September 01, 2020

Gigi Masih Miring

Akhirnya nulis blog lagi. Tidak ada yang terlalu seru di kehidupan saya kali ini mungkin karena cuma di rumah aja. Karena pandemi COVID19, saya jadi nggak bisa kontrol behel gigi sekali dalam satu bulan. Minimal 6 minggu dan saya merasa karet di gigi juga udah kuning. Jadi mengurangi kepercayaan diri kalau mau tersenyum. Untungnya sekarang sudah wajib masker😷, jadi nggak kelihatan kalau karet gigi sudah menguning. Sebenarnya saya paling suka kontrol gigi, karena setelah itu rasanya bersih banget gigi ini. Di bulan Juli kemarin saya sempat scalling gigi, lalu di bulan Agustus saya menambal 2 gigi, dan di akhir Agustus (anggap aja September ya) kontrol behel lagi. 

Permasalahan behel gigi saya hanya tinggal satu aja, yaitu susunan gigi kiri dan kanan masih belum sama. Kalau saya lihat dari cermin, deretan gigi sebelah kanan atas lebih turun daripada sebelah kiri. Saya bilang ke dokter kalau saya sudah berusaha tidur telentang dan mengunyah permen karet agar sisi kiri dan kanan bisa seimbang, tapi sepertinya nggak ngaruh. Saya juga udah menambal gigi sebelah kanan karena saya dulu malas mengunyah sebelah situ karena sakit akibat ada gigi bolong. Semua hal tersebut belum memberikan pengaruh signifikan pada barisan gigi.

Masih agak miring kan?
Orthodentist memperhatikan gigi saya mulai dari duduk, bangun, duduk lagi, bangun lagi, sampai beliau paham permasalahannya dimana. Akhirnya indikator metal diubah, gigi kanan dinaikkan, dan gigi kiri diturunkan. Dokter bilang, mungkin agak lama prosesnya sampai kira-kira tiga kali kontrol lagi. Tapi yang penting benar-benar bisa rata dan tujuan saya memang gigi harus sempurna. Kalau saya ingin lepas behel sebenarnya udah bisa, tapi biarlah sempurna dulu baru dilepas.
Full APD
Oh ya kali ini saya bisa memposting foto para tenaga medis di klinik OMDC menggunakan APD lengkap sewaktu memeriksa gigi saya, bahkan ada tanggal terakhir rapid tes di badge mereka. Hal ini merupakan upaya untuk pencegahan penularan virus COVID19. Semoga sehat terus ya para tenaga medis. Teringat kemarin IDI memposting bahwa sudah 100 orang dokter meninggal karena COVID di Indonesia. Sedih banget rasanya😭😭😭. Mana teman-teman saya dan keluarga saya mayoritas adalah dokter. Semoga virus Corona segera lenyap dari muka bumi dan orang-orang yang meninggal mendapatkan syahid. Aminn ya Allah🤲.

  • Kontrol Orthodentist Sapphire Braces Rp. 275,000
  • Charge Pasien Lama Rp. 40,000
  • APD Rp. 95,000

Agustus 16, 2020

Penerbangan Saat Pandemi

Tanggal 24 Juli 2020 kemarin, alhamdulillah saya berhasil pulang ke Aceh setelah keinginan pulang yang membuncah sejak Idul Fitri kemarin. Rasanya nggak bertemu Mama pada saat Lebaran itu sedih sekali😢. Mana orang tua tinggal satu-satunya, belum lagi Mama pasti kepikiran sama anak cewek yang tinggal sendiri dan jauh pulak.

Jujur aja saya masih ragu untuk melakukan perjalanan. Berpergian ke luar kota yang dekat saja seperti ke Bandung, belum saya lakukan. Apalagi ini mau ke Aceh dan harus naik pesawat✈️. Belum lagi berita yang menyebar di sosial media begitu simpang-siur kalau nanti di Bandara bakalan ribet, penerbangan belum normal, ada pengecekan macam-macan nanti seperti Surat Izin Keluar Masuk, Surat Keterangan Sehat, Surat COVID, Surat RT/RW, dan lainnya yang membuat saya lumayan takut untuk pulang kampung. Berhubung sudah kangen banget sama Mama, apalagi Jakarta sudah masuk dalam fase PSBB transisi yang "katanya" peraturan penerbangan lebih longgar, ya udah deh, saya coba untuk mengurusi dokumen agar bisa pulang. Bismillah...

Hal pertama yang saya lakukan adalah melakukan Rapid Test sebelum beli tiket karena katanya kalo "Reaktif" nggak boleh boarding dan tiket nggak bisa di refund😱. Saya pergi ke RS Mitra Keluarga seminggu sebelum terbang (tapi waktu itu belum tiket), dengan perasaan sangat dag-dig-dug. Saya sebenarnya sangat menghindari Rumah Sakit karena 'kabar'nya akan banyak virus-virus disana. Apalagi RS Mitra Keluarga 'kan RS pertama yang mengkonfirmasi kasus Corona pada bulan Maret kemarin. Tapi tetap saya nggak mau lagi terlalu percaya dengan sosial media dengan kabar yang berlebihan. Saya pergi ke RS dan sampai disana malah biasa aja. Tidak seseram 'kabar burung'. Prosedur kesehatan hanya cek suhu dan wawancara sedikit, lalu isi data pasien, bayar di kasir, langsung di ambil darah untuk Rapid Test. Suasana di RS juga seperti sebelum ada kasus Corona. Tidak ada yang terlalu aneh.

Sejam kemudian saya mengambil hasil Rapid Tes, alhamdulillah 'Non Reaktif'. Besoknya saya ke Lion Air Tower untuk melakukan redeem voucher tiket Batik Air yang sempat saya beli untuk Idul Fitri kemarin. Karena pada saat itu harga tiket Rp. 1,3jt dan sekarang naik jadi Rp. 1,5jt, jadi saya harus menambah 200rb lagi. Kalian bisa membeli voucher Rapid Test seharga Rp. 95rb juga di Lion Air dan ternyata kalau hasil Rapid Test kita 'Reaktif", boleh melakukan full refund kok😊. Huff! Oh iya untuk jaga-jaga, saya sampai minta surat keterangan RT bahwa saya benar adalah warga Tran Depok Cyber Village (nama komplek tempat saya tinggal di Depok) karena KTP saya masih domisili Aceh.

Penerbangan Batik Air pukul 07:45 pagi dan kata customer service di Lion Air Tower saya harus datang 4 jam sebelumnya yang berarti 2:45????? Ya Allah, pagi bangetttt! Saya bersiap-siap dari rumah pukul 1.30 pagi pakai Grab Car ke terminal bus Depok untuk naik bus Hiba Utama. Eh ternyata bus baru jalan jam 3 karena jadwal belum normal dan saya langsung panik. Gimana ini nanti sampainya telat dong😱?! Ada satu Bapak juga udah nongkrong di terminal yang sama kecewa dengan saya karena nggak ada bus. Akhirnya ada seorang Bapak yang nawarin perorang Rp. 150rb ke Bandara pakai mobilnya. Saya tanya ke Bapak yang mau ke bandara juga dan dia setuju. Maka kami pun bertiga (tambah supir) berangkat ke bandara. Pada saat itu ntah kenapa saya merasa percaya saja sama dua bapak-bapak itu kalau saya tidak akan diculik, padahal bisa saja kan? Apalagi itu jam 1:30 malam. Tapi setau saya memang mobil yang bisa mangkal di terminal nggak boleh sembarangan orang. Alhamdulillah aman pada saat itu.

Get ready

Sesampai di Bandara, saya menyuruh Rezki untuk segera datang. Kami bakalan pulang ke Aceh bareng. Lumayanlah ada teman, jadi kalau kenapa-kenapa di Bandara bisa berdiskusi bersama. Bandara masih sepi kosong melompong. Tidak ada terlihat antrian sama sekali. Sewaktu Rezki datang, kami pun menuju tempat pengecekan Rapid Test. Pertama-pertama harus melalu monitor pengecekan suhu tubuh terlebih dahulu dan kita berdua ketakutan. Gara-gara gugup mungkin ya, kita merasa sedikit hangat badan ini. Jadi takut melewati alat pengecekan suhu. Saya menyuruh Rezki duluan, begitu juga sebaliknya Rezki menyuruh saya duluan. Saya dan Rezki mengipas-kipas jidat agar lebih dingin baru lewat alat cek suhu. Eh suhu kita berdua cuma 36.2 dan 36.3, ya elah normal banget😂.

