Mei 24, 2018

Bibir Lecet

Saya jeda dulu postingan tentang UEA dengan laporan perkembangan kontrol gigi saya. Tetap tidak ada perubahan berarti di gigi. Kata dokter, mungkin karena saya suka mengunyah di sebelah kanan, jadi celah di gigi kanan susah menutup. Mungkin geraknya hanya beberapa milimeter saja selama sebulan dan itu sama sekali tidak berarti.

Akhirnya dokter memasang "power chain" lagi di celah gigi agar menutup. Saya kurang mengerti bagaimana teknisnya, tapi yang pasti power chain dipasang untuk meluruskan dan merapatkan gigi (seperti shaf shalat aja rapat dan lurus). Untuk gigi bawah, dokter memasang kawat zig-zag lagi sekedar untuk merapikan dan membentuk lengkung pada rahang gigi.

Kata dokter, masalah gigi bawah sih tinggal geraham doang. Sisanya udah bagus. Kalau saja celah gigi atas cepat menutup, berarti Perfect Smile 2018 udah memperlihatkan titik terang😆.Oh iya, karena sebentar lagi libur lebaran dan saya tidak berada di Jakarta selama hampir sebulan, jadilah menggeser jadwal kontrol gigi hingga lebih dari sebulan.

Biasanya, dokter pasti menyuruh saya merasa-rasa apa ada kawat yang menusuk rongga mulut atau enggak. Kalau masih di OMDC, kawat yang 'nusuk nggak terasa. Nah, sepulang dari klinik, berdiskusi kerjaan di kantor termasuk mengunyah makanan, baru deh terasa perih karena ada kawat yang menusuk kulit rongga mulut. Rasa sakit berlanjut keesokan harinya sampai saya beli salep untuk mengurangi luka mulut. Teman saya bilang, daerah yang tajam ditutupi dengan permen karet agar gampang mengunyah makanan. Awalnya saya nggak mau pakai permen karet karena harus ke mini market dulu. Tapi karena malam harinya semakin sakit dan nggak bisa makan, jadilah saya beli permen karet untuk ditempelkan ke kawat yang agak tajam. Baru deh bisa makan dengan tidak merintih kesakitan.
Pake karet transparan
Untuk salep penutup luka di rongga mulut, saya paka Kenalog Orabase di malam hari. Kalau siang hari dan berpuasa rasanya nggak enak banget ada salep di rongga mulut, takut termakan. Nggak mungkin juga taruh permen karet di kawat gigi karena bisa kemakan juga. Saran saya kalau buka puasa, minum air manis dulu, baru menaruh permen karet di bagian kawat yang tajam supaya ketika mengunyah makanan untuk berbuka dapat lebih nyaman.

Baiklah, sekian laporan dari saya. Sampai jumpa!

Kontrol Saphire Braces Rp. 265,0000

Mei 22, 2018

Dear United Arab Emirates, I'm Coming!

Setelah selesai postingan tentang India, saya akhirnya bisa juga menuliskan tentang negara lainnya yaitu United Arab Emirates (UAE). Sebenarnya perjalanan ke UAE tidak direncanakan karena memang pada awalnya saya ingin jalan-jalan ke Turki saja. Beli tiket pesawat Emirates ke Turki 2 minggu setelah pulang dari India dan baru sadar kalau ternyata waktu transitnya lumayan lama di Dubai. Sempat baca-baca blog orang lain ngapain aja di bandara Dubai tapi ternyata yang namanya bandara mana enak berlama-lama.

Akhirnya saya menghubungi beberapa kerabat yang pernah tinggal di Dubai seperti Ike, teman saya ketika sekolah dulu yang menikah dengan Bang Oka abang sepupu saya, dan juga Kak Selfi teman semasa di Bandung dulu. Ternyata Kak Selfi sudah pindah ke Kuwait dan alhamdulillah Ike bisa dihubungi. Ike bahkan antusias banget karena bakalan ada teman/saudara yang mau mengunjunginya. Apartemen Ike ternyata di Abu Dhabi dan perjalanan dari bandara Dubai ke Abu Dhabi sekitar 1,5 jam saja. Ike bilang Insya Allah dia dan keluarga bakalan dijemput di bandara.

Setelah dapat konfirmasi dari Ike, barulah saya mengajukan Visa dari website Emirates yang pernah saya tuliskan di postingan Dear UAE and Turkey, I'm Coming! yang lumayan bikin deg-degan karena mepet banget. Setelah Visa UAE dan Turki selesai, dimulailah persiapan berangkat. Saya bawa 2 koper, satu yang ukuran medium, satu ukuran kabin tapi bisa diperbesar (expandable). Tidak lupa bawa ransel laptop dan satu tas kecil untuk jalan-jalan. Berarti total saya bawa tas adalah 4😋, hahaha. Sebenarnya isi koper kabin hanyalah sepatu dan makanan seperti sambal dan popmie. Kayaknya kalau nggak bawa popmie tuh bukan travelling namanya. Karena di Turki masih dingin dan Dubai panas banget, jadilah saya bawa jaket thermal yang biasa (untuk suhu 5-10 derajat) dan baju yang enak dipakai. Sebenarnya di Turki juga sedang musim semi jadi nggak bawa jaket thermal untuk suhu dibawah 0. Nanti malah keringetan kalau pakai jaket seperti itu. Saya bawa beberapa sweater, rok (pengen pakai rok karena pas dengan musim semi), dan dress juga. Udah berencana beli jaket warna merah di Turki yang katanya keren-keren.

Sudah selesai semua persiapan termasuk obat-obatan yang masih lengkap karena setelah dari India saya sempat ke dokter paru. Saya juga sengaja istirahat sehari sebelum berangkat untuk memantapkan stamina. Pada hari H, saya naik DAMRI ke terminal 3 Bandara Soekarno Hatta untuk naik maskapai Malaysia Airlines. Sempat makan dulu di bandara supaya nggak lapar. Oh ya, karena banyak yang umroh, antrian imigrasi sangat panjang. Saya sebenarnya agak malas juga melewati imigrasi di Indonesia dan Malaysia karena kebanyakan pasti ditanyain, "Kapan pulang? Udah punya tiket pulang belom?" Beberapa orang dibelakang saya langsung berpindah ke autogate (scan passpor dan sidik jari tanpa perlu stempel passpor) dan saya ikut juga. Enaknya pakai autogate, udah nggak antri, prosesnya juga 30 detik, tanpa harus ditanya-tanya sama petugas imigrasi.

Akhirnya saya pun boarding ke Malaysia Airlines. Ntah kenapa, pesawat yang saya dapat hari itu kurang bagus. Saya berharap bakalan dapat pesawat enak karena naik maskapai milik negara, eh malah dapat yang begitu. Mana ke Kuala Lumpur turbulensinya parah banget lagi. Alhamdulillah mendarat dengan selamat di KLIA1. Saya lalu menelepon adik saya via Whatsapp untuk mengetahui keberadaan dia dimana di bandara. Saya juga menelepon Willy supaya bisa check in bareng. Setelah semua tim komplit, saya check in sebentar di konter Emirates dan mengatur tempat duduk agar bisa berdekatan karena kami berbeda kode booking biasanya pasti duduknya berpencar.

Urusan check in beres, Ike menelepon saya dari Dubai. Kami mengobrol, menceritakan jam berapa landing di Dubai, persiapan kesana, nanti nginap dimana, pokoknya seru banget sampai-sampai saya baru sadar tidak mengaktifkan roaming internasional. Saya juga baru sadar kalau Ike menelepon langsung dari nomor lokal Dubai ke nomor Indonesia saya dan saya sedang berada di Malaysia. Pulsa saya hilang 500rb😱. Tidak! Padahal udah diisi pulsa untuk beli paket data di Turki tapi hilang begitu saja. Ya sudahlah ya, sekali-kali mengobrol.

Baru selesai proses imigrasi dan screening barang kabin, pengumuman boarding pesawat Emirates langsung terdengar. Mungkin karena pesawatnya super besar, jadi boarding bakalan memakan waktu lama, makanya sejam sebelum jam keberangkatan sudah boarding. Jadi sedikit berlari menuju gate Emirates dan nggak sempat ke toilet dulu. Kesan pertama ketika saya naik Emirates adalah : betapa mewahnya pesawat ini😍. Jendelanya mewah, kursinya seperti sofa dan tempat kaki lapang banget, entertainment on flight komplit banget. Garuda Indonesia kalah jauh deh. Padahal saya beli tiket ekonomi. Gimana kalau yang bisnis atau first class yang penuh terisi di pesawat itu. Orang-orang kaya banyak banget sampai berebutan naik bisnis dan first class. Keren ya😲. Semoga suatu hari bisa begitu juga, aminnn! Take off pesawat juga nggak terasa sama sekali. Tanpa sadar, pesawat sudah melayang ke udara.

