adit terduduk tepar di sofa dan aku juga mulai sakit pinggang. Aku nggak menyangka kalau malam minggu Cafe ini yang datang terlalu rame, sampai waiting list segala. Mayoritas yang datang adalah anak muda dan mereka suka banget berfoto di setiap sudut ruangan. Mungkin karena interior Cafenya sangat unik dengan nuansa kayu dan tempatnya nyaman. Mana gedung Cafe ini ada 3 lantai. Untung tiap lantai ada kasir tersendiri, kalau nggak aku pun bisa ikut-ikutan tepar kayak si Adit. Yang bikin encok adalah karena jadi kasir aku nggak boleh duduk. Kaki jadi keram deh.
Interior Cafe
Well, sejak hari itu aku fixed menjadi kasir di Cafe sampai uangku cukup untuk beli hp. Tapi tenang, walaupun udah beli hp, aku tetap jadi kasir disitu, soalnya seru sih melihat orang-orang nongkrong dengan gaya masing-masing.
Adit, Aku, dan si Mbak
Lokasi:
Office Coffee
Alamat: Jl. Haryono MT No.5, Kertak Baru Ilir, Banjarmasin Tengah, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan 70231
Cast : Meutia, Adit, Baitil

Semoga cerita ini menjadi cara lain dalam mereview Cafe ini. Sampai jumpa!

September 13, 2017

Banjar Culinary and Shopping

Saya akan bercerita tentang kuliner khas Banjar yang sempat saya nikmati. Banjarmasin terkenal dengan ikan sehingga hampir setiap makan berat pasti ada ikan patin atau ikan gabus. Variasi tempat hidup ikannya juga berbeda, ada ikan yang di tambak, ada juga yang hidup bebas di sungai, yang akan mempengaruhi kelezatan dagingnya. Saya sempat memcicipi dua-duanya dan menurut saya rasanya sama saja, hihihi😄. Tergantung cara masaknya kali ya.

Baiklah, saya akan bercerita satu demi satu tentang makanan apa saja yang saya cobain. Semoga nggak ngiler yah.

1. Warung Pondok Bahari
Lokasinya berada di Jl. P. Tendean No.108, Gadang, Banjarmasin Tengah, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan 70231, Telepon: (0511) 3253688. Saya dan teman-teman mampir ke warung ini sekitar jam 9 malam dimana orang-orang rameeee banget disini. Memang sih meja yang disediakan banyak banget dan kami duduk berlesehan sehingga bisa mengakomodir banyak orang.
Daftar Menu
Daftar menu pun dibagikan. Jujur saja saya nggak tau mau makan apa disini. Saya tanya pada teman-teman yang kebetulan orang Banjar dan mereka menyarankan Ketupat Kandangan Haruan. Well, saya nggak tau itu makanan seperti apa dan saya mau aja mencoba hal baru. Ternyata Haruan itu ikan gabus. Mungkin dalam hidup saya bisa dihitung berapa kali saya makan ikan gabus saking jarangnya.
Ketupat Kandangan Haruan
Sewaktu makanan datang, saya langsung terdiam. Porsinya luar biasa besar. Duh, mana tadi baru ngemil, sekarang disuruh makan 2 bungkus ketupat (1 ketupat dibagi 2 potong) dan ikan gabus yang gedenya hampir memenuhi piring😰. Melihat porsinya aja sudah keringetan duluan, belum lagi suasana warung yang terlalu ramai dan kipas angin hanya beberapa yang menyala.

Saya mencoba menghabiskan makanan sambil mendengarkan teman-teman dokter mengobrol seru banget, sedangkan saya agak kebingungan dengan istilah-istilah yang mereka gunakan dan saya nggak ngerti sama sekali. Fokus saya jadi dua nih, mencoba menghabiskan makanan dan mencerna obrolan para dokter itu. Ikan gabusnya lembut, cuma durinya banyak. Rasa santan untuk kuah ketupat juga gurih dan enak banget. Kalian bisa menambahkan cabe untuk membuat rasa ada pedas-pedasnya. Walaupun saya nggak begitu kuat pedas, tapi saya tetap menambahkan sambal supaya meningkatkan nafsu makan untuk menghabiskan makanan sebanyak ini.

Alhamdulillah habis juga makanan saya walaupun butuh berjam-jam, tapi yang penting nggak mubazir. Warung Pondok Bahari memang buka 24 jam dan ramai terus. Yang memesan GoFood juga banyak, padahal sudah larut malam. Duh, bisa gendut makan seporsi ini malam-malam. Saya dan teman-teman baru pulang jam 12 malam (waktunya cinderella berubah). Oh ya, untuk harga makanan dan minuman saya kurang tau karena waktu itu saya ditraktir. Alhamdulillah. Memang di buku menu juga nggak ada harganya.