Sepiiii, ya iyalah masih pagi buta
Kami mengantri untuk pengecekan surat Rapid Tes. Customer Service Lion Air di Lion Air Tower sempat menyuruh kita memfotokopi hasil rapid sampai 4 rangkap. Padahal yang dicek dan di stempel hanya yang aslinya saja. Proses antri dan pengecekan sampai stempel, nggak sampai 5 menit. Semua berjalan sangat cepat. Ntah karena masih pagi buta.
Antri rapid tes
Kami akhirnya mengantri check in. Petugas meminta surat rapid yang sudah di stempel dan memverifikasinya. Setelah itu kami cek in dan bisa masuk ke ruang tunggu boarding. Semua proses begitu cepat, tidak ada antrian panjang, tidak ada pengecekan macam-macam. Hanya hasil Rapid Tes saja penambahannya.
Antri cek in
Sesampai di ruang boarding, bahkan belum adzan Shubuh, saya tidur dulu sekitar 30 menit. Kemudian bangun shalat, lalu lanjut tidur lagi. Setelah jam 6 kurang, saya mengambil foto pesawat dengan semburat jingga matahari yang akan terbit. Rasanya aneh, pemandangan seperti ini seolah-olah langka sekarang. Padahal di bulan Januari-Februari 2020, saya bisa melakukan penerbangan sampai hampir seminggu sekali. Semoga Corona segera hilang dari muka bumi. Aminn🤲.
I miss this view a lot
Akhirnya tiba saatnya untuk boarding. Karena lalu-lintas udara tidak sibuk, jadi semua penerbangan sangat ontime. Kami mengantri naik pesawat yang tidak melewati garbarata. Awalnya saya mengira kalau kursi pesawat yang tengah akan dikosongkan karena saya dan Rezki terpisah satu kursi. Ternyata karena kita duduk dibelakang. Kalau deretan depan semua kursi penuh. Suasana tetap seperti biasa kita sedang naik pesawat. Tidak ada yang berlebihan.
Antri naik pesawat

Suasana di dalam pesawat

Board the aircraft
Selama di dalam pesawat saya tidur sejam, makan, lalu nonton tv. Setelah itu pesawat mendarat dengan mulus di bandara Sultan Iskandar Muda (SIM) Banda Aceh, alhamdulillah. Kami turun dari pesawat, lalu masuk ke bandara. Kami diwajibkan untuk mengisi Form Health Alert Card (HAC) sebelum mengambil bagasi. Kalau kalian punya aplikasinya di hp, bisa isi di hp aja lalu scan barcodenya. Secepat itu prosesnya tanpa permintaan surat ini itu. 
Form HAC

Saya mengambil bagasi, lalu keluar bandara dan dijemput oleh adik saya. Alhamdulillah semua berjalan mulus tanpa ada ketakutan atau peraturan yang berlebihan. Sampai di rumah Banda Aceh, saya menyuruh adik menyemprotkan desinfektan ke tas dan koper saya. Saya juga langsung mandi karena di rumah ada bayi, takut kena virus dari bandara.

Bagaimana ketika pulang kembali ke Jakarta?

Karena saya berada di Aceh selama 19 hari, jadi saya harus Rapid Test lagi. Saya Rapid Test di Bio Lab Banda Aceh karena harganya murah cuma Rp. 140,000 ditambah Rp. 25,000 surat keterangan sehat dari dokter umum. Karena sudah pengalaman terlalu cepat datang ke bandara Soekarno Hatta, pada hari keberangkatan saya jalan dari rumah 2 jam sebelum jadwal penerbangan ke Bandara SIM. Saya bahkan sempat beli oleh-oleh ayam tangkap dulu, beli jeruk nipis, baru jalan ke bandara. Oh ya saya tidak memfotokopi hasil Rapid Tes lagi, jadi cuma bawa 1 dokumen saja untuk diperiksa di bandara SIM. Berbeda dengan bandara Soeta, di bandara SIM kita diwajibkan untuk mengunduh aplikasi HAC untuk diisi agar keluar barcode dan dapat di scan di bandara kedatangan.

Belanja oleh-oleh
Proses antri verifikasi hasil Rapid Tes di bandara SIM tidak sampai semenit, lalu langsung bisa check in. Semua lancar sekali, alhamdulillah. Bandara sepi, ruang tunggu pun sepi. Ntah karena saya masih termasuk kecepatan datang. Sewaktu boarding, penumpang tidak memenuhi pesawat. Saya tetap kebagian kursi di belakang ntah karena meminta duduk bareng Rezki yang beda kode booking dengan saya.
Bandara sepi

Sesampai di bandara Soekarno-Hatta, kami hanya tinggal scan barcode dari aplikasi HAC, lalu langsung bisa mengambil bagasi. Untuk yang tidak mengunduh aplikasinya, bisa juga mengisi form secara manual.  Jangan lupa bawa pulpen sendiri. Tidak ada pengecekan surat RT dan SIKM juga. Kalau tidak salah SIKM hanya berlaku pada masa PSBB saja. Sekarang sudah tidak berlaku lagi. Pokoknya semua proses nggak ribet dan cepat.

Baiklah, semoga postingan ini bisa memudahkan kalian apabila ini bepergian menggunakan pesawat. Saya jadi ingin jalan-jalan ke Bali tapi sepertinya masih belum bisa. Semoga tulisan ini bermanfaat, sampai jumpa!

Juli 19, 2020

Akhirnya Bisa Scalling Gigi

Karena saya berencana untuk pulang ke Aceh pada tanggal 24 Juli 2020, jadi saya berniat untuk kontrol gigi dulu karena pasti di kampung halaman nanti makannya banyak dan nggak ada pantangannya😆😆😆. Sekalian ingin membersihkan karang gigi juga yang sudah menumpuk karena hampir setahun tidak sempat dibersihkan. Di bulan Mei kemarin sempat mau membersihkan karang gigi dan klinik gigi OMDC mewajibkan pasien untuk rapid test dulu sebelum melakukan perawatan yang menggunakan aerosol. Karena pada saat itu harga rapid test belum ada Harga Eceran Tertinggi (HET), jadi saya merasa mahal untuk tes yang hanya berlaku untuk 3 hari saja. Maka saya memutuskan untuk menunda scalling gigi.

Karena mau pulang ke Aceh dan salah satu syarat boleh boarding pesawat adalah hasil rapid test non-reaktif, jadinya saya ke RS Mitra Keluarga Depok dulu untuk melakukan rapid test. Biayanya lumayan murah, hanya Rp. 150,000 (berbeda dengan OMDC yang masih 200rban). Darah diambil dari lengan karena kata suster lebih akurat. Sejam kemudian hasil rapid test keluar dan alhamdulillah non-reaktif. Cerita detailnya akan saya tuliskan dipostingan berikutnya bagaimana saya akhirnya bisa board the aircraft✈️.

Berbekal surat hasil Rapid Test, saya menjadwalkan diri untuk scalling gigi dan kontrol behel Sapphire di OMDC. Sebelum kontrol behel, gigi saya di scalling dulu. Kali ini sebenarnya OMDC tidak mewajibkan pasien untuk rapid test lagi ntah karena para dokter sudah memakai APD🤔, tapi saya tetap menunjukkan bukti kalau saya sudah tes. Dokter kemudian membersihkan karang gigi saya dan saya sampai keluar air mata😢 karena ngilu. Mungkin karena udah menumpuk kotoran dan karang gigi, jadi pas dibersihkan ngilu banget.
Masih agak miring secara horizontal
Setelah scalling, saya masuk ke ruang Orthodentist. Dokter bilang, sebenarnya semua gigi sudah rapat, gigitan gigi juga sudah benar, tapi kawat metal di gigi kalau dilihat secara horizontal masih miring. Kata dokter sih karena saya enggak seimbang 'ngunyahnya, terlalu banyak disisi kanan. Padahal saya merasa lebih sering mengunyah disisi kiri. Akhirnya saya disarankan untuk mengunyah permen karet tiga kali sehari seimbang kiri dan kanan dan tidur dalam posisi lurus agar membantu rahang untuk bisa lurus juga. Duh, hal ini agak susah karena saya nggak bisa tidur lurus. Udah coba beberapa malam tapi agak susah. Kalau cuma mengunyah permen karet sih gampang ya. Tapi tetap saya usahakan segala cara agar bisa Perfect Smile.

Karena perawatan gigi dianggap emergency, saya merasa harga perawatan di OMDC jadi mahal. Berikut rinciannya:
Kontrol Sapphire Braces Orthodentist Rp. 275,000
APD Rp. 110,000
Scalling Emergency Rp. 449,000
Detail harga OMDC
Kalian bisa lihat harga Rapid Testnya masih belum mengikuti HET, jadi saya sarankan tes di RS saja. Harga menambal gigi saja bisa semahal itu😦. Odontectomy sampai 4 jutaan, padahal saya dulu di Banda Aceh, udah ditangani dengan Spesialis Gigi Palsu hanya sejutaan saja. Jadi kalau nggak kepepet, kayaknya nggak usah ke dokter gigi deh. Baiklah, semoga bermanfaat. Sampai jumpa!

Juli 02, 2020

New Normal

Sudah lama sejak menulis blog terakhir. Tidak ada yang luar biasa dari kegiatan saya sehari-hari. Hanya saja mulai 1 Juli 2020 kemarin, perusahaan saya Rancupid sudah aktif  ke kantor lagi walaupun hanya seminggu sekali. Sebenarnya saya masih ragu untuk mengaktifkan kantor lagi karena jumlah orang yang positif COVID19 masih dalam angka mengkhawatirkan. Tapi mau bagaimana lagi, tidak keluar rumah pun sungguh sulit. Manusia adalah makhluk sosial, sehingga tidak bersosialisai amatlah susah.

