Januari 13, 2019

Tahun Baruan di Kuala Lumpur

Salah satu alasan ke Kuala Lumpur tahun baru kemarin adalah karena tiket pesawat dari Banda Aceh ke Jakarta langsung atau transit Medan sangatlah mahal. Saya saja terpaksa memanfaatkan poin-poin atau special privilege yang sudah ditabung di beberapa website untuk bisa membeli tiket pulang dari Jakarta ke Lhokseumawe. Kalau tidak salah, tiket ke Lhokseumawe itu nyaris 1.8 juta menggunakan Lion Air dan saya dapat diskon sehingga harga yang harus dibayar adalah sekitar 1.5 juta. Lupa persisnya berapa tapi menurut saya ke Lhokseumawe seharga 1.5 juta itu normal.

Bagaimana dengan tiket kembali ke Jakarta? Waktu itu harganya sekitar 1.9 juta dari Banda Aceh pakai Lion Air. Batik sekitar 2.8juta dan Garuda 3.3juta. Saya hanya bisa tepok jidat 🤦‍♀️kalau harganya semahal itu. Sudah sama dengan tiket pesawat ke Asia Timur atau ke Australia sekali jalan dengan durasi perjalanan diatas 5 jam dengan maskapai full board. Saya mulai memutar otak, bagaimana caranya agar pulang ke Jakarta dengan tiket agak murah sedikit. Akhirnya saya memutuskan untuk lewat Kuala Lumpur. Kebetulan poin Airasia saya banyak dan saya hanya membayar sekitar 1 juta berdua sudah sama bagasi dan kursi (saya suka beli kursi di Airasia biar nggak dapat duduk terlalu jauh dibelakang). Akhirnya saya (diharuskan) tahun baruan di Kuala Lumpur dan ini untuk pertama kalinya.

Nah, di bulan Desember 2018 kemarin, Traveloka sedang promosi besar-besaran untuk fitur Traveloka Pay Later. Saya awalnya cek tiket dari Kuala Lumpur ke Jakarta, tapi jamnya nggak ada yang pas (terlalu pagi dan terlalu malam). Akhirnya karena ada panggilan meeting ke Bandung, saya memutuskan untuk naik Malindo Air ke Bandung menggunakan PayLater diskon Rp. 750rb. Total yang saya bayar untuk pesawat full board berdua tetap sejutaan saja. Murah sekali kan? Hitung-hitung, total dari Banda Aceh ke Bandung hanya 1 jutaan perorang dan bisa menikmati tahun baruan di negara orang.

Tanggal 31 Januari 2018, saya naik pesawat ke Kuala Lumpur dengan membawa bagasi 20 kg. Perjalanan ini terkesan seperti mau transit ke negara lebih jauh karena bawa koper gede, padahal cuma pulang ke Jakarta doang😅. Disini saya baru merasa kerepotan bawa koper gede kalau cuma transit doang. Untung pergi dengan teman cowok bernama Efan, jadi bisa dibantuin angkat koper. Seperti biasa kalau ke luar negri pasti banyak yang menitip ini itu dan saya biasanya mau beliin. Jadi setelah mendarat, makan sebentar, lalu pergi ke Mitsui Outlet untuk belanja. Hari itu bus ke Mitsui penuh banget dan kita kesulitan memegang koper yang kalau mobil berbelok, kopernya kabur😆. Jadi harus dipegangin karena takut kena orang nanti. Setelah turun di Mitsui, kita bisa menitip koper dan ransel di luggage storage dengan gratis. Huff, akhirnya ringan juga bawaan kita.

Setelah selesai belanja, keribetan kita kembali lagi. Kali ini penumpang bus agak sepi, jadi bisa duduk di dekat pintu masuk. Tapi koper tetap harus dipegangin biar nggak kabur. Kita kembali ke bandara untuk kemudian naik bus ke KL Sentral. Selama dalam perjalanan saya tidur karena sudah kecapekan keliling-keliling Mitsui Outlet.

Sesampai di KL Sentral, saya lupa-lupa ingat dimana Hotelnya sehingga harus bertanya pada petugas. Ada petugas yang tau jalan, ada yang salah kasih tau juga dan membuat saya bolak-balik (jadi menghabiskan waktu). Yang ribet kalau bawa koper besar adalah apabila harus naik eskalator. Saya sampai menemukan cara untuk bawa koper plus tentengan ketika menaiki eskalator. Saya nggak bisa memegang atau bersandar di dinding eskalator karena tangan kiri dan kanan sudah penuh. Jadilah berfokus supaya tetap seimbang.

Sempat bertanya dengan orang lokal dimana posisi hotel saya.
"Excuse me, do you know where's My Hotel at KL Sentral?"
"Your hotel?"🤔
Saya tertawa. Nama hotel ini emang agak ambigu😄.
"No, no. I mean, the name of the hotel is My Hotel at KL Sentral," sambil menunjukkan bookingan di tiket.com

Alhamdulillah ternyata hotelnya super dekat dengan KL Sentral dan jalanannya juga rata. Jadi nggak memberatkan ketika harus menggerek koper. Sesampai di hotel, rasanya ingin melempar koper dan tentengan yang meribetkan saya. Baru lega rasanya. Saya mandi, shalat, lalu keluar lagi setelah magrib untuk makan. Tidak lupa membawa kamera karena saya berharap bisa memotret kembang api. Destinasi pertama adalah Mall NU Sentral karena mau makan Nando's dulu. Mall ini juga banyak banget SALE dan saya sempat nongkrong agak lama disana. Setelah makan dan belanja, kami pulang ke hotel sebentar untuk menaruh barang, ambil sweater (karena gerimis), baru naik monorail ke Pavilion KL.

Kalian tau, monorail kala itu penuhnya minta ampun. Dari KL Sentral sih kosong karena pemberhentian pertama. Tapi di stasiun selanjutnya, orang yang naik rame banget😱. Sampai-sampai saya kesulitan keluar stasiun. Bukit Bintang juga sudah seperti lautan manusia. Jangankan kendaraan bermotor, kita jalan kaki aja udah susah banget bergerak dengan leluasa. Semua Mall dan toko juga sudah tutup dan rencana saya mau jajan di Pavilion sirna. Saya langsung merasa salah besar merayakan tahun baru di KL. Saya mengajak Efan langsung jalan ke KLCC karena suasana Pavilion sudah kacau balau. Orang ramai, berisik, banyak yang teriak-teriak sambil meniup terompet, dan saya mulai sakit kepala melihat situasi begitu. Teman-teman Efan yang semula pada janjian di Pavilion,  udah hilang di lautan manusia. Kalau Efan hilang dan dia nggak daftar paket data, lebih pusing lagi saya 'nyarinya😵.

Kita jalan kaki diantara orang-orang yang berisik meniupkan terompet. Pusing banget sebenarnya, tapi saya sedang berusaha santai saja. Kalau kita nggak santai, bisa-bisa habis energi untuk bete. Di jalan juga saya beli air minum, supaya nggak kehausan karena keringat terus keluar karena jalan kaki. Sesampai di KLCC, WOW banget penuh manusia😱. Ada pentas musik, tapi mendekat ke panggung itu ide yang buruk. Kita sudah berusaha mendekat ke kolam, tapi nggak berhasil sama sekali. Jadi hanya bisa duduk di taman melihat orang-orang sibuk berpesta dan meniup terompet. Rasanya pusing sekali dan saya hanya bisa diam saja. Mau ngobrol sama Efan, tapi muka dia lebih bete lagi daripada saya😣. Pohon-pohon di sekitar taman KLCC menurut saya bakalan mengganggu penglihatan kalau ingin menonton kembang api deh. Akhirnya saya mengajak Efan berdiri di dekat pintu keluar saja supaya kalau acara usai, kita bisa cepat keluar, dan juga lebih leluasa melihat kembang api.