Selama di pesawat, saya tidur. Mungkin karena penerbangan malam dan untuk menghindari jetlag, saya lebih suka tidur. Rencananya sampai Abu Dhabi nanti dan menginap di rumah Ike, saya mau ngobrol aja semaleman. Makanya tidur dari sekarang. Penerbangan ke Dubai dari Kuala Lumpur sekitar 7 jam. Pada jam-jam tertentu kami disuguhi banyak makanan sampai saya kekenyangan. Tanpa terasa, pukul 22.30 waktu Dubai, tibalah kami di Dubai International Airport. Proses landing pesawat juga super mulus tanpa terasa. Sepertinya Emirates adalah maskapai terbaik yang pernah saya naiki. Walaupun saya belum pernah naik pesawat lain seperti Etihad, Singapore Airlines, dan lainnya untuk jarak sangat jauh. Insya Allah suatu hari nanti. Oke, selamat datang di Dubai!
Dubai

Negara kaya pasti direpresentasikan dengan bandara yang super mewah. Pilar-pilar besar, lampu mewah, atap tinggi dan megah, semua terlihat begitu menakjubkan bahkan baru berada di bandara saja. Saya berjalan menuju imigrasi sambil mengagumi kemewahan bandara dan tanpa terasa sudah harus mengantri imigrasi. Antriannya panjang, tapi cepat banget kok prosesnya. Apalagi kalau kita sudah punya Visa yang disponsori maskapai tertentu, lebih gampang lagi masuk ke Dubai tanpa ditanya apa pun. Bang Oka sempat menelepon untuk mengabarkan kalau dia sudah berada di Bandara. Ketika keluar imigrasi, saya bilang ke Bang Oka kalau kami menunggu di sebuah Cafe depan Metro agar dia mudah menemukan kami. Alhamdulillah tanpa menunggu lama, Bang Oka langsung samperin kita. Kami kemudian dibawa ke parkiran mobil.
Pilar-pilar indah
Atap megah
Karena cuma bawa ransel yang berisi baju ganti, sikat gigi, dan handuk kecil, jadi bagasi mobil cukup untuk menampung tas-tas kecil milik kita. Koper besar sudah berada di pesawat connecting flight ke Turki, jadi nggak usah bawa koper besar. Mulailah kami menyusuri jalanan Dubai yang super duper mulus. Kami akan menuju Abu Dhabi dan jalannya lurussss saja tanpa belok sama sekali. Jalanan sepi seperti tol, sehingga Bang Oka bisa menyetir sampai 120 km - 150 km per jam. Di jalan saya melihat lampu-lampu Burj Khalifa berkerlap-kelip. Ah, akhirnya saya sudah benar-benar sampai di Dubai. Nggak nyangka banget bisa dapat rejeki dari Allah mengunjungi negara super kaya ini. Tidak berhenti mengucap Alhamdulillah.
Burj Khalifa difoto dari dalam mobil yang melaju 150km/jam
Perjalanan ke Abu Dhabi dari bandara Dubai memakan waktu sekitar 1.5 jam seperti yang pernah saya sebutkan diatas. Saya sempat tertidur sejenak di mobil tapi kasihan juga Bang Oka nggak ada yang ajak ngobrol nanti malah ngantuk. Untung tante saya masih ajakin ngobrol. Setelah saya bangun dari tidur pun saya ngajak ngobrol sekalian bertanya banyak hal tentang UAE termasuk kenapa tidak menelepon saya paka Whatsapp call. Ternyata Voice Call dan Video Call via Whatsapp baru sajadi block di UAE dan warga lokal saja sampai protes karena tidak setuju. Makanya saya cuma bisa menghubungi Ike pakai chat di Whatsapp saja. 

Akhirnya sampailah kami ke apartemen Bang Oka. Hal yang pertama kali saya takjub adalah parkiran mobil apartemennya semuanya mobil mahal. Saya sempat norak berfoto dengan Lamborghini kuning yang banyak terlihat di parkiran. Katanya mobil mewah disini murah. Kalau di Indonesia seharga 4 M, di UAE cuma 1 M. Teteeep aja mahal😰! Saya dan keluarga masuk ke apartemen Bang Oka, disambut Ike yang sudah menunggu. Duh, senang banget rasanya bertemu Ike karena udah lama nggak ketemu. Apartemennya juga sangat cantik dengan ornamen artistik, dekorasi sederhana, dan perabotan yang efisien, sehingga membuat suasanya homy dan nyaman banget.
Berfoto dengan Lamborghini
Kami disuguhi teh Turki (kebetulan Ike juga baru pulang dari Turki), sambil mengobrol. Ike bilang, kami ke Dubai dalam waktu yang pas karena Bang Oka sedang masa libur (perusahaan minyak ada masa libur dan masa masuk kerja sampai 24 jam). Hanya saja kami kurang lama berada di UAE. Seandainya lebih lama, mungkin kita bisa main ke banyak tempat.
Apartemen Ike yang cantik
Mama dan tante saya tidur di kamar Zaki, anaknya Ike. Sedangkan Amad dan Willy di ruang tengah. Saya tidak tidur dan mengobrol lama bersama Ike dari malam sampai sejam sebelum adzan shalat Shubuh. Terlalu lama sudah tidak bertemu, terlalu banyak cerita yang bisa diobrolin bersama-sama membuat waktu jadi singkat. Sampai akhirnya waktu Shubuh pun menjelang...

Di postingan selanjutnya saya akan menuliskan tentang salah satu mesjid terindah di dunia di Abu Dhabi. Sampai jumpa!

Mei 18, 2018

Kesimpulan Perjalanan ke India

Sudah lebih dari 2 bulan saya pulang dari India, tapi baru kali ini bisa menuliskan kesimpulannya. Deretan antrian tulisan semakin panjang saja. Sepertinya saya tidak akan melakukan perjalanan dulu sebelum semua tulisan tentang Dubai, Turki, Bali, dan Lombok selesai. Terlalu banyak tulisan yang menumpuk menjadi beban pikiran tersendiri bagi saya karena saya harus selalu menuliskannya dalam blog untuk referensi pribadi juga. Saya takut kalau tidak dituliskan, nanti malah lupa. Otak manusia kan agak terbatas.
Sunrise upon Taj Mahal
Ada beberapa hal yang akan saya tarik kesimpulan selama perjalanan di India. Semoga bisa menjadi acuan untuk kalian yang ingin berkunjung ke negara ini. Semua hal disini adalah murni pengalaman pribadi.

1. Makanan
Sebenarnya saya lumayan suka kari, tapi tidak untuk setiap hari bahkan tiga kali sehari. Hari pertama tiba di Khasmir, kami menyantap kari dengan lahap. Berbeda dengan hari kedua, ketiga dan seterusnya. Kari adalah jenis makanan yang sangat berbumbu dan berlemak. Kadang-kadang untuk sarapan pagi pun disediakan kari dan saya agak merasa bersalah memakannya karena biasanya saya suka makan makanan sehat seperti sayur bening, ikan bakar atau goreng, dan tidak terlalu berbumbu. Alhamdulillah saya tidak pernah diare di India karena memang diare adalah penyakit yang paling jarang datang ke tubuh saya.

Kalau kalian pakai lokal tur di Khasmir, mungkin bisa meminta dimasakin makanan yang plain seperti telur mata sapi. Bahkan mereka menggoreng telur saja dengan minyak yang sangat banyak. Kurang baik untuk kesehatan tapi paling nggak bukan kari, hihihi.

Satu lagi makanan yang paling sering ditemui di India adalah 'Masala', sejenis bumbu khas untuk membuat kari. Menu makanan utama pasti dimasak menggunakan Masala, makanan ringan juga ada rasa Masala, bahkan ada teh Masala. Saya merasa dihantui Masala di India saking bisa ditemukan dimana-mana. Jujur aja saya nggak suka rasa Masala, ya karena terlalu terasa campuran bumbunya.

2.  Keadaan Cuaca
Saya merasakan 2 musim ketika berada di India, yaitu musim salju dan panas. Selama di Khasmir, saya merasakan salju turun dengan deras dan hampir seluruh daerah berwarna putih karena tertutup salju. Udara di Khasmir juga masih sangat bersih karena kami sering ke gunung dan kota Srinagarnya juga nggak begitu banyak kendaraan bermotor.

Hal ini berbanding terbalik ketika berada di Delhi dimana cuaca super panas dan polusi udara dimana-mana. Mungkin hal ini yang membuat saya jadi sakit karena berada di dua keadaan cuaca yang lumayan ekstrim. Sebaiknya kalian menyetok banyak vitamin kalau mau ke India untuk merasakan dua musim kalau nggak mau kondisi tubuh jadi drop seperti saya. Sebenarnya kondisi tubuh saya memang kurang fit dari hari pertama ke India, tapi udara di Khasmir yang bersih lumayan menambah energi. Sampai ketika ke Delhi, baru deh tubuh saya drop lagi.

3. Kena scam
Kayaknya belum ke India kalau nggak kena scam. Saya kena scam kurang lebih 3 kali. Pertama ketika bertanya dimana Palika Market. Kedua, ketika perjalanan dari Delhi ke Agra, dan ketiga ketika harus naik kopaja ke Jaipur. Yang paling nggak enak adalah ketika naik kopaja ke Jaipur yang kotor, panas, belum lagi pemandangan diluar yang tidak sedap dipandang mata.

Saran saya lebih baik bertanya pada orang lokal yang biasa, bukan supir tuk-tuk, bukan petugas hotel, dan bukan orang yang tiba-tiba menawarkan diri untuk menunjukkan jalan. Sewaktu di Palika Market, kami bertanya pada orang yang sedang menyebrang jalan dimana tempat menjual saree. Orang tersebut langsung menunjukkan jalan ke bawah tanah tanpa basa-basi. Sewaktu di Jaipur, kami bertanya arah hotel kepada orang yang sedang nongkrong di warung dan dia dengan senang hati memberi tahu supir tuk-tuk yang dari tadi sudah nyasar kemana-mana.

4. Belanja
Kalian bisa mendadak merasa kaya raya kalau belanja di India. Hampir semua barang murah, bahkan yang murah itu kata orang lokal pun kami ditipu. Udah kena tipu masih murah😅. Sayangnya saya ke India kemarin nggak begitu banyak menukar uang sehingga nggak begitu banyak belanja. Padahal saree disana cantik dan murah-murah. Harga 200rban udah dapat yang berpayet sepanjang 7 meter. Kebayang betapa murahnya😍. India memang surganya tekstil, jadi jangan sampai nggak belanja kain selama disini.