2. Pondok Patin Bakar
Sebelum belanja ke Pasar Intan Martapura, kami mampir ke sebuah Rumah Makan yang spesialisasi di ikan bakar yang berlokasi di Jalan Pramuka No. 1, RT. 08, Kel. Pemurus Luar, Pemurus Luar, Kec. Banjarmasin Timur, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan 70249, telepon: 0813-5303-5522. Kemarin makan ikan kuah, sekarang ikan bakar. Dari parkiran mobil aja udah tercium wanginya ikan bakar yang menggiurkan. Oh tidak, saya langsung jadi lapar berat. Rumah makan yang satu ini kita bisa pilih mau makan di meja makan, atau lesehan. Kami memilih lesehan biar lebih nyaman aja.
Daftar Menu
Saya melihat-lihat menu dan memutuskan untuk memesan ikan patin sungai. Teman saya yang lain memesan ikan patin biasa (yang diternak) dan juga ikan peda. Karena curiga bakalan gede lagi porsinya, kami memesan nasi 2 porsi saja untuk 3 orang dan benar saja datanglah nasi sebakul. Kebayang kalau dua orang menghabiskan nasi sebakul? Bertiga aja masih kebanyakan apalagi berdua.
Ikan Patin sungai
Ikan Patin Ternak
Ikan Peda
Tidak lama kemudian, makanan pun datang. Waduh, saya tergiur dengan wanginya yang menggugah selera. Saya mencicipi ikan patin sungai pesanan saya dulu, kemudian mencicipi ikan patin biasa punya teman saya. Memang dagingnya lebih lembut ikan patin sungai tapi saya lebih suka ikan patin biasa. Bisa saja sewaktu dibakar, bumbu ikan bakar lebih banyak dioleskan ke ikan patin biasa sehingga menurut saya rasa bumbunya lebih meresap ke daging ikan. Ditambah lagi kalau dimakan dengan sambal. Haduwh, enak banget deh😍. Saya juga tidak melewatkan mencicipi ikan peda. Rasanya enak juga sih, cuma ini pertama kalinya saya makan ikan peda. Apa di Jakarta nama ikannya beda kali ya?
Selamat makan
Untuk minuman, saya pesan es kelapa sirup. Sewaktu pesanan datang, saya heran melihat sirup, susu, es batu, dan segelas air dan daging kelapa dipisah-pisah. Jadilah saya harus meracik dulu dengan menambahkan susu dan sirup juga es batu secukupnya ke gelas air kelapa. Mungkin agar sesuai selera masing-masing kali ya. Oh ya, katanya sirup ini adalah sirup khas Banjar dan rasanya agak mirip dengan sirup Kurnia kesukaan saya.
Hasil racikan minuman
3. RM. Lontong Orari
Setelah lelah pulang dari Danau Pengaron, kami makan salah satu menu paling hits di Banjarmasin yaitu Lontong Orari. Lokasinya berada di Jalan Sungai Mesa, Seberang Mesjid, Banjarmasin Tengah, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan 70122, telepon: (0511) 3251491. Kali ini saya nggak mau pesan lontong lagi karena udah tau porsinya bakalan segede apa. Jadilah saya pesan nasi kuning + haruan (ikan gabus). Ternyata porsinya sama aja gede bahkan menggunung nasinya😰😰😰.
Nasi Kuning Haruan
Haduh, kali ini saya udah nggak sanggup lagi menghabiskan makanan seperti yang saya lakukan kemarin malam. Memang sih rasa haruannya enak, bawang putih di bumbunya terasa, agak pedes juga, tapi seandainya nasi ini saya bagi untuk 2 orang atau 3 orang, pasti masih cukup. Teman saya bilang, sewaktu dia tugas ke Banjarmasin, berat badannya naik 7 kilo. Porsi makan yang sebelumnya seperti saya, jadi bertambah banyak seperti porsi makan orang Banjar pada umumnya. Walaupun saya kurus, tapi saya menjaga badan juga supaya nggak gendut-gendut amat. Untung di Banjar cuma 4 hari 3 malam dan berat badan nggak naek, hihihi. Mungkin karena capek.
Lontong Haruan
Teman saya memesan lontong dan kalian bisa lihat betapa banyak porsinya. Saya sekuat tenaga mencoba menghabiskan porsi saya. Sisa seperempat piring lagi dan saya udah ngos-ngosan untuk makan. Bahkan sampai besok pagi-pagi ke Lok Baintan pun saya masih kenyang.