Tepat pukul 12 malam, kembang api ditembakkan ke langit. Saya langsung kaget tapi bahagia seketika. Ntah kenapa, saya suka banget dengan kembang api. Dulu sempat menonton di Disneyland Jepang dan saya merasa jadi orang paling bahagia di dunia. Rencananya mau menikmati menit-menit awal kembang api dulu, baru kemudian ngambil kamera di ransel. Sayangnya, kembang api di KLCC cuma berlangsung 5 menit. UDAH SEGITU DOANG😨😨😨😨. Kamera aja belum sempat dikeluarin, eh acara sudah selesai. Saya jadi merasa kecewa berattt😖😖😖. Sewaktu saya datang ke KL di bulan November pas acara Deewali, kembang api berlangsung satu jam dan saya sangat bahagia. Lha, ini?
Ngambil foto dari kamera hp aja
Kembang api kedua
Pesta bubar dan orang-orang mulai berjalan pulang. Alhamdulillah masih lumayan tertib tapi kita jadi bingung mau jalan ke arah mana. Semua monorail sudah tidak beroperasi, Grab nggak ada yang mau angkut, taksi nggak ada yang mau di stop, dan kaki sakit karena jalan terus. Otak mulai nggak bisa berpikir jernih tapi saya tetap berusaha santai. Kita jalan ke tempat yang agak sepi atau ke depan hotel, berharap ada taksi yang mangkal dan kita bisa menawar harga. Proses berjalan itu juga menghabiskan pikiran dan energi, termasuk menguji kesabaran karena harus mendengar keributan orang-orang bernyanyi-nyanyi dan suara terompet bersahut-sahutan. Belum lagi ntah harus berapa kali berjalan memutar untuk menjauh dari keramaian.

Alhamdulillah akhirnya dapat taksi juga yang sedang mangkal di pinggir jalan. Duduk di taksi tuh rasanya enak banget karena pinggang seakan-akan mau copot. Belum lagi keringat sudah bercucuran. Menurut data di Iphone saya, malam itu saya sudah berjalan 20rb langkah. Pantas kaki ini agak nyut-nyutan. Tapi saya memang sudah terbiasa jalan jauh jadi sakit segitu masih okelah. Sepatu yang dipakai juga enak. Yang kasihan si Efan yang sepertinya baru kali ini jalan kaki sejauh dan sebanyak itu. Sesampai di hotel saya mandi, lalu langsung tidur.

Besok paginya, keribetan terulang lagi karena kami harus kembali ke bandara dengan koper besar dan saya tetap menenteng belanjaan walaupun hanya satu plastik saja. Sesampai di tempat bus, koper besar dimasukkan ke dalam bagasi bus lebih awal, jadi mengurangi keribetan. Kami datang kecepatan ke terminal bus KL Sentral dan berdiri di samping bus untuk menunggu jadwal keberangkatan. Tanpa sadar, ternyata orang-orang malah mengantri di belakang kita untuk masuk ke dalam bus. Jadi merasa aneh sendiri, padahal berdiri di samping bus juga bukan karena mau membuat antrian😂.
Koper dan ransel kita
Sarapan di Kopi Time
Selama perjalanan ke bandara saya tidur. Setelah sampai, kita cek in, sarapan di Kopi Time seperti biasa, lalu proses imigrasi. Fiuhhh akhirnya selesai juga keribetan, kelelahan, dan kecapekan di Kuala Lumpur. Kapok nggak nyari kembang api? Enggak juga sih. Tapi mungkin suatu hari di negara lain lagi. Saya sampai di Bandung, cek in hotel Grand Preanger di Braga, lalu tidur dari sore sampai Magrib. Awalnya memilih hotel ini karena mau foto-foto di jalan Asia Afrika tapi kondisi tubuh hayati terlalu lelah. Tidur lebih baik🛌🏼.

Sebenarnya dari dan ke Banda Aceh transit di Kuala Lumpur sudah biasa saya lakukan. Selain karena memang lebih murah, terkadang saya memang baru saja pulang dari negara mana dan mau ketemu Mama sejenak di Aceh, sebelum kembali ke Jakarta. Fenomena kenaikan tiket domestik sekarang ini yang membuat transit di KL jadi alternatif paling dipilih oleh warga Aceh atau Medan. Memang lebih murah, tapi kalau yang nggak terbiasa akan sedikit kesulitan. Apalagi kalau harus pindah bandara seperti saya. Banda Aceh ke KL itu akan mendarat di KLIA2 karena menggunakan maskapai Air Asia, sedangkan Malindo Air (seperti saya ke Bandung) harus melalui bandara KLIA1. Kalau kalian bawa koper kecil, ada shuttle bus dari KLIA2 ke KLIA1 gratis. Atau kalau mau naik KLIA Ekspres (kereta) harus membayar 2 RM tapi lebih enak buat yang bawa koper gede karena aksesnya pakai lift dan nggak harus angkat koper masuk kereta. Pintu kereta dan peron selisihnya hampir tidak kelihatan, sehingga koper tinggal di dorong saja. Kalau saya, kereta udah pernah, bus juga udah pernah, mau bawa koper gede atau kecil semua udah pernah dilakukan.

Semoga ada solusi untuk permasalahan tiket domestik ya. Saya masih berhutang 15 provinsi lagi belum dijelajahi di Indonesia. Sampai jumpa!

Januari 01, 2019

2019 Reflections & Resolutions

Belum ada postingan yang bertengger di bulan Januari 2019. Saya akan memulainya dengan menuliskan resolusi dan refleksi. Sebenarnya ada beberapa postingan yang saya tulis di bulan ini tapi karena bercerita tentang hal di bulan-bulan yang lalu, jadi saya ubah saja tanggalnya agar lebih sesuai. Sebelum menulis, saya baca lagi 2017 Reflections yang pernah saya tulis ketika memasuki tahun 2018 sebagai napak tilas apa yang telah terjadi di tahun 2017. Sayangnya saya nggak menuliskan resolusi untuk tahun 2018 secara jelas sehingga saya sendiri nggak tau apakah keinginan di tahun 2018 benar-benar sudah tercapai.

Teringat dulu pernah merekam video untuk Instagram Story kalau saya ingin ke India dan Turki di tahun 2018. Alhamdulillah tercapai. Ada juga tentang ingin membuka Rancupid Farm e-commerce dan tercapai juga. Ingin fokus dengan Rancupid Travel sampai bertemu dengan tim IT di Bandung. Rancupid Travel ini adalah tantangan terberat di perusahaan yang sangat menguras uang, tenaga, dan waktu. Tapi saya belum berpikir untuk menyerah. Apa pun tantangannya akan saya hadapi dengan bismillah.
Saya akan bercerita beberapa hal:

Kondisi Perusahaan
Januari 2019 ini perusahaan saya ulang tahun ke-dua (2). Kalau diibaratkan dengan manusia, perusahaan saya sudah bisa ngomong beberapa patah kata, sudah bisa lari, dan bergaul. Alhamdulillah sudah  dua tahun mengelola perusahaan berbadan hukum. Banyak sekali cerita-cerita seru, suka, dan duka selama setahun kemarin yang tidak bisa dijabarkan satu-persatu.

Sama seperti di kehidupan nyata, memiliki anak berumur 2 tahun tantangannya semakin besar. Pengeluaran lebih banyak, riset harus lebih mendalam, belum lagi saya membutuhkan waktu untuk bercengkrama dengan orang-orang tercinta. Kata siapa jadi CEO enak? Memang kadang enak, kadang malah lebih enak jadi karyawan. Tapi hidup ini pilihan dan kita harus bertanggung jawab dengan pilihan yang sudah kita tetapkan. Dan saya sudah memilih untuk tetap mempertahankan perusahaan.

Sebenarnya sekarang kondisi perusahaan sedang tidak terlalu baik karena kita melakukan re-investing yang lumayan besar di line of business yang lain. Tapi alhamdulillah masih bisa bertahan (ini yang penting) dan membutuhkan kesabaran, usaha, dan doa, lebih dari biasanya. Tapi saya selalu percaya, hasil tidak akan mengkhianati usaha keras kita. Sejak awal tahun baru sampai hari ini, saya sibuk sekali mengurusi perusahaan. Jangan tanya betapa menguras tenaga dan pikiran semua hal ini. Mungkin saya terlihat santai, tapi itu mungkin sekadar pengalihan. Semoga cepat berlalu dan Allah subhanahu wata'ala memberikan petunjuk dan jalan keluar. Aminnnn🤲.