5. Polusi
Ini hal yang paling mengerikan selama di India. Kalian akan merasakan polusi udara dan suara. Hari terakhir di Jaipur, karena terlalu banyak kendaraan bermotor, cuaca panas, debu naik semua dan asap kendaraan bermotor bisa membuat suasana jadi agak berkabut. Saya langsung sesak napas dan nggak tahan sama sekali.

Belum lagi suara klakson dimana-mana yang nggak santai. Kalau kalian merasa di Jakarta suara klakson udah terlalu berisik, datanglah ke India dan rasakan kebisingannya. Kalau di Jakarta cuma 'tin.. tin...', nah di Jaipur itu "tinnnnnnn, tinnnnnnn!!!" (pakai tanda seru). Sampai sakit kepala saya mendengarnya.

Pernah saya baca salah satu postingan di Backpacker Dunia kalau semua alat indera kita bisa down selama di India. Saya setuju dengan pernyataan ini karena saya juga mengalaminya. Coba saya jabarkan satu-persatu:
  • Mata : Hati-hati dengan mata kalian karena bakalan melihat toilet dimana-mana. Di India, kalian akan melihat toilet umum tanpa air. Setelah pipis ya udah ditinggalin aja😱. Sewaktu saya di dalam kopaja ke Jaipur, pemandangan lebih seram lagi dari dalam bus dan saya nggak mau menuliskannya di dalam blog. Pokoknya menjijikkan😰.
  • Telinga : Suara bising klakson sudah sangat membuat telinga sakit dan berefek sampai pusing kepala. Saya menyesal nggak bawa earphone untuk mendengarkan musik ketika jalan-jalan karena suara klakson bersahut-sahutan itu sangat memusingkan😵.
  • Lidah : Duh, Masala dimana-mana membuat saya jadi nggak nafsu makan. Bahkan hotel berbintang pun menyediakan Masala. Omelet Masala, Snack Masala, Teh Masala, dan lidah saya sampai mati rasa. Sampai di Kuala Lumpur, saya memesan teh tarik jadi serasa minuman terenak di dunia.
  • Kulit : Setiap hari saya minum obat alergi dan hand sanitazer saya pakai hampir setiap setengah jam sekali. Kalian tidak bisa menghindari memegang tiang bus/kereta lalu setelahnya memegang makanan. Sewaktu di kopaja ke Jaipur, tangan saya sampai hitam dan ketika cuci tangan, busanya juga hitam karena berpegangan pada kursi kopaja. Mengerikan banget kotornya😱.
  • Hidung : Polusi udara adalah hal yang paling signifikan di India. Sebaiknya kalian memakai masker selama melakukan perjalanan ke negara ini kalau tidak mau berakhir ke dokter paru seperti saya. Saya sudah menyiasati kerudung supaya bisa menjadi cadar tapi kurang tebal. Harus bawa masker untuk ke padang pasir kayaknya baru bisa.
6. Nyawa murah
Hampir semua sopir kendaraan bermotor menyetir dengan ugal-ugalan. Bahkan di tol, mereka bisa mendadak mutar balik arah.  Belum lagi mereka suka mengemudi dengan kencang, tidak peduli ada polisi tidur di depan ya disambar aja dan mobil mendadak terbang dan mendadak mendarat juga. Saya sebagai penumpang sampai mental di dalam mobil, kejeduk kaca sampai benjol, dan punggung kebanting ke jok mobil. Alhamdulillah masih hidup😱.

Saran saya banyak-banyak berzikir selama naik mobil disana karena (mungkin) malaikat maut nongkrong dimana-mana.

7. Budget
Ini hal yang paling ditunggu-tunggu sepertinya. Mari disimak:

Tiket pesawat CGK - Jaipur pulang-pergi Rp. 1,408,276
Bagasi Rp. 1,339,500
Total Rp. 2,747,776

Paket trip Khasmir 9500 rupee x Rp. 220 = Rp. 2,090,000
Pesawat Go Air Delhi - Srinagar pulang-pergi Rp. 1,547,296
Hotel Delhi : Rp. 77,000
Hotel Agra : Rp. 99,000
Hotel Jaipur : Rp. 632,500

Transportasi Delhi - Agra - Jaipur : 1650 rupee x Rp. 220 = Rp. 363,000

Grand total Rp. 7,556,572

Ditambah bawa uang cash sekitar 6 jutaan rupiah untuk makan dan transpor diluar yang saya jabarkan diatas dan habis tanpa sisa.

Terlepas dari segala hal tidak mengenakkan, trip kali ini sangat berkesan untuk saya. Teman-teman trip yang baru kenal dengan segala macam sifat, watak, dan tindakan, membuat saya bisa mempelajari cara membaca karakter orang lain. Belum lagi negara dengan segala kekurangan seperti ini membuat saya banyak bersabar dan berpikir, "bagaimana kalau saya berada di posisi mereka?" Mau nyari uang kayaknya susah banget. Tingkat kesenjangan sosial sangat tinggi, dan terlalu banyak orang dimana-mana. India adalah salah satu negara dengan populasi terbanyak di dunia, sehingga terkadang mereka kesulitan menghidupi keluarganya. 

Setelah pulang dari India, saya justru merasa lebih bijaksana. Kebanyakan saya mengunjungi negara-negara yang biasa saja (selevel dengan Indonesia) atau bahkan negara kaya sehingga nggak bisa melihat kondisi masyarakat yang berjuang mempertahankan hidup. Walaupun saya nggak akan balik lagi ke India karena alasan kesehatan yang paling utama, mungkin saya akan menyarankan teman-teman saya untuk mengunjungi India paling tidak sekali seumur hidup. Supaya ketika kalian pulang, pikiran akan berubah jadi lebih bijaksana. Jadi ingin mengunjungi Srilangka atau Bangladesh nanti.
See you on the next trip
Semoga postingan saya tentang India dapat menjadi referensi perjalanan kalian. Sampai jumpa di tulisan berikutnya tentang United Arab Emirates, negara yang super duper kaya raya.

Foto dari Kamera Fujifilm Kristanto Nugroho (Instagram: kriz_nugroho).

Mei 09, 2018

Jaipur - Kuala Lumpur - Jakarta

Resepsionis hotel memanggil taksi Innova untuk mengantarkan kami dari Hotel Umaid Bhawan ke bandara. Akhirnya bisa naik mobil enak juga pakai AC dan kaca ditutup supaya nggak kena polusi. Ahh seandainya dari awal sewa mobil aja supaya nggak terlalu menghirup udara kotor mungkin bisa lebih enak menikmati kota Jaipur sambil belanja. 

Jarak dari hotel ke bandara lumayan deket, hanya sekitar 20 menit saja. Sesampai di bandara, kami menurunkan koper, lalu masuk ke bandara. Yang agak ngerepotin adalah kita harus menunjukkan print out tiket ke petugas karena hp saya nggak konek internet dan nggak bisa menunjukkan tiket. Jadilah saya harus buka koper lagi untuk mengambil print out tiket (untung simpannya paling atas). Koper kami lalu di screening dan ditempelkan stiker di kunci koper yang berarti nggak boleh dibuka lagi. Kalau seperti ini agak susah kalau teman-teman masih mau menitip barang karena kalau mau buka koper harus menyobek stiker. 
Jaipur traffic
Saya cek in koper ke konter Air Asia dengan santai berhubung saya udah beli bagasi 20 kg dan ransel saya beratnya cuma 3 kg. Semua barang bawaan ke kabin pesawat seperti ransel dan tas kecil ditimbang karena tidak boleh lebih dari 7 kg. Agak kaget juga karena pengawasan terhadap barang bawaan di bandara Jaipur sangat ketat. Yang nggak santai adalah teman-teman yang nggak beli bagasi, atau beli bagasi tapi udah kelebihan muatan. Jadilah mereka bongkar sana-sini, ada yang dibuang, ada yang dipake', ada yang dibagi ke ransel saya😓, pokoknya ribet deh. Saya sempat mencoba cek in kursi bareng Abby yang kebetulan belum web check-in dan saya minta duduk bareng. Petugas kemudian menimbang ransel saya yang cuma 3 kg dan ransel Abby 9 kg jadi total 12 kg, tapi mereka memperbolehkan dibawa ke kabin karena kalau duduk bareng bisa ditotalkan jadi 14 kg. Hmm, saya baru tau peraturan ini.

Yang agak sial sewaktu kita ngaku nggak ada bawa apa-apa, padahal koper untuk masuk kabin ditaruh di kursi supaya nggak ketauan. Eh petugas konter malah curiga dan menyuruh petugas lainnya untuk memantau kita. Gile, jadi nggak bisa kabur deh. Tapi sewaktu antrian cek in bagasi semakin penuh, mereka jadi ribet dan nggak mengawasi kita lagi. Disitu kita ambil kesempatan untuk masuk ke bagian screening cabin dengan buru-buru. Alhamdulillah berhasil juga dan kami langsung proses masuk imigrasi. Awalnya mau makan dulu, tapi sebelum imigrasi nggak ada resto. Kami mengantri imigrasi terlebih dahulu yang prosesnya lumayan lama, sehingga membuat perut saya tambah keroncongan. Berharap setelah imigrasi ada resto tapi ternyata cuma jualan snack aja dan saya nggak beli. Agak menyesal kenapa nggak beli jadi nggak bisa minum obat sesak napas.