4. Warung Soto Bang Amat
Salah satu tempat makan populer yang menyediakan Soto Banjar sebagai menu utama adalah Warung Soto Bang Amat yang berlokasi di Jalan Banua Anyar No. 6, Benua Anyar, Banjarmasin Timur, Benua Anyar, Kec. Banjarmasin Tim., Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan 70121, Telepon: 0811-5116-164. Udah beberapa hari di Banjar dan belum mencicipi soto Banjar rasanya belum sah, makanya di hari terakhir perjalanan saya ke Banjarmasin, saya berhasil mencicipi soto Banjar.
Soto Banjar porsi setengah
Sebenarnya saya nggak begitu suka soto, tapi saya suka mencicipi hal baru. Saya kira soto untuk sarapan itu porsinya seperti bubur ayam di Jakarta atau Bandung. Karena saya menaruh curiga pada porsi makanan, akhirnya saya pesan setengah porsi saja dan tadaaaaa porsinya seperti saya makan siang. Yang mengherankan adalah teman saya pesan satu porsi ditambah ayam kampung dan telur. Ya Allah, kok kuat yah dia makannnya?😱
Sate mantap
Mau dibakar lagi
Oh iya, ada menu yang populer juga di warung makan ini yaitu sate ayam. Karena saya pakai braces, agak susah memang makan sate karena takut behelnya copot. Jadi saya hanya mencoba satu tusuk saja, itupun harus dipisahin daging dari tusuknya supaya bisa gampang saya kunyah. Rasanya enak, tapi seperti rasa enak sate biasanya. Sate disini laris banget, lihat saja sekali dibakar berapa puluh tusuk.
Sate datang
Sarapan pagi itu
Pulang dari Warung Bang Amat saya kekenyangan banget. Sampai-sampai menunda waktu makan siang karena memang perut penuh banget. Karena porsi makan yang tidak seperti biasa, saya sampai sakit perut sebelum boarding pesawat. Bahkan sampai di pesawat pun jadi mules-mules😫😫😫.

Setelah selesai membahas tentang makanan, kali ini saya akan membahas tempat berbelanja.

1. Pasar Intan Martapura
Pasar ini adalah tempat belanja paling beken di Banjar dan terkenal ke seluruh Indonesia bahkan dunia yang jaraknya 1 jam perjalanan dengan mobil. Lumayan jauh sih, saya sampai ketiduran di mobil dalam perjalanan kesini. Karena saya pergi sehari setelah Idul Adha, masih banyak pedagang yang belum berjualan. Tapi kata teman saya, kebanyakan para pedagang menjual barang yang sama, jadi nggak usah khawatir karena pasti tetap bisa mendapatkan barang yang bagus.
Tugu Pasar Intan Martapura
Barang dagangan
Untuk pecinta aksesoris seperti gelang, kalung, anting, bros, tempat ini adalah surganya. Dulu ketika di Kamboja, saya sempat membeli banyak batu permata tapi ternyata banyak yang palsu. Mana mahal pulak. Disini mereka langsung bilang jenis batunya dan semua harganya murah. Saya beli gelang cuma dengan harga Rp. 10,000 - Rp. 15,000 saja. Jadilah ngeborong banyak banget.
Gelang paling ngehits
Saya sempat bingung membedakan intan dan berlian. Ternyata intan adalah bahan mentah (raw material) sebuah berlian. Batu intan harus digosok-gosok dulu baru deh jadi berlian. Martapura memiliki banyak pengrajin intan dan yang paling terkenal adalah intan hitam yang nantinya diubah menjadi black diamond (berlian hitam). Dulu teringat kakak kelas saya pernah memesan berlian hitam di Martapura untuk diikat di cincin sebagai mas kawin. Wah, pasti bagus banget yah. Jadi ide bisnis yang menarik!
Batu mentah
Martapura juga memiliki banyak batu permata yang nantinya berubah menjadi sapphire, ruby, jade, dan berbagai macam lainnya. Jadi menyesal dulu beli di Kamboja, sedangkan negara sendiri penghasil batu-batu terbaiki di dunia. Duh, jadi pengen berbisnis perhiasan. Insya Allah suatu hari nanti. Mungkin dengan mengunjungi Kalimantan Selatan, Allah ingin membuka pikiran bisnis saya yang lain. Insya Allah.

Selain batu permata, saya juga beli magnet kulkas dan kain sarung khas Banjar. Sebenarnya ada kerajinan manik-manik yang subhanallah cantiknya, tapi saya bingung mau dipakai kemana. Harganya juga lumayan mahal.

2. Oleh-Oleh Khas Banjar
Seperti yang dilakukan wisatawan domestik pada umumnya, kita pasti mampir di pusat oleh-oleh. Saya kurang tau juga sih cemilan atau makanan kering apa yang khas dari Banjar. Yang tertarik saya bawa pulang adalah teh Gunung Satria. Mungkin karena saya pecinta teh dan menurut saya teh yang satu ini rasanya unik dan enak banget, jadi saya beli beberapa kotak. Selain itu saya beli kerupuk ikan khas Banjar yang sebenarnya agak sulit saya makan karena gigi pakai braces.
Toko oleh-oleh
Walaupun demikian, saya tetep beli kerupuk beberapa bungkus buat cemilan orang kantor pas weekly meeting. Saya juga beli kuku macan, oleh-oleh khas Samarinda walaupun saya sedang berada di Banjarmasin. Dari dulu saya suka banget kuku macan. Oh iya, kuku macan itu nama kerupuk (nggak usah ngebayangin kuku macan beneran yah😂😂).

