November 15, 2018

Connecting The Dot - Workshop ~ Part 2

Karena semalem nongkrong sampai larut, saya nggak ikutan sarapan di hotel. Adik saya Achmad sepertinya sudah turun duluan karena kasurnya 🛏️ sudah tak berpenghuni. Saya lihat jam di hp ternyata sudah pukul 7.30 pagi. Duh, rasanya masih ngantuk banget 😴 tapi harus bangun dan cuci muka. Saya lalu makan roti 🥐 hadiah tadi malam sambil menikmati pemandangan Bandung yang indah di pagi hari dari kamar hotel. Bandung memang selalu menenangkan🥰. Setelah itu sekitar jam 8 pagi saya mandi dan berkemas untuk turun ke lantai 2 tempat workshop diselenggarakan. Oh iya, hari ini kami wajib memakai kaos Connecting The Dot agar seragam.

Sewaktu saya turun, ruang seminar malah masih kosong. Karena kemarin banyak yang kesulitan melihat slide presentasi yang buram dan peserta duduk jauh dibelakang, jadinya di hari kedua semua peserta langsung saya pindahkan duduk di depan. Satu meja saya taruh 3 nama biar lebih efektif. Tadi malam juga layar proyektor sudah dipindahkan lebih ke depan supaya terlihat oleh semua orang. Biarlah para panitia saja yang duduk di belakang.
Semangat hari kedua💪
Coffee break sudah tersedia di depan ruang seminar dan saya ambil beberapa kue dan secangkir teh untuk dibawa ke dalam ruangan. Workshop dimulai tepat pukul 9 pagi dan Achmad mengisi materi presentasi pertama. Kali ini dia mengajarkan cara mendaftar produk di Manage Inventory Amazon dan para peserta dapat langsung mencoba di laptop masing-masing. Saya, Khanti, dan Satrio jalan berkeliling memantau para peserta apabila ada pertanyaan atau kesulitan dalam menambah produk. Beberapa peserta bertanya hal yang unik dan lucu seputar produk. Ada juga yang 'nyasar masuk ke Amazon Mexico 😅tapi nggak berani bertanya bagaimana pindah ke Amazon US karena takut ditertawakan😂, tapi akhirnya bertanya juga dengan wajah memelas🙁. Jujur aja saat itu saya tertawa juga😂.
Achmad mengisi materi
Setelah selesai sesi Achmad, peserta dipersilahkan untuk refill makanan ke piring yang sudah kosong😛, lalu masuk ke ruang seminar lagi. Kali ini sesi perkenalan dengan tim Rancupid dibantu oleh Mas Dzaky sebagai MC. Saya, Khanti, Achmad, dan Satrio duduk berjajar di depan untuk ditanyai satu demi satu oleh Mas Dzaky persis seperti sebuah acara talkshow. Obrolan dibuka oleh Khanti yang bercerita latar belakang bisnisnya sampai akhirnya bergabung dengan Rancupid. Setelah itu giliran saya, lalu Achmad, dan terakhir Satrio. Kita membuat acara obrolan kali ini lebih santai dengan memberikan berbagai pengalaman dari semula membuat Amazon ditahun 2015 sampai sekarang, jatuh bangun bisnis, banyak akun Amazon dan Paypal yang suspend, dan juga dari sisi mental dimana mendadak kaya dan juga mendadak miskin, hahahaha🤣🤣🤣. Begitulah pengusaha, siap kaya, siap miskin, asalkan bisa mengatur keuangan dengan baik, rajin bersedekah, dan berdoa, insya Allah bisnis kita akan dijaga oleh Yang Maha Pemberi Rezeki.
Talkshow
Bercerita pengalaman pribadi
Waktu makan siang tiba. Biasanya diwaktu-waktu seperti ini, saya dan tim Rancupid sering diserbu oleh para peserta dan ditanya berbagai macam pertanyaan seputar bisnis dan Amazon. Seru juga mendengar cerita mereka yang pernah menjalankan bisnis, tetapi capek juga menjawab pertanyaan yang super banyak. Kalau sudah begitu biasanya saya pasti makan belakangan dan sedikit saja, karena nanti pasti ada coffee break lagi. Agak susah juga menjawab pertanyaan peserta sambil makan, makanya saya menaruh makanan sekedarnya saja. Kalau lapar, nanti tambah lagi, daripada langsung banyak tapi terbuang sia-sia.

Setelah makan siang, sesi berikutnya adalah perkenalan peserta. Bukan cuma peserta yang ingin tau bagaimana Rancupid, sebaliknya kami juga ingin tau bagaimana peserta. 19 orang mulai menceritakan diri mereka masing-masing, bisnis sebelumnya apa, motivasi ikut workshop, dan lainnya. Banyak dari para peserta sudah sukses duluan dan ikut workshop karena mau membesarkan bisnis. Ada juga yang ingin mengekspor barang ke Amerika seperti proyek jangka panjang Rancupid dan Woimedia yang sudah direncanakan. Bahkan ada pengusaha properti yang malah ingin pindah bisnis ke Amazon.
Para peserta
Setelah perkenalan, sesi dilanjutkan oleh Khanti yang membahas tentang Confirm Orders di Amazon. Agak susah sebenarnya menceritakan bagaimana cara Confirm Orders karena akun Amazon para peserta masih baru dan belum ada orderan sama sekali. Tetapi Khanti cukup meyakinkan dalam presentasi, sehingga lumayan mencuri perhatian para peserta. Hanya saja, sesi ini jadi berlangsung begitu cepat karena peserta tidak bisa hands on ke laptop masing-masing.
Khanti presentasi
Setelah sesi Khanti, barulah saya yang presentasi. Dari kemarin belum presentasi dan hari ini kebagian 2 sesi berturut-turut. Semula saya deg-degan tapi sedikit, beda banget ketika jaman kerja di Metrodata dulu dimana saya selalu stres kalau mau presentasi. Mungkin karena dulu nggak begitu paham dengan materi, sehingga presentasi adalah hal yang paling menakutkan😱. Berbeda dengan materi sekarang yang sangat saya sukai dan insya Allah saya pahami juga. 

