September 16, 2018

Palembang Culinary

Sepertinya ini adalah postingan yang paling saya sukai😋karena isinya makanan semua. Hampir semua makanan khas Palembang saya suka dan saya makan banyak banget selama disana. Ntah berapa puluh pempek yang sudah saya makan selama 3 hari😆. Tapi Palembang bukan hanya Pempek saja. Ada tekwan, Mie Celor, Martabak, dan lainnya yang akan saya tuliskan di postingan ini. Siap-siap ngiler ya🍴.

1. Angkringan Bandrek 555
Suatu malam sepulang dari jembatan Ampera, saya diajak Yayan mampir ke sebuah angkringan di Jl. Pangeran SW Subeki No. 38, 26 Ilir, Bukit Kecil, Kota Palembang.  Saya kira seperti angkringan di jalan-jalan dimana kita duduk berlesehan tapi ternyata tetap duduk di kursi. Disini kalian bisa menikmati segala macam cemilan seperti pempek, sate lilit, adaan, kue-kue seperti risol, dan sebagainya sambil minum bandrek. Harga percemilan sekitar Rp. 3000 - Rp. 5000 saja dan saya bisa mengambil beberapa buah pempek berbagai bentuk ditemani secangkir bandrek.
Selamat makan
Adaan dalam mangkok bakso mini
Bandrek
Malam itu saya dan Yayan mengobrol tentang India (kebetulan kita pernah kesana dan dia bahkan sudah pergi dua kali) sambil terus mengunyah. Semakin seru pembahasan tentang India, maka semakin banyak cemilan yang masuk ke mulut😄. Kata Yayan, ada sebuah jalan di Palembang yang isinya pedagang pempek semua dengan harga dimulai dari Rp. 1000. Sayang, kemarin saya tidak sempat mampir kesana karena padatnya jadwal dan singkatnya waktu. Insya Allah lain kali ya.

2. Martabak HAR Simpang Sekip
Saya baru tau kalau Martabak HAR adalah kuliner asli Palembang. Lokasi tempat ini berada di Jl. Jenderal Sudirman No. 1078, Palembang. HAR sendiri merupakan singkatan dari Haji Abdul Rozak, seorang saudagar keturunan India yang membuka Rumah Makan khususnya Martabak sejak tanggal 7-7-1947. Beliau meninggal tahun 2001 yang lalu dan 8 anak keturunannya telah mengembangkan cabang-cabang martabak HAR di sudut-sudut kota Palembang
Martabak Telur Ayam
Martabak Telur Bebek
Saya memesan Martabak Telur Bebek seharga Rp. 20,000 dan Martabak Telur Ayam Rp. 18,000. Saya sengaja ingin membandingkan kedua rasa martabak ini yang mana yang paling enak. Menurut saya, telur bebek lebih gurih dan lebih cepat kenyang. Mungkin karena strukturnya lebih padat. Sedangkan telur ayam lebih ringan di makan. Seharusnya Martabak Telur Bebek bisa dinikmati oleh 2 orang dan kebayang saya makan sendiri. Rasanya saya kenyang sepanjang malam😐. Tapi Martabak ini enak banget. Kok beda ya dengan yang di Jakarta? 😁

3. Rumah Pindang dan Kopi Musi
Saya agak jarang makan pindang apalagi ikan patin. Terakhir makan ikan gede ini di Banjarmasin setahun yang lalu dan baru makan lagi ketika berkunjung ke Palembang. Kata teman saya, Pindang adalah salah satu jenis makanan khas Palembang dengan kuah pedas berbumbu. Oh ya, lokasi rumah makan ini berada di Jl. Rajawali No.491, 9 Ilir, Ilir Tim. II, Palembang. Harga seporsi pindang ikan Patin Rp. 35,000 belum termasuk nasi.
Pindang Ikan Patin
Sewaktu Pindang ikan Patin dihidangkan, kelihatannya sangat menggiurkan. Ntah karena udah agak telat makan siang, jadi lapar berat ditambah menu yang disajikan sangat menggugah selera. Kuah pindangnya segar dan pedasnya pas banget. Apalagi ditambah cabe rawit, OMG! Rasa ikan sangat enak dan nggak banyak duri. Ikan patin memang disajikan dengan potongan sangat besar, jadi saya bisa dengan puas menikmatinya. Duh enak banget deh pokoknya.
Pose dulu (Suci, saya, Lia)
Buat kalian yang suka kopi, mungkin bisa mencicipi Kopi Musi. Saya nggak suka kopi, jadi nggak mencobanya. Daripada salah direview, hihihi.

4. Pempek Flamboyant
Rumah Makan Pempek yang satu ini punya 3 cabang dan saya makan di Jl. Radial samping Hotel Grand Duta. Kata Suci, Mamanya suka banget dengan pempek disini dan saya percaya aja karena Suci dan keluarganya sudah berteman dengan keluarga saya sejak saya belum lahir. Saya percaya apa yang dibilang Mama Suci enak, pasti enak😋😋😋.
Tampak depan
Saya memesan Pempek kapal selam dan ketika makanan datang, potongannya sangat menggiurkan😋. Duh, saya masih kebayang bentuk dan rasanya. Ditambah cuko yang kental dan super duper lezat. Suci juga memesan pempek kecil berbagai varian yang saya cicipi satu per satu. Memang rasanya enak banget deh. Disini kita bisa memesan pempek untuk dibawa pulang ke Jakarta atau dikirimkan langsung pakai JNE YES. Sayangnya karena longweekend, petugas JNE-nya sedang nggak ke rumah makan sehingga saya nggak bisa kirim. Jadilah saya memesan 46 pempek kecil seharga Rp. 150,000 dan saya ambil keesokan harinya untuk dibawa langsung ke Jakarta.
Pempek Kapal Selam super enyakkk
Pempek berbagai macam bentuk dan rasa
Buat yang suka kue srikaya dan es kacang merah bisa juga dipesan disini. Kemarin saya sudah pesan es-nya tapi tidak kunjung dibikin. Bahkan pelayannya lupa kalau saya memesan es kacang merah karena saya memesannya sebagai menu tambahan. Karena kelamaan, jadi saya membatalkan pesanannya. Memang sih pengunjung rumah makan ini ramai sekali tapi seharusnya pelayanannya ditingkatkan agar pembeli tidak menunggu terlalu lama😒.
Kue Srikaya

5. Mie Celor Asli 26 Ilir H. M. Syafei. Z
Nama Rumah Makannya panjang bener ya. Lokasinya berada di Jl. Merdeka no. 54, Palembang. Saya juga baru tau kalau Mie Celor adalah kuliner khas Palembang karena dulu sering makan di Yogyakarta. Mie yang satu ini sering dimakan untuk sarapan pagi dan porsinya lumayan besar. Saya sarapan Mie Celor sebelum ke Stadion Jakabaring, untuk mengisi tenaga supaya ketika nonton pertandingan olah raga jadi lebih bersemangat.
Tampak depan
Rasa Mie Celor ini mirip dengan Mie Koba Bangka. Bedanya, kuah Mie Celor lebih kental karena dimasak dengan santan. Saya bisa menyantap Mie ini dengan cepat saking enak rasanya dan gurih. Apalagi ditambah segelas teh panas menambah nikmat sarapan di pagi itu. Harga seporsi Mie Celor Rp. 15,000 dan cukup mengenyangkan untuk porsi sarapan pagi.
Mie Celor dan teh manis panas