Ok, sampai jumpa di postingan berikutnya.

September 11, 2017

Floating Market Lok Baintan

Kota Banjarmasin sekarang sedang hits di media sosial. Ntah kenapa, momen saya kesana pas banget dengan promosi dinas pariwisata yang mengirim beberapa beberapa youtuber, selebgram, dan blogger untuk mempromosikan kota ini. Walaupun saya tidak ikut dalam rangkaian acara dinas pariwisata, tapi kebetulan saya juga sedang mengunjungi kota ini dalam perjalanan mengkhatamkan Indonesia. Sampai sejauh ini baru 14 provinsi yang saya datangi. Masih sisa 20 lagi lho dan ini bukan perkara mudah. Insya Allah suatu hari bisa benar-benar selesai mengunjungi seluruh wilayah Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Amin!

Baiklah, saya akan cerita sedikit tentang Pasar Terapung yang paling original di Indonesia. Kenapa saya bilang original? Karena tiruannya ada dimana-mana, salah satunya di Lembang, Bandung. Bahkan nama tempat wisatanya memang Lembang Floating Market dan saya pernah membahasnya di blog. Nah, yang original berada di Banjarmasin dan pernah masuk ke iklan RCTI, dimana ibu-ibu memberikan jempol 'oke'. Alhamdulillah saya bisa memiliki kesempatan untuk mengunjungi Pasar Terapung Lok Baintan atau Pasar Terapung Sungai Martapura yang merupakan sebuah pasar terapung tradisional yang berlokasi di desa Sungai Pinang (Lok Baintan), kecamatan Sungai Tabuk, Banjar.
Matahari terbit
Kalau kalian ingin mengunjungi tempat ini, maka kalian harus bangun pagi. Karena semalam saya baru aja nongkrong sampai jam 11 malam, rasanya bangun sebelum shalat shubuh untuk berkemas itu sulit sekali. Alarm berbunyi pukul 4.45 WITA. Saya sikat gigi, cuci muka, malas mandi😆😆😆, dandan, sambil menunggu adzan Shubuh. Selesai adzan, shalat, lalu langsung keluar kamar hotel karena supir sudah menunggu. Pagi-pagi buta kami sudah meluncur di jalanan kota Banjarmasin, sambil menjemput beberapa teman dokter di Rumah Sakit. Setelah teman-teman lengkap, kami menuju dermaga yang berada di Warung Soto Bang Amat. Pagi di Banjarmasin dingin banget dan saya lupa bawa jaket.