Sebelum kantor aktif kembali, di akhir Juni saya memberanikan diri untuk mencoba naik kereta di jam pulang kantor. Pengen tau bakalan seperti apa nantinya. Kalau pergi kerja kan biasanya saya memang bukan di jam sibuk, jadi pasti masih lengang. Nah, kalau jam pulang kerja nih bikin penasaran. Saya main dulu ke Lotte Shopping Avenue sampai jam 4.30 sore, baru kemudian memesan Grab ke Stasiun Tebet (tepat disaat orang-orang pada pulang kantor).
Antri diluar stasiun
Pertama kali yang saya lihat adalah antrian panjang mengular dengan jarak antrian sekitar 1 meter. Sempat was-was pasti bakalan lama banget bisa sampai naik kereta lagi🤔. Ternyata jauh dari dugaan, untuk menghindari penumpukan penumpang di stasiun, kereta komuter datang terus-menerus bahkan jaraknya lebih cepat dari jaman sebelum COVID19😂. Sepertinya saya baru mengantri 1 menit, lalu langsung maju sampai masuk ke dalam stasiun untuk di cek suhu tubuh. Tidak ada orang yang berdesak-desakan dan penjagaannya juga ketat, bahkan ada polisi membawa senjata laras panjang. Jangankan mau sikut-sikutan ala emak-emak di gerbong cewek, tidak menginjak stiker "Physical Distancing' atau salah masuk antrian udah deg-degan setengah mati. 
Antrian di dalam stasiun untuk di cek suhu sebelum tap kartu
Antrian di belakang saya (nggak boleh semua masuk stasiun dulu)
Kadang saya terkaget juga mendengar petugas berteriak, "INJAK STIKER! INJAK STIKER!" Saya jadi beberapa kali memastikan kalau saya sudah menginjak stiker apa belum. Stiker ini ditempel di lantai dengan jarak sekitar 1 meter untuk membuat jarak antrian. 
Injek Stiker!
Dari dalam stasiun ke peron juga hanya membutuhkan waktu kurang dari 5 menit saja. Saya mengantri kembali di peron dengan menginjak cat merah sebagai penanda antrian masuk kereta. Baru menunggu sebentar, kereta langsung datang dan tidak berdesakan. Walaupun saya bawa belanjaan cukup banyak, tapi enak juga jadi nggak desak-desakan di kereta, sehingga bisa menaruh belanjaan di lantai.
Antri masuk kereta
Jujur saja saya lebih suka suasana seperti ini karena kereta nggak berdesak-desakan. Walaupun baru sekitar 50% orang-orang yang kembali bekerja di kantor, tapi suasana Jakarta yang sepi dan nggak macet, kereta lengang dan datangnya kereta juga cepat, malah sangat menyenangkan. PT KCI sengaja menambah jumlah perjalanan kereta di jam sibuk untuk menghindari penumpukan penumpang dan keputusan ini sangat membuat saya sebagai pengguna kereta senang. Jadi nggak takut pulang kerja di jam 5 sore (biasanya menunggu selesai magrib dulu di kantor baru berani pulang untuk menghindari desak-desakan). Mungkin memang sebaiknya waktu kerja sekarang tidak perlu 100% dikantor, tapi bisa di rumah juga. Selain untuk menghindari COVID19, roda perekonomian bisa terus berputar, dapat menghindari kepadatan di transportasi umum, mengindari kemacetan juga sehingga kualitas udara lebih baik (ini hanya pendapat pribadi ya).

Pada tanggal 1 Juli 2020 kemarin, setelah 4 bulan di rumah saja, akhirnya saya bisa bertemu teman-teman kantor lagi dengan lengkap. Bayangkan betapa kangennya saya dengan mereka semua. Walaupun selalu bertemu di Zoom Meeting, tapi tetap beda kalau ketemu langsung pasti lebih seru. Kami halal-bihalal di Restoran Pagi Sore Tebet dan makan banyak, sebanyak yang kami mau. Resto ini pun tidak ada sepi-sepinya. Rameee banget persis seperti sebelum ada corona. Mungkin semua orang kangen masakan padang versi enak banget, sama seperti saya.

Semoga virus Corona segera menghilang dari muka bumi. Aminnn ya Allah🤲.

Juni 08, 2020

Akhirnya Kontrol Gigi Lagi

Alhamdulillah setelah 2,5 bulan lamanya, akhirnya bisa kembali kontrol behel lagi ke Orthodentist. Udah nggak enak banget rasanya gigi ini, karet yang transparan sudah menguning, seolah-olah gigi saya jadi kuning semua. Padahal sewaktu terakhir kontrol, dokter bilang kalau gigi saya bulan depan (April) sudah bisa di kunci dan kalau sudah bagus Mei atau Juni sudah bisa lepas behel. Tapi apa mau dikata, karena PSBB, klinik gigi terpaksa harus tutup dan baru buka lagi setelah lebaran, dan saya baru dapat giliran di tanggal 31 Mei 2020. Itupun saya berhasil mendaftar karena tanpa sengaja baca komentar-komentar pasien di Instagram OMDC yang mengeluh kalau behelnya udah nggak enak dan OMDC membalas untuk langsung Direct Message (DM) ke mereka untuk segera dijadwalkan. Tanpa menunggu lagi, saya langsung Whatsapp OMDC di hari Kamis dan alhamdulillah Minggu langsung dapat giliran.

Jujur aja, terakhir saya naik kereta itu mungkin tanggal 6 April 2020 karena harus ke ZAP. Jadi kemarin agak was-was untuk naik kereta lagi setelah 1,5 bulan lamanya nggak menggunakan KRL. Karena belum bisa naik Ojek Online, akhirnya saya memesan taksi online sampai ke stasiun. Sempat ragu bakalan diminta surat tugas ketika mau naik kereta, tapi kan ini hari minggu, ngapain pakai surat tugas🤔. Ternyata hanya ada pengecekan suhu tubuh saja di stasiun dan saya berhasil naik kereta yang super duper kosong. Serasa kereta milik sendiri.
Kosong
Perjalanan ke stasiun Pasar Minggu sangat cepat. Setelah itu saya memesan taksi online lagi menuju OMDC. Jadi terasa mahal karena selama ini saya naik ojek online harganya hanya sepertiganya saja. Ya sudahlah, sekali-kali juga keluar. Sesampai di OMDC, saya harus masuk ke bilik sterilizer dulu yang sepertinya menggunakan teknologi UV atau infrared. Awalnya sempat ragu kalau harus disemprot, saya malas kalau harus basah-basah, ternyata cuma disuruh tutup mata saja dan berputar, lalu selesai. Seperti tidak terjadi apa-apa.
Bilik Sterilizer
Saya mendaftar ulang di bagian administrasi. Kali ini setelah di cek suhu tubuh, saya diwawancara dulu apakah ada berpergian ke luar negeri dalam 14 hari terakhir, ada kontak dengan pasien COVID19, dan lainnya. Gimana mau pergi, bandara tutup. Gimana mau ketemu pasien Corona, komplek saya aja di lock-down. Insya Allah saya aman. Tapi karena masih situasi pandemi seperti ini, setiap pasien akan di charge biaya Alat Pelindung Diri (APD) untuk dokter dan suster yang merawat. Tidak apa-apa deh, yang penting para tenaga medis sehat wal'afiat dan terhindar dari segala virus. Aminnn ya Allah🤲. 

Hari itu saya dibikin terpana melihat dokter dan perawat yang biasa saya lihat ganteng-ganteng dan cantik-cantik, sekarang terbungkus dalam APD putih. Saya jadi diam saja memperhatikan mereka yang sedang berlalu-lalang sebelum saya dipanggil ke ruang perawatan. Ketika tiba giliran saya, saya jadi bisa melihat lebih detail apa aja yang dipakai dokter dan perawatnya, mulai dari kaca mata seperti mau snorkeling, baju seperti jas hujan, masker dan sarung tangan dua lapis, juga sepatu boots. Terlihat keren, tapi ada rasa sedih juga karena harus menerima kenyataan kalau kita sekarang sedang diuji oleh ujian terbesar umat manusia yaitu virus Corona😢. Semoga segera berakhir, semoga atas izin Allah, vaksin segera ditemukan, dan dunia kembali ke sedia kala🤲.

Sewaktu Orthodentist memeriksa gigi saya, beliau bersorak, "Yeay akhirnya rapat juga semua celah gigi kamu!" Wahhh saya langsung senang🥳. Akhirnya setelah perjuangan hampir tiga tahun ini. Dokter kemudian mengunci gigi saya dengan melilitkan kawat ke seluruh gigi. Saya bilang ke dokter kalau dilihat dari depan, masih belum lurus secara horizontal. Kata dokter, hal itu disebabkan karena gaya tarik-menarik gigi dan sekarang sedang dibenarkan agar lurus sempurna. Duhhh, nggak sabar untuk mendapat gelar Perfect Smile, hahahaha😂. I can't wait...
Sedikit lagi lurus sempurna
Setelah perawatan selesai, saya nggak bisa langsung menjadwalkan kunjungan untuk bulan depan karena memang diprioritaskan pasien yang behelnya sudah sangat bermasalah. Baiklah, kita harus sabar dan gantian dengan pasien lain...