6. Pempek Nony 168
Sebelum ke bandara, saya mampir ke Rumah Makan pempek yang terkenal karena ada satu lagi makanan khas Palembang yang belum saya cicipi yaitu tekwan (campuran daging ikan dan tepung tapioka yang direbus dengan mie soun, jamur, dan disajikan dengan timun). Teringat dulu tante tetangga saya di Lhokseumawe jago memasak tekwan yang super duper enak dan saya jadi ingin mencicipinya di kota asalnya.
Tampak dalam rumah makan
Menu
Rumah makan yang satu ini unik banget karena penyangga meja makannya adalah sepeda ontel. Kalian bisa menikmati tekwan seharga Rp. 20,000 dan pempek mulai dari Rp. 4000 disini dan rasanya jangan diragukan lagi enaknya. Duh, benar-benar seperti rasa tekwan yang saya rindukan. Teman saya menyarankan untuk mencampurkan cuko pempek ke kuah tekwan agar rasanya lebih nikmat. Benar saja, jadi ada rasa sedikit pedas yang menggugah selera.
Tekwan mantap
Saya sempat mencicipi pempek yang berisi pepaya di rumah makan ini. Lumayan unik rasanya karena campuran rasa segar pepaya dan gurih pempek jadi satu, ditambah pedasnya cuko. Agak sulit mengungkapkan rasa pempeknya dengan tulisan, jadi kalian harus merasakannya sendiri ya😆. 
Pempek isi pepaya
Baiklah, sudah 6 tempat makan saya tuliskan. Sebenarnya saya sempat nongkrong di Cafe keren yang menyajikan makanan ala Eropa. Hanya saja saya tidak menuliskannya karena sudah banyak Cafe seperti itu di Jakarta atau Bandung. Kalau jalan-jalan ke daerah memang paling enak mencicipi makanan lokal yang khas, daripada ke Cafe atau Resto mahal dan mewah.

Baiklah, postingan selanjutnya saya akan membahas penuh tentang Asian Games🎉🎉🎉. Sebelum menulis aja udah antusias duluan nih. Sampai jumpa!

September 15, 2018

Tempat Wisata di Palembang

Ngapain aja di Palembang? Yang pasti adalah jalan-jalan ke tempat wisata yang terkenal di kota pempek ini. Alhamdulillah punya banyak teman di Palembang sehingga saya kemana-mana nggak sendirian. Ditambah lagi mereka dengan senang hati menjemput saya di hotel, menemani jalan-jalan, traktir makan, dan diantar pulang. Memang menyambung silaturahmi menambah rejeki. Makasih banget ya untuk kebaikan kalian. Semoga Allah SWT membalas semua kebaikan kalian. Amin😇

Baiklah, postingan kali ini akan menceritakan beberapa objek wisata yang saya kunjungi ketika berada di Palembang. Mari disimak:

1. Jembatan Ampera
Salah satu tempat yang paling iconic di Palembang adalah jembatan Ampera yang mempunyai panjang lebih dari 1000 meter, dengan lebar 22 meter (4 lajur kendaraan), dan ketinggian mencapai 63 meter. Dulu, jembatan Ampera pernah tercatat sebagai jembatan terpanjang di Asia Tenggara. Ide pembangunan jembatan Ampera sebenarnya sudah ada sejak zaman pemerintahan kolonial belanda di tahun 1906, dengan tujuan utama untuk menghubungkan dua daerah di Palembang yang terpisah oleh sungai Musi, yaitu seberang ilir dengan seberang ulu. Namun ide tersebut baru terealisasi pada tahun 1957 dan dinamakan Jembatan Bung Karno pada awalnya.
Jembatan Ampera
Persoalan politik di tanah air kemudian mengubah nama jembatan Bung Karno menjadi jembatan Ampera. Ampera merupakan singkatan dari Amanat Penderitaan Rakyat dan merupakan slogan yang kerap dipakai oleh Presiden Sukarno untuk merepresentasi perjuangannya memimpin negara mencapai kesejahteraan dan kemakmuran bersama. Di awal pembangunannya, jembatan ini sengaja dirancang agar bagian tengah jembatan dapat diangkat sehingga kapal-kapal besar bisa melintas sungai Musi tanpa tersangkut badan jembatan. Pengangkatan badan jembatan dilakukan dengan cara mekanis, yaitu dengan menggunakan dua bandul pemberat yang terdapat di kedua menara dimana masing-masing bandul mempunyai bobot sekitar 500 ton. Kecepatan membuka jembatan sekitar 10 meter per menit, dan dibutuhkan waktu sekitar 30 menit untuk membuka jembatan secara penuh.

Kini jembatan Ampera sudah tidak bisa dibuka kembali bagian tengahnya. Selain sudah tidak dilintasi perahu besar, waktu yang lama untuk membuka jembatan akan mengganggu arus lalu lintas yang ada di atasnya. Saat fungsi terbuka jembatan tidak digunakan lagi, maka bandul seberat 500 ton yang ada di kedua menara jembatan sudah diturunkan demi pertimbangan keamanan. 
Yayan, Suci, dan saya
Menurut saya, waktu yang tepat untuk berkunjung ke Jembatan Ampera adalah di malam hari. Selain karena lampu-lampu jembatan sangat cantik dan berwarna-warni, kalian bisa jajan dan menikmati aneka cemilan khas Palembang di sepanjang sungai. Kalau malas makan di pinggiran, banyak juga resto seperti KFC, J.CO, dan lainnya yang bisa kita jadi tempat nongkrong kita. Hanya saja karena longweekend, resto-resto ini penuhnya minta ampun dan AC jadi nggak terasa. Belum lagi harus antri berfoto di spot bagus.
Di atas jembatan
Saya diajak Yayan, pemilik blog Omnduut untuk naik keatas jembatan. Awalnya saya kira naik keatas itu beneran naik ke atas menara pakai lift atau tangga. Ternyata hanya naik ke atas jalan karena resto-resto tempat saya nongkrong itu berada di bawah. Tangganya agak tinggi tapi nggak melelahkan kok naiknya. Jembatan Ampera juga baru di cat ulang untuk menyambut acara Asian Games 2018, jadi warnanya masih merah menyala. Sayang tangga-tangga jembatan kotor banget. Memang sih kata Yayan kalau pagi udah bersih lagi karena dibersihkan petugas kebersihan, tapi kalau kotor begitu agak mengganggu pemandangan.

2. Bayt Al Quran Raksasa
Destinasi berikutnya yang paling terkenal di Palembang adalah Museum Al-Quran Raksasa yang berlokasi di Pondok Pesantren Al-Ihsaniyah, Jalan M Amin Fauzi, Soak Bujang, RT 03, RW 01, Gandus, Palembang. Tempat ini sering banget masuk instagram sehingga saya jadi ingin juga berfoto disana. Saya bersama Suci (teman SD) memarkir mobil di RS. Siloam, lalu berangkat ke Gandus pakai Grab. Katanya Suci, jarak Museum Al-Quran dari pusat kota Palembang lumayan jauh, jadi mending pakai Grab saja supaya nggak capek 'nyetir, apalagi Suci sedang hamil.