Kami masih menunggu 2 teman lagi yang mau ikutan. Oh ya, kita menyewa perahu Klotok seharga Rp. 400,000 untuk diantarkan ke Lok Baintan pergi dan pulang. Perjalanannya lumayan lama. Beberapa teman yang pakai jaket duduk diatas atap kapal, sedangkan saya duduk di dalam kapal sekalian tiduran. Kalau pun riak sungai agak tinggi, saya merasa aman karena sambil tiduran. Yang menyeramkan adalah teman-teman yang duduk diatas karena terlalu terasa goyangan perahunya. Mungkin sekitar sejam perjalanan, kami tiba di desa Sungai Pinang. Saya takjub melihat banyak sekali sampan yang berjualan disini, berserakan berwarna-warni, memenuhi sungai.
Sampan
Duduk cantik ikut berjualan
Dibeli, dibeli, dibeli!
Aktivitas perdagangan dimulai pukul 06.00 pagi sampai dengan pukul 09.30 WITA. Pedagangnya didominasi perempuan dengan memakai tutup kepala (tanggui). Satu-persatu dari mereka mendekati perahu kami dan menawarkan barang jualan. Harganya murahhh banget. Pisang cuma Rp. 5,000. Jeruk satu keranjang Rp. 20,000, dan berbagai macam barang yang semuanya murahhh banget😱😱😱. Saya jadi teringat Pasar Terapung Lembang yang harganya mahal setengah mati😠. Memang sih Banjarmasin jauh, tapi kalau kalian ada rezeki, mending langsung berkunjung kemari untuk meningkatkan taraf ekonomi masyarakat dengan membeli barang yang mereka jual. Kebanyakan dari mereka adalah petani yang menjual hasil kebun, dan nelayan yang baru saja menangkap ikan. Saya sempat beli ikan asin, taruh di ransel, yang membuat seisi ransel bau ikan asin. Kamera, dompet, powerbank, dan lainnya, semua bau ikan asin😅😅😅.
Pose
Ikut yuk!
Saya sempat mencoba naik sampan, mengikuti seorang ibu berjualan hasil kebun. Jujur aja saya agak takut karena sampannya kurus banget. Sempat mau berdiri tapi goyangannya jadi kenceng banget sampai si ibu itu bilang, "Jangan berdiri dulu!" Mungkin beliau takut sampan terbalik dan semua dagangannya jatuh ke sungai. Maaf bu, saya nggak ngerti. Saya kira kalau mau berdiri, tinggal berdiri aja kayak biasa. Ternyata sampan harus tenang dulu baru bisa berdiri. Kalian juga nggak boleh berbalik dengan bertumpu pada satu kaki karena sampan bisa terbalik juga. Kalau mau berbalik arah, lakukan sambil duduk, baru berdiri lagi. Susah juga dan jadi agak takut. Saya sempat tersiram air dari perahu Klotok milik pedagang lain. Untung aja cuma basah sedikit.
Pedagang jeruk
Dibeli, dibeli pisanya.
Sarapan dulu
Sarapan dengan pemandangan seperti ini
Saya kembali ke Klotok dan bergabung kembali dengan teman-teman saya. Mereka lagi asyik sarapan jajanan apa saja yang ditawarkan oleh pedagang. Harganya juga sepiring cuma Rp. 5,000 dan kami jadi beli banyak makanan. Menikmati sarapan di pagi hari dengan pemandangan warna-warni pasar terapung sangatlah indah. Apalagi, sungainya bersih banget dan nggak ada sampai yang terapung-apung. Sungguh, kalian harus datang kesini untuk menikmati suasananya.
Jajaran rumah penduduk
Setelah puas belanja dan sarapan, kami pun kembali ke Warung Bang Amat lagi. Sepanjang jalan, saya sempat melihat orang mandi dan mencuci baju masih menggunakan air sungai. Bahkan ada yang santai aja sikat gigi dengan air sungai dimana yang sebelahnya lagi mencuci😲😲😲. OMG! Daripada melihat pemandangan itu dan berpikir aneh-aneh, saya tidur lagi aja deh, hihihi. 

Sampai jumpa di postingan berikutnya tentang kuliner dan belanja-belanji😘!

September 09, 2017

Danau Pengaron

Sebelum melanjutkan menulis tentang pengalaman saya selama berada di Kalimantan Selatan, saya mau bercerita sedikit tentang dunia blog. Selama dua hari ini, karena saya sedang tidak enak badan, saya hanya di rumah seharian dan memang nggak kemana-mana. Mau nonton tv males, beres-beres rumah males, pokoknya males ngapa-ngapain. Yang nggak boleh males adalah ngecekin kerjaan dan itu pun cuma ngecek sedikit aja, trus tutup laptop, masuk selimut lagi, sambil buka browser di hp.

Akhirnya saya membuka blog dan mulai blogwalking (istilah membaca blog orang). Ntah kenapa, hampir semua blogger yang pernah saya simpan link-nya dulu, sudah jarang sekali update blog. Padahal dulu mereka bisa update tiap hari. Ada aja yang diceritain. Sebenarnya saya mulai malas menulis. Selain karena waktu banyak tersita untuk bekerja, kehidupan sehari-hari, dan jalan-jalan, kadang saya juga sudah hampir nggak punya inspirasi. Tapi saya tetap memaksakan diri untuk menulis. Menulis itu memberikan informasi untuk orang-orang. Pada dasarnya, kalau kita butuh informasi, kita pasti akan googling dan disitulah kita bakalan menemukan banyak blog orang yang menyediakan informasi dari pengalaman mereka. Sampai sekarang saya masih butuh membaca blog untuk mencari informasi. Terima kasih untuk orang-orang yang selalu menulis blog dan memberikan informasi bermanfaat. Semoga Allah SWT membalas.

Saya akan melanjutkan cerita tentang perjalanan menuju sebuah danau buatan yang merupakan bekas galian tambang. Sempat browsing mencari tempat wisata di Kalimantan Selatan, dan beberapa orang merekomendasikan 'Danau Biru'. Yang membingungkan adalah, ada beberapa Danau Biru di Kalsel seperti Danau Binuang, Danau Pengaron, dan dua-duanya jauh banget dari kota Banjarmasin.