Berikut biaya yang saya bayar:
Service Charge Rp. 40,000
Biaya APD Rp. 125,000
Kontrol Ortho Rp. 275,000

Oh iya, buat kalian yang mau perawatan menggunakan aerosol seperti scalling dan tambal gigi, kalian disarankan untuk di rapid test dulu. Kalian bisa melakukan rapid test di OMDC tapi saya lupa harganya. Yang jelas nggak begitu mahal kok dan hanya 15 menit. Awalnya saya mau scalling, tapi kalau rapid test dan ternyata saya positif, saya takut stress nanti, hahaha😂. Jadi mending nggak usah dulu deh. Lagian sewaktu di cek Orthodentist, gigi saya cukup bersih.

Sepulang dari OMDC, karena sudah lapar, saya mau mencari makanan dulu. Saya jalan kaki dari OMDC ke belokan yang lumayan jauh untuk mencari warung buka. Ada sih yang buka, tapi nggak boleh makan disitu. Duh, kalau mau bungkus dan bawa pulang ke rumah, keburu saya laparrrr setengah mati. Belum lagi setelah ini mau ke ZAP Lotte dan di Mall pasti tidak ada resto yang buka. Akhirnya saya menemukan warung padang dan memelas ke abangnya, "Bang, boleh makan disini nggak?🥺🥺🥺" Si Abang ngeliat saya dan bilang, "boleh kok asal cuma satu atau dua orang". Fiuhhh, akhirnya bisa makan padang lagi dan saya merasa ini adalah nasi padang terenak di dunia. Mungkin karena lapar berat.
Udah diacak-acak baru di foto
Alhamdulillah udah kenyang, sekarang saatnya saya ke ZAP. Oke deh, semoga tulisan ini bermanfaat. Aminnn🤲.

Mei 26, 2020

Idul Fitri 1441 H

Ini adalah Lebaran kedua bagi saya nggak pulang mudik😔. Dulu sewaktu masih kuliah pernah nggak mudik juga, tapi masih ada abang kandung yang menemani dan teman-teman di asrama Aceh yang memang kala itu hampir semua tidak mudik. Saya lupa kenapa dulu kita kompak nggak mudik, tapi yang pasti bukan karena pandemi. Berbeda dengan sekarang yang sendirian banget. Tapi, alhamdulillah masih dipertemukan dengan Idul Fitri 1441 H. Suasana yang begitu berbeda. Tidak ada kehebohan membersihkan rumah dan membantu Mama masak di dapur untuk mencincang ini itu sejak H-2. Tidak ada kerusuhan para keponakan yang lari sana-sini, nggak mau makan, nggak mau mandi, nggak mau tidur, mainan berserakan, dan lainnya yang membuat tantenya pusing 7 keliling🤯🤯🤯. 

Kalau dipikir-pikir, alhamdulillah saya masih sangat beruntung. Saya dikirimkan paket makanan sangat banyak oleh teman-teman, para tetangga yang baik hati juga saling bersilaturahmi walaupun cuma sebatas garasi, dan menerima ucapan lebaran secara virtual sangat banyak dari semua orang-orang tersayang. Hanya saja, rasanya tetap ingin pulang. Lebaran di Aceh pasti selalu terasa, apalagi rumah saya masih di kampung. Hmmm, insya Allah masih ada lain waktu. Semoga Idul Adha nanti sudah bisa pulang. Amin🤲.

Sebenarnya beberapa hari sebelum Ramadhan, saya sama sekali tidak terpikir bagaimana suasana bulan mulia ini di tengah pandemi COVID19. Mungkin bakalan sama saja dengan hari-hari biasa dengan bangun sahur, kerja, buka puasa, taraweh, tidur. Apalagi karena social distancing berarti ya nggak bisa taraweh di mesjid. Saya sempat berpikir kalau bisa-bisa saya akan bosan di rumah selama Ramadhan. Ya paling bakalan kerja dari pagi sampai malam, begitu seterusnya. Bahkan saya tidak terlalu antusias menyambut Ramadhan, apalagi Amazon baru saja suspend. Disitu saya merasa ada yang salah dalam keimanan saya kalau sampai tidak bahagia menyambut Ramadhan.

Sampai saya mendapat kabar kalau seseorang yang saya kenal kena COVID19 dan ntah bagaimana kabarnya. Mulai terbayang, bagaimana kalau saya kena juga? Lalu diisolasi? Sendiri? Dan meninggal lalu dikuburkan jauh dari keluarga, bahkan tidak ada yang melayat😨😨😨. Walaupun meninggal di kala pandemi bisa mendapat pahala syahid, tapi ntah kenapa hati dan pikiran ini seolah seperti tersambar petir. Ya Allah, maafkan hamba🥺.

Sejak saat itu saya membuat time table. Mulai dari bangun sahur sampai tidur lagi. Pokoknya tidak boleh ada waktu yang terbuang sia-sia. Saya langsung mencoba bergembira dengan datangnya bulan Ramadhan. Saya menulis seluruh kegiatan selama Ramadhan di blog postingan Dear Ramadhan sebelum ini. Saya berjanji pada diri sendiri, tidak boleh terlalu banyak tidur, tidak boleh terlalu banyak bersocial media, harus meningkatkan amalan, apa pun itu, mau mengaji, hafal Al-Qur'an kembali, belajar bahasa Arab, semua saya coba lakukan.

Di awal-awal Ramadhan, semua super duper terasa berat😔. Saya bahkan sudah mau menyerah😔. Karena kurang tidur, badan jadi lebih capek. Karena sibuk belajar dan menghafal, jadi gampang pusing. Kemudian saya membaca keadaan negara kita semasa pandemi ini kian memburuk, PHK dimana-mana, semakin hari orang meninggal semakin banyak, kriminalitas semakin tinggi, dan saya jadi takut. Saya takut Allah mencabut nikmat penjualan besar-besaran di Rancupid sehingga mengakibatkan Rancupid mem-PHK (na'udzubillah) dan juga takut Allah mencabut nikmat sehat di tubuh saya. Karena jika Allah subhanahu wata'ala berkehendak, semua hal bisa terjadi.

Saya kemudian tetap berusaha, pelan tapi pasti, setidaknya melonggarkan sedikit jadwal tapi target perhari tetap harus tercapai semuanya. Dari situ saya belajar membagi waktu. Seolah-olah terlewat 5 menit saja, rasanya begitu berarti. Agar tidak gampang lemas, bisa mengikuti sahur sesuai sunnah Rasullullahﷺ. Nabi Muhammadﷺ pernah berperang di bulan Ramadhan, masa' kita cuma belajar dan menghafal sambil rebahan aja udah K-O. Rasulullahﷺ juga pernah shalat malam sepanjang malam di bulan Ramadhan, masa' kita cuma beberapa rakaat taraweh dan tahajjud saja sudah letih. Apalagi saya masih muda, sering berolah raga, cuma shalat beberapa rakaat begini sih seharusnya gampanglah. Kalau bukan kelelahan ini karena banyak syaiton😈 di tubuh, ya karena apa lagi? Hahaha.

Dan ketika 10 hari terakhir di bulan Ramadhan, rasanya sedih... Sedih sekali. Jadi teringat almarhum Papa. Sempat terbersit kalau saya meninggal karena COVID19, mungkin saya akan bertemu Papa. Tapi pikiran itu langsung saya tepis. Kematian bukan peristiwa yang mudah. Kalau saja kematian seolah seperti membuka pintu ke alam yang lain, pasti semua orang akan menganggap kematian adalah perihal sepele. Bagaimana nanti pertanggungjawaban semua perbuatan (hisab) yang saya lakukan di dunia dan hal itu masih sangat menegangkan? Memikirkannya saja jadi ngeri sendiri😣.

Tapi saya tetap teringat Papa. Dulu sepulang shalat taraweh di mesjid di malam-malam ganjil, Papa selalu mengajak saya untuk menebak-nebak apakah ini adalah malam Lailatul Qadr dengan ciri-ciri yang Papa sebutkan sesuai hadist:

“Malam itu adalah malam cerah, terang, seolah-olah ada bulan, malam yang tenang dan tentram, tidak dingin dan tidak pula panas. Pada malam itu tidak dihalalkan dilemparnya bintang (meteor), sampai pagi harinya. Dan sesungguhnya, tanda Lailatul Qadar adalah matahari di pagi harinya terbit dengan indah, tidak bersinar kuat, seperti bulan purnama, dan tidak pula dihalalkan bagi setan untuk keluar bersama matahari pagi itu,” (HR. Ahmad).