Bisnis Baru
Tahun 2018 akhirnya kita bisa memiliki tim IT di Bandung untuk mengembangkan aplikasi Rancupid Travel. Walaupun sampai sekarang belum launch ke publik, tapi Insya Allah dalam bulan ini sudah bisa menunjukkan hasil. Jadi nggak sabar ingin melihat Rancupid Travel seperti apa website Marketplacenya. Semoga sesuai dengan harapan🤩.

Rancupid juga akhirnya bisa mengadakan Training untuk Amazon Seller. Nggak nyangka akhirnya bisa jadi mentor dan tahu detail tentang materi yang disampaikan. Teringat dulu sewaktu masih bekerja di Oracle, kalau disuruh presentasi pasti keringat dingin. Berbeda dengan training yang diadakan perusahaan sendiri tuh bisa lebih improvisasi dan percaya diri dalam menyampaikan materi. Mungkin karena penguasaan materi yang berdasarkan pengalaman pribadi.

Negara Baru
Setiap tahunnya saya berusaha berkunjung ke negara baru paling tidak satu saja. Alhamdulillah di tahun 2018 ada 3 negara baru yang saya kunjungi yaitu : India, United Arab Emirates, dan Turki. Ada juga beberapa negara yang saya kunjungi lagi seperti Malaysia dan Korea.

Bagaimana di tahun ini? Saya ingin sekali berada sebulan di Eropa. Rasanya ingin mengoleksi foto-foto indah disana, bermain salju di Iceland, melihat aurora, merasakan warna-warni musim semi di Belgia, ke Paris yang katanya kota paling romantis di dunia, Spanyol, dan lainnya. Saya ingin kesana dibulan Oktober ke November agar dapat musim gugur dan musim saljunya. 

Untuk musim semi, saya ingin ke China dan Taiwan. Seharusnya sekalian ke Mongol biar khatam Asia Timur tapi sepertinya sulit walaupun di sisi Allah nggak ada yang sulit. Bisa saja saya mendapat rejeki yang tidak disangka-sangka untuk mengunjungi Ulaan Bataar. 

Oh ya, salah satu teman jalan saya si Wilay malah ngajakin travelling ke Russia. Duh, negara yang satu ini benar-benar menjadi salah satu keinginan saya yang hakiki😆. Tapi nggak bisa dijalanin semua karena nanti uang saya habis dong. Doakan saja uang saya ada terus dan nggak habis-habis.

Mengunjungi Tempat-Tempat Baru di Indonesia
Supaya orang-orang nggak berisik bilangin kalau saya lebih memilih trip Internasional, jadi saya berusaha mengunjungi tempat-tempat baru di Indonesia juga selama 2018. Selain untuk keperluan Rancupid Travel, saya juga suka kok jalan-jalan di dalam negeri. Saya telah mengunjungi Palembang dan Lombok. 

Tahun lalu cuma bisa berkunjung ke dua provinsi saja. Insya Allah ditahun ini bisa lebih banyak lagi. Tapi dengan permasalahan maskapai domestik menaikkan harga tiket pesawat dan menghilangkan kebijakan gratis bagasi, jangankan mau ke provinsi baru, pulang ke Aceh aja sulit karena tiket mahal😓.

Sebenarnya saya ingin sekali mengunjungi Sumba, Labuan Bajo, sampai ke Wae Rebo. Mungkin membutuhkan waktu sekitar semingguan untuk bisa menjelajah 3 tempat itu. Biasanya kendala yang saya alami adalah nggak ada teman jalan. Banyak teman yang agak susah cutinya kalau mau jalan-jalan sampai seminggu. Saya juga nggak mungkin jalan sendiri karena ada perasaan takut kalau menjelajah tempat baru tanpa tau keadaan masyarakatnya.

Keinginan selain yang diatas ☝️:

  1. Menikah👰🏻, supaya ada teman jalan terus tanpa perlu minta ijin sana-sini dan mempertimbangkan ini-itu. Kalau saya menikah tahun ini, pengen banget bikin Intimate Wedding Ceremony 💐 di Jakarta yang dihadiri teman-teman terdekat aja. Nggak perlu rame-rame seperti resepsi pernikahan yang biasa diselenggarakan keluarga saya di Aceh, yang penting acaranya sweet, memorable, bisa ngobrol sama teman-teman, makanan enak, ada tema acaranya, dan nggak mau di gedung. Pengennya di Cafe aja atau pesta kebun. Banyak maunya ya😅.
  2. Melunasi rumah🏡 supaya nggak tercekik dengan bunga bank. Kadang kalau lagi nggak ada duit, membayar cicilan segede itu perbulan berat juga. Apalagi kalau mau merenovasi kecil-kecilan sepertinya nanggung. Mending lunasin rumahnya, trus direnovasi seperti yang saya mau.  Pengen punya ruang kerja yang dikeliling lemari kaca berisi buku-buku📚. Pengen punya desain kamar mandi 🛀kering dan bersih juga. Semoga rejeki lancar.
Akhirnya, mari kita berusaha semaksimal mungkin, bersabar, berdoa, dan berserah diri pada Allah. Semoga Allah subhanahu wata'ala mendengar dan mengabulkan doa-doa saya. Aminn🤲. Tolong di-aminkan juga ya teman-teman.

Desember 23, 2018

My Little Brother Wedding

Alhamdulillah tanggal 23 Desember 2018, adik saya Achmad Khairul Anam menikah. Dari seluruh keluarga saya yang menikah, baru pernikahan Achmad yang saya hadiri meskipun jauhnya setengah mati di Meulaboh, Aceh Barat. Saya mendarat di Lhokseumawe, Aceh Utara, lalu dua hari kemudian melakukan perjalanan ke Banda Aceh, setelah itu besoknya ke Meulaboh. Jangan tanya capeknya, tapi karena perginya bareng Rezki dan Nopy, lumayan mengasyikkan karena bisa sekalian ngobrol.

Saya, adik, dan teman-teman menginap di Losmen Anggrek. Lumayan bisa beristirahat karena ACnya sangat dingin, bahkan saya membeku karena nggak ada selimut. Mulai deh saya nggak enak badan sejak itu. Malam kedua di Losmen saya minta bed cover langsung kepada resepsionisnya karena udah mulai flu. 

Setelah Shalat Shubuh di tanggal 23 (hari H), adik saya Yuni masuk ke kamar saya, lalu kami makeup bareng. Persiapan pembelian makeup ini sudah saya lakukan jauh-jauh hari karena kita keluarga mempelai tidak menggunakan jasa MUA. Ternyata makeup sendiri bisa cetar banget juga kok dengan bulu mata palsu dan highligter. Nggak sia-sia tiap hari nonton makeup tutorial di Youtube. Semua foto-foto saya jadi cakep banget (memuji diri sendiri) dan saya puasss banget😊😊.
Achmad dan Tara
Beda pose
Seluruh keluarga
Kelurga saya
Akad nikah berlangsung di Masjid Agung Baitul Makmur. Sewaktu adik saya mengucapkan ijab-kabul, rasanya perasaan saya membuncah. Mungkin sekalian merefleksikan ke diri saya sendiri, jadi membuat saya terdiam membisu dengan pikiran penuh. Tapi saya bahagia karena akhirnya perjalanan adik saya menemukan tambatan hati usai sudah. Dia menikahi Thara yang cantik banget dan tinggi semampai, berhubung adik saya tinggi banget jadi pas deh ketika bersanding di pelaminan.
Resepsi dengan pakaian Aceh
Pose berdua
Selesai akad nikah di Masjid, resepsi digelar di rumah Thara. Hari itu Meulaboh panas banget deh🥵🥵🥵. Untung di sekitar pelaminan ada kipas angin besar jadi bikin adem. Keringat sudah membasahi seluruh tubuh dari ujung rambut sampai ujung kaki. Tapi alhamdulillah masih bisa ditahan demi menyukseskan acara.

Akhirnya, semoga pernikahan ini menjadi sakinnah, mawaddah, warrahmah, langgeng sampai akhir hayat, dan dipersatukan lagi di surga Allah subhanahu wata'ala. Aminn

بَارَكَ اللهُ لَكَ وَبَارَكَ عَلَيْكَ وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِى خَيْرٍ

Artinya :
Mudah-mudahan Allah memberkahi engkau dalam segala hal (yang baik) dan mempersatukan kamu berdua dalam kebaikan.