Kami mulai perjalanan dari Martapura, salah satu kota Intan terbaik di Indonesia (nanti saya bahas), yang jaraknya sekitar 1 jam dari Banjarmasin tanpa macet. Selama perjalanan ke Martapura aja saya udah ketiduran di mobil karena perjalanan yang menurut saya jauh banget. Dari Martapura ke Danau Biru, kami mengikuti GPS. Patokan saya di Gmaps adalah Danau Biru Binuang, sedangkan teman-teman saya menunjuk Danau Biru Pengaron. Memang lebih jauh Danau Binuang karena bersilisih sekitar 30 menit dari Danau Pengaron.

Di tengah perjalanan mengikuti Gmaps, kami malah nyasar ke tanah kosong tandus dan hampir nggak ada orang disana. Kami mencoba memberhentikan pengendara sepeda motor dan bertanya dimana Danau Pengaron. Bapak itu bilang patokannya adalah Mesjid Pengaron dan dari situ udah tinggal belok kanan. Baiklah, kami berusaha mencari mesjid dan ternyata kami salah belok di mesjid pertama. Kami masuk ke jalan agak kecil, lalu mulai masuk ke desa, dan jalanan semakin sepi. Duh, mana kami semua bukan orang Banjar, jadi agak merasa takut nyasar. Walaupun ketika nyasar, malah menemukan jalan dengan pohon-pohon karet di sisi kiri kanan jalan dengan daun yang berguguran. Serasa sedang musim gugur.
Pohon-pohon karet
Jalan sepi itu membawa kami ke desa Bumirata. Sempat bertanya pada orang lokal dan mereka bilang kalau kami salah jalan. Masih bersikukuh mengikuti Gmaps dan akhirnya masuk ntah ke kampung mana lagi. Di kampung itu jalan sangat kecil, nggak bisa memutar balik mobil, dan orang-orang semua pada melihat ke arah kami ketika kami bertanya jalan dengan tatapan penasaran. Saya jadi seram. Teman saya sempat menelepon teman-temannya yang pernah ke Danau Pengaron, tapi tetap aja kami nggak tau nama jalan atau nama daerah yang dia sebutkan. Akhirnya kami memundurkan mobil sampai ke jalan besar, lalu bertanya pada bapak-bapak yang sedang duduk santai di depan rumah. Bapak itu bilang, sudah 2 orang yang bertanya kemana arah danau Pengaron karena nyasar.

Kami mengikuti arah dari Bapak tadi, kalau ketemu tanda warna kuning dan jembatan disebelah kanan, maka kami belok kiri. Kami terus menyusuri jalan dan melihat tanda kuning dan jembatan persis sama dengan kata si Bapak. GPS apa kabar? Wallahu 'alam. Udah error daritadi GMapsnya. Kami masuk ke jalan super tandus, jalanan sangat menanjak, dan sepi. Hampir tidak ada orang yang melintas. Saya mulai merasa seram lagi. Akhirnya bertemu dengan Bapak yang mengendarai motor bersama anak-anaknya. Kami bertanya pada bapak itu dan sang bapak lalu mengantar kami sampai ke pertigaan. 

Di pertigaan, kami bertanya lagi pada seorang pria (mungkin mandornya kuli tambang). Beliau langsung masuk ke mobilnya dan mengikuti mobil kami. Awalnya saya bingung, dia kok malah masuk mobil? Sempat merasa seram juga, tapi ternyata beliau mau mengantar kami sampai di danau. Duh, saya udah takut duluan, tapi ternyata orangnya baik. Mungkin karena sepi dan udah sore. Apalagi daerah galian tambang begini agak seram jalannya karena tanjakannya curam banget. Mana nggak diaspal dan berbatu😫😫😫. Untung masih dilindungi Allah SWT.
Sampai juga akhirnya
Setelah perjalanan menyeramkan dan panjang, Alhamdulillah sampai juga di danau biru. Kami harus menuruni bukit berbatu dan agak repot karena saya menggunakan sepatu fancy, bukan kets. Teman saya malah pakai wedges, lebih susah lagi mau turun. Ntah berapa kali hampir terperosok, mana jalan di pinggir danau sangat berbatu dan saya kesulitan untuk menapak di batu-batu besar karena alas kaki saya yang nggak nyaman. Duh, baru kali ini merasa lelah banget dalam mendaki bukit kapur😩😩😩. Walaupun pada akhirnya bertemu dengan pemandangan yang subhanallah indah.
Danau super biru
Kata orang lokal, danau ini sebenarnya airnya sangat tinggi dan kita bisa langsung lihat dari jalan masuk tadi. Karena jarang hujan, airnya jadi surut dan kita terpaksa pergi ke tempat yang sulit banget dijangkau untuk menikmati keindahan Danau Pengaron. Danau ini terbentuk dari hasil galian tambang dan air hujan terjebak disini. Hasil pantulan langit membuat air berwarna sangat biru nan indah, makanya harus kesini kalau cuaca cerah.
Berpose sambil gemetaran
Untuk berfoto di tempat-tempat bagus, kalian memang harus punya nyali tinggi. Jujur aja saya orangnya lumayan penakut, jadi kalau mau berfoto di tebing pinggir danau, kaki saya udah gemetaran duluan. Selain karena nggak ada pembatas, kalau jatuh ya kalian langsung kecemplung ke danau. Serem banget! Mana tebingnya tinggi banget dan sepatu yang saya pakai membuat saya kesulitan memanjat bebatuan. Lengkaplah sudah. Mau duduk berpose aja takut, trus disuruh mengambil foto untuk teman saya juga yang membuat saya harus berdiri di pinggir tebing, OMG!😱😱😱