Saya akhirnya boarding pesawat. Duh dada ini sesak banget sampai-sampai mau ngobrol sama Abby pun jadi susah. Obat ada tapi karena belum makan jadi nggak bisa minum. Mau tidur pun susah, kebangun terus karena susah napas. Saya kira pramugara atau pramugari Airasia bakalan bersliweran berjualan makanan. Udah ditunggu-tunggu malah nggak ada yang lewat. Apa lewat pas saya tidur (pingsan) ya? Abby akhirnya menekan tombol untuk memanggil awak kabin dan seorang pramugara datang. Kami memesan makanan sekalian membelanjakan uang rupee yang masih tersisa di dompet. Huft, alhamdulillah bisa makan juga, minum obat, pakai inhaler, dan bisa tidur nyenyak sampai Shubuh (ada pengumuman adzan Shubuh dari pilot).

Akhirnya tiba di Kuala Lumpur. Rasanya senang bukan main ketika menjejakkan kaki di KLIA2. Rasanya ingin buru-buru menikmati teh tarik. Connecting flight ke Jakarta saya dan Rezki pukul 23.35 sedangkan teman-teman yang lain langsung terbang ke Jakarta lagi setelah mendarat di KLIA2. Saya melambaikan tangan pada mereka dan saya menuju konter imigrasi. Agak sedih juga berpisah dengan teman-teman trip kali ini.

Setelah proses imigrasi, saya dan Rezki mencari konter penipitan koper karena Rezki nggak mungkin bawa-bawa koper kalau nanti kita main di Kuala Lumpur. Setelah itu kami ambil duit di ATM, baru deh nongkrong di sebuh Cafe di bandara sambil menikmati teh tarik dan roti srikaya yang terasa terenak di dunia. Yang sialnya obat asma saya ada di koper dan saya nggak bisa minum karena koper langsung dibawa ke penerbangan selanjutnya. Semoga bisa bertahan tanpa sesak napas.

Saya nge-Line Yudhi (teman seprojek dulu) untuk menjemput saya di bandara dan temani saya shopping di Mitsui Otlet yang masih berada di sekitar bandara. Sambil bengong menikmati teh tarik, Yudhi pun tidak lama datang menghampiri saya. Duh, terakhir ketemu Yudhi setahun yang lalu dan sekarang dia udah langsing😂. Saya dan Rezki kemudian dibawa Yudhi ke Mitsui. Ntah kenapa karena mau belanja, saya jadi lebih sehat dari sebelumnya. Yang kasihan si Rezki karena dia terlihat lemes banget.
Belanjaan
Ntah karena balas dendam, ntah juga karena ketemu teman lama yang paling enak diajak belanja, saya jadi agak kalap di Mitsui. Saya dan Yudhi masuk ke konter satu dan lainnya dengan semangat, sedangkan Rezki duduk menunggu di bangku Mall. Setelah puas belanja, kami makan Sushi (lupa nama restonya). Ntah karena lagi kurang sehat, saya jadi nggak mood makan. Cuma minum teh hijau panas yang banyak dan membuat saya sendawa terus-menerus. Mungkin masuk anginnya udah parah banget nih, makanya nggak abis-abis anginnya.

Selesai makan, saya belanja titipan keluarga baru setelah itu kembali ke bandara. Sebenarnya bukan mau terbang, tapi karena akses ke pusat kota Kuala Lumpur lebih enak dari KLIA2. Tinggal naik bus seharga RM 9, sampai deh ke KL. Yudhi mengantarkan saya juga ke bandara, lalu dia kembali ke kantor untuk bekerja. Perjalanan dari KLIA2 ke KL Sentral kurang lebih 1 jam dan saya tidur dengan nyenyak. Mungkin karena badan ini terlalu lelah, makanya bawaannya ngantuk melulu. Sampai di KL Sentral masih terlalu sore dan saya terlalu lelah untuk jalan-jalan. Akhirnya cuma duduk di depan Sephora untuk menunggu Tina dan Willy datang. Mana nggak ada WIFI, jadi totally bengong berdua dengan Rezki.

Ntah kenapa tiba-tiba perut saya malah mules dan saya diare berkali-kali. Duh, datang penyakit baru lagi. Udah sesak napas, masuk angin, kepala pusing, diare lagi. Kebayang betapa lemasnya saya dan beneran nggak mood ngapa-ngapain. Tapi pada saat setelah diare, saya malah enakan. Jadi lebih mood jalan-jalan melihat-lihat makeup di Sephora.

Sekitar pukul 6 sore, Willy datang dan hal yang pertama saya minta adalah tethering WIFI. Akhirnya punya akses internet juga. Saya diajakin Willy makan dimsum favorit saya supaya bisa mood makan lagi. Willy juga memberikan magnet kulkas pada saya dan mood saya semakin membaik. Kita ngobrol sebentar sampai akhirnya Tina datang membawakan saya mini lipstik dari MAC. Semakin banyak hadiah, semakin bagus mood saya dan selera makan saya mulai membaik.

Kami mengobrol seru sambil makan. Bahkan saking semangatnya ngobrol, saya batuk berkepanjangan sampai muka merah dan sulit berhenti. Haduwh, hampir mati rasanya. Setelah minum air hangat, baru enakan. Sekitar pukul 9 malam, saya kembali lagi ke bandara. Sejam kemudian tiba di KLIA2. Sebelum ke imigrasi, saya ke konter tax refund dulu untuk meminta struk pengembalian pajak hasil belanjaan saya di Mitsui. Setelah itu baru proses ke imigrasi, lalu ke konter tax refund yang ada di seputaran gate untuk menguangkan struk yang tadi. Selesai semua urusan administrasi, barulah duduk manis menunggu keberangkatan pesawat ke Jakarta. Rasanya pengen cepat-cepat sampai rumah deh.

Alhamdulillah pesawat nggak delay. Sesampai di Jakarta, saya pesan Uber (waktu itu masih ada) ke Depok dan sampai ke rumah sesaat sebelum shalat Shubuh. Saya mandi dulu, shalat Shubuh, baru tidur sampai waktu Zuhur. Bangun, makan siang, tidur lagi sampai Ashar. Bangun, makan lagi, tidur lagi sampai magrib. Mandi, makan, tidur lagi. Rasanya nggak puas-puas tidur.

Besoknya saya pergi ke dokter paru. Dari kondisi fisik udah lumayan sehat karena saya banyak makan dan tidur tapi sesak napas masih ada. Alhamdulillah obat dari dokter membuat saya langsung sembuh dalam 2 hari dan kembali dapat beraktifitas seperti biasa.

Setelah ini saya akan menuliskan kesimpulan selama perjalanan ke India. Stay tuned!

Mei 08, 2018

One Day in Jaipur

Karena badan udah nggak enak, saya kebangun tengah malam dan merasa sudah waktunya shalat Shubuh. Selesai shalat, baru sadar kalau masih tengah malam. Kenapa nggak lihat jam dulu ya😓? Saya tidur lagi, baru bangun pas Shubuh dan shalat. Setelah itu tidur lagi. Sekitar jam 8 pagi, saya bangun, berberes sejenak, baru kemudian berendam di bathub. Rasanya nyaman, tapi kepala masih pusing dan terus batuk berdahak. Seharusnya kalau dahak sudah menguning seperti ini harus ada antibiotik dan saya nggak bawa sama sekali.

Selesai mandi, saya naik ke rooftop untuk sarapan. Abby dan Rezki sudah lebih dahulu berada disana. Makanannya banyak, tapi saya nggak mood, dan kebanyakan adalah makanan yang ada 'masala'-nya. Jadi tambah nggak mau deh. Cuma sarapan sekedarnya saja. Di hotel Umaid Bhawan ini, baru terlihat para orang India yang kaya dan cantik. Kebanyakan bajunya udah lebih casual dan warna kulitnya putih. Ada juga yang memakai saree tapi terlihat sangat cantik. Pasti perawatannya super mahal jadi nggak dekil😅.

Selesai makan, kami balik ke kamar masing-masing dan mengabarkan resepsionis untuk late check out. Mau tidur lagi dan kalau bisa sih shalat Zuhur-Ashar di hotel aja. Saya kerja sejenak, kemudian tidur lagi sampai jam 12 siang. Saya mengunci koper, shalat, baru kami check out. Berhubung pesawat dari Jaipur ke Kuala Lumpur masih lama banget yaitu pukul 23:15, jadinya masih ada waktu kalau mau berkeliling kota Jaipur. Kami menitip koper, lalu menyetop tuk-tuk untuk berkeliling kota.

Ada beberapa destinasi yang bisa di kunjungi selama berada di kota Jaipur. Saya akan jabarkan satu-persatu. Nggak semua destinasi ini saya kunjungi karena saya udah sakit jadi nggak kuat banyak jalan (orang asma kalau sakit malah nggak bisa terlalu banyak gerak), tapi teman saya yang lain mengunjunginya. Mari disimak:

1. Jalmahal Palace
Jal Mahal berjarak 4 km di utara Jaipur dan terletak di jalan utama Amer-Jaipur. Sebutan lainnya adalah Istana Air karena posisinya mengapung di tengah sungai Man Sagar. Istana yang satu ini sempat diperluas pada abad ke 18 oleh Maharaja Jai Singh II.
Jalmahal
Pemandangan megah dan cantik ini menjadikan istana Jal Mahal adalah yang paling banyak difoto (photo friendly). Sayangnya kita tidak bisa puas bereksplorasi istana karena tempat ini akan diubah menjadi restoran yang sangat eksklusif. Katanya dulu ada perahu seperti di Dal Lake yang bisa dikendarai sehingga kalau berfoto semakin indah pemandangannya. Sayangnya udah nggak ada lagi.

Saya tidak mengunjungi Jalmahal dan foto ini dari kamera Kris.