Saya membahas sesi Managing Team atau Freelancers yang sukses membuat pertanyaan bertubi-tubi datang dari para peserta. Ada peserta yang dari awal 'ngantuk dan terdengar tidak antusias, tapi di sesi ini beliau sampai bertanya terus-menerus berkali-kali. Bahkan, tiap saya mengganti slide, pertanyaan terus-menerus timbul dan saya senang dengan antusiasme mereka. Walaupun saya jadi pegal memegang mic yang berat dan jadi jalan-jalan ke kiri dan ke kanan, tapi saya senang🥰. Materi yang saya bawakan memang bukan teknis dan lebih ke pengalaman sehari-hari bagaimana membentuk tim yang solid untuk membantu bisnis ini.
Saya presentasi
Waktu coffee break tiba dan saya langsung menghela napas panjang. Lelah sekali rasanya memegang mic yang berat. Saya mengambil cemilan dan minum teh, agar energi pulih kembali. Setelah istirahat, Rezki memandu para peserta bermain game terlebih dahulu biar nggak stres🤯. Udah 2 hari belajar melulu nanti malah pusing, makanya kita butuh refreshing sejenak. Permainan kali ini adalah tebak kata yang sukses membuat satu ruangan tertawa terbahak-bahak 🤣🤣🤣 dengan gaya mereka yang serius tapi lucu. Peserta dibagi dalam 4 tim untuk diadu menyebutkan huruf perkata. Semua peserta sangat serius bermain game walaupun hadiahnya tidak seberapa. Jadi senang banget melihatnya. Alhamdulillah semua langsung gembira pada saat itu dan siap menerima materi dari saya lagi.
Tim Rezki
Tim Mas Dzaky
Ketika saya memulai presentasi, seluruh ruang mendadak hening😶. Kali ini materinya memang agak sulit yaitu tentang Performance di Amazon dan mereka harus menyimak dengan seksama. Tidak seperti materi sebelumnya, para peserta tidak terlalu bertanya di sesi ini. Mungkin karena akun mereka baru 'lahir' dan menu Performance belum ada dosanya😅. Maka dari itu materi ini diberikan agar para peserta bisa menjaga akun terus dalam kondisi sehat agar tidak terkena Suspend dari Amazon.

Waktu Magrib dan makan malam tiba. Para peserta boleh kembali ke kamar masing-masing dulu atau mau makan juga dipersilahkan. Hari ini sesi workshop akan dilanjutkan sampai pukul 10 malam. Saya tidak kembali ke kamar karena banyak peserta yang menyerbu saya dengan berbagai pertanyaan. Seolah-olah waktu 1,5 jam untuk beristirahat tidak cukup karena kami harus kembali lagi ke ruang seminar.

Baiklah, saya cukupkan dulu blognya sampai disini. Nanti saya lanjutkan ke Part 3 karena sesi workshop malam ini dan besok sebenarnya masih ada kaitannya. Stay tuned!

November 10, 2018

Connecting The Dot - Workshop ~ Part 1

Sudah 2 minggu yang lalu workshop Connecting The Dot selesai, tapi baru hari ini saya sempat untuk menuliskannya. Mungkin karena sepulang workshop, badan masih capek banget. Ditambah harus ke Kuala Lumpur karena dapat tiket promo 200rban pulang-pergi. Teringat setelah workshop sempat berkeinginan untuk jalan-jalan ke Kuala Lumpur karena kangen teman-teman disana, pengen jalan-jalan banget karena otak udah panas 😫😫😫 gara-gara workshop, dan mau ambil paket makeup yang udah dibeli di Sephora sewaktu diskon 20% bulan lalu. Alhamdulillah doa saya dikabulkan Allah jadinya bisa jalan-jalan dengan tiket murah, ditambah cashback 1 juta rupiah dari kartu kredit Citibank melengkapi uang saku saya selama di Kuala Lumpur. Ditambah menginap gratis di rumah Tina lagi, alhamdulillah. Nanti saya akan posting cerita tersendiri untuk trip ke Kuala Lumpurnya ya✈️.

Tanggal 25 Oktober 2018 yang lalu, saya dan tim Rancupid harus berangkat ke Bandung untuk menjadi pemateri workshop Connecting The Dot (CTD). Sebelumnya, saya meeting dulu di stasiun Manggarai sekitar 2 jam yang membuat otak saya panas banget karena kepenuhan ide😩. Belum lagi peserta Pra Event workshop mengirim banyak banget pesan melalui aplikasi Telegram yang sukses membuat batre hp saya cepat habis dan saya harus menjawab banyak pesan setiap saat. Jam 1 siang sampai di rumah, lalu makan siang dulu baru bersiap ke Bandung. Kali ini saya membawa koper karena baju yang dibawa juga banyak😁😁😁.

Jam 3.30 sore setelah Ashar, saya dan adik berangkat ke Aya Travel. Ternyata saya booking travel yang salah dari Bandung ke Depok, seharusnya Depok ke Bandung😨. Duh, sempet takut banget kehabisan kursi tapi ternyata karena hari kerja, penumpang travel agak sepi. Alhamdulillah nggak jadi mengundur jadwal keberangkatan. Karena udah ngantuk dan capek, sewaktu mobil jalan, saya tidur nyenyak. 1,5 jam berikutnya saya terbangun dan melihat sekeliling masih di KM 30an. Waduh, ternyata macet banget. Sisa waktu sampai ke Bandung, saya jadinya mengobrol dengan adik.

Jam 7.30 malam, saya sampai di Bandung. Perjalanan kami tempuh 3.5 jam masih lumayan masuk akal. Kalau pagi di hari kerja terkadang bisa cuma 2 jam saja ke Bandung, tapi kali ini karena pembangunan di tol membuat macet banget. Dari Aya Travel di Tamansari ke Hotel California cuma 5 menit. Kami check in (panitia workshop memang sudah dibukakan kamar duluan), lalu masuk kamar. Saya ganti baju dan mengajak adik saya ikut jalan-jalan, tapi dia lebih memilih di kamar. Mungkin karena sepanjang jalan ke Bandung adik nggak bisa tidur, jadi kepalanya sedikit pusing. Berbeda dengan saya udah tidur nyenyak, malah jadi segar banget. Saya ganti baju dan pakai jaket, lalu jalan-jalan keliling Bandung pakai motor. Untung pemateri nggak masuk angin besoknya😆.

Jam 8 pagi besoknya, saya dan adik turun sarapan di resto hotel. Saya lihat sudah ada beberapa peserta workshop duduk di lobi hotel karena ruang seminar baru bisa dipakai jam 8.30. Kebanyakan dari mereka datang dari luar kota dan sampai Bandung di pagi hari. Terlihat wajah mereka yang lelah dan lapar tapi semangat banget untuk belajar. 
Para pemateri
Open registration
Pukul 8.30 sudah open registration dan disediakan coffee break. Barulah para peserta mulai segar karena minum kopi/teh, juga sarapan. Peserta mulai datang satu demi satu sampai akhirnya ruang seminar penuh. Duh, rasanya senang banget melihat antusiasme orang-orang untuk acara ini. Apalagi CTD merupakan pilot project dan ntah berapa kali saya ragu kalau acara ini bakalan banyak peminatnya.
Foto di banner
Ruang seminar
Tepat pukul 9 acara dibuka oleh Army Al-Ghifari, CEO Woimedia. Beliau bercerita tentang betapa besar bisnis Amazon di US dan di seluruh dunia. Apalagi, 2 minggu yang lalu Army baru pulang dari US dan langsung melakukan market research disana. Amazon memang Marketplace paling menjanjikan di seluruh dunia, bahkan sampai saat ini bisnisnya terus berkembang. Army berhasil membakar semangat peserta workshop untuk berbisnis di Amazon. Setelah Army selesai berbicara, Khanti melanjutkan materi tentang keseluruhan bisnis Amazon. Presentasinya begitu memukau peserta apalagi ditambah video dan juga dia menunjukkan pencapaian terbaik Rancupid di Amazon sampai mata para peserta jadi terbelalak😮😮😮.
Khanti bersiap memberikan materi
Jadi pembicara
Workshop di selingi dengan makan siang, coffee break, dan ramah-tamah antara peserta dan pemateri. Pada saat workshop berlangsung, masih banyak banget peserta yang akun amazonnya belum terbuka dan kita panita jadi agak pusing juga memikirkan jalan keluar agar mereka tetap bisa belajar. Kita sudah menyediakan satu akun amazon cadangan yang diberikan user permission, sehingga semua peserta bisa mengaksesnya. Peserta wajib bisa mengakses akun amazon ketika adik saya Achmad melakukan presentasi untuk menunjukkan overview tentang Amazon dashboard.
Achmad sedang presentasi
Siap menjawab pertanyaan
Salah satu materi yang paling seru adalah product research yang dibawakan oleh Satrio, salah satu teman yang tanpa sengaja bertemu di acara Payoneer. Satrio menurut saya adalah Data Scientist paling keren selama saya di dunia IT dan cara dia membawakan materi di workshop sangat santai. Mungkin karena dia adalah artis yang udah sering tampil di depan umum, jadi nggak demam panggung. Belum lagi materinya membuat para peserta terus berpikir (bahkan panitia juga jadi ikutan 'mikir) dan ini adalah hal paling seru. Oh ya, di hari pertama workshop, saya tidak mengisi acara dan hanya menjawab beberapa pertanyaan dari para peserta.
Satrio memberikan materi
Seharusnya di hari pertama jadwal workshop sampai pukul 9.30 malam. Tetapi saya dan teman-teman panitia melihat para peserta banyak yang terlihat lelah, jadi kita mencoba memadatkan materi sehingga setelah jam 6 sore para peserta bisa beristirahat di kamar masing-masing. Walaupun sebenarnya ketika sesi Satrio, peserta diberikan PH (Pekerjaan Hotel) untuk mencari supplier dan bisa dikerjakan di kamar masing-masing. Kebanyakan dari peserta pada mandi dulu, baru balik lagi ke lantai dua (area ruang seminar) untuk makan malam. Berbeda dengan saya yang makan malam dulu sambil mengobrol dengan beberapa peserta, baru setelah itu kembali ke kamar untuk mandi. Setelah mandi, saya ganti baju dengan gaya yang lebih santai karena malam itu mau jalan-jalan.  Adik saya sudah pusing kepalanya dan memilih untuk beristirahat di kamar.

Sebelum pergi nongkrong, saya sempat kembali ke ruang seminar untuk ngobrol dengan beberapa panitia dan peserta yang masih betah disana. Mereka bahkan ada yang bekerja di kantor lama saya yaitu Metrodata, sehingga kalau ngobrol lebih cepat nyambung. Jadi kangen deh sama Metrodata, kantor terakhir dengan segudang pengalaman indah. Obrolan saya dan mereka harus dihentikan sementara karena saya sudah dijemput. Biarlah para peserta beristirahat dan saya jalan-jalan keliling Bandung lagi😄.

November 01, 2018

Asian Para Games 2018

Awal bulan Oktober kemarin, negara kita mendapat kehormatan lagi untuk menjadi tuan rumah acara perhelatan Pesta Olah Raga Difabel, Asian Para Games 2018. Berbeda dengan Asian Games, ini merupakan kali pertama Indonesia menjadi tuan rumah Pesta Olahraga Difabel Asia. Acara ini baru diadakan tiga kali di dunia dan tahun 2018 adalah yang ketiga kalinya. Asian Para Games diadakan di Jakarta dan di Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Kali ini Palembang tidak termasuk kota sebagai penyelenggara.
Selamat datang
Cabang olah raga yang dipertandingkan
Seperti Asian Games 2018, saya sangat menanti Opening Ceremony-nya. Walaupun nggak beli tiket nonton langsung, saya tetap bela-belin nonton di tv. Upacara pembukaan dan penutupan diadakan di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK). Acara tetap spektakuler dengan mengusung tema laut, tapi menurut saya kembang apinya kurang banyak. Beberapa kursi stadion terlihat kosong padahal tiket yang dijual sudah sold out. Tidak semua stasiun tv menayangkan acara Opening dan Closing Ceremony. Hanya TVRI dan Metrotv saja yang menjadi official broadcaster. Kalau bukan karena mengikuti berita di Instagram, mungkin saya tidak tau stasiun tv mana yang menayangkan acara ini.
Suasana di stadion
Bukalapak sponsor utama
Saya baru bisa datang ke GBK hari Jumat tanggal 5 Oktober 2018. Awalnya mau nonton pertandingan, tapi sudah kehabisan tiket di jam pagi sedangkan saya harus ke kantor di siang hari. Bukalapak menjadi official sponsorship di acara besar ini. Kalian bisa melihat hampir semua dekorasi outdoor GBK sangat 'Bukalapak' sekali dengan warna merah menyala. Sekarang acara-acara besar sudah sanggup dibiayai perusahaan IT. Teringat dulu sponsor terkuat adalah perusahaan rokok yang terkadang tidak cocok dilibatkan di acara olah raga😯. 

Pada saat saya berkunjung ke GBK, kawasan stadion agak sepi. Booth makanan nggak sebanyak di Asian Games. Untung saya udah makan dulu di FX, jadi nggak kebingungan cari makan siang. Bahkan banyak booth kosong, padahal masih pagi menuju siang hari. Pengunjungnya juga lebih sepi dari Asian Games 2018. Ntah karena sudah hari kelima dan besok Closing Ceremony.
Booth paling pinggir saya yang terisi
Saya sempat mampir di Super Store yang tidak terlalu mengantri (teringat pas Asian Games antrian sudah seperti ular naga panjangnya). Souvenir di dalamnya banyak banget beraneka ragam dan diserbu oleh para pengunjung. Kalau saya hanya suka magnet kulkas saja, yang lain nggak begitu menarik. Harganya juga lumayan mahal. Boneka kecil saja bisa Rp. 275,000. Masing-masing pengunjung diberikan jatah waktu 10-15 menit di Super Store untuk bergantian dengan pengunjung lain yang sudah mengantri diluar.

Berhubung saya tidak menonton pertandingan, jadi nggak bisa mereview keseruannya. Mungkin karena acara terlalu singkat dan untuk orang-orang kantoran seperti saya harus mencari waktu yang enak baru bisa ke GBK. Sewaktu Asian Games, saya dan teman-teman sengaja datang di weekend untuk menonton pertandingan, sedangkan di Asian Para Games malah hari Sabtu sudah Closing Ceremony.

Walaupun nggak sempat nonton pertandingan, alhamdulillah para atlet Indonesia tetap mendapatkan hasil gemilang di posisi 5 besar. Mungkin karena euphoria tuan rumah, sehingga atlet jadi lebih bersemangat. Apalagi dengan suporter yang pastinya heboh banget berteriak untuk membakar semangat atlet yang bertanding agar memberikan yang terbaik.

Congratulations Indonesia! Prok! Prok! Prok! 🇮🇩🇮🇩🇮🇩

Oktober 30, 2018

Melepas Karet Gigi

Sudah seminggu ke dokter gigi, tapi baru kali ini mengupdate ceritanya di blog. Maklum, saya baru pulang workshop di Bandung dan masih capek banget sampai sekarang😞😞😞. Kok capek sih? Padahal udah tidur di hotel dengan nyaman, makan sehat 3 kali sehari, bahkan boleh nambah makan sebanyak mungkin. Belum lagi coffee break yang terus-menerus tersedia membuat perut kenyang selalu.  Mungkin nanti saya ceritakan tentang workshop setelah menulis tentang Asian Para Games 2018.

Tanggal 23 Oktober 2018 kemarin, pendiri OMDC sekaligus dokter gigi Oktri Manessa berulang tahun. Setiap pasien diberikan hadiah sikat gigi asalkan kita mau memposting di Instagram Story yang berisi ucapan dan doa untuk drg. Oktri. Saya sih dengan senang hati mengucapkan Selamat Ulang Tahun dan berdoa agar OMDC tetap banyak pasien juga sukses terus sepanjang masa. Aminnn! Eh Instagram Story saya jadi di repost sama drg. Oktri. Jadi seneng deh, padahal hal sepele😆. 

Bagaimana dengan gigi saya? Udah pakai karet gigi pun susah banget narik geraham ke depan untuk menutup celah gingsul yang sudah tercabut. Akhirnya dokter spesialis memasang power chain (kalau nggak salah namanya) diseluruh gigi atas dan seolah mengikat gigi saya. Duh, kenceng banget ikatannya sampai gigi saya nggak enak banget. Mana setelah ini mau presentasi dan makan Bebek Slamet. Indikator gigi juga diganti sehingga jadi keliatan kurang lurus lagi struktur gigi saya. Padahal saya udah yakin kalau gigi ini udah oke banget, tapi menurut ilmu kedokteran masih banyak yang harus diperbaiki😔.
Gigi agak miring (lagi)
Power Chain memang membuat saya nggak usah pakai karet gigi lagi. Alhamdulillah, jadi tetap tampil kece selama workshop nanti karena nggak usah terlihat ada karet yang terpasang dari gigi atas ke bawah. Karena masih baru, karet pengait gigi juga terlihat transparan banget (kalau udah semingguan biasanya warna karet berubah kuning karena pengaruh makanan). Jadi membuat saya lebih percaya diri menjadi pemateri di workshop.

Oh iya, sudah mau akhir tahun, gigi sudah lumayan rapat dan lurus (seperti shaf shalat), tapi tetap senyuman saya belum terlalu sempurna. Ternyata permasalahan di gigi saya tidak sepele dan saya tetap dengan sabar dan ikhlas mengontrol gigi ini😊.

Kontrol Saphire Braces Rp. 265,000

Setelah pulang dari workshop, kita mendapat kabar duka bahwa pesawat Lion Air jatuh. Agak deg-degan karena adik saya pulang ke Aceh pakai Lion Air tapi alhamdulillah dia sampai dengan selamat. Sempat berencana ke Taiwan dan Kuala Lumpur tapi kok jadi takut ya. Padahal hidup dan mati di tangan Allah Subhanahu wa ta'ala. Mungkin nanti, setelah suasana lebih kondusif, baru jalan-jalan pakai pesawat lagi. Semoga para korban diterima di sisi Allah dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan, innalillahi wainna ilaihi raji'un.

Oktober 18, 2018

Amazon Workshop : Connecting The Dot

Sudah 2 minggu ini saya super hectic mempersiapkan sebuah workshop perdana yang akan diselenggarakan oleh PT. Rancupid Citra Indonesia, perusahaan milik saya. Jadi jangan heran kenapa saya jadi agak jarang update blog. Sisa antrian postingan hanya Asian Para Games yang insya Allah akan saya kerjakan nanti di weekend, di sela-sela saya membuat presentasi. Udah lama banget nggak menangani sebuah event. Dulu hanya sebagai panitia dimana uang tinggal minta ke bendahara dan nggak perlu memikirkan cukup apa enggak duitnya. Yang penting tugas saya cuma minta aja😆. 

Nah, kali ini beda banget. Saya dan tim harus bertanggung jawab keseluruhan acara agar berjalan sukses, peserta cukup (tidak kurang dan tidak lebih), mengontak pengisi acara, mempersiapkan modul yang berisi ratusan halaman dan juga memeriksa isinya salah apa benar atau ada yang harus ditambahkan. Kemudian mengontak sponsor, membuat dan memeriksa laporan keuangan, berkoordinasi dengan mitra, menyediakan venue dan makanan, dan lain sebagainya. Belum lagi permasalahan di kantor yang kadang datang dan pergi.

Alhamdulillah masih berjalan lancar sampai hari ini. Peserta sudah nyaris memenuhi kuota, Pra Event sudah berjalan sebagaimana mestinya. Gara-gara mempersiapkan event ini, saya jadi jago menggunakan social messenger berupa Telegram. Sebenarnya saya nggak pernah pakai Telegram dan baru tau kalau aplikasi ini canggih bener. Efektif banget dipakai untuk keperluan dan koordinasi kalau kita ingin menyelenggarakn acara.

Baiklah, sedikit pembukaan dari saya:

Mungkin banyak yang bertanya, perusahaan PT. Rancupid Citra Indonesia (Rancupid) milik saya dapat pendanaan dari mana? Jawabannya adalah Amazon Marketplaces, tapi bukan sebagai investor. Rancupid tidak memiliki investor, sehingga Amazon menjadi money machine untuk mendanai perusahaan selama hampir 2 tahun ini. Amazon yang membuat Rancupid dibayar dalam bentuk USD, CAD, GBP, EURO, dan AUD, bisa membuat saya resign dari Metrodata (salah satu perusahaan IT terbesar di Indonesia), dan bisa jalan-jalan sebulan sekali baik dalam dan luar negri.

Rancupid dan Woimedia (perusahaan milik Army Alghifary seorang Master Facebook Ads) memiliki rencana jangka panjang untuk mengekspansi dan mengekspor barang-barang made in Indonesia ke US. Tentunya untuk rencana besar seperti ini kita memerlukan tim. Jadi kita akan membuat sebuah training dan workshop. Tujuannya, agar banyak orang Indonesia yang mengerti proses bisnis di Amazon (menurut data Payoneer kurang dari 50 orang di Indonesia memiliki akun Amazon) dan nantinya bisa bersama-sama untuk membuka dan mengisi warehouse di setiap negara yang di rajai oleh Marketplace ini (US, UK, AUS).

Satu hal lagi, investasi itu tidak melulu membeli benda seperti rumah, tanah, emas, dan lainnya. Investasi bisa berupa training dan workshop dan ntah udah berapa training dan workshop pernah saya ikuti sehingga membuat saya bisa membeli benda-benda itu.
Poster
Workshop ini diberi nama Connecting the Dot yang akan diadakan di Bandung tanggal 26-28 Oktober 2018. Untuk lebih jelas bisa dibaca di https://www.scaleup.club/ctd/ yang ditulis langsung oleh Army Alghifari. Pada link tersebut juga disediakan tombol Whatsapp grup untuk tanya-tanya. Sekarang sudah terisi 190 orang dan Whatsapp grup hanya bisa diisi maksimal 256 orang. Belum berencana buka grup baru.

Acara akan dilaksanakan pada tanggal 26-28 Oktober (Jumat-Minggu) Di Hotel California Jalan Wastukencana Bandung.
Jumat 08.30 - 21.30
Sabtu 07.30-21.30
Minggu 07.30-15.00

HTM per orang Rp. 6.900.000 sudah termasuk:
* Ruangan Seminar
* Menginap di hotel 2 malam (twin shared)
* Makan 7 kali, Coffee Break 5 kali

Untuk yang mau daftar silahkan ke link https://www.scaleup.club/ctd/ dan membaca latar belakang acara. Masih ada waktu beberapa hari lagi.

Mari membantu negara kita dalam menggalakkan ekspor di kemudian hari dan memperkuat perekonomian, sehingga kita dapat mengambil bagian dan membantu pemerintah untuk menurunkan nilai tukar dollar. Mari menjadi pengusaha dan membuka lapangan kerja lebih banyak lagi untuk mengurangi pengangguran. Insya Allah, Indonesia will become a better place to live💞.

Oktober 16, 2018

Asian Games 2018 - Jakarta

Sudah usai Asian Para Games 2018, saya baru menuliskan Asian Games 2018. Sudah 2 minggu ini saya super duper sibuk dengan riset produk dan persiapan Workshop Amazon Connection the Dot. Nanti saya akan menuliskan tentang Workshop ini secara terpisah. Walaupun se-sibuk apa pun, karena saya cinta banget sama nge-blog, pasti disempat-sempatkan walaupun di waktu yang agak sempit.

Baiklah, Asian Games 2018 adalah sebuah pesta olah raga terbesar di Asia dan alhamdulillah Indonesia berhasil menjadi tuan rumah. Promosinya juga besar-besaran dimana di setiap sudut kota Jakarta kalian akan melihat spanduk untuk mensukseskan Asian Games 2018 mulai dari kelurahan, gang jalan, sampai perkantoran elit di Jakarta ikut berpartisipasi untuk menyukseskan acara ini. Hal ini membuat penduduk Jakarta merasa antusias dan semuanya jadi ingin menonton pertandingan, termasuk saya.
Berfoto bersama para mascot
Sebenarnya saya bukan pecinta olah raga, tapi saya cinta Indonesia. Rasanya ingin memberikan dukungan kepada para atlit yang sedang bertanding secara langsung. Ntah kenapa dari dulu saya ingin sekali nonton badminton langsung dari Istora Senayan. Melihat animo yang begitu besar pada seluruh cabang olah raga, agak tidak mungkin kalau mau membeli tiket melalui website penjualan tiket resmi seperti blibli.com karena pasti sudah ludes semua. Akhirnya pakai teknik sosial, nebeng beliin tiket ke semua teman-teman, dan dapat 2 tiket untuk menonton badminton dan atletik. Pada saat itu, bahkan cabang olah raga Kurash, Kabbadi, yang ntah seperti apa itu olah raganya saja tiketnya sold out. Kebayang betapa tingginya antusiasme masyarakat pada acara olah raga ini.

Baiklah, karena lumayan banyak yang harus dituliskan tentang Asian Games 2018, jadi saya bagi per-poin ya. Mari disimak:

1. Masuk Gelora Bung Karno (GBK)
Buat yang cuma mau merasakan animo Asian Games 2018, bisa masuk dengan membeli tiket festival. Di pintu masuk sudah dijaga dengan banyak petugas untuk mengecek tiket. Setelah tiket dikonfirmasi, kalian harus melalui Metal Detector dan tasnya di masukin ke meja scanner. Belum lagi seluruh tubuh juga di cek. Saking ketatnya pemeriksaan, udah seperti di bandara.

Setelah renovasi, baru kali ini saya datang lagi ke GBK. Karena ada acara Asian Games, jadi banyak yang berjualan makanan, souvenir, merchandise, dan lain sebagainya. Udah seperti bazaar dan Pekan Raya Jakarta (PRJ). Bedanya, cuaca super duper terik yang membuat saya membawa kacamata hitam 😎dan topi. Oh ya, kalau kalian membawa air mineral yang bukan Aqua, maka kalian harus rela membuangnya. Aqua adalah sponsor resmi Asian Games 2018, jadi cuma air mineral merk Aqua yang boleh di bawa ke arena GBK. 
Banyak booth
Dipilih-dipilih
Buat yang mau beli souvenir di Super Store, harap sabar mengantri. Saya baca malah orang-orang sudah mengantri dari jam 6 pagi dan barang-barang sudah habis diborong oleh para jastipers. Jadi menyesal dulu nggak beli di Palembang, beli online pun ditunda-tunda. Jadilah kehabisan. Jujur aja saya nggak kuat mengantri berpanas-panasan hanya untuk membeli souvenir. Lebih takut pingsan karena berjemur. Tapi antriannya tertib kok. Mungkin kalian bisa bawa payung agar tidak terlalu terkena sengatan matahari yang super terik.
Antrian Super Store
Sampai ke belakang

2. Nonton Badminton di Istora Senayan
Pagi itu di hari Sabtu, saya dijemput Diana untuk jalan ke Stadion Gelora Bung Karno setelah memiliki tiket atletik dan badminton. Kami turun di FX, lalu jalan kaki ke pintu masuk. Karena memiliki 2 tiket badminton dan 2 tiket atletik seharga masing-masing Rp. 100,000, jadi nggak usah beli tiket masuk yang festival lagi.

Kebetulan acara tanding badminton masih lama (jam 1 siang), jadi saya dan Diana beli KFC dulu. Karena belanja Rp. 100,000. Kami bisa memutar lucky wheel yang tersedia di depan booth KFC. And fortunately, kita dapat satu kotak KFC yang berisi ayam dan nasi lagi.
Selamat makan
Kita makan siang dulu, baru mengantri masuk ke Istora. Teman Diana bilang, masuk ke dalam Istora nggak boleh bawa makanan dan minuman, bahkan tas diperksa sedetail mungkin. Rencananya memang mau makan siang di Istora sambil menonton badminton. Sayangnya malah nggak boleh dan membuat kita makan buru-buru supaya bisa mengantri masuk Istora. Masih ada 1 kotak KFC hadiah yang nggak mungkin dihabiskan lagi. Jadinya kita berikan kepada orang lain daripada mubazir dibuang, mumpung masih hangat.
Istora Senayan
Antrian masuk Istora mengular panjang. Waktu itu saya belum shalat Zuhur karena berencana cari tempat duduk dulu baru shalat. Enaknya, Mushalla tersedia dimana-mana dan bersih, begitu juga toilet bahkan tisu juga tersedia. Jadi nggak usah khawatir. Sekitar pukul 12.30 siang, pintu Istora dibuka dan kita masuk. Benar saja, waktu itu tas saya diperiksa banget bahkan sampai saku yang kecil. Eh taunya saya bawa permen (saya juga lupa ada permen di tas) tapi ternyata permen boleh dibawa masuk. Alhamdulillah. Teman Diana sudah membooking kursi untuk saya dan Diana, jadi kita tetap dapat tempat yang bagus untuk menonton pertanding.
Antrian masuk Istora
Tepat jam 1 siang, MC keluar untuk membuka acara yang langsung disambut riuh para penonton. Duh, saya jadi ikutan antusias dan bertepuk tangan meriah. Apalagi deretan atlet mulai keluar dan mengambil tempat masing-masing untuk bertanding. Jangan ditanya betapa hebohnya saya pada saat itu. Sayangnya, pada pertandingan tunggal putri, Indonesia kalah. Pas set terakhir, saya keluar ke toilet dan shalat dulu. Kalau mau keluar ruangan, kalian akan di stempel di tangan sebagai tanda sudah pernah masuk karena tepat jam 13.00 pintu masuk sudah di kunci dan akses keluar cuma bisa dari pintu samping.
Istora Senayan
Selesai shalat, saya menonton Jonathan (Jojo) bertanding. Saya bingung sewaktu dia sedang minum dan melihat ke arah bangku penonton, semua cewek-cewek pada teriak. Saya nyeletuk, "Kenapa liat orang minum pada teriak?"😮 dan Diana menjawab, "Karena Jojo ini menurut sosial media adalah atlet bulu tangkis paling ganteng😆." Saya tertawa dan merasa udah kurang pantas mengidolakan atlet ganteng😂😂😂. Sepertinya isi Istora Senayan penuh dengan anak-anak abege yang teriak heboh pada saat Jojo buka baju. Padahal, Jojo buka baju ya~~~karena keringatan. Emang ada yang aneh? 😆Hahahaha (tanda-tanda bukan abege).
Tim Hore
Saya menonton badminton seharian. Dari jam 1 siang sampai jam 8 malam. Atlet yang bertanding silih berganti. Paling seru kalau menang, rasanya pengen tepuk tangan paling kerasss, PROK! PROK! PROK! Sekalian ikutan teriak bernyanyi, "GARUDA DI DADAKU, KU YAKIN KALI INI PASTI MENANG." Lucunya, ada yang koordinir kita untuk mengajak bersama-sama bernyanyi atau menyemangati para atlet. Duh, rasanya saat itu Indonesia kompak bangetttt! BANGGAAA!

 3. Malam di GBK
Ntah udah berapa kali teman saya Rezki nge-Whatsapp untuk ngasih tau kalau pertandingan atletik sudah dimulai. Berasa sayang karena nggak nonton badminton sampai pertandingan terakhir tapi kasian juga udah beli tiket atletik. Paling nggak harus merasakan masuk stadion utama GBK. Akhirnya saya dan Diana keluar dari Istora dan berjalan ke stadion utama. Saya sempat takjub melihat di halaman GBK dihiasi lampu berwarna-warni seperti pasar malam. Pada saat itu ramai banget pengunjung, apalagi karena weekend.
Pasar Malam
Lampu warna-warni
Oh ya, buat yang kehabisan tiket nonton pertandingan badminton di Istora, petugas sengaja menyediakan layar besar untuk nonton bareng di halaman GBK. Semua orang pada duduk bareng berlesehan, berteriak bareng, bertepuk tangan bareng, persis sama dengan di dalam Istora. Ahhh, rasanya senang dan bangga sekali kalau Indonesia bisa kompak segininya. I love you full Indonesia. Pertandingan olah raga membuat kita bersatu.
Nonton Bareng
4. Menonton Atletik
Sesampai di stadion utama, saya dan Diana harus berjalan lumayan jauh untuk sampai di pintu masuk sesuai dengan tiket yang tertera. Saya takjub melihat kemegahan stadion GBK setelah direnovasi. Benar-benar tidak kalah saing dengan stadion di luar negri. Lampu-lampu berwarna-warni menghiasi atap stadion, ditambah pilar-pilar yang memberika kesan sangat megah, sehingga stadion ini pantas menjadi pusatnya GBK.
Lampu warna-warni
Pertandingan atletik yang diikuti Lalu Muhammad Zohri sudah usai ketika saya tiba. Tapi saya bisa menonton pertandingan lompat tinggi dan lari marathon yang bikin saya ngos-ngosan (padahal bukan saya atletnya). Baru kali ini juga saya melihat fotografer membawa lensa gede-gede untuk memotret jarak jauh. Maklumlah, mereka cuma bisa duduk di kursi penonton yang jaraknya lumayan jauh dari para atlet yang bertanding.
Stadion Utama GBK dari dalam
Pada akhirnya hari itu saya pulang ke rumah sudah malam banget tapi merasa puasss menonton🎊. Apalagi banyak booth yang menawarkan hadiah unik dan makanan cemilan murah seperti es krim, jus, dan lainnya. Walaupun nggak kebagian makan malam di FX karena semua resto kehabisan makanan, tapi senggaknya berhasil beli roti.

Selama Asian Games 2018, saya sempat dua kali datang ke GBK karena suka dengan euforia dan antusiasme positif yang ditularkan orang-orang. Saya juga berhasil mengajak banyak teman untuk hadir dan memberikan dukungan kepada atlet Indonesia yang sedang bertanding. Sedih banget acaranya sekarang sudah usai😢. Rasanya sosial media mendadak sepi. Walaupun terobati dengan Closing Ceremony yang keren banget, tapi tetap pengen nonton acara olah raga lagi. 
Siapa kita? INDONESIA PROK! PROK! PROK!
Semoga suatu hari Indonesia bisa menjadi tuan rumah Olympiade dan pada saat itu tiba, saya ingin sekali mengambil bagian di dalamnya baik sebagai sponsor atau otak dibalik acara keren seperti Wishnutama. Aminnnn ya Allah. Doakan ya teman-teman. Sampai jumpa!

Oktober 02, 2018

Meteor Garden 2018 VS Real Life

Hi semua. Belakangan ini saya merasa terlalu disibukkan dengan urusan kantor yang sangat memusingkan. Bahkan postingan Asian Games di Jakarta belum sempat tersentuh. Seolah-olah ingin melarikan diri dari dunia kerjaan, saya memutuskan untuk menonton drama. Sebenarnya saya sangat nggak punya waktu untuk nonton serial dan nggak mau memulainya supaya nggak ketagihan juga. Tapi berhubung sangat penat isi kepala ini, pada suatu malam, saya memutuskan untuk menonton serial Meteor Garden. Agak kaget juga melihat jumlah episodenya 49 dan saya berpikir ntah kapan selesai menontonnya.
Pada dasarnya alur cerita masih sama persis seperti drama Meteor Garden yang dulu pernah diperankan oleh Barbie Tsu dan Jerry Yan. Cerita masih seputar cinta Dao Ming Se ke San Cai dan persahabatan F4. Hanya saja di serial tahun ini tidak ada bullying (mungkin karena peraturan internasional menghilangkan tontonan apa pun tentang bullying) dan banyak hal di tampilkan lebih kekinian. Saya akan jabarkan satu persatu.

1. Diterima di Universitas Ming De
Dulu ceritanya adalah San Cai diterima kuliah di universitas berisi anak-anak kaya semua. Karena dia miskin, jadi San Cai menjadi bahan bullying. Tapi sekarang, hanya anak-anak pintar saja yang bisa masuk Universitas Ming De. Hubungan pertemanan antar mahasiswa juga terlihat lebih baik dan F4 dikenal bukan hanya sekedar kaya, tapi juga mahasiswa paling berprestasi di kampus. Beberapa episode menunjukkan kalau mereka bisa memberikan inovasi terhadap bisnis orang tuanya dan bisa menjadi contoh untuk anak-anak muda jaman sekarang. 

2. Social Media dan Social Messenger
Sekarang eranya digital dan hal ini berdampak juga pada serial Meteor Garden. Foto-foto Sancai dengan cowok lain bisa dengan cepat tersebar luas lewat aplikasi sosial media seperti Weebo. Mereka menggunakan social messenger juga yang sepertinya tidak begitu tren di Indonesia. Apalagi tipe pengiriman pesan lewat Voice Message juga jarang sekali di Indonesia. Orang Indonesia lebih suka langsung menelepon daripada kirim Voice Message😆. Tapi ada serunya juga pakai Voice Message karena kalau kita kangen orang tersebut dan ingin mendengar suaranya, bisa diputar ulang😊.

3. Aplikasi Pendukung
Beberapa episode menunjukkan kalau Sancai memesan perabotan rumah di aplikasi penjualan barang bekas, atau melakukan reservasi penginapan melalui aplikasi yang saya kurang tau apa karena pakai bahasa Mandarin. Menurut saya ini adalah hal yang cukup menarik karena belum ada tipe iklan aplikasi seperti ini di film-film atau sinetron Indonesia dan saya rasa sangat tepat sasaran. Penonton Meteor Garden kebanyakan anak muda dan suka meniru idolanya. Pasti mereka langsung tertarik dengan aplikasi yang dipakai idolanya. Ada juga aplikasi cicilan bank tanpa kartu kredit dan berbagai macam lainnya yang sangat menarik menurut saya. Mungkin banyak perusahaan berbasis teknologi yang menjadi sponsor di serial ini.

4. Iklan produk
Berbeda dengan serial Meteor Garden lainnya, disini terasa banget iklan produk. Kalian bisa melihat produk minuman seperti Yakult dan satu lagi lupa yang menjadi sponsor utamanya. Sampo Clear dan produk kosmetik China. Parfum Chanel dan mobil BMW. Tapi kalau mobil memang hampir semua film Hana Yori Dango di negara berbeda pasti ada sponsor utamanya. Teringat dulu serial versi Jepang di sponsori oleh Mazda.

5. Pakaian dari merk ternama
Ntah karena saya baru menyadari sekarang, keluarga Dao Ming Se dan teman-temannya F4 juga cewek-cewek yang kaya semua memakai pakaian, sepatu, tas, kacamata dari merk seperti Gucci, Dior, LV, Fendi, dan lainnya. Jadi membuat style mereka terlihat high class dan kece banget. Ada harga ada rupa sih, tapi kalau dibandingkan dengan Meteor Garden 2001 kok kayaknya stylenya jelek ya😂. Sepertinya pada saat itu pasti style Jerry Yan udah yang paling keren di Asia.

7. Scene nggak masuk akal
Terlepas dari beberapa poin diatas, banyak juga adegan yang nggak masuk akal. Misalnya Dao Ming Se setelah dipukulin babak belur bisa cepat banget sembuh. Habis operasi bisa tertawa lepas tanpa merintih kesakitan. Sancai nggak sadar-sadar si Dao Ming Se suka sama dia padahal udah sebegitunya😓.  Dan ketika Sancai menunggu Dao Ming Se di depan rumahnya berhari-hari, kehujanan, di musim gugur yang udaranya sangat dingin, dia bisa bertahan. Memangnya dia nggak pengen ke toilet? Emangnya ada yang kuat bertahan basah-basahan di suhu dibawah 5 derajat berhari-hari tanpa makan dan minum walaupun dengan kekuatan cinta? Yah namanya juga film, hahaha.

8. Adegan percintaan tidak keluar batas
Mungkin karena genre remaja dan Asia termasuk benua yang masih menjunjung tinggi adat ketimuran, jadi adegan percintaan hanya sebatas ciuman. Adegan pacarannya juga masih termasuk biasa aja nggak macam-macam. Sesering apa pun F4 ke Bar, tapi mereka adalah anak baik-baik dan beretika. Berbeda dengan serial remaja barat seperti Vampire Diaries yang agak kurang pantas di tonton untuk anak-anak usia abege. 

Baiklah, beberapa poin diatas lumayan menyita perhatian saya. Mungkin karena saya bukan abege lagi, jadi menilai serial ini dari sisi yang berbeda. Terutama dari cerita cinta mereka sih. Jujur aja kekuatan cinta mereka itu kuat banget dan saya sampai nangis juga (oke, mungkin berdasarkan pengalaman pribadi). Dulu pas masih sekolah nonton Meteor Garden lebih melihat si Jerry Yan ganteng dan kaya, tapi saya nggak terasa sama percintaannya. Kalau kali ini terasa banget. Saya seolah tau banget rasa sakitnya dan bahagianya, makanya malas nonton beginian.

Sebenarnya dalam kehidupan nyata, cowok sempurna yang kaya, ganteng, pinter, galak, tiba-tiba jatuh ke pelukan cewek sederhana itu agak sering terjadi. Terkadang saya berpikir kalau cowok udah sempurna, tinggal cari aja cewek mana pun, dikejar sesaat, pasti dapat. Dan jaman sekarang nggak ada kisah cinta yang begitu susahnya sampai orang tua nggak setuju anak cowoknya menikah dengan wanita biasa. Selama cewek itu baik, dari keluarga baik-baik, orang tua mana yang nggak setuju.

Tapi, bagaimana kalau yang kaya itu adalah ceweknya? 

Disini justru permasalahannya. It happens to me all the time. Padahal cewek tersebut nggak sekaya Dao Ming Se, tapi ketika orang melihat profilnya di social media yang sudah tidak mungkin disembunyikan karena keperluan bisnis, malah menjadi boomerang. Banyak cowok yang cewek itu kenal sebagai teman tanpa embel-embel bisnis, malah pergi menjauh dan sering membahas, "Direktur enak ya hidupnya..." Apalagi kalau mau ngetrip bareng, cewek bawa koper dipermasalahkan karena orang kaya nggak sanggup bawa ransel. Cewek itu memakai jaket-jaket mahal yang tahan udara dingin sampai suhu minus 20 pun dipermasalahkan. Semua postingan di instagram cewek tersebut yang pernah mendatangi tempat-tempat indah di dunia membuat mereka memberikan jarak. Bahkan terkadang pergi.

Yang paling menyedihkan adalah ketika sudah janjian tapi nggak datang. Dan terakhir cewek itu tau kalo si cowok takut tidak sanggup mengimbangi. Padahal, cowok itu juga menyiksa dirinya sendiri dengan nggak datang dan menahan sakit dengan mencari tau tentang cewek tersebut dari semua social media. Terkadang dia mau sekedar mengobrol menggunakan social messenger, tapi mempertimbangkan chatnya bakalan dibalas apa nggak oleh si cewek juga berakhir hanya diam saja. Si cewek juga sama, melihat cowok jarang merespon, jadi mengurungkan niat untuk menyapa duluan. Kalau begini, mana ada habisnya?

Apabila seperti ini keadaannya, mungkin ceweknya akan berbalik menjadi Dao Ming Se yang mengejar Sancai habis-habisan. Tidak peduli bagaimana akhirnya, yang penting usaha dulu karena tetap hasil tidak akan mengkhianati usaha. Wajar kalau cewek tersebut tidak akan menurunkan standar. Dia harus menjaga perusahaannya agar tetap bisa menggaji seluruh karyawan sehingga membutuhkan pendamping yang  hebat. Dia membutuhkan cowok yang masuk standarnya dari segi pendidikan, keluarga, dan agama. Tidak perlu kaya, yang penting bisa dipercaya, dan hal itu sudah sangat sulit di jaman sekarang. Kalau sang cewek sudah merasa menemukan orang yang tepat, bukan tidak mungkin dia akan mengejar cowok tersebut seperti Dao Ming Se mengejar Sancai atau Xiao Yuo mengejar Ximen.

Overall, serial ini sangat menghibur dan memperpendek waktu saya ketika harus berada di dalam kereta berangkat atau pulang dari kantor. Agak malu juga kalau menonton adegan ciuman tapi sedang berdesak-desakan di kereta, atau adegan lucu yang membuat saya ketawa sendiri yang membuat beberapa orang di sekitar saya jadi ngeliatin. Untung adegan yang sedih sampai membuat saya menangis biasanya saya tonton ketika sedang berada di rumah, sehingga tidak membuat orang keheranan kok saya nangis di kereta😅😅😅.

Baiklah, selamat menonton. Hati-hati lupa waktu tapi bagus sebagai hiburan. Sampai jumpa!

September 28, 2018

Asian Games 2018 - Palembang

Sudah 52 tahun sejak Indonesia pertama kali jadi tuan rumah acara olahraga terbesar se-Asia, kini kita mendapat kehormatan kembali untuk menyelenggaran event besar tersebut. Pada awalnya saya nggak terlalu antusias karena memang jarang menonton pertandingan olah raga. Hanya saja melihat Opening Ceremony yang begitu spektakuler di tv, seolah membakar semangat saya dan saya jadi antusias untuk menonton pertandingan. Jadi agak menyesal nggak membeli tiket nonton langsung Opening Ceremony di Jakarta. Padahal waktu itu masih banyak promo Buy 1 Get 1 dari kartu kredit Bank BNI.

Kali ini Asian Games 2018 digelar di dua kota, yaitu Jakarta dan Palembang. Sebagai wujud antusiasme saya, yang paling pertama saya lakukan adalah mengunjungi Palembang (kalau di Jakarta 'kan bisa datang kapan aja). Sebenarnya alasan ke Palembang nggak 100% karena ingin menonton Asian Games sih, melainkan mau silaturahmi juga ke teman-teman dan saudara. Jadilah sekalian saya mengunjungi Stadion Jakabaring pada tanggal 19 Agustus 2018, tempat perhelatan acara akbar Asian Games.
Pemandangan di pintu masuk stadion Jakabaring
Stadion Gelora Sriwijaya (lebih di kenal dengan nama Stadion Jakabaring) yang beralamat di Jalan Gubernur H. A. Bastari, Jakabaring, Palembang, adalah stadion multifungsi terbesar ketiga di Indonesia setelah Stadion Utama Gelora Bung Karno di Jakarta dan Stadion Utama Palaran Samarinda. Stadion ini diakui sebagai salah satu tempat perlehatan olahraga terbaik yang bertaraf internasional. Kebanyakan, tempat ini difungsikan untuk penyelenggaraan pertandingan-pertandingan sepak bola. Stadion ini memiliki luas lahan sekitar 40 hektar dan dapat memuat hingga 38.000 - 45.000 orang dengan 4 tribun (A, B, C dan D) bertingkat mengelilingi lapangan. Tribun utama di sisi barat dan timur (A dan B) dilindungi atap yang ditopang 2 pelengkung (arch) baja berukuran raksasa. Bentuk atap stadion merupakan simbol kejayaan kemaharajaan Sriwijaya di bidang maritim yang dilambangkan oleh bentuk perahu dengan layar terkembang.
Lihatlah bentuk atapnya
Semula saya mengira kalau saya bisa menonton Opening Ceremony yang berbeda di stadion Jakabaring Palembang. Sayangnya malam itu stadion di sterilkan dan acara hanya ditujukan untuk atlit dan pers saja. Agak kecewa sih, jadi menonton Opening Ceremony di stadion Gelora Bung Karno di rumah Suci sambil menunggu jemputan untuk nongkrong. Sayangnya baru menonton setengah acara, jemputan udah datang. Baru kali ini saya agak malas diajak nongkrong karena mau menonton tv😐😐😐.
Ticket Box
Besok pagi saya sudah dijemput oleh Yayan untuk menuju Stadion Jakabaring. Perjalanan dari hotel ke stadion memakan waktu sekitar 20-30 menit dengan mengendarai sepeda motor. Kami memarkir motor di salah satu mall yang bersisian dengan stadion supaya lebih aman dan jalan kaki ke arah Jakabaring. Kalau kalian mau masuk komplek stadion, diwajibkan untuk membeli tiket Festival seharga Rp. 20,000 berupa gelang yang harus dipakai dan di scan di pintu masuk.
Tiket Festival
Digelangkan
Karena kompleak stadiun yang sangat luas, kalian bisa memakai shuttle bus yang disediakan dan turun di halte-halte yang berada di dalam komplek stadion. Saya nggak naik bus dan memilih berjalan kaki menyusuri stadion. Mumpung sedang pakai sepatu lari, jadi enak kalau mau jalan-jalan. Sayangnya di pagi menjelang siang kala itu matahari bersinar sangat terik dan saya nggak bawa kacamata atau topi. Jadi kepanasan dan silau😩😩😩.
Shuttle Bus
Kalau mau belanja souvenir Asian Games, kalian bisa mampir ke Super Store yang berada di dalam komplek stadion. Waktu hari pertama penyelenggaraan pertandingan sih masih sepi banget. Yayan sudah mengajak saya masuk tapi saya malah bilang mau beli di Jakarta aja (itu keputusan yang super duper salah karena di Jakarta antriannya mengerikan😱😱😱). Kami berkeliling komplek, menonton cabang olah raga dayung dan voli pantai yang seruuuu😆😆😆. Walaupun cuma nonton sebentar dan nggak tau siapa yang bertanding, tetap aja seru. Rasa cinta saya terhadap olah raga jadi meningkat tajam. Saya berjanji dalam diri sendiri untuk menonton pertandingan di Asian Games paling tidak sekali saja.
Danau untuk cabang olah raga dayung
Oh ya, saya sempat melewati wisma atlet yang pernah menyeret beberapa pejabat kita ke penjara. Tempatnya memang bagus, seperti apartemen, dan berwarna-warni. Ditambah lagi ada kolam untuk bersantai dan dibikin selokan sebagai pembatas. Wajar sih kalau membangun wisma sebagus ini duit yang harus gede. Semoga ke depannya nggak ada lagi dana yang diselewengkan.
Wisma Atliy
Baiklah, nanti saya lanjutkan lagi liputan selama menonton Asian Games 2018 di Jakarta yang serunya minta ampunnnnnnn 😆😆😆😆. Sampai jumpa!

Follow me

My Trip