Desember 12, 2017

Bromo and Its Wonder

Matahari terbit merupakan salah satu keindahan ciptaan Allah SWT yang paling saya sukai ketika sedang melakukan perjalanan kemana pun. Mungkin karena kebiasaan bangun shalat Shubuh yang terkadang nggak bisa tidur lagi, jadi deh mencari sunrise indah. Apalagi di Bromo kala itu, sinar mentari sedikit demi sedikit mulai menyapa kita dan menyinari seluruh gunung Bromo yang sedang berkabut sangat tebal. Subhanallah indahnya! 
Bromo dengan kabut tebal
Mentari menyinari kabut
Supir Jeep bilang, pemandangan Bromo disinari mentari pagi itu sebenarnya sudah biasa. Yang luar biasa hari itu adalah kabut yang begitu tebal sehingga membuat kita seolah-olah berada di negeri diatas awan dengan puncak-puncak kawah gunung Bromo dan pegunungan lainnya menyembul dari kabut tebal. Tahun lalu saya ke Bromo, nggak ada view seindah ini karena nggak ada kabut sama sekali. Alhamdulillah masih diberikan kesempatan untuk menikmati pemandangan yang bikin awet muda saking cantiknya😍.
Betapa indahnya
Setelah 2 jam menikmati pemandangan, kami turun dari Bukit Cinta (Penanjakan 2). Saya kebelet pipis dan terpaksa mencari toilet terdekat yang harganya Rp. 5,000😱. Mahal bener?? Saya dan teman-teman bertiga menawar ke yang punya toilet supaya bisa bayar Rp. 10,000 untuk tiga orang dan berhasil. Gile ya, mau pipis aja harus tawar-menawar seperti di pasar. Selesai dari toilet, kami kembali naik Jeep dan memulai perjalanan turun. Ada satu tempat lagi yang pemandangannya sangat cantik dan kami minta supir jeep untuk berhenti sejenak sekedar untuk mengambil foto. Dari sini kabut sangat tebal terlihat sangat cantik. Masya Allah!
Cantiknya😍
Untuk mengejar waktu, kami akhirnya turun ke kaki gunung Bromo. Ini adalah pengalaman pertama saya karena tahun lalu nggak bisa turun disebabkan oleh gunungnya sedang aktif. Alhamdulillah kawasan gunung Bromo kemarin aman banget sehingga kami turun ke kaki gunung yang berpasir menggunakan jeep dimana kabut masih tebal banget. Kiri kanan nggak terlihat apa-apa dan jarak pandang mata kita pendek banget. Jeep nggak bisa melaju kencang karena takut nabrak orang yang nggak terlihat di dalam kabut. Baiklah, saya akan menuliskan cerita di Bromo point to point biar rapi. Mari disimak!

1. Kawah Gunung Bromo
Ketika sampai di parkiran Jeep, udah banyak banget pawang yang menawarkan kita untuk naik kuda menuju kawah Bromo. Berhubung udah capek jalan kaki, ya udah deh bayar Rp. 100rb untuk menunggang kuda pulang-pergi lumayan murah juga. Jarak dari parkiran jeep ke kawah gunung Bromo itu 2 km belum lagi jalannya menanjak. Haduwh, udah lelah trekking Ijen dan snorkeling Menjangan, mending naik kuda aja kali ini.
Kabut tebal dan bersiap menanjaki Bromo
Perjalanan 2 km dilihat dari kaki lereng gunung
Sebenarnya naik kuda itu seram banget untuk saya yang belum terbiasa. Memang sih pawang kuda selalu berada di dekat saya dan selalu menenangkan saya dengan bilang, "Nggak apa-apa, Mbak! Santai aja." Saya malah selalu merasa kayak mau jatuh ke kiri atau kadang mau jatuh ke kanan. Mana kuda saya tinggi banget karena pernah diikutin pacuan jadi gagah banget. Memang kalau mau berfoto dengan kuda saya sih keren banget. Tapi untuk menungganginya serem banget deh, percaya sama saya😰. Apalagi sewaktu jalanan menanjak, badan kita harus agak maju ke depan, sedangkan untuk jalan menurun harus tegak. Kebayang kalau kiri kanan jurang? Tapi lama-lama saya jadi nggak takut lagi sih, jadi santai, mungkin udah terbentuk chemistry antara saya dan kuda😆.
Parkir kuda, baek-baek ya jangan kabur!
Sampai di kaki kawah, kuda di parkir, dan saya melanjutkan berjalan kaki menaiki puluhan anak tangga ke kawah Bromo. Ngeliat tangga sebanyak itu juga udah lelah duluan, tapi kalau nggak naik nanggung banget. Udah tinggal satu kawah ini saja yang harus ditaklukan, lalu selesailah trip mendaki gunung di tahun ini. Saya suruh Kakros dan Dana naik duluan nggak usah nungguin saja karena saya mau naik pelan-pelan aja. Tinggi banget tangganya😵. Saya naik perlahan-lahan, istirahat, trus naik lagi, melipir lagi bareng nenek-nenek bule'😅. Baru sekitar setengah perjalanan, napas saya udah beradaptasi dan saya bisa langsung melanjutkan naik tangga tanpa berhenti ke kawah.
Tangga menuju kawah
Baru setengah perjalanan
Selama menaiki anak tangga, saya mendengarkan dentuman hebat dari dalam kawah yang menandakan kawah aktif. Suaranya seperti BOM dan seram banget. Lebih seram lagi sewaktu saya sampai di kawah dan melihat ke dalam kawah, lutut langsung lemas dan kaki mendadak nggak bisa bergerak saking gemetarannya. Ada rasa ketakutan bakalan jatuh ke kawah karena mendengar suara deru kawah yang sangat menyeramkan. Mana pagar pembatas kawah tinggal selutut (dulu pagar katanya lumayan tinggi) efek tahun lalu gunung Bromo menyemburkan lahar dan pasir. Jadilah pasir-pasir itu menimbun pagar sehingga jadi terbenam setengahnya.
Kawah aktif, serammmm 😖😖😖😖
Saya mencoba berjalan ke kanan kawah tapi terlalu banyak orang. Saya coba ke sebelah kiri beberapa langkah, tapi tiba-tiba kaki saya beku lagi karena melihat nggak ada pagar di sekitar mulut kawah. Saya melihat Kakros juga mendadak ketakutan dan kakinya beku juga. Saya sampai minta dipegangin sama orang-orang disitu untuk membantu saya turun dari mulut kawah. Seram banget! Jantung rasanya mau copot. Heran juga melihat bule' jalan dengan santainya di mulut kawah. Mungkin karena saya dan Kakros cewek-cewek jadi kami nggak santai. Harusnya ada cowok (Dana) tapi ntah kemana dia.
Menelusuri mulut kawah
Nggak ada pagar😖😖😖
Akhirnya saya dan Kakros turun dari mulut kawah karena tampaknya sudah tidak memungkinkan kaki kami berdua gemetaran terus. Sempat nyariin si Dana lagi, tapi tetap nggak ketemu. Sambil nungguin Dana, saya sempat foto-foto dari atas karena pemandangannya Masya Allah indahnya. Alhamdulillah selesai naik dua kawah gunung di Indonesia tahun ini dan saya nggak menyangka bisa berhasil mengingat saya 'kan asma dan pendakian gunung itu nggak begitu bersahabat dengan orang-orang penderita asma.
Alhamdulillah berhasil mendaki sampai 2 kawah
Sampai di parkiran kuda, saya dan Kakros langsung naik dan memutuskan untuk menunggu Dana di dekat Jeep aja. Kisah horor lainnya adalah menunggangi kuda di jalan menurun dari mulut kawah. Duh, rasanya mau jatuh terus dan saya terus-menerus teriak. Pawang kuda selalu menyuruh saya santai tapi nggak bisa banget. Gimana mau santai kalau kudanya aja seperti mau membawa saya lari. Untung gengsi mengalahkan ketakutan jadi saya masih mencoba santai supaya nggak diketawain orang-orang disekitar. 
Keren banget kan kuda saya
Detik-detik sebelum digigit kuda
Oh ya, ada kejadian absurd lainnya. Sewaktu mau berfoto dengan Kakros dan kudanya, selesai kamera di jepret, kuda Kakros langsung berdiri dan menggigit lengan kanan saya. Saya sempat teriak trus langsung memastikan kalau Kakros nggak jatuh dari kuda. Alhamdulillah Kakros baik-baik aja dan untung juga gigi kuda itu semuanya gigi seri, jadi hanya terasa nyeri di tulang. Saya sempat bertanya, "Ini tulang saya patah nggak ya?" Karena langsung memar dibagian yang digigit. Pawang bilang, "Pakai ludah kuda aja di bagian yang memar." Sambil merasa jijik, saya mengoleskan ludah kuda di kulit saya. Untung juga saya pakai jaket kulit yang lumayan tebal, jadi nggak terlalu kena ke tangan saya langsung. Tangan kanan sempat gemetaran, tapi cuma beberapa menit. Setelah itu, saya sembuh. Kayaknya proses kesembuhan di tubuh saya lumayan cepat, hihihi😆.
Dana gaya hero
Tidak lama kemudian, Dana pun datang dengan mengendarai kuda (berasa kayak pahlawan😄😄😄). Dana protes nggak ada yang fotoin dia, jadi terpaksa kami foto-foto dulu sebelum naik Jeep. Setelah itu baru melanjutkan perjalanan ke Pasir Berbisik.