2. Amer Fort
Kalau sudah ke Jalmahal, kalian pasti akan ke Amer Fort karena letaknya sangat berdekatan. Seperti yang kita ketahui kalau Fort berarti benteng. Benteng megah ini terdiri dari kompleks istana yang luas, dibangun dari batu pasir kuning pucat dan merah muda, marmer putih, kemudian dibagi menjadi empat bagian utama, masing-masing dengan halamannya sendiri. Katanya sih, para wisatawan bisa naik gajah di benteng ini. Tetapi pecinta hewan telah mengkritik pemeliharaan gajah di Amber karena dianggap eksploitasi terhadap hewan. Banyak gajah punggungnya jadi luka karena membawa penumpang.
Pintu masuk Amber Fort
Dari atas benteng
Benteng ini cukup cantik untuk berfoto karena warna struktur dindingnya. Hanya saja, Jaipur terlalu panas dan saya nggak kuat banget kalau mau jalan kaki menjelajahi seluruh tempat di Jaipur karena lagi sakit.  Sebagai alternatif, kita dapat naik tuk-tuk ke atas biar nggak capek. Jangan lupa menawar harga tuk-tuknya ya.
Dari bawah benteng
Saya tidak mengunjungi Amer Fort dan foto ini dari kamera Kris.

3. Albert Hall Museum
Salah satu museum paling tua di Jaipur, Albert Hall Museum juga berfungsi sebagai museum utama di distrik Rajasthan. Bangunan ini merupakan contoh arsitektur Indo-Saracenic dan dirancang oleh Sir Samuel Swinton Jacob, dibantu oleh Mir Tujumool Hoosein. Museum dibuka untuk publik pada tahun 1887.
Museum paling cantik😍
Raja Ram Singh awalnya ingin bangunan ini menjadi balai kota, tetapi penggantinya Madho Singh II, memutuskan bahwa itu harus menjadi museum untuk seni Jaipur dan dimasukkan sebagai bagian dari Ram Nivas Garden. Museum ini memiliki koleksi artefak yang kaya termasuk lukisan, karpet, gading, batu, pahatan logam, dan bekerja dalam kristal.

Saya tidak mengunjungi Albert Hall Museum dan foto ini dari kamera Kris. Fotonya cantik banget karena pas sewaktu burung-burung sedang terbang. Saya tidak mengunjungi Albert Hall Museum dan foto ini dari kamera Kris.

4. Hawa Mahal
Nama lainnya adalah Istana Angin dan dibangun pada tahun 1779 dengan bahan dasar struktur bangunan adalah batu pasir merah dan pink sehingga terlihat warna bangunannya sangat cantik. Awalnya saya mengira istana yang satu ini dicat pink, ternyata memang struktur bebatuan bangunannya sendiri berwarna pink.
Dari depan Hawa Mahal
Kali ini saya memang masuk ke dalam Hawa Mahal, sehingga lumayan bisa bercerita ada apa di dalamnya. Kalian harus membayar 100 rupee untuk tiket masuk, lalu kita bisa berkeliling di dalam istana dan berfoto. Kebanyakan sih pintu dan jendelanya kecil-kecil, seperti istana liliput. Berhubung saya udah sesak napas, jadi nggak sanggup bereksplorasi seluruh sudut istana. Kalau teman-teman saya berfoto, saya hanya jadi fotografer saja. Mana cuaca super duper terik yang membuat kondisi saya tambah kacau.
Dari dalam Hawa Mahal
Pintu dan jendela kecil
Kalau kalian mau mendapat foto oke, lebih baik kalian ke Cafe yang ada di seberang Hawa Mahal banget. Saya dan teman-teman sempat makan siang di Wind View Cafe sekalian ngadem di ruang berAC. Awalnya saya meminta akses WIFI lebih dahulu tapi pelayan Cafe bilang harus pesan dulu baru dikasi password WIFI. Lho, udah jelas-jelas kita duduk disitu dan meminta menu, tapi mereka masih nggak percaya kalau kita bakalan pesan makanan.

5. Pink City
Sebutan kota merah muda ini tercetus karena pertokoan di sekitar Hawa Mahal semuanya berwarna pink. Tembok-tembok bangunan sengaja di cat berwarna pink pada tahun 1876 untuk menyambut kedatangan Raja Albert, suaminya Ratu Victoria. Sebenarnya Pink City ini adalah objek wisata yang paling banyak difoto oleh fotografer, tapi menurut saya warna pinknya sudah tidak secerah yang ada di Instagram kebanyakan. Malah beberapa bangunan cenderung sangat tidak terawat dan dekil.
Hawa Mahal dari bawah
Per-gelang-an
Pink City ini adalah tempat paling enak untuk belanja. Segala macam saree, aksesoris, kain,  bahkan alat rumah tangga semuanya ada disini. Balik lagi karena saya sedang sakit, saya jadi nggak mood belanja. Cuma ngikutin teman-teman aja masuk dari satu toko ke toko lainnya. Kebetulan ketemu Kris, Mba Carla dan Mba Septa yang lagi belanja. Kata Mba Septa, saree disini lebih murah daripada di Delhi sampai-sampai dia buka jastip (jasa titip beli barang) dan beli koper lagi😝.

Saya sempat mampir di sebuah Cafe di Pink City untuk ngemil, kemudian karena sudah sore kami memutuskan untuk balik ke hotel. Saya jadi sakit kepala melihat lalu lintas yang super duper crowded di area Pink City, asap kendaraan bermotor yang memperparah sesak napas saya sampai-sampai saya melilit jilbab jadi masker, dan cuaca sangat terik. Rasanya ingin cepat-cepat kembali ke Indonesia kalau sudah begini. Saya naik tuk-tuk ke hotel dan terasa banget lalu lintas yang super padat. Ditambah lagi suara klakson tiiinnnnnnnnnn panjang sehingga kepala tambah sakit😩.

Permasalahan lainnya adalah tuk-tuk kami nyasar. Ntah udah sejam di tuk-tuk berkeliling-keliling, nggak ketemu juga jalan ke hotel. Mana kami semua nggak ada paket data, supir tuk-tuk pun udah nanya sana-sini tetap nggak ketemu alamatnya. Akhirnya kami bertanya pada seorang cowok yang terlihat rapi dan bisa bahasa inggris dimana hotel kami. Dia langsung mengarahkan supir tuk-tuk dengan bahasa India dan bilang juga pada kami dengan bahasa Inggris. Alhamdulillah sampai juga ke hotel setelah lebih dari satu jam mutar-mutar kota Jaipur karena nyasar.

Semua tempat wisata diatas bisa kalian jalani dalam satu hari asal kuat dengan polusi, cuaca terik, lalu lintas padat dan sembraut. Banyak bangunan bersejarah yang photographer friendly di Jaipur dan menjadi surga untuk orang yang hobi memotret. Insya Allah kota ini lumayan aman karena Mba Septa aja jalan sendirian ke pertokoan untuk belanja saree. Tips-nya jangan membuat eye contact aja dengan orang lokal kalau berjalan sendiri dan jangan terlalu mencolok pakaiannya ya. Berpakaianlah yang sopan dan biasa saja.

Baiklah, nanti saya cerita lagi tentang kembali ke Indonesia. Beberapa foto dari Kamera Fujifilm Kristanto Nugroho (Instagram: kriz_nugroho) dan Iphone 8 plus milik saya.

Mei 06, 2018

From Agra to Jaipur

Sekitar pukul 9.30 pagi, kami menyudahi eksplorasi Taj Mahal yang begitu berkesan. Mengingat masih belum check out hostel dan kita masih harus naik bus menuju Jaipur jam 3 siang nanti. Dengan agak ribet menggunakan saree, saya berjalan tergesa-gesa menuju pintu masuk/keluar Taj Mahal seraya diserbu anak-anak penjual souvenir. Saya beli juga sih karena murah, tapi dikejar-kejar itu nggak enak banget.

Kami kembali ke hostel, membuka saree, memasukkannya ke dalam koper (yang harus didudukin oleh Abby lagi supaya bisa nutup), dan check out dengan menurunkan koper menggunakan tangga. Saya udah sesak napas plus suara hilang, jadi nggak sanggup lagi untuk angkat koper. Untungnya banyak teman yang baik dan bisa dimintain tolong. Harga permalam hostel untuk private room cuma Rp. 180rb dibagi 2 jadi Rp. 90rb. Murahnyaaa😶. Setelah check out, cowok-cowok menaikkan koper ke atap mobil, lalu mobil pun meluncur. Pak supir sempat membawa kami ke toko souvenir yang harganya lumayan mahal dan penjualnya agak nyebelin, dan berakhir saya hanya beli magnet kulkas.

Kami kemudian dibawa ke Agra Fort yang berlokasi sekitar 2,5 km dari Taj Mahal dan merupakan Situs Warisan Dunia UNESCO. Kalau punya tiket Taj Mahal, masuk Agra Fort bisa diskon. Tempat ini adalah sebuah benteng paling penting di India. Sultan Mughal terkenal seperti Babur, Humayun, Akbar, Jehangir, Shah Jahan dan Aurangzeb pernah tinggal di sini, dan memerintah negara dari sini. Pada masa itu, di dalam benteng ini disimpan kekayaan negara.
Agra Fort
Rame banget orang
Pose dulu
Karena udah nggak enak badan, cuaca super panas, lapar, ditambah harga tiket 550 rupee, dan waktu yang agak mepet, kami mengurungkan niat untuk masuk ke dalam benteng. Hanya berfoto saja di depannya, lalu melanjutkan perjalanan ke tempat makan. Kami dibawa ke sebuah resto lokal oleh Pak Supir dan dia promosi katanya makanan disini enak. Saya dan teman-teman melihat menu. Supaya pasti-pasti aja, kami memesan mie goreng dan Chicken Tikka. Kalian tau, makanan baru dihidangkan sejam kemudian. Sampai-sampai kami tertidur di meja (karena bangun kepagian) saking ngantuknya. Makan cuma 10 menit, rasa makanan biasa aja, dan membuat kami nggak kenyang. Alhasil, kami mampir ke Pizza Hut lagi untuk mengisi perut. Untung aja rasa pizza hut rasanya sama dimana-mana, jadi bisa makan dengan lahap.