Pada malam ke 21, saya keluar rumah dan menatap langit. Ciri-ciri Lailatul Qadr seolah merupakan teka-teki. Dulu ketika saya masih kecil, bisa tebak-tebakan dengan Papa. "Pa, kalau bintangnya banyak, berarti malam ini (Lailatul Qadr) bukan?" Papa kembali bertanya, "Ngeliat bulan setengah nggak?" Saya menggeleng, lalu terus mencari-cari bulan sampai capek sendiri kalau nggak ketemu karena tertutup awan. Saya juga pernah bertanya, "Pa, malam ini tenang nggak ada yang berisik (maksudnya anak-anak tetangga pada main petasan). Berarti ini malamnya?" Papa kadang cuma tersenyum. Ketika tiba-tiba terdengar suara mercon, saya bisa langsung sedih karena buyarlah tanda-tanda malam Lailatul Qadr. Padahal bukan seperti itu😅, tapi mengingat hal itu sekarang, sungguh saya jadi begitu emosional ketika menuliskan ini😭😭😭. I miss you Dad... Allahumaghfirlahu warhamhu wa'afihi wa'fu anhu.

Kesimpulan yang dapat diambil, saya merasa Ramadhan kali ini begitu berkesan. Dari awal Ramadhan (yang semula saya rasa bakalan biasa saja), sampai hari terakhir, semua saya manfaatkan semaksimal mungkin. Bahkan menurut saya, ini adalah Ramadhan yang paling produktif selama saya hidup. Kalau orang-orang bilang social distancing bisa membuat gangguan mental, tapi menurut saya tergantung cara menyikapinya. Semakin kita sendiri, sepi, maka kualitas ibadah seharusnya semakin baik, semakin khusyu', dan menyentuh ke dalam jiwa.

Ramadhan kali ini juga saya berhasil mengurangi waktu tidur, terlebih lagi di sepuluh malam terakhir. Baru kali ini saya begitu ingin mendapatkan Lailatul Qadr, mencari tau sedetail mungkin apa saja amalan yang bisa dilakukan di malam-malam ganjil, dan kecewa ketika waktu terbuang sia-sia. Pada bulan-bulan Ramadhan sebelumnya, yang disibukkan untuk ke kantor, saya merasa sangat lelah. Pulang ke rumah hanya sanggup shalat taraweh seadanya saja, dengan bacaan surah dalam Al-Qur'an yang terpendek. Rasanya shalat ingin cepat selesai di kala itu, agar bisa langsung tidur. Berbeda dengan Ramadhan ini, saya merasa rugi kalau shalat terlalu cepat. Saya bahkan menghitung, kalau shalat 4 rakaat dengan bacaan surah di Juz Amma sebanyak 22 ayat saja, itu tidak sampai 10 menit. Kenapa saya dari dulu menyia-nyiakan waktu beribadah yang hanya 10 menit itu? Rasanya rugi, sungguh rugi, semoga Allah mengampuni saya, aminnn🤲.

Ramadhan kali ini juga saya jadi mengenal para tetangga lebih baik. Setiap sore menjelang berbuka kita sering mengobrol, walaupun dengan cara berjauhan, sekedar hanya membahas tidak bisa mudik atau mereka datang hanya untuk melihat-lihat halaman. Kita juga saling memberi makanan berbuka. Oh iya,  biasanya tahun-tahun sebelumnya karena selalu pulang kampung, saya jarang mendapat parcel/hampers/hadiah sebanyak tahun ini. Hampir setiap hari pintu rumah diketuk dan saya mendapat hadiah. Saling memberi hadiah adalah sunnah apalagi dikerjakan di bulan Ramadhan. Baru tahun ini juga saya jadi berpikir mau ngasih apa ya ke si A, atau si B, atau si C.
Hadiah Makanan
Hadiah Makanan
Dan ketika Ramadhan berakhir, saya begitu emosional. Hal ini tidak pernah terjadi di tahun-tahun sebelumnya. Mungkin karena jauh dari keluarga juga, mungkin karena saya begitu senang berada di bulan Ramadhan tahun ini. Mungkin karena begitu padatnya kegiatan di Ramadhan. Bahkan kalau sedang bersih-bersih rumah saja, saya memutar Youtube Ustadz Firanda agar tidak ada waktu yang terbuang sia-sia. Tangan melanjutkan beres-beres, telinga mendengar kajian. Saya suka mendengar cerita-cerita Nabi di Youtube Ustadz Firanda. Cara menceritakannya bagus, lucu, tegas, dan gampang dicerna untuk orang yang pemahaman agamanya biasa-biasa saja seperti saya. Semua membuat saya bahagia, bahkan terharu. Semoga Allah menyampaikan umur saya untuk bertemu dengan Ramadhan berikutnya, aminnn🤲.

Hari H-1 Lebaran, teman-teman dan tetangga pada memberikan makanan. Mereka khawatir karena saya tidak pulang kampung, nanti malah tidak bisa makan makanan enak. Alhamdulillah mereka semua orang yang baik dan mau memikirkan saya. Memang rezeki tidak hanya berupa harta, teman yang baik, tetangga yang penyayang, semua merupakan rezeki. Jadilah saya mendapat limpahan makanan yang saya aja sampai bingung bagaimana cara menghabiskannya. Mau mengajak teman-teman datang pas lebaran, tapi komplek kami ditutup untuk orang luar. Ya sudah, sebagian saya masukkan saja dalam freezer. Insya Allah kuat sampai satu bulan.
Makanan memenuhi meja
Akhir kata, Selamat Hari Raya Idul Fitri 1441H. Mohon maaf lahir dan batin🙏.
Taqabalallahu minna wa minkum shiyamana wa shiyamakum wa ja’alna minal ‘aidin wal faizin.
تَقَبَّلَ اللّهُ مِنَّا وَ مِنْكُمْ صِيَمَنَا وَ صِيَمَكُمْ وَجْعَلْنَا مِنَ الْعَائِدِين وَالْفَائِزِين
"Semoga Allah menerima (amal) dari kami dan (amal) dari kalian, puasa kami dan puasa kalian. Dan Semoga Allah menjadikan kita bagian dari orang-orang yang kembali (kepada ketaqwaan/kesucian) dan orang-orang yang menang (dalam melawan hawa nafsu dan memperoleh ridha Allah)."
Selamat Idul Fitri 1441 H

Mei 10, 2020

Dear Ramadhan

Ramadhan kali ini sangat berbeda ditengah cobaan terbesar umat manusia, yaitu virus Corona. Tidak bisa beribadah ke mesjid, pertokoan pada tutup, dan banyak sekali karyawan terkena PHK. Padahal biasanya mereka sangat bersemangat untuk bekerja, apalagi sebentar lagi akan mendapatkan Tunjangan Hari Raya (THR). Jangankan THR, masih bekerja saja dengan gaji dipotong sudah bagus, apalagi berharap THR turun. Office Boy (outsourcing) di Rancupid terpaksa harus pulang ke kampung karena kehabisan uang untuk membayar kosan dan untuk makan. Dia sampai pinjam uang untuk membayar biaya hidup dan ongkos pulang. Sedih memang, tapi beginilah kehidupan saat ini.

Saya jadi ingin membahas beberapa hal dari sisi bisnis di perusahaan dan apa yang sedang terjadi saat ini. Semoga bisa bermanfaat ya. Mari disimak!

1. Bisnis Rancupid
Beberapa kali saya mendapat pesan Whatsapp dari teman-teman yang bertanya tentang bagaimana bisnis Rancupid disaat ini? Mungkin perhatian mereka pada Rancupid Travel karena memang teman-teman lebih tahu Rancupid Travel daripada apa core business Rancupid sendiri. Jujur aja untuk travel memang sama sekali tidak ada pesanan. Kalau memang bisnis kita bergantung pada travel, mungkin Rancupid sudah gulung tikar sejak awal Maret 2020 yang lalu. Tapi Rancupid Travel hanya salah satu divisi di Rancupid Group, sehingga dari Group Company sendiri bisa melakukan subsidi silang.

Bagaimana di Rancupid Group? Alhamdulillah kita bahkan sampai mencetak rekor karena penjualan di Amazon meningkat sangat tajam, di seluruh dunia. Kita sendiri sampai heran. Kenapa peningkatan penjualan bisa se-signifikan ini😱😱😱? Orang-orang di seluruh dunia ternyata berpikir untuk belanja online selagi mereka diisolasi atau karantina di rumah. Apalagi untuk negara-negara yang sudah memberlakukan lock down lebih dulu sebelum Indonesia mengenal Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). 