Desember 21, 2018

Hang Out di Kuala Lumpur

Kalau kalian mampir ke Genting Highlands, jangan lupa shop 'til you drop di Factory Outlet (FO) -nya. Ungkapan belanja habis-habisan bisa dipraktekkan disini tapi hati-hati nanti mendadak bokek nanti lho😂. Sebenarnya saya nggak tau mau beli apa. Biasanya kalau udah masuk dari satu toko ke toko lainnya, baru kepikiran mau beli apa. Seharusnya hal seperti ini lebih bahaya daripada kita udah tau mau beli apa, hehehe. Tapi nggak berlaku untuk saya. Kalau emang nggak ada yang ingin dibeli, ya nggak beli.

Genting Factory Outlet
Mungkin karena hari libur, hari itu Genting Factory Outlet ramenya minta ampun😱😱😱. Ngeliat lautan manusia udah seperti di Pasar Tanah Abang membuat saya mulai kehilangan mood untuk belanja. Untungnya Yudhi dan Willy dengan setia menemani saya bereksplorasi hampir semua toko. Beberapa toko seperti Coach, Nike, Adidas, bahkan mewajibkan kita untuk gantian masuk ke toko dengan cara mengantri. Toko-toko ini memang diserbu pengunjung, tapi ntah kenapa barang-barangnya nggak ada yang 'klik' di hati saya. Saya sih suka merek Coach tapi tas-tas yang kemarin saya lihat kebanyakan modelnya sama-sama aja dan itu-itu saja. Inilah kekurangan belanja di FO, beberapa barang memang stok lama yang mau dihabiskan dan dijual dengan harga murah (walaupun menurut saya nggak murah-murah banget).

Sebenarnya saya naksir tas Moschino yang katanya udah diskon tetap Rp. 15 juta. Hmm, sepertinya kalau saya beli tas Balenciaga brand new pun masih sekitar 15 juta. Jadi merasa nggak worth beli Moschino semahal itu. Ada ransel Moschino yang berwarna merah dan saya naksir berat. Tapi saya baru aja beli ransel Marc Jacob. Biar semua barang saya dipake', saya biasanya beli dengan model yang berbeda. Kan kasihan kalau udah beli mahal-mahal tapi malah dipake sekali-kali doang.

Ketika masuk ke konter sepatu olah raga seperti Nike, Adidas, New Balance, duh, udah seperti Pasar Tanah Abang banget deh. Mau ngeliat modelnya juga jadi males karena rame banget orang😵😵. Akhirnya karena merasa terlalu crowded dan sudah pukul 5 sore, kami memutuskan untuk kembali ke halte Bus. Fiuh, rasanya keluar dari kerumunan orang yang terlalu ramai itu seolah bisa bernapas lega. Saya sama sekali nggak beli apa-apa. Cuma Willy aja yang beli perlengkapan mau hiking ke Everest.
Tiket bus
Bus yang akan kita tumpangi datang agak terlambat. Setelah bus datang, saya, Willy, dan Yudhi langsung mengambil tempat dan beberapa menit kemudian kami tertidur pulas. Mungkin karena kecapekan main, lari sana-sini, jadi tepar di bus. Pas bangun tidur udah sampai di KL Sentral aja. Saya juga janjian dengan Tina untuk makan malam bersama di Pavilion. Kami jalan-jalan dulu keliling Mall dan memutuskan untuk makan malam di Ben's.

Ben's
Resto yang satu ini berada di lantai paling atas Pavilion, tepatnya di Lot 6.11.00 & E6.11.00, Level 6. Udah ngecek beberapa menu di resto lain, tapi Ben's yang lumayan ramah di lidah 😋, walaupun harganya nggak murah. Tempatnya agak sepi. Berhubung saya ingin melihat pemandangan kota, jadinya kami memilih kursi diluar. Nggak terasa besok saya harus pulang dan liburan singkat ini harus berakhir.
Menu resto
Lemon Tea
Saya dan teman-teman ngobrol panjang lebar. Udah lama nggak hang-out bareng mereka dan ini adalah kesempatan langka banget. Tina dan Willy adalah teman saya semasa kuliah dulu. Sampai sekarang kita masih sering ngobrol baik di Whatsapp atau pun ngetrip bareng ke luar negri. Kalau Yudhi adalah teman seprojek di Samudra Indonesia sewaktu saya masih bekerja di Metroda. Kami sering jalan bareng seusai kantor sehingga bisa berteman akrab.
Spagethi
Nasi lemak porsi jumbo
Rasanya kalau teman lama bertemu dan mengobrol itu nggak akan ada habisnya. Kalau bukan karena Mall tutup pukul 10 malam dan pukul 9.30 kita sudah diusir secara halus😅, mungkin masih berlanjut terus ngobrolnya. Baiklah, kami semua pulang akhirnya. Saya ikut Willy dan Tina naik ntah LRT, ntah Monorail, ntah MRT. Pokoknya teteup saya ngikut saja. Sewaktu Willy bilang turun disini, saya melambaikan tangan, "Dadah Wilay." dan Willy bilang, "Lu juga turun disini." Udah dadah-dadah eh turunnya malah samaan😆.

Setelah berpisah dengan Willy, saya ikut Tina pulang. Di rumah Tina, kita masih ngobrol sambil isengin Jilly (anaknya Tina). Kasihan juga besok Tina harus masuk kerja, nanti malah kurang tidur kalau saya terus-terusan mengajak ngobrol. Saya packing sejenak, cuma masuk-masukin titipan teman-teman dan keluarga saja, termasuk tas dan makeup yang banyak banget. Agak takut juga nih kena Bea Cukai tapi seharusnya kalau bawa koper kecil sih nggak akan di cek. Walaupun koper saya kecil, daya tampungnya cukup banyak juga. Tapi memang ada satu tas yang saya beli ukurannya kegedean jadi harus ditenteng.

Besok paginya, sekitar pukul 7.30 pagi, saya berangkat ke KLIA dari KL Sentral. Kalau dari apartemen Tina saya naik Grab karena kalau naik LRT harus transit dan agak ribet sambil gerek koper dan nenteng plastik tas. Selama perjalanan ke bandara, saya tidur di bus, dan bangun ketika sampai. Saya juga mengontek Yudhi untuk menemani saya selama di bandara. 

Kopi Time
Ketika saya ke konter Garuda Indonesia, ternyata masih belum bisa cek in. Ya udah deh, ngajakin Yudhi untuk sarapan dulu di Kopi Time. Sebenarnya saya lagi pengen makan yang Malaysia banget, dan Cafe ini sesuai selera saya. Teh tariknya enak, roti srikaya dan telurnya juga mantap, menu makanannya ada yang paket juga. 
Paket sarapan
Kita makan sambil mengobrol banyak hal (karena makanannya banyak juga). Pokoknya cukup menambah energi kita untuk belanja lagi, hahahaha😂. Kok belanja lagi? Jadi ceritanya saya dijebak sama Yudhi. Selesai cek in, rencananya kami mau makan Subway ke KLIA2 tapi Yudhi malah naik bus ke Mitsui. Berhubung saya cuma ngikut, jadilah saya baru sadar dibawa ke Mall lagi. Oke, jadilah kami belanja lagi walaupun cuma sampai pukul 11.30 karena takut telat untuk proses imigrasi dan boarding. Alhasil saya jadi beli celana panjang 2 biji lagi deh. Terus aja belanja nggak kelar-kelar😆.

Setelah itu saya pun pulang ke negara tercinta. Terima kasih Tina, Yudhi, dan Willy untuk menemani saya bermain di Malaysia. Kalian memang sahabat terbaik💕. Selama di pesawat, saya nonton Surat Cinta Untuk Starla yang agak aneh ceritanya. Hari gini masih ada yang berkirim surat cinta? 😒. Tapi lagu Virgoun yang sesuai judul film tuh bagus banget dan saya suka banget deh. Mana waktu itu pulang dengan kondisi agak-agak galau.