Sebelum matahari tenggelam, saya dan teman-teman memutuskan untuk langsung pulang. Agak takut karena di daerah tambang mana ada penerangan. Kami nyasar lagi sewaktu pulang dan ntah lewat mana, malah langsung ke jalan besar. Kok cepet banget? Tau gini tadi lewat sini biar bisa langsung sampai ke Jalan Ahmad Yani (nama jalan protokol). Fyi, jalan Ahmad Yani ini panjang banget. Mungkin seperti jalan lintas Sumatera Medan - Banda Aceh yang melalui beberapa kota. Alhamdulillah bisa sampai di jalan ini sebelum magrib, sehingga kami bisa pulang ke Banjarmasin dengan aman.

Nanti saya cerita lagi ya. Sampai jumpa! 

September 08, 2017

Menikmati Kota Banjarmasin

Bangun tidur setelah sekitar 1 jam lebih tidur lagi seusai shalat Ied. Saya kemudian menyalakan laptop sebentar, ngecek ini dan itu, lalu tutup laptop lagi. Saya menghubungi Adit, pemilik blog Adittya Regas untuk ketemuan. Kebetulan, rumah Adit lumayan dekat dari hotel. Setelah Adit datang, saya baru sadar kalau hari itu Jumat (melihat Adit pakaiannya udah rapi karena mau shalat Jumat), sehingga jalanan sepi banget. Nggak ada taksi lalu lalang dan nggak ada tempat makan buka juga. Duh, gimana mau makan siang nih?

Setelah mengobrol sebentar dengan Adit, saya mencoba memesan Gojek. Alhamdulillah ada yang mau mengantarkan saya dan Baitil ke Duta Mall. Berhubung nggak tau mau kemana dan ngapain, hari pertama ya nge-Mall dulu. Paling nggak di Mall bisa makan siang. Sesampai di Mall juga agak bingung karena sepi banget. Mungkin baru 20% toko yang buka. Ya udah deh, saya ke foodcourt aja untuk mencari makanan apa pun dan duduk sambil mengobrol.

Mungkin setelah dua jam kemudian, barulah Mall ini seolah-olah hidup. Banyak orang datang dan toko satu-persatu mulai buka. Saya sekalian belanja juga karena ada beberapa barang yang menarik. Sekalian beli baju karena harganya murah dan modelnya unik. Setelah puas berbelanja dan berkeliling mengitari Mall, saya pulang ke hotel untuk istirahat dan mandi sore (harus banget mandi biar tetep kece😎😎😎). Saya mencoba memesan Grab Car untuk pulang ke hotel dan alhamdulillah nggak usah menunggu lama, mobilnya langsung datang.

