Maret 23, 2019

Arisan di Rumah

Sebagai ibu komplek yang baik (bukan ibu deh, mbak komplek), ada saatnya dimana rumah saya ketempatan arisan. Sejak Agustus 2015 pindah ke komplek, ntah berapa kali saya mengelak untuk mengadakan arisan di rumah saya. Saya punya segudang alasan untuk menolak, nggak punya karpet, nggak ada pembantu, nggak punya peralatan makan, saya cuma sendiri di rumah, dan berbagai macam alasan yang selalu ada saja😆😆😆.

Sampai pada tanggal 17 Februari 2019 kemarin (setelah 3,5 tahun menjadi penduduk komplek), akhirnya saya menyetujui untuk menjadikan rumah saya tempat arisan ibu-ibu. Sebenarnya arisan terdiri dari 3 orang tuan rumah, tapi karena saya selalu mengelak, jadilah rumah saya yang di-HARUS-kan untuk dijadikan tempat arisan. Padahal, saya sudah mengelak juga seperti biasa:
"Bu, saya nggak punya karpet." 
"Tenang, kita pinjemin." kata Ibu depan rumah.
"Bu, saya nggak punya piring."
"Tenang, bisa pinjem ke RT." kata ibu ketua RT.
"Bu, saya nggak ada pembantu."
"Tenang, nanti saya bantuin. Semua anak-anak dan keponakan saya kerahkan." kata ibu tetangga sebelah.

Mau beralasan apa lagi coba?? 🙈🙈🙈

Baiklah, saya janjian sama Rezki dan Mba Ummi dari 2 minggu sebelum hari H untuk menginap di rumah dan bantuin saya arisan. Nggak enak juga kalau dari tuan rumah sama sekali nggak ada pasukan bantu-membantu. Saya juga mengajak Efan dan Nufus (sepupu saya dari Jogja) untuk menginap juga, tapi mereka masih tentatif. Paling nggak Rezki dan Mba Ummi sudah konfirmasi bisa nginep jadi saya ada teman.

Sekitar 2 minggu sebelum arisan, saya membabu-buta🧹. Dibantu oleh tukang kebun yang membersihkan halaman dan saya beberes di dalam rumah. Baru kali itu saya mencuci gorden dan mengelap kaca yang saya lakukan bertahap. Semua perabot saya lap 🧽juga (lebih tepatnya saya cuci) agar debu-debunya hilang. AC juga saya servis agar teman-teman yang menginap bisa nyaman. Sudah seperti kalau mau Lebaran di rumah dimana kita semua bebersih dan beberes. Untung pada dasarnya rumah saya nggak begitu kotor karena saya memang suka bersih-bersih rumah. Hanya saja debu di jendela yang tebalnya minta ampun. Selesai beberes, rumah jadi cling-cling ✨ tapi saya sampai encok dan flu saking banyaknya debu dan capek angkat-angkat barang.

Tiga hari sebelum arisan, Nufus datang dari Jogja. Alhamdulillah jadi juga sepupu saya itu datang, sehingga bisa lumayan membantu di dapur. Besoknya Efan datang dan bisa menemani saya beli perintilan ini itu di dekat komplek dan juga Ace Hardware. Orang-orang yang tentatif datang (Efan dan Nufus), malah tiba lebih awal daripada yang konfirmasi untuk datang (Rezki dan Mba Ummi).

Seru juga ketika rame di rumah. Sehabis magrib di malam minggu, kita nongkrong dulu sambil makan bakso bakar yang paling hits di Depok. Kalau sendirian di rumah, saya biasanya malas banget kemana-mana. Karena rame, bawaannya mau jalan-jalan aja😂😂. Sepulang makan bakso, saya dan Mba Ummi bikin jelly untuk Arisan besok, sedangkan Efan dan Rezki merakit gantungan tas di ruang tamu. Kami nggak tidur larut malam itu karena besok pagi saya harus menemani anak tetangga beli kue di pasar.

Jam 6 pagi, saya bangun, cuci muka, dan ganti baju. Saya lihat Efan udah masak air panas di dapur dan dia udah mandi. Mba Ummi, Nufus, dan Rezki masih bobo. Saya meninggalkan Efan di dapur dan pergi ke rumah tetangga untuk barengan ke Pasar Pucung. Saya baru tau kalau di Pasar ini ada toko jajanan kue yang diserbu ibu-ibu arisan. Sekalinya beli kue 🍰🧁🥐 sampai 200-300 biji. Masya Allah! Belum lagi berlomba dengan ibu-ibu yang berebutan kue tanpa mengantri agak melelahkan juga. Alhamdulillah dapat juga kue-kue 🥯🍩🥧 lebih dari 150 biji. Saya udah nggak mau berebutan lagi sama ibu-ibu, mending pulang saja😫.

Sampai di rumah, saya melihat Rezki sudah mandi dan Nufus sedang memarut timun. Mba Ummi masih tidur nyenyak, tapi tidak lama kemudian dia bangun. Saya menyuruh teman-teman untuk sarapan dulu, baru setelah itu saya mandi. Rezki dan Efan kemudian menyikat garasi setelah sarapan untuk akhirnya dialaskan karpet agar tamu-tamu yang nggak kebagian duduk di dalam rumah bisa duduk di garasi. Jam 8.30 saya sudah siap berpakaian ungu untuk arisan (dresscodenya ungu). Ibu tetangga sebelah dan depan juga sudah datang untuk membantu. Rezki dan Efan mengeluarkan sofa, sedangkan Nufus dan Mba Ummi menggelar karpet. Setelah itu saya menyusun kue yang banyaknya minta ampun diatas piring hasil pinjaman ke semua tetangga. Bakso sebagai main course juga sudah datang, tinggal dihangatkan diatas kompor.

Jam 10 tepat, ibu-ibu berdatangan. Saya duduk agak kebelakang karena saya sedikit awkward juga nggak tau mau ngapain diantara ibu-ibu. Mau basa-basi, bukan saya banget. Saya hanya senyum-senyum saja kalau ada ibu-ibu datang. Beberapa kali malah ke belakang untuk ngumpul bareng Mba ummi, Nufus, Rezki, dan Efan. Kayaknya ngumpul sama mereka lebih nyaman, hahaha 😂. 
Ibu-ibu arisan
Arisan mulai berjalan. Ibu-ibu berdiskusi dengan serius, sedangkan saya menaruh bakso dan es jelly dibelakang. Kami kemudian mengoper makanan dan minuman dari dapur. Setelah makan selesai, ada acara dimana saya disuruh untuk sedikit berbagi pengalaman sebagai Pengusaha Digital. Jadilah saya berbicara tentang apa yang selama ini saya kerjakan dan sedikit bercerita tentang Rancupid. Ibu-ibu mendengarkan dengan antusias karena mereka juga ibu-ibu keren yang pinter-pinter. Jadi pada nyambung ketika saya bahas dunia enterpreneur. Saya berbicara sekitar 30 menit, baru akhirnya acara usai tepat ketika adzan Zuhur. Cowok-cowok pada ke Musola dekat rumah, sedangkan kita cewek-cewek beberes sampah-sampah.
Makanan dan minuman di dapur
Setelah Zuhur, barulah teman-teman dan sepupu saya datang untuk makan siang. Saya sengaja memesan makanan lebih untuk menjamu mereka, sekalian bersilaturahmi karena udah lama nggak ketemu. Kita ngobrol seru, sekalian saya membungkus makanan untuk mereka bawa pulang. Saya sempat lupa untuk beli plastik bungkus makanan, jadi agak panik ketika acara usai malah nggak ada plastik. Terpaksa minta tolong Rezki untuk beli plastik di warung.

Setelah Ashar, teman-teman dan saudara-saudara satu-persatu pulang. Saya mandi 🛁 dulu karena udah keringetan dari ujung rambut sampai ujung kaki. Sofa sudah dibawa masuk kembali oleh sepupu-sepupu saya, piring sudah dicuci, lantai sudah di pel, dan yang terpenting saya sudah mandi keramas🚿. Fiuhhh akhirnya segar juga. Lelah sekali hari itu, tapi ntah kenapa saya senang☺️. Beberapa piring milik tetangga belum saya kembalikan karena saya sudah capek banget. Pengennya cepetan rebahan di kasur tapi masih harus membereskan perintilan ini dan itu.
Ibu-ibu komplek
Sekitar jam 11 malam, saya tertidur lelap dengan kondisi sangat lelah hayati. Rumah juga mendadak sepi karena teman-teman dan saudara sudah pada pulang. Alhamdulillah semua berjalan lancar.