Baiklah, nanti saya cerita lagi. Sampai jumpa!

Desember 19, 2018

Pasang Karet Elastis (lagi)

Seperti biasa, saya akan mengupdate perawatan kawat gigi demi Perfect Smile 2019 (tahunnya sudah berubah✌😅). Hanya selang 3 minggu saja, saya sudah kontrol. Seharusnya baru selasa tanggal 25 Desember saya kontrol lagi, tapi tanggal segitu libur natal dan saya juga pulang ke Aceh. Jadilah dipercepat saja kontrolnya. Biar pulang ke Aceh, karet kawat gigi juga udah bening kembali.

Dokter bilang kalau celah gigi saya dibagian atas tinggal sedikit lagi. Saya juga menyadarinya ketika tersenyum, sudah tidak jarang-jarang lagi giginya. Dulu paling malas foto tersenyum kalau pakai kawat gigi karena keliatannya jelek banget😓. Oh iya, yang namanya rahang atas sama bawah 'kan berhubungan. Jadi ketika merapatkan gigi atas, eh rahang bawah malah agak bergeser. Dokter sampai memasangkan kawat di semua sela gigi bawah, diputar-putar, dan dipelintir, dan jadi kenceng banget. Mau buka mulut aja susah😐.

Untuk mempercepat gigi geraham atas maju ke depan, dokter menambahkan karet elastis (lagi). Kali ini putarannya harus empat kali yang membuat saya susah banget buka mulut. Udah gigi bawah kenceng banget, rahang susah buka, jadilah saya malas makan, tapi lapar. Akhirnya tadi malam saya buka karet elastisnya karena lumayan menyulitkan saya ketika menggosok gigi.
Karet elastis
Tadi malam saya tidur pukul 18.30, dan bangun pukul 00.15. Kenapa tidur jam segitu? Karena saya mau pulang ke Aceh dengan jadwal pesawat pukul 7 pagi. Biasanya saya akan memajukan jam tidur untuk penerbangan yang terlalu pagi, mengingat berangkat dari rumah di Depok juga pasti jam 3-4 shubuh. Sengaja nggak mau pasang karet elastis gigi karena saya nggak mau terganggu dengan susah makan ketika dalam perjalanan.

Sekarang saya mengetik blog sambil menunggu boarding. Sudah kerja sejenak, internet bandara super kenceng, dan yang penting nggak terlambat ke bandara. Doakan saya selamat sampai tujuan ya. Aminnn🤲.

Kontrol Sapphire Braces Rp. 265,000
Karet Elastis Rp. 60,000

Desember 16, 2018

Chin Swee Temple

Melanjutkan postingan jalan-jalan saya di Genting Highland yang belum selesai. Setelah makan Burger & Lobster, kami kembali menaiki gondola untuk turun menuju destinasi berikutnya yaitu sebuah kuil diatas awan (menurut saya) karena kuil ini dikelilingi kabut tebal hari itu dan terletak menyendiri ditengah gunung dengan suhu udara dingin dan lembab. Sering sekali kuil-kuil seperti ini dibangun diatas gunung seperti Ngong Ping di Hong Kong. Kalau kita menonton film Kung-fu Shaolin, pasti kalian akan melihat kuil diatas gunung, menyendiri, untuk menenangkan pikiran dan berdoa. Tapi saya suka suasana seperti ini, tenang sekali rasanya~~
Kuil di atas awan
Kali ini kita nggak naik Cabin Glass Gondola lagi karena hanya beli tiket untuk pergi saja yang berlantai kaca. Udara dingin menyeruak ketika saya, Willy, dan Yudhi, turun dari gondola. Saya sempat shalat dulu di tempat pemberhentian Gondola dan merasakan air gunung yang super duper dingin ketika berwudhu. Awalnya wajah saya nggak dipakai moisturizer tadi pagi dan sempat terasa kering banget. Tapi karena kelembaban udara yang tinggi di sekitar Genting Highland, jadi normal sendiri kulitnya. Kalau saja saya berada di negara subtropis yang bersalju, mungkin wajah ini sudah breakout.

Selesai shalat, saya dan teman-teman menuruni eskalator menuju kuil. Kami hanya punya waktu sekitar satu jam setengah untuk jalan-jalan disini. Saya takjub melihat sebuah pagoda bertingkat 9 yang berdiri kokoh yang menjadi ikon utama kuil ini. Di dalam pagoda terdapat patung biksu bernama Qingshui yang dapat memanggil hujan dan mengusir roh jahat. Menurut beberapa sumber yang saya baca, di malam hari pagoda ini akan memancarkan lampu berwarna-warni yang sangat cantik. Tapi kebayang kalau ke tempat ini malam-malam, apalagi kiri dan kanan hutan, berkabut pulak. Kok mendadak merinding?😨😨😨 Saya tidak masuk ke dalam pagoda karena keterbatasan waktu.
Pagoda tingkat 9
Dewa-dewi kayangan
Sempat berfoto sebentar di depan pagoda, kemudian saya dan teman-teman mengikuti jalan setapak untuk menjelajah tingkat neraka. Lho, kok neraka? Tenang dulu... Di kuil ini, kalian bisa melihat segala macam hukuman di neraka untuk yang berbuat kejahatan di dunia. Kalian akan melewati patung-patung dewa-dewi khayangan, baru deh mulai tahapan penghakiman dan kalau dosanya banyak, maka akan masuk neraka sesuai tingkatan kesalahan.
Diuleg
Dirantai
Perjalanan untuk pencerahan
Saya, Willy, dan Yudhi hampir membaca seluruh tahap penghakiman di neraka. Yang saya ingat, kalau kita suka menyisakan makanan, di akhirat nanti bakalan di uleg (seperti meng-uleg sambal) oleh para penjaga neraka. Hayooo siapa yang suka menyisakan makanan? Kalau saya sih bukan menyisakan, malah minta tambah (kalau ada)😋😋😋. Kadang pun karena takut teman saya masuk neraka, saya yang menghabiskan makanan mereka. Ups!
Para hakim neraka lagi membaca buku amal
Kebanyakan para pengunjung beragama Buddha datang ke kuil ini untuk berdoa kepada Dewa Chin Swee (God of Fortune), Dewi Kwan Im, dan Buddha yang patungnya berdiri kokoh setinggi 15 meter😱. Tapi masih kalah besar dari Ngong Ping di Hong Kong yang bisa terlihat dari Macau kalau cuaca sedang cerah. Seolah Buddha sedang duduk di puncak gunung. Setelah mengunjungi beberapa negara yang mayoritas beragama Buddha, mereka memang membangun patung Buddha dengan ukuran super duper besar.
Patung Kwan Im
Tong sam chong
Patung Buddha
Saya dan teman-teman kemudian berkeliling-keliling kuil sejenak untuk menghabiskan waktu. Saya jadi kangen berpergian ke negara China ketika melihat bangunan kuil berwarna merah dengan tulisan berbahasa mandarin dan atap yang khas. Semoga tahun depan diberikan kesempatan oleh Allah subhanahu wata'ala untuk mengunjungi Shanghai dan Beijing. Aminn.
Serasa di China
Turis
Karena takut nggak cukup waktu untuk belanja, kami pun akhirnya kembali ke tempat pemberhentian gondola. Antrian gondola cuma satu jalur dan saya melihat kesempatan untuk naik Glass Floor Gondola karena sebenarnya kita nggak usah melakukan scan barcode di tiket lagi. Kami menunjukkan tiket berlogo E (untuk Gondola lantai kaca), lalu petugas langsung mempersilahkan masuk Gondola. Asyik banget! Kalau kita naik Gondola biasa bakalan digabung dengan orang lain karena ramainya pengunjung hari itu. Alhamdulillah kita tetap merasa Gondola hanya milik bertiga.

Baiklah, nanti saya akan menceritakan tempat belanja dan nongkrong sebelum pulang. Sampai jumpa!