Selesai mandi, saya memesan Grab Car lagi untuk menuju jembatan sungai Barito. Katanya sih jembatan ini adalah tempat terbaik untuk mengambil gambar matahari terbenam (sunset). Nah, perjalanan kesana yang lumayan jauh. Mungkin jaraknya seperti dari Grand Indonesia Jakarta ke Bogor dengan menggunakan mobil tanpa macet. Saya sempat ketiduran (lagi) sampai akhirnya kami tiba di tempat tujuan. Pas banget sewaktu mau Magrib dan supir Grabnya tau jalan ke bawah jembatan untuk mengambil foto yang paling bagus.
Sunset
Happy Eid Adh
Setelah puas mengambil gambar dengan berbagai pose, kami pun pulang. Hari juga semakin gelap dan penerangan seperti lampu jalan sangat minim disini. Sengaja minta supir Grab untuk menunggu kami karena daerah ini belum tentu ada taksi online. Mana masih suasana lebaran lagi, pasti supir taksi masih pada libur. Di tengah perjalanan, supirnya minta ijin untuk shalat Magrib. Tumben banget karena selama di Jakarta saya hampir nggak ada supir yang ijin shalat. Kami mampir di mesjid yang bagus banget seperti istana, yang berdiri sendiri di jalanan sepi, tapi banyak sekali orang shalat berjamaah kesitu.
Mesjid indah
Kami melanjutkan perjalanan menuju Taman Maskot Bakantan yang merupakan pusat kota Banjarmasin. Sebenarnya saya udah lumayan lapar, tapi karena masih mau menunggu beberapa orang teman lagi untuk makan di Pondok Bahari, akhirnya agak mengosongkan perut karena kabarnya porsi makanan di tempat itu sangat besar (saya ceritakan di postingan terpisah untuk kuliner Banjarmasin). Untuk menahan lapar, saya beli cemilan bakso colok di pinggir jalan. Rasanya enak dan gurih, tapi karena pakai braces, saya agak susah menggigitnya. Jadilah cuma makan 1 buah saja daripada behel lepas nanti. Oh ya, di jam-jam tertentu, patung Bakantan ini bisa menyemprotkan air seperti Merlion di Singapura.
Bakantan
Si Baitil beli semua bakso colok😆😆
Saya juga sempat menikmati makanan ringan sambil duduk lesehan dipinggir sungai. Malam itu Taman Maskot Bakantan rame banget sehingga penjual makanan pada laku keras. Banyak juga orang mengendarai perahu menyusuri sungai. Baitil sempat mengajak saya naik perahu, tapi saya agak malas ikutan. Habisnya malam-malam begini, mau ngeliat apa di pinggir sungai?
Menikmati sungai
Akhirnya saya hanya menghabiskan cemilan dan menonton anak-anak bertanding basket saja, sampai dijemput sama teman-teman yang baru selesai jaga (mereka SEMUANYA dokter). Jalan-jalan saya kali ini memang ditemani para dokter yang hampir semuanya sedang mengambil spesialis. Kalau saya sakit di Banjar, gampanglah berobatnya karena semua teman disini adalah dokter. Tapi, saya mending sehat sih, hehehe.

Baiklah, besok saya ceritakan tempat wisata yang wajib dikunjungi ketika ke Banjarmasin dalam satu postingan. Sampai jumpa!

Categories

adventure (295) Living (247) Restaurant (149) Cafe (141) Hang Out (135) Jawa Barat (100) Bandung (92) Story (84) Movie (73) Lifestyle (66) Jakarta (64) Aceh (53) Event (48) Islam (38) Hotel (37) China (31) Jawa Tengah (27) New Zealand (23) Japan (20) Hong Kong (19) Book (18) Science (18) South Korea (18) Malaysia (17) Consultant (16) Technology (16) Warung Tenda (16) Family (15) Jawa Timur (15) Kuala Lumpur (14) Semarang (14) Vietnam (14) Saudi Arabia (13) Philippines (12) Beach (11) Blackberry (11) Brunei Darussalam (11) Dokter (11) Macau (11) Crush (10) Lomba (10) Birthday (9) Boracay Island (9) Kalimantan Timur (9) Kepulauan Derawan (9) Singapore (9) Bali (8) CEO (8) Myanmar (8) Sabang (8) Shenzhen (8) Tokyo (8) Cambodia (7) Jeju Island (7) Malang (7) Medina (7) Osaka (7) Seoul (7) Wedding (7) Banjarmasin (6) Kalimantan Selatan (6) Karimun Jawa (6) Laos (6) Luang Prabang (6) Makassar (6) Surabaya (6) Auckland (5) Bangkok (5) Bogor (5) Dieng (5) Hanoi (5) Manila (5) Pulau Derawan (5) Sukabumi (5) Thailand (5) The Partij (5) Yogyakarta (5) Busan (4) Depok (4) Farming & Gardening (4) Mecca (4) Pekalongan (4) Queenstown (4) Siem Reap (4) Yangon (4) giveaway (4) Aceh Barat (3) Australia (3) Baby (3) Da Lat (3) Entrepreneur (3) Ho Chi Minh (3) Kalibo Island (3) Kalimantan Utara (3) Kepulauan Seribu (3) Kobe (3) Kyoto (3) Penang (3) Rotorua (3) Te Anau (3) 2PM (2) Aceh Jaya (2) BBLive (2) Bago (2) Blackberry Live Rockin Concert (2) Christchurch (2) Etude House (2) Fox Glacier & Franz Josef (2) Gold Coast (2) Ha Long Bay (2) Hakone (2) Home Made (2) Jeddah (2) Matamata (2) Medan (2) Nami Island (2) OMDC (2) Probolinggo (2) Pulau Kakaban (2) Pulau Maratua (2) Pulau Sangalaki (2) Shontelle (2) Suede (2) Taio Cruz (2) Tarakan (2) The Face Shop (2) Wellington (2) Banda Aceh (1) Berau (1) Cilegon (1) Cimahi (1) Cirebon (1) Festival BLOG 2010 (1) Kyaiktiyo Pagoda (1) Nagan Raya (1) Nihn Bihn (1) Pulau Gusung (1) Pulau Madura (1) Skin & Body Care (1) Solo (1) Takengon (1) Taupo (1) Vampire Diaries (1)