Ternyata perjalanan dari RS. Siloam ke Bayt Al-Qur'an hanya memakan waktu 30 menit. Mungkin orang daerah menganggap perjalanan 30 menit dengan kondisi jalan sepi adalah perjalanan yang jauh. Padahal baru ngobrol sebentar, eh udah sampai😅. Karena Museum sedang direnovasi, jadi kami masuk dari pintu samping. Kami membayar tiket masuk Rp. 5,000 perorang, baru bisa naik tangga menuju ruangan utama dimana Al-Qur'an raksasa bertinta emas dipahat di permukaan kayu Trembesi (kayu khas Palembang) yang berukuran panjang 177 cm, lebar 140 cm, dan ketebalan 2,5 cm. Saya terpukau dengan keindahan warna tinta emas dan Al-Qur'an yang bersusun sampai ke atap museum
Al-Qur'an raksasa
Al Qur’an raksasa ini dibuat oleh Ki Agus Syofwatillah Mohzaib pada tanggal 10 Ramadhan 1422 H atau pada tahun 2002 setelah beliau merampungkan pemasangan kaligrafi dan ornamen di pintu Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang. Di suatu malam saat Ramadhan, beliau berpikir untuk membuat Mushaf Al-Qur’an dengan ornamen dan ukiran khas Palembang dan menjadi mushaf yang terbesar di dunia. Tepat pada 1 Muharam 1423 (15 Maret 2002), satu lembar ukiran yang telah dibuat yaitu Surah Al-Fatihah dipamerkan pada acara peringatan Tahun Baru Islam. 
Lembar-lebar Al-Qur'an
Pada akhir tahun 2011, Al-Quran ini dinilai layak untuk dipublikasikan sebagai bacaan (awalnya hanya sebagai pajangan kaligrafi indah), sehingga pada tanggal 30 Januari 2012, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bersama seluruh Delegasi Konferensi Parlemen Organisasi Konferensi Islam (OKI) meresmikan penggunaan Al-Quran yang disebut sebagai Al-Quran terbesar yang dicetak di atas lembaran kayu. Butuh waktu sekitar 7 tahun untuk mengukir 630 halaman Al-Qur'an dan menghabiskan biaya sekitar lebih dari 2 Milyar untuk merampungkan projek Al-Qur'an raksasa ini.

Awalnya saya mengira tempat Al-Qur'an ini dipamerkan sangat luas (mungkin karena mendengar kata Museum yang identik dengan ruangan yang besar), tapi ternyata hanya sebuah ruangan tinggi menjulang. Al-Qur'an sendiri berlanta-lantai, tetapi hanya bisa mengakses lantai satu saja karena masih tahap renovasi. Lembaran-lembaran Al-Qur'an di lantai-lantai lainnya yang tidak bisa diakses jadi berdebu dan bersarang laba-laba. Seharusnya tetap diperhatikan pemeliharaannya agar tidak berdampak pada kualitas kayu. Semoga setelah renovasi, museum ini bisa menjadi lebih baik lagi.

3. Kampung Arab Al-Munawwar
Pagi terakhir di Palembang sebelum balik ke Jakarta, Yayan mengajak saya ke suatu tempat yang katanya sangat unik dan saya (bisa jadi) belum pernah dengar. Berhubung saya hanya seorang pendatang, jadi saya ikut saja kemana Yayan bawa saya pergi. Kami bahkan melewati banyak kuburan (TPU Naga Siwidak) dan katanya ada pasar yang terkenal disini yaitu Pasar Pocong karena para pedagangnya berjualan di sisi kuburan persis👻👻👻. Hmm seram juga sih, tapi sebenarnya sangat menarik. Apa pernah ada pocong yang pergi berbelanja? 😩😩

Saya dibawa Yayan ke Kampung Arab Al-Munawwar 13 Ulu Palembang. Nama kampung sendiri diambil dari tokoh sesepuh yaitu Habib Hasan Abdurrahman Al-Munawwar. Jujur saja saya belum pernah sama sekali mendengar kampung ini, bahkan dari teman-teman atau saudara yang tinggal di kota Palembang pun nggak pernah menceritakan kampung dimana kita bisa melihat bangunan-bangunan rumah tempo dulu yang sudah berusia lebih dari 200 tahun. Dulunya kampung ini didatangi oleh seorang tokoh sepuh keturunan Arab yang membawa ajaran agama Islam ke kampung Arab ini. 
Pemandangan kampung
Begitu sampai di lokasi kampung, kami membayar tiket masuk seharga Rp. 10,000 perorang. Pemandangan rumah-rumah kayu dengan jendela dan pintu tinggi yang unik menyambut saya dan Yayan. Menurut saya, bentuk rumah panggung seperti ini mirip di Aceh, apa karena Aceh merupakan daerah yang pertama kali dikunjungi pedagang dari Arab juga kali ya? Ada juga bentuk pintu dan jendela seperti di rumah Betawi tempo dulu.  
Jendela tinggi
Ada nanas imut
Saya dan Yayan berjalan menyusuri kampung sampai ke pinggir sungai. Kami berfoto di beberapa rumah yang bentuknya unik atau di cat warna-warna pastel. Hari itu Palembang sangat terik dan saya lupa bawa kacamata hitam. Jadilah agak kesulitan menikmati pemandangan karena silau. Dari jauh tampak beberapa perahu di pinggir sungai. Tapi karena airnya surut, jadi terlihat banyak sampah disini. Semoga bisa segera dibersihkan agar pemandangan jadi lebih indah.
Duduk di rumah panggung
4. Taman Wisata Alam Puntikayu
Sebelum ke bandara, beberapa teman di Palembang mengajak saya jalan-jalan dulu karena masih ada cukup waktu. Kali ini saya diajak ke taman hutan pinus yang bernama Puntikayu. Lokasinya berada di Jl. Kol. H. Burlian Km.6,5 Karya Baru Sukarame. Kata teman saya disini banyak monyet, sehingga saya tidak berani memakai kacamata dan menaruh hp di saku supaya nggak diambil monyet. Tiket masuk kendaraan Rp. 10,000 dan tiket pengunjung Rp. 5,000.
Tiket masuk
Tempat ini sangat hijau dan asri dimana pohon pinus menjulang tinggi. Sebenarnya Puntikayu berfokus pada Family Gathering dimana kalian bisa melihat banyak keluarga yang sedang piknik, dan juga untuk outbond. Saya memperhatikan banyak anak-anak remaja sedang melakukan flying fox, menaiki jembatan tali dua atau jembatan gantung, dan sebagainya. Saya malah nggak melihat monyet sama sekali disini. Mungkin karena orang-orang terlalu ramai, jadi para monyet bersembunyi.
Hutan Pinus
Karena ingin melihat monyet saya masuk ke satu zona khusus binatang dengan membayar tiket lagi sebesar Rp. 10,000. Ketika masuk, saya agak kecewa melihat binatang yang kurus-kurus dan terlihat kurang terurus. Bahkan kucing anggora/persia juga dipamerkan disini. Agak aneh kucing dijadikan tontonan. Biasanya kan kucing di rumah. Jadi teringat Taman Safari dimana hewan disana gemuk-gemuk dan sehat. Kami hanya menghabiskan waktu sekitar 30 menit disini, lalu kembali menuju bandara.
Gelang sebagai tiket masuk
Baiklah, saya hanya membahas 4 tempat wisata saja. Postingan selanjutnya saya mau menuliskan tentang Asian Games atau kuliner di Palembang. Tergantung mana yang saya mood tulis duluan😁, hahaha. Menulis begini harus menunggu mood bagus agar hasil tulisan jadi bagus pula. Sampai jumpa!

September 13, 2018

Welcome to Palembang

Sempat dapat voucher cashback Rp. 400,000 dari kartu kredit HSBC Indonesia yang harus dipakai dalam bulan Agustus dan saya agak bingung mau diapain. Lagi nggak pengen beli apa-apa juga. Biasanya saya suka belanja kerudung di Hijup, atau baju di Zalora, tapi sekarang lagi belum pengen lagi. Awalnya mau dibelanjain aja di Marketplaces seperti Tokopedia, Shopee, atau Lazada, beli apa pun deh. Tapi tetap aja nggak tau mau beli apaan.

Karena tanggal 17 Agustus 2018 kemarin adalah tanggal merah dan kebetulan jadi longweekend, sepertinya cashback ini memang paling bagus digunakan untuk jalan-jalan. Semula agak bingung juga mau kemana ya karena kalo dipakai untuk tiket pesawat Rp. 400,000 nilainya lumayan kecil dan saya sedang agak berhemat. Kebetulan Agustus sedang tinggi banget euphoria kita di acara Asian Games 2018 Jakarta - Palembang, maka akhirnya saya memutuskan untuk pergi ke Palembang saja. Mumpung belum pernah juga ke kota itu dan saya lagi pengen makan pempek😋.

Ternyata memutuskan ke Palembang dalam rangka longweekend ditambah event Asian Games 2018 agak salah deh. Pertama, semua hotel mahalnya minta ampun. Bahkan yang bintang 2 saja harganya Rp. 1,300,000. Gile ya, seandainya bintang 5 sih saya mau aja book karena lebih worth, bahkan Airy Rooms juga harga permalamnya lebih dari sejuta. Jangan ditanya berapa harga hotel bintang 5, udah seperti Ayana Resort di Pulau Komodo. Mungkin semua hotel di Palembang memanfaatkan momen perhelatan olah raga akbar se-Asia, makanya dimahalin deh semuanya. Untungnya saya punya voucher agoda dan bisa dipakai di Reddoorz (sejenis budget hotel juga seperti Airy Rooms), sehingga saya mendapatkan kamar di Reddoorz Lemabang yang kebetulan dekat dengan rumah Suci teman saya, seharga Rp. 450,000 untuk dua malam.

Sebelum berangkat ke Palembang, saya tidur jam 7:15 malam (setelah shalat Isya) supaya nggak kecapekan karena mengejar pesawat pagi. Jam 3 dini hari harus jalan ke bandara karena jadwal penerbangan pesawat Batik Air pukul 6.20. Kalian tau, terminal 2 bandara Soekarno Hatta udah seperti pasar saking ramainya orang yang hendak berpergian. Saya jadi takut nggak keburu shalat Shubuh karena antrian check in masih panjang dan petugas di konter hanya sedikit. 

Sekitar pukul 5:15 pagi selesai juga check in. Saya kemudian berlari ke Mushalla untuk shalat Shubuh karena sudah hampir mendekati waktu Syuruq (matahari terbit dan waktu shalat Shubuh berakhir). Agak kaget juga melihat antrian pengecekan barang bawaan kabin yang mengular naga panjangnya. Untung waktu saya boarding masih 40 menit lagi. Bandara saat itu menyediakan Mushalla dadakan di tengah area pertokoaan tapi berwudhu-nya itu nggak enak banget karena harus di wastafel toilet. Jadilah becek banget toilet bandara😖😖. Saya udah nggak peduli lagi, yang penting wudhu, shalat, lalu mengantri pengecekan barang kabin.

Alhamdulillah semua berjalan lancar sampai saya boarding, kecuali masalah perut. Kebetulan udah 3 hari saya nggak enak perut sehingga berdampak di pesawat. Kebayang kalau harus ke toilet pesawat untuk pup kan nggak enak banget. Akhirnya saya berusaha untuk tidur supaya menahan rasa sakit perut. Udah tertidur sejam, seharusnya saya udah sampai Palembang, tapi kenyataannya masih di bandara Soekarno Hatta. Pesawat mengantri terbang sampai sejam lebih dan ini sangat menyebalkan😤. Perut semakin sakit, mulai keringat dingin, dan saya masih harus menunggu sejam lagi untuk tiba di Palembang. Cuma bisa istighfar, semoga selamat sampai tujuan.
Bandara Palembang
Sesampai di bandara Sultan Mahmud Badaruddin, saya buru-buru turun dari pesawat karena perut sangat sakit. Suasana Asian Games mulai terasa banget di bandara ini dengan berbagai spanduk, poster, dan pajangan mascot. Duh, saya jadi antusias sendiri untuk menonton Asian Games. Saya ke toilet, lalu dandan sejenak (karena mau ke rumah saudara masa' masih dengan wajah baru bangun tidur), baru kemudian mengambil bagasi. Disini saya mulai panik karena koper saya nggak ada😨. Saya tanya ke petugas, mereka juga nggak tau dan menyuruh saya bertanya sama petugas lainnya. Udah bolak-balik tanya petugas sana-sini sampai akhirnya ketemu koper saya di Lost and Found. Alhamdulillah ketemu juga. Kata petugas, sudah kelamaan di trail koper (sewaktu saya ke toilet tadi), makanya dimasukkan ke ruangan itu.

Selesai mengambil koper, saya bertanya lagi pada petugas bandara dimana stasiun LRT. Petugas bertanya, "Mbak atlit ya?" Awalnya petugas mengira saya atlit dan menunjukkan jalan ke LRT. Saya bilang bukan atlit dan petugas bilang kalau LRT ditutup untuk umum dari tanggal 17-19 Agustus 2018. Haduwh, sengaja mau nyobain LRT di Palembang, eh malah tutup pulak😩. Tau 'gitu ngaku atlit aja biar dibawa ke wisma atlit😝. Akhirnya saya pergi ke tempat menyetop taksi bandara. Kata saudara saya sih nggak ada taksi sejenis bluebird, jadilah saya naik aja taksi selain bluebird. Baru masuk ke taksi berwarna putih itu, eh bluebird datang dan ternyata memang ada pangkalan resmi taksi bluebird di bandara. Duh, kok saya agak apes ya hari ini😓.

Saya naik taksi ke rumah saudara dengan jarak tempuh 30 menit mengendarai mobil. Kalau untuk orang Jakarta sih, 30 menit adalah waktu yang singkat. Berbeda dengan orang Palembang bilang kalau 30 menit itu lama dan jauh. Sepanjang perjalanan, supir taksinya bercerita macam-macam tentang Palembang. Katanya Palembang nggak aman-lah, banyak begal-lah, cewek harus hati-hati jalan sendiri, dan saya jadi was-was. Seharusnya supir menceritakan hal-hal indah di Palembang untuk pendatang, ini kenapa malah nakut-nakutin?

Sesampai di rumah saudara (tarif taksi Rp. 110,000), saya turun, lalu disambut Zella, tante, dan om. Tante bilang, kenapa nggak tidur di rumah tante aja? Duh tante, seandainya saya tau dari awal boleh menginap disini sih, udah nggak usah pusing mikirin hotel yang harganya selangit. Sebenarnya tante ini teman orang tua saya di Aceh dulu, tapi beliau orang Palembang. Saking dekatnya sudah seperti keluarga sendiri. Saya mengobrol dengan mereka seraya bernostalgia jaman masih tinggal di Lhokseumawe. Saya juga bertanya pada tante apakah Palembang aman? Mengingat percakapan dengan supir taksi yang tadi. Alhamdulillah kata tante kota Palembang ini super duper aman. Jadi kalian nggak usah khawatir kalau mau jalan-jalan kesini ya. 

Kami mengobrol sampai waktu makan siang tiba. Akhirnya bisa mencicipi masakan buatan Zella lagi setelah sekian lama dan yang pasti makan pempek asli Palembang😆. Tante udah jarang bikin pempek karena katanya di Palembang ikannya mahal. Berbeda dengan di Lhokseumawe dimana ikan murah dan segar banget. Saya menyantap banyak sekali pempek yang dibeli sama tante. Mungkin karena Palembang memang surganya makanan yang satu ini, jadi kalian tidak perlu bersusah payah untuk mencari pempek yang enak. Bahkan yang harganya Rp. 1000/buah pun enak. Wajar kalau tante nggak mau bikin pempek lagi karena tinggal beli aja atau pesan pakai Gojek.
Pempek😍😍😍
Mari makannnn🍴
Setelah kenyang, saya berpamitan kembali ke hotel. Saya memesan Grab lalu duduk manis di mobil sambil melihat Google Maps. Sesampai di Reddoorz Lemabang, saya melihat banyak polisi. Jadi agak was-was. Kenapa nih? Saya ditanya kontingen dari mana dan mau ngapain? (Disangkain atlit lagi). Saya jawab, saya bukan atlit, saya mau liburan, dan nonton Asian Games. Masing-masing polisi bertanya macam-macam dan saya jadi bingung jawabnya. Intinya ya Pak, saya mau liburan. 

Setelah itu para polisi itu pergi. Saya tanya ke resepsionis hotel kenapa banyak polisi dan dia jawab, "Lagi razia orang asing. Takut ada teroris." 
"Emang wajah saya mirip teroris?" tanya saya.
"Enggak Mbak, tapi disini banyak orang asing."
"Sekarang ada?"
Resepsionis jawab, "Nggak ada mba, sekarang lagi banyak selingkuhan."
Saya kaget, "Hah, kamu tau darimana mereka itu selingkuhan?"
Resepsionisnya senyum-senyum sambil memberikan kunci kamar ke saya. Kok saya jadi nggak nyaman.

Saya masuk kamar yang lebih mirip kosan. Perabotannya tampak tua tapi bersih. Hanya saja lantainya berdebu. Karena ngantuk, saya nggak memanggil resepsionis lagi untuk bersihin lantai. Paling nanti aja kalau saya udah bangun. Jujur aja saya kayaknya lebih suka Airy daripada Reddoorz. Airy terkesan lebih bersih dan nggak begitu horor hotelnya😨, hahaha. Apalagi dengan resepsionis yang terlalu terang-terangan.

Ok deh, postingan ini udah kepanjangan. Nanti kita sambung lagi ya. Sampai jumpa!

September 09, 2018

Bye Lombok

Keluar pintu masuk air terjun Sindang Gile dan Tiu Kelep, kami kembali ke parkiran mobil. Awalnya saya bilang ke tur guide mau ganti baju atau mandi dulu karena udah basah kuyup. Tur guide bilang, mereka bakalan bawa kita ke sebuah tempat paling enak dan nyaman untuk makan dan berfoto. Tapi 'gimana nih naik mobil sambil basah-basah begini? Dan mereka bilang nggak apa-apa. Ya udah, saya dan teman-teman pun masuk ke dalam mobil.

Saya kira kami akan melakukan perjalanan yang lama dengan mengendarai mobil. Ternyata hanya 2 menit saja, eh sudah sampai ke Rinjani Lodge, sebuah resort indah dan mewah di kaki gunung Rinjani. Wow, saya takjub dengan pemandangan yang disajikan di sekitar kolam renang. Apalagi, air kolam renangnya hangat. Saya masuk ke kolam sekedar untuk menikmati suasana hijau pegunungan yang sedikit berkabut. Enak nih buat melamun karena pemandangannya memang Masya Allah indahnya😍. Sewaktu kami hendak berenang, pelayan hotel bilang kalau masuk ke kolam renang harus buka baju dan saya langsung heran. Hah, 'gimana mau buka baju😅? Pelayan langsung meralat perkataannya, "Enggak mbak, cuma buat cowok." Hahaha saya ngakak sendiri. Ah, seandainya resort ini dekat dengan bandara, mungkin saya mau bermalam disini.
Santai
Setelah puas bermain air (nggak bisa lama-lama juga karena kita harus menuju bandara), saya memesan makanan terlebih dahulu baru ganti baju. Sebenarnya kalau mau mandi bisa juga sih, tapi saya agak malas mandi kalau buru-buru. Pengennya sekalian keramas pakai air panas dan agak lama mandinya. Takutnya kalau saya mandi, teman-teman malah telat nanti ke bandara. Belum lagi harus hairdryer rambut. Teman-teman cowok sih pada mandi karena mereka kan gampang ya.

Selesai ganti baju, makanan pun siap dihidangkan. Kalian bisa menikmati steak, chicken cordonbleu, pokoknya makanan ala Barat disini dengan rasa yang enak banget (ntah karena udah kelaperan) dan harga yang masih lumayan murah. Kami nggak bisa buru-buru makan karena sudah jam 4:15 sore, sedangkan jadwal keberangkatan pesawat Rezki pukul 7:45 malam. Kata tur guide, dari Rinjani ke bandara tanpa macet memakan waktu sekitar 3 jam dan saya langsung was-was, mending berangkat sekarang deh. Terlalu mepet ntar, walaupun kita udah web check in.

Benar saja, sudah 2 jam perjalanan dan belum terlihat tanda-tanda akan mencapai kota. Saya jadi agak panik, 'gimana kalau ntar bensin nggak cukup, atau pesawat udah boarding, dan bermacam kepanikan lainnya. Mana rambut masih basah dan jadi kedinginan sendiri terkena AC mobil dan membuat tambah was-was. Saya lebih memilih diam, agar seisi mobil nggak ikutan panik, sambil melihat GMap terus-menerus. Berharap jarak diperpendek oleh Allah. Dan kalian tau, kami tiba di bandara pukul 7:30 dan saya suruh Rezki berlari masuk. Alhamdulillah dia keburu juga naik pesawat dan menjadi penumpang paling terakhir. Huff!!!

Saya dan teman-teman lainnya mulai santai. Abby juga terbang ke Semarang malam itu, tapi jadwal keberangkatannya pukul 9. Setelah Abby masuk bandara untuk check in, saya dan Diana diantar ke hotel yang berjarak hanya 5 menit dari bandara. Kami mengucapkan selamat tinggal pada tur guide dan berterima kasih pada pelayanannya yang memuaskan. 

Saya dan Diana kemudian check in Grand Royal B.I.L hotel (harganya murah dan fasilitasnya bagus), lalu masuk kamar dan akhirnya saya bisa mandi dengan puas. Setelah itu saya mulai mentransfer foto-foto dan video dari kamera GoPro sambil beristirahat. Tampaknya hari ini capek sekali deh. Saya tidur jam 10 malam, lalu bangun jam 5 untuk shalat Shubuh, lalu tidur lagi sampai jam 8. Saya mandi, sarapan, lalu minta diantar ke Bandara. Semua hotel yang berada dekat bandara memang menyediakan fasilitas antar ke bandara gratis, jadi memudahkan kita sebagai wisatawan.

Liburan kita ke di Pulau Lombok sudah usai. Kalau mengingat saat-saat liburan sangat bahagia agak berbanding terbalik dengan kondisi Lombok pasca gempa bumi yang menyedihkan sekali😢😢😢. Resort di Gili Trawangan juga pada hancur, kota sudah amburadul, ahhh jadi sedih. Walaupun saya sudah merasakan gempa yang lebih dahsyat lagi, tapi dimana-mana bencana alam tidak ada yang bisa diremehkan. Saya tau banget rasanya jadi pengungsi dengan keterbatasan makanan, air bersih, dan obat-obatan. Semoga Lombok cepat pulih, sehingga saya bisa liburan lagi kesana.

Buat kalian yang ingin meringankan penderitaan saudara-saudara kita di Lombok, bisa menyumbang bantuan dana melalui Kitabisa.com. Tinggal search aja Lombok, nanti keluar semua link untuk menyumbang. Saya sering menyumbang di situs sini dan sudah terjamin aman kok. Akhir kata, cuma bisa berdoa saja. Semoga Allah SWT meringankan kesedihan, mempercepat pemulihan kota, memberikan kesabaran, dan memasukkan ke dalam surga untuk para korban yang sudah meninggal. Stay safe and stay strong!

September 07, 2018

Tiu Kelep and Sendang Gile Waterfalls

Tiba di dermaga Bangsal, Pulau Lombok, saya dan teman-teman turun dari kapal fery, kemudian berjalan ke parkiran untuk menunggu jemputan. Destinasi hari ini adalah eksplorasi kawasan sekitar kaki Gunung Rinjani dimana pemandangannya sangat indah. Maka dari itu sejak tadi pagi selesai mandi, saya memang sudah memakai pakaian yang enak untuk eksplorasi, sehingga ketika jemputan datang kami nggak perlu ganti baju lagi karena hari ini kami bakalan basah-basahan mandi air terjun. Udah lama nggak main di air terjun, sehingga rasanya antusias banget😆. Sempat bertanya pada tur guide air terjun paling bagus di Lombok apa, dan mereka menjawab Tiu Kelep. Jadi nggak sabaran nih!

Perjalanan dari pelabuhan Bangsal ke Tiu Kelep memakan waktu 1 jam 30 menit dan saya memilih tidur di jalan untuk menghemat tenaga. Sesampai di parkiran, saya bangun. Saya melihat sekeliling di penuhi oleh warung-warung makanan. Kami jadinya makan siang dulu untuk mengisi tenaga. Kebetulan udah jam 12 juga dan masuk waktu shalat Zuhur. Makan kali ini lumayan murah karena cuma di warung nasi dan saya hanya membayar 9000 rupiah untuk menu ikan tongkol balado dan sayur bayam. Setelah makan dan shalat, kami mengambil barang-barang yang diperlukan seperti dry bag dan kamera GoPro untuk dibawa ke air terjun. Saran saya, kalian lebih baik bawa kacamata renang kalau ke air terjun karena air yang begitu deras membuat mata kita susah melihat.

Kami berjalan dari parkiran ke gapura masuk menuju Air Terjun Sendang Gile dan Tiu Kelep. Kedua air terjun ini  terletak di sisi sebelah Utara di kaki Gunung Rinjani yang juga merupakan bagian dari jalur pendakian ke Rinjani. Secara administratif, Air Terjun Sendang Gile dan Tiu Kelep berada di Desa Senaru, sekitar 2,5 jam perjalanan dari Kota Mataram. Mengingat jaraknya yang cukup jauh, disarankan untuk menggunakan kendaran pribadi untuk mengunjungi wisata air terjun yang menakjubkan ini atau bisa ikut trip di Rancupid Travel. Kali ini memang ada dua air terjun disini yang akan kita eksplorasi. Seperti tempat wisata air terjun kebanyakan, kalian harus trekking di jalan setapak atau melewati tangga terlebih dahulu dengan pemandangan hijau pepohonan rindang, udara segar, dan suara gemericik air dari aliran sungai yang mengalir sangat menenangkan pikiran. Jalan yang harus dilewati pun kadang menaik, kadang menurun, dan lumayan membuat napas ngos-ngosan. 

Setelah setengah jam ngos-ngosan (keliatan banget saya jarang olah raga) untuk melewati 200 anak tangga, kami tiba di air terjun pertama yaitu Sendang Gile. Nama Sendang Gile diambil dari legenda setempat yang menceritakan seorang pangeran yang sedang dikejar oleh seekor singa gila. Kemudian pangeran tersebut bersembunyi di balik air terjun untuk menghindari kejaran singa. Akhirnya air terjun tersebut diberi nama Sendang Gile (Singa Gila). Ada juga legenda yang mengatakan kalau air terjun ini tempat para bidadari mandi. Saya takjub melihat air terjun mengalir dari tebing setinggi 30 meter yang bertingkat-tingkat dengan sangat deras. Bahkan tempiasnya mencapai 10 meter. Saya langsung turun untuk mengambil gambar. Alhasil, jadilah saya basah kuyup. Belum lagi hempasan air yang menerbangkan kerudung sampai harus saya ikat kebelakang. Takut lepas😱!
Sendang Gile
Selesai main air, merekam video, dan mengambil foto, saya mampir di warung untuk minum teh hangat dan makan pisang goreng. Duh, rasanya nikmati sekali😋. Setelah kenyang, baru melanjutkan perjalanan ke air terjun yang satu lagi bernama Tiu Kelep yang berada diatas Air Terjun Sendang Gile. Kedua air terjun ini memang mengalir membentuk satu aliran. Nah, buat kalian yang menyukai trek pendakian menantang, di perjalanan ke Tiu Kelep adalah saat paling pas. Untuk mencapainya, kita harus berjalan kaki sejauh 45 Menit. Seolah-olah perjalanan ke Sendang Gile itu nggak ada apa-apanya.
Melewati sungai bebatuan
Di perjalanan ke Tiu Kelep (bahasa suku Sasak berarti 'Kolam Terbang'), saya dan teman-teman melewati sebuah tangga yang cukup curam. Udara semakin lembab, jalanan lebih sepi karena trek yang susah hanya beberapa orang saja yang mau melanjutkan perjalanan ke air terjun ini. Kami melewati jembatan dimana terlihat kiri dan kanan jurang. Kita juga menyeberangi sungai berbatu besar yang cukup dangkal tapi berarus agak kencang. Saya bahkan terpeleset dan kaki masuk ke sela-sela bebatuan tapi alhamdulillah nggak terluka. Padahal udah pakai sendal gunung, masih terpeleset juga. Setelah terus berjalan, akhirnya terdengar suara aliran super deras dari air terjun Tiu Kelep. Saya langsung antusias dan mempercepat langkah. Saya disambut pemandangan air terjun super deras dengan ketinggian lebih 40 meter dimana disekitarnya juga mengalir air terjun yang kecil-kecil. Masya Allah indahnya😍😍😍.
Tiu Kelep
Horeeee!
Teman-teman langsung berlari ke kaki air terjun untuk nyebur. Kalau saya sudah pasti mengambil gambar dulu, dan merekan video. Suara air sederas itu sebenarnya agak seram. Tapi karena sungai yang mengalir di bawahnya dangkal dan nggak banyak bebatuan, malah jadi senang mandi disana. Angin yang dihasilkan tempias air terjun lebih dahsyat lagi daripada di Sendang Gile. Jadilah saya memasukkan kerudung ke dalam baju supaya nggak terbang terus. Saya mengeset kamera GoPro di mode merekam, menaruh hp di dry bag supaya nggak kebasahan, dan menaruh tas di pojokan. Setelah itu saya ikutan nyeburrrrr💦💦💦!!! Ah senangnya😆😆😆.
Berfoto diantara pelangi
Mungkin ini yang dinamakan Play Super Hard. Saya nyebur timbul tenggelam, lompat sana sini, siram-siraman, teriak-teriak bareng teman-teman itu luar biasa serunya. Sampai ntah berapa kali air masuk ke mata. Seandainya saya bawa kacamata renang pasti bakalan lebih seru lagi. Di bawah aliran air yang jatuh dari tebing juga membuat susah bernapas karena air terus-menerus menghempas wajah kami. Tapi tetep tidak mengurangi keseruan bermain kemarin. Duh, nulis begini jadi pengen balik lagi.
Siram-siraman
Setelah sejam bermain, kami memutuskan untuk kembali. Berhubung Rezki dan Abby harus terbang malam ini, jadi kami nggak boleh lupa waktu. Dengan badan basah kuyup, fisik capek, tapi bahagianya minta ampun, kami berjalan pulang. Terkadang kami melihat anak-anak bermain di sungai. Ada yang sedang bermain raja dan prajurit, dimana rajanya pakai hiasan kepala hasil dari daun-daun dikait-kaitkan. Ah lucu sekali, jangan berharap akan menemukan pemandangan seperti ini di Jakarta. Oh ya, seperti biasa kami akan mampir ke warung untuk sekedar ngemil. Saya makan pisang goreng (lagi) dan minum sereal untuk menghangatkan badan. Sekaligus mengobrol dengan teman-teman.
Ngemil
Setelah mengisi perut, kami melanjutkan perjalanan. Kali ini tur guide menyarankan saya dan teman-teman untuk pulang melewati selokan? OMG😱! Tur guide meyakinkan kita kalau selokannya bening banget dan bisa tembus langsung ke dekat pintu masuk. Tinggal meluncur aja mengikuti arus air, sampai deh! Hmm menarik sih, awalnya deg-degan mau apa nggak. Tapi Rezki dan Abby mencoba duluan dan mereka bilang seru banget. Jadilah saya dan Diana setuju mau 'ngikut. Rezki sudah siap dengan kamera GoPro, kami semua turun ke selokan, dan meluncurrrr!
Turun ke selokan
Meluncurrrrr
Jangan tanya bagaimana perasaan seru ditambah takut bercampur jadi satu. Seru karena meluncurnya jauh banget dan takut karena belum pernah aja sih. Nah pas di akhir jalan, kami harus berdiri. Karena terlalu ramai orang, saat berdiri jadi kesulitan karena diterpa dengan arus selokan dan membuat saya dan Diana harus ditarik supaya nggak masuk ke trowongan. Disitu saya mulai ngeri😨😩, takut jatuh ke dalam trowongan yang berarus deras. Padahal, trowongan nggak serem sama sekali. Maklumlah belum pernah jadi pikirannya udah kemana-mana. Kami pun berjalan menyusuri trowongan pelan-pelan diantara arus selokan yang deras ditemani adik-adik yang kata tur guide udah khatam menelusuri tempat ini. Trowongan gelap banget tapi ada senter dan adik-adik jadi penunjuk jalan. Mereka juga memberitahu kalau ada jalan berlubang supaya kita nggak masuk ke dalam.
Menyusuri selokan
Akhirnya sampai
Setelah 15 menit berjalan masuk trowongan, kami sampai ke pintu keluar. Alhamdulillah sehat walafiat dan saya rasa ini pengalaman paling seru dan menegangkan. Seumur-umur baru kali ini meluncur di selokan untuk memperpendek jarak tempuh ke pintu keluar. Kami naik ke atas jalan setapak, memberikan tip ke adik-adik, lalu berjalan ke pintu keluar dengan perasaan campur aduk. Memang tinggal jalan beberapa meter lagi langsung ketemu pintu keluar. Ahh, betapa serunya hari itu dan menulis hal postingan ini 4 bulan kemudia itu jadi pengen balik lagi. Masya Allah!

Baiklah, nanti saya lanjutkan lagi ya ceritanya karena sudah kepanjangan. Sampai jumpa!

Sumber:

September 05, 2018

Gili Trawangan

Sesampai di dermaga Gili Trawangan, saya heran karena ramai sekali pengunjung yang mayoritas adalah bule'. Saya baru tau kalau pulau ini sangat populer sebagai destinasi wisata untuk para wisatawan asing. Karena biasanya yang saya tau ramai hanya Pulau Bali saja. Hari itu kami menginap di Pandawa Beach Villa & Resort yang berjarak sekitar 20 menit mengendarai andong dari dermaga. Sekedar informasi, tidak boleh ada kendaraan bermotor di pulau ini sehingga kemana-mana harus naik sepeda atau andong. Dari pihak tur sih kami udah sekalian disewain sepeda untuk jalan-jalan berkeliling pulau.

Masalahnya adalah gimana cara bawa koper pakai sepeda😅? Buat wisatawan yang hanya membawa ransel sih enak pakai sepeda. Tinggal ditaruh aja ranselnya di keranjang. Bagaimana dengan saya dan Diana yang membawa koper? Ternyata ada alternatif lagi yaitu menyewa andong seharga Rp. 150rb. Nggak akan bisa ditawar lho harganya😐. Rezki dan Abby juga jadinya menaruh ransel di andong supaya naik sepedanya lebih ringan. Karena Diana masih pusing, dia ikut naik andong, sedangkan saya, Rezki, Abby, dan dua tur guide naik sepeda. Tur guide sekalian mengantarkan sepeda Diana ke hotel, makanya mereka ikutan mengantar kami sampai ke depan hotel, baru nanti balik lagi ke dermaga boncengan satu sepeda😂.

Kenapa memilih resort yang jauh dari dermaga? Pertama, karena saya ingin dapat private beach, sehingga bisa dengan santai menikmati matahari tenggelam nggak berdesak-desakan dengan orang lain. Kedua, karena resort di Lombok dan Gili itu harganya murah, cuma sekitar 600rb-800rb saja permalam dengan fasilitas hotel bintang 5. Karena saya suka menikmati liburan, jadi sekalian pengen menginap dengan nyaman. Dulu saya dan Diana sudah merasakan ngetrip versi ngemper karena gaji pas-pasan sampai dengan ngetrip versi santai dan enak. Kalau sekarang, udah kerja susah-susah, masa' ngetrip masih ngemper? Hahaha.

Kami mendapatkan kamar yang keren banget di Pandawa Resort, bahkan saking kerennya kamar mandinya tanpa atap😆. Itu keren apa nggak ya? Kebayang gimana mandinya agak was-was takut ada yang 'ngintip. Sampai saya memastikan ke bellboy kalau hujan gimana mau mandi? Kata mereka sih, Gili Trawangan nggak pernah hujan. Baiklah! Sudah kelamaan leyeh-leyeh di kamar dan ngobrol dengan Diana, akhirnya saya memutuskan untuk mandi. Baju renang yang dipakai snorkeling bisa sekalian di jemur di kamar mandi karena memang disediakan tempat untuk jemuran. Lumayan kan jadi nggak berat-beratin koper karena bawa baju basah.
Sahabat
Selesai mandi, saya samperin Rezki dan Abby yang udah duluan nge-tag tempat untuk menikmati sunset. Ada ayunan di pinggir pantai yang menjadi spot untuk berfoto. Saya jadi malas berfoto karena pakai celana panjang dan ayunan agak menjorok ke pantai. Kalau pakai celana pendek sih enak, jadi celananya nggak basah. Kalau saya mana bisa😅. Banyak banget yang mengantri foto di ayunan. Sampai ada pasangan yang agak ekstrim posenya, mereka manjat ke atas tulisan Pandawa yang membuat huruf 'P' jadi copot. Ahhhhh pada bubar deh orang-orang nggak jadi fotoan lagi😂.  Jadilah berfoto di spot-spot lucu yang sengaja dibikin oleh hotel untuk menarik perhatian para wisatawan.
Pandawa tanpa 'P'
Setelah matahari tenggelam, hotel memutar film layar tancap. Maunya film yang diputar yang Indonesia banget seperti Suzanna gitu😆, biar bule'-bule' pada tau siapa hantu paling menyeramkan di dunia ini, hahahahaha. Eh malah yang diputar film Harry Potter. Kami nggak ikutan nonton, mau naik sepeda aja keliling pulau sambil mencari makan malam. Biasanya kalau sedang liburan di Pulau, saya pasti akan mencoba berkeliling. Ntah itu dengan naik sepeda atau jalan kaki.
Mari mengelilingi Pulau
Perjalanan pun dimulai. Setelah kaki pegal karena panjat tebing di Kelingking Beach, snorkeling di tiga Gili, sekarang harus mengayuh sepeda berkeliling pulau. Bisa-bisa nanti saya berotot sepulang dari Lombok. Alhamdulillah seolah tenaga nggak ada habis-habisnya, jadi energi untuk mengayuh sepeda keliling pulau masih ada. Ternyata pulau Gili Trawangan ini jauh juga dan banyak tempat yang sangat gelap gulita. Kami jadi berusaha untuk mengayuh lebih kencang supaya melewati jalanan gelap, eh tiba-tiba malah ketemu jalan berpasir yang bikin sepeda susah jalan. Terpaksa turun deh dari sepeda.
Sepedaan
Pertokoaan
Sekitar satu jam bersepeda, kami berhenti di sebuah Cafe pinggir pantai yang banyak kucingnya. Kita memesan makan malam yang kebanyakan adalah makanan Eropa seperti spageti dan pizza. Saya, Diana, Rezki, dan Abby duduk di tempat seperti saung berlesehan sekalian bisa leyeh-leyeh. Lumayan menikmati suara ombak di malam hari sambil ditemani kucing-kucing lucu yang sengaja dipelihara oleh pemilik Cafe. 
Lanjut sepedaan
Melewati minimarket
Selesai makan, kami lanjut bersepeda. Kali ini harus melewati jembatan yang sempit banget sehingga harus turun dari sepeda. Agak serem karena jembatannya karena berbatasan langsung dengan laut. Jadi harus jalan perlahan-lahan. Nggak ada lampu jalan juga disini, sehingga harus pakai lampu dari hp. Setelah tiba di dermaga, Abby dan Rezki mau ke ATM dulu. Saya dan Diana menunggu mereka tapi malah bingung kok mereka hilang. Udah di telepon tapi nggak masuk (katanya sih hpnya kehabisan batre). Udah saya coba nyusul ke ATM tapi nggak ada orangnya. Hmm, jadilah saya dan Diana kirain mereka udah pulang dan ninggalin kita. Mau nggak mau kita jadi pulang berdua doang. Ternyata agak menyeramkan juga mengendarai sepeda malam-malam berdua. Mana jalanan gelap gulita dan kita cuma pakai lampu hp. Kalau mulai memasuki kawasan resort sih udah ada lampu. Tapi sebelum/sesudahnya itu malah gelap banget, seram, dan banyak pohon. Mana terkadang ada suara kerincing kuda andong lagi😰. Jadilah saya mempercepat mendayung sepeda. Sebenarnya saya nggak takut hantu, cuma takut ada jambret di jalan. Walaupun tur guide sempat memastikan kalau di Gili aman damai sentosa.
Gowes sepeda bareng Diana
Setelah sampai di Pandawa Resort, eh Rezki dan Abby malah belum pulang. Jadilah saya menunggu mereka dulu di lobi hotel sambil transfer video dari kamera Gopro. Sekitar setengah jam menunggu, baru mereka datang. Ternyata Rezki dan Abby nungguin kita di daerah dermaga, dan kita nungguin juga. Saling tunggu-tungguan malah membuat sama sekali nggak ketemu ya 'kan? Setelah semua kumpul, baru kita balik ke kamar masing-masing. 

Sepertinya waktu di Gili Trawangan terlalu singkat. Mengingap cuma satu malam di Resort sebagus itu rasanya kurang lama. Sewaktu sarapan, kami juga harus buru-buru makan karena jam 9 udah harus naik kapal di dermaga. Belum lagi harus gowes sepeda ke dermaga yang memakan waktu 20 menit. Nggak enak banget rasanya harus buru-buru sarapan apalagi menunya enak banget semuanya.  Apalagi kan saya makannya banyak😜. Tapi apa mau dikata, liburan di Gili Trawangan sudah usai.
Suasana di kapal
Kami naik sepeda ke dermaga, sedangkan seluruh tas dan koper ditaruh di andong. Kebetulan di depan hotel sudah tersedia andong, jadi nggak usah nyari-nyari lagi. Sesampai di dermaga, tur guide sudah menunggu kita bersama orang-orang lain yang menunggu kapal datang. Tepat pukul 9, kapal sudah siap di dermaga dan kita semua naik. Kali ini kapalnya lebih besar dan kita ikut bersama penumpang lainnya.

Kapal melaju dari Gili Trawangan ke pelabuhan Bangsal hanya sekitar 30-40 menit. Setelah itu kami dijemput kembali untuk melanjutkan perjalanan berikutnya. Nanti saya cerita lagi ya. Sampai jumpa!

Follow me

My Trip