Desember 09, 2018

Burger & Lobster Est. London 2011

Dari judul postingan kali ini, sudah pasti saya bersama Willy dan Yudhi akan menikmati hidangan burger dan lobster. Untuk pengguna behel seperti saya, sebenarnya makan burger adalah sebuah hal yang harus dihindari kalau nggak mau rahang berbunyi 'klik'. Tapi ada cara lain, yaitu memotong burger kecil-kecil, baru dimakan dengan santai. Jangan terlalu buru-buru mengunyah kalau nggak mau perawatan Perfect Smile selama ini hancur berantakan.
Di depan resto
Lokasi Burger & Lobster berada di SkyAvenue Lantai 1, Genting Highland. Seperti yang sudah saya ceritakan di postingan sebelumnya, sebaiknya kalian datang agak pagian kalau nggak mau mengantri panjang sambil berdiri. Untungnya kemarin kami hanya mengantri sekitar 10 menit saja, lalu langsung dapat meja. Sambil mengantri, saya melihat betapa banyak lobster super duper besar yang masih hidup di aquarium, untuk disajikan kepada tamu. Duh, dapat darimana lobster segede itu ya😲.

Kami duduk di kursi lingkaran dengan meja yang agak kecil menurut saya. Pelayan langsung memberikan menu dan saya agak syok melihat harga yang mahal amat😱. Gile ya, mahal begini aja masih banyak yang mengantri. Berarti orang-orang di Kuala Lumpur emang banyak yang tajir. Kebayang nggak sih harga burger Rp. 600rban?😰 dan harga lobster original juga segitu?😰😰. Apalagi menu lobster The Bad Boys yang capitnya aja bisa segede muka itu dimulai 400 RM atau sekitar 1.4jt😱😱😱. Kayaknya lebih worth it memberi makan anak yatim dan fakir miskin😰.
Menu mahal-mahal
Baiklah, berhubung sudah masuk resto, jadi mau nggak mau harus memesan makanan. Kita bertiga memilih menu The B&L Burger, The Original Lobster, dan tiga gelas minuman. Tidak lama menunggu setelah pemesanan makanan, burger datang dengan piring super besar😲. Piringnya langsung mengabiskan tempat di meja hampir setengahnya. Mana aneka bumbu, saus, tissue, sendok/garpu, dan yang lainnya sudah menghabiskan space di meja duluan, ini datang burger semakin mempersempit area meja. Sebagian peralatan makan jadinya ditaruh dikursi dulu deh.
The B&L Burger
Kalian bisa melihat betapa menggiurkannya burger yang disajikan dengan saus mayones meleleh, daging super tebal, ditambah ada lobster diatas daging. Kentang goreng dan salad yang disajikan bersama burger juga dalam porsi besar. Kentang gorengnya enak banget, garing, nggak keasinan, dan saya terus ngemilin kentangnya. Bagaimana dengan salad? Sepertinya ini salad terenak yang pernah saya makan. Rasanya agak asin keju parmesan, ditambah kesegaran dedaunan berpadu menjadi satu. Karena Yudhi dan Willy nggak begitu suka sayuran, jadi saya yang menghabiskan saladnya tanpa bersisa.
Daging burger yang tebal dan daging lobster diatasnya
Ketika lobster datang, tambah lagi mempersempit area meja. Udah sempit, semakin sempit saja. Kita jadi mengatur ulang piring-piring makanan dan alat makan supaya agak leluasa untuk makan. Saya takjub melihat lobsternya yang gede banget, tapi syok ketika mengintip lobster The Bad Boy yang dipesan meja sebelah yang super duper besar. Kakek meja sebelah makan lobster segede itu sendirian, mengunyahnya, dan menghirup dagingnya. Nggak takut kolesterol, Kek? 😱 Saya sampai agak sesak napas melihat si Kakek menghancurkan capit lobster yang berwarna hitam segede muka. Agak ngeri hasil retakan cangkang capit kena ke muka😰.
The Original Lobster
Baiklah, waktunya makan. Dua menu kita bagi tiga. Saya memotong burger jadi beberapa bagian kecil agar gampang di kunyah dan langsung memasukkan ke mulut roti burger dan daging. Rasa daging sapinya enakkkkkk banget😍. Lembut banget, dipadukan rasa asin keju mozarella, dan krim (saya kurang tau krim apa tapi enak banget). Kalian bisa menyiram saus ke atas burger untuk menambah rasa nikmat. Daging lobster di burger juga enak banget, lembut, nggak amis, dan nggak usah diretakkan cangkangnya karena hanya dagingnya saja. Senang banget rasanya kalau makan makanan enak tuh🤤🤤🤤. 
Mari makan!
Setelah mencicipi daging dan roti burger, saya lanjut makan lobster. Saya mengambil bagian capit, memalingkan muka seraya menghancurkan cangkangnya. Takut banget serpihan cangkang yang agak tajam melukai tangan atau muka. Alhamdulillah penghancuran cangkang berlangsung sukses, tanpa terluka. Duh jangan ditanya rasa gurihnya daging lobster apalagi disiram dengan saus🤤🤤🤤. Kalian harus mencicipinya sendiri. Saya agak bingung karena di dalam daging lobster ada lelehan krim asin yang enak, antara keju atau memang krim🤔. Mungkin sebelum dimasak, krim tersebut dimasukkan dulu ke daging lobster dari sisi-sisi cangkang, sehingga begitu mateng jadi nikmat banget.
Soda Peach Tea
Saya minum Soda Peach Tea untuk menetralkan rasa udang dan daging di mulut. Walaupun dua menu kita bagi tiga, ternyata lebih dari cukup karena porsinya banyak apalagi ditambah salad dan kentang goreng. Total harga yang harus saya bayar adalah 363 RM atau sekitar  Rp. 1,340,000 (kurs saat itu). Duh, betapa mahalnya😖😖😖. Untung saya pakai kartu kredit Citibank yang memberikan cashback Rp. 1 juta untuk pengguna baru. Jadi makan 1,3juta berasa hanya 300rb 🥳🥳.

Baiklah, selanjutnya saya dan teman-teman jalan-jalan sebentar di SkyAvenue hanya sekedar untuk melihat-lihat ada apa aja ya di Mall ini. Tapi tidak begitu lama disini karena kami akan mengunjungi destinasi berikutnya yaitu Chin Swee Temple. Sampai jumpa!

Beberapa foto dari kamera Fujifilm milik saya dan Willy Sebastian (Instagram : willyarrows).

Genting Highland

Hari kedua di Kuala Lumpur, tepatnya di rumah Tina. Bangun pagi lalu menemani Tina memasak telur mata sapi, seperti yang dulu pernah kita lakukan bersama di kosan. Jadi nostalgia deh. Dulu kita anak kosan yang berjuang mencari sesuap nasi di ibukota, sekarang masih sama juga sih😅 berjuang mencari sekarung beras, cuma udah nggak ngekos dan alhamdulillah kehidupan kita sudah jauh lebih baik. Ngobrol sama Tina nggak ada habis-habisnya, sampai kita baru sadar kalau Willy dan Yudhi sudah jalan ke stasiun LRT dan saya belum mandi😱.

Akhirnya saya mandi buru-buru, lalu berdandan bareng Tina (memang ini yang sama-sama ingin kita lakukan karena Tina adalah sahabat saya yang mengerti dunia per-makeup-an dan baru kali ini kita bisa dandan bareng). Tanpa perlu menghabiskan waktu yang lama, kita udah selesai dandan. Alhasil, mau jalan-jalan ngebolang aja kita jadi cantik banget, hahaha. Ya mau gimana ya, dasarnya kita udah cantik. Jadi digimanain juga udah cantik😊.

Tina mengantarkan saya ke stasiun LRT Muhibah dimana Yudhi sudah menunggu. Duh, udah lama nggak ketemu Yudhi, terakhir sepulang dari India dan saya sedang dalam kondisi kacau balau saat itu. Kali ini Tina nggak bisa ikutan jalan-jalan karena ada acara. Jadilah saya ngebolang bertiga bersama Yudhi dan Willy. Terakhir bertemu Willy ketika jalan-jalan ke Turki dan lumayan udah lama juga. Tapi kita masih lebih sering chatting, apalagi ketika membahas Asian Games 2018 kemarin🥳🥳. Kita selalu update banget untuk perolehan medali. Jangan meragukan nasionalisme kita ya🇮🇩🇮🇩🇮🇩.