2. Pasir Berbisik
Awal mula sejarah nama pasir Berbisik Gunung Bromo adalah karena tenarnya sebuah film karya Garin Nugroho yang dibintangi Dian Sastro bernama Pasir Berbisik. Kenapa 'berbisik'? Karena ditempat ini jika angin sedang bertiup kencang, deru angin akan membawa butiran-butiran pasir sehingga terdengar seolah sedang membisikkan sesuatu. Untung bukan angin ribut😂. Suara bisikan tersebut akan terdengar jelas pada saat musim kemarau yang menjadikan padang pasir ini menjadi sangat kering. Pasir dan debu naik semua kalau tertiup angin.
Gaya candid dulu
Pasir berbisik ini tempat yang paling keren kalau kalian mau balapan mobil jenis Jeep atau Ranger karena luas banget sejauh mata memandang. Apalagi kalau nyetirnya kencang, pasir-pasir ikutan naik keatas seiring roda mobil berputar. Tempat ini juga salah satu lokasi paling keren untuk mengambil foto. Ntah udah berapa puluh gaya disini sampai udah nggak tau lagi mau bergaya seperti apa lagi.
Gaya dulu
Behind the scene
Kece kan kita?
Kami nggak terlalu banyak melakukan aktifitas di Pasir Berbisik selain foto-foto doang. Perjalanan pun dilanjutkan ke Bukit Teletubbies.

3. Bukit Teletubbies
Pasti kalian pernah nonton Teletubbies yang diperankan oleh Tinky-Winky, Dipsy, Laa-Laa, dan Po di tahun 90an. Hamparan padang rumput berwarna hijau muda dan bukit yang berjajar indah yang ditumbuhi rerumputan menyelimuti perbukitan persis seperti di film Teletubbies. Oleh karana itu bukit ini di namakan Bukit Teletubbies.
Bukit Teletubbies
Dana diantara padang ilalang
Bukit Teletubbies sangat menawan dengan disertai padang savana dibawahnya membuat lokasi ini sering jadi tujuan penting bagi para fotografer. Bahkan katanya beberapa kali lokasi ini menjadi lokasi foto pre-wedding karena memang situasinya romantis dan menawan. Kalau mau menjelajah mengeksplorasi bukit-bukit, kalian bisa menyewa kuda. Berhubung saya baru aja digigit kuda, agak menjaga jarak dulu dengan mereka.
Kakros, laporan konsol udah bikin?
Bagaimana menurut kalian Gunung Bromo? Bagus banget kan pemandangannya. Kalau kalian sedang berada di Malang, jangan lupa menjadwalkan perjalanan ke Gunung Bromo karena kalian nggak akan menyesal dengan pemandangannya. Sekitar pukul 9.30 pagi, kami menyudahi perjalanan kali ini dan kembali ke Jeep. Masih kepikiran belum check out Hotel di Malang jadinya terpaksa harus buru-buru sampai hotel sebelum jam 12 siang. Perjalanan dari Bromo ke Malang memakan waktu lebih dari 2 jam (saya tidur aja😴 di sepanjang perjalanan), belum lagi di kota Malang sendiri udah macet. Turun dari Bromo ke Malang masih dengan kaos dan celana thermal di dalam baju jadi berasa gerah banget. Saya udah keringetan dari ujung rambut sampai ujung kaki. Kami tiba di Hotel jam 12 siang kurang sedikit, lalu meminta untuk late check out jam 1. Kami hanya punya waktu untuk mandi dan beres-beres satu jam saja tapi cukup kok. Keburu keramas juga karena rambut udah lepek banget.

Jam 1 siang, kami langsung pesan Go-Car ke bandara. Rencananya mau makan di sekitar hotel tapi takut nggak keburu dan akhirnya memilih untuk makan siang di bandara saja. Alhamdulillah trip kali ini selesai dengan baik. Akhirnya saya bisa mendaki 2 kawah sekaligus. Capek banget dan kurang tidur tapi terbayarkan dengan pemandangan sangat indah di sepanjang perjalanan bareng Rancupid Travel kali ini.

Baiklah, setelah ini saya akan memposting tentang umroh. Ditunggu ya~~~

Sumber:

Desember 07, 2017

Perjalanan Menuju Bromo

Perjalanan bersama agen dan Rancupid Travel berakhir di Ijen. Peserta trip bakalan dipulangkan ke meeting point mereka masing-masing. Berhubung saya dan Kakros memulai trip dari Banyuwangi dan sebenarnya kami mau balik ke Malang, jadi kami bakalan diturunin di Probolinggo agar bisa naik bus sendiri untuk melanjutkan perjalanan ke Malang. Agen trip sudah menawarkan menggunakan jasa mereka saja ke gunung Bromo karena agak nanggung kalau balik ke Malang lagi. Sayangnya harga trip dari mereka mahal banget Rp. 600rb. Memang sih kita jadi bisa menghemat waktu karena dari Probolinggo langsung dioper ke agen travel Bromo sekalian menginap di kaki gunung Bromo seperti tahun lalu. Tapi karena saya sudah booking hotel di Malang, pesawat pulang ke Jakarta juga dari Malang, dan sudah membook agen trip lainnya ke Bromo hanya dengan harga Rp. 275rb saja, mending balik ke Malang aja deh.

Di Pos Paltuding (kaki Gunung Ijen), kami mengucap salam perpisahan dan mulai masuk ke mobil sesuai arah masing-masing. Saya satu mobil dengan anak-anak ABeGe yang nggak tidur sepanjang jalan. Kuat banget ya? Mana mereka modusin Dana (salah satu karyawan saya) dan membujuknya untuk nggak usah masuk kantor karena kecapekan. Saya dan Kakros sih tidur sepanjang jalan karena rasa ngantuk udah nggak bisa ditoleransi. Kami bangun sewaktu mobil berhenti di tempat makan. Bingung juga ini sarapan apa makan siang karena udah jam 10. Saya makan lumayan banyak karena lapar, lalu ke toilet. Beberapa peserta trip sempatin mandi segala karena memang toilet umumnya banyak dan bisa untuk mandi. Saya sih males banget mau ngeluarin baju lagi dari koper. Mending nanti aja mandi kalau sudah sampai ke Malang. Oh ya, sampai di tempat makan pun agen masih membujuk saya dan teman-teman untuk ikut trip mereka saja ke Bromo, padahal udah berapa kali dibilang kalau saya udah book agen trip lain.

Istirahat di tempat makan lumayan lama dan kami baru jalan jam 11.30 atau jam 12 kurang dikit deh. Saya sampai ke Probolinggo sekitar pukul 3 sore dan kami diberhentikan di terminal Bus. Sebenarnya saya nggak tau juga bagaimana cara ke Malang dari Probolinggo. Dapat informasi dari Google kalau bisa naik bus dari terminal, ya udah kami cobain aja. Kami menunggu 5 menit, bus menuju Malang pun datang. Koper kami dimasukkan ke bagasi, baru kami naik ke bus. Kita cuma bisa mengisi kursi kosong dan nggak satu deret juga. Saya bertanya pada mbak yang duduk di sebelah saya berapa ongkos ke Malang? Dia bilang Rp. 30,000 dan memang di tiket bus ada tertera tarifnya. Dulu sewaktu saya menyusuri Jawa Tengah, setiap bus yang saya naiki pasti ongkosnya beda-beda melulu. Kalau dilihat muka kita bukan orang Jawa (berhubung wajah saya nggak ada Jawa-jawanya), pasti saya akan membayar tarif bus lebih mahal.

Perjalanan dari Probolinggo ke Malang memakan waktu 2 jam dan saya nggak bisa tidur lagi. Mungkin karena agak takut kelewatan terminal di Malang, atau karena udah kebanyakan tidur😅. Sebenarnya tidur di mobil tetap aja nggak enak. Sampai di terminal, saya, Kakros, dan Dana turun. Kami mulai bingung mau naik apa ke hotel yang ternyata lumayan jauh dari terminal. Iseng-iseng cek Go-car ternyata tarifnya nggak mahal-mahal amat. Ya udah deh, langsung dipesan. Di mobil, kami semua ketiduran lagi karena mungkin mobilnya nyaman. Sekitar 30 menit, baru kami sampai ke hotel. Sengaja book hotel bintang 4 dengan view menghadap kolam renang karena dapat voucher dari tiket.com. Rasanya sampai ke hotel itu senang banget. Bisa mandi puas, bisa tiduran sejenak juga, bahkan Dana menyempatkan diri untuk berenang.

Selesai semua mandi, kami keluar hotel untuk mencari makan malam. Udah Googling makanan khas Malang, eh malah tutup. Jadilah kami jalan kaki menyusuri beberapa Cafe dan warung makan pinggir jalan untuk kulineran. Awalnya mampir di Cafe lucu seperti di Bandung, tapi porsi makanannya terlalu sedikit. Berhubung kita kecapekan mendaki Ijen dan nanti malam bakalan melanjutkan perjalanan ke Bromo, jadi saya mewajibkan diri ini untuk makan banyak. Alhasil, saya dan teman-teman masuk ke Cafe satu, keluar, masuk Cafe lain lagi, keluar, dan dilanjutkan beli cemilan.

Setelah puas makan, kami balik ke hotel. Agen bilang bakalan menjemput kami jam 12.30 dini hari, jadi jam 9 malam saya udah tidur. Lumayan dapat tidur 3 jam, bangun, sikat gigi, cuci muka, dandan (kali ini bingung lagi mau pakai krim pagi apa malam), lalu bersiap-siap. Kami membawa barang seperlunya saja dan nggak usah check out terlebih dahulu dari hotel. Mobil jeep agen Bromo menjemput kami pas di depan hotel, lalu langsung meluncur dengan sangat kencang menuju Bromo. Untung saya bawa bantal leher, jadi di dalam jeep saya bisa tetap tidur dengan sangat nyenyak tanpa terganggu sedikit pun. Lain halnya dengan Kakros dan Dana yang nggak bisa tidur karena mereka terpental-pental ke segala arah di dalam Jeep yang super ngebut. Mereka sampai sirik dengan saya yang bisa tidur senyenyak itu. Maaf kawan-kawan, saya sudah terlatih tidur di segala situasi dan kondisi😅😅😅.

Setiba di pintu masuk Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Jeep diparkir sejenak karena menunggu jam 3 pagi baru masuk. Saya bangun dan melihat jam tangan masih menunjukkan pukul 2. Supir bilang, kalau mau ke toilet sekarang aja karena nanti diatas gunung malah susah. Saya buka pintu Jeep dan udara super dingin langsung menyeruak masuk. Saya buru-buru menutup pintu karena kedinginan. Terpaksa pakai jaket thermal, baru bisa keluar. Air di toilet juga nggak kira-kira dinginnya, mana tarif toilet Rp. 3,000😯. Setelah dari toilet, kami mampir ke warung dulu untuk ngemil dan minum minuman penghangat tubuh sekedar menghabiskan waktu sampai pukul 3. Sekalian Dana mau sewa jaket juga karena jaket dia ternyata nggak mampu menahan dingin.

Pukul 3 pagi, Jeep pun masuk ke kawasan Taman Nasional. Teringat setahun yang lalu saya pakai ojek yang membuat pantat dan pinggang pegal banget karena jalanan sangat menanjak, ditambah udara dingin menusuk tulang. Alhamdulillah tahun ini bisa pakai jeep dengan nyaman dan murah. Oh ya, tahun ini kami kurang beruntung nggak bisa ke Penanjakan 1 (tempat terbaik untuk melihat matahari terbit di Gunung Bromo) karena sedang renovasi, jadi cuma bisa sampai Penanjakan 2 yang bernama Bukit Cinta. Memang kalau mau melihat gunung Bromo lebih dekat di Penanjakan 2, tapi pemandangan paling spektakuler itu di Penanjakan 1.

Kami turun dari Jeep dan menaiki tangga. Di pinggir pagar gunung sudah penuh dengan orang-orang duduk untuk menunggu matahari terbit. Kami menyewa kursi untuk dinaiki agar bisa melihat dan mengambil gambar tanpa tertutupi kepala-kepala orang. Sekitar satu jam menunggu, muncullah matahari dari sebelah kiri dengan cahaya yang sangat menakjubkan berpendar bewarna jingga. Ditambah kabut tebal seperti awan perlahan disinari mentari. Subhanallah indahnya😍😍😍.
Matahari terbit menyinari kabut tebal
Sesungguhnya ciptaan Allah itu begitu indah, ya? Nanti saya posting cerita lengkap di gunung Bromo dan sekitarnya. Sampai jumpa!

Desember 04, 2017

Kawah Ijen

Melanjutkan cerita eksplorasi Jawa Timur saya sebulan yang lalu. Sekitar jam 9.30 malam, agen mengantarkan para peserta trip ke penginapan masing-masing. Tidak lupa agen bilang kalau mereka bakalan menjemput kita pukul 12 malam. Hah?😨 Serius? Ini kita cuma punya waktu 2 jam untuk tidur karena pasti sampai penginapan beres-beres dulu. Mana rambut saya masih basah karena belum sempat mengeringkan pakai hair dryer setelah mandi bebek (bilas badan sewaktu pulang dari Snorkeling di Pulau Menjangan). Mau 'gimana lagi, nggak mungkin juga membantah agen dan memang kita harus jalan ke Kawah Ijen itu pada malam hari agar bisa melihat fenomena blue fire sebelum matahari terbit. 

Setelah meng-hair dryer rambut, memasukkan barang yang nggak perlu ke dalam koper, saya pun tidur. Kakros udah tidur duluan dari tadi. Jam 11.30 malam, kamar saya diketuk oleh agen dan saya menyahut, "Iyaaa, Mas!" Langsung buru-buru cuci muka dan sikat gigi, sambil terus bangunin Kakros. Mau dandan juga bingung nih. Mau pakai krim malam, tapi kami bakalan sampai besok pagi. Mau pakai krim pagi, ini masih malam. Ya udah deh, akhirnya cuma pakai sunblock (padahal masih malam), foundation, bedak, eyeliner, mascara, dan lipstik, trus pakai kerudung. Tidak lupa pakai kaos thermal karena katanya Gunung Ijen itu dingin banget. Urusan dandan cuma menghabiskan waktu 5 menit saja.  Oh ya, saya juga minum obat sesak napas karena pendakian kali ini katanya sangat berat. Saya keluar kamar sambil membawa koper dan semua barang karena kami memang harus langsung check out. Untung bawa bantal leher, jadi bisa tidur nyenyak di mobil.

Pukul 2 malam, kami sampai ke Pos Paltuding yang berada di kaki Gunung Ijen. Saya masih ngantuk banget tapi harus turun dari mobil. Udara di kaki gunung ini dingin, tapi saya belum mengeluarkan jaket thermal. Kami semua disarankan untuk menyewa respiratory mask (masker untuk mencegah keracunan belerang) seharga Rp. 25,000. Sebelum mendaki gunung, agen bilang kalau kita akan dijaga 2 orang guide. Satu di depan, satu di belakang. Hati-hati untuk pendaki yang punya sakit jantung dan asma, jangan dipaksakan, karena medan pendakiannya susah banget, curam dan terjal. Mendengar itu saya deg-degan jadinya karena saya asma. Tapi, saya sudah berjanji dalam hati nggak bakalan memaksakan diri karena takut juga kalau hal-hal yang tidak diinginkan terjadi. 

Sebelum melakukan pendakian, kami semua berdoa terlebih dahulu, dan perjalanan pun dimulai. Bismillah! Kakros dan Dana jalan duluan, sedangkan saya ditemani Laili jalan belakangan (Laili salah satu tim Rancupid Travel yang udah sering ke Ijen). Saya cuma bisa jalan pelan-pelan untuk menghemat tenaga dan takut juga kalau tiba-tiba asma kambuh. Gunung Ijen adalah sebuah gunung berapi aktif yang terletak di perbatasan antara Kabupaten Banyuwangi dan Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur. Gunung yang pernah meletus tahun 1999 ini memiliki ketinggian 2.443 MDPL (Meter Diatas Permukaan Laut) dan terletak berdampingan dengan Gunung Merapi.

Pendakian gunung Ijen itu dibagi 3 tahap. 1 km pertama pendakian lumayan landai, 1 km berikutnya sangat curam, dan terakhir 1 km berikutnya antara landai dan curam. Menurut saya yang paling melelahkan justru di 1 km awal. Saya cuma jalan beberapa langkah, lalu duduk, jalan lagi, duduk lagi, trus minum air. Jangan kebanyakan minum air juga karena susah kalau mau pipis di gunung nggak ada toilet. Di 1 km kedua yang paling curam, saya malah lumayan santai jalannya. Sepertinya paru-paru saya sudah bisa diajak kompromi dan stabil. Nah, giliran saya yang udah nggak sesak napas, ada peserta trip rese' yang terus-terusan mengeluh kecapekan. Seharusnya keluh kesah dia simpan dulu karena kan kalau ngomel itu membuang tenaga. Pokoknya baru jalan sebentar, duduk lagi, trus jalan, trus duduk, begituuu terus. Saya dan Laili mulai bete, tapi kasihan juga kalau ditinggal. Padahal saya bisa mengejar ketinggalan untuk bisa sampai di puncak gunung Ijen paling nggak beberapa saat sebelum matahari terbit. Sayangnya gara-gara nungguin cewek itu, jadilah saya pun telat. Padahal cewek itu nggak snorkeling di tiga tempat di Pulau Menjangan, nggak punya penyakit asma juga, cuma penyakit 'lelah cantik'. Ampun dah!😩😩😩
Kawah Ijen😎
Alhamdulillah saya sampai juga di puncak gunung😍. Duh, rasanya senang banget karena ternyata saya bisa juga sampai ke puncak dan melihat kawah berwarna hijau tosca. Kawah Ijen adalah sebuah danau kawah yang bersifat asam yang berada di puncak Gunung Ijen dengan kedalaman danau 200 meter dan luas kawah mencapai 5.466 Hektar. Danau kawah Ijen dikenal merupakan danau air sangat asam terbesar di dunia. Setiap malam hari sekitar pukul 02.00 hingga 04.00 (matahari terbit), di sekitar kawah dapat dijumpai fenomena blue fire atau api biru yang melayang-layang di udara.  Pemandangan alami ini hanya terjadi di dua tempat di dunia yaitu Iceland dan Ijen. Sewaktu saya sampai di puncak, blue firenya sisa se-titik doang. Ini karena kami memang telat sampai ditambah dengan drama cewek 'lelah cantik'. Sebenarnya salah agennya juga karena kami seharusnya mendaki dari pukul 1 malam (pas ketika pintu pendakian baru dibuka) sehingga mau mendaki dengan cara pelan-pelan atau cepat pun tetap bakalan bisa melihat blue fire. Memang agak susah mengkoordinasi peserta trip yang sudah kebanyakan apalagi jadwal perjalanan yang padat. Semoga ke depannya Rancupid Travel bisa mencari solusi untuk hal-hal seperti ini.
Sampai ke puncak dan kedinginan
Oh ya, kadar belerang di udara tinggi banget apalagi kalau asap dari kawah mengarah ke kita, sehingga hampir setiap saat saya pakai respiratory mask. Sempat mencoba nggak pakai, dan saya mendadak sesak napas. Mungkin untuk orang asma seperti saya, jangan coba-coba buka masker deh. Kecuali memang asapnya tiba-tiba menjadi kurang pekat dan angin mengarahkan asap ke arah yang berlawanan dari kita.
Berpose di puncak
Hore!
Berkabut
Hmm, daripada meratapi blue fire yang tinggal setitik, pemadangan dari atas kawah Ijen pun Masya Allah indahnya😍😍😍! Kita dapat melihat pemandangan gunung lain yang ada di sekitar Pegunungan Ijen, di antaranya adalah puncak Gunung Merapi yang berada di timur Kawah Ijen, Gunung Raung, Gunung Suket, Gunung Rante, dan sebagainya. Udara mulai dingin banget dan saya sampai menggigil. Jaket thermal pun harus dikeluarkan. Kalau tadi nggak terasa dingin karena mendaki 'kan butuh tenaga, jadi malah bikin keringetan. Saya mengambil banyak foto disini, ditambah lagi hari sudah terang, sehingga bisa lebih jelas melihat orang-orang yang mayoritas adalah bule'. Mungkin warga negara kita tidak lebih dari setengah pengunjung kawah Ijen. Kalian juga bisa melihat para penambang belerang yang masih memikul hasil tambang. Sebagian ada yang membawa troli sehingga bahu mereka nggak rusak (dulu sebagian besar bahu penambang belerang di Ijen miring karena memikul belerang berpuluh kg😖).
Pinggir kawah
Belerang
Untuk meningkatkan taraf hidup penambang belerang, saya sarankan kalian beli hasil kerajinan belerang yang mereka jual. Nggak mahal kok, cuma Rp. 10rb - Rp. 50rb tergantung besar dan bentuknya. Lumayan untuk oleh-oleh. Setelah puas berfoto, kami pun turun. Pemandangan ketika turun gunung Subhanallah indahnya dengan pegunungan yang berkabut. Haduwh, lihat beginian terus 'gimana saya nggak awet muda 'kan😁😁😁? Bayangkan kalian sedang berada di ketinggian hampir 3 km diatas permukaan laut, seolah-olah berada di atas langit. Pokoknya indah banget. Hilang deh rasa capek atau pun kurang tidur semalam karena terbayar dengan pemandangan yang Masya Allah indahnya.
Gaya dulu
Pemandangan gunung yang berkabut😍
Negeri diatas awan
Di tengah-tengah menuruni gunung Ijen, saya dan Rancupid Travel tim sempat mampir ke warung untuk sekedar menikmati Pop Mie, pisang goreng, dan teh manis panas. Rasanya enak banget karena kami udah laper dan capek. Penjaga warung juga nggak menaikkan harga makanan dengan berlebihan jadi semakin banyaklah saya dan teman-teman makan, hahaha. Setelah perut kenyang, kami melanjutkan perjalanan turun. Agak susah mengerem kaki karena pas turun kita jadi setengah berlari. Kalian harus pakai sepatu yang enak kalau nggak mau kaki lecet karena mengerem. 

Alhamdulillah sampai juga ke pos Paltuding lagi dengan selamat dan sehat wal'afiat. Capek banget rasanya tapi senang banget juga. Tapi saya masih kurang puas karena belum bisa melihat blue fire secara penuh. Mungkin suatu hari saya harus balik lagi, atau mungkin saya harus melihatnya di Iceland? Semoga Allah memberikan kesempatan saya ke Iceland. Oke deh, karena postingan ini udah kepanjangan, nanti saya cerita lagi ya perjalanan saya dari Banyuwangi ke gunung Bromo. Stay tuned!

Sumber:
https://id.wikipedia.org/wiki/Gunung_Ijen

Desember 02, 2017

Snorkeling di Pulau Menjangan Bali

Melanjutkan cerita saya sewaktu eksplorasi Jawa Timur sebulan yang lalu. Setelah bermain dan berfoto di Taman Nasional Baluran, saya dan tim melanjutkan untuk berenang di Pulau Menjangan. Sebelumnya, kita mampir ke rumah makan untuk sarapan (jam 10 pagi masih dianggap sarapan😅) dan berganti baju renang. Untung saya sudah mempersiapkan baju renang di ransel karena takut ribet kalau harus membongkar koper di dalam mobil elf untuk mengambil baju renang. Saya memang nggak suka pakai backpack gede kalau travelling karena saya harus membawa laptop kemana-mana. Jadi harus selalu bawa ransel laptop dan koper.

Setelah semua peserta trip selesai berganti pakaian renang, kami menuju Kawasan Wisata Grand Watu Dodol (GWD), yang merupakan pintu masuk ke Kabupaten Banyuwangi dari wilayah Kabupaten Situbondo.  Sebenarnya orang-orang lebih sering menyebrang ke Pulau Menjangan dari Pantai Bangsring, tapi karena kami baru dari Taman Nasional Baluran yang terletak di Situbondo, jadi lebih dekat ke GWD. Saya menaruh ransel laptop dan koper sambil berdoa semoga nggak ada maling yang mengobok-obok mobil elf kami. Kebayang nggak kalau tim Rancupid Travel semuanya bawa laptop dan harus dititip di mobil? Ketakutan kehilangan laptop itu lebih dari ketakutan kehilangan koper karena data-datanya super penting. Hanya bisa pasrah sama Allah SWT aja
Mari berlayar
Saya hanya membawa dry bag yang berisi hp, kamera mirrorless, dan action camera saja. Karena pesertanya banyak, jadi kami dibagi menjadi 2 kapal. Agar mudah koordinasi, semua tim Rancupid Travel berada di kapal yang sama. Dan kami pun berlayar mengarungi lautan. Kayaknya dalam 2 bulan ini saya berlayar terus mencari kehidupan indah di bawah laut.
Patung dewa
Gegayaan dulu
Pulau menjangan terletak di sebelah utara kawasan Taman Nasional Bali Barat. Tepatnya di Desa Klampok, Kecamatan Grokgak, Kabupaten Buleleng, Bali, atau sekitar 60 km dari Lovina. Kalau berlayar dari GWD nggak begitu jauh karena dari pesisir Pantai GWD aja udah keliatan Pulau Menjangannya. Kita sempat merapat di sebuah pulau hanya untuk berfoto dengan patung salah satu Dewa Hindu. Melihat patung-patung seperti itu semakin memantapkan hati kalau kita sekarang sudah berada di Bali😎😎😎. Terakhir ke Bali tahun lalu dan alhamdulillah tahun ini bisa ke Bali lagi dengan cara yang berbeda.

Kapal berhenti di bagian laut yang berwarna biru tua. Tunggu, kalau biru tua berarti dalam banget dong😨! Saya deg-degan dan langsung ketakutan. Sempat protes ke agen, kok diberhentikan di spot yang dalam banget. Agen bilang supaya pas nurunin jangkar nggak kena terumbu karang, jadi berhenti disitu. Memang sih kita tinggal berenang 10 meter doang, langsung sampai ke lokasi terumbu karang yang indah. Baiklah, dengan mengucapkan bismillahi tawakkaltu alallah (dengan nama Allah aku berserah diri) dan menggenggam erat action camera, saya nyeburrr dan fokus sama berenang ke tempat terumbu karang.
Mari berenang
Terumbu karang dan ikan cantik
Pemandangan bawah laut Pulau Menjangan di spot snorkeling kita pertama ini memang sangat indah, Subhanallah! Saya sibuk merekam gerombolan ikan kecil berwarna biru eletrik yang berkerumun di terumbu karang. Belum lagi keanekaragaman terumbu karangnya sangat banyak sehingga saya keasyikan sendiri berenang-renang bersama Kakros sampai saya mendekat ke daerah yang dalam. Saya sibuk mengikuti ikan yang ada tanduknya dan dia ternyata menghilang ke daerah yang lebih dalam. Seperti yang saya bilang tadi, saking dalamnya, daerah itu berwarna biru dongker (navy). Orang-orang travel agen sampai memanggil saya dan Kakros dan melarang kami mendekat ke tempat yang dalam. Emang seram sih, tapi ikan-ikan disana lebih cantik dan berwarna-warni.
Bintang laut dan terumbu karang
Setelah setengah jam berenang, kami disuruh naik ke kapal. Saya jadi harus berenang melewati bagian biru tua itu lagi. Kali ini saya mencoba berenang sambil melihat daerah biru tua terus-menerus dan tiba-tiba saya ketakutan sendiri. Saya takut kalau mendadak ada sepasang mata dari dasar laut melihat saya😰. Oh tidak, imaginasi saya terlalu tinggi. Bisa gawat😖😖😖! Langsung mempercepat berenang ke kapal tanpa melihat ke bawah lagi. Kapal akhirnya berlayar ke Pulau Menjangan supaya kami bisa duduk-duduk makan siang sambil dikeliling kawanan rusa.
Pulau Menjangan
Menjangan berarti rusa liar. Makanya pulau ini dipenuhi rusa yang gemuk dan sehat. Bahkan ukuran rusa jantan dewasa gedeee banget, sampai hampir seperti elk (spesies terbesar dari rusa yang hidup di Amerika). Awalnya saya dan teman-teman agak takut mendekat ke saung yang berada dekat banget dengan kawanan rusa karena mereka menatap kami semua dengan tatapan tanpa ekspresi dan diam saja tanpa bergerak. Saya sempat bilang, "Hei rusa, kita cuma mau makan doang. Boleh ya?" Dan mereka tetap menatap saya tanpa ekspresi. Ya iyalah nggak ada ekspresi. Kalau sempat ada ekspresi, bisa gawat😨.
Duduk makan siang bersama kawanan rusa
Saya dan tim Rancupid Travel mulai berusaha cuek dengan kawanan rusa sampai kami selesai makan siang. Setelah berenang itu rasa laparnya sangat parah, sehingga kami bisa makan dengan cepat dan lahap. Untung juga menu makan siangnya enak banget. 
Kawanan rusa
Selesai makan, kami melanjutkan berenang di spot snorkeling kedua dan seperti biasa kapal diberhentikan di lautan biru dongker yang dalam. Sebenarnya saya berani-berani aja sih berenang hari itu. Tapi sewaktu turun ke laut, arus dan ombaknya ngeri banget. Lebih ngeri daripada spot pertama. Di tengah jalan saya langsung kecapekan berenang dan ombak mulai lebih tinggi dari saya. Duh, kayaknya nggak bisa diterusin nih. Saya minta ke awak kapal untuk mendorong saya ke kapal karena saya udah mulai was-was dan takut tenggelam. Sempat terminum air beberapa kali juga. Padahal saya nggak melepas pelampung, tapi pakai life vest begitu malah susah berenang. Tenggelam enggak, ngapung pun enggak. Daripada terjadi hal yang tidak diinginkan, ya udah balik kapal aja deh. Memang banyak peserta trip yang enggak turun berenang karena arusnya kenceng banget. Bahkan agennya aja sampai cepat naik karena kelelahan berenang. 
Kakros berenang melawan arus
Dana juga berenang melawan arus
Di spot snorkeling ketiga, saya hanya berenang sebentar saja. Setelah itu memberikan action camera pada Kakros dan saya naik lagi ke kapal. Arus memang enggak sekencang spot kedua, tapi saya merasa napas mulai nggak beraturan. Apalagi nanti malam kami masih harus mendaki gunung Ijen, jadi saya harus menghemat tenaga. Hanya melihat tim Rancupid Travel yang lain dari atas kapal saja. Yang paling hebat ya Kakros karena mampu berenang di ketiga spot snorkeling tanpa pelampung. Fisiknya kuat banget. Dana dan Laili masih harus berenang ke tempat Kakros dengan menggunakan pelampung. Kata mereka sih ada tempat yang dangkal banget dan mereka bisa sampai berdiri (bukan di terumbu karang).
Terumbu karang lagi
Setelah sore hari, kapal pun kembali ke GWD. Ada kejadian menyeramkan kembali terjadi. Semakin mendekati pesisir Banyuwangi, ombak semakin tinggi bahkan sampai 2-3 meter. Saya mulai deg-degan dan terus berdoa. Memang sih awak kapal bilang supaya kita santai aja tapi ya gimana mau santai kalau kapal lompat-lompat begini sampai kita harus pegangan di tiang kapal dengan erat. Kami dilarang membuka life vest saat seperti ini. Awalnya saya mau mengambil foto kapal yang berlayar disebelah saya. Kapal itu terlihat seperti digulung-gulung ombak dan sangat menyeramkan. Air masuk ke kapal, keluar lagi, masuk lagi, pokoknya serem😣😣😣. Cuma bisa berdoa dalam hati agar Allah menundukkan lautan. Kacamata saya udah basah kuyup dan kalau buka kacamata, bisa masuk air laut ke mata. Seandainya di kacamata ada wiper seperti di mobil😄.

Alhamdulillah bisa sampai ke Banyuwangi dengan selamat. Saya turun dari kapal dan berjalan menuju elf untuk mengambil baju ganti. Yang nggak mengenakkannya adalah kamar mandi cuma ada 6, 5 untuk wanita, dan 1 untuk pria. Gila, ini diskriminasi banget. Belum lagi peserta trip rame dan kami harus mengantri sampai lebih satu jam. Setelah tiba giliran saya mandi, eh malah mati lampu dan mati air. Haduwh, udah lama nggak ngetrip seperti ini dimana banyak keterbatasannya tapi ya udahlah, nikmati aja. Jadinya saya hanya siram badan sekali, pakai shampoo dari rambut sampai seluruh tubuh, lalu bilas dua kali untuk menghemat air. Mana gelap-gelapan jadi nggak keliatan mana shampoo, mana sabun.

Selesai mandi, dengan penerangan dari kamera hp, saya jalan ke mobil elf. Rambut masih basah, badan ntah bersih ntah nggak (masih lengket-lengket). Berakhir juga perjalanan hari ini. Kami kemudian dibawa ke sebuah Resto mahal yang merangkap toko oleh-oleh Osing Deles untuk makan malam, tapi diluar budget trip. Awalnya kami sempat masuk resto dan melihat-lihat menu yang kebanyakan Western Food. Duh, makanan seperti ini kan banyak di Jakarta. Ngapain makan disini? Lagian kami nggak beli oleh-oleh juga. Akhirnya saya dan Rancupid Travel tim keluar dari Resto dan makan di angkringan depan resto. Travel agennya aja makan disitu, eh kami malah disuruh di resto mahal. Beberapa peserta trip banyak yang mengikuti kami untuk makan diluar resto karena mungkin kita memang ingin mencicipi kuliner Banyuwangi walaupun hanya ayam bakar saja.

Nanti saya cerita lagi tentang perjalanan ke Kawah Ijen yang juga super duper melelahkan. Oh ya, kita sudah berada di penghujung tahun 2017. Nggak terasa banget selama tahun ini hidup saya benar-benar penuh warna. Seolah-olah setiap bulan berganti, ada aja yang baru. Bahkan kalau lagi di rumah sekali pun, saya tetap eksplorasi hal baru dengan menggunakan internet. Alhamdulillah segala macam hal terjadi di tahun ini penuh hikmah sehingga saya bisa menarik pelajaran dari setiap momen.

Sumber:

November 30, 2017

Behel Geraham Copot

Sudah sebulan saya menggunakan behel untuk gigi bawah. Bagaimana rasanya? Nggak enak! Apalagi setelah pasang behel di gigi bawah, besoknya saya umroh, dan jadi susah menikmati makanan. Rasanya semua gigi saya udah nggak ada power. Gigi seri nggak bisa untuk menggigit, geraham nggak bisa untuk mengunyah, jadilah saya lebih sering makan makanan yang lembek, atau makanan agak keras langsung telan aja tanpa dikunyah dulu.

Sewaktu saya berada beberapa hari di Madinah, behel gigi geraham saya pun copot. Mungkin dia sudah nggak sanggup lagi menanggung beban ketika saya mengunyah kurma. Memang beberapa kurma kering itu agak keras, sehingga bisa berdampak pada behel. Jadilah saya makan sedikit aja padahal catering sewaktu umroh itu enak banget. Palingan saya jadi banyak makan bubur, pisang, nasi, sayur, dan telur. Daging ayam dan sapi kalau sudah di presto sih bisa, kalau nggak ya nggak makan😩.
Sebenarnya behel copot membuat satu dari beberapa geraham saya jadi bisa dipakai mengunyah. Jadi agak lega pas copot tapi memang sebenarnya harus segera ditanganin dan saya baru balik lagi ke dokter gigi setelah 3 minggu behel copot. Agak malas juga ke OMDC kalau bukan jadwal kontrol saya karena pasiennya rame banget. Saya pasti nggak kebagian antrian.

Selasa kemarin saya balik kontrol (sempat lupa sampai bikin janji miting). Dokter memasang kembali behel saya dan mengencangkan kawat gigi untuk satu mulut. Aduh, semakin kehilangan power untuk mengunyah. Alhasil seharian makan jadi susah dan lama banget. Konsentrasi sama proses ngunyah jadi berkali lipat. 

Masalahnya belum sampai disitu. Udah capek seharian ngantor, pulang tengah malam, besok harus lanjut ngantor lagi, ehhh malah nggak bisa tidur karena rahang atas sama rahang bawah masih belum menyesuaikan diri dengan posisi tidur. Udah bolak-balik kiri kanan, tetep nggak bisa tidur sampai jam 1 malam. Haduwh ya Allah, beauty is pain. Walaupun nggak nyeri sampai nangis, tapi side effect yang lain jadi kena juga nih.

Terlepas dari semua itu, gigi atas saya sudah mulai lurus, sehingga dokter mengubah posisi behel untuk menaikkan lebih keatas. Semoga cepat selesai persoalan gigi ini demi Perfect Smile 2018. Aminnn!

Bucel Tube (behel yang copot) Rp. 50,000
Kontrol Saphire Braces Rp. 200,000
Administrasi Rp. 15,000
Total Rp. 265,000

November 27, 2017

Baluran National Park

Saya akan melanjutkan cerita tentang eksplorasi Jawa Timur. Setelah postingan tentang kota Banyuwangi kemarin, kali ini saya akan bercerita tentang Taman Nasional Baluran. Sudah sejak lama saya ingin ke tempat ini tapi karena kendala waktu dan uang, jadilah baru bisa pergi sekarang. Menurut saya eksplorasi Jawa Timur ini biasanya dilakukan oleh teman-teman yang baru lulus kuliah atau baru diterima bekerja di perusahaan. Berbeda dengan saya yang baru bisa eksplorasi sekarang. 
Taman Nasional Baluran
Taman Nasional Baluran terletak di Desa Wonorejo, Kecamatan Banyuputih, Kabupaten Situbondo. Mungkin masyarakat luas lebih mengetahui bahwa Baluran terletak di Kabupaten Banyuwangi karena memang letak Taman Nasional Baluran berada di perbatasan Banyuwangi-Situbondo dan lebih dekat ke Banyuwangi. Saya dijemput di Hotel Slamet Banyuwangi sekitar pukul 4 pagi setelah shalat Shubuh. Kirain kami bisa langsung pergi ke Baluran karena memang di jadwal perjalanan (itinerary) dari agen adalah mengejar matahari terbit di Taman Nasional Baluran. Pada kenyataannya, kami malah dibawa ke tempat penginapan peserta trip lainnya untuk berkumpul dulu, baru pergi bareng-bareng kesana. Sebenarnya saya nggak masalah pergi dengan siapa saja. Yang jadi masalah adalah apabila agen nggak komitmen dengan jadwal trip. Jangankan mau mengejar matahari terbit, kami tiba di Baluran aja sudah pukul 6 pagi dan matahari sudah bersinar terik (memangnya di Aceh yang jam 6 pagi baru sunrise😣😣😣). Saking betenya, saya udah nggak tau lagi mau ngomong apa. Semoga kedepannya Rancupid Travel bisa menemukan solusi untuk para agen yang nggak komitmen sama jadwal trip seperti ini.

Kalau kalian ingin mengejar matahari terbit di Baluran, mungkin Pantai Bama adalah tujuannya. Karena Rancupid Travel tim dibagi menjadi dua (dari Surabaya dan Banyuwangi), yang beruntung adalah tim Surabaya. Mereka sejak jam 4 pagi sudah berada di Baluran dan bisa mengejar sunrise juga berfoto sepuasnya di Pantai Bama. Memang ada plus minus sih setiap agen, tapi seharusnya mereka memikirkan bahwa kita datang jauh-jauh dari Jakarta dan memang mengejar momen-momen langka seperti sunrise atau sunset di tempat-tempat seperti ini. Mau balik lagi ke Baluran juga ntah kapan? Saya pajang foto-foto yang diambil Rancupid Travel tim yang lain aja ya daripada nggak sama sekali.
Sunrise di Pantai Bama
Monyet sedang bercengkrama
Karena ngantuk dan bête, saya tidur sepanjang jalan. Sempat bangun dan melihat sekeliling banyak sekali pepohonan dan saya nggak tau sedang berada dimana. Katanya sih kami baru melewati Evergreen Forest. Cahaya matahari masuk ke dalam mobil begitu terangnya sampai saya memakai kacamata terlebih dahulu baru lanjut tidur. Dari pintu masuk Taman Nasional Baluran ke dalam saja membutuhkan waktu satu jam, baru kami berhenti di sebuah hamparan padang luas sejauh mata memandang bernama Savanah Bekol. Baru kali ini saya melihat gerombolan rusa berlari-lari, banteng membentuk kelompok, burung merak, dan berbagai macam hewan lainnya, bercengkrama di padang rumput nan luas. Julukan Little Africa in Java memang benar adanya.
Rusa berlarian
Menonton rusa
Terlepas dari kebete-an yang melanda, saya benar-benar kagum dengan Baluran. Sungguh indah, Subhanallah! Memang tekstur tanah di Baluran agak kering, sehingga sewaktu saya mengambil foto sambil melompat, kaki langsung lecet pas mendarat. Baru sadar sewaktu melihat kok ada darah menetes dan ternyata itu darah saya sendiri😅. Baru berasa sakit (tadi sebelum sadar malah nggak sakit). Seandainya saya punya drone, mungkin foto yang diambil bisa lebih keren karena kami nggak boleh mendekat ke kawanan hewan. Takut keseruduk kali ya..

Saya mengambil banyak foto disini dengan berbagai macam gaya. Kapan lagi bisa berfoto di padang rumput nan luas diapit oleh Gunung Baluran yang dapat menjadi objek foto sangat keren disini. Seharusnya bisa berfoto di tempat-tempat laen. Sayang banget waktu jadi sempit karena kami telat sampai di tempat ini dan hanya dijatah waktu satu jam untuk eksplorasi. Suatu hari bisa kesini lagi, kayaknya saya mau bawa kendaraan sendiri deh.
Eksis dulu
Jam 7 pagi bisa seterik ini
Berpencar dulu
Tengkorak kepala banteng
Mau melompat, tapi kaki udah luka. Perihhhh😆😆😆
Informasi lainnya, Taman Nasional Baluran juga merupakan kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata dan rekreasi. Waktu yang paling tepat untuk berkunjung ke Taman Nasional Baluran adalah saat bulan Maret – Agustus. Di bulan- bulan tersebut kalian dapat melihat langsung kawanan rusa dengan jumlah sangat banyak. Bahkan jika beruntung kita dapat melihat proses kawin mereka karena saat bulan-bulan tersebut adalah musim kawin rusa😅. Kalian juga bisa melihat monyet-monyet yang memancing kepiting menggunakan ekornya (keburu dicapit sama kepiting😂😂😂). Pasti lucu banget😍.

Untuk tiket masuk ke Taman Nasional Baluran perorang adalah Rp 7.500 dan untuk kendaraan roda dua Rp 5000/kendaraan, sementara kendaraan roda empat dipungut biaya Rp 15.000/unit. Untuk informasi lebih jelas dapat menghubungi kantor Taman Nasional Baluran via telepon (0332)24119.

Sumber:

Categories

adventure (313) Living (250) Restaurant (151) Cafe (144) Hang Out (139) Jawa Barat (100) Bandung (92) Story (84) Movie (73) Lifestyle (68) Jakarta (64) Aceh (53) Event (48) Islam (38) Hotel (37) China (31) Jawa Tengah (27) Jawa Timur (23) New Zealand (23) Japan (20) Hong Kong (19) Book (18) Science (18) South Korea (18) Malaysia (17) Warung Tenda (17) Consultant (16) Technology (16) Family (15) Beach (14) Kuala Lumpur (14) Saudi Arabia (14) Semarang (14) Vietnam (14) Philippines (12) Blackberry (11) Brunei Darussalam (11) Dokter (11) Macau (11) Malang (11) Bali (10) Crush (10) Lomba (10) Birthday (9) Boracay Island (9) Kalimantan Timur (9) Kepulauan Derawan (9) Singapore (9) CEO (8) Medina (8) Myanmar (8) Sabang (8) Shenzhen (8) Tokyo (8) Cambodia (7) Jeju Island (7) Kepulauan Bangka Belitung (7) Osaka (7) Seoul (7) Wedding (7) Banjarmasin (6) Kalimantan Selatan (6) Karimun Jawa (6) Laos (6) Luang Prabang (6) Makassar (6) Surabaya (6) Auckland (5) Bangkok (5) Banyuwangi (5) Bogor (5) Dieng (5) Hanoi (5) Manila (5) Mecca (5) OMDC (5) Pulau Derawan (5) Sukabumi (5) Thailand (5) The Partij (5) Yogyakarta (5) Bangka (4) Belitung (4) Busan (4) Depok (4) Farming & Gardening (4) Pekalongan (4) Probolinggo (4) Queenstown (4) Siem Reap (4) Yangon (4) giveaway (4) Aceh Barat (3) Australia (3) Baby (3) Da Lat (3) Entrepreneur (3) Ho Chi Minh (3) Jeddah (3) Kalibo Island (3) Kalimantan Utara (3) Kepulauan Seribu (3) Kobe (3) Kyoto (3) Penang (3) Rotorua (3) Te Anau (3) 2PM (2) Aceh Jaya (2) BBLive (2) Bago (2) Blackberry Live Rockin Concert (2) Christchurch (2) Etude House (2) Fox Glacier & Franz Josef (2) Gold Coast (2) Ha Long Bay (2) Hakone (2) Home Made (2) Matamata (2) Medan (2) Nami Island (2) Pulau Kakaban (2) Pulau Maratua (2) Pulau Sangalaki (2) Shontelle (2) Suede (2) Taio Cruz (2) Tarakan (2) The Face Shop (2) Wellington (2) Banda Aceh (1) Berau (1) Cilegon (1) Cimahi (1) Cirebon (1) Festival BLOG 2010 (1) Kyaiktiyo Pagoda (1) Nagan Raya (1) Nihn Bihn (1) Pulau Gusung (1) Pulau Madura (1) Skin & Body Care (1) Solo (1) Takengon (1) Taupo (1) Vampire Diaries (1)