Setelah kenyang, kami diantarkan ke terminal bus. Kami melihat bus yang bagus kelas eksekutif yang masih terparkir menunggu penumpang. Sayangnya, ekspektasi kami terlalu besar. Ternyata kami salah terminal dan harus berjalan kaki ke terminal yang berjarak 50 meter dari tempat bus eksekutif. Pemandangan tidak mengenakkan mulai terlihat. Nggak ada bus eksekutif, semuanya adalah KOPAJA. Saya merelakan koper dimasukkan ke ruang bagasi dibawah kursi yang kotor dan menghitam, dengan cara dibanting pulak😖😖😖. Saya naik ke bus, memakai kacamata hitam, menyesal nggak bawa masker, dan berdoa semoga diperjalanan sesak napas saya nggak bertambah parah. Saya duduk dekat jendela supaya bisa kena angin jadi nggak mual.
Suasana dalam bus
Pilihan duduk di dekat jendela nggak terlalu menolong. Debu kena ke muka sepanjang perjalanan sehingga saya harus menutup muka dengan jilbab. Belum suasana panas di bus, supir ugal-ugalan yang selalu muter balik di jalan satu arah, pedagang asongan yang naik ke bus silih berganti, dan drama kalau ada sapi lewat, supir akan menunggu sampai sapi ke pinggir tanpa diusir atau di klakson (pengen rasanya saya usir hush-hush si sapinya). Kadang malah sampai matikan mesin karena sapi nggak gerak di tengah jalan. Naik bus (kopaja) yang satu ini, kesabaran saya super duper diuji. Kadang saya melihat WC umum yang terlihat semua isinya dan orang lagi ngapain 😵 (tidak bisa diceritakan lebih lanjut karena saya bisa muntah). Belum lagi melihat sapi dan babi dimana-mana. Mana sapi di India gendut-gendut lho, cocok untuk kita Qurban di Idul Adha.😹

Sebenarnya saya udah nggak tahan lagi di dalam bus karena sesak napas. Perjalanan 5 jam terasa sangat lama. Saya batuk berdahak yang harus ditelan, kepala pusing banget, mata udah merah, dada sakit, untungnya nggak demam. Berdoa terus kepada Allah SWT agar jalan terasa singkat dan saya baik-baik saja. Tangan saya udah hitam dekil karena memegang bangku bus, ransel udah kotor, badan juga udah bau. Mungkin ada baiknya saya berzikir agar meringankan sakit kepala dan batuk.

Pukul 8 malam, alhamdulillah kami sampai di kota Jaipur. Saya turun dari bus (kopaja) dengan sempoyongan. Kami menyetop tuk-tuk untuk ke hotel. Saya berpisah dengan Mba Any, Mba Septa, Mba Carla, dan Kris sementara karena kita book penginapan yang berbeda. Sewaktu naik tuk-tuk, supirnya menawarkan hotel pada kita karena katanya hotel Umaid Bhawan tempat kita menginap itu kemahalan. Dia merekomendasikan hotel yang lebih murah. Mungkin saking kucel, butek, dan dekilnya, kami disangka nggak punya duit untuk membayar hotel Umaid Bhawan.

Sesampai di hotel, kami diantar ke kamar. Ekspektasi saya sudah sangat besar karena sengaja memesan hotel berbintang suite class pulak agar bisa istirahat. Alhamdulillah saya dan Mba Itha kamarnya sudah memuaskan, tapi kamar Abby dan Rezki kayaknya terlalu biasa untuk sekelas Suite. Saya menemani Abby komplen ke resepsionis. Awalnya resepsionis dengan santainya menjawab kalau nggak mau disitu, udah nggak ada kamar suite lainnya. Saya marah dan bilang kalau saya mau suite class yang luas seperti kamar saya no matter what. Akhirnya resepsionis memanggil manager dan bilang kalau ini herritage hotel jadi semua kamar itu berbeda. Iya beda, tapi bukan lebih kecil juga. Saya dan Abby ngomel-ngomel sampai kami minta diperlihatkan kamar deluxe yang notabene sama kecilnya dengan Suite Class punya Abby. Manajer hotel sampai memperlihatkan nomor kamar mana saja yang Suite Class termasuk punya Abby.

Karena kita komplen di depan resepisonis dimana tamu terus berdatangan, tiba-tiba di lantai dua langsung ada kamar Suite tersedia. Heran deh, mereka kayaknya nggak mau terlihat buruk di depan para bule' jadi menyudahi perdebatan dan mengeluarkan kamar Suite yang lain. Tadi bilang nggak ada, sekarang tiba-tiba ada, kan kesel ya😤😤😤. Udah kita lagi capek banget baru naik kopaja, sampai di hotel ada masalah begitu lagi, sudah cukup menguji kesabaran.

Urusan kamar selesai. Saya dan teman-teman mau makan dulu di rooftop restoran karena udah lapar banget. Ntah kenapa, semua pelayan hotel, manajer, dan resepsionis mendadak jadi super duper baik. Sampai-sampai ketika kami makan, mereka memastikan kalau makanan enak, semua kebutuhan kami terpenuhi, dan kami merasa nyaman. Bahkan ada khusus satu pelayan yang melayani makan malam kami. Semua barang kami juga dipindahkan ke kamar baru tanpa perlu di cek lagi. Rasanya emosi tadi hilang begitu saja.
Makan di rooftop dengan kondisi dekil
Setelah makan, saya masuk kamar dan menghapus makeup sebelum mandi. Saya syok melihat kapas yang baru saya oles di wajah hitamnya minta ampun. Sampai-sampai bagian olesan makeup remover lebih putih dari kulit wajah saya seluruhnya. Gila nggak? Selesai menghapus makeup, saya mengelap koper dan ransel dengan tisu basah agar sedikit lebih higienis. Bahkan saya nggak mau memegang baju dan jeans yang dipakai tadi naik bus (kopaja) karena saya merasa jijik. Kemudian saya mandi lamaaaa banget karena keramas dan menggosok badan sampai bersih. Sayajuga berusaha memuntahkan semua dahak yang membuat dada saya sakit. Saya jadi batuk panjang dan sakit tenggorokan gara-gara memaksa dahak untuk keluar.

Selesai mandi, saya berganti baju tidur dan masuk selimut. Enak banget deh tidurnya. Kamar gede, AC dingin, WIFI kenceng, kamarnya harum juga. Memang harga nggak pernah bohong ya. Baiklah, nanti saya cerita lagi tentang kota Jaipur. Sampai jumpa!

Beberapa foto dari Kamera Fujifilm Kristanto Nugroho (Instagram: kriz_nugroho) dan Iphone 8 plus milik saya.

Mei 05, 2018

The Beauty of Taj Mahal

Karena ngobrol sampai tengah malam semalem, jadilah saya bangun agak telat. Buru-buru mandi (nggak ada air panas lagi), dandan, dan kebingungan 'gimana cara memakai saree. Semua peserta trip yang cewek sudah merencanakan akan berfoto di Taj Mahal menggunakan saree berwarna-warni dan kita emang udah niat untuk beli saree berbeda warna. Saya kebagian warna pink dan sengaja beli yang banyak payetnya supaya lebih indah.

Mba Septa masuk ke kamar saya untuk minta dipakein aksesoris sama Mba Itha. Duh, kayaknya cuma saya doang yang nggak beli aksesoris karena saya pulang duluan dari Palika Market. Cowok-cowok udah terus memanggil kita supaya buru-buru karena takut sunrise-nya terlewat. Alhasil, saya cuma pakai baju biasa dan membawa saree di dalam ransel. Mobil yang kami carter kemarin sudah siap sedia di depan hostel. Kami naik, lalu mobil langsung meluncur menuju Taj Mahal. Saya sangat antusias untuk melihat salah satu dari 7 Keajaiban Dunia yang satu ini. Perjalanan dari Hostel ke Taj Mahal hanya memakan waktu sekitar 15 menit. Kami turun dari mobil dan berjalan tergesa-gesa supaya keburu mengejar sunrise. Teman-teman cowok pergi membeli tiket masuk seharga 1000 rupee, sedang cewek-cewek mengantri terlebih dahulu.

Selama mengantri, saya dipakaikan saree oleh Mba Any. Saya pasrah aja ntah benar cara pakein-nya ntah salah. Setelah menunjukkan tiket masuk, barang-barang kami masih discreening, lalu kami melewati metal detector. Ransel saya dicek isinya semua, lalu barang yang berplastik dibuang. Ya udahlah, cuma plastik pembungkus saree. Lumayan ketat pemeriksaan masuk ke tempat ini. Saya berjalan dengan buru-buru menuju pintu masuk Taj Mahal. Bahkan sampai mengabaikan bangunan yang berada di sisi kiri dan kanan di depan pintu masuk. Ketika mendekati pintu, saya sungguh terpesona dengan keindahannya. Masya Allah~~~😍😍😍
Taj Mahal
Taj Mahal terletak di tepi kanan Sungai Yamuna di sebuah taman Mughal yang luasnya mencakup hampir 17 hektar di Agra. Dibangun oleh Sultan Mughal Shah Jahan untuk mengenang istrinya Mumtaz Mahal dengan konstruksi dimulai pada 1632 AD dan selesai pada 1648 AD. Komplek Taj Mahal terdiri dari masjid, penginapan, dan gerbang utama di selatan. Halaman indah di depan Taj Mahal dan serambi ditambahkan kemudian dan selesai pada 1653 AD. Keberadaan beberapa prasasti sejarah dan Quran dalam tulisan Arab telah memfasilitasi setiap detail bangunan bersejarah ini. Untuk pengerjaan konstruksinya, tukang batu, pemahat, pelukis, penulis kaligrafi, pembuat kubah dan perajin lainnya didatangkan dari seluruh kekaisaran dan juga dari Asia Tengah dan Iran. Ustadz Ahmad Lahori adalah arsitek utama Taj Mahal.