Jujur aja saya kurang perhatian transit di LRT mana, pokoknya kami turun di LRT Gombak untuk selanjutnya menggunakan mobil ke Genting. Sempat mau naik bus tapi jadwal keberangkatan berikutnya jam 1 siang. Kelamaan! Sempat mau pesan Grab tapi ada bapak-bapak menawarkan mobilnya dan jadi kasihan juga. Harganya cuma beda 2 RM dari Grab, ya udahlah kita mau aja. Oh ya, ada seorang bapak-bapak Korea yang minta ikut patungan juga ke Genting. Pas banget, ongkos kita jadi lebih murah lagi.

Perjalanan ke Genting kurang lebih satu jam tanpa macet. Kalian akan melihat pemandangan pepohonan hijau (seperti hutan belantara) di sisi kiri dan kanan jalan. Saya jadi mengantuk, tapi mengobrol dengan Willy dan Yudhi lebih seru. Tanpa terasa kami sudah sampai di Awana. Kami membayar mobil, lalu masuk ke Awana Bus Terminal untuk membeli tiket bus pulang terlebih dahulu. Daripada nanti kehabisan lagi. Kami membeli tiket pukul 17.30 seharga 4.5 RM saja. Ternyata pakai bus murah banget ya, daripada naik mobil😅.

Setelah beli tiket bus, saatnya beli tiket Cable Car (Gondola) di Awana Skyway. Kata Willy dan Yudhi, antriannya bakalan panjang. Tapi kemarin alhamdulillah malah nggak ngantri. Mungkin karena masih pagi, jadi kita bisa langsung dapat tiket. Kalian bisa memilih mau naik Gondola berlantai kaca (Glass Floor Gondola), atau yang biasa. Berhubung mau nostalgia naik gondola kaca seperti di Ngong Ping Hong Kong beberapa tahun yang lalu, akhirnya kita memilih pergi dengan gondola kaca dan pulang dengan lantai biasa. Wahhh, saya jadi sangat antusias dan nggak sabar mau langsung naik🤩🤩.
Tiket gondola kaca
Serem nggak?
Cable Car (Gondola)
Menunggu Glass Floor Gondola sedikit lebih lama dari yang reguler. Ketika gondola datang, kami pun naik. Hanya kita bertiga dalam satu gondola, jadi bebas mau ngapain aja. Yang agak menyeramkan naik gondola itu ketika gondola menambah kecepatan untuk naik, baru akhirnya memperlambat lajunya. Seolah-olah sedang naik roller coaster dalam waktu yang singkat dan jantung mulai kaget duluan. Karena masih pagi, pemandangan di sekitar berkabut. Apalagi hari itu masih hujan rintik-rintik dan dingin. Tau gitu saya pakai jaket agar tidak kedinginan. 
Kabut
Gaya dulu
Update IG Story seperti biasa
Teringat dulu ketika di Ngong Ping, kita bisa bebas melihat orang-orang jogging mengikuti trek gondola. Berbeda dengan Genting, dibawah gondola semuanya hutan dan nggak mungkin bisa beraktivitas. Kalau mau naik mobil bisa aja sih, tapi melalui jalan yang lain. Oh iya, gondola ini memiliki 2 pemberhentian. Pertama di kuil Chin Swee (destinasi yang akan kami kunjungi ketika pulang), dan Sky Avenue. Kalian juga bisa melihat ada 20th Century Park World Theme Park yang sedang dibangun. Kapan ya ada Theme Park sekelas ini bisa dibangun di Indonesia?
Theme park sedang dibangun
Perjalanan naik gondola nggak lama-lama banget. Ntah cuma 10-15 menit saja kita sudah sampai di Mall Sky Avenue. Jadi merasa rugi bayar 25 RM karena cepet banget😕. Dulu Ngong Ping sampai 40 menit perjalanannya dan ketika di Khasmir (gondola menuju pegunungan Himalaya) juga sekitar 30 menit. Kami akhirnya turun dan berjalan masuk ke Mall. Saya takjub melihat Mall yang super duper luas dan keren ini. Saya bisa melihat layar LED hampir diseluruh dinding😱. Orang-orang yang datang juga ramai sekali. Dari luar nggak keliatan kalau pengunjung seramai ini.
Hampir tiba
Sky Avenue
Sebagai informasi, Genting Highland ini adalah bagian dari Resort World sehingga kalian bisa menemukan casino, taman bermain, mall, dan sebagainya. Karena Malaysia adalah negara dengan syariah islam yang kuat, maka untuk Muslim sama sekali nggak boleh masuk casino. Sebenarnya saya agak penasaran 'gimana casino disini karena pasti mewah banget. Secara Resort World di dunia ini ternyata berpusat di Genting (saya baru tau). Masuk casino kan bukan untuk bermain judi saja, tapi bisa karena ingin mengagumi keindahan interior dan arsitektur bangunan. Sama seperti ketika saya berada di The Venetian Macao, casinonya super duper keren, padahal bukan jaringan Resort World.

Sebelum eksplorasi lebih jauh dan waktu yang lumayan singkat, saya dan teman-teman memutuskan untuk makan siang dulu di Burger and Lobster. Kata Tina, resto yang satu ini antriannya sangat panjang di jam makan siang dan mumpung masih pagi, kita mencoba ikut mengantri. Mungkin kami adalah antrian ke 6 dan hanya mengantri dalam 10 menit saja.

Postingan tentang resto Burger and Lobster saya tulis setelah ini ya. Sampai jumpa!

Beberapa foto dari  kamera Fujifilm Willy Sebastian (Instagram : willyarrows)

Desember 06, 2018

Mendadak ke Kuala Lumpur

Awal November kemarin, tepatnya setelah melepas lelah dari workshop Connecting the Dot (CTD), saya sempat berencana mau main ke Kuala Lumpur. Selain karena udah menitip banyak kosmetik Sephora yang diskon 20% kepada Tina (jadi pengen cepat dipakai😚), rasa penat di kepala masih terasa dan saya butuh liburan🏝️. Tanpa sengaja, saya melihat postingan teman di Facebook kalau sedang ada tiket super duper murah Malaysia Airlines seharga 200rb pulang-pergi ke Kuala Lumpur, tanpa banyak mikir lagi, saya langsung mengecek kalender dan beli tiket. Baru sadar kalau saya beli tiket terlalu cepat yaitu seminggu setelah CTD dan jadi bingung sendiri, ini beneran mendadak banget😨? Well, rejeki kadang datang memang tiba-tiba dan harus langsung diambil.

Saya memberi kabar beberapa teman di Kuala Lumpur kalau saya (mendadak) datang. Alhamdulillah bisa menginap juga di tempat Tina dan mengirit biaya hotel. Saya mengambil penerbangan siang supaya sampai ke Kuala Lumpur agak sore, jadi nggak usah menunggu Tina terlalu lama pulang kerja dan nggak perlu bangun terlalu pagi, hehehe. Karena pesawat fullboard seperti Malaysia Airlines bisa cek in duluan, sayang langsung memilih kursi di depan dan dekat jendela.

Hari keberangkatan pun tiba. Jujur aja sudah lama banget nggak pegang passpor (terakhir bulan April, berarti udah 7 bulan). Saya naik Hiba Utama dari Depok ke Bandara Soekarno Hatta Terminal 3 yang memakan waktu 1,5 jam.  Setelah itu cek in bagasi yang beratnya cuma 7 kg saja, lalu sempat nyari sarapan dulu dan menemukan toko cemilan (lupa namanya) yang ngasih diskon 50% pakai Gopay. Lumayan banget! Setelah makan, saya proses cek barang kabin, lalu ke imigrasi (saya lebih suka melewati autogate biar nggak banyak ditanya petugas imigrasi). Setelah itu saya berjalan menuju gate dan duduk santai menunggu pesawat boarding. Tanpa menunggu lama, saya pun naik pesawat.
Boarding👋👋
Saya sudah berusaha tidur di pesawat tapi nggak begitu ngantuk. Saya coba menyalakan tv dan menonton Red Sparrow yang tidak saya mengerti jalan ceritanya😵, lalu makan siang, tertidur, bangun dan lanjut nonton lagi, sampai akhirnya mendarat. Alhamdulillah tidak ada turbulensi yang signifikan. Saya proses ke imigrasi, mengambil bagasi, lalu agak kebingungan karena sampai terlalu cepat. Akhirnya saya memutuskan belanja dulu di Mitsui karena bisa menitip koper secara gratis.