Maret 21, 2019

Postingan ke 1000

Akhirnya sampai juga di postingan ke 1000. Huff, tanpa terasa sudah pernah menuliskan 1000 artikel di blog baik yang bermanfaat maupun tidak, baik berupa informasi, ataupun curhat semata. Rasanya senang banget bisa bertahan sampai ke titik ini, sungguh proses yang tidak mudah dimana sekarang kesibukan sudah semakin menyita waktu. Meluangkan waktu sedikit untuk konsisten menulis itu sangat sulit. Apalagi kesadaran untuk menuliskan hal yang bermanfaat semakin besar, sehingga harus benar-benar memilah apa yang akan dituliskan. Saya tidak mau kalau tulisan saya nanti malah diminta pertanggungjawaban di akhirat oleh Allah subhanahu wata'ala hanya karena kontennya memberikan pengaruh buruk bagi orang lain.
From http://www.mrmediatraining.com
Saya mulai menulis blog pada tahun 2009, berarti membutuhkan waktu 10 tahun untuk bisa menyelesaikan 1000 postingan. Kalau dibandingkan tulisan saya 10 tahun yang lalu dengan sekarang, sangat banyak mengalami perubahan. Pemilihan kosa kata dan cara menyampaikannya juga sudah berubah 100%. Belum lagi hampir semua isi blog berupa cerita jalan-jalan saya ke semua tempat baru. Sebenarnya saya lebih mencintai blog daripada semua sosial media yang ada. Mungkin karena saya memang suka menulis yang panjang. Kalau menulis status di sosial media yang cuma satu atau dua kalimat, sepertinya kurang. Pengennya sih menulis sampai beberapa paragraf biar terasa ceritanya dan dapat perasaannya📝.
Postingan pada saat awal menulis
Dulu, saya sempat kebingungan mencari ide untuk menulis. Maka saya memulai dari curhat di blog atau menuliskan cerita pendek yang memang menjadi hobi saya. Saya memang suka menghayal, bisa jadi ini, bisa jadi itu, dan merasa sayang kalau semua khayalan itu hilang. Kalau dituliskan di blog, tulisan tersebut akan ada selamanya. Bahkan sampai sekarang saya masih bisa membacanya dan langsung flashback dikala itu sedang membayangkan apa sehingga bisa menghayal demikian. Mungkin karena otak kita terbatas, sehingga tidak semua kejadian bisa diingat. Kalau membaca kembali cerita di kala itu, langsung bisa ingat dan kangen pada momen yang saya tuliskan.

Apa yang terjadi selama 10 tahun? 

Dulu saya hanya mahasiswi yang sedang berjuang menyelesaikan tugas akhir, lagi naksir (beberapa) cowok, uang saku terbatas dan nggak berani minta tambahan uang jajan karena nggak mau merepotkan orang tua, muka tanpa perawatan dan makeup, hobi tidur siang, berat badan sekitar 46-48kg, tinggal di asrama Aceh yang berada di Badung, dan jadi ketua asrama yang kerjanya 'ngurusin teman-teman se-asrama.

Sekarang saya punya perusahaan, tinggal di rumah sendiri, sudah berpergian ke 18 negara dan 18 provinsi di Indonesia, berat badan masih tetap, hobi tidur siang masih juga😄, suka ke klinik kecantikan untuk perawatan agar muka tetap pada usia 25 tahun💆, suka pakai makeup, dan sedang menikmati hidup. Waktu keseharian tersita untuk perusahaan yang kemarin sempat krisis, sekarang bangkit, modal yang keluar tambah besar, dan saya sering pusing tujuh keliling. Belum lagi urusan pasangan hidup yang jadi prioritas sekarang, tapi belum yakin sama si 'ini' atau si 'itu'. Baru saja kemarin merasa yakin, tapi sudah disisipi dengan berbagai macam problematika yang membuat saya super duper ragu🤔. Efek doa kali ya...

Jadi berpikir, seolah-olah kehidupan 10 tahun lalu begitu santai, yang dipikirkan hanya skripsi, jalan-jalan, nonton, dan merasa sudah bahagia sekali. Sekarang? Terlalu banyak yang saya pertimbangkan. Bagaimana nanti kalau begini, bagaimana kalau begitu. Sudah harus mengambil keputusan yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Belum lagi tagihan yang harus dilunasi dan perencanaan keuangan yang begitu kompleks.

Tapi saya bersyukur masih bisa hidup sampai sekarang ini, alhamdulillah. Terlepas dari proses yang begitu berat yang harus jalani, saya bersyukur. Allah memberikan begitu banyak rezeki untuk menjelajah begitu banyak tempat indah di dunia dan bisa menjadi bahan tulisan di blog. Sudah begitu jauh melangkah, kehilangan orang tersayang seperti Papa, atau dikaruniai para keponakan lucu, semua hal itu begitu membuat hidup saya berwarna.

Menurut saya, hal terindah di dunia ini adalah "kenangan". Di setiap sudut kota, setiap perjalanan, di seluruh penjuru dunia. Tinggal mencari orang yang tepat untuk terus menemani sampai postingan ke 2000 nanti atau sampai 10 tahun lagi. Tahun ini saya ingin menjelajah lebih jauh, agar bisa terus menulis blog. Saya juga ingin menuliskan berbagai solusi atas segala macam permasalahan yang ada di perusahaan yang dirintis dari awal. Agar bisa menjadi pelajaran dan menginspirasi.

Akhirnya, terima kasih untuk yang selalu membaca setiap tulisan saya dari awal sampai sekarang. Mohon maaf kalau jarang posting tapi akan diusahakan mulai minggu ini untuk menulis. Semangat!!!

Hampir Lupa Kontrol Gigi

Saking padatnya jadwal saya selama ini, jangankan mau menulis blog, saya bahkan lupa jadwal kontrol gigi. Agak sedih juga mengingat kesibukan yang menyita waktu saya untuk menyalurkan hobi menulis dan jalan-jalan mencari inspisrasi. Insya Allah dimulai bulan ini, saya mulai bisa melakukan kegemaran yang selama ini tertunda. Untung blog ini belum sampai bersarang laba-laba dan saya nggak mau hal itu terjadi. Pokoknya saya akan kembali menulis, no matter what.

Saya baru sadar ketika melihat kalender kalo saya harus ke dokter gigi keesokan harinya. Jadwal dokter gigi memang sudah dibuat sejak 2 bulan yang lalu makanya jadi lupa kapan harus datang lagi. Gigi juga nggak bermasalah sama sekali. Warna karet gigi juga nggak menguning, makanya saya lupa banget.

Ketika kontrol, dokter bilang kalau celah di gigi sudah semakin sempit dan struktur rahang sudah lebih baik lagi. Saya sempat disuruh buka mulut dan bercermin untuk membuktikan kalau lengkungan deretan gigi kian sempurna dan saya senang banget. Struktur wajah juga semakin baik karena menyesuaikan dengan senyuman. Tinggal diluruskan saja secara horizontal deretan giginya. Oh ya, kali ini gigi saya kembali dipasang karet elastis untuk menarik gigi geraham maju ke depan. Hal ini yang paling saya nggak suka sebenarnya, karena kalau tersenyum bakalan jelek banget😓.
Ada karet elastis
Alhamdulillah, tidak sia-sia pengorbanan gigi kenceng selama ini. Saya puas banget dengan hasilnya. Semoga tahun ini bisa beneran Perfect Smile 2019. Semangat!

Service Charge Rp. 25,000
Kontrol dengan Spesialis Ortho Rp. 275,000
Karet Elastis Rp. 40,000

Februari 23, 2019

Aku Pamit

Mengawali tahun 2019 dengan perasaan tidak menentu, sehingga saya memutuskan untuk menulis cerita saja. Kalau dilihat-lihat, tahun 2018 saya hanya menulis satu cerita saja lho😗. Tahun 2017 hanya 3 cerita, dan 2016 lumayan banyak yang saya tulis. Sebenarnya dari dulu hobi saya memang menulis cerita, tapi ntah kenapa dua tahun belakangan ini saya merasa kekurangan inspirasi. Mungkin mengurusi perusahaan dan jalan-jalan kesana-kemari menjadi faktor utamanya. Walaupun postingan tentang petualangan saya terus bertambah, tapi saya merasa perlu menulis cerita pendek yang terinspirasi dari kehidupan sehari-hari.

Sebenarnya cerita ini sudah saya tulis di bulan November 2018 dan terus menjadi draft karena saya belum tau endingnya. Sempat menuliskan ending yang berbeda di Desember, lalu berubah lagi di Januari, dan saya rasa di Februari ini sudah nggak boleh berubah lagi😅. Kan ntar pusing mau ending yang mana dan berakhir seperti apa. Baiklah, saya akan menuliskan dengan ditambah banyak bumbu penyedap agar lebih enak dibaca. Mari disimak!

***

Ini sebenarnya adalah cerita tentang sebuah perpisahan. Aku mengingatkan kalian dulu sebelum menuliskan detilnya. Lusa aku akan berangkat ke Amerika untuk waktu yang tidak dapat ditentukan. Aku memegang Visa Amerika multiple entry selama 5 tahun. Bisa jadi, aku tidak akan pulang ke Indonesia dalam waktu dekat. Untuk mengakali jatah waktu perkunjungan selama 5 tahun, aku akan menetap di Shanghai karena bisnisku juga ada disana. Kebetulan aku memegang Visa China multiple entry juga.

Ada hal yang paling menyakitkan tentang semua ini. Bukan karena aku akan tinggal lama di luar negri dan meninggalkan negaraku tercinta, tapi aku tidak bisa mengajaknya untuk ikut. Bahkan aku harus berpisah dengannya.

Sekitar seminggu yang lalu, perasaanku hancur berantakan karena dia. Bahkan dengan wajah tanpa merasa bersalah dia bilang, "Kamu seharusnya tidak usah terlalu ambisius mengejar duit sampai ke Amerika dan meninggalkan Indonesia." Saat itu aku terdiam dan berpikir bahwa di dalam pikirannya berarti aku adalah orang seperti itu. Kalau saja bukan karena mempertaruhkan perusahaan dan karyawan, aku lebih memilih di Indonesia. Dan dia dengan egoisnya mengambil kesimpulan tentangku. Saat itu, dia langsung meninggalkan aku di lobi hotel dan pulang ke kosannya dengan keadaan marah, sedangkan aku terdiam mematung. Beberapa hari ke depan aku tidak akan melihatnya lagi tapi dia malah bersikap seperti itu padaku.

Hari itu hujan turun dan aku harus check out dari hotel tempat aku menginap. Aku harus pulang ke rumah dan bersiap-siap packing untuk ke Amerika. Sebelum pulang ke rumah, aku menyuruh supir untuk mengarahkan mobil ke daerah kosannya. Sudah hampir sebulan kami hilang kontak dan aku ingin melihatnya sekali lagi sebelum pergi. Aku turun dari mobil, mengambil payung, dan berjalan kaki melewati gang yang hanya bisa dilalui sepeda motor. Sesampai didepan kosan, aku hanya berdiri diam sambil memperhatikan teras depan kosan yang sepi. Ntah ada apa tidak dia disana. Dari warung sebelah kosan, tiba-tiba mengalun lagu:

🎵Kasih, dengarkanlah aku
Kini hatiku yang berbicara
Resah yang ada di jiwaku
Ingin kulalui bersamamu🎵

Aku terbawa suasana. Tiba-tiba air mataku menetes. Teringat dulu pertama kali dia menyapaku di media sosial setelah 10 tahun hilang kontak dan dia langsung meneleponku untuk menceritakan semua tentang dirinya selama ini. Dia pandai bercerita, bahkan sangat detail. Awalnya aku tidak mau mendengarkannya karena ceritanya terlalu biasa dan aku merasa memiliki hidup yang lebih kompleks. Waktu itu aku berpikir, mendengar dia mengoceh hanya akan membuang-buang waktuku saja. Tapi aku tetap tidak menutup telepon. Aku memasang earphone agar tidak usah memegang hp dan mendengarkannya bercerita sampai 2 jam. Tidak terasa bisa mengobrol selama itu.

Kami kemudian bertemu ketika aku mengadakan seminar. Dia datang ke hotel tempat acara berlangsung dan aku kaget. Aku menatap wajahnya, kurang lebih masih sama dengan beberapa tahun yang lalu. Hampir tidak ada yang berubah. Karena terlalu ramai peserta seminar di resto hotel yang membuat aku tidak akan bisa mengobrol dengan leluasa, aku mengajaknya (kabur) makan diluar. Untung dia bawa sepeda motor, sehingga aku tidak usah memanggil supir lagi untuk mengantarkan kita ke tempat makan.

Kita makan di sebuah resto dengan pemandangan citylights yang indah. Disitu dia bertanya beberapa bisnis padaku dan aku memang lumayan mengerti tentang dunia jual-beli. Selama ini dia membuka toko kue yang katanya pelanggannya tidak terlalu banyak. Memang dia tidak sampai rugi, tapi terkadang ingin juga banyak pelanggan. Aku menyarankan beberapa hal padanya yang lumayan gampang untuk dipraktekkan. Dia mendengarkan dengan serius semua yang aku bilang. Kita mengobrol sampai jam 11 malam. Setelah itu dia mengantarkanku kembali ke hotel.

Besoknya setelah seminar, dia datang lagi ke hotel sambil membawakan kue dari tokonya. Aku membukanya dan melihat ada beragam bentuk kue imut dengan berbagai rasa. Aku kaget dengan pemberian sederhana ini. Dia bilang, "aku sendiri yang membuat, membungkus, dan menatanya di dalam kotak untuk kamu. Dimakan ya." Mungkin, hal ini agak sepele. Tapi ini yang benar-benar menyentuh hati.

Aku memasukkan kue ke kamar hotel dan turun kembali untuk makan malam bersamanya. Kali ini aku bawa kamera dan kami berfoto di sebuah resto indah yang memiliki banyak lampu. Mungkin sejak malam itu, aku jadi ingin terus mengobrol dengannya. Kalau bisa sampai pagi. Tapi tidak mungkin karena besoknya aku harus mengisi seminar dan talkshow yang nggak ada habis-habisnya. Sepulang dari resto, aku meminta dia untuk mengajakku ke toko kuenya. Eksterior toko sangat klasik seperti bangunan jaman Belanda dulu, tapi aku suka. Sayang karena sudah malam, toko tutup. Dia juga mengajakku mampir ke kosannya yang berada tidak jauh dari toko kue. Aku duduk di ruang tamu dan dia menghidangkan teh panas bikinannya sendiri. It was so lovely back then.

Karena sudah dua malam berturut-turut aku makan diluar, panitia penyelenggara seminar mulai mencurigaiku pergi tanpa memberi kabar. Di malam ketiga, aku sama sekali tidak boleh keluar hotel. Aku melihatnya datang ke lobi dari lantai dua hotel. Aku turun sebentar dan bilang padanya kalau kali ini aku tidak bisa keluar dan tidak bisa makan bersamanya. Panitia langsung menyuruhku masuk kembali ke ruang seminar ketika melihatku mengobrol dengannya. Sejak itu, aku malah tidak bisa bertemu dengannya lagi karena dia pergi ke luar kota untuk belajar menu baru untuk toko kuenya.

Selama ini hidupku diwarnai dengan pekerjaan yang tiada habisnya. Kehadiran dia lumayan merusak konsentrasiku. Aku tidak bisa bertemu dengannya dan agak susah juga untukku meneleponnya. Tidak bisa setiap hari, bahkan hanya seminggu sekali baru ada waktu menghubunginya. Mengirim pesan pun tidak bisa setiap hari juga, tapi aku tetap melakukannya. Kalau sudah menelepon, kita bisa 3 jam. Pulsa hpku memang tidak akan habis karena memang fasilitas dari provider yang aku dapatkan bisa menelepon siapa saja sampai 10rb menit gratis.

Sampai saat aku menerima surat tugas untuk tinggal di luar negri. Untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir, aku bingung. Biasanya aku akan pergi tanpa memikirkan apa pun. Berbeda dengan sekarang dimana tiba-tiba aku berpikir tidak akan melihatnya lagi. Selama ini aku memang jarang bercerita tentang apa pekerjaanku sebenarnya kepadanya, bagaimana aku memulai bisnis, karena aku tidak ingin mengubah cara pandangnya terhadapku. Tapi kalau tiba-tiba pergi tanpa pamit, seolah-olah aku sangat buruk dalam berteman. Aku harus memikirkan cara untuk menceritakan tentangku padanya.

Aku tetap menatap teras kosannya. Tiba-tiba mataku panas dan air mata mulai menetes.  Rasanya pedih sekali mengingat hal-hal indah bersamanya selama ini. Ntah bagaimana, dia keluar dari kosan dan melihatku berpayung di kala hujan gerimis seraya menangis. Dia membuka pagar kosan dan menyuruhku masuk, tapi aku menggeleng.

Aku teringat kembali saat aku ingin bilang padanya untuk ikut aku ke Amerika. Sebelum terus-terang, aku mengajaknya jalan-jalan ke Singapura. Dia hampir tidak pernah ke luar negri dan ini adalah jalan-jalan pertama dengannya. Kita jalan-jalan dan makan-makan kemana-mana. Saat itu begitu bahagia. Rasanya kami adalah orang yang tidak punya beban sama sekali. Sampai saat aku bilang padanya kalau aku akan pergi ke Amerika ketika di pesawat pulang ke Indonesia. Wajahnya berubah dan dengan santainya dia jawab, "Oh, ya udah pergi aja." 

Aku terdiam. Dia dengan entengnya jawab seperti itu. Aku berpikir, mungkin karena memang aku nggak penting untuknya. Selama 2 jam di pesawat, kami jadi diam saja. Sampai tiba-tiba dia bilang, "Kamu seharusnya tidak usah terlalu ambisius mengejar karir sampai ke Amerika dan meninggalkan Indonesia. Kamu kan cewek."

Sambil menunggu taksi, aku melihat dia terus mengetik pesan kepada seorang cewek. Ntah apa maksudnya, tapi hal itu lumayan mengganggu pikiranku. Taksi datang dan aku mengantarkannya duluan ke kosan, baru ke rumahku. "I don't have time for ego, anger, and jealousy by the way". Tapi cukup membuatku merasa nggak penting baginya setelah tanpa sengaja membaca nama cewek itu di hpnya. Sejak itu, sampai waktu aku akan berangkat, aku tidak lagi menghubunginya.

Aku menatap matanya dan mengatakan, "Selamat tinggal..," lalu membalikkan badan dan melangkah pergi. Aku sudah tidak sanggup membendung semua air mata yang ingin mengalir deras. Baru kali ini aku seperti ini. Aku tidak mau menoleh. Ntah apa yang ada dipikirannya saat ini. Mungkin saat-saat kita bersama sama sekali nggak berarti baginya. Mungkin pertemuan kita kembali murni untuk urusan bisnis dan dia memintaku jadi mentornya. Mungkin obrolan berjam-jam selama ini hanya sebagai pelampiasan karena bosan dengan toko kuenya yang mulai kehilangan pelanggan.

Sampai saat dia menarik lenganku dan memelukku erat...
rain...
🎶Sejujurnya ingin kukatakan saja
Dari hati ini, 'ku mencintaimu
Kuharapkan kau mengerti dan percayakan hatimu
Semuanya kini terserah padamu 🎶

Celah Gigi Mengecil

Sepertinya kemarin adalah waktu kontrol gigi paling sederhana selama saya memakai kawat gigi. Saya dijadwalkan jam 10:40 pagi, tapi saya datang sejam kemudian. Maklum, saya baru saja selesai mengadakan arisan di hari Minggu kemarin (sepertinya akan saya tulis di postingan terpisah), sehingga banyak yang harus dibereskan dulu sebelum beraktifitas.

Saya kira ketika sampai di OMDC, saya bakalan menunggu lama untuk akhirnya dapat menemui dokter spesialis karena antrian saya sudah terlewat. Alhamdulillah ternyata hari ini klinik agak sepi sehingga walaupun saya sampai sejam kemudian, saya adalah pasien pertama yang kontrol. Baru duduk sebentar, tidak sampai 5 menit dokter datang dan saya masuk ruang rawat.

Dokter bilang, celah gigi saya (dulunya tempat gigi gingsul) sudah tinggal kira-kira 1-2 mm lagi. Hal ini membuat dokter menarik gigi dengan kencang untuk dirapatkan. Bahkan sepertinya struktur rahang diubah lagi. Jangan ditanya betapa mengerikannya proses tarik-menarik dan melilitkan kawat yang membuat berbagai macam alat perawatan gigi keluar masuk mulut😖😖😖. Saya hanya pasrah🏳️🏳️🏳️ mendengar bunyi krak kruk, teng teng, krik! So Scary...

Tidak lama kemudian, gigi dan rahang saya berhasil di edit. Rasanya kenceeeng banget. Antara gigi atas dan bawah pun jadi ngilu kalau sempat tersentuh. Ntah apalagi prosesnya, saya nurut saja. Demi Perfect Smile 2019. Saya juga suka banget melihat gigi setelah selesai kontrol kawat gigi. Serasa gigi jadi bersih. Mungkin karena saya suka pakai karet transparan yang warnanya akan berubah kalau kita sering makan makanan yang mengandung kunyit (biasanya karet gigi bakalan berubah jadi kuning). Setelah kontrol, jadi terlihat bening lagi dan bersih banget deh gigi saya😃.
Senyumin aja~
Kontrol Sapphire Braces Rp. 275,000
Service Charge Rp. 25,000
Total Rp. 300,000

Per tahun 2019, ada kenaikan harga tapi nggak terlalu signifikan. Masih okelah... Oh ya, kalau dilihat dari foto, senyuman saya masih agak miring. Tapi percayalah, kalau kalian lihat saya langsung, struktur wajah saya banyak berubah dan senyuman sudah lurus secara vertikal. Kalau horizontal masih belum. Bingung kan? Sama, saya juga bingung cara mendeskripsikannya ke dalam sebuah tulisan😅.

Ok deh, sampai jumpa!

Februari 10, 2019

Melalui Masa-Masa Krisis

Postingan pertama di bulan Februari. Jadi agak jarang menulis bukan karena nggak mau, tapi saya baru saja melewati beberapa masalah di kantor yang menuntut saya untuk fokus menuntaskannya. Memiliki perusahaan memang nggak seindah impian. Kalau melihat nilai uang yang kita terima sangat besar🤑, rasanya hati senang bukan kepalang. Giliran pendapatan perusahaan menurun bahkan nyaris tidak ada? Belum lagi karyawan yang terlihat setia malah kabur? Atau penjaga kantor yang nomor satu kita percaya untuk mengawasi, membersihkan, dan mengamankan inventaris kantor, malah orang yang membawa kabur semua laptop? I felt very stressed out...

Sebenarnya krisis ini sudah terjadi. Alhamdulillah atas kerjasama tim dan perencanaan keuangan yang baik, masa-masa krisis bisa dilalui. Kita memang tidak bisa selamanya berada di puncak, gemilang cahaya, tapi Allah subhanahu wata'ala memang perlu memberikan cobaan, agar belajar, dan naik kelas. Kalau bahasa ekonominya, high risk high return. Sederhananya, resiko tinggi, keuntungan juga tinggi.

Mensupport operasional perusahaan yang tidak sedikit, belum lagi pendapatan yang terus menurun membuat saya pusing tujuh keliling🥴. Melihat tabungan sudah sangat menipis, belum lagi saya harus tetap menjaga emosional karyawan dengan bersikap santai, seolah-olah semua baik-baik saja. Apa pun yang terjadi pada perusahaan, para karyawan adalah orang-orang yang paling penting dijaga emosinya. Jangan sampai mereka mendadak mengundurkan diri berjamaah hanya karena bosnya kelihatan stres memikirkan nasib keuangan. Alhasil, muka biasa aja, hati teriris-iris💔💔💔. Sudah mencoba tidak memikirkannya tapi tetap kepikiran.

Hal yang pertama saya lakukan di masa krisis adalah sering mendengar kajian para ustadz-ustadz mantab seperti Adi Hidayat, Khalid Basalamah, dan Firanda Andirja, di Youtube. Saya biarkan saja Youtube terus memutar ceramah mereka untuk menenangkan hati. Salah satu kajian yang lumayan kena di hati saya adalah tentang cerita kesabaran nabi Ayyub yang mendadak ditimpa sakit sampai 20 tahun, padahal dulu nabi Ayyub adalah orang paling gagah, raja, kaya, dan sebagainya yang baik-baik. Penyakitnya tidak membuat keimanannya berkurang, justru bertambah. Bahkan beliau tidak mengeluh sama sekali. Sampai ketika penyakitnya mulai mengganggu untuk menjalankan ibadah kepada Allah, maka nabi Ayyub berdoa:

"(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang". (QS. Al Anbiya': 83)

Penggalan kisah di kajian ini membuat saya merenung. Permasalahan saya tidak sesulit Nabi Ayyub dan juga tidak selama 20 tahun, tapi saya sudah stres. Memikirkan jalan keluar untuk permasalahan malah bikin tidur sampai larut malam. Besoknya bangun shalat Shubuh pun tidak di awal waktu. Saya berkesimpulan, mungkin cobaan ini terjadi untuk mengingatkan saya pada peningkatan keimanan. Tapi saya masih sepelekan juga. Shalat masih biasa saja, berdoa hanya sedikit, mengaji juga masih seadanya.

Lalu saya mendengar kajian ustadz Adi Hidayat tentang keutamaan Shalat Tahajjud. Salah satunya karena bisa memberikan jalan keluar dari semua masalah. Tetap, saya hanya mendengarkan saja, tidak terlalu diambil hati. Seolah-olah masuk telinga kanan, keluar telinga kiri. Apa sebanyak ini syaitan😈😈😈 ditubuh saya? Shalat tahajjud biasa saya lakukan kalau kebetulan berpuasa pada hari itu karena bangunnya pasti lebih awal untuk makan sahur.

Saya juga mendengar kajian tentang keutamaan istighfar yang bisa membuka jalan terhadap rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Memang dosa manusia biasa seperti saya tidak bisa dihitung dan mungkin salah satu yang menjadi penghambat rezeki. Mulai saat itu, saya mencoba untuk memperbanyak istighfar. Dimana pun kalau teringat, saya usahakan untuk bisa beristighfar.

Saya menelepon Mama, minta doa yang banyak. Sampai hari ini, saya yakin doa Mama yang sangat mempengaruhi dalam membangun perusahaan. Ustadz Firanda bilang, kalau kita berdoa pada Allah untuk meminta seisi dunia, pasti dikabulkan. Beberapa kali juga sempat kirim pesan kepada teman yang sedang melaksanakan umroh 🕋untuk mendoakan perusahaan. Doa ditempat terbaik pasti dikabulkan dan saya 100% percaya akan hal itu. Maka hampir setiap hari saya mengingatkan teman saya itu untuk berdoa, berdoa, dan terus berdoa, meminta seisi dunia.

Yang paling berat adalah bersedekah. Kalau memang duit sedang banyak sih, saya pasti bersedekah. Kali ini duit di tabungan sisa sedikit. Kalau kata ustadz Khalid, sedekah bisa melipatgandakan rezeki sampai beratus kali lipat. Kalau sedekahnya cuma seribu dua ribu, trus mengharapkan seluruh isi dunia, sepertinya kurang. Logikanya, kalau ingin panen raya, semai benih dulu yang banyak, baru panen. Jadi sedekah dulu yang banyak, baru kaya. Ummm, agak sulit sepertinya. Tapi tantangan seperti ini harus bisa dilalui. Baiklah, saya transfer sedekah, dan nggak mau login internet banking untuk melihat saldo🙈.

Sampai pada minggu dimana masalah perusahaan memuncak. Rasanya saya sudah melarikan diri terus dari masalah dan kali ini saya berada di jalan buntu dengan tembok yang tinggi di hadapan saya. Secara fisik, saya sampai demam tinggi dan sakit tenggorokan. Fisik dan pikiran sudah terkena dampaknya, tapi mengingat nabi Ayyub tidak mengeluh, dan saya sedang berusaha untuk tidak mengeluh. Hal ini membuat saya sering melamun, berpikir kalau begini 'gimana, kalau begitu 'gimana. Tetap tidak ada solusi😔😔😔. Di kereta pun jadi malas buka hp, karena banyak pikiran. Belum lagi malam-malam tidak bisa tidur.  

Saat itu, saya teringat lagi kajian ustadz Adi Hidayat dan ustadz Khalid tentang sabar dan shalat. Sabar sudah, shalat (dalam hal ini tahajjud) belum. Saya niatkan bangun disepertiga malam, hanya untuk shalat tahajjud dan memanjatkan doa. Saya sudah bingung ya Allah, kesabaran sudah hampir diambang batas, udah disabar-sabarin, udah riset sana-sini, tapi belum ada jalan keluar ya Allah. Begitulah kira-kira doa saya. Dan berlangsung terus sampai hari dimana Allah subhanahu wata'la memberikan solusi. Di suatu hari itu, 70% masalah perusahaan berakhir dan saya bernapas super lega. Saya percaya ini efek dari doa-doa di tempat paling suci umat muslim di dunia yang dipanjatkan oleh teman saya ketika berumroh, doa dari para karyawan yang selalu saya minta untuk mendoakan perusahaan, dan doa dari saya sendiri sebagai pemilik dan pemegang saham. 

Agak sulit menuliskan betapa leganya perasaan saya pada hari itu. Analoginya, seolah tembok yang semula membuat jalan buntu, ketika saya raba-raba, ternyata terdapat pintu yang pegangannya mempunyai warna sama dengan tembok. Di sela-sela waktu yang sangat mepet, permasalahan sudah mengejar saya, saya bisa membuka pintu, dan saya berlindung di balik tembok. Apa yang ada di balik tembok pun seolah seperti jawaban doa-doa saya berikutnya dan hasil riset sampai malam yang saya lakukan. Saya seolah menemukan padang hijau dimana-mana bunga-bunga sedang menguncup untuk bersiap mekar🥰🥰🥰. Seolah-olah penjualan yang selama ini menurun drastis membuat saya belajar terus dan mengaplikasikan hasil pembelajaran itu langsung ke semua website di dunia maya. Hasilnya, penjualan meningkat super tajam, bahkan naik 2 kali lipat dari tahun lalu.

Kalau dihitung secara kalkulasi matematika, Alhamdulillah kondisi perusahaan sudah membaik 80%. Jadi teringat kata mutiara yang saya baca di Instagram, "Jika ingin memperbaiki hidup namun bingung harus mulai dari mana, mulailah dengan memperbaiki sholat." Saya setuju 100% untuk hal ini. Saya sudah mengaplikasikannya. Shalat adalah kumpulan dari zikir dan doa. Ketika shalatnya baik, maka baiklah orangnya dan nasibnya. Ketika sudah di titik lega seperti saat ini, dimana krisis sudah akan berakhir, walaupun secara fisik saya masih sakit, tapi rasanya senang sekali.
"Sesungguhnya bersama dengan kesulitan, ada kemudahan." (QS: Al-Insyirah:6)
Setelah semua berlalu, saya jadi menapak tilas. Bisa jadi ini karena kesalahan saya dimana salah memprediksi penjualan di akhir tahun dan kurang riset produk. Kita masih terlalu nyaman dengan penjualan tahun lalu, sehingga menyepelekan tahun ini. Padahal, dunia tiap detik mengalami perubahan yang menuntut kita harus belajar terus. 

Salah satu hal yang paling penting adalah peran teman-teman terdekat yang memiliki jabatan juga di perusahaan. Jadi teringat sebuah kisah pada masa Khalifah Umar bin Khattab, ada seorang laki-laki berkata kepada Umar, “Sesungguhnya si Fulan itu orangnya baik.” Umar bertanya, “Apakah Engkau pernah bersafar (melakukan perjalanan) bersamanya?” Lelaki itu menjawab, “Belum pernah.” Umar bertanya lagi, “Apakah engkau pernah bermuamalah (berbisnis) dengannya?” Lelaki itu menjawab, “Belum pernah.” Umar bertanya lagi, “Apakah engkau pernah memberinya amanah?” Lelaki itu menjawab, “Belum pernah.” Umar lalu berkata, "Kalau begitu engkau tidak memiliki ilmu tentangnya (mengenalnya). Barangkali engkau hanya melihat dia shalat di masjid.” (Mawa’idz Shohabah)

Jadi, kita belum dikatakan mengenal seseorang jika kita belum melakukan perjalanan bersama, melakukan jual-beli (bisnis) bersama, dan belum pernah memberikan tugas (amanah) kepadanya. Alhamdulillah tidak ada satu teman pun yang pergi menjauh, dan ini juga bagian dari rejeki menurut saya. Kejadian seperti ini membuat saya jadi tambah mengenal karakter teman-teman seperjuangan. Alhamdulillah saya diberikan orang-orang yang baik untuk mendukung seluruh langkah dalam bisnis. Hampir semua jajaran manajemen pernah bersafar bersama, berbisnis, dan selalu melaksanakan amanah yang saya berikan. Rejeki tidak melulu dalam bentuk harta. Teman baik juga tidak ternilai harganya🥰🥰🥰.

Baiklah, mungkin postingan ini sudah telalu panjang. Sekalian curhat soalnya. Semoga kita terus menjadi orang-orang sabar, karena kesabaran selalu berbuah manis. Semoga Allah selalu memberikan solusi dalam segala permasalahan kita. Aminnn ya Rabb🤲.
"Maka Bersabarlah Dengan Sabar Yang Baik." (QS Al-Ma'rij 5)

Januari 31, 2019

Talkshow on Rancupid 2nd Birthday

Menulis tentang ulang tahun Rancupid di penghujung Januari. Bulan ini memang spesial untuk perusahaan saya. Nggak terasa sudah 2 tahun menjalani jatuh bangun di PT. Rancupid Citra Indonesia. Teringat dulu hujan-hujanan pergi ke kota Bireuen dari kota Matang Glumpang Dua naik sepeda motor untuk mengurus rekening perusahaan. Dengan modal paling minimal, akhirnya bisa juga mendirikan perusahaan sebagai wujud dari mimpi-mimpi saya selama ini. Alhamdulillah, sudah 2 tahun berlalu, dan masih akan terus berjalan insya Allah.

Kalau dibandingkan dengan ulang tahun di Januari 2018 dimana kami hanya mengundang 3 orang saja untuk meramaikan suasana yaitu Satrio, Insan, dan Bunda Dinda. Waktu itu karyawan Rancupid masih 7 orang dan kita merayakannya secara kecil-kecilan di kantor LeGreen Setiabudi di ruangan berukuran 4 x 4 meter. Saat itu sangat bahagia bisa merayakan ulang tahun pertama, walaupun hanya dengan memesan catering dan kue ulang tahun seadanya saja. Mungkin karena keberkahannya, sehingga di dalam ruangan kecil pun, kita sangat bahagia. Saya percaya rejeki dari Allah subhanahu wata'ala tidak melulu tentang uang. Kebahagian bercengkrama dengan orang-orang terdekat juga merupakan rejeki yang tidak ternilai.

Lihatlah apa yang terjadi setahun kemudian...

Dulu, saya hanya berdoa kepada Allah agar bisa merayakan ulang tahun kedua Rancupid di ruang meeting kantor LeGreen yang ukurannya lebih luas lagi. Tapi Allah memberikan rezeki lebih dari itu. Di dalam masa krisis seperti sekarang, kita bisa merayakan ulang tahun di Hotel HARRIS Tebet, salah satu hotel berbintang 4. Jangankan berpikir merayakan di hotel, awalnya malah hanya ingin makan-makan kecil-kecilan di kantor seperti tahun lalu. Mungkin ini namanya rezeki yang tidak disangka-sangka, alhamdulillah.

Sebenarnya Rancupid berulang tahun di tanggal 11 Januari (11.1), tapi pada saat itu ada beberapa karyawan sedang tidak ada di kantor. Rasanya tidak lengkap kalau merayakan ulang tahun tidak bersama orang-orang yang sudah dari dulu mengabdi ke Rancupid. Maka dari itu kita memutuskan untuk menunda acara. Kebetulan tanggal 26 Januari 2019, Rancupid dan Nest School akan mengadakan talkshow juga di Hotel HARRIS. 

Saya tanya ke Khanti, apa kita satuin aja acaranya biar seru? Mungkin acara Talkshow tentang dunia digital yang notabene agak teknis bisa diselingi dengan acara seru seperti ulang tahun. Khanti langsung setuju dan kita mulai berpikir untuk beli kue ulang tahun. Sempat berpikir lagi, kalau kue ulang tahun di toko kue seperti Harvest atau Dapur Cokelat terlalu biasa. Rasanya ingin bisa menghidangkan kue yang keren agar para peserta seminar nantinya takjub dengan acaranya juga kue ulang tahunnya. Kebetulan Khanti punya seorang teman Cake Designer (Instagram thecakeandsendy) yang sudah malang-melintang di dunia kue tart. Saya bilang ke Khanti kalau tema acara kita adalah Amazon dan ingin kue yang "Amazon banget". Sempat googling juga untuk mencari inspirasi bagaimana kue yang "Amazon banget" dan memberikan beberapa referensi ke Mba Sendy (designernya). Selanjutnya gimana pun bentuk kuenya, kita serahkan dan percaya saja pada desainernya.

Sebelum acara Talkshow, banyak hal yang bikin galau. Pertama adalah harus membooking tempat di Hotel Harris yang pada saat itu peserta yang mendaftar Talkshow baru 5 orang😟. Kebayang gimana pusingnya saat itu. Mau booking tempat yang gede, tapi peserta baru sedikit. Giliran pesan tempat yang kecil, pengalaman mengatakan kalau acara Talkshow bertema Information Technology itu yang daftar sering mepet dengan hari H. Ya udah deh, saya dan Khanti nekad membooking tempat untuk 30 orang. Kegalauan kedua adalah ketika ingin memesan berapa porsi kue tart. Mengingat yang mendaftar masih 5 orang, kami nekad juga memesan kue untuk 50 porsi. Sempat terjadi dilema pada diri kita kalau nanti kuenya berlebihan, sedangkan yang datang malah sedikit. Hanya dengan modal bismillah dan nekad, kita booking hotel dan memesan porsi kue. Kebayang betapa deg-degannya saat itu😟😟😟.

Seperti yang kami prediksi sebelumnya, H-2 sampai hari H, mendadak banyak peserta Talkshow yang mendaftar. Antara bingung dan bahagia juga sih karena kapasitas ruangan untuk 70 orang, sedangkan kalau kita hitung-hitung peserta dan panitia berjumlah 65 orang. Kami menambah pembayaran untuk 60 orang ke hotel HARRIS dan hotel juga melebihkan makanan sampai 65-75 porsi, alhamdulillah rejeki lagi. Tim Rancupid dan Nest School sempat briefing dulu sekitar satu jam sebelum makan siang pada hari H sekalian gladi resik agar Talkshow berjalan dengan baik. Setelah briefing, kami makan siang di Restoran Padang Sederhana (seleranya udah paling pas) sampai super kenyang supaya nanti bisa berenergi ketika sudah berada di atas panggung.
Bersiap
Gaya dulu
Diantara standing banner
Pukul 13.30 teng, Talkshow dibuka oleh Mas Dzaky selaku MC. Kita berusaha untuk ontime agar para peserta melihat kita sebagai orang-orang yang menghargai waktu. Moderator kali ini adalah Mas Army Alghifari, CEO Woimedia yang juga seorang Master di Dunia Digital Marketing. Saya dan Achmad sebagai para Founder maju duluan ke panggung. Kami bercerita asal mula bermain di Amazon sampai membuka sebuah Perseroan Terbatas (PT). Baru setelah itu Khanti dan Rosiva naik ke panggung untuk bercerita bagaimana menjalankan bisnis bersama saya. Terakhir Satrio yang naik yang bercerita bagaimana menjadi seorang Data Scientist selama ini di Rancupid.
Saya dan Achmad
Rosiva dan Khanti
Terakhir Satrio
Ketika sesi tanya jawab, lebih dari setengah peserta mengacungkan tangan. Saya kaget, betapa orang-orang sangat antusias dengan cerita bagaimana kami berjualan di Amazon. Karena keterbatasan waktu dan memasuki shalat Ashar, tidak semua orang mendapatkan kesempatan untuk bertanya. Ketika coffee break, saya dan teman-teman dihadang banyak peserta untuk bertanya lebih lanjut tentang Amazon, bisnis di Amerika, dan berbagai macam pertanyaan seputar mendirikan perusahaan. Saya sampai lelah menjawab banyak pertanyaan, tapi di satu sisi saya senang sekali karena mereka berarti antusias dengan acara dan materinya.

Selesai break, acara Talkshow dilanjutkan dengan presentasi singkat tentang bisnis di Amazon oleh Khanti. Selesai presentasi, peserta seminar  tambah antusias lagi untuk mengajukan pertanyaan. Disini saya dan Achmad tidak begitu banyak menjawab pertanyaan karena Rosiva, Khanti, dan Satrio bisa menjawab semua pertanyaan dengan singkat, padat, dan jelas. Kita memang harus mengejar waktu sehingga beberapa orang tidak mendapat kesempatan bertanya (saking ramenya yang bertanya). Insya Allah jawaban-jawaban dari Rancupid bisa menjawab beberapa pertanyaan yang belum sempat diajukan peserta lainnya.

Di akhir acara, Mas Army mengatakan kalau ada surprise🎉karena bulan ini bertepatan dengan ulang tahun Rancupid🥳🥳🥳. Rezki dan Mas Dzaky datang dengan mendorong meja yang berisi kotak super besar. Jangankan peserta, saya juga penasaran dengan apa isinya (walaupun saya tau ini adalah kue ulang tahun, tapi kan belum tau 'gimana hasilnya). Kotak kue dibuka dan muncullah kue🎂 berbentuk kardus Amazon Prime yang sukses membuat kue ini menjadi selebriti pada saat itu. Semua peserta memfoto kue dari setiap sudut, melakukan selfie, dan tidak sabar ingin mencicipinya. Lagu selamat ulang tahun pun diputar oleh Hotel Harriss yang membuat acara semakin meriah. Jangan ditanya betapa senangnya saya pada saat itu. Super duper happy!🤗🤗🤗
Amazon Cake
Hal yang paling nggak tega adalah ketika harus memotong kue. Kebayang harus merusak hasil karya indah itu. Tapi kalau nggak dipotong dan dibagi-bagikan, nanti malah mubazir dan nggak dimakan. Akhirnya kue dipotong oleh karyawan saya bernama Tiyu🍰🍰🍰, lalu dibagikan ke seluruh peserta. Alhamdulillah semua bisa kebagian kue🍰 dan kegalauan kalau kuenya nggak cukup seketika sirna. Bahkan masih menyisakan sepetak besar kue yang harus dibawa balik ke kantor.
Pose bareng
Alhamdulillah segala puji bagi Allah karena acara berlangsung sukses. Talkshow tidak membosankan, waktunya tidak kepanjangan dan kependekan, ditambah selingan acara ulang tahun dengan kue sangat keren memberikan kesan mendalam kepada Rancupid, Woimedia, dan juga para peserta seminar. Ntah apa yang akan terjadi ditahun ini sampai ulang tahun ketiga nanti, tapi tetap akan dihadapi dengan sabar, ikhtiar, dan tawakkal. Semoga kedepannya Rancupid semakin berjaya, dijauhkan dari krisis, bisa membangun Rancupid Tower, dan berguna bagi bangsa Indonesia. Aminnn ya Rabb🤲.

Oh iya, Rancupid akan mengadakan Amazon workshop di bulan Maret 2019 nanti. Informasi lebih lanjut akan di update di link ini ya 👉 https://ctdworkshop.com/Stay tuned!

Januari 23, 2019

Gusi dan Pipi Bengkak

Sekitar seminggu yang lalu, gigi saya sakittttt banget😖😖😖. Mungkin kalian pernah mengalami penderitaan saya dimana gigi paling pojok yang seharusnya di operasi, 'nabrak gigi depannya yang membuat sederetan gigi bawah ngilu semua. Duh, udah lama banget nggak pernah sakit gigi seperti kemarin. Sampai nggak bisa beraktifitas dan juga nggak bisa tidur. Pipi saya pun mendadak bengkak sebelah. Sungguh betapa cenat-cenutnya😔😔.

Saya mencoba minum Cataflam yang pernah diresepin Orthodentist. Sekitar 4 jam bisa mereda sakit, tapi kemudian cenat-cenut kembali sampai guling-guling di kasur😭😭😭. Karena belum waktunya minum Cataflam lagi, saya minum Paracetamol sebagai pain-killer. Baru deh bisa kerja sampai malam. Setelah makan malam dan mau tidur, saya minum Cataflam lagi. Besoknya bangun pagi cenat-cenut kambuh lagi tapi sudah agak berkurang dari hari pertama. Paling nggak, saya hanya minum Cataflam saja tanpa perlu diselingi Paracetamol.

Keadaan sakit begitu diperparah karena karet elastis yang menarik gigi geraham belakang ke depan. Rasanya nyut-nyutannya itu di seluruh gusi bawah (efek dari gusi bawah yang bengkak). Beberapa kali saya melepas karet karena nggak sanggup menahan ngilu di gigi dan nyeri di gusi. Oh tidak, betapa perjuangan menuju Perfect Smile 2019 itu sungguh luar biasa sakitnya.
gigi setelah kontrol
Akhirnya hari Selasa kemarin saya ke dokter dalam kondisi gusi sudah tidak bengkak dan ngilu di gigi hanya tinggal 5% lagi. Saya ceritain (curhat) semua yang saya alami kepada Orthodentist. Dokter lalu mengecek gigi geraham bungsu yang katanya memang harus di operasi. Kalau enggak, nanti ada waktu dimana sakitnya bakalan datang lagi karena gigi belakang menabrak gigi depan. Sekalipun sudah ditambal dengan baik, tetap saja gigi itu harus dihilangkan. Oh tidak😱! Berpikir mau cabut gigi aja bikin stres, apalagi mau OPERASI. Oke, bhay!

Dokter lalu memeriksa gigi saya yang lain dan memutuskan untuk menunda pemasangan karet elastis. Gigi geraham sebelah kanan atas jadi miring karena terlalu kencang ditarik dan dokter lalu memperbaiki kawat indikator gigi. Dimulailah peperangan bunyi tang tung tang tung di mulut yang membuat saya ngeri😟😟. Ntah kenapa, saya merasa kemarin dokter agak lama membenarkan gigi saya dan butuh bantuan suster untuk mengencangkan kawat. Kata dokter, supaya gusinya kembali sehat lagi, maka susunan kawatnya diubah. Baiklah, saya nurut saja.

Masalah lainnya datang ketika di malam hari sewaktu mau tidur. Kalian tau, gigi geraham kanan atas rasanya mendesak gusi dan nyut-nyutan. Belum lagi rahang mencari posisi ketika menutup mulut (beradaptasi dengan kondisi rahang baru) sehingga saya susah tidur. Udah bolak-balik ke kiri dan ke kanan, terasa banget gigi saya gerak-gerak. Hanya bisa bersabar, sampai akhirnya ketiduran juga,

Hari ini saya susah makan karena gigi geraham atas masih mendesak gusi dan rasanya seluruh gigi atas dan bawah bergeser-geser. Ntah apa yang terjadi di rongga mulut saya ini, tapi saya hanya bisa pasrah. Biasanya kondisi seperti ini akan berlangsung seminggu dan ini baru dua hari. Ya Allah semoga sakitnya berkurang. Jadi cuma bisa makan bubur deh.

Kontrol Saphire Braces Rp. 275,000 (naik per 1 Januari 2019)
Service Charge Rp. 15,000

Januari 19, 2019

Talkshow & Seminar : Bagaimana Memulai Bisnis di Amazon

Seminggu lagi, Rancupid dan Nest School (sebelumnya bernama Woimedia) akan mengadakan Talkshow dan Seminar tentang memulai bisnis menggunakan platform Amazon.  Karena kali ini berupa acara ngobrol dan tanya jawab dimana kita akan dipandu oleh MC, jadi persiapannya tidak seribet workshop Connecting The Dot di bulan Oktober 2018 yang lalu. Acara kali ini sifatnya santai, tidak perlu terlalu banyak orang, tapi yang penting pesan dari kami untuk mengajak para peserta seminar berjualan di Amazon tersampaikan. Jadi terkesan Rancupid adalah duta Amazon ya. Padahal disini kita cuma berbagi ilmu dan pengalaman bagaimana selama ini menjalankan bisnis di Amazon sejak tahun 2015.

Dari para pendaftar yang masuk, banyak yang ingin Talkshow/Seminar kali ini diselenggarakan di kota masing-masing seperti Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Medan, bahkan Banda Aceh. Ntah kenapa mereka tidak telalu antusias dengan Jakarta yang semula saya kira peserta bakalan banyak karena diselenggarakan di ibukota. Tapi acara masih seminggu lagi, biasanya kalau acara udah mau dekat baru banyak yang daftar. Kalau seperti ini malah tim kita yang bingung mau booking tempat dan untuk berapa peserta😅. Mau book untuk 100 peserta, nanti malah kegedean ruangannya kalau yang hadir hanya sekitar 50an. Tapi kalau tiba-tiba semakin dekat ke hari H malah semakin banyak yang ikut, dan ternyata kita book ruangan untuk 40 peserta, malah jadi kurang tempat😅. Dilema kan?
Oh ya, bulan ini Rancupid berulang tahun yang kedua. Kalau diibaratkan pada manusia, perusahaan saya sudah bisa mengenal dunia luar, mulai bergaul, dan belajar berlari. Kadang masih banyak banget badai yang menerpa seperti krisis moneter, karyawan tiba-tiba resign, tapi anggap aja ini semua ujian dari Allah subhanahu wata'ala agar Rancupid naik kelas. Kalau tidak ada ujian, hidup mana seru. Justru cara menghadapi ujian itulah yang perlu terus ditingkat. Saya merasa, setiap Allah memberi ujian, pasti selalu ada jalan keluar. Asalkan bisa bersabar, terus berikhtiar, dan bertawakkal pada Allah.

Rancupid bakalan membuat surprised party 🥳🥳🥳 di acara Talkshow dan Seminar nanti. Mau tau bakalan ada apa? Rahasia dong🤐. Yuk ikutan acaranya dulu biar tau bakalan ada apa nanti disana, hihihi.

Hari dan Tanggal : Sabtu, 26 Januari 2019
Pukul : 13.30 - 17.00
Tempat : Hotel Harris, Tebet, Jakarta.
HTM : Rp. 249,000

Untuk pendaftaran, silakan langsung klik link ini 👉 https://ctdworkshop.com/

See you there!🎉

Januari 13, 2019

Tahun Baruan di Kuala Lumpur

Salah satu alasan ke Kuala Lumpur tahun baru kemarin adalah karena tiket pesawat dari Banda Aceh ke Jakarta langsung atau transit Medan sangatlah mahal. Saya saja terpaksa memanfaatkan poin-poin atau special privilege yang sudah ditabung di beberapa website untuk bisa membeli tiket pulang dari Jakarta ke Lhokseumawe. Kalau tidak salah, tiket ke Lhokseumawe itu nyaris 1.8 juta menggunakan Lion Air dan saya dapat diskon sehingga harga yang harus dibayar adalah sekitar 1.5 juta. Lupa persisnya berapa tapi menurut saya ke Lhokseumawe seharga 1.5 juta itu normal.

Bagaimana dengan tiket kembali ke Jakarta? Waktu itu harganya sekitar 1.9 juta dari Banda Aceh pakai Lion Air. Batik sekitar 2.8juta dan Garuda 3.3juta. Saya hanya bisa tepok jidat 🤦‍♀️kalau harganya semahal itu. Sudah sama dengan tiket pesawat ke Asia Timur atau ke Australia sekali jalan dengan durasi perjalanan diatas 5 jam dengan maskapai full board. Saya mulai memutar otak, bagaimana caranya agar pulang ke Jakarta dengan tiket agak murah sedikit. Akhirnya saya memutuskan untuk lewat Kuala Lumpur. Kebetulan poin Airasia saya banyak dan saya hanya membayar sekitar 1 juta berdua sudah sama bagasi dan kursi (saya suka beli kursi di Airasia biar nggak dapat duduk terlalu jauh dibelakang). Akhirnya saya (diharuskan) tahun baruan di Kuala Lumpur dan ini untuk pertama kalinya.

Nah, di bulan Desember 2018 kemarin, Traveloka sedang promosi besar-besaran untuk fitur Traveloka Pay Later. Saya awalnya cek tiket dari Kuala Lumpur ke Jakarta, tapi jamnya nggak ada yang pas (terlalu pagi dan terlalu malam). Akhirnya karena ada panggilan meeting ke Bandung, saya memutuskan untuk naik Malindo Air ke Bandung menggunakan PayLater diskon Rp. 750rb. Total yang saya bayar untuk pesawat full board berdua tetap sejutaan saja. Murah sekali kan? Hitung-hitung, total dari Banda Aceh ke Bandung hanya 1 jutaan perorang dan bisa menikmati tahun baruan di negara orang.

Tanggal 31 Januari 2018, saya naik pesawat ke Kuala Lumpur dengan membawa bagasi 20 kg. Perjalanan ini terkesan seperti mau transit ke negara lebih jauh karena bawa koper gede, padahal cuma pulang ke Jakarta doang😅. Disini saya baru merasa kerepotan bawa koper gede kalau cuma transit doang. Untung pergi dengan teman cowok bernama Efan, jadi bisa dibantuin angkat koper. Seperti biasa kalau ke luar negri pasti banyak yang menitip ini itu dan saya biasanya mau beliin. Jadi setelah mendarat, makan sebentar, lalu pergi ke Mitsui Outlet untuk belanja. Hari itu bus ke Mitsui penuh banget dan kita kesulitan memegang koper yang kalau mobil berbelok, kopernya kabur😆. Jadi harus dipegangin karena takut kena orang nanti. Setelah turun di Mitsui, kita bisa menitip koper dan ransel di luggage storage dengan gratis. Huff, akhirnya ringan juga bawaan kita.

Setelah selesai belanja, keribetan kita kembali lagi. Kali ini penumpang bus agak sepi, jadi bisa duduk di dekat pintu masuk. Tapi koper tetap harus dipegangin biar nggak kabur. Kita kembali ke bandara untuk kemudian naik bus ke KL Sentral. Selama dalam perjalanan saya tidur karena sudah kecapekan keliling-keliling Mitsui Outlet.

Sesampai di KL Sentral, saya lupa-lupa ingat dimana Hotelnya sehingga harus bertanya pada petugas. Ada petugas yang tau jalan, ada yang salah kasih tau juga dan membuat saya bolak-balik (jadi menghabiskan waktu). Yang ribet kalau bawa koper besar adalah apabila harus naik eskalator. Saya sampai menemukan cara untuk bawa koper plus tentengan ketika menaiki eskalator. Saya nggak bisa memegang atau bersandar di dinding eskalator karena tangan kiri dan kanan sudah penuh. Jadilah berfokus supaya tetap seimbang.

Sempat bertanya dengan orang lokal dimana posisi hotel saya.
"Excuse me, do you know where's My Hotel at KL Sentral?"
"Your hotel?"🤔
Saya tertawa. Nama hotel ini emang agak ambigu😄.
"No, no. I mean, the name of the hotel is My Hotel at KL Sentral," sambil menunjukkan bookingan di tiket.com

Alhamdulillah ternyata hotelnya super dekat dengan KL Sentral dan jalanannya juga rata. Jadi nggak memberatkan ketika harus menggerek koper. Sesampai di hotel, rasanya ingin melempar koper dan tentengan yang meribetkan saya. Baru lega rasanya. Saya mandi, shalat, lalu keluar lagi setelah magrib untuk makan. Tidak lupa membawa kamera karena saya berharap bisa memotret kembang api. Destinasi pertama adalah Mall NU Sentral karena mau makan Nando's dulu. Mall ini juga banyak banget SALE dan saya sempat nongkrong agak lama disana. Setelah makan dan belanja, kami pulang ke hotel sebentar untuk menaruh barang, ambil sweater (karena gerimis), baru naik monorail ke Pavilion KL.

Kalian tau, monorail kala itu penuhnya minta ampun. Dari KL Sentral sih kosong karena pemberhentian pertama. Tapi di stasiun selanjutnya, orang yang naik rame banget😱. Sampai-sampai saya kesulitan keluar stasiun. Bukit Bintang juga sudah seperti lautan manusia. Jangankan kendaraan bermotor, kita jalan kaki aja udah susah banget bergerak dengan leluasa. Semua Mall dan toko juga sudah tutup dan rencana saya mau jajan di Pavilion sirna. Saya langsung merasa salah besar merayakan tahun baru di KL. Saya mengajak Efan langsung jalan ke KLCC karena suasana Pavilion sudah kacau balau. Orang ramai, berisik, banyak yang teriak-teriak sambil meniup terompet, dan saya mulai sakit kepala melihat situasi begitu. Teman-teman Efan yang semula pada janjian di Pavilion,  udah hilang di lautan manusia. Kalau Efan hilang dan dia nggak daftar paket data, lebih pusing lagi saya 'nyarinya😵.

Kita jalan kaki diantara orang-orang yang berisik meniupkan terompet. Pusing banget sebenarnya, tapi saya sedang berusaha santai saja. Kalau kita nggak santai, bisa-bisa habis energi untuk bete. Di jalan juga saya beli air minum, supaya nggak kehausan karena keringat terus keluar karena jalan kaki. Sesampai di KLCC, WOW banget penuh manusia😱. Ada pentas musik, tapi mendekat ke panggung itu ide yang buruk. Kita sudah berusaha mendekat ke kolam, tapi nggak berhasil sama sekali. Jadi hanya bisa duduk di taman melihat orang-orang sibuk berpesta dan meniup terompet. Rasanya pusing sekali dan saya hanya bisa diam saja. Mau ngobrol sama Efan, tapi muka dia lebih bete lagi daripada saya😣. Pohon-pohon di sekitar taman KLCC menurut saya bakalan mengganggu penglihatan kalau ingin menonton kembang api deh. Akhirnya saya mengajak Efan berdiri di dekat pintu keluar saja supaya kalau acara usai, kita bisa cepat keluar, dan juga lebih leluasa melihat kembang api.

Tepat pukul 12 malam, kembang api ditembakkan ke langit. Saya langsung kaget tapi bahagia seketika. Ntah kenapa, saya suka banget dengan kembang api. Dulu sempat menonton di Disneyland Jepang dan saya merasa jadi orang paling bahagia di dunia. Rencananya mau menikmati menit-menit awal kembang api dulu, baru kemudian ngambil kamera di ransel. Sayangnya, kembang api di KLCC cuma berlangsung 5 menit. UDAH SEGITU DOANG😨😨😨😨. Kamera aja belum sempat dikeluarin, eh acara sudah selesai. Saya jadi merasa kecewa berattt😖😖😖. Sewaktu saya datang ke KL di bulan November pas acara Deewali, kembang api berlangsung satu jam dan saya sangat bahagia. Lha, ini?
Ngambil foto dari kamera hp aja
Kembang api kedua
Pesta bubar dan orang-orang mulai berjalan pulang. Alhamdulillah masih lumayan tertib tapi kita jadi bingung mau jalan ke arah mana. Semua monorail sudah tidak beroperasi, Grab nggak ada yang mau angkut, taksi nggak ada yang mau di stop, dan kaki sakit karena jalan terus. Otak mulai nggak bisa berpikir jernih tapi saya tetap berusaha santai. Kita jalan ke tempat yang agak sepi atau ke depan hotel, berharap ada taksi yang mangkal dan kita bisa menawar harga. Proses berjalan itu juga menghabiskan pikiran dan energi, termasuk menguji kesabaran karena harus mendengar keributan orang-orang bernyanyi-nyanyi dan suara terompet bersahut-sahutan. Belum lagi ntah harus berapa kali berjalan memutar untuk menjauh dari keramaian.

Alhamdulillah akhirnya dapat taksi juga yang sedang mangkal di pinggir jalan. Duduk di taksi tuh rasanya enak banget karena pinggang seakan-akan mau copot. Belum lagi keringat sudah bercucuran. Menurut data di Iphone saya, malam itu saya sudah berjalan 20rb langkah. Pantas kaki ini agak nyut-nyutan. Tapi saya memang sudah terbiasa jalan jauh jadi sakit segitu masih okelah. Sepatu yang dipakai juga enak. Yang kasihan si Efan yang sepertinya baru kali ini jalan kaki sejauh dan sebanyak itu. Sesampai di hotel saya mandi, lalu langsung tidur.

Besok paginya, keribetan terulang lagi karena kami harus kembali ke bandara dengan koper besar dan saya tetap menenteng belanjaan walaupun hanya satu plastik saja. Sesampai di tempat bus, koper besar dimasukkan ke dalam bagasi bus lebih awal, jadi mengurangi keribetan. Kami datang kecepatan ke terminal bus KL Sentral dan berdiri di samping bus untuk menunggu jadwal keberangkatan. Tanpa sadar, ternyata orang-orang malah mengantri di belakang kita untuk masuk ke dalam bus. Jadi merasa aneh sendiri, padahal berdiri di samping bus juga bukan karena mau membuat antrian😂.
Koper dan ransel kita
Sarapan di Kopi Time
Selama perjalanan ke bandara saya tidur. Setelah sampai, kita cek in, sarapan di Kopi Time seperti biasa, lalu proses imigrasi. Fiuhhh akhirnya selesai juga keribetan, kelelahan, dan kecapekan di Kuala Lumpur. Kapok nggak nyari kembang api? Enggak juga sih. Tapi mungkin suatu hari di negara lain lagi. Saya sampai di Bandung, cek in hotel Grand Preanger di Braga, lalu tidur dari sore sampai Magrib. Awalnya memilih hotel ini karena mau foto-foto di jalan Asia Afrika tapi kondisi tubuh hayati terlalu lelah. Tidur lebih baik🛌🏼.

Sebenarnya dari dan ke Banda Aceh transit di Kuala Lumpur sudah biasa saya lakukan. Selain karena memang lebih murah, terkadang saya memang baru saja pulang dari negara mana dan mau ketemu Mama sejenak di Aceh, sebelum kembali ke Jakarta. Fenomena kenaikan tiket domestik sekarang ini yang membuat transit di KL jadi alternatif paling dipilih oleh warga Aceh atau Medan. Memang lebih murah, tapi kalau yang nggak terbiasa akan sedikit kesulitan. Apalagi kalau harus pindah bandara seperti saya. Banda Aceh ke KL itu akan mendarat di KLIA2 karena menggunakan maskapai Air Asia, sedangkan Malindo Air (seperti saya ke Bandung) harus melalui bandara KLIA1. Kalau kalian bawa koper kecil, ada shuttle bus dari KLIA2 ke KLIA1 gratis. Atau kalau mau naik KLIA Ekspres (kereta) harus membayar 2 RM tapi lebih enak buat yang bawa koper gede karena aksesnya pakai lift dan nggak harus angkat koper masuk kereta. Pintu kereta dan peron selisihnya hampir tidak kelihatan, sehingga koper tinggal di dorong saja. Kalau saya, kereta udah pernah, bus juga udah pernah, mau bawa koper gede atau kecil semua udah pernah dilakukan.

Semoga ada solusi untuk permasalahan tiket domestik ya. Saya masih berhutang 15 provinsi lagi belum dijelajahi di Indonesia. Sampai jumpa!

Follow me

My Trip