Taj Mahal dianggap sebagai pencapaian arsitektur terbesar dan terindah di seluruh jajaran arsitektur Indo-Islam. Keindahan arsitektoniknya yang terkenal memiliki kombinasi ritmik dari padatan dan rongga, cekung-cembung dan bayangan cahaya; seperti lengkungan dan kubah meningkatkan aspek estetika. Belum lagi pahatan diatas marmer yang dicampur dengan batu mulia atau semi batu mulia membuat perubahan warna pada dinding-dindingnya berpengaruh apabila disinari cahaya matahari.
Matahari terbit di Taj Mahal
Sepertinya mata saya tidak bisa berkedip ketika melihat Taj Mahal. Sangat indah sekali apalagi ketika matahari terbit. Saya langsung merapikan saree agar bisa berfoto dengan pas di depan Taj Mahal. Ada seorang petugas berseragam inspektur Vijay 😝melihat saya dan menyuruh orang lokal memperbaiki saree yang saya pakai. Cewek India berpakaian saree berwarna merah mendekati saya, membenarkan saree mulai dari lilitannya sampai selendang sehingga saya jadi kelihatan cantik dibuatnya. Kalau tadi rok saree terasa kendor, setelah diperbaiki jadi ketat banget dan bisa saya jadi pede untuk jalan kesana kemari tanpa takut roknya merosot. Bukan cuma saya saja, hampir semua temen-temen saya sareenya dibenerin sama orang lokal.
Sebelum saree kita dibenerin orang lokal
Setelah pembenaran😎
Saya dan Mba Itha berjalan menyusuri taman di depan Taj Mahal. Sebenarnya saya sudah sering membaca kisah dibalik pembangunan Taj Mahal yang super megah ini. Ditambah beberapa orang guide yang saya curi-curi dengar sedang mengisahkan cerita tentang tempat ini. Saya akan sedikit bercerita. Sultan Shah Jahan bertemu Mumtaz Mahal di pasar kompleks kerajaannya. Cinta pada pandangan pertama itu membuat Mumtaz dengan cepat menjadi istri ketiganya. Mumtaz adalah istri yang selalu dibawa Shah Jahan ke seluruh India sebagai pendamping utamanya dan penasihat tercinta. Setelah melahirkan anak ke 14 (banyak bener udah bisa bikin kesebelasan plus pemain cadangan), Mumtaz meninggal dan membuat hati Shah Jahan sangat hancur dan berduka selama 2 tahun. Setelah sadar nggak boleh bersedih terus-menerus, Shah Jahan kemudian memutuskan untuk membangun sebuah tempat peringatan dan peristirahatan abadi untuk Mumtaz. Beliau mengambil mempelajari Alquran mengenai rincian tentang surga sebagai inspirasi membangun Taj Mahal.
Taman di depan Taj Mahal
Pembangunan Taj Mahal sangat detail dan dramatis. Bahkan untuk memastikan tidak ada struktur bangunan lain yang menandingi keindahan Taj Mahal, Shah Jahan membuat kesepakatan dengan para seniman dan arsitektur bangunan bahwa Taj Mahal adalah mahakarya terbaik mereka sepanjang hidup. Shah Jahan memberikan imbalan yang sangat mahal yang dapat menjamin kehidupan para arsitek dan seniman tidak akan miskin sampai meninggal. Alhasil, para seniman dan arsitek berusaha semaksimal mungkin memikirkan mahakarya dengan detail keindahan dan struktur bangunan yang membuat mereka tidak akan menciptakan lagi seni atau desain dalam hidup mereka.
Warna-warni bersama orang lokal
Kalian harus memakai pelapis alas kaki untuk masuk ke dalam Taj Mahal. Seharusnya ketika beli tiket udah dikasih sarung alas kaki tapi saya lupa minta ke Kris. Jadilah beli lagi di depan gedung seharga 20 rupee. Saya kemudian masuk ke dalam Taj Mahal dimana ada kuburan Mumtaz dan Sultan Shah Jahan di sebelahnya. Dulu, kuburan Shah Jahan tidak berada disitu, tapi kemudian dipindahkan. Kita dilarang memotret di area kuburan. Saya hanya mengucapkan, "Assalamu'alaikum ya ahlal kubur," melihatnya, mengagumi kemegahan arsitektur, lalu keluar dari gedung. Saya juga melihat detail ukiran kaligrafi Arab diatas marmer yang dicampurkan dari logam mulia atau logam semi mulia. Kaligrafi tulisan Al-Qur'an sangat indah terukir disini. Subhanallah~~
Berfoto diatas lantai marmer
Saya berfoto di belakang gedung utama, di tepi sungai Yamuna, sambil mengagumi keindahannya. Setelah puas berfoto, baru deh saya mencari teman-teman cewek untuk berfoto menggunakan saree berwarna-warni dan ternyata mereka berada di pintu mesjid. Enak banget berfoto disini karena sepi dan foto Taj Mahal bisa diambil dari setiap sisi. Kita bisa bergaya berbagai macam dengan latar belakang langsung ke Taj Mahal. Bahkan ada beberapa orang yang ikut mengambil foto kita karen mungkin saree kita yang berwarna-warni memendarkan cahaya ke pintu masjid. Yang agak rese' adalah orang yang bersih-bersih mesjid yang mengaku imam. Masa' sampai minta duit? Mana mungkin imam minta duit😓. Setelah puas berfoto, barulah kami pulang.
The colors of Taj Mahal
Bergaya
Tukang sapu mesjid
Menurut saya, kota Agra atau negara India dan Taj Mahal adalah dua dunia yang berbeda. Kalian bisa kagum sekagum-kagumnya dengan Taj Mahal karena kemegahannya yang merefleksikan kekayaan Sultan Mughal pada saat itu. Kalau kalian membandingkan dengan kota Agra sendiri dari mulai turun kereta sampai ke pintu masuk Taj Mahal dibagian depan yang banyak banget orang-orang lusuh bersliweran. Ada yang menjajakan souvenir secara paksa, ada pula yang menawarkan tuk-tuk. Lingkungan di luar juga kotor, sembraut, klakson dimana-mana, membuat polusi udara dan polusi suara. Sepertinya di Agra saya bertambah sakit.

Seandainya saya disuruh kembali lagi ke India, saya pasti akan mengunjungi Taj Mahal. Mungkin saya akan mendarat di New Delhi, sewa mobil ke Taj Mahal, balik lagi ke Delhi dan menyewa hotel semalam di Delhi, lalu balik ke Indonesia.

Setelah ini saya akan bercerita tentang naik Kopaja ke Jaipur. Stay tuned!

Beberapa foto dari Iphone 8 plus milik saya dan Kamera Fujifilm Kristanto Nugroho (Instagram: kriz_nugroho)

Mei 01, 2018

Sleeper Train to Agra

Jam 2 siang, kami sudah bersiap di Backpacker Panda Hostel untuk menunggu jemputan. Petugas Hostel memesan 2 taksi online untuk mengantarkan kami ke stasiun kereta. Mobil kecil yang datang ternyata tidak bisa menampung semua koper sampai harus ada yang ditaruh di atas mobil. Bahkan koper saya sendiri harus dipangku. Seperti biasa, saya menyalakan Gmaps dan Waze supaya bisa melihat arah dan nggak dibawa kemana-mana. Alhamdulillah perjalanan ke stasiun hanya 20 menit dan kami sampai dengan selamat. Udah 3 kali naik taksi di New Delhi, alhamdulillah aman-aman saja. Saya jadi merasa berdosa su'udzan terus ke orang lokal. Seharusnya kalau taksi online sama aja seperti di Indonesia, semuanya bisa di track dari kantor pusat, dan mereka pasti nggak bisa macam-macam kepada penumpang.
Stasiun kereta
Saya dan teman-teman menunggu satu mobil taksi online lainnya. Setelah semua tim komplit, barulah kami masuk ke stasiun. Mulailah terlihat suasana yang kurang menyenangkan. Orang berlalu-lalang, bersliweran dengan membawa barang masing-masing. Ada yang memanggul di kepala, ada yang menjinjing barang, sambil membawa anak yang banyak, dengan pakaian saree yang nggak se-simple itu (bayangkan udah suasana ruwet, masih pakai saree dengan bahan 7 meter, apa nggak gerah ya?). Ada yang duduk di jalan sambil makan, ada yang lari sana-sini, dan kepala saya pusing😵😵😵. Terlalu ramai orang, terlalu banyak gerakan, terlalu berisik, dan saya sedang menguatkan diri mengikuti teman-teman mencari sleeper train yang tertera pada tiket.
Sleeper Train
Kereta kami akhirnya ketemu, persis seperti kereta ekonomi jaman dahulu tanpa AC dan agak tua. Saya terdiam, berusaha santai, dan mulai masuk ke gerbong kereta tempat saya duduk. Ada dua tingkat kursinya karena memang namanya sleeper train, jadi untuk tiduran. Pertanyaannya, siapa yang mau tiduran di kereta seperti ini😞? Saya dan teman-teman mulai duduk di kursi bawah berhadap-hadapan. Orang lokal satu demi satu mulai naik dan saya jadi parno sendiri. Saya nggak mau ada orang lain yang duduk di sebelah saya. Beberapa saat kemudian saya melihat ada bapak dan ibu tiba-tiba langsung duduk di kursi saya dan dihadapan saya juga. Ternyata dia sudah beli tiket dan nomor kursinya juga disitu. Seharusnya dua orang diantara kami harus duduk di kursi atas, tapi kita nggak ada yang mau. Jadilah ada orang lain yang menduduki kursi atas. Ntah bayar tiket, ntah enggak. Bahkan sampai dua orang duduk di atas. Saya jadi takut kursi atas ambruk menimpa saya😰. Di sisi lain, Kris dan Mba Septa nyobain duduk di kursi atas supaya lebih privasi dan mau mencari sensasi baru😲.
Kris dan Mba Septa
Kereta pun berjalan. Saya masih berusaha tenang, walaupun tenggorokan sudah gatel banget dan suara agak serak. Serasa mau batuk tapi saya tetap menahan. Saya pakai lapisan kerudung untuk menutupi hidung (menyesal nggak bawa masker). Ketika berhenti di stasiun berikutnya, banyak banget orang naik dan rebutan duduk di kursi. Saya, Mba Itha, dan Rezki menutup jalan ke kursi kami dengan menaruh kaki. Jadi nggak ada satupun dari orang yang naik bisa duduk di deretan kami. Kadang mereka malah naik ke kursi atas dan sebagian kakinya diturunkan ke tangga atau ke depan saya. Aduh, saya jadi kena bau kaki. Untung aja kerudung saya di cuci pakai pewangi yang tiap jam wanginya semakin memudar (kalah dengan bau di kereta).
Tempat taruh kaki😝
Bapak dan Ibu India di deretan kami mengeluarkan makanan dan mereka makan dengan lahap. Bau makanannya bercampur dengan bau suasana di kereta membuat saya pusing😵. Setelah selesai makan, si Bapak minta jalan untuk naik ke kursi atas. Mungkin dia mau selonjoran. Nah, si Ibu menyuruh Abby pindah ke sebelah saya (yang kosong tempat si Bapak), karena dia juga mau selonjoran. Yah berhubung kita orang luar, nurut aja deh. Yang membuat saya kaget adalah, si Ibu tiduran dengan menopang kepala selama berjam-jam tanpa pegel. OMG, kok dia kuat😱? Saya aja berusaha untuk nggak tidur, jadinya main hp (karena ada colokan di kereta jadi nggak takut habis batre) sambil menghabiskan paket data yang hari ini terakhir. Saya juga sekalian membooking hotel Umaid Bhawan, salah satu herritage Hotel di Jaipur. Sengaja memilih hotel enak supaya bisa tidur nyenyak untuk beristirahat karena saya sepertinya sudah mulai sakit.
Tidur sambil menopang kepala berjam-jam😯😮
Di tengah suasana kurang mengenakkan, saya jadi bisa melihat kehidupan orang-orang India setiap kereta berhenti di sebuah stasiun. Kadang mereka berlari mengejar kereta melangkahi rel demi rel tanpa takut kalau kereta lain bakalan melintas. Seolah pertaruhan nyawa disini terlalu sepele. Saya juga melihat seorang wanita sedang memompa air, lalu memasukkan ke dalam gentong. Setelah kereta berhenti dan penumpang turun, datang segerombolan laki-laki menyuruh wanita itu minggir dan mereka menikmati air dari pompa dengan mencuci muka, bahkan sampai menampung di tangan dan meminumnya. Sungguh hidup begitu keras disini, tapi tetap matahari terbenam yang saya lihat dari jendela kereta sangat indah. Masya Allah~~

Hari sudah malam dan sudah 3 jam berlalu sejak dari stasiun pertama. Saya mengecek Gmaps dan ternyata kami sudah masuk Agra tapi nggak tau turun di stasiun mana. Untung Kris mengirim Whatsapp dan bilang kalau sebentar lagi kami harus siap-siap untuk turun. Stasiun kota Agra langsung terlihat sangat berbeda dengan stasiun lainnya yang ukurannya sungguh besar. Berbeda dengan beberapa stasiun yang baru kami lewati tadi yang mungkin hanya di kota kecil. Saya dan teman-teman turun dan berkumpul dengan yang lain (Kris, Mba Septa, Mba Carla, dan Mba Any) yang duduknya terpisah. Berbeda dengan kami, Kris dan yang lain merasakan keseruan perjalanan karena membaur dengan orang lokal. Sebelum Kris melanjutkan bercerita dengan detail, kami semua keluar dulu dari stasiun untuk mencari transportasi ke Bedweiser Backpackers Hostel. Kita jadinya sewa mobil perorang 200 rupee sampai besok ke Taj Mahal, keliling kota, dan diantar ke terminal bus. 

Sampai ke Hostel, kami menaruh barang terlebih dahulu. Untung ada cowok-cowok, jadi bisa dimintain tolong angkat koper (Hostel biasanya nggak ada lift) karena saya mulai agak sesak napas dan suara semakin serak. Jadi nggak kuat angkat yang berat-berat. Kali ini saya memilih kamar privat dan bukan bunkbed. Sebenarnya kalau shared room tapi teman-teman semua sih saya nggak masalah dan hostel di Agra masih lebih bagus dari yang di New Delhi. Yang saya agak heran kenapa AC nggak mau nyala? Saya bilang ke resepsionis dan katanya nanti dinyalain. Ya udah deh percaya aja.

Karena sudah kelaparan, saya dan teman-teman mencari makan dulu keluar. Kami mampir di sebuah Cafe yang cuma 50m dari Hostel dan banyak turisnya. Pelayan Cafe dengan Sok Kenal Sok Dekat (SKSD) menyambut kami dan mengantarkan kami ke kursi. Kami memesan mie goreng yang terlihat lezat 4 porsi untuk disantap bersama-sama. Kris mulai cerita kalau tadi dia dan teman-teman berbaur dengan orang lokal di kereta. Bahkan Mba Any, Mba Septa, dan Mba Carla diajarin cara pakai saree yang benar oleh seorang ibu-ibu. Ibu itu bilang kalau harga saree kita kemahalan, padahal kita aja udah merasa murah. Mba Any bahkan bisa minta tethering hotspot dengan salah seorang cowok India yang duduk di kursi atas. Mereka juga sempat-sempatnya selfie. Disitu saya jadi berkesimpulan, mungkin orang lokal yang nggak punya maksud mencari keuntungan ke turis (seperti calo tiket, supir tuk-tuk, dan yang kita udah temui selama di Delhi) sebenarnya pada baik hati. Mereka mungkin sama seperti kita yang nggak enak menyapa turis, tapi kalau kita disapa duluan pasti menjawab dengan ramah. Saya jadi merasa bersalah su'udzan terus, astaghfirullah...
Diajarin pakai saree
Bersaree
Selfie dengan orang lokal
Bersama orang lokal
Cowok diatas lagi santai kayak di pantai🌊
Makanan kami agak lama datangnya sampai-sampai kami pun protes. Setelah makanan datang, ntah cuma 5 menit kami menghabiskannya, lalu kami pulang. Sebelum pulang kami dibagikan air mineral perorang secara gratis oleh pelayan resto ntah kenapa. Ya kalau ada yang gratis, kami sih mau menerimanya dengan senang hati, hihihi. Kami kembali ke hostel dan AC belum nyala juga di seluruh kamar yang kita pesan. Saya protes lagi ke resepsionis dan saya bersikeras untuk meminta AC dinyalain. Resepsionis dengan santainya bilang kalau kata bosnya ACnya nggak bisa nyala. Saya ngomel-ngomel terus sampai akhirnya dia menghidupkan switch AC di seluruh kamar kita. Suara saya jadi tambah serak deh. Haduwh, kenapa begini sih? Selesai AC nyala, eh malah air panas yang nggak nyala. Karena udah keringetan parah, jadilah saya mandi air dingin sampai kedinginan. Selesai mandi, saya kerja sebentar, lalu mengobrol dengan Mba Itha sampai tengah malam. Baru deh tidur karena besok pagi kami harus bangun pagi untuk mengejar sunrise di Taj Mahal jam 6 pagi.

Setelah saya renungi sepulang dari India, mungkin mencoba transportasi lokal adalah hal wajib di India buat kalian yang memang berjiwa petualang. Sebenarnya saya nggak berjiwa petualang-petualang amat dan masih lebih memilih perjalanan tipe fancy dimana bisa makan enak dan tidur nyenyak. Tapi ketika menaiki kereta dalam perjalanan dari New Delhi ke Agra, saya jadi banyak berpikir. Di dunia ini saya masih punya kesempatan untuk melihat orang-orang yang tingkat ekonominya masih jauh dibawah Indonesia, sehingga kehidupannya lebih keras. Saran saya selagi naik kereta atau bus di India, berusahalah menikmatinya dan jauhkan pemikiran negatif seperti saya kemarin. Ketika sisi negatif dipikiran mulai menjauh, kalian jadi bisa menikmati keindahan India seperti matahari tenggelam, bahkan diantara suasana yang nggak nyaman😇.

Penasaran bagaimana indahnya Taj Mahal? Nanti saya tulis lagi ya. Sampai jumpa!

Follow me

My Trip