Saya naik shuttle bus dari KLIA1 ke Mitsui Outlet . Udah lama nggak kesini (terakhir sepulang dari India) dan saya merasa sangat antusias untuk belanja. Mall yang satu ini memang besar banget dan membuat saya hampir nyasar. Ntah karena terlalu bersemangat masuk hampir ke semua toko dan beli ini-itu, jadi lupa pintu keluar. Saya agak kalap melihat barang bermerk dan diskon, bahkan harganya sepertiga dari di Indonesia. Kalau bukan karena mengingat bakalan report nenteng belanjaan naik bus, mungkin saya udah belanja habis-habisan.
Udah murah, diskon pulak.
Sekitar pukul 5 sore waktu Kuala Lumpur, saya menyudahi belanja di Mitsui dan kembali ke KLIA2 untuk membeli tiket bus menuju KL sentral. Waktu saya tiba di KLIA2 ngepas banget dengan jadwal keberangkatan bus yang tinggal 1 menit lagi. Saya jadi buru-buru beli tiket dan berlari menuju bus. Untung barang yang ditenteng cuma sedikit. Saya duduk di kursi depan sambil menghela napas. Beberapa menit kemudian saya tertidur. Saya bangun satu jam setelahnya dan keheranan dengan kemacetan di Kuala Lumpur yang hampir sama dengan Jakarta. Jarak ke KL Sentral cuma 400 meter lagi tapi nggak sampe-sampe😅 deh. Baru sekitar pukul 7 malam, saya sampe dan disambut oleh Tina. Kami langsung berpelukan. Ah rasanya kangen sekali.

Saya dan Tina makan malam di Penang Road Famous Theochew Chendul (nama restonya panjang bener😆) sambil menunggu Willy datang. Rasanya seru sekali mengobrol dengan Tina karena sudah lama sudah tidak bertemu sambil menikmati mie dan teh tarik. Sejam kemudian Willy datang dan obrolan kami jadi semakin seru. Semua diperbincangkan sampai hampir lupa waktu. Kami menyudahi reuni kecil-kecilan ini pada pukul 9 malam dan saya ikut tina pulang ke apartemennya yang lumayan luas menurut saya. Saya dapat kamar sendiri untuk beristirahat sejenak, lalu mandi.
Mie dan Teh Tarik
Sekitar pukul 12 malam, saya mendengar suara ledakan super duper menggelegar yang mengagetkan😱😱😱😱. Ditambah lagi pintu kamar saya diketuk Tina. Saya kaget 😱😱😱😱 dan buru-buru buka pintu kamar. ADA APA??? Ternyata oh ternyata, ada kembang api diseluruh langit karena besok adalah libur nasional di Kuala Lumpur karena perayaan Diwali (Festival of Lights). Wahhh, sudah lama nggak ngeliat kembang api 🎆🎆🎆sebanyak ini dari segala penjuru menghiasi langit. Sayangnya saya nggak ngeluarin kamera untuk mengambil gambar karena saking takjubnya🤩🤩🤩.

Setengah jam setelah festival kembang api berlangsung, saya pun tidur. Udah capek juga karena perjalanan dari Jakarta ke Kuala Lumpur, ditambah macet, dan menenteng koper kemana-mana. Besok saya cerita lagi tentang tempat-tempat yang saya kunjungi ya. Stay tuned!

Desember 04, 2018

Mati Lampu

Hari Jumat-Sabtu kemarin, keluarga dari Aceh ramai sekali yang menginap di rumah, ditambah lagi teman dan saudara yang berkunjung sehingga membuat rumah saya yang kecil terasa sangat penuh. Alhamdulillah masih bisa mengakomodir mereka untuk tidur dimana dan makan apa. Bahkan saya dan adik sepupu jadinya memasak dalam porsi besar, tapi sesederhana mungkin biar nggak terlalu capek. Untungnya nasi tinggal masak di rice cooker, ayam dibakar pakai Happy Call, sayur-mayur beli di warung depan komplek, lalu ditumis pakai saos tiram, dan goreng tempe. Hasilnya enak banget yang penting, walaupun simple.

Setelah keluarga pulang kembali ke Aceh, hari minggu adalah waktu saya beres-beres. Memang biasanya saya suka merapikan rumah, ngepel, nyapu, nyuci, nyetrika, berhubung nggak ada pembantu, dikerjakan di hari minggu. Kalau nyuci sih bisa seminggu dua kali biar nggak menumpuk, tapi kalau ngepel ya seminggu sekali. 

Setelah selesai semua pekerjaan, malah mati lampu!😱 Duh, belum masak nasi, mau keramas lagi, 'gimana mau pakai hairdryer? Belum lagi beberapa makanan mau saya masukkan ke microwave. Batre hp tinggal 12%, Whatsapp dan Telegram bunyi terus sehingga membuat batre hp berkurang sedikit demi sedikit. Saya membuka laptop dan melihat batre sisa 5%. Haduwh gimana ini? Memang tadi sempat berpikir mau kerja dengan kondisi laptop nyolok ke listrik, jadi sengaja nggak mengisi batre. Eh, malah mati lampu. Mau tethering internet dari hp, batre hp aja sisa 'dikit😵😵😵.

Jadilah saya menunggu sejam dalam kondisi keringatan dan lampu belum menyala. Akhirnya saya memutuskan untuk mandi karena udah nggak tahan lagi gerah. Setelah mandi, rambut saya kipas-kipas supaya cepat kering. Karena udah masuk waktu makan siang dan saya nggak bisa pesan Gofood karena batre hp sudah di bawah 5%, saya mulai berpikir cara masak nasi tanpa pakai rice cooker. Saya taruh beras di panci rice cooker, menyalakan kompor dengan api kecil, dan membiarkan saja beras di dalam panci. Saya nggak yakin juga apakah berhasil masak nasinya atau enggak. Tapi logikanya, rice cooker juga pasti menggunakan panas yang konstan untuk memasak nasi sampai mateng. Ya kita coba saja.
Gue banget
Makanan yang awalnya mau saya hangatkan menggunakan microwave, akhirnya saya masak pakai kompor gas. Saya campurkan sayuran dan tempe, lalu dioseng-oseng. Kemudian daging ayam saya tambahkan sambal balado. Jadi mendadak menemukan resep baru😅. Alhamdulillah nasi akhirnya mateng dan bagus hasilnya. Saya taruh nasi ke piring, sayur, dan daging ayam balado, untuk makan siang. Rasanya enak banget, sehingga saya makan dengan lahap. Rambut juga sudah 70% kering.

Selesai makan dan cuci piring, saya mulai bingung mau ngapain. Mau tidur kepanasan, main hp nggak ada batre, beres-beres kamar udah, angkat jemuran udah, duh mau ngapain lagi ya?🤔Akhirnya saya baca buku beberapa menit sampai saya merasa kegerahan. Males banget baru mandi udah kegerahan lagi. Alhamdulillah sekitar jam 1 siang, lampu menyala. Saya langsung mengecas semua gadget, masuk kamar, menyalakan AC, dan berpikir untuk menyetrika saja. Baru setelah itu tidur siang karena sudah capek membabu-buta hari itu.

Kesimpulan, terkadang kita terlalu dimanjakan dengan teknologi. Sehingga ketika dihadapkan pada masalah seperti saya, awalnya pasti bingung. Mau ngapain ya🤔? Tapi percayalah, otak kita pasti akan menemukan solusi yang tepat untuk menghadapi masalah. Mati listrik 3 jam lebih seperti kemarin membuat saya bisa berhemat banyak dari pemakaian rice cooker, hair dryer, microwave, AC, TV, dan charger. Ntah kenapa jadi merasa mempelajari beberapa hal penting dalam kehidupan🤗🤗🤗, hahaha.

Baiklah, semoga bermanfaat. Sampai jumpa!

Follow me

My Trip