Jadi teringat betapa sulitnya membangun perusahaan selama tiga tahun ini. Walaupun penjualan terus ada di Amazon, kadang ada saja waktu dimana kita sulit sekali menutupi biaya operasional perusahaan. Menurut saya bahkan semester 2 tahun 2019 adalah periode terburuk dalam kondisi keuangan perusahaan. Saat itu, kondisi mental dan emosi sangat diuji. Ntah berapa Amazon sudah pernah suspended, duit tertahan, cash-flow hancur, bahkan duit pribadi pun mulai menipis. Tapi saya selalu berusaha menyemangati Rancupiders (teman-teman, karyawan, subcon, partner, freelancers, di dalam Rancupid) untuk bersabar. Mereka pasti susah dengan kondisi keuangan seperti ini, tapi mungkin karena mereka juga menjaga perasaan saya, sehingga mereka tidak ada satu pun yang protes. Kita tetap main bareng, nongkrong, tanpa sama sekali membahas bagaimana prospek Rancupid ke depan karena saya sendiri sebenarnya sudah sangat khawatir. 
Whatsapp status sejak beberapa tahun ini
Kalau dipikir-pikir sekarang, mungkin ini hikmah dari kesabaran dan jawaban dari doa-doa. Pantas saja Allahﷻ menyebutkan banyak kata sabar dalam Al-Qur'an karena memang hikmah dari sabar itu tidak disangka-sangka. Sebagai seorang muslim yang baik juga hendaklah kita harus optimis kalau keadaan pasti akan membaik. Dengan demikian kita dapat terus berusaha semaksimal mungkin, berdoa, dan bersabar. Semoga keadaan akan selalu baik-baik saja.

"Mukmin (orang yang beriman) yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada orang mukmin yang lemah. Pada diri masing-masing memang terdapat kebaikan. Capailah dengan sungguh-sungguh apa yang berguna bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah dan janganlah kamu menjadi orang yang lemah. Apabila kamu tertimpa suatu kemalangan, maka janganlah kamu mengatakan; ‘Seandainya tadi saya berbuat begini dan begitu, niscaya tidak akan menjadi begini dan begitu’. Tetapi katakanlah; ‘lni sudah takdir Allah dan apa yang dikehendaki-Nya pasti akan dilaksanakan-Nya. Karena sesungguhnya ungkapan kata ‘kalau’ (seandainya) akan membukakan jalan bagi godaan setan.” (Hadits Riwayat Muslim dari Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu, Shahîh Muslim, juz VIII, hal. 56, hadits no. 6945)"

2. Perekonomian di Indonesia
Saya memang bukan ahli ekonomi, hanya seorang lulusan IT. Di bulan Maret kemarin Rancupiders sangat disibukkan dengan orderan membludak, bahkan sampai beberapa dari kami jadi jatuh sakit karena kelelahan. Saya sendiri sampai demam karena Amazon saya suspend ditengah orderan sebanyak ini. Saya jadi tidak nafsu makan, mulai merasa bosan di rumah, dan jadi malas kerja. Alhamdulillah kondisi seperti itu pada diri saya tidak berlangsung lama karena Amazon di Rancupid sangat banyak untuk tidak diurusi sama CEOnya. Mungkin mood saya kembali setelah seminggu, dan saya kembali giat bekerja. Saya mengambil sisi positif dari Amazon suspend dengan bersabar dan berprasangka baik pada Allah subhanahu wata'ala, bahwa semua kejadian sudah digariskan dan pasti ada hikmah di balik semua ini. Saya juga sangat optimis kalau Amazon ini akan segera buka.

Sampai saya mendapat pesan Whatsapp lagi dari seorang teman yang mengatakan dia nyaris di Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Saya kaget. Hah😱😱? Separah itukah? Awalnya saya masih menenangkan dia bahwa tidak akan ada PHK. Lalu ada teman saya juga ngeWhatsapp kalau dia tidak akan menerima THR dan gaji dipotong. Disitu saya mulai was-was terhadap apa yang sedang terjadi sekarang. Sampai saat saya membaca sebuah artikel bahwa Traveloka sudah melakukan PHK terhadap 100 orang karyawan atau 10% dari total karyawan, dan karyawan reguler hanya mendapatkan separuh gaji mereka.
Rangkuman berita di media
Tidak berhenti disitu saja. Mc. D Sarinah berhenti beroperasi. Walaupun hal ini dikarenakan ada perubahan strategi bisnis dari pihak manajemen Sarinah, tapi untuk sebuah resto yang sudah ada selama 30 tahun, kita bisa menerka-nerka kenapa🤔. Kemudian Airy Rooms, Startup yang juga merupakan mitra bisnis Traveloka akan tutup permanen pada 31 Mei 2020 nanti. Dilanjutkan dengan AirBnB yang telah melakukan PHK pada 1900 karyawan, OYO merumahkan karyawan di seluruh dunia, dan KFC yang merumahkan 450 pekerja di Jawa. Forbes Indonesia menuliskan bahwa GDP Indonesia Growth on its weekest since 2001. And it means very very bad😭.Virus ini dampaknya sangat mengerikan. Tingkat kemiskinan di Indonesia bahkan di dunia akan bertambah berkali-kali lipat dalam satu dekade terakhir😭😭😭.
Dari IG ForbesIndonesia
3. Mari Bersedekah
Saya jadi merenungkan kejadian demi kejadian selama Ramadhan ini. Saya mengira Amazon suspend itu sudah akhir dari segalanya. Mungkin karena selama ini seluruh perhatian saya curahkan pada amazon itu dan tiba-tiba suspend. Padahal uangnya paling banyak diantara seluruh Amazon lain. Kalau sekarang jadi berpikir, pada dasarnya rezeki yang ditetapkan Allahﷻ jumlahnya sama. Tinggal bagaimana cara mendapatkannya. Walaupun Amazon suspend, saya tetap dapat gaji dari perusahaan yang lebih dari cukup. Lagian, uang banyak sekarang untuk apa? 

Saya sempat menonton Video Nash Daily kalau sekarang bukan waktunya untuk beli mobil baru, beli tas Gucci, beli baju baru, beli saham, semuanya itu tidak dibutuhkan. Yang benar-benar dibutuhkan sekarang adalah Compassion (belas kasihan/kasih sayang). Kalian bisa melihat videonya di bawah ini kalau membaca blog saya dari laptop (kalau dari hp harus di set desktop version), agar membuka pikiran kita semua tentang apa yang sedang terjadi saat ini.

Coba lihat di indonesiadermawan.id dan kitabisa.com, ntah berapa banyak campaign untuk berbuat baik untuk sesama. Kita juga bisa berbagi sembako ke tukang kebun, tukang parkir, satpam komplek, dan orang-orang yang sangat berdampak saat pandemi ini terjadi. Apalagi di bulan Ramadhan seperti ini. Rasullulah ﷺ saja menjadi lebih dermawan di kala Ramadhan, masa' kita enggak? Kalau bisa, buat teman-teman yang masih punya penghasilan besar, mungkin ini saatnya untuk menyisihkan sedikit penghasilan untuk membantu sesama. Kalian tenang saja, harta kita tidak akan berkurang apabila rajin bersedekah. Bahkan akan terus bertambah.

مَّثَلُ ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَٰلَهُمْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِى كُلِّ سُنۢبُلَةٍ مِّا۟ئَةُ حَبَّةٍ ۗ وَٱللَّهُ يُضَٰعِفُ لِمَن يَشَآءُ ۗ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌ 

"Arti: Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. (QS Al-Baqarah Ayat 261). "

4. Kegiatan Ramadhan
Selama Ramadhan ini ada beberapa hal yang saya kerjakan.
  • Belajar Bahasa Arab. Saya sudah memantapkan niat untuk belajar Bahasa Arab ilmu Nahwu di Youtube Ustadz Firanda. Saya termasuk buta dengan bahasa Arab, tapi saya yakin dengan belajar sungguh-sungguh, saya pasti bisa! Biasanya saya memulai nonton Youtube jam 9-10 pagi sampai waktu Zuhur. Tayangannya hanya 1 jam, tapi kadang saya memutar dan mengulangnya karena saya harus mencatat sehingga bisa berlangsung berjam-jam. Kadang ketika adzan Zuhur berkumandangan dan belum selesai, saya lanjut lagi siang atau malam. Pokoknya saya harus bisa! Tulisan arab saya yang di hari pertama belajar amburadul banget, semakin kesini semakin rapi. Ketika sedang membaca Al-Qur'an pun jadi tau kalau ini adalah ism' (kata benda) atau ini adalah fi'il (kata kerja). Yang paling berat mungkin menghafal rumus. Ilmu Nahwu memiliki sangat banyak rumus dan beberapa kali saya kewalahan. Tapi diusahakan saja. Pelan tapi pasti. Supaya lebih semangat, saya mencorat-coret catatan saya dengan pulpen warna-warni biar cantik, hehehe😄.
    Belajar bahasa Arab
  • Menghafal kembali Juz Amma. Katanya, semakin tua otak semakin malas menghafal. Kalau dibilang seperti itu ada benarnya juga sih karena memang jadi lebih susah untuk mengingat dan mengulang. Tapi menurut saya intinya adalah fokus. Semakin dewasa, kita memiliki banyak pikiran dan sulit fokus. Makanya jadi susah menghafal. Jadilah saya melatih diri untuk lebih fokus dan berusaha sedikit demi sedikit untuk menghafal lagi. Dulu hafalan saya banyak. Mungkin karena banyak dosa, jadi hafalan pada hilang. Alhamdulillah sudah lebih dari setengah Ramadhan, banyak hafalan berhasil kembali lagi walaupun agak sulit. Saran saya kalau sedang kerja mending memutar Youtube surah yang ingin di hafal, jadi bisa terngiang-ngiang sehingga lebih cepat bisa terhafal dengan sendirinya.
  • Memperbanyak shalat sunnah. Sewaktu sedang menstruasi dan tidak bisa shalat dan berpuasa, sangat sulit mengulang kembali hafalan Juz Amma karena tidak dipraktekkan langsung saat shalat. Ketika sudah bisa shalat lagi, menghafal jadi lebih enak. Biasanya saya akan mengulang hafalan di shalat-shalat sunnah, sedangkan pada shalat wajib hanya akan membaca surah pendek yang sudah dihafal di luar kepala. Semakin banyak shalat sunnah yang kita kerjakan, maka semakin sering mengulang hafalan. Jadi semakin lancar. Tips dari saya sehari minimal dua ayat dihafal. Kalau ayatnya pendek banget bisa dihafal 3-4 ayat. Nggak usah banyak-banyak, nanti pusing, hehehe😄.
  • 1 hari 1 juz. Sepertinya hal ini sudah dipraktekan oleh banyak orang selama Ramadhan dan selalu harus bisa dilakukan. Minimal mengaji sehari 1 juz supaya bisa khatam selama Ramadhan.
  • Memperbanyak sedekah. Setelah banyak mendengar ceramah ustadz-ustadz sunnah yang mengajarkan untuk memperbanyak sedekah, saya berusaha merutinkannya setiap hari, kecuali lupa. Kondisi seperti ini dimana banyak sekali orang yang berdampak, pasti sangat membutuhkan bantuan kita. Bersedekahlah semampu kita. Kalau memang mampu Rp. 5000, silahkan. Kalau sampai ratusan ribu juga silahkan. Ingatlah ayat Al-Qur'an yang saya tuliskan diatas. Semakin banyak bersedekah, semakin baik. Semakin sempit kondisi kita dan tetap mengusahakan bersedekah, akan lebih baik lagi. Bersedekah tidak perlu menunggu kaya atau sedang senang. Justru dalam kondisi sempit dan tetap bersedekah, pahalanya akan lebih banyak. 
"Dari Abu Hurairah, Nabi ﷺ bersabda, “Satu dirham dapat mengungguli seratus ribu dirham“. Lalu ada yang bertanya, “Bagaimana itu bisa terjadi wahai Rasulullah?” Beliau jelaskan, “Ada seorang yang memiliki dua dirham lalu mengambil satu dirham untuk disedekahkan. Ada pula seseorang memiliki harta yang banyak sekali, lalu ia mengambil dari kantongnya seratus ribu dirham untuk disedekahkan.” (HR. An Nasai no. 2527 dan Imam Ahmad 2: 379. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)."
 
  • Hampir tidak pernah masak. Berhubung tetangga sering berbagi iftar dan jajanan untuk berbuka puasa sangat bervariatif, jadi untuk sementara saya gantung wajan. Mau masak juga nanti nggak sanggup makan karena makanan terlalu banyak. Pernah sekalinya masak, lalu kekenyangan ketika berbuka dan nggak mood makan malam lagi. Akhirnya jadi disimpan untuk sahur besok.
5. Jadwal Selama Ramadhan
  • Bangun Sahur. Kalau keburu bisa shalat Tahajjud dan Witir. Kalau nggak, paling cuma makan sahur kilat karena sudah mau adzan Shubuh. Kadang di saat sahur masih sempat mengerjakan Amazon.
  • Shalat Shubuh, mengaji, tidur lagi.
  • Bangun, mengurus tanaman dan membereskan halaman, membalas Whatsapp yang biasanya sudah menumpuk, mandi, shalat Dhuha, belajar bahasa Arab sampai Zuhur.
Mengurusi tanaman
  • Biasanya mengulang hafalan di kala shalat sunnah yang mengiringi Shalat Zuhur. Setelah itu mengaji lagi, mengerjakan Amazon, tidur siang.
  • Bangun, shalat Ashar, mengaji, mencari bukaan sambil ngabuburit. Kadang nonton Youtube, kadang jalan-jalan keliling komplek, atau sekedar melihat-lihat bunga di halaman.
  • Buka puasa, Shalat Maghrib, mengaji dan mengulang hafalan sampai Isya.
  • Makan malam sambil kerja. Kadang mengulang belajar bahasa Arab di Youtube.
  • Shalat Tarawih, lalu tidur.
6. Menu Makanan
  • Sahur : Berhubung saya malas masak pas sahur, jadi biasanya saya makan Muesli. Saya persiapkan Muesli dicampur susu dari semalam, lalu besoknya tinggal disantap. Urutan sahur saya adalah sewaktu bangun langsung minum minyak zaitun dulu. Selanjutnya makan muesli, buah melon, dan kurma. Ditutup dengan minum madu. Tidak lupa banyak-banyak minum air putih. Kalau misalnya sisa makanan ketika berbuka puasa masih banyak, saya masukkan ke dalam kulkas dari semalam. Pas sahur tinggal dihangatkan dengan microwave. Pokoknya saya nggak mau ribet, yang penting makan😆.
  • Berbuka : Biasanya saya makan gorengan dan membuat tenggorokan saya jadi agak sakit sekarang. Mungkin udah beberapa hari di waktu berbuka makannya gorengan terus, jadi nggak enak tenggorokan. Selama ini saya sangat jarang makan gorengan. Biasanya yang saya makan pun gorengan yang saya pesan dari ibu-ibu komplek. Kalau lagi ngabuburit jalan-jalan pakai sepeda motor, saya suka beli es kelapa. Saya minta abangnya jangan memasukkan banyak es batu karena membuat tenggorokan semakin nggak enak.
Tidak lupa beli donat menul😆
  • Makan malam : Kadang makan lontong, kadang makan mie, dan sangat jarang makan nasi. Biasanya makanan berbuka masih banyak banget. Jadi berusaha menghabiskan satu demi satu. Kalau puasa, lambung terasa jadi lebih kecil. Jadi nggak bisa makan dengan porsi yang terlalu banyak.
Sepertinya saya sudah menulis semua cerita selama Ramadhan 1441 H. Walaupun Lebaran masih ada beberapa hari lagi, tapi sepertinya suasananya akan sama saja seperti hari biasa. Tidak ada keseruan seperti tahun-tahun yang lalu, tidak ada keluarga yang saling berkunjung, dan saya sepertinya akan dirumah saja seharian. Rasanya ingin makan lontong dan rendang buatan Mama yang enaknya luar biasa. Tapi apalah daya tidak bisa pulang. Seandainya sekarang kita mampu membeli tiket pesawat kelas bisnis pun tidak akan ada gunanya. Pemerintah menerapkan larangan mudik dan saya tidak bisa pulang ke Aceh.

Semoga tulisan saya diatas dapat menginspirasi kalian semua yang barangkali ada yang mau mengulang hafalan Al-Qur'an atau belajar bahasa Arab. Insya Allah postingan ini ikhlas dan tidak ada unsur riya. Semoga kita selalu berada dalam lindungan Allah subhanahu wata'ala, semoga pandemi ini segera berakhir, dan kita semua bisa berkumpul dengan keluarga kembali. Semoga Amazon saya yang suspend juga segera buka. Aminnn ya Rabb🤲.

April 17, 2020

Hikmah Self-Quarantine

Sekarang seluruh dunia sedang menerapkan Self-Quarantine. Saya juga sudah sebulan tidak ke kantor dan hanya keluar rumah kalau ada kebutuhan mendesak. Berbeda dengan Jakarta, di Depok masih ramai saja orang yang berlalu-lalang, toko-toko masih pada buka, bahkan abang penjual donat pun buka (nggak ada Corona aja Abang Donat jarang buka karena terlalu laris😅). Kegiatan sehari-hari saya biasanya mengerjakan amazon dan memang saya nggak pernah bosan melakukannya karena saya suka banget dengan bisnis ini. Tapi karena sekarang Amazon saya sedang suspend (semoga segera buka ya Allah dan tidak pernah suspend lagi, aminnn🤲), jadi ada waktu lowong. Semoga setelah posting ini di-publish, Amazon saya sudah buka. Aminnnn🤲.

Sebenarnya saya sangat sedih saat Amazon suspend karena duit jadi tertahan, tapi kita harus berbaik sangka pada Allah mungkin ini saatnya saya istirahat sejenak karena udah hampir sebulan waktu saya tidur sangat sedikit. Walaupun berusaha makan sehat dan berolahraga, tapi tetap aja kerjaan saya menatap laptop tampa henti. Jadi teringat blog yang tak kunjung terisi, orderan yang masih banyak belum dikirim, dan membereskan barang-barang di inventory Amazon yang stoknya sudah tidak update. Apalagi sekarang banyak sekali suplier tutup karena COVID19. Seandainya Amazon tidak suspend, saya tidak sempat beres-beres toko (kurang lebih begitu istilahnya), jadi anggap saja ini adalah hal yang baik karena Allah subhanahu wata'ala paling tau yang terbaik. Saya akhirnya sudah beresin semua perintilan di toko, insya Allah tinggal menunggu kabar baik kalau Amazon saya segera buka, aminnn🤲.

Karena judul postingan saya adalah hikmah, jadi saya mau membahas beberapa hikmah yang saya rasakan selama social-distancing ini. Mari disimak!

1. Langit Jakarta berwarna biru
Jujur saja, sejak saya pertama kali tinggal di Jakarta yang berarti sudah 10 Tahun, saya belum pernah melihat langit Jakarta berwarna biru. Sewaktu saya berada di Australia, sempat terbersit doa dalam hati untuk melihat langit sebiru ini (ketika di Melbourne) di Jakarta suatu hari. Bayangkan kota metropolitan seperti Jakarta memiliki langit sangat indah, Masya Allah. Semoga terus seperti ini walaupun Corona sudah hilang dari muka bumi.
Jakarta Langit Biru
Masya Allah
Saya juga sempat membaca di instagram pak Anies Baswedan kalau binatang-binatang di Ragunan jadi tidak stres. Biasa mereka selalu dikeliling para pengunjung yang membludak di akhir minggu. Sekarang bisa lebih santai dan tenang seperti benar-benar sedang di habitat asli mereka.
Anak jerapah
2. Jadi Suka Masak
Sebenarnya saya lumayan suka masak, apalagi sejak merantau. Tetapi gara-gara Corona ini, sudah dapat dipastikan dalam sehari minimal sekali masak. Sebelum Corona, bawang merah dan putih sebulan juga belum tentu habis padahal cuma beli 1/4 kg. Cabe juga kadang sampai busuk sendiri di kulkas. Bumbu-bumbu masakan, stoplesnya sampai berdebu. Garam aja nggak pernah kurang dari setengah stoples kecil. Kali ini saya sampai niat beli wajan baru karena merasa nggak nyaman dengan wajan yang lengket atau cepat hangus.
Masak-masak
Paru goreng balado
Sekarang sebentar-bentar beli bawang merah dan putih. Jadi tau fungsi bawang putih di rasa masakan lumayan signifikan. Jadi rajin 'nyambel juga. Kalau beli cabe merah dan rawit saya masukin freezer biar tahan lama karena sekali beli langsung banyak dan malas beli berkali-kali. Walaupun masih beli di pedagang online, tapi harus jalan ke pos satpam depan komplek untuk mengambil barang. Duh, males banget keluar rumah. Saya juga jadi bisa masak makanan yang enak dan cepat, karena kadang nggak punya waktu terlalu banyak untuk berada di dapur. Pernah juga masak sekali banyak biar besok nggak usah masak lagi.

3. Mengurus Halaman
Sebelum Corona juga saya sudah rajin bercocok-tanam (berkebun). Saya punya banyak koleksi bunga di halaman rumah. Karena salah satu saran meningkatkan imunitas kesehatan adalah berjemur, dan saya nggak bisa kalau berjemur sambil diam saja. Harus ada hal yang bisa dilakukan. Jadilah saya berjemur sambil membereskan halaman. Mulai dari menyapu daun-daun dari pohon jambu yang selalu berguguran, sampai memangkas batang bunga mawar. Saya baru tau kalau tanaman mawar ini susah banget perawatannya. Udah dikasih pupuk, disemprot hama, bahkan saya sampai googling untuk mencari tau sebab kenapa mawarnya tumbuh kerdil.
Tukang kebun nggak beresin lagi hufff😫
Yang paling sebel kalau ulat datang menghampiri daun-daun monstera dan aglonema. Si ulat tau aja yang mana daun mahal, jadi dimakan sampai HABIS. Bahkan enggak disisain sedikit pun. Kalau saya melihat ada kupu-kupu di halaman, saya mulai curiga daun mana lagi yang semalam habis dimakan ulat. Huff, udah suudzon sama ulat😫😫. Semoga ulat nggak main lagi ke halaman saya. 
Philodendron Pastazanum kesayangan
Aglonema dan Monstera
Mungkin nanti saya mau menulis postingan khusus untuk semua jenis tanaman yang saya rawat dengan sepenuh hati selama 6 bulan ini.

4. Olahraga dan Sarapan Sehat
Biasanya saya rutin melakukan yoga. Sekarang jadi suka 'ngikutin Live Celebrity Fitness Indonesia di Facebook atau Instagram. Walaupun tipe olahraganya agak berat, tapi jadi ada variasi gerakan. Yang susah karena saya di rumah dan harus memakai sepatu. Mana sepatu bersih nggak ada lagi. Akhirnya saya mencoba bertelanjang kaki yang membuat lecet dan kulit terkelupas. Saya baru sadar pentingnya sepatu dalam berolah raga karena selama ini hanya yoga saja. Nanti kalau ada rejeki mau beli sepatu untuk olahraga di dalam ruangan ah. Biar tetap bisa berolah raga tanpa kaki lecet.
Muesli dan susu almond coklat
Oh iya biasanya saya sebelum berolah raga di pagi hari, saya akan berusaha sarapan makanan sehat. Saya paling suka sarapan Granola atau Muesli ditambah susu almond. Selain rasanya yang enak banget seperti sedang makan biji-bijian dan coklat, persiapan sarapan sehat juga praktis. Nggak usah nyalain kompor, tinggal campurkan saja dengan susu almond atau Bear Brand, selesai deh. Saya suka beli Granola dan Muesli di teman saya Instagram @rengganis. Silahkan dicoba semoga kalian juga suka!

5. PO Masakan dan Sembako dari Ibu-ibu Komplek
Enaknya tinggal di komplek, saya jadi tidak khawatir bakalan bosan dengan masakan sendiri😅. Hampir setiap hari ada aja yang dijual oleh ibu-ibu mulai dari lauk-pauk sampai cemilan. Setelah pesan, tinggal transfer uang, makanan langsung diantar ke rumah. Pokoknya enak banget deh, hehehe.
PO Cilok
Tidak ketinggalan kalau mau beli tepung, beras, telur, semua bisa di PO lalu dikirim ke rumah. Enaknya adalah kita nggak harus menyediakan uang cash karena saya malas banget ke ATM. Tinggal transfer saja, selesai deh. Sebenarnya saya pengen banget bikin kue, tapi karena tinggal sendiri dan saya nggak mau terlalu banyak ngemil, jadi susah habis nantinya. Malah jadi mubazir.

6. Komplek Jadi Rame
Setiap pagi ketika membersihkan halaman, saya bisa melihat para tetangga dengan aktivitasnya masing-masing. Ada yang sedang menyapu, menjemur, bersepeda bersama anaknya, bermain bulu tangkis, dan kegiatan positif lainnya. Kalau dipikir-pikir, ada baiknya juga sekali-sekali semuanya pada work from home karena pasti hubungan keluarga jadi semakin erat. Selain karena Corona, saya hampir tidak pernah melihat bapak-bapak berlomba bersepeda dengan anak-anaknya di komplek. Mereka bersepeda dengan sangat gembira, dan saya jadi senang melihatnya.

7. Rajin Mengikuti dan Menyelenggarakan Webminar
Selama Social Distancing, membuat webminar adalah hal yang paling sering dilakukan oleh perusahaan saya Rancupid bahkan hampir setiap minggu. Selain karena seru juga bisa berinteraksi dengan banyak orang dan menjawab ratusan pertanyaan agar otak tidak buntu, enak juga tinggal ngoceh-ngoceh doang dan dapat duit banyak😆. Peserta webminar pun sangat ramai padahal hanya diiklankan selama satu minggu saja.
Webminar Rancupid
Webminar yang saya ikuti
Salah satu webminar yang juga diselenggarakan Rancupid
Saya juga jadi sering ikutan webminar untuk menambah ilmu baru di sela kesibukan. Enaknya ikut webminar, kita bisa tetap bekerja sambil para narasumber terus menjelaskan materi. Mungkin jadi seperti mendengar radio dengan sesekali memperhatikan slide presentasi.

8. Zoom Meeting Jadi Populer
Dulu sih nggak pernah menggunakan teknologi konferensi berbasis video karena memang lebih enak kalau meeting ya tatap muka karena bisa langsung memberikan komentar atau koreksi pada pembahasan di dalam meeting. Selama menggunakan video conference, berbicara jadi harus secara bergantian. Jadi nggak bisa berdebat, hahaha😂. Tapi cukup seru juga karena kita jadi bisa tetap berkomunikasi dengan teman-teman tanpa harus bertemu.
Video Conference
Memang setiap kesusahan ada kemudahan. Setiap kejadian, pasti akan ada hikmah yang bisa dipetik. Walaupun saya jadi nggak bisa ke dokter gigi, nggak bisa nongkrong, nggak bisa ke kantor, tapi di rumah juga saya betah kok. Dengan banyak kegiatan yang bisa dilakukan seperti diatas, hari jadi berlalu begitu cepat. Tidak terasa sebentar lagi Ramadhan🥰.

Semoga Amazon buka dari suspend ya Allah dan saya bisa mudik. AMINNNN🤲🤲!

Follow me

My Trip