November 12, 2019

Dua Lapis Karet Elastis

Seperti biasa, setiap bulannya saya akan melakukan kontrol gigi. Selama sebulan ini saya menggunakan karet elastis dua lapis agar geraham belakang lebih cepat majunya dan celah gigi semakin rapat. Hal ini tentu saja membuat saya lebih susah lagi makan. Mau mengunyah daging atau keripik/kerupuk pasti 'nyangkut. Terkadang karetnya lepas sendiri karena terlalu lama mengunyah makanan atau menguap terlalu lebar. Pernah juga lagi tertawa bersama teman-teman eh karetnya putus dan bunyinya sampai terdengar oleh mereka😅. Bikin malu aja...😂
Sudah lebih bagus
Walaupun demikian, Orthodentist bilang kalau geraham saya maju secara signifikan. Terlihat dari kawat indikator yang paling belakang maju beberapa milimeter dan itu tandanya signifikan. Dokter bilang, memakai karet elastis sebanyak dua lapis ternyata sangat efektif merapatkan celah di gigi. Saya juga merasa demikian karena struktur senyuman secara horizontal sudah lebih lurus hanya dalam waktu satu bulan. Dokter berharap semoga di Januari nanti urusan gigi saya sudah selesai. Paling tinggal dibenerin sedikit lagi. Alhamdulillah...

Oh iya, hari ini saya lihat ada yang berubah di OMDC. Interior ruangan terasa lebih luas. Meja pendaftaran pasien posisinya juga sudah berubah. Sebulan yang lalu masih ada tiga ruang praktek di sekitar ruang tunggu dan sekarang hanya dua saja. Ruangan lainnya sudah diubah posisinya ntah kemana. Saya tadi tidak terlalu bereksplorasi karena masih dalam kondisi nggak enak badan. Pengennya cuma duduk manis saja dan nggak bergerak kemana pun.
Meja resevasi
Sewaktu melakukan pembayaran di kasir, saya sempat mengambil foto harga terbaru untuk pemasangan kawat gigi. Kalau kalian punya kartu kredit, pembelian minimal Rp. 500,000 bisa dicicil 0% sampai 12 bulan menggunakan BNI, sedangkan BCA hanya sampai 6 bulan. Hal ini berlaku untuk segala perawatan yang ada di OMDC. Lumayan banget daripada saya dulu harus mendebit 9 juta langsung untuk pasang Sapphire Braces tanpa bisa cicilan. Sakit hati ini sewaktu melihat tabungan hilang 9 juta. Mana dulu kantor belum ada asuransi lagi😫.
Harga terbaru pemasangan kawat gigi
Total pengeluaran hari ini:
Service Charge Rp. 25,000
Kontrol Sapphire Braces Orthodentist Rp. 275,000
Karet Elastis Rp. 60,0000.

November 05, 2019

Sydney Opera House dan Harbour Bridge

Kami tiba di Eastlakes 10 menit kemudian, tempat dimana keluarga Bang Suryadi tinggal. Beliau adalah salah satu sahabat abang saya dan juga tetangga saya di kampung yang sudah seperti saudara sendiri. Karena mendapatkan beasiswa di University New South Wales (UNSW), maka seluruh keluarganya dibawa ke Australia. Rasanya agak aneh melihat mereka di Sydney, seolah-olah saya sedang pulang kampung dan bertemu dengan mereka. Hanya saja sekarang berbeda negara.

Istri Bang Suryadi, si Dora, senang banget ketemu sama Mama bahkan sampai terharu dan menitikkan air mata😢. Mungkin karena seperti ketemu Ibu sendiri, atau mungkin saking kangennya dengan keluarga di kampung. Maklumlah, hidup di negara orang tanpa ada sanak saudara tidak jarang membuat kita homesick. Selagi homesick, eh saudara dari kampung datang bersilaturahmi. Kebayang betapa bahagianya😣. Dulu juga sewaktu ke Abu Dhabi, saudara saya disana senang banget ketika kami datang. Apalagi sambil membawa emping, kerupuk khas dari negara kita. Melihat emping, matanya langsung berbinar-binar seolah-olah kita membawa makanan dari surga. Mana mungkin menemukan emping di Abu Dhabi.

Kami dipersilahkan masuk ke apartemen Bang Suryadi. Rencananya kami akan menumpang mandi dan menaruh barang, sebelum melanjutkan perjalanan ke Melbourne nanti malam. Sebelum mandi, kita mengobrol dan beristirahat sejenak sambil bergantian mandi. Mana saya sempat salah menyalakan air panas dan nggak nyala. Awalnya sempat nyala sebentar, lalu mati lagi. Berhubung udah terlanjur memakai sabun, mau nggak mau harus bilas badan dengan mandi air dingin di musim dingin🥶. Duh, saya sampai gemetaran. Mau sikat gigi aja nggak sanggup ketika harus berkumur-kumur kecuali pakai air panas. Karena kedinginan di kamar mandi, jadilah mandi buru-buru. Nggak tau deh udah bersih mandinya apa nggak.
Sekitar apartemen
Bersiap berangkat
Setelah semua selesai mandi, adik saya Achmad dan Bang Suryadi pergi ke minimarket untuk mengisi saldo di kartu yang bakalan digunakan untuk naik kendaraan umum. Sama seperti kartu serbaguna yang biasa sering kita pakai di Jakarta, kartu di Sydney juga bisa dipakai untuk naik bus, MRT, dan ferry. Setelah mereka pulang, barulah kami memulai perjalanan hari ini. Kita jalan kaki menuju halte bus sekitar 2 menit. Kalau mencari rute di Google Maps, kalian bisa langsung menemukan nomor bus atau jalur MRT tanpa kesulitan sedikit pun dengan menggunakan Google Maps. Sepertinya untuk urusan transportasi akan saya bahas di postingan tersendiri nanti saja ya. Biar lebih enak ketika mau membacanya.
Menunggu bus
Sydney Harbour Bridge
Setelah turun dari MRT dan berjalan kaki sedikit ke arah pelabuhan, kalian akan melihat jembatan lengkung berkerangka besi bernama Harbour Bridge yang berdiri kokoh diatas pelabuhan Sydney di Port Jackson. Jembatan ini dilintasi kereta api, kendaraan umum, sepeda, dan pejalan kaki antara Sydney Central Business District (CBD) dan North Shore. Pemandangan jembatan ini meyakinkan saya kalau saya sudah berada di Sydney. Apalagi kalian langsung bisa melihat Sydney Opera House di dekatnya. Jembatan ini juga dijuluki "The Coathanger" (seolah-olah seperti tempat menggantungkan 'coat'-jaket) karena desain berbasis lengkungannya. Bayangkan bagaimana melengkungkan baja yang berukuran 134 meter dari atas permukaan air ini? Jembatan ini juga dinobatkan sebagai jembatan terluas di dunia dengan lebar 48,8 meter sebelum pembangunan Jembatan Port Mann baru di Vancouver selesai pada 2012.
Berpose di jembatan
Di bawah arahan Dr. John Bradfield dari Departemen Pekerjaan Umum NSW, Harbour Bridge dirancang dan dibangun oleh perusahaan Inggris Dorman Long and Co Ltd dari Middlesbrough, dan dibuka pada tahun 1932. Desain jembatan dipengaruhi oleh Hell Gate Bridge di New York City. Sydney Harbour Bridge ditambahkan ke Daftar Warisan Nasional Australia pada 19 Maret 2007 dan ke Daftar Warisan Negara Bagian New South Wales pada 25 Juni 1999.
Foto keluarga
Saya sangat menikmati pemandangan jembatan ini dengan perairan yang luas dan burung camar terbang kesana kemari. Belum lagi saat itu suhu udara terasa dingin sekali dengan angin sangat kencang. Maklumlah, kalau di pelabuhan pasti anginnya gede. Kalian bisa menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan menelusuri pinggir pelabuhan dimana banyak pertokoan dan cafe. Yang uniknya, banyak sekali burung camar bertengger di tiang-tiang Cafe sampai harus diusir oleh pelayan atau pengunjung Cafe.

Sydney Opera House
Kalau sudah ke Sydney, Opera House merupakan destinasi yang harus dan wajib dikunjungi. Rasanya sewaktu melihat gedung Opera dari kejauhan saja saya langsung meyakinkan diri saya kalau saya sudah benar-benar berada di kota Sydney. Rasanya seperti mimpi bisa kesini karena dulu hanya berupa angan-angan saja. Ntah berapa kali mau ke Sydney pakai AirAsia karena merasa sudah cukup murah, tetapi Allah subhanahu wata'ala malah memberikan maskapai full-board terbaik di Australia yaitu Qantas untuk kita naiki dengan harga lebih murah lagi dari AirAsia. Alhamdulillah.
Sydney Opera House
Sydney Opera House adalah pusat seni pertunjukan di Sydney Harbour, New South Wales Australia, yang merupakan salah satu bangunan paling terkenal di abad ke-20. Gedung opera ini dirancang oleh arsitek Denmark Jørn Utzon yang memenangkan kompetisi desain internasioal untuk gedung ini pada tahun 1957. Pemerintah New South Wales, yang dipimpin oleh Joseph Cahill, baru mengizinkan pekerjaan pembangunan gedung dimulai pada tahun 1958 dengan Utzon mengarahkan pembangunan. Setelah kurang lebih 15 tahun pembangunan, Sydney Opera House secara resmi dibuka pada 20 Oktober 1973. 
Santai
Saya dan keluarga berjalan mendekat ke gedung raksasa ini. Kalau dilihat lebih dekat memang gedung ini besar dan tinggi sekali. Gedung ini terdiri dari beberapa tempat pertunjukan, yang bersama-sama menyelenggarakan lebih dari 1,500 pertunjukan setiap tahun, dan dihadiri oleh lebih dari 1,2 juta orang. Pertunjukan disini ditampilkan oleh banyak seniman, termasuk tiga perusahaan: Opera Australia, Sydney Theatre Company, dan Sydney Symphony Orchestra. Sayangnya saya tidak masuk ke dalam gedung untuk menikmati pertunjukan karena keterbatasan waktu harus mengejar pesawat ke Melbourne.

Pada tanggal 28 Juni 2007, Gedung Opera Sydney menjadi Situs Warisan Dunia UNESCO. Gedung ini juga pernah menjadi finalis dalam New 7 Wonders of the World. Sebagai salah satu tempat wisata paling populer di Australia, bangunan ini dikunjungi lebih dari delapan juta orang setiap tahun, dan sekitar 350.000 pengunjung melakukan tur berkeliling gedung. Bangunan ini dikelola oleh Sydney Opera House Trust, sebuah agen dari Pemerintah Negara Bagian New South Wales.

Kebanyakan pengunjung datang kemari untuk berfoto dan menikmati pemandangan. Banyak juga yang jogging dalam kondisi udara yang dingin. Setelah puas menikmati dua ikon kota Sydney ini, saya dan keluarga melanjutkan perjalanan untuk mencari makanan halal karena sudah sore dan kita belum makan.

Nanti akan saya tuliskan lagi ya. Sampai jumpa!

Sumber: wikipedia.com

November 03, 2019

Yuk Ekspor Produk Lokal ke Amerika Via Amazon.com

Salah satu keinginan saya dari dulu adalah bisa berjualan di luar negri. Semenjak berbisnis di Amazon, banyak sekali produk yang saya riset sangat laku di pasar Amerika apalagi barang hasil kerajinan tangan yang unik. Di tahun 2016, sempat membeli beberapa batik di Pekalongan, Wayang dari Jogja, Songket dari Surabaya, lalu saya kirimkan ke Amazon Warehouse via Pos Indonesia untuk dijual dengan cara Fulfilment by Amazon. Yang menakjubkan, mukenah yang saya beli Rp. 90,000 bisa laku di pasar US seharga $44.99. Terdengar untung besar? Betul. Tapi tunggu dulu...

Mengirimkan barang ke Amerika via Pos membutuhkan biaya sangat besar. Kalau dihitung-hitung, ongkos kirim perbarang pada tahun 2016 sekitar Rp. 200rban. Belum lagi biaya gudang yang harus terus dibayarkan, harus diperhitungkan dari awal kalau memang mau untung. Tapi balik lagi, seandainya bisa menurunkan ongkos kirim saja, mungkin bisa meringankan beban biaya yang lain.

Sampai di tahun 2019, Allah SWT memberikan jalan untuk berkolaborasi. Dimulai dari ide Khanti yang dengan cepat mendekati orang-orang yang merupakan para 'jagoan' di bidang ekspor. Bahkan tidak tanggung-tanggung, Bapak-bapak ini sudah mengekspor skala kontainer, 1000 ton, yang berarti 1.000.000 kg, dan dilakukan beberapa kali dalam satu bulan selama lebih dari 25 tahun. Terbayang? Ya, ini jumlah sangat besar. 

Tim Rancupid datang ke markas Pak Nursyamsu dan Pak Rachmat di Bogor. Mengobrol, bercerita, dan menyamakan visi, kalau kita ingin ekspor produk Indonesia ke Amerika. Kita ingin 'menjajah' Amerika dengan produk Indonesia yang berkualitas, karena disana laku, dan kita sudah membuktikannya dengan data dan riset. Ternyata Pak Nursyamsu bilang, mengekspor skala kontainer (FULL) via kapal membuat ongkos kirim perbarang hanya sekitar Rp. 5000 perak. WHAT? Lebih murah dari ongkos kirim dari Jakarta ke Bogor. Dan beliau sudah melakukan itu.

Maka kita memutuskan untuk membuat sebuah acara, untuk para pengusaha dan calon pengusaha yang ingin melakukan ekspor, yang ingin sama-sama memasarkan produk Indonesia yang berkualitas tinggi ke luar negri, memenuhi kontainer 1000 ton, agar ongkos kirim jadi murah. Acara ini dihadiri oleh para narasumber yang merupakan praktisi ekspor, praktisi FB Ads yang bisa membantu mengiklankan produk via FB di benua Amerika, dan Rancupid sebagai praktisi Amazon.

Satu hal lagi. Hari ini Rancupid baru selesai meeting dengan tim FDA-Food and Drug Administration atau Badan Pengawas Obat dan Makanan di Amerika Serikat yang bisa mengguide kita untuk lolos sertifikasi agar bisa masuk ke Amerika. Hal ini memudahkan para pengusaha makanan untuk ekspor. Saya sendiri sangat antusias dengan hal ini mengingat Indonesia sangat kaya dengan cemilan enak dan kopi terbaik.

Oh ya, di poster sebelumnya yang pernah saya share di sosial media, lokasi seminar berada di Hotel Manhattan. Karena kita menerima penawaran yang bagus dari JW Marriot Mega Kuningan, Jakarta Selatan, jadi kita pindah deh. Sampai ketemu ya!
Poster

November 01, 2019

Welcome To Australia

Tulisan ini ditulis setelah lebih 2 bulan sejak saya pulang dari negara kangguru🦘dan koala🐨. Alhamdulillah kesampaian juga bisa ke negara ini. Dulu di tahun 2016, saya pernah transit di Gold Coast sepulang dari New Zealand. Tapi tidak bisa dihitung sebagai negara yang pernah di eksplorasi karena memang cuma transit 45 menit. Pada saat itu saya cuma ke toilet dan beli souvenir, lalu naik pesawat lagi menuju Kuala Lumpur.

Bulan Februari kemarin, saya mendapat tiket pesawat Qantas Jakarta - Sydney pulang pergi seharga Rp. 3,5 juta sudah sekaligus asuransi perjalanan (sekarang kalau pergi ke luar negri jadi beli asuransi agar ada pergantian apabila barang hilang, koper rusak, atau penerbangan ditunda). Saya beli tiket untuk adik-adik dan Mama. Hampir tidak pernah berpikir untuk membawa Mama ke Sydney, tapi alhamdulillah bisa berangkat juga. Duh, jadi teringat Papa deh. Dulu kami pernah sudah beli tiket ke Shanghai sekeluarga tapi tidak jadi berangkat karena Papa sakit sampai meninggal. Kalau teringat akan hal itu, rasanya masih ada luka yang belum sembuh di hati. Bahkan sampai hari ini😢.

Pengurusan Visa alhamdulillah juga berjalan lancar. Adik-adik dan Mama berangkat ke Jakarta dari Banda Aceh H-3 keberangkatan agar sempat beristirahat dulu sebelum perjalanan 6 jam lebih nonstop dari Jakarta menuju Sydney. Akibat terlalu banyak membaca artikel di internet yang menuliskan kalau kita tidak boleh bawa ini itu ke Aussie karena pengecekan di bandara sangat ketat, jadilah nggak bawa sambal dan teri yang biasa kita lakukan. Takut di endus-endus sama anjing bandara, yang membuat kita tertahan lebih lama nantinya. Padahal, makanan di dalam kemasan semuanya aman. Kecuali olahan daging seperti rendang (kemaren sempat kepikiran membawa rendang karena masih suasana Idul Adha) dan keju (nah ini nggak mungkin bawa).

H-1 sebelum keberangkatan, saya baru menyadari kalau penerbangan lanjutan dari Sydney ke Melbourne yang telah saya booking ternyata salah jadwal. Seharusnya saya ingin booking pukul 10 AM (siang), malah yang dibooking 10 PM (malam). Baru sadar ketika mendapat email dari Virgin Australia sebagai pemberitahuan kalau kita sudah boleh melakukan web check-in. Duh, saya kurang teliti karena waktu itu sedang terburu-buru. Sempat panik, tarik napas, langsung berpikir cepat. Akhirnya saya mengontak host apartemen di Sydney dan Melbourne untuk melakukan beberapa perubahan, tapi ternyata tidak bisa karena waktunya terlalu mepet. Akhirnya saya menelepon Dora, istrinya Bang Suryadi untuk nebeng mandi dan taruh barang dulu sebelum berangkat ke Melbourne.

Rencana jadi agak berubah dari semula, tapi mungkin ada hikmahnya. Lain kali harus lebih teliti dalam mengecek harga tiket pesawat agar tidak merugikan. Oh ya, kita juga belum beli tiket pesawat balik dari Melbourne ke Sydney karena semakin dekat hari H, harga semakin mahal. Jadi menunda-nunda deh, berharap harga turun walaupun hanya sedikit.

Hari keberangkatan pun tiba. Kami berangkat menuju bandara Soekarno-Hatta setelah shalat Zuhur dan makan siang. Sepanjang perjalanan ke bandara saya mules banget lagi, terasa perjalanan begitu menyiksa😫😫😫. Sampai akhirnya ketika tiba di bandara, saya harus berlari ke toilet. Mungkin karena mau haid, jadilah perut terasa di aduk-aduk. Setelah selesai, kami check in. Kita sudah mempersiapkan hasil print out Visa, tapi ternyata nggak diminta oleh petugas check in. Katanya di data online sudah tertera kalau kita memiliki Visa. Check in lancar, imigrasi lancar, tibalah kami di ruang tunggu. Agak deg-degan juga karena udah lama nggak melakukan perjalanan yang jauh bersama keluarga. Terakhir ke Turki dulu dan itupun 1,5 tahun yang lalu. Sekitar pukul 21.30, kami boarding. Bismillahi majreha wa mursaha~

Kami sekeluarga duduk berempat berderet. Ketika pesawat sudah terbang, saya menarik selimut, menurunkan sandaran kursi, bersiap posisi untuk tidur. Tidak memerlukan waktu lama bagi saya untuk tertidur pulas. Saya terbangun sejenak untuk makan (oh ya untuk teman-teman Muslim, bisa meminta makanan halal di website Qantas), lalu tidur lagi. Terus saya terbangun juga di tengah malam ketika Mama minta temenin ke toilet. Saat itu ternyata sudah lebih setengah perjalanan dan kami hampir tiba di Sydney. Terlihat dari peta kalau pesawat kita sudah memasuki benua Australia. Saya terbangun lagi ketika akan shalat Shubuh baru deh nggak tidur lagi karena sudah akan mendarat. Enak juga kalau penerbangan malam karena waktu terasa singkat karena tidur bangun tidur bangun, begitu saja terus.
Makanan di pesawat
Sesampai di Sydney Kingsford International Airport, kami turun dari pesawat dan berjalan menuju imigrasi. Karena Mama sudah capek, saya dan Mama naik mobil golf sampai ke depan imigrasi, baru menunggu adik-adik. Banyak artikel yang saya baca kalau imigrasi bandara Sydney sangat ketat bahkan ada yang sampai ditanya kerja dimana di Indonesia dan mau kemana aja di Australia. Alhamdulillah saya dan keluarga aman-aman saja. Mungkin hanya beberapa detik di imigrasi, lalu ambil bagasi. Sempat deg-degan juga di pemeriksaan bagasi karena sepertinya saya terlalu banyak membaca blog orang yang kena random check. Alhamdulillah saya aman, lancar, dan mulussss. Nggak ada masalah sedikit pun di bandara. Intinya ikuti peraturan untuk tidak membawa makanan aneh-aneh, berpakaianlah yang baik agar nggak menimbulkan pertanyaan. Biasanya kalau berpakaian lusuh pasti mengundang kecurigaan (pernah liat di bandara Singapura ada yang pakai kaos tanpa lengan, celana super pendek, dan sendal jepit, sering tertahan di bandara). Jangan lupa isi form kedatangan yang dibagi di pesawat dengan sejelas mungkin.
Imigrasi Sydney
Hal pertama yang biasa kita lakukan ketika tiba di negara orang adalah membeli SIM Card. Karena diantara kita yang paling jarang main hp adalah Mama, jadi SIM Card dimasukkan ke hp Mama dan dijadikan modem. Kalau tidak salah, kami beli paket data seharga $45 untuk 70 giga. Bisa buat dibagi berempat. Oh ya, di Australia nggak ada Gojek dan Grab. Kalian harus menginstall Uber dan beberapa aplikasi transportasi online buatan lokal. Agak kaget melihat harga Uber dari bandara ke Eastlake (tempat Bang Suryadi tinggal) seharga $20an, padahal cuma kurang dari 6km. Ya mungkin kalau untuk mata uang disini, harga $20 seperti Rp. 20,000 kali ya. Makanya agak syok. 
Bandara Sydney
Alhamdulillah sampai
Untuk menaiki Uber juga ada tempat tersendiri di Bandara Kingsford. Kalian harus berjalan kaki menuju "Express Pick Up" area yang terletak 200m-300m dari pintu keluar. Cukup mudah menemukan tempat penjemputan ini karena kita tinggal menyebrang dari pintu keluar, lalu mengikuti tanda berwarna kuning saja melewati parkiran. Ketika sampai di area penjemputan, sudah terlihat mobil pesanan kami sedang parkir. Mungkin dia sudah menunggu kurang lebih 5 menit. Oh ya, peraturan berlalu-lintas di Australia sangat ketat, lebih ketat dari New Zealand. Kalian harus menggunakan sabuk pengaman bahkan untuk yang duduk di belakang. Supir Uber tidak akan mau jalan sebelum semua penumpang sudah memasang sabuk.

Baiklah, kami akan mengunjungi Eastlakes, tempat dimana keluarga Bang Suryadi tinggal. Nanti saya cerita lagi ya. Sampai jumpa!

Oktober 29, 2019

Gua Rangko

Seperti yang saya ceritakan di postingan sebelum ini, semalam kami tidur jam 1 dini hari, besoknya harus bangun shalat Shubuh dan bersiap untuk ke destinasi berikutnya. Pukul 5:45 saja mobil yang kita sewa sudah menjemput, sedangkan kita masih bergantian cuci muka dan ganti baju. Pukul 6:05, kita sudah siap untuk berangkat ke Gua Rangko yang terletak di Desa Rangko, Kecamatan Boleng, Kabupaten Manggarai Barat, Labuan Bajo, seraya membawa sarapan yang sudah disediakan oleh hotel.

Destinasi wisata Gua Rangko ini baru saja ngehits sejak banyak selebgram memposting keindahan warna air laut yang terdapat di dalam gua. Matahari baru saja terbit ketika kami menuju desa ini dan saya merasa ngantuk sekali. Dari Sylvia Resort ke Desa Rangko memakan waktu kurang lebih 30 menit. Sesampai di desa, supir kita menawar harga perahu kepada penduduk setempat dan kami mendapatkan harga Rp. 50,000 perorang.
Bersiap berlayar kembali
Untuk menuju ke Gua Rangko kita memang harus menempuh perjalanan menggunakan perahu. Baru saja udahan naik kapal kemarin, sekarang naik perahu (lagi). Belum pulih dari perasaan terombang-ambing, sekarang balik lagi rasa 'goyang' tersebut. Walaupun demikan, kami sangat antusias menuju Gua Rangko. Sepanjang perjalanan kita akan dimanjakan dengan hamparan laut jernih. Waktu tempuh perjalanan mungkin hanya 15 menit ditemani anak-anak yang mengendarai kapal. Tidak ada orang dewasa yang menemani kami ke Gua Rangko.
Selamat datang
Setelah sampai, seharusnya kita membayar tiket masuk terlebih dahulu. Tapi karena masih terlalu pagi dan objek wisata ini seharusnya belum buka, jadi kita bisa langsung masuk. Jangan salah, kita harus melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menelusuri jalan setapak dan mendaki bebatuan selama kurang lebih 5 menit untuk sampai ke mulut gua. Huft, mendaki lagiii... Sudah capek sekali. Saya sarankan untuk memakai alas kaki yang menggigit karena batu-batunya licin agar kita tidak terpeleset.
Jalan setapak
Mulut Gua
Ketika tiba di mulut Gua, saya teman-teman mulai merasa takut untuk turun karena suasana Gua gelap sekali😰. Ada perasaan takut menghinggap sampai kita bertanya sama anak kapal apakah Gua ini aman? Apakah ada binatang seperti ular atau buaya (mana ada buaya di laut)? Atau hiu mungkin? Anak itu bilang, "Tenang aja, aman!" Kami meyakinkan hati, baru turun ke dalam Gua yang masih gelap. Anak itu pun ikut turun dan bilang, "Kalau mau bagus dan masuk cahaya matahari, mending kesini diatas jam 12 siang." Mana mungkin kita kesini jam segitu karena sudah ada jadwal penerbangan kembali ke Jakarta.
Danau air asin di dalam Gua
Sesampai di dalam Gua, ada rasa sesak karena pengap. Seolah-olah jadi sulit bernafas. Tapi tubuh beradaptasi dengan cepat. Mulai bisa bernapas seperti biasa. Ada beberapa kelelawar yang hinggap di stalaktit yang memenuhi langit Gua. Ketika kita datang, mereka berterbangan. Untung jumlahnya hanya sedikit. Karena masih terlalu gelap di dalam Gua, kami memutuskan untuk naik dan sarapan terlebih dahulu selagi mengulur waktu agar matahari mulai naik. Hal ini termasuk pengalaman yang unik karena saya nggak pernah sarapan di mulut Gua sebelumnya.
Mari sarapan
Setelah 30 menit sarapan, matahari mulai sedikit lebih terang dari sebelumnya. Kami turun lagi ke dalam Gua dan mencoba menikmati suasana. Teman-teman turun terlebih dahulu ke danau air asin, sedangkan saya menjadi juru foto. Saya harus berpijak di stalagmit yang benar agar tidak terpeleset karena sangat licin. Bayangkan stalakmit begitu banyak bagian yang tajam dan saya harus berdiri diantaranya. Saya jadi harus terus waspada dan mempertahankan keseimbangan agar tidak terjatuh.
Berfoto di pinggir danau
Kita bergantian mengambil foto. Setelah itu semuanya turun ke danau untuk bermain air atau berenang. Awalnya kita takut karena sunyi sekali tempat ini. Suara cipratan air yang mengenai dinding Gua pun terasa menyeramkan. Masih merasa takut ada binatang misterius yang tiba-tiba muncul. Tetapi setelah beberapa menit berlalu, kita mulai menikmati suasana. Kita terus bermain air, tertawa, berfoto, merekam video, serasa Gua dan danau milik pribadi. Sampai tiba waktunya harus kembali karena kami mengejar jadwal penerbangan. Para wisatawan pun mulai berdatangan. Ada yang langsung turun, ada yang malah balik lagi karena cahaya matahari belum masuk.
Tempat membeli tiket masuk
Kami pun berjalan pulang. Sampai di dermaga, petugas menagih tiket masuk seharga Rp. 20,000 perorang. Saya kira karena udah masuk, nggak akan ditagih lagi😬. Gua Rangko adalah destinasi terakhir kita sebelum pulang ke Jakarta. Ada rasa sedih juga karena liburan telah usai. Seolah baru kemarin kita mendarat di Bandara Komodo dan langsung ke Wae Rebo, sekarang sudah harus kembali.
Mari pulang~
Berlayar pulang
Kita kembali ke hotel, mandi, dan bersiap untuk check out. Perjalanan dari Sylvia Resort ke Bandara Komodo memakan waktu 40 menit. Setelah tadi naik perahu, sekarang naik mobil, ada rasa pusing juga di kepala. Sepertinya sampai di Jakarta, saya bakalan tidur seharian untuk menyeimbangkan kepala yang rasanya trus bergoyang.

Sesampai di Bandara, kami check in bagasi, lalu mencari makan siang. Selayaknya bandara, harga makanan mahalnya nggak masuk akal. Padahal di kantin biasa dan cuma mau memesan ayam bakar saja Rp. 60,000😱. Akhirnya kami memutuskan makan siang di Exotic Komodo Resort (hotel tempat kita menginap sebelum berlayar) yang berlokasi pas di depan Bandara. Selain menunya banyak, makanan enak, tempatnya bagus, harganya juga nggak semahal kantin bandara. Kita makan sambil bermain Pokemon bareng-bareng, sampai akhirnya harus naik pesawat. Sampai jumpa lagi Labuan Bajo, semoga suatu hari bisa kesini lagi aminnn🤲.

Selama di pesawat, saya tidur sampai ke Jakarta. Setelah itu berpamitan pada teman-teman dan kita semua pulang ke rumah masing-masing. Saya seperti biasa naik bus bandara Hiba Utama menuju Depok. Di perjalanan menuju Depok saya tidur lagi. Sampai rumah, saya beberes sebentar, pesan makanan favorit, mandi, lalu tidur lagi. Sepertinya saya tidur selesai adzan Isya dan shalat (kira-kira jam 7 malam), dan bangun besok di waktu shalat Shubuh. Setelah itu tidur lagi sampai jam 8 pagi. Rasanya badan ini pegal sekali, tapi hati senang bukan kepalang. Alhamdulillah masih diberikan kesehatan oleh Allah subhanahu wata'ala untuk menyelesaikan perjalanan ini dengan baik, sehat, selamat pergi dan pulang.

Sampai jumpa di tulisan saya berikutnya mengenai Australia, Insya Allah 👋👋👋.

Sumber:

Oktober 26, 2019

Gugusan Bintang di Labuan Bajo

Alhamdulillah, akhirnya tiba juga di daratan setelah dua hari terombang-ambing di lautan. Guide Sailing Komodo kemudian mengantarkan kita ke Sylvia Hotel & Resort Labuan Bajo. Untung juga memilih hotel bagus di malam terakhir. Selain bisa beristirahat, kita juga bisa menikmati pemandangan di sekitar hotel. Hotel ini menghadap ke laut dan kita bisa menikmati matahari terbenam langsung dari lobi hotel.
Matahari terbenam, tapi tertutup awan mendung
Seperti biasa, saya, Kakros, dan Debby sekamar bertiga. Debby duluan mandi, sedangkan saya dan Kakros bekerja sejenak. Setelah itu saya mandi juga. Huff setelah berenang di beberapa laut dan belum membilas badan lagi, akhirnya bisa mandi air panas sampai puas🥰. Yang lucu adalah efek terombang-ambing di lautan masih terasa. Sewaktu saya memejamkan mata ketika air dari keran shower mengguyur, rasanya seperti bergoyang. Saya sampai pegangan di sisi dinding kamar mandi karena takut terjatuh dan perasaan 'goyang' itu terus-terusan ada sampai sudah pulang ke Jakarta.

Setelah saya mandi, Kakros yang terakhir. Rasanya segar banget sudah bisa mandi cantik. Setelah semua mandi, kita pakai sweater atau jaket anti angin (takut masuk angin karena di pinggir pantai), lalu keluar dari kamar menuju resto tanpa dandan ataupun pakai apa pun di muka. Biarkanlah muka tanpa makeup atau pelembab sekali-kali setelah kena air laut dan panas matahari. Teman-teman cewek juga nggak ada yang pakai apa pun di muka. Kita keluar cari makan dengan muka seadanya😅.

Ternyata bukan cuma saya doang yang merasa 'goyang' sewaktu sedang mandi, tetapi teman-teman juga merasa begitu. Bahkan udah duduk di kursi dan mau memesan makanan saja kita masih terasa goyang😅. Segini banget kah efek kapal di laut dan jalan berkelok-kelok di Flores😅? Nggak apa-apa, yang penting senang. Kita terus ngobrol selagi makan sambil tertawa ngakak (menertawakan ke-absurb-an selama berlayar). Bahkan nggak ada satu pun dari kita yang memotret makanan untuk dokumentasi saking serunya mengobrol. 

Sampai akhirnya sudah pukul 10 malam, Kakros mengajak kita mencari Milky Way. Dia masih penasaran banget untuk mendapatkan foto Milky Way di Flores. Sebenarnya kami masih ada jadwal besok ke Rangko Cave jam 6 pagi🤪 yang membuat saya agak malas mencari Milky Way. Takut kurang tidur. Rezki sih sudah menyerah dan kembali ke kamar untuk tidur duluan. Sisa kita berempat. Kakros bilang, "Ya udah, kita nyari Milky Way-nya 15 menit aja, trus balik ke kamar deh." Saya rasa 15 menit waktu yang cukup untuk memotret bintang. Ngapain juga lama-lama 'kan?

Saya, Kakros, Debby, dan Satrio akhirnya pergi ke pinggir pantai. Saya memancangkan tripod dan mulai menghadap ke langit, mencari bintang-bintang yang berkerumunan. Sebagai informasi, tanda-tanda Milky Way terlihat adalah adanya kerumunan bintang di satu sisi yang bisa terlihat dengan kasat mata. Saya mulai memotret sekali, dua kali, dan melihat hasilnya dimana gugusan bintang ini Masyaaa Allahhh indah sekaliiii🤩. Sekalinya mendapat foto gugusan bintang yang indah, jadi ingin mencoba. Sekaligus mengajari teman-teman, lalu mereka masing-masing improvisasi sendiri sesuai dengan setting-an di kamera masing-masing.
Milky Way
Ada bintang jatuh, cobain lihat dengan seksama
Kita terus-menerus mengambil foto. Pindah posisi karena terkadang terkena lampu hotel, menyesuaikan cahaya yang masuk ke kamera, diskusi bareng-bareng, sampai-sampai tidak terasa sudah pukul 12.30 malam😱😱😱! Ya Allah, hal ini sangat mengasyikkan dan nggak terasa waktu berjalan begitu cepat. Apa juga tadi rencana mau 15 menit doang😱?? Kami langsung menyetop kegiatan mencari Milky Way dan membereskan peralatan. Kita kembali ke kamar masing-masing. Saya jadi merasa menemukan hobi baru semenjak mendapatkan foto Milky Way yang mungkin masih jauh dari kata sempurna. Jadi pengen banget ngetrip lagi ke tempat yang benar-benar nggak ada cahaya lampu, sehingga bisa mendapat foto lebih indah.
Betapa banyak bintang di langit
Sesampai di kamar, saya shalat dulu sedangkan Kakros dan Debby masih membahas keseruan mencari Milky Way tadi. Selesai shalat baru kami tidur. Bayangkan kita baru tidur jam 1 malam, lalu besok harus bangun jam 5.15 pagi untuk shalat Shubuh dan bersiap-siap ke Rangko Cave. Nanti akan saya posting lagi ya ceritanya. 

Sampai jumpa!

Oktober 22, 2019

Sailing Komodo Part 6 : Live on A Boat

Setelah bercerita panjang lebar tentang pulau-pulau di Kepulauan Komodo, pantai, dan tempat snorkeling, sekarang saya akan membahas bagaimana kehidupan selama menginap dua hari satu malam di kapal. Menjelajah Flores dan Kepulauan Komodo sebenarnya merupakan perjalanan saya bersama Rancupid Travel dalam rangka survey untuk mengetahui kondisi di lapangan bagaimana daerah Timur Indonesia dan memperkaya wawasan nusantara. Kita sudah riset (agar paham bagaimana medannya) selama kurang lebih 2 mingguan mengenai daerah ini sampai memutuskan untuk memulai perjalanan.

Untuk kapal, kita mencari-cari puluhan agen terpercaya dan me-lobi mereka untuk mendapatkan fasilitas yang oke dengan harga murah walaupun hanya terdiri dari 5 orang. Kebanyakan kapal mempunyai minimal penumpang, rata-rata 10 orang untuk kapal kecil dan 20 orang untuk kapal besar. Alhamdulillah kami mendapat agen kapal yang baik, murah, dan bisa hanya untuk 5 orang. Viro, guide yang menemani kita selama perjalanan pun sangat membantu. Bahkan mau membuatkan teh, kopi, dan mengambil foto-foto kita. Mereka juga menyediakan kue-kue🧁 untuk cemilan di kapal. Pokoknya kalian nggak akan kelaparan deh.

Pelayaran pun dimulai. Karena agak trauma dengan muntah parah banget di jalan menuju Bajawa, saya dan teman-teman minum antimo. Kita jadi nggak mabok sih, tapi bawaannya ngantuk sekali😴. Kakros bahkan tertidur pulas dalam kondisi terjemur dan baru bangun ketika makan siang. Cowok-cowok udah pada snorkeling di Manjarite pun Kakros nggak sadar😄. Kita memang kurang tidur, ditambah antimo malah bikin teler banget😴.
Mari makan guys
Habiskan semua
Waktunya makan siang. Kita disuguhi nasi, sayuran tumis, ikan, udang, dan terong. Tidak lupa pisang dan semangka sebagai makanan penutup. Menunya sederhana, tapi enak banget. Karena kita kecapekan mendaki di Pulau Kelor, dan cowok-cowok kecapekan berenang, jadilah kita makan dengan lahap. Memang sih saya dan teman-teman paling pantang menyisakan makanan. Semua makanan bisa kita makan sampai habis dan bersih. Awak kapal pun senang sekali karena makanan mereka bisa kita nikmati dengan lahap. 
Sambil mengobrol seru
Biasanya sesi makan adalah waktu yang tepat untuk ngobrol dan melihat-lihat foto yang baru diambil, seraya kapal terus berjalan ke Pulau selanjutnya. Destinasi kita setelah makan siang adalah Pulau Komodo dan Pulau Kalong. Baru kemudian kapal kembali berlayar menuju Pulau Padar untuk bermalam disana. Oh ya, setiap kapal menyediakan air tawar untuk mandi dan cuci muka, sedangkan air laut untuk toilet. Saya sempat salah membuka keran dan berwudhu dengan air laut. Duh aneh banget rasanya kumur-kumur dengan air laut. Mulut jadi kebas dan lidah keasinan😩.

Kami mengira bermalam di laut pasti bakalan kepanasan. Ternyata masalah yang kita hadapi adalah angin laut yang berhembus begitu kencang. Awalnya kita masih bertahan dengan memakai baju biasa, baru beberapa menit kemudian mulai nggak tahan. Kita semua sampai mengambil sweater atau jaket anti angin agar tidak kedinginan.
Kedinginan
Seperti biasa sesi makan adalah waktu mengobrol. Karena malam di kapal dengan suasana gelap gulita dan banyak bintang, yang bisa kita lakukan hanya mengobrol. Mau menikmati pemandangan udah nggak mungkin karena suasana gelap gulita. Kita masing-masing bercerita, bercanda, curhat, untuk mempererat pertemanan, tanpa gadget. Alasan sebenarnya nggak mau main hp karena sinyal agak susah dan kapal terlalu goyang. Mau melihat layar hp takut muntah. Mending ngobrol sama teman-teman sambil makan.
Makan malam
Setelah makan, karena kami semua berbisnis online, maka tiba waktunya untuk bekerja. Kita sudah mengecas laptop masing-masing sebelumnya dikamar ketika makan malam, supaya bisa dibawa ke dek kapal tanpa kabel-kabel yang bikin berantakan. Oh iya, untuk koneksi internet, yang paling kencang adalah Telkomsel. Provider lainnya nggak ada yang kuat di atas laut. Awalnya kita bekerja di atas meja, tapi karena harus konsentrasi membaca banyak hal di laptop, malah bikin pusing. Ombak pun mulai kurang bersahabat dan kita jadi harus buru-buru menyelesaikan pekerjaan sebelum pada muntah nantinya🤢.
Masih duduk awalnya
Akhirnya saya dan Satrio udah nggak kuat karena pusing😵, dan kami mulai berbaring sambil menaruh laptop diatas perut. Posisi tiduran lumayan meredakan mabok laut, tapi kita jadi sulit bekerja. Kalau mau mengetik dengan dua tangan, laptop harus disandarkan ke meja. Tidak jarang saya mengetik dengan satu tangan dan jadilah lama sekali pekerjaan kita selesai.
Posisi bekerja
Serius!
Akhirnya kami pun menyerah dan menutup laptop. Kita menaruh laptop di kamar masing-masing, lalu mengambil kamera. Bintang banyak banget dan beberapa ada yang membentuk rasi bintang. Mending belajar memotret bintang aja daripada ngerjain kerjaan😅. Kita juga mau sekalian belajar mengambil Milky Way. Sayangnya, memotret bintang di atas kapal tidak akan pernah berhasil. Mau sehebat apa pun fotografernya, memotret bintang harus diatas tanah datar tanpa ada goyangan sedikit pun. Pukul 12 malam lebih, kita masuk kamar dan tidur. Debby sepertinya udah ketiduran sejak jam 9 malam, sedangkan saya dan Kakros pasti tidur telat. Sempat agak pusing tidur dalam kondisi goyang-goyang, tapi rasa ngantuk mengalahkan semua itu.
Kamar cowok
Susah mengambil semua ruangan karena nggak difoto pakai GoPro
Kamar cewek-cewek
Besoknya, kami sarapan nasi goreng dan telur dadar sebelum mendaki bukit di Pulau Padar untuk mengisi tenaga. Kita makan banyak untuk sarapan karena tau bakalan mendaki ratusan anak tangga (lagi). Ketika turun dari bukit di Padar, kami membeli kelapa muda dan terheran-heran dengan rasa air kelapanya yang manissss banget. Sepertinya ini air kelapa termanis yang pernah saya minum selama saya hidup dengan daging buah yang lembut, sehingga gampang dimakan pakai sendok.
Menu sarapan
Menikmati kelapa manisssss banget
Setelah puas bermain dan berenang di Taka Makassar, kita pulang ke Labuan Bajo. Ntah karena terlalu lelah dan ombak tinggi, perjalanan 2 jam itu sangat membuat saya mabok laut. Saya sampai harus shalat sambil tiduran saking pusingnya karena kapal berayun.  Beberapa teman masih pada berfoto di atap kapal, sedangkan saya sudah terlalu pusing. Sempat minum antimo sih sewaktu makan siang, tapi efeknya bikin jadi ngantuk banget. Setelah shalat, saya ambil handuk dan menyelimuti diri sambil tiduran di dek kapal. Saya tidur sejenak dengan sangat nyenyak. Mana suasana di laut mendung, jadi enak banget tidurnya.
Mendung di tengah laut
Sekitar pukul 6 sore, kami merapat di Labuan Bajo. Alhamdulillah, akhirnya ketemu daratan juga. Barang-barang kita diturunkan semua dan kita berpamitan pada awak kapal juga Viro yang telah melayani dan menjaga kita selama perjalanan. Terima kasih banget untuk pelayanan yang kalian berikan😉. Kita juga bilang sama mereka bakalan ngeganti alat snorkeling yang sudah tenggelam di Pink Beach.

Malam ini kita akan menginap di SYLVIA HOTEL & RESORT. Nanti saya akan menuliskannya lagi ya. Sampai jumpa!

Oktober 17, 2019

Sailing Komodo Part 5 : Snorkeling and Pink Beach

Agak pusing memikirkan antrian postingan blog masih mengular naga panjangnya. Kalau nggak ditulis takut lupa. Kalau mau nulis, terlalu banyak pekerjaan yang harus diselesaikan yang akhirnya ngeblog jadi tertunda. Semoga semua postingan selesai di tahun 2019 juga supaya nggak menumpuk lagi di tahun depan. Belum lagi banyak rencana yang akan terealisasi dan 'harus' ditulis di blog juga. Ahh, memikirkannya saja sudah pusing😵😵😵.

Setelah puas membahas pulau-pulau di Kepulauan Komodo, sekarang waktunya membahas perairan. Sejak pertama kali naik kapal sampai besoknya saya nggak mandi karena berpikir bakalan mandi di beberapa laut. Lagian saya agak malas mandi di kapal dengan suasana goyang-goyang dan terombang-ambing. Masih bertahan untuk nggak mandi sampai hotel aja nanti. Walaupun demikian, saya tetap cuci muka dan sikat gigi kok. Hehehe😬. Baiklah, mari disimak beberapa spot snorkeling dan berenang berikut ini.

1. Pulau Manjarite
Manjarite merupakan nama sebuah pulau tak berpenghuni dan pulau kedua yang kami kunjungi setelah Pulau Kelor. Pulau tersebut memiliki tepi laut yang amat jernih, arus tidak terlalu kencang, dan hanya sedikit gelombang. Namanya memang belum terkenal bila dibandingkan Pink Beach, Batu Bolong, atau Taka Makassar, yang juga terdapat di Kepulauan Komodo. Mungkin karena Manjarite lebih ramah untuk snorkeling pemula, dibanding yang lain. 

Karena masih hari pertama dan agak ribet harus ganti baju renang, jadinya saya dan teman-teman cewek lainnya memutuskan untuk nggak snorkeling. Kalau cowok-cowok kan enak tinggal buka baju langsung masuk ke laut. Kalau cewek, apalagi yang menggunakan jilbab seperti saya harus banyak bongkar pasang. Mana baju renang cuma satu lagi yang saya bawa. Saya memberikan kamera GoPro kepada Rezki dan Satrio. Terserah deh mereka mau memotret atau merekam video sebanyak apa. Mereka udah siap-siap loncat dan berenang bersama Viro (guide). Viro sudah membawa beberapa helai roti yang katanya untuk memberikan makan ikan. Jadi teringat sewaktu snorkeling di Belitung dimana kita juga memberikan makan ikan.
Diserbu ikan
Lautnya tenang
Dari laporan teman-teman cowok, Manjarite merupakan spot yang banyak ikan. Walaupun terumbu karangnya agak sepi, tapi ikannya sangat banyak. Kalau mengeluarkan roti, semua ikan langsung menyerbu tangan kita. Bahkan tangan pun jadi digigit ikan😅. Saya dan Debby hanya melihat cowok-cowok dari kapal. Kalau Kakros sedang tidur dengan nyenyak sambil berjemur. Mungkin karena efek antimo, hahaha😂.

2. Pantai Merah Muda (Pink Beach)
Setelah dari Pulau Padar, tujuan wisata selanjutnya adalah Pink Beach. Sesuai namanya, pantai disini memiliki warna merah muda. Kalau kalian pernah ke Pink Beach di Lombok NTB, mungkin bisa sekalian mengunjungi pantai pink di Kepulauan Komodo, NTT. Selain itu, pantai ini juga termasuk salah satu dari 7 pantai di dunia yang memiliki pasir berwarna merah muda. Pantai-pantai lainnya adalah di Bahama, Bermuda, Filipina, Italia, Kepulauan Karibia dan Yunani. Tentunya kita tidak perlu jauh-jauh ke luar negeri untuk menyaksikan keindahan pantai berpasir pink karena ada di negara kita tercinta. Tampilannya persis sama seperti pantai-pantai merah muda di negara-negara lain tersebut.
Kegirangan di pantai pink
Santai🏖️
Sebagian orang mengatakan bahwa warna pasir pantai disebabkan oleh salah satu hewan mikroskopik bernama foraminifera yang hanya bisa diamati dengan mikroskop. Hewan ini menyebabkan warna merah pada terumbu karang. Namun ada pula yang mengatakan bahwa hal ini disebabkan terumbu karang merah yang hancur atau cangkang hewan laut. Kalau menurut saya, penyebabnya adalah terumbu karang merah karena kami sempat menemukannya beberapa kali. Hanya saja sewaktu snorkeling, nggak keliatan dimana terumbu karang merah di dasar laut. Mungkin harus menyelam lebih dalam lagi.
Butiran-butiran pink di pasir
Pantai Pink ini relatif sepi dan tenang, sehingga terasa seperti pantai milik pribadi. Hal ini dikarenakan pantai ini tak berpenghuni dan termasuk kawasan liar tempat tinggal para komodo. Karena itu kalian perlu berhati-hati ketika mengunjungi pantai ini jangan sampai bermain terlalu jauh, takutnya ketemu komodo. Saya hanya bermain disekitar pantai. Bahkan teman-teman serta awak kapal pada melompat dari atas dek kapal, dan saya dipercaya menjadi juru kamera😅. Kalau saya melompat juga, siapa yang ngambil foto nantinya? 
Bermain di sekitar kapal
Meloncat dari kapal
Selesai melompat sana-sini, waktunya snorkeling. Kalau dibandingkan di Pulau Menjangan Bali, terumbu karang di Pink Beach tidak begitu bagus. Tidak terlalu banyak variasi warnanya. Ikan-ikan pun agak sedikit, masih lebih banyak di Pulau Manjarite. Mungkin memang Kepulauan Komodo lebih bagus untuk para penyelam atau free diving di kedalaman 10-15 meter. Duh, ntah karena faktor usia dan pernah beberapa kali hampir tenggelam dan terbawa arus, jadi agak serem mau free diving. Padahal dulu di Kepulauan Derawan, saya nggak capek-capek berenang😆😆.
Terumbu karang
Variasi warnanya sedikit
Oh ya, sewaktu selesai berenang, Satrio menaruh alat snorkeling di pinggir pantai dan ntah kenapa tiba-tiba menghilang. Mungkin terbawa ombak. Jadilah teman-teman serta awak kapal berusaha mencari sebisa mungkin. Sebenarnya saya udah mau bilang, nggak usah dicari lagi, biar kita ganti aja. Tapi Viro tetap bersikeras untuk mencari dan berakhir nihil. Kan jadi buang-buang energi. Terlalu sulit mencari benda sekecil alat snorkeling dibanding lautan seluas ini. Akhirnya mereka nggak nyari lagi dan naik ke kapal.

3. Taka Makassar
Destinasi berenang terakhir adalah Pulau Taka Makassar masih di Kepulauan Komodo, bukan di Makassar😀. Pulau kecil ini memiliki struktur berupa hamparan pasir putih yang diselingi dengan rerimbunan ilalang di bawah laut. Karena ukurannya yang sangat kecil, pulau ini hanya muncul ketika air laut tengah surut. Sementara itu, ketika air pasang, permukaannya bakal tertutupi oleh permukaan air laut. Saya agak takut ketika kapal parkir agak jauh dari pulau. Pas waktu saya masuk ke laut, ternyata arusnya kencang banget membuat saya jadi tambah takut. Memakai pelampung pun bukan solusi kalau arus deras. Malah kebawa arus barengan sama pelampung.
Air sangat jernih
Akhirnya Kakros meyakinkan saya untuk turun dan dia akan menemani saya seraya berenang. Viro juga ikutan berenang bersama saya. Barulah saya mencoba turun dan beberapa kali saya terbawa arus, tapi tetap berpegangan pada Viro dan Kakros. Sampai akhirnya Viro keram dan minta tolong😨😨😨😨. Saya dan Kakros terdiam, sedangkan Viro dengan sekuat tenaga berenang ke kapal lain. Awak kapal langsung sudah bersiap untuk menolong Viro sampai dia akhirnya bisa naik ke kapal dan beristirahat. Saya jadi tambah takut deh😨. Tapi akhirnya Rezki datang membantu Kakros membawa saya ke Pulau. Duh, kalau diingat-ingat, sangat dramatis pada saat itu.
Taka Makassar
Taka Makassar biasa disebut juga Pulau Gosong atau pulau yang tidak jadi. Rumput dan ilalang merupakan satu-satunya penghuni pulau kosong ini. Sebenarnya kalian bisa snorkeling lebih dalam bahkan bertemu dengan Pari Manta. Hanya saja karena arus laut yang kencang dan Pari Manta baru bisa ditemui di kedalaman diatas 5 menter, kami tidak boleh berenang disana. Kita menuruti saja apa kata Viro daripada nanti terjadi hal-hal tidak diinginkan seperti terbawa arus.
Mari berenang
Walaupun sudah duduk-duduk cantik di Pulau, arus laut tetap kencang di pinggir pantai. Saya berusaha berenang untuk mengalahkan takut. Ehh, tanpa sadar selalu terbawa ke tengah laut. Duh, udahan deh berenangnya. Saya main di pantai aja sambil luluran, hehehe🤭. Saya dan teman-teman beberapa kali menemukan terumbu karang merah yang belum hancur. Sepertinya memang terumbu ini yang menyebabkan pantai menjadi berwarna pink.
Serpihan terumbu karang pink
Kejernihan air laut
Setelah puas bermain, sudah waktunya kembali ke kapal. Saya langsung merasa takut lagi karena harus berenang lagi. Untungnya awak kapal akhirnya bisa menjemput kami ke bibir pantai tanpa harus berenang jauh. Fiuhhh, lega banget rasanya. Kayaknya saya harus menjadwalkan waktu untuk belajar berenang di laut lagi seperti dulu. Kayaknya sekarang sudah merasa takut banget snorkeling ntah kenapa. Padahal di Menjangan Bali dua tahun yang lalu masih berenang tanpa pelampung. Mengapa oh mengapa😱😱😱! Tapi hal ini tidak akan membuat saya gentar. Tunggu saja sampai saya jago berenang dan free diving lagi. Aminnnn🤲.

Follow